You are on page 1of 3

Kesuksesan Terbesar Dalam Hidupku

Tangisan, Keringat dan Pengorbanan = 99% Kunci Sukses


Thomas Alva Edison, ilmuwan dan pemilik 1.093 hak paten memiliki
etos kerja yang keras. Ia bekerja 20 jam dan hanya tidur 4 jam sehari di
laboratorium kecilnya. I havent failed, Ive just found 10,000 ways that wont
work, jadi wajar jika definisi sukses sama dengan ambisius. Menurutnya sukses
adalah 1% inspirasi dan 99% keringat. Politikus Inggris, Winston Churcil
mengatakan bahwa sukses adalah keras hati. Ya, Karir politik Churchill
berlangsung pada masa-masa sulit di era kebangkitan militer Hitler. Tidak heran
jika definisi sukses menurutnya adalah kemampuan dalam melewati kegagalankegagalan tanpa kehilangan antusiasme, baginya kunci dalam membangun
kesuksesan adalah terus berusaha dan kerja keras, continous effort, not strength
or intelligence is the key to unlocking potenstial.
Ya, kerja keras ini adalah kata yang saya pilih sebagai dasar dari inti
pembuka materi essay sukses terbesar dalam hidup saya, entah mengapa katakata tersebut terbesit dalam pikiran saya, dan juga tidak dapat dipungkiri bahwa
kata-kata tersebut sangat berkorelasi kuat terhadap pengalaman hidup saya
dalam meraih kesuksesan yang telah saya lalui. Sebelumnya, apa itu sukses?
Adalah pertanyaan terpenting yang harus kita jawab jika kita ingin sukses. Kiat
sukses yang pertama adalah kita harus mampu menjawab dengan tepat dan
tanpa bias, karena banyak orang yang mendefinisikannya sesuai dengan
persepsi dan kondisi pada dirinya. Ada orang yang merumitkan apa itu sukses,
sehingga begitu sulit untuk dicapai dan ada juga orang yang melemahkan
makna sukses, sebagai pembelaan diri, yaitu dengan memaknai sukses seperti
apa dirinya saat ini.
Definisi sukses antara setiap orang bersifat sangat subjektif, tergantung
pada parameter kesuksesan apa yang ingin diraih. Banyak orang yang
menganggap tolak ukur sebuah sukses adalah saat ia mampu menduduki posisi
puncak dalam suatu pekerjaan dengan gaji yang aduhai, ada juga yang
menganggap bahwa sukses adalah ketika mampu mencapai sekolah setinggitingginya, namun bagi saya sukses adalah cerita dimana prosesnya adalah seni
yang harus dilalui dengan tangisan, keringat dan senyuman dengan kerja keras
untuk mencapai tujuan akhir, dengan adanya tujuan maka saya dapat membuat
misi dalam meraih sukses yang saya inginkan untuk kemudian saya kembangkan
menjadi sebuah visi dalam meraih kesuksesan yang lebih besar lagi. Hal tersebut
cukup sederhana, karena kesuksesan terkadang datang tanpa pernah kita sadari.
Siapa yang menyangka saya yang dikenal sebagai anak yang kurang aktif saat
kuliah mampu dengan keringat dan kerja keras mendapatkan IPK profesi
mendekati cum laude, ya, saya mampu mendapatkan IPK 33,31 dengan
keringat saya sendiri dan doa dari orang tua, tentunya proses untuk mencapai
hal tersebut tidaklah mudah dan membutuhkan tekad, saya terpaksa harus
belajar hingga larut, memfotocopy banyak buku kedokteran, dan belajar
bersama dengan teman hingga tak kenal waktu. Pada akhirnya saya mampu

membagi kebahagiaan dan senyuman dengan kedua orang tua saya saat wisuda
dan sumpah dokter.
Saat lulus saya sempat mengikuti PTT di daerah, hingga saat selesai
pengabdian saya memutuskan untuk kembali ke Jakarta dan bermimpi untuk
bekerja di salah satu rumah sakit besar disana. Lewat doa kedua orang tua,
akhirnya RSAL Mintohardjo menerima saya melewati serangkaian panjang proses
seleksi interview karyawan, sebuah hal yang sempat mustahil saya dapatkan
karena banyaknya kompetitor dokter yang berasal dari universitas terkemuka di
Indonesia mengikuti seleksi tersebut yang memang hanya membutuhkan 2
dokter untuk di tempatkan di IGD dan ruangan. Ingin mencoba hal yang baru
selain fungsional khususnya di bidang manajemen dan pengembangan klinik,
akhirnya memutuskan bergabung dengan perusahaan kesehatan swasta
terkemuka di dunia, an international sos (I-SOS(PT. Asih Eka Abadi)), tidak mudah
untuk diterima disana karena perusahaan ini sangat selektif dalam merekrut
tenaga medis khususnya dalam hal psikotest experience dan interview bahasa
inggris. Disana saya diajarkan banyak hal, bahwa dokter tidak hanya harus
smart seputar bidang kesehatan, akan tetapi harus komunikatif dan memiliki
pergaulan yang luas hingga mancanegara oleh karenanya semua karyawannya
wajib dapat berkomunikasi dengaan bahasa asing, umumnya inggris, jepang dan
mandarin. International sos memiliki jaringan hingga seluruh dunia dengan pusat
training di Asia yaitu di Indonesia, tentunya tiap bulan banyak para profesional
ekspatriat I-SOS di bidang kesehatan dari seluruh dunia datang berkunjung untuk
ikut trainee disana, sehingga saya dituntut untuk pro aktif berbicara bahasa
inggris. Ini bukan merupakan hal yang mudah mengingat saya tidak begitu
terbiasa berkomunikasi dengan bahasa inggris saat itu baik dalam percakapan
maupun tulisan. Hal yang paling berkesan lainnya selama bekerja disana adalah
saya dapat berkeliling hampir seluruh daerah di Indonesia, menikmati suasana
dan ragam kuliner serta kebudayaan disana, tentunya sambil bekerja
mengembangkan klinik I-SOS dan mengadakan promosi kesehatan untuk
masyarakat daerah maupun karyawan perusahaan di site yang merupakan klien
I-SOS, suatu pengalaman yang belum pernah didapatkan oleh sejawat dokter
seangkatan saya pada saat itu. Selama bekerja disana saya yang dikenal kurang
aktif mulai terbuka akan pemikiran mengenai pentingnya self branding,
marketing communication dan management dalam meningkatkan performa
individu baik saat bekerja maupun di luar pekerjaan. Prinsip ini saya pegang
hingga saat saya memutuskan kembali ke rumah sakit untuk mendapatkan
pengalaman kerja sebagai prasyarat sekolah spesialis, saya dapat diterima di RS
Ciptomangunkusumo Jakarta, sebuah RS pemerintah yang besar dan lengkap
dengan SDM yang expert di bidang kesehatan.
Dalam kehidupan sehari hari saya tidak pernah membayangkan saya mampu
mandiri hidup tanpa bantuan orang tua karena saya sejak kecil termasuk anak
yang manja, namun pada akhirnya saya sendiri mampu dengan penghasilan
saya sendiri saya dapat menafkahi istri, membagi kebahagiaan dengan orang
tua, mencicil uang pembangunan rumah dan mobil serta dapat menyumbangkan
2,5% dari penghasilan yang saya peroleh setiap bulannya. Namun, semua itu

tertutup karena tujuan yang lebih besar yang ingin diraih yaitu semua hal yang
telah saya raih dengan kerja keras pada akhirnya saya amalkan kembali demi
kebahagian istri, keluarga saya dan orang lain semata mata karena jalan ALLAH
swt.
Akhir kata, essay ini saya tutup dengan sebuah pepatah dari negeri ginseng
korea Tidak ada kesuksesan tanpa pengorbanan sebelumnya, karena hasil yang
diperoleh tidak akan pernah mengingkari kerja keras dan ikhtiar seorang
manusia.
Terimakasih.