You are on page 1of 44

Wujud Akulturasi Kebudayaan Hindu-Budha Dengan Kebudayaan Indonesia

Pengertian Akulturasi:
Banyak para ahli yang memberikan definisi tentang akulturasi, antara lain menurut pendapat
Harsoyo.
Akulturasi adalah fenomena yang timbul sebagai hasil jika kelompok-kelompok manusia yang
mempunyai kebudayaan yang berbeda-beda bertemu dan mengadakan kontak secara langsung
dan terus-menerus; yang kemudian menimbulkan perubahan dalam pola kebudayaan yang original
dari salah satu kelompok atau kedua-duanya (Harsoyo).
Dari definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa akulturasi sama dengan kontak budaya yaitu
bertemunya dua kebudayaan yang berbeda melebur menjadi satu menghasilkan kebudayaan baru
tetapi tidak menghilangkan kepribadian/sifat kebudayaan aslinya.
Dengan adanya kontak dagang antara Indonesia dengan India, maka mengakibatkan adanya
kontak budaya atau akulturasi yang menghasilkan bentuk-bentuk kebudayaan baru tetapi tidak
melenyapkan kepribadian kebudayaan sendiri.
Hal ini berarti kebudayaan Hindu Budha yang masuk ke Indonesia tidak diterima seperti apa
adanya, tetapi diolah, ditelaah dan disesuaikan dengan budaya yang dimiliki penduduk Indonesia,
sehingga budaya tersebut berpadu dengan kebudayaan asli Indonesia menjadi bentuk akulturasi
kebudayaan Indonesia Hindu Budha.
Wujud akulturasi tersebut dapat diamati pada uraian materi unsur-unsur budaya
berikut ini:

1. Bahasa
Wujud akulturasi dalam bidang bahasa, dapat dilihat dari adanya penggunaan bahasa sansekerta
yang dapat ditemukan sampai sekarang dimana bahasa Sansekerta tersebut memperkaya
perbendaharaan bahasa Indonesia.
Penggunaan bahasa Sansekerta pada awalnya banyak ditemukan pada prasasti (batu bertulis)
peninggalan kerajaan Hindu Budha pada abad 5 7 M,
Contohnya: prasasti Yupa dari Kutai, prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara. Tetapi
untuk perkembangan selanjutnya bahasa Sansekerta di gantikan oleh bahasa Melayu Kuno
seperti yang ditemukan pada prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya 7 13 M.
Sedangkan untuk aksara, dapat dibuktikan dengan adanya penggunaan huruf Pallawa,tetapi
kemudian huruf Pallawa tersebut juga berkembang menjadi huruf Jawa Kuno (kawi) dan huruf
(aksara) Bali dan Bugis. Hal ini dapat dibuktikan melalui Prasasti Dinoyo (Malang) yang
menggunakan huruf Jawa Kuno.
2. Religi/Kepercayaan
Sistem kepercayaan yang berkembang di Indonesia sebelum agama Hindu-Budha masuk ke
Indonesia adalah kepercayaan yang berdasarkan pada Animisme dan Dinamisme.
Dengan masuknya agama Hindu Budha ke Indonesia, maka masyarakat Indonesia mulai
menganut/mempercayai agama-agama tersebut.
Tetapi agama Hindu dan Budha yang berkembang di Indonesia sudah mengalami perpaduan
dengan kepercayaan Animisme dan Dinamisme, atau dengan kata lainmengalami Sinkritisme.
Sinkritisme adalah bagian dari proses akulturasi, yang berarti perpaduan dua kepercayaan yang
berbeda menjadi satu.
Untuk itu agama Hindu dan Budha yang berkembang di Indonesia, berbeda dengan agama Hindu
Budha yang dianut oleh masyarakat India. Perbedaaan-perbedaan tersebut misalnya dapat dilihat
dalam upacara ritual yang diadakan oleh umat Hindu atau Budha yang ada di Indonesia.
Contohnya, upacara Nyepi yang dilaksanakan oleh umat Hindu Bali, upacara tersebut tidak
dilaksanakan oleh umat Hindu di India.
Demikianlah penjelasan tentang contoh wujud akulturasi dalam bidang religi/kepercayaan,untuk
lebih memahaminya dapat Anda meminta penjelasan atau mencari contoh-contoh lain kepada
Guru bina Anda. Selanjutnya simak uraian materi berikutnya.

3. Organisasi Sosial Kemasyarakatan


Wujud akulturasi dalam bidang organisasi sosial kemasyarakatan dapat dilihat dalam organisasi
politik yaitu sistem pemerintahan yang berkembang di Indonesia setelah masuknya pengaruh
India.
Dengan adanya pengaruh kebudayaan India tersebut, maka sistem pemerintahan yang
berkembang di Indonesia adalah bentuk kerajaan yang diperintah oleh seorang raja secara turun
temurun.
Raja di Indonesia ada yang dipuja sebagai dewa atau dianggap keturunan dewa yang keramat,
sehingga rakyat sangat memuja Raja tersebut, hal ini dapat dibuktikan dengan adanya raja-raja
yang memerintah di Singosari seperti Kertanegara diwujudkan sebagai Bairawa dan R
Wijaya Raja Majapahit diwujudkan sebagai Harihari (dewa Syiwa dan Wisnu jadi satu).
Permerintahan Raja di Indonesia ada yang bersifat mutlak dan turun-temurun seperti di India dan
ada juga yang menerapkan prinsip musyawarah. Prinsip musyawarah diterapkan terutama apabila
raja tidak mempunyai putra mahkota yaitu seperti yang terjadi pada masa berlangsungnya
kerajaan Majapahit, dalam hal pengangkatan Wikramawardana.
Wujud akulturasi di samping terlihat dalam sistem pemerintahan juga terlihat dalam sistem
kemasyarakatan, yaitu pembagian lapisan masyarakat berdasarkan sistem kasta.
Sistem kasta menurut kepercayaan Hindu terdiri dari kasta :

kastaBrahmana (golongan Pendeta),


kasta Ksatria (golongan Prajurit, Bangsawan),
kasta Waisya (golongan pedagang) dan
kasta Sudra (golongan rakyat jelata).

Kasta-kasta tersebut juga berlaku atau dipercayai oleh umat Hindu Indonesia tetapi tidak sama
persis dengan kasta-kasta yang ada di India karena kasta India benar-benar diterapkan dalam
seluruh aspek kehidupan, sedangkan di Indonesia tidak demikian,karena di Indonesia kasta hanya
diterapkan untuk upacara keagamaan.

4. Sistem Pengetahuan
Wujud akulturasi dalam bidang pengetahuan, salah satunya yaitu perhitungan waktu berdasarkan
kalender tahun saka, tahun dalam kepercayaan Hindu.
Menurut perhitungan satu tahun Saka sama dengan 365 hari dan perbedaan tahun saka dengan
tahun masehi adalah 78 tahun sebagai contoh misalnya tahun saka 654,maka tahun masehinya
654 + 78 = 732 M
Di samping adanya pengetahuan tentang kalender Saka, juga ditemukan perhitungan tahun Saka
dengan menggunakan Candrasangkala.
Candrasangkala adalah susunan kalimat atau gambar yang dapat dibaca sebagai angka.
Candrasangkala banyak ditemukan dalam prasasti yang ditemukan di pulau Jawa, dan
menggunakan kalimat bahasa Jawa salah satu
Contohnya yaitu kalimat Sirna ilang kertaning bhumi apabila diartikan sirna = 0, ilang = 0,
kertaning = 4 dan bhumi = 1,maka kalimat tersebut diartikan dan belakang sama dengan tahun
1400 saka atau sama dengan 1478 M yang merupakan tahun runtuhnya Majapahit .
5. Peralatan Hidup dan Teknologi

Salah satu wujud akulturasi dari peralatan hidup dan teknologi terlihat dalam seni bangunan Candi.
Seni bangunan Candi tersebut memang mengandung unsur budaya India tetapi keberadaan candicandi di Indonesia tidak sama dengan candi-candi yang ada di India,karena Indonesia hanya
mengambil unsur teknologi perbuatannya melalui dasar-dasar teoritis yang tercantum dalam
kitab Silpasastra yaitu sebuah kitab pegangan yang memuat berbagai petunjuk untuk
melaksanakan pembuatan arca dan bangunan.
Untuk itu dilihat dari bentuk dasar maupun fungsi candi tersebut terdapat perbedaan dimana
bentuk dasar bangunan candi di Indonesia adalah punden berundak-undak,yang merupakan salah
satu peninggalan kebudayaan Megalithikum yang berfungsi sebagai tempat pemujaan.
Sedangkan fungsi bangunan candi itu sendiri di Indonesia sesuai dengan asal kata candi tersebut.
Perkataan candi berasal dari kata Candika yang merupakan salah satu nama dewi Durga atau dewi
maut, sehingga candi merupakan bangunan untuk memuliakan orang yang telah wafat khususnya
raja-raja dan orang-orang terkemuka.
Di samping itu juga dalam bahasa kawi candi berasal dari kata Cinandi artinya yang dikuburkan.
Untuk itu yang dikuburkan didalam candi bukanlah mayat atau abu jenazah melainkan berbagai
macam benda yang menyangkut lambang jasmaniah raja yangdisebut dengan Pripih.
Dengan demikian fungsi candi Hindu di Indonesia adalah untuk pemujaan terhadap roh nenek
moyang atau dihubungkan dengan raja yang sudah meninggal. Hal ini terlihat dari adanya
lambang jasmaniah raja sedangkan fungsi candi di India adalah untuk tempat pemujaan terhadap
dewa, contohnya seperti candi-candi yang terdapat di kota Benares merupakan tempat pemujaan
terhadap dewa Syiwa.

Gambar 1.2. Candi Jago


Gambar 1.2. adalah gambar candi juga salah satu peninggalan kerajaan Singosari yang merupakan
tempat dimuliakannya raja Wisnuwardhana yang memerintah tahun 1248 1268.

Dilihat dari gambar candi tersebut, bentuk dasarnya adalah punden berundak- undak dan pada
bagian bawah terdapat kaki candi yang di dalamnya terdapat sumuran candi,di mana di dalam
sumuran candi tersebut tempat menyimpan pripih (lambang jasmaniah raja Wisnuwardhana).
Dari penjelasan tersebut di atas, apakah Anda sudah memahami? Kalau Anda sudah paham,
simaklah urutan materi berikutnya.
Untuk candi yang bercorak Budha fungsinya sama dengan di India yaitu untuk memuja Dyani
Bodhisattwa yang dianggap sebagai perwujudan dewa, maka untuk memperjelas pemahaman
candi Budha berikut ini .

Gambar 1.3. Candi Borobudur


Gambar 1.3. candi Borobudur adalah candi Budha yang terbesar sehingga merupakan salah satu
dari 7 keajaiban dunia dan merupakan salah satu peninggalan kerajaan Mataram, dilihat dari 3
tingkatan, pada tingkatan yang paling atas terdapat patung Dyani Budha.
Patung-patung Dyani Budha inilah yang menjadi tempat pemujaan umat Budha.
Di samping itu juga pada bagian atas, juga terdapat atap candi yang berbentuk stupa.
Untuk candi Budha di India hanya berbentuk stupa, sedangkan di Indonesia stupa merupakan ciri
khas atap candi-candi yang bersifat agama Budha. Dengan demikian seni bangunan candi di
Indonesia memiliki kekhasan tersendiri karena Indonesia hanya mengambil intinya saja dari unsur
budaya India sebagai dasar ciptaannya dan hasilnya tetap sesuatu yang bercorak Indonesia.

6. Kesenian
Wujud akulturasi dalam bidang kesenian terlihat dari seni rupa, seni sastra dan seni pertunjukan .
Dalam seni rupa contoh wujud akulturasinya dapat dilihat dari relief dinding candi (gambar timbul),
gambar timbul pada candi tersebut banyak menggambarkan suatu kisah/cerita yang berhubungan
dengan ajaran agama Hindu ataupun Budha.
Contoh dapat Anda amati gambar 1.4.

Gambar 1.4. Relief Candi Borobudur

Gambar 1.4 adalah relief dari candi Borobudur yang menggambarkan Budha sedang digoda oleh
Mara yang menari-nari diiringi gendang, hal ini menunjukkan bahwa relief tersebut mengambil
kisah dalam riwayat hidup Sang Budha seperti yang terdapat dalam kitab Lalitawistara.
Demikian pula di candi-candi Hindu, relief yang juga mengambil kisah yang terdapat dalam
kepercayaan Hindu seperti kisah Ramayana. Yang digambarkan melalui relief candi Prambanan
ataupun candi Panataran.
Dari relief-relief tersebut apabila diamati lebih lanjut, ternyata Indonesia juga mengambil kisah asli
ceritera tersebut, tetapi suasana kehidupan yang digambarkan oleh relief tersebut adalah suasana
kehidupan asli keadaan alam ataupun masyarakat Indonesia.
Dengan demikian terbukti bahwa Indonesia tidak menerima begitu saja budaya India, tetapi selalu
berusaha menyesuaikan dengan keadaan dan suasana di Indonesia.
Untuk wujud akulturasi dalam seni sastra dapat dibuktikan dengan adanya suatu ceritera/kisah
yang berkembang di Indonesia yang bersumber dari

kitab Ramayana yang ditulis oleh Walmiki dan


kitab Mahabarata yang ditulis oleh Wiyasa.

Kedua kitab tersebut merupakan kitab kepercayaan umat Hindu. Tetapi setelah berkembang di
Indonesia tidak sama proses seperti aslinya dari India karena sudah disadur kembali oleh
pujangga-pujangga Indonesia, ke dalam bahasa Jawa kuno. Dan,tokoh-tokoh cerita dalam kisah
tersebut ditambah dengan hadirnya tokoh punokawan seperti Semar, Bagong, Petruk dan Gareng.
Bahkan dalam kisah Bharatayuda yang disadur dari kitab Mahabarata tidak menceritakan perang
antar Pendawa dan Kurawa,melainkan menceritakan kemenangan Jayabaya dari Kediri melawan
Jenggala.
Di samping itu juga, kisah Ramayana maupun Mahabarata diambil sebagai suatu ceritera dalam
seni pertunjukan di Indonesia yaitu salah satunya pertunjukan Wayang.

Seni pertunjukan wayang merupakan salah satu kebudayaan asli Indonesia sejak zaman prasejarah
dan pertunjukan wayang tersebut sangat digemari terutama oleh masyarakat Jawa.
Untuk itu wujud akulturasi dalam pertunjukan wayang tersebut terlihat dari pengambilan lakon
ceritera dari kisah Ramayana maupun Mahabarata yang berasal dari budaya India, tetapi tidak
sama persis dengan aslinya karena sudah mengalami perubahan.
Perubahan tersebut antara lain terletak dari karakter atau perilaku tokoh-tokoh ceritera misalnya
dalam kisah Mahabarata keberadaan tokoh Durna, dalam cerita aslinya Dorna adalah seorang
maha guru bagi Pendawa dan Kurawa dan berperilaku baik, tetapi dalam lakon di Indonesia Dorna
adalah tokoh yang berperangai buruk suka menghasut.
Demikian penjelasan tentang wujud akulturasi dalam bidang kesenian. Dan yang perlu dipahami
dari seluruh uraian tentang wujud akulturasi tersebut bahwa unsur budaya India tidak pernah
menjadi unsur budaya yang dominan dalam kerangka budaya Indonesia, karena dalam proses
akulturasi tersebut, Indonesia selalu bertindak selektif.
Untuk memudahkan Anda dalam memahami uraian materi wujud akulturasi Kebudayaan Indonesia
dengan Kebudayaan India, maka simaklah ikhtisar dari wujud akulturisasi tersebut seperti pada
tabel 1.3 berikut ini.
Tabel 1.3. Ikhtisar wujud kulturasi kebudayaan Indonesia dengan

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Selamat Datang di Blog Siti is Sitong!


Semoga bermanfaat.
Terima kasih.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.


Jumat, 28 Oktober 2011

Akulturasi Kebudayaan Hindu-pra Hindu dan Islam-pra


Islam
Bentuk-bentuk akulturasi kebudayaan :
a.

Hindu dan pra Hindu di Indonesia

b.

Islam dan pra Islam di Indonesia

a.

Hindu dan pra Hindu di Indonesia

Indonesia sebagai daerah yang dilalui jalur perdagangan memungkinkan


bagi para pedagang India untuk sungguh tinggal di kota pelabuhan-pelabuhan di
Indonesia guna menunggu musim yang baik. Mereka pun melakukan interaksi
dengan penduduk setempat di luar hubungan dagang. Masuknya pengaruh
budaya dan agama Hindu-Budha di Indonesia dapat dibedakan atas 3 periode
sebagai berikut.
1. Periode Awal (Abad V-XI M)
Pada periode ini, unsur Hindu-Budha lebih kuat dan lebih terasa serta menonjol
sedang unsur/ciri-ciri kebudayaan Indonesia terdesak. Terlihat dengan banyak
ditemukannya patung-patung dewa Brahma, Wisnu, Siwa, dan Budha di
kerajaan-kerajaan seperti Kutai, Tarumanegara dan Mataram Kuno.
2. Periode Tengah (Abad XI-XVI M)
Pada periode ini unsur Hindu-Budha dan Indonesia berimbang. Hal tersebut
disebabkan karena unsur Hindu-Budha melemah sedangkan unsur Indonesia
kembali menonjol sehingga keberadaan ini menyebabkan munculnya sinkretisme
(perpaduan dua atau lebih aliran). Hal ini terlihat pada peninggalan zaman
kerajaaan Jawa Timur seperti Singasari, Kediri, dan Majapahit. Di Jawa Timur lahir

aliran Tantrayana yaitu suatu aliran religi yang merupakan sinkretisme antara
kepercayaan
Indonesia
asli
dengan
agama
Hindu-Budha.
Raja bukan sekedar pemimpin tetapi merupakan keturunan para dewa. Candi
bukan hanya rumah dewa tetapi juga makam leluhur.
3. Periode Akhir (Abad XVI-sekarang)
Pada periode ini, unsur Indonesia lebih kuat dibandingkan dengan periode
sebelumnya,
sedangkan
unsur
Hindu-Budha
semakin
surut
karena
perkembangan politik ekonomi di India. Di Bali kita dapat melihat bahwa Candi
yang menjadi pura tidak hanya untuk memuja dewa. Roh nenek moyang dalam
bentuk Meru Sang Hyang Widhi Wasa dalam agama Hindu sebagai manifestasi
Ketuhanan Yang Maha Esa. Upacara Ngaben sebagai objek pariwisata dan sastra
lebih banyak yang berasal dari Bali bukan lagi dari India.

AKULTURASI
Masuknya budaya Hindu-Budha di Indonesia menyebabkan munculnya
Akulturasi. Akuturasi adalah perpaduan antara kebudayaan yang berbeda yang
berlangsung dengan damai dan serasi dimana kedua unsur kebudayaan bertemu
dapat hidup berdampingan dan saling mengisi serta tidak menghilangkan unsurunsur asli dari kedua kebudayaan tersebut. Kebudayaan Hindu-Budha yang
masuk di Indonesia tidak diterima begitu saja melainkan melalui proses
pengolahan dan penyesuaian dengan kondisi kehidupan masyarakat Indonesia
tanpa menghilangkan unsur-unsur asli. Hal ini disebabkan karena:
1. Masyarakat Indonesia telah memiliki dasar-dasar kebudayaan yang cukup
tinggi sehingga masuknya kebudayaan asing ke Indonesia menambah
perbendaharaan
kebudayaan
Indonesia.
2. Kecakapan istimewa yang dimiliki bangsa Indonesia atau local genius
merupakan kecakapan suatu bangsa untuk menerima unsur-unsur kebudayaan
asing dan mengolah unsur-unsur tersebut sesuai dengan kepribadian bangsa
Indonesia.
Pengaruh kebudayaan Hindu hanya bersifat melengkapi kebudayaan yang telah
ada di Indonesia. Perpaduan budaya Hindu-Budha melahirkan akulturasi yang
masih terpelihara sampai sekarang. Akulturasi tersebut merupakan hasil dari
proses pengolahan kebudayaan asing sesuai dengan kebudayaan Indonesia.
Wujud akulturasi tersebut adalah berikut ini:
1. Bahasa
Wujud akulturasi dalam bidang bahasa, dapat dilihat dari adanya penggunaan
bahasa Sansekerta yang dapat Anda temukan sampai sekarang dimana bahasa
Sansekerta memperkaya perbendaharaan bahasa Indonesia.

Penggunaan
bahasa
Sansekerta
pada
awalnya
banyak
ditemukan
pada prasasti (batu bertulis) peninggalan kerajaan Hindu - Budha pada abad 5 7 M, contohnya prasasti Yupa dari Kutai, prasasti peninggalan Kerajaan
Tarumanegara. Tetapi untuk perkembangan selanjutnya bahasa Sansekerta di
gantikan oleh bahasa Melayu Kuno seperti yang ditemukan pada prasasti
peninggalan kerajaan Sriwijaya 7 - 13 M. Untuk aksara, dapat dibuktikan adanya
penggunaan huruf Pallawa, kemudian berkembang menjadi huruf Jawa Kuno
(kawi) dan huruf (aksara) Bali dan Bugis. Hal ini dapat dibuktikan melalui Prasasti
Dinoyo (Malang) yang menggunakan huruf Jawa Kuno. Sedangkan di kerajaan
Sriwijaya huruf Pallawa berkembang menjadi huruf Nagari. Perkembangannya
pada masa sekarang menjadi aksara Jawa serta aksara Bali.

2. Religi/Kepercayaan

Sistem kepercayaan yang berkembang di Indonesia sebelum agama


Hindu-Budha masuk ke Indonesia adalah kepercayaan yang berdasarkan pada
Animisme
dan
Dinamisme.
Dengan masuknya agama Hindu - Budha ke Indonesia, masyarakat Indonesia
mulai menganut/mempercayai agama-agama tersebut. Agama Hindu dan Budha
yang berkembang di Indonesia sudah mengalami perpaduan dengan
kepercayaan
animisme
dan
dinamisme,
atau
dengan
kata
lain
mengalami Sinkritisme. Sinkritisme adalah bagian dari proses akulturasi, yang
berarti perpaduan dua kepercayaan yang berbeda menjadi satu. Untuk itu
agama Hindu dan Budha yang berkembang di Indonesia, berbeda dengan agama
Hindu - Budha yang dianut oleh masyarakat India. Perbedaaan-perbedaan
tersebut dilihat dalam upacara ritual yang diadakan oleh umat Hindu atau Budha
yang ada di Indonesia. Contohnya, upacara Nyepi yang dilaksanakan oleh umat
Hindu Bali, upacara tersebut tidak dilaksanakan oleh umat Hindu di India. Contoh
yang lain adalah berkembangnya aliran Tantrayana di Jawa Timur seperti yang
dilakukan Kertanegara dari Singasari yang merupakan penjelmaaan Siwa.
Kepercayaan terhadap roh leluhur masih terwujud dalam upacara kematian
dengan mengadakan kenduri 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1 tahun, 2 tahun
dan 1000 hari, serta masih banyak hal-hal yang dilakukan oleh masyarakat Jawa.

3. Organisasi Sosial Kemasyarakatan

Wujud akulturasi dalam bidang organisasi sosial kemasyarakatan dapat dilihat


dalam organisasi politik yaitu sistem pemerintahan yang berkembang di
Indonesia setelah masuknya pengaruh India.

Sebelum masuknya Hindu-Budha di Indonesia dikenal sistem pemerintahan oleh


kepala suku yang dipilih karena memiliki kelebihan tertentu jika dibandingkan
anggota kelompok lainnya.Dengan adanya pengaruh kebudayaan India tersebut,
maka sistem pemerintahan yang berkembang di Indonesia adalah bentuk
kerajaan yang diperintah oleh seorang raja secara turun temurun.
Raja dianggap sebagai keturuanan dari dewa yang memiliki kekuatan, dihormati,
dan dipuja. Sehingga memperkuat kedudukannya untuk memerintah wilayah
kerajaan secara turun temurun, dan meninggalkan sistem pemerintahan kepala
suku. Selain itu, Raja di Indonesia ada yang dipuja sebagai dewa atau dianggap
keturunan dewa yang keramat, sehingga rakyat sangat memuja Raja tersebut,
hal ini dapat dibuktikan dengan adanya raja-raja yang memerintah
di Singosari seperti
Kertanegara
diwujudkan
sebagai
Bairawa
dan R
Wijaya Raja Majapahit diwujudkan sebagai Harhari (dewa Syiwa dan Wisnu jadi
satu).
Pemerintahan Raja di Indonesia ada yang bersifat mutlak dan turun-temurun
seperti di India dan ada juga yang menerapkan prinsip musyawarah. Prinsip
musyawarah diterapkan terutama apabila raja tidak mempunyai putra mahkota
yaitu
seperti
yang
terjadi
di
kerajaan
Majapahit,
pada
waktu
pengangkatanWikramawardana.Wujud akulturasi di samping terlihat dalam
sistem pemerintahan juga terlihat dalam sistem kemasyarakatan, yaitu
pembagian
lapisan
masyarakat
berdasarkan
sistem
kasta.
Sistem kasta menurut kepercayaan Hindu terdiri dari kasta Brahmana (golongan
Pendeta), kasta Ksatria (golongan Prajurit, Bangsawan), kasta Waisya (golongan
pedagang) dan kasta Sudra (golongan rakyat jelata).
Kasta-kasta tersebut juga berlaku atau dipercayai oleh umat Hindu Indonesia
tetapi tidak sama persis dengan kasta-kasta yang ada di India karena kasta India
benar-benar diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan, sedangkan di Indonesia
tidak demikian, karena di Indonesia kasta hanya diterapkan untuk upacara
keagamaan.
4. Perhitungan Waktu (Kalender)

Wujud akulturasi Indonesia dengan Hindu juga tampak pada perhitungan waktu
berdasarkan kalender tahun saka, tahun dalam kepercayaan Hindu, yang
diadopsi dari sistem kalender/penanggalan India. Hal ini terlihat dengan adanya
penggunaan tahun Saka di Indonesia. Tercipta kalender dengan sebutan tahun
Saka yang dimulai tahun 78 M (merupakan tahun Matahari, tahun Samsiah) pada
waktu raja Kanishka I dinobatkan jumlah hari dalam 1 tahun ada 365 hari. Oleh
orang Bali, tahun Saka tidak didasarkan pada sistem Surya Pramana tetapi
sistem Chandra Pramana (tahun Bulan, tahun Kamariah) dalam 1 tahun ada 354
hari. Musim panas jatuh pada hari yang sama dalam bulan Maret dimana

matahari, bumi, bulan ada pada garis lurus. Hari tersebut dirayakan sebagai Hari
Raya Nyepi.
Di samping adanya pengetahuan tentang kalender Saka, juga ditemukan
perhitungan tahun Saka dengan menggunakan Candrasangkala/Kronogram
dalam rangka memperingati suatu peristiwa. Candrasangkala adalah susunan
kalimat atau gambar yang dapat dibaca sebagai angka. Bila berupa gambar
harus diartikan dalam bentuk kalimat. Candrasangkala banyak ditemukan dalam
prasasti yang ditemukan di pulau Jawa, dan menggunakan kalimat bahasa Jawa.
Salah satu contohnya yaitu kalimat Sirna Ilang Kertaning Bhumi apabila
diartikan sirna = 0, ilang = 0, kertaning = 4 dan bhumi = 1, maka kalimat
tersebut diartikan dan belakang sama dengan tahun 1400 saka atau sama
dengan 1478 M yang merupakan tahun runtuhnya Majapahit .

5. Filsafat
Lahir Astrologi yaitu pengetahuan yang berkaitan dengan
alam
semesta/
astronomi.
Contoh : orang memberi nama anak berdasarkan hari,
tanggal,
bulan
lahirnya.
Adanya buku primbon sebagai pedoman hidup dan tatanan
tradisi yang semula hanya merupakan catatan turun
temurun. Ajaran Hindu-Budha penuh dengan upacara
keagamaan. Falsafah agama tersebut mengajarkan hal-hal
yang bersifat pasifistis yaitu ajaran yang menuju pada
kehidupan damai, menerima apa yang menjadi takdir
karena semuanya ditentukan oleh Yang Maha Kuasa.
6. Bidang Pendidikan
Masuknya Hindu-Budha juga mempengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia
dalam bidang pendidikan. Sebab sebelumnya masyarakat Indonesia belum
mengenal tulisan. Namun dengan masuknya Hindu-Budha, sebagian masyarakat
Indonesia
mulai
mengenal
budaya
baca
dan
tulis.
Bukti pengaruh dalam pendidikan di Indonesia yaitu :
a. Dengan digunakannya bahasa Sansekerta dan Huruf Pallawa dalam kehidupan
sebagian masyarakat Indonesia. Bahasa tersebut terutama digunakan di
kalangan pendeta dan bangsawan kerajaan. Telah mulai digunakan bahasa Kawi,
bahasa Jawa Kuno, dan bahasa Bali Kuno yang merupakan turunan dari bahasa
Sansekerta.
b. Telah dikenal juga sistem pendidikan berasrama (ashram) dan didirikan
sekolah-sekolah khusus untuk mempelajari agama Hindu-Budha. Sistem
pendidikan tersebut kemudian diadaptasi dan dikembangkan sebagai sistem
pendidikan yang banyak diterapkan di berbagai kerajaan di Indonesia.

c. Bukti lain tampak dengan lahirnya banyak karya sastra bermutu tinggi yang
merupakan interpretasi kisah-kisah dalam budaya Hindu-Budha. Contohnya
Empu Sedah dan Panuluh dengan karyanya Bharatayudha.
d. Pengaruh Hindu Budha nampak pula pada berkembangnya ajaran budi pekerti
berlandaskan ajaran agama Hindu-Budha. Pendidikan tersebut menekankan
kasih sayang, kedamaian dan sikap saling menghargai sesama manusia mulai
dikenal dan diamalkan oleh sebagian masyarakat Indonesia saat ini.
e. Para pendeta awalnya datang ke Indonesia untuk memberikan pendidikan dan
pengajaran mengenai agama Hindu kepada rakyat Indonesia. Mereka datang
karena berawal dari hubungan dagang. Para pendeta tersebut kemudian
mendirikan tempat-tempat pendidikan yang dikenal dengan pasraman. Di
tempat inilah rakyat mendapat pengajaran. Karena pendidikan tersebut maka
muncul tokoh-tokoh masyarakat Hindu yang memiliki pengetahuan lebih dan
menghasilkan berbagai karya sastra. Rakyat Indonesia yang telah memperoleh
pendidikan tersebut kemudian menyebarkan pada yang lainnya. Sebagian dari
mereka ada yang pergi ke tempat asal agama tersebut. Untuk menambah ilmu
pengetahuan dan melakukan ziarah. Sekembalinya dari sana mereka
menyebarkan agama menggunakan bahasa sendiri sehingga dapat dengan
mudah
diterima
oleh
masyarakat
asal.
Agama Budha tampak bahwa pada masa dulu telah terdapat guru besar agama
Budha, seperti di Sriwijaya ada Dharmakirti, Sakyakirti, Dharmapala. Bahkan raja
Balaputra dewa mendirikan asrama khusus untuk pendidikan para pelajar
sebelum menuntut ilmu di Benggala (India)
7. Budaya dan Teknologi
Masyarakat Indonesia dari sebelum masuknya agama Hindu-Budha sebenarnya
sudah memiliki budaya yang cukup tinggi. Dengan masuknya pengaruh budaya
Hindu-Budha di Indonesia semakin mempertinggi teknologi yang sudah dimiliki
bangsa Indonesia sebelumnya. Pengaruh Hindu-Budha terhadap perkembangan
teknologi masyarakat Indonesia terlihat dalam bidang kemaritiman, bangunan
dan pertanian.
Perkembangan kemaritiman terlihat dengan semakin banyaknya kota-kota
pelabuhan, ekspedisi pelayaran dan perdagangan antar negara. Selain itu,
bangsa Indonesia yang awalnya baru dapat membuat sampan sebagai alat
transportasi
kemudian
mulai
dapat
membuat
perahu
bercadik.
Perpaduan antara pengetahuan dan teknologi dari India dengan Indonesia
terlihat pula pada pembuatan dan pendirian bangunan candi baik candi dari
agama
Hindu
maupun
Budha.
Bangunan candi merupakan hasil karya ahli-ahli bangunan agama Hindu-Budha
yang memiliki nilai budaya yang sangat tinggi. Selain itu terlihat dalam penulisan
prasasti-prasastri pada batu-batu besar yang membutuhkan keahlian,
pengetahuan, dan teknik penulisan yang tinggi. Pengetahuan dan perkenalan

teknologi yang tinggi dilakukan secara turun-temurun dari satu generasi ke


generasi selanjutnya.
Dalam bidang pertanian, tampak dengan adanya pengelolaan sistem irigasi yang
baik mulai diperkenalkan dan berkembang pada zaman masuknya Hindu-Budha
di Indonesia. Tampak pada relief candi yang menggambarkan teknologi irigasi
pada zaman Majapahit.
Selain itu, dalam bidang seni dan budaya terdapat bangunan Candi. Bangunan
Candi memang mengandung unsur budaya India tetapi keberadaan candi-candi
di Indonesia tidak sama dengan candi-candi yang ada di India, karena candi di
Indonesia hanya mengambil unsur teknologi perbuatannya melalui dasar-dasar
teoritis yang tercantum dalam kitab Silpasastra yaitu sebuah kitab pegangan
yang memuat berbagai petunjuk untuk melaksanakan pembuatan arca dan
bangunan.
Untuk itu dilihat dari bentuk dasar maupun fungsi candi tersebut terdapat
perbedaan. Bentuk dasar bangunan candi di Indonesia adalah punden berundakundak,
yang
merupakan
salah
satu
peninggalan
kebudayaan Megalithikum yang
berfungsi
sebagai
tempat
pemujaan.
Sedangkan fungsi bangunan candi itu sendiri di Indonesia sesuai dengan asal
kata candi tersebut. Perkataan candi berasal dari kata Candika yang merupakan
salah satu nama dewi Durga atau dewi maut, sehingga candi merupakan
bangunan untuk memuliakan orang yang telah wafat khususnya raja-raja dan
orang-orang terkemuka.
Di samping itu, dalam bahasa kawi candi berasal dari kata Cinandi artinya yang
dikuburkan. Untuk itu yang dikuburkan didalam candi bukanlah mayat atau abu
jenazah melainkan berbagai macam benda yang menyangkut lambang
jasmaniah raja yang disimpan dalam Pripih.
Dengan demikian fungsi candi Hindu di Indonesia adalah untuk pemujaan
terhadap roh nenek moyang atau dihubungkan dengan raja yang sudah
meninggal. Hal ini terlihat dari adanya lambang jasmaniah raja sedangkan fungsi
candi di India adalah untuk tempat pemujaan terhadap dewa, contohnya seperti
candi-candi yang terdapat di kota Benares merupakan tempat pemujaan
terhadap dewa Syiwa.
Candi Singasari adalah salah satu peninggalan kerajaan Singosari yang
merupakan tempat dimuliakannya raja Wisnuwardhana yang memerintah tahun
1248 - 1268.
Dilihat dari candi tersebut, bentuk dasarnya adalah punden berundak- undak dan
pada bagian bawah terdapat kaki candi yang di dalamnya terdapat sumuran
candi, di mana di dalam sumuran candi tersebut tempat menyimpan pripih
(lambang jasmaniah raja Wisnuwardhana).
Untuk candi yang bercorak Budha fungsinya sama dengan di India yaitu untuk
memuja Dyani Bodhisattwa yang dianggap sebagai perwujudan dewa.

Candi Borobudur adalah candi Budha yang terbesar sehingga merupakan salah
satu dari 7 keajaiban dunia dan merupakan salah satu peninggalan kerajaan
Mataram dilihat dari 3 tingkatan, pada tingkatan yang paling atas terdapat
patung Dyani Budha.Patung-patung Dyani Budha inilah yang menjadi tempat
pemujaan umat Budha. Di samping itu juga pada bagian atas, juga terdapat atap
candi yang berbentuk stupa.
Untuk candi Budha di India hanya berbentuk stupa, sedangkan di Indonesia
stupa merupakan ciri khas atap candi-candi yang bersifat agama Budha. Dengan
demikian seni bangunan candi di Indonesia memiliki kekhasan tersendiri karena
Indonesia hanya mengambil intinya saja dari unsur budaya India sebagai dasar
ciptaannya dan hasilnya tetap sesuatu yang bercorak Indonesia.
8. Kesenian
Seni Bangunan
Dasar bangunan candi itu merupakan hasil pembangunan bangsa Indonesia dari
zaman Megalitikum, yaitu bangunan punden berundak-undak. Punden berundakundak ini mendapat pengaruh Hindu-Budha, sehingga menjadi wujud sebuah
candi, contohnya Candi Borobudur. Pada candi disertai pula berbagai macam
benda yang ikut dikubur yang disebut bekal kubur sehingga candi juga berfungsi
sebagai makam bukan semata-mata sebagai rumah dewa. Sedangkan candi
Budha, hanya jadi tempat pemujaan dewa tidak terdapat peti pripih dan abu
jenazah ditanam di sekitar candi dalam bangunan stupa.

Seni rupa/Seni lukis


Unsur seni rupa dan seni lukis India telah masuk ke
Indonesia.hal ini terbukti dengan ditemukannya patung
Budha berlanggam Gandara di kota Bangun, Kutai. Juga
patung Budha berlanggam Amarawati ditemukan di
Sikendeng (Sulawesi Selatan).
Seni rupa tampak berupa patung dan relief. Patung dapat kita lihat pada
penemuan patung Budha berlanggam Gandara di Bangun Kutai. Serta patung
Budha berlanggam Amarawati di Sikending (Sulawesi Selatan).
Sedangkan
relief-relief (gambar timbul) pada
dinding
candi
banyak
menggambarkan suatu kisah/cerita yang berhubungan dengan ajaran agama
Hindu ataupun Budha. Pada Candi Borobudur tampak adanya seni rupa India,
dengan ditemukannya relief-relief ceritera Sang Budha Gautama. Relief dari
candi Borobudur yang menggambarkan Budha sedang digoda oleh Mara yang
menari-nari diiringi gendang. Relief ini mengisahkan riwayat hidup Sang Budha
seperti yang terdapat dalam kitab Lalitawistara. Selain itu, relief pada Candi
Borobudur menunjukan suasana alam Indonesia, terlihat dengan adanya lukisan
rumah panggung dan hiasan burung merpati. Di samping itu, juga terdapat
hiasan perahu bercadik. Lukisan-lukisan tersebut merupakan lukisan asli

Indonesia, karena tidak pernah ditemukan pada candi-candi yang terdapat di


India.
Demikian pula halnya dengan candi-candi Hindu. Relief-reliefnya yang juga
mengambil kisah yang terdapat dalam kepercayaan Hindu seperti kisah
Ramayana yang digambarkan melalui relief candi Prambanan ataupun candi
Panataran.
Dari relief-relief tersebut apabila diamati lebih lanjut, ternyata Indonesia juga
mengambil kisah asli cerita tersebut, tetapi suasana kehidupan yang
digambarkan oleh relief tersebut adalah suasana kehidupan asli keadaan alam
ataupun masyarakat Indonesia. Dengan demikian terbukti bahwa Indonesia tidak
menerima begitu saja budaya India, tetapi selalu berusaha menyesuaikan
dengan keadaan dan suasana di Indonesia.

Seni sastra
Prasasti-prasasti awal yang menunjukkan pengaruh HinduBudha di Indonesia yaitu seperti yang ditemukan di
Kalimantan Timur, Sriwijaya, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.
Prasasti itu ditulis dalam bahasa Sansekerta dan huruf
Pallawa.
Untuk wujud akulturasi yang lain dapat dibuktikan dengan adanya suatu
ceritera/kisah yang berkembang di Indonesia yang bersumber dari kitab
Ramayana yang ditulis oleh Walmiki dan kitab Mahabarata yang ditulis
oleh Wiyasa. Kedua kitab tersebut merupakan kitab kepercayaan umat Hindu.
Tetapi setelah berkembang di Indonesia tidak sama proses seperti aslinya dari
India karena sudah disadur kembali oleh pujangga-pujangga Indonesia, ke dalam
bahasa Jawa kuno. Dan, tokoh-tokoh cerita dalam kisah tersebut ditambah
dengan hadirnya tokoh punakawan seperti Semar, Bagong, Petruk dan Gareng.
Bahkan dalam kisah Bharatayuda yang disadur dari kitab Mahabarata tidak
menceritakan perang antar Pandawa dan Kurawa, melainkan menceritakan
kemenangan Jayabaya dari Kediri melawan Jenggala.
Di samping itu juga, kisah Ramayana maupun Mahabarata diambil sebagai suatu
ceritera dalam seni pertunjukan di Indonesia yaitu salah satunya pertunjukan
Wayang. Seni pertunjukan wayang merupakan salah satu kebudayaan asli
Indonesia sejak zaman prasejarah dan pertunjukan wayang tersebut sangat
digemari terutama oleh masyarakat Jawa. Wujud akulturasi dalam pertunjukan
wayang tersebut terlihat dari pengambilan lakon ceritera dari kisah Ramayana
maupun Mahabarata yang berasal dari budaya India, tetapi tidak sama persis
dengan aslinya karena sudah mengalami perubahan. Perubahan tersebut antara
lain terletak dari karakter atau perilaku tokoh-tokoh ceritera misalnya dalam
kisah Mahabarata keberadaan tokoh Durna, dalam cerita aslinya Dorna adalah
seorang maha guru bagi Pandawa dan Kurawa dan berperilaku baik, tetapi dalam
lakon di Indonesia Dorna adalah tokoh yang berperangai buruk dan suka
menghasut.
Selain itu, banyak karya-karya sastra lain yang bermutu tinggi yaitu :

Bharatayudha karya Empu Sedah dan Panuluh


Arjuna Wiwaha karya Empu Kanwa
Smaradhana karya Empu Dharmaja
Negarakertagama karya Empu Prapanca
Sutasoma karya Empu Tantular

Sumber :
http://riefqie-yupss.blogspot.com/2009/08/akulturasi-budaya-hindu-budha-islamdi.html
http://pakyoyok.multiply.com/journal/item/6/AKULTURASI_HINDU_BUDHA_DI_INDO
NESIA
http://hasheem.wordpress.com/bahan-ajar/materi-ips-kls-vii/

b.

Islam dan pra Islam di Indonesia

Sebelum Islam masuk dan berkembang, Indonesia sudah memiliki corak


kebudayaan yang dipengaruhi oleh agama Hindu dan Budha. Dengan masuknya
Islam, Indonesia kembali mengalami proses akulturasi (proses bercampurnya dua
(lebih)
kebudayaan
karena
percampuran
bangsa-bangsa
dan
saling
mempengaruhi), yang melahirkan kebudayaan baru yaitu kebudayaan Islam
Indonesia. Masuknya Islam tersebut tidak berarti kebudayaan Hindu dan Budha
hilang. Bentuk budaya sebagai hasil dari proses akulturasi tersebut, tidak hanya
bersifat kebendaan/material tetapi juga menyangkut perilaku masyarakat
Indonesia.
1. Seni Bangunan
Wujud akulturasi dalam seni bangunan dapat terlihat pada bangunan masjid,
makam, istana. Wujud akulturasi dari masjid kuno memiliki ciri sebagai berikut:
a. Atapnya berbentuk tumpang yaitu atap yang bersusun semakin ke atas semakin
kecil dari tingkatan paling atas berbentuk limas. Jumlah atapnya ganjil 1, 3 atau
5. Dan biasanya ditambah dengan kemuncak untuk memberi tekanan akan
keruncingannya yang disebut dengan Mustaka.
b. Tidak dilengkapi dengan menara, seperti lazimnya bangunan masjid yang ada di
luar Indonesia atau yang ada sekarang, tetapi dilengkapi dengan kentongan atau
bedug untuk menyerukan adzan atau panggilan sholat. Bedug dan kentongan
merupakan budaya asli Indonesia.
c. Letak masjid biasanya dekat dengan istana yaitu sebelah barat alun-alun atau
bahkan didirikan di tempat-tempat keramat yaitu di atas bukit atau dekat
dengan makam.

Mengenai contoh masjid kuno dapat memperhatikan Masjid Agung Demak,


Masjid Gunung Jati (Cirebon), Masjid Kudus dan sebagainya. Selain bangunan
masjid sebagai wujud akulturasi kebudyaan Islam, juga terlihat pada bangunan
makam. Ciri-ciri dari wujud akulturasi pada bangunan makam terlihat dari:
a. makam-makam kuno dibangun di atas bukit atau tempat-tempat yang keramat.
b. makamnya terbuat dari bangunan batu yang disebut dengan Jirat atau
Kijing,nisannya juga terbuat dari batu.
c. di atas jirat biasanya didirikan rumah tersendiri yang disebut dengan cungkup
atau kubba.
d. dilengkapi dengan tembok atau gapura yang menghubungkan antara makam
dengan makam atau kelompok-kelompok makam. Bentuk gapura tersebut ada
yang berbentuk kori agung (beratap dan berpintu) dan ada yang berbentuk candi
bentar (tidak beratap dan tidak berpintu).
e. Di dekat makam biasanya dibangun masjid, maka disebut masjid makam dan
biasanya makam tersebut adalah makam para wali atau raja. Contohnya masjid
makam Sendang Duwur di Tuban.
Bangunan istana arsitektur yang dibangun pada awal perkembangan Islam, juga
memperlihatkan adanya unsur akulturasi dari segi arsitektur ataupun ragam
hias, maupun dari seni patungnya contohnya istana Kasultanan Yogyakarta
dilengkapi dengan patung penjaga Dwarapala (Hindu).
2. Seni Rupa
Tradisi Islam tidak menggambarkan bentuk manusia atau hewan. Seni ukir relief
yang menghias Masjid, makam Islam berupa suluran tumbuh-tumbuhan namun
terjadi pula Sinkretisme (hasil perpaduan dua aliran seni logam), agar didapat
keserasian, ditengah ragam hias suluran terdapat bentuk kera yang distilir. Juga
dii Masjid Cirebon yang terdapat pahatan berbentuk harimau. Pahatan berupa
gambar tersebut disebut Arabesk
Ukiran ataupun hiasan, selain ditemukan di masjid juga ditemukan pada gapuragapura atau pada pintu dan tiang. Untuk hiasan pada gapura.
3. Aksara dan Seni Sastra
Tersebarnya agama Islam ke Indonesia maka berpengaruh terhadap bidang
aksara atau tulisan, yaitu masyarakat mulai mengenal tulisan Arab, bahkan
berkembang tulisan Arab Melayu atau biasanya dikenal dengan istilah Arab
gundul yaitu tulisan Arab yang dipakai untuk menuliskan bahasa Melayu tetapi
tidak menggunakan tandatanda a, i, u seperti lazimnya tulisan Arab. Di samping
itu juga, huruf Arab berkembang menjadi seni kaligrafi yang banyak digunakan
sebagai motif hiasan ataupun ukiran. Selain itu, juga adanya larangan membuat
gambar maupun patung berupa Makhluk Hidup terutama ditempat ibadah
Sedangkan dalam seni sastra yang berkembang pada awal periode Islam adalah
seni sastra yang berasal dari perpaduan sastra pengaruh Hindu Budha dan
sastra Islam yang banyak mendapat pengaruh Persia. Dengan demikian wujud
akulturasi dalam seni sastra tersebut terlihat dari tulisan/ aksara yang

dipergunakan yaitu menggunakan huruf Arab Melayu (Arab Gundul) dan isi
ceritanya juga ada yang mengambil hasil sastra yang berkembang pada jaman
Hindu.
Bentuk seni sastra yang berkembang adalah:
a. Hikayat merupakan dongeng atau cerita rakyat yang sudah ada sebelum
masuknya Islam. Hikayat yaitu cerita atau dongeng yang berpangkal dari
peristiwa atau tokoh sejarah. Hikayat ditulis dalam bentuk peristiwa atau tokoh
sejarah. Hikayat ditulis dalam bentuk gancaran (karangan bebas atau prosa).
Contoh hikayat yang terkenal yaitu Hikayat 1001 Malam, Hikayat Amir
Hamzah,Hikayat Panji Semirang , Hikayat Pandawa Lima (Hindu), dan Hikayat Sri
Rama (Hindu).
b. Babad adalah kisah rekaan pujangga keraton yang dianggap sebagai peristiwa
sejarah. Babad terkadang memuat silsilah para raja suatu kerajaan
Islam. contohnya Babad Tanah Jawi (Jawa Kuno), Babad Cirebon, dan Babad
Ranggalawe.
c. Suluk adalah karya sastra berisi ajaran-ajaran tasawufcontohnya Suluk Sukarsa,
Suluk Wijil, Suluk Malang Sumirang dan sebagainya.
d. Primbon adalah hasil sastra yang sangat dekat dengan Suluk karena berbentuk
kitab yang berisi ramalan-ramalan, keajaiban dan penentuan hari baik/buruk.
Bentuk seni sastra tersebut di atas, banyak berkembang di Melayu dan Pulau
Jawa.
4. Sosial
v Mulai dikenal sistem demokrasi
v Tidak mengenal adanya sistem kasta
v Tidak mengenal perbedaan gologan dalam masyarakat
5. Sistem Pemerintahan
Dalam pemerintahan, sebelum Islam masuk Indonesia, sudah berkembang
pemerintahan yang bercorak Hindu ataupun Budha, tetapi setelah Islam masuk,
maka kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu/Budha mengalami keruntuhannya
dan digantikan peranannya oleh kerajaan-kerajaan yang bercorak Islam seperti
Samudra Pasai, Demak, Malaka dan sebagainya.
Wujud akulturasi dengan Islam yaitu digunakannya aturan-aturan Islam dalam
pemerintahan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia.Sistem pemerintahan yang
bercorak Islam, rajanya bergelar Sultan atau Sunan seperti halnya para wali dan
apabila rajanya meninggal tidak lagi dimakamkan dicandi/dicandikan tetapi
dimakamkan secara Islam.
Terbukti dengan adanya :
- Raja Mataram Islam awalnya bergelar Sunan/Susuhunan, artinya dijunjung

- Raja akan diberi Gelar Sultan jika telah diangkat atas persetujuan khalifah yang
memerintah di Timur Tengah
- Terdapat gelar lain yaitu Panembahan, Maulana
6. Sistem Kalender
Sebelum budaya Islam masuk ke Indonesia, masyarakat Indonesia sudah
mengenal Kalender Saka (kalender Hindu) yang dimulai tahun 78M. Dalam
kalender Saka ini ditemukan nama-nama pasaran hari seperti legi, pahing, pon,
wage dan kliwon. Apakah sebelumnya Anda pernah mengetahui/mengenal harihari pasaran? Setelah berkembangnya Islam Sultan Agung dari Mataram
menciptakan kalender Jawa, dengan menggunakan perhitungan peredaran bulan
(komariah) seperti tahun Hijriah (Islam).
Pada kalender Jawa, Sultan Agung melakukan perubahan pada nama-nama bulan
seperti Muharram diganti dengan Syuro, Ramadhan diganti dengan Pasa.
Sedangkan nama-nama hari tetap menggunakan hari-hari sesuai dengan bahasa
Arab. Dan bahkan hari pasaran pada kalender saka juga dipergunakan.
Kalender Sultan Agung tersebut dimulai tanggal 1 Syuro 1555 Jawa, atau
tepatnya 1 Muharram 1053 H yang bertepatan tanggal 8 Agustus 1633 M.
Demikianlah uraian materi tentang wujud akulturasi kebudayaan Indonesia dan
kebudayaan Islam, sebenarnya masih banyak contoh wujud akulturasi yang lain,
untuk itu silahkan diskusikan dengan teman-teman Anda, mencari wujud
akulturasi dari berbagai pelaksanaan peringatan hari-hari besar Islam atau
upacara-upacara yang berhubungan dengan keagamaan.
7. Filsafat
Setelah Islam lahir berkembanglah Ilmu filsafat yang berfungsi untuk mendukung
pendalaman agama Islam.

Abad 8 M, lahir dasar-dasar Ilmu Fikih


Fikih, merupakan ilmu yang mempelajari hukum dan peraturan yang mengatur
hak dan kewajiban umat Islam terhadap Tuhan dan sesama manusia. Dengan
Fikih diharapkan umat Islam dapat hidup sesuai dengan kaidah Islam.
Abad ke-10 M, lahir dasar-dasar Ilmu Qalam dan Tasawuf
Qalam, merupakan ajaran pokok Islam tentang keesaan Tuhan, Ilmu
teologi/Ilmu ketuhanan/ Ilmu Tauhid.
Asal mula lahirnya tasawuf karena pencarian Allah karena kecintaan dan
kerinduan pada Allah.
Tasawuf kemudian berkembang menjadi aliran kepercayaan.

Sumber :

http://pardedejabijabi.wordpress.com/2011/03/08/budaya-indonesia-hasilakulturasi-budaya-hindu-budhadan-islam/

http://riefqie-yupss.blogspot.com/2009/08/akulturasi-budaya-hindu-budha-islamdi.html

http://indonesianto07.wordpress.com/2008/11/09/perkembangan-dan-akulturasiislam-di-indonesia/

Bentuk-bentuk akulturasi Hindu-pra


Hindu di Indonesia

Indonesia sebagai daerah yang dilalui jalur perdagangan memungkinkan bagi para
pedagang India untuk sungguh tinggal di kota pelabuhan-pelabuhan di Indonesia guna
menunggu musim yang baik. Mereka pun melakukan interaksi dengan penduduk setempat
di luar hubungan dagang. Masuknya pengaruh budaya dan agama Hindu-Budha di
Indonesia dapat dibedakan atas 3 periode sebagai berikut.
1.

Periode Awal (Abad V-XI M)

Pada periode ini, unsur Hindu-Budha lebih kuat dan lebih terasa serta menonjol sedang
unsur/ ciri-ciri kebudayaan Indonesia terdesak. Terlihat dengan banyak ditemukannya
patung-patung dewa Brahma, Wisnu, Siwa, dan Budha di kerajaan-kerajaan seperti Kutai,
Tarumanegara dan Mataram Kuno.
2.

Periode Tengah (Abad XI-XVI M)

Pada periode ini unsur Hindu-Budha dan Indonesia berimbang. Hal tersebut disebabkan
karena unsur Hindu-Budha melemah sedangkan unsur Indonesia kembali menonjol
sehingga keberadaan ini menyebabkan munculnyasinkretisme (perpaduan dua atau lebih
aliran). Hal ini terlihat pada peninggalan zaman kerajaaan Jawa Timur seperti Singasari,
Kediri, dan Majapahit. Di Jawa Timur lahir aliranTantrayana yaitu suatu aliran religi yang
merupakan sinkretisme antara kepercayaan Indonesia asli dengan agama Hindu-Budha.
Raja bukan sekedar pemimpin tetapi merupakan keturunan para dewa. Candi bukan hanya
rumah dewa tetapi juga makam leluhur.
3.

Periode Akhir (Abad XVI-sekarang)

Pada periode ini, unsur Indonesia lebih kuat dibandingkan dengan periode sebelumnya,
sedangkan unsur Hindu-Budha semakin surut karena perkembangan politik ekonomi di
India. Di Bali kita dapat melihat bahwa Candi yang menjadi pura tidak hanya untuk memuja
dewa. Roh nenek moyang dalam bentuk Meru Sang Hyang Widhi Wasa dalam agama
Hindu sebagai manifestasi Ketuhanan Yang Maha Esa. Upacara Ngaben sebagai objek
pariwisata dan sastra lebih banyak yang berasal dari Bali bukan lagi dari India.
Akuturasi adalah perpaduan antara kebudayaan yang berbeda yang berlangsung dengan
damai dan serasi. Contohnya, perpaduan kebudayaan antara Hindu-Budha dengan
kebudayaan Indonesia, dimana perpaduan antara dua kebudayaan itu tidak menghilangkan
unsur-unsur asli dari kedua kebudayaan tersebut.
Oleh karena itu, kebudayaan Hindu-Budha yang masuk ke Indonesia tidak diterima begitu
saja. Hal ini disebabkan:

Masyarakat Indonesia telah memiliki dasar-dasar kebudayaan yang cukup tinggi,


sehingga masuknya kebudayaan asing ke Indonesia menambah perbendaharaan
kebudayaan Indonesia.

Kecakapan istimewa. Bangsa Indonesia memiliki apa yang disebut dengan istilah
local genius, yaitu kecakapan suatu bangsa untuk menerima unsur-unsur kebudayaan asing
dan mengolah unsur-unsur tersebut sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia. Bentukbentuk akulturasi yang terjadi di Indonesia yaitu :
1.
Seni Bangunan
Salah satu wujud akulturasi dari peralatan hidup dan teknologi terlihat dalam seni bangunan
Candi. Seni bangunan Candi tersebut memang mengandung unsur budaya India tetapi
keberadaan candi-candi di Indonesia tidak sama dengan candi-candi yang ada di India,
karena candi di Indonesia hanya mengambil unsur teknologi perbuatannya melalui dasardasar teoritis yang tercantum dalam kitabSilpasastra yaitu sebuah kitab pegangan yang
memuat berbagai petunjuk untuk melaksanakan pembuatan arca dan bangunan.

Untuk itu dilihat dari bentuk dasar maupun fungsi candi tersebut terdapat perbedaan. Bentuk
dasar bangunan candi di Indonesia adalah punden berundak-undak, yang merupakan salah
satu peninggalan kebudayaan Megalithikum yang berfungsi sebagai tempat pemujaan.
Sedangkan fungsi bangunan candi itu sendiri di Indonesia sesuai dengan asal kata candi
tersebut. Perkataan candi berasal dari kata Candika yang merupakan salah satu nama dewi
Durga atau dewi maut, sehingga candi merupakan bangunan untuk memuliakan orang yang
telah wafat khususnya raja-raja dan orang-orang terkemuka.
Di samping itu, dalam bahasa kawi candi berasal dari kata Cinandi artinya yang dikuburkan.
Untuk itu yang dikuburkan didalam candi bukanlah mayat atau abu jenazah melainkan
berbagai macam benda yang menyangkut lambang jasmaniah raja yang disimpan
dalamPripih.
Dengan demikian fungsi candi Hindu di Indonesia
adalah untuk pemujaan terhadap roh nenek
moyang atau dihubungkan dengan raja yang
sudah meninggal. Hal ini terlihat dari adanya
lambang jasmaniah raja sedangkan fungsi candi
di India adalah untuk tempat pemujaan terhadap
dewa, contohnya seperti candi-candi yang
terdapat di kota Benares merupakan tempat
pemujaan terhadap dewa Syiwa.
Candi Singasari adalah salah satu peninggalan
kerajaan Singosari yang merupakan tempat
dimuliakannya raja Wisnuwardhana yang memerintah tahun 1248 - 1268.
Dilihat dari candi tersebut, bentuk dasarnya adalah punden
berundak- undak dan pada bagian bawah terdapat kaki candi
yang di dalamnya terdapat sumuran candi, di mana di dalam sumuran candi tersebut tempat
menyimpan pripih (lambang jasmaniah raja Wisnuwardhana).
Unsur Indonesia asli adalah Menhir, sedang unsur India Prasasti dan tiang untuk
menambatkan binatang kurban.
Lingga dan Yoni (lambang kesuburan). Unsur India adalah Lingga Yoni sedang unsur
Indonesia asli adalah Alu dan Lumpang.
2.
Seni rupa/Seni lukis
Unsur seni rupa dan seni lukis India telah masuk ke Indonesia. Hal ini terbukti dengan
ditemukannya patung Budha berlanggam Gandara di kota Bangun, Kutai. Juga patung
Budha berlanggam Amarawati ditemukan di Sikendeng (Sulawesi Selatan). Pada Candi
Borobudur tampak adanya seni rupa India, dengan ditemukannya relief-relief ceritera Sang
Budha Gautama. Relief pada Candi Borobudur pada umumnya lebih menunjukan suasana
alam Indonesia, terlihat dengan adanya lukisan rumah panggung dan hiasan burung
merpati. Di samping itu, juga terdapat hiasan perahu bercadik. Lukisan-lukisan tersebut
merupakan lukisan asli Indonesia, karena tidak pernah ditemukan pada candi-candi yang
terdapat di India. Juga relief pada Candi Prambanan yang memuat cerita Ramayana. Relief
dari candi Borobudur yang menggambarkan Budha sedang digoda oleh Mara yang menarinari diiringi gendang.
Relief ini mengisahkan riwayat hidup Sang
Budha seperti yang terdapat dalam kitab
Lalitawistara. Demikian pula halnya dengan
candi-candi Hindu. Relief-reliefnya yang juga
mengambil kisah yang terdapat dalam

kepercayaan Hindu seperti kisah Ramayana yang digambarkan melalui relief candi
Prambanan ataupun candi Panataran.
Dari relief-relief tersebut apabila diamati lebih lanjut, ternyata
Indonesia juga mengambil kisah asli cerita tersebut, tetapi
suasana kehidupan yang digambarkan oleh relief tersebut adalah
suasana kehidupan asli keadaan alam ataupun masyarakat
Indonesia. Dengan demikian terbukti bahwa Indonesia tidak
menerima begitu saja budaya India, tetapi selalu berusaha
menyesuaikan dengan keadaan dan suasana di Indonesia.
Seni rupa yang terdapat pada
candi berupa patung dan
relief. Patung-patung yang ada pada candi Periode Awal adalah
patung para dewa Hindu-Buddha, seperti Dewa Brahma, Wisnu,
dan Siwa. Akan tetapi, pada Periode tengah, terutama Jawa Timur,
yang dibuat adalah patung raja-raja di Indonesia yang merupakan
titisan para dewa, misalnya patung Tribuwana sebagai Parwati, atau Kertanegara sebagai
Siwa. Patung- patung dalam Periode Akhir, terutama di Bali, sudah benyak menggambarkan
makhluk-makhluk seram (demon).
Seni rupa dalam wujud relief juga dijumpai pada dinding-dinding candi. Relief yang ada pada
Periode Awal memiliki ciri naturalis ( bersifat alami ), misalnya relief pada dinding candi
Borobudur yang menggambarkan kehidupan Sidharta Gautama, sedangkan relief pada
candi Prambanan mengisahkan Ramayana dan Kresnayana.
Sementara itu, pada Periode Tengah di Jawa Timur, unsur Indonesia semakin terasa kuat.
Hal ini tampak pada relief candi Panataran yang tidak lagi naturalis, melainkan bergaya
wayang. Mengingatkan orang pada kepercayaan lama, yaitu memuja roh nenek moyang.
Pada Periode Akhir di Bali, relief yang mencolok berupa candi-candi yang dibuat di tebing
sungai merupakan makam para raja, seperti yang ada di Gunung Kawi ( Tampak Siring ).
3.

Seni sastra

Untuk wujud akulturasi dalam seni sastra dapat dibuktikan dengan adanya suatu ceritera/
kisah yang berkembang di Indonesia yang bersumber dari kitab Ramayana yang ditulis oleh
Walmiki dan kitab Mahabarata yang ditulis oleh Wiyasa. Kedua kitab tersebut merupakan
kitab kepercayaan umat Hindu. Tetapi setelah berkembang di Indonesia tidak sama proses
seperti aslinya dari India karena sudah disadur kembali oleh pujangga-pujangga Indonesia,
ke dalam bahasa Jawa kuno. Tokoh-tokoh cerita dalam kisah tersebut ditambah dengan
hadirnya tokoh Punakawan seperti Semar, Bagong, Petruk dan Gareng. Bahkan dalam
kisah Bharatayuda yang disadur dari kitab Mahabarata tidak menceritakan perang antar
Pendawa dan Kurawa, melainkan menceritakan kemenangan Jayabaya dari Kediri melawan
Jenggala.
Seni Pertunjukan Wayang

Di samping itu juga, kisah Ramayana maupun


Mahabarata diambil sebagai suatu ceritera dalam
seni pertunjukan di Indonesia yaitu salah satunya
pertunjukan Wayang. Seni pertunjukan wayang
merupakan salah satu kebudayaan asli Indonesia
sejak zaman prasejarah dan pertunjukan wayang
tersebut sangat digemari terutama oleh masyarakat
Jawa. Wujud akulturasi dalam pertunjukan wayang

tersebut terlihat dari pengambilan lakon ceritera dari kisah Ramayana maupun Mahabarata
yang berasal dari budaya India, tetapi tidak sama persis dengan aslinya karena sudah
mengalami perubahan. Perubahan tersebut antara lain terletak dari karakter atau perilaku
tokoh-tokoh ceritera misalnya dalam kisah Mahabarata keberadaan tokoh Durna, dalam
cerita aslinya Durna adalah seorang maha guru bagi Pendawa dan Kurawa dan berperilaku
baik, tetapi dalam lakon di Indonesia Durna adalah tokoh yang berperangai buruk suka
menghasut.
Periode awal di Jawa Tengah pengaruh sastra Hindu cukup kuat.
Periode tengah bangsa Indonesia mulai melakukan penyaduran atas karya India.
Contohnya: Kitab Bharatayudha merupakan gubahan Mahabarata oleh Mpu Sedah dan Mpu
Panuluh. Isi ceritanya tentang peperangan selama 18 hari antara Pandawa melawan
Kurawa. Para ahli berpendapat bahwa isi sebenarnya merupakan perebutan kekuasaan
dalam keluarga raja-raja Kediri.
4.
Sistem Kalender
Diadopsinya sistem kalender atau penanggalan India di Indonesia merupakan wujud dari
akulturasi, yaitu terlihat dengan adanya penggunaan tahun Saka, di Indonesia yang dimulai
tahun 78 M (merupakan tahun Matahari, tahun Samsiah) pada waktu raja Kanishka I
dinobatkan jumlah hari dalam 1 tahun ada 365 hari. Oleh orang Bali, tahun Saka tidak
didasarkan pada sistem Surya Pramana tetapi sistem Chandra Pramana (tahun Bulan,
tahun Kamariah) dalam 1 tahun ada 354 hari. Musim panas jatuh pada hari yang sama
dalam bulan Maret dimana matahari, bumi, bulan ada pada garis lurus. Hari tersebut
dirayakan sebagai Hari Raya Nyepi.
Di samping itu, juga ditemukan Candra Sangkala atau konogram dalam usaha memperingati
peristiwa dengan tahun atau kalender Saka. Candra Sangkala adala angka huruf berupa
susunan kalimat atau gambar kata. Contoh tahun Candra Sangkala adalah Sirna Ilang
Kertaning Bumi sama dengan 1400 (tahun saka) dan sama dengan 1478 Masehi. Tercipta
kalender dengan sebutan tahun Saka
5.
Sistem Pemerintahan
Sebelum masuknya Hindu-Budha di Indonesia dikenal sistem
pemerintahan oleh kepala suku yang dipilih karena memiliki
kelebihan tertentu jika dibandingkan anggota kelompok lainnya.
Ketika pengaruh Hindu-Budha masuk maka berdiri Kerajaan yang
dipimpin oleh seorang raja yang berkuasa secara turun-temurun.
Dalam ajaran Hindu- Buddha, dikenal adanya dewa-dewa yang
memiliki kekuatan, dihormati, dan dipuja. Raja di Indonesia ada
yang dipuja sebagai dewa atau dianggap keturunan dewa yang
keramat, sehingga rakyat sangat memuja Raja tersebut, hal ini
dapat dibuktikan dengan adanya raja- raja yang memerintah di
Singosari seperti Kertanegara diwujudkan sebagai Bairawa dan
Raden Wijaya, Raja Majapahit diwujudkan sebagai Harihara
(gabungan dewa Syiwa dan Wisnu sebagai penggambaran
Kertarajasa).
Pemerintahan Raja di Indonesia ada juga yang menerapkan prinsip musyawarah. Prinsip
musyawarah diterapkan terutama apabila raja tidak mempunyai putra mahkota yaitu seperti
yang terjadi di kerajaan Majapahit, pada waktu pengangkatan Wikramawardana.
6.
Bahasa
Wujud akulturasi dalam bidang bahasa, dapat dilihat dari adanya
penggunaan bahasa Sansekerta yang dapat Anda temukan sampai
sekarang dimana bahasa Sansekerta memperkaya perbendaharaan
bahasa Indonesia.
Penggunaan bahasa Sansekerta pada awalnya banyak ditemukan

pada prasasti (batu bertulis) peninggalan kerajaan Hindu - Budha pada abad 5 - 7 M,
contohnya prasasti Yupa dari Kutai, prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara. Tetapi
untuk perkembangan selanjutnya bahasa Sansekerta digantikan oleh bahasa Melayu
Kuno seperti yang ditemukan pada prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya 7 - 13 M. Untuk
aksara, dapat dibuktikan adanya penggunaanhuruf Pallawa, kemudian berkembang menjadi
huruf Jawa Kuno (kawi) dan huruf (aksara) Bali dan Bugis. Hal ini dapat dibuktikan melalui
Prasasti Dinoyo (Malang) yang menggunakan huruf Jawa Kuno. Di kerajaan Sriwijaya huruf
Pallawa berkembang menjadi huruf Nagari.
7.
Sistem Kepercayaan
Sistem kepercayaan yang berkembang di
Indonesia sebelum agama Hindu-Budha masuk ke
Indonesia adalah kepercayaan yang berdasarkan
pada Animisme dan Dinamisme.
Dengan masuknya agama Hindu - Budha ke
Indonesia, masyarakat Indonesia mulai
menganut/mempercayai agama-agama tersebut.
Agama Hindu dan Budha yang berkembang
di Indonesia sudah mengalami perpaduan dengan
kepercayaan animisme dan dinamisme, atau dengan kata lain mengalami Sinkritisme.
Sinkritisme adalah bagian dari proses akulturasi, yang berarti perpaduan dua kepercayaan
yang berbeda menjadi satu. Untuk itu agama Hindu dan Budha yang berkembang di
Indonesia, berbeda dengan agama Hindu - Budha yang dianut oleh masyarakat India.
Perbedaaan-perbedaan tersebut dapat Anda lihat dalam upacara ritual yang diadakan oleh
umat Hindu atau Budha yang ada di Indonesia. Contohnya, upacara Nyepi yang
dilaksanakan oleh umat Hindu Bali, upacara tersebut tidak dilaksanakan oleh umat Hindu di
India. Contoh :
Di Jawa Timur berkembang aliran Tantrayana seperti yang dilakukan Kertanegara dari
Singasari yang merupakan penjelmaaan Siwa. Kepercayaan terhadap roh leluhur masih
terwujud dalam upacara kematian dengan mengandakan kenduri 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100
hari, 1 tahun, 2 tahun dan 1000 hari, serta masih banyak hal-hal yang dilakukan oleh
masyarakat Jawa.

8.

Sistem Sosial

Wujud akulturasi dalam bidang organisasi sosial kemasyarakatan dapat dilihat dalam
organisasi politik yaitu sistem pemerintahan yang berkembang di Indonesia setelah
masuknya pengaruh India.
Dengan adanya pengaruh kebudayaan India tersebut, maka sistem pemerintahan yang
berkembang di Indonesia adalah bentuk kerajaan yang diperintah oleh seorang raja secara
turun temurun.
Pemerintahan Raja di Indonesia ada yang bersifat mutlak dan turun-temurun seperti di India
dan ada juga yang menerapkan prinsip musyawarah.Wujud akulturasi di samping terlihat
dalam sistem pemerintahan juga terlihat dalam sistem kemasyarakatan, yaitu pembagian
lapisan masyarakat berdasarkan sistem kasta.
Sistem kasta menurut kepercayaan Hindu terdiri dari kasta Brahmana (golongan Pendeta),
kasta Ksatria (golongan Prajurit, Bangsawan), kasta Waisya (golongan pedagang) dan kasta
Sudra (golongan rakyat jelata).

Kasta-kasta tersebut juga berlaku atau dipercayai oleh umat Hindu Indonesia tetapi tidak
sama persis dengan kasta-kasta yang ada di India karena kasta India benar-benar
diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan, sedangkan di Indonesia tidak demikian, karena
di Indonesia kasta hanya diterapkan untuk upacara keagamaan.
9.

Sistem Perekonomian

Dalam ekonomi tidak begitu besar pengaruhnya


pada masyarakat Indonesia. Hal ini disebabkan
karena masyarakat telah mengenal pelayaran
dan perdagangan jauh sebelum masuknya
pengaruh Hindu-Budha di Indonesia.

Perkembangan kemaritiman terlihat dengan


semakin banyaknya kota-kota pelabuhan, ekspedisi pelayaran dan perdagangan antar
negara. Selain itu, bangsa Indonesia yang awalnya baru dapat membuat sampan sebagai
alat transportasi kemudian mulai dapat membuat perahu bercadik.
Dalam bidang pertanian, tampak dengan adanya pengelolaan sistem irigasi yang baik mulai
diperkenalkan dan berkembang pada zaman masuknya Hindu-Budha di Indonesia. Tampak
pada relief candi yang menggambarkan teknologi irigasi pada zaman Majapahit.
10.
Sistem Pendidikan
Masuknya Hindu-Budha juga mempengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia dalam
bidang pendidikan. Sebab sebelumnya masyarakat Indonesia belum mengenal tulisan.
Namun dengan masuknya Hindu-Budha, sebagian masyarakat Indonesia mulai mengenal
budaya baca dan tulis.
Bukti pengaruh dalam pendidikan di Indonesia yaitu :

Dengan digunakannya bahasa Sansekerta dan Huruf Pallawa dalam kehidupan


sebagian masyarakat Indonesia. Bahasa tersebut terutama digunakan di kalangan pendeta
dan bangsawan kerajaan. Telah mulai digunakan bahasa Kawi, bahasa Jawa Kuno, dan
bahasa Bali Kuno yang merupakan turunan dari bahasa Sansekerta.

Telah dikenal juga sistem pendidikan berasrama (ashram) dan didirikan sekolahsekolah khusus untuk mempelajari agama Hindu-Budha. Sistem pendidikan tersebut
kemudian diadaptasi dan dikembangkan sebagai sistem pendidikan yang banyak diterapkan
di berbagai kerajaan di Indonesia.

Bukti lain tampak dengan lahirnya banyak karya sastra bermutu tinggi yang
merupakan interpretasi kisah-kisah dalam budaya Hindu-Budha.
Contoh :
Empu Sedah dan Panuluh dengan karyanya Bharatayudha
Empu Kanwa dengan karyanya Arjuna Wiwaha
Empu Dharmaja dengan karyanya Smaradhana
Empu Prapanca dengan karyanya Negarakertagama
Empu Tantular dengan karyanya Sutasoma.


Pengaruh Hindu Budha nampak pula pada berkembangnya ajaran budi pekerti
berlandaskan ajaran agama Hindu-Budha. Pendidikan tersebut menekankan kasih sayang,
kedamaian dan sikap saling menghargai sesama manusia mulai dikenal dan diamalkan oleh
sebagian masyarakat Indonesia saat ini.
Para pendeta awalnya datang ke Indonesia untuk memberikan pendidikan dan pengajaran
mengenai agama Hindu kepada rakyat Indonesia. Mereka datang karena berawal dari
hubungan dagang. Para pendeta tersebut kemudian mendirikan tempat-tempat pendidikan
yang dikenal denganpasraman. Di tempat inilah rakyat mendapat pengajaran. Karena
pendidikan tersebut maka muncul tokoh-tokoh masyarakat Hindu yang memiliki
pengetahuan lebih dan menghasilkan berbagai karya sastra.
Rakyat Indonesia yang telah memperoleh pendidikan tersebut kemudian menyebarkan pada
yang lainnya. Sebagian dari mereka ada yang pergi ke tempat asal agama tersebut. Untuk
menambah ilmu pengetahuan dan melakukan ziarah. Sekembalinya dari sana mereka
menyebarkan agama menggunakan bahasa sendiri sehingga dapat dengan mudah diterima
oleh masyarakat asal.

Akulturasi kebudayaan Nusantara dan Hindu Budha


Assalamualaikum wr wb
Salam pintar, kali ini admin akan membagikan artikel tugas sejarah
tentang Akulturasi kebudayaan Nusantara dan Hindu Budha, saya
referensi dari berbagai suber, dan inilah yang dapat saya dapatkan,
silahkan disimahk.... :D

Akulturasi kebudayaan Nusantara dan


Hindu Budha

Akulturasi adalah fenomena yang timbul sebagai hasil jika kelompok-kelompok


manusia yang mempunyai kebudayaan yang berbeda-beda bertemu dan mengadakan
kontak secara langsung dan terus-menerus; yang kemudian menimbulkan perubahan
dalam pola kebudayaan yang original dari salah satu kelompok atau kedua-duanya.
Dengan adanya kontak dagang antara Indonesia dengan India, maka
mengakibatkan adanya kontak budaya atau akulturasi yang menghasilkan bentukbentuk kebudayaan baru tetapi tidak melenyapkan kepribadian kebudayaan sendiri.
Hal ini berarti kebudayaan Hindu Budha yang masuk ke Indonesia tidak
diterima seperti apa adanya, tetapi diolah, ditelaah dan disesuaikan dengan budaya
yang dimiliki penduduk Indonesia, sehingga budaya tersebut berpadu dengan
kebudayaan asli Indonesia menjadi bentuk akulturasi kebudayaan Indonesia Hindu
Budha.

1.

Seni Bangunan.

Seni Bangunan yang menjadi bukti berkembangnya pengaruh Hindu Buddha di


Indonesia pada bangunan Candi. Candi Hindu maupun Candi Buddha ditemukan di
Sumatera, Jawa, dan Bali pada dasarnya merupakan perwujudan akulturasi budaya
lokal dengan bangsa India. Pola dasar candi merupakan perkembangan dari zaman
prasejarah tradisi megalitikum, yaitu bangunan punden berundak yang mendapat
pengaruh Hindu-Buddha, sehingga menjadi wujud candi, seperti Candi Borobudur.

2.

Seni rupa

Seni rupa Nusantara yang banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu-Buddha


dari India adalah seni pahat atau ukir dan seni patung. Seni pahat atau ukir umumnya
berupa hiasan-hiasan dinding candi dengan tema suasana Gunung Mahameru,
tempat kediaman para dewa. Hiasan yang terdapat pada ambang pintu atau relung
adalah kepala kala yang disebut Banaspati (raja hutan). Kala yang terdapat pada
candi di Jawa Tengah selalu dirangkai dengan makara, yaitu sejenis buaya yang
menghiasi bagian bawah kanan kiri pintu atau relung.
Beberapa candi memiliki relief yang melukiskan suatu cerita. Cerita tersebut
diambil dari kitab kesusastraan ataupun keagamaan. Gaya relief tiap-tiap daerah
memiliki keunikan. Relief di Jawa Timur bergaya mayang dengan objek-objeknya
berbentuk gepeng (dua dimensi). Adapun relief di Jawa Tengah bergaya naturalis
dengan lekukan-lekukan yang dalam sehingga memberi kesan tiga dimensi. Pada
masa Kerajaan Majapahit, relief di Jawa Timur meniru gaya Jawa Tengah dengan
memberikan latar belakang pemandangan sehingga tercipta kesan tiga dimensi.
Relief-relief yang penting sebagai berikut.

Relief candi Roro Jongrang


Yang Mengisahkan Cerita Ramayana

a.

Relief

candi

Borobudur

menceritakan

Kormanibhangga,

menggambarkan

perbuatan manusia serta hukum-hukumnya sesuai dengan Gandawyuha (Sudhana


mencari ilmu).
b. Relief candi Roro Jonggrang menceritakan kisah Ramayana dan Kresnayana. Seni
patung yang berkembang umumnya berupa patung atau arca raja pada sebuah candi.
Raja yang sudah meninggal dimuliakan dalam wujud arca dewa.
Contoh seni patung hasil kebudayaan Hindu-Buddha kini dapat kita saksikan di candi
Prambanan (patung Roro Jonggrang) dan di Museum Mojokerto (Jawa Timur). Salah
satu koleksi museum tersebut yang terindah adalah patung Airlangga (perwujudan
Wisnu) dan patung Ken Dedes.

3. Seni sastra
Wiracarita atau kisah kepahlawanan India yang memasyarakat di
Indonesia dan memengaruhi kehidupan serta perkembangan sosial budaya adalah
cerita Mahabharata dan Ramayana. Kitab Mahabharata terdiri atas delapan belas jilid
(parwa). Setiap jilid terbagi lagi menjadi beberapa bagian (juga disebut parwa) yang
digubah dalam bentuk syair. Cerita pokoknya meliputi 24.000 seloka. Sebagian besar
isi kitab ini menceritakan peperangan sengit selama delapan hari antara Pandawa dan
Kurawa. Kata Mahabharatayudha sendiri berarti peperangan besar antarkeluarga
Bharata. Menurut cerita, kitab ini dihimpun oleh Wiyasa Dwipayana. Akan tetapi, para
ahli sejarah beranggapan bahwa lebih masuk akal jika kitab itu merupakan kumpulan
berbagai cerita brahmana antara tahun 400 SM sampai 400 M.
Kitab Ramayana dikarang oleh Walmiki. Kitab ini terdiri atas tujuh jilid (kanda)
dan digubah dalam bentuk syair sebanyak 24.000 seloka. Kitab ini berisi perjuangan
Rama dalam merebut kembali istrinya, Dewi Sinta (Sita), yang diculik oleh Rahwana.
Dalam perjuangannya, Rama yang selalu ditemani Laksmana (adiknya) itu mendapat
bantuan dari pasukan kera yang dipimpin oleh Sugriwa. Selain itu, Rama juga dibantu
oleh Gunawan Wibhisana, adik Rahwana yang diusir oleh kakaknya karena
bermaksud

membela

kebenaran

(Rama).

Perjuangan

tersebut

menimbulkan

peperangan besar dan banyak korban berjatuhan. Di akhir cerita, Rahwana beserta
anak buahnya gugur dan Dewi Sinta kembali kepada Rama.

Akulturasi di bidang sastra dapat dilihat pada adanya modifikasi cerita-cerita asli
India dengan unsur tokoh-tokoh Indonesia serta peristiwa-peristiwa yang seolah-olah
terjadi di Indonesia. Contohnya adalah penambahan tokoh punakawan (Semar,
Bagong, Gareng, Petruk) dalam kisah Mahabharata. Bahkan, dalam literatur-literatur
keagamaan Hindu-Buddha di Indonesia sulit kita temukan cerita asli seperti yang ada
di

negeri

asalnya.

Pengaruh

kebudayaan

India

yang

dipertahankan

dalam

kesusastraan adalah gagasan, konsep, dan pandangan-pandangannya.

4. Sistem kepercayaan
Sistem kepercayaan yang berkembang di Indonesia sebelum agama HinduBudha masuk ke Indonesia adalah kepercayaan yang berdasarkan pada Animisme
dan Dinamisme.
Dengan masuknya agama Hindu Budha ke Indonesia, maka masyarakat Indonesia
mulai menganut/mempercayai agama-agama tersebut.
Tetapi agama Hindu dan Budha yang berkembang di Indonesia sudah mengalami
perpaduan dengan kepercayaan Animisme dan Dinamisme, atau dengan kata
lainmengalami Sinkritisme.
Sinkritisme adalah bagian dari proses akulturasi, yang berarti perpaduan dua
kepercayaan yang berbeda menjadi satu.
Untuk itu agama Hindu dan Budha yang berkembang di Indonesia, berbeda
dengan agama Hindu Budha yang dianut oleh masyarakat India. Perbedaaanperbedaan tersebut misalnya dapat dilihat dalam upacara ritual yang diadakan oleh
umat Hindu atau Budha yang ada di Indonesia. Contohnya, upacara Nyepi yang
dilaksanakan di Bali.

5. Sistem pemerintahan
Sebelum pengaruh Hindu ke Nusantara, bangsa Indonesia sudah
mengenal sistem pemerintahan, yakni dari seorang kepala suku dikenal bentuk
kesukuan, seorang kepala suku menduduki jabatannya berdasarkan kemampuan
yang dimiliki, maka ia pemimpin yang dipilih oleh kelompok sukunya secara
demokratis. Mereka memiliki kelebihan dalam anggota kelompoknya.
Masuk dan berkembangnya agama Hindu dan Buddha di Indonesia membawa
pengaruh yakni mulai lahirnya kerajaan. Kerajaan Hindu pertama di Indonesia adalah
Kerajaan Kutai dengan rajanya Mulawarman. Raja berkuasa secara turun temurun
sehingga keluarga raja memiliki kehormatan di tengah-tengah masyarakat negara.
Raja memiliki kekuasaan tunggal, tidak ada lembaga yang mampu menandingi
kekuasaan raja.

Seorang kepala pemerintahan bukan lagi seorang kepala suku, melainkan seorang
raja, yang memerintahkan kerajaannya secara turun-temurun. ( Bukan lagi ditentukan
oleh kemampuan, melainkan oleh keturunan).

Daftar pustaka:
https://togapardede.wordpress.com/2013/02/20/wujud-akulturasi-kebudayaan-hindu-budhadengan-kebudayaan-indonesia/
http://yulianovrina1.wordpress.com/2012/11/13/kebudayaan-hindu-buddha-di-indonesia/
http://www.sibarasok.com/2013/06/pengaruh-kebudayaan-hindu-buddha-di.html
http://slamet0405.blogspot.com/2014/02/akulturasi-kebudayaan-nusantara-dan.html

Sampai disini saja dan baca juga Terbentuknya jaringan antar pulau melalui
perdagangan. sekian dulu... Salam pintar.
Bloger yang baik adalah bloger yang memberi sumber saat shear,
dan pengunjung yang baik adalah pengunjung yang berkomentar untuk
meninggalkan jejak.

Minggu, 09 November 2014

Proses Akulturasi Budaya Hindu-Buddha dengan


Budaya Asli Indonesia
Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara
yang terdiri atas berbagai suku bangsa dan agama. Keragaman
tersebut menghasilkan budaya yang kaya dan beragam.
Masuknya pengaruh hindu-budha abad ke-5 di Indonesia
menyebabkan terjadinya akulturasi atau percampuran budaya,
antara budaya lokal masyarakat Indonesia dengan budaya/tradisi
Hindu-Budha.
Akulturasi kebudayaan yaitu suatu proses pencampuran
unsur-unsur kebudayaan yang satu dengan kebudayaan yang
lain, sehingga membentuk kebudayaan baru, dapat hidup
berdampingan dan saling mengisi serta tidak menghilangkan
unsur-unsur asli dari kedua kebudayaan tesebut. Kebudayaan
Hindu-Budha yang masuk ke Indonesia tidak diterima begitu saja,
melainkan melalui proses pengolahan dan penyesuaian dengan
kondisi kehidupan masyarakat Indonesia tanpa menghilangkan
unsur-unsur asli. Hal ini disebabkan karena, masyarakat Indonesia
telah memiliki dasar-dasar kebudayaan yang cukup tinggi,
sehingga masuknya kebudayaan Hindu-Budha ke Indonesia
menambah perbendaharaan kebudayaan Indonesia. Pengaruh
kebudayaan
Hindu-Buddha
hanya
bersifat
melengkapi
kebudayaan yang telah ada (budaya lokal/asli) di Indonesia.
Perpaduan budaya Hindu-Buddha melahirkan akulturasi yang
masih terpelihara dan berkembang sampai sekarang. Akulturasi
tersebut merupakan hasil dari proses pengolahan kebudayaan
asing yang sesuai dengan kebudayaan Indonesia.
Masuk dan Berkembangnya Agama dan Kebudayaan
Hindu-Budha di Indonesia
Agama dan kebudayaan Hindu-Buddha pada awalnya
tumbuh dan berkembang di wilayah India. Peradaban tersebut
tumbuh di lembah Sungai Indus, yang perkembangannya sudah
terjadi sejak kurang lebih 2000 tahun yang lalu.

Pada awalnya kebudayaan Hindu merupakan perpaduan


antara bangsa Arya dengan bangsa Dravida. Jauh setelah Hindu
berkembang di India kemudian juga muncul agama Budha yang
dibawa dan diajarkan oleh Siddharta Gautama.
Dalam perkembangan selanjutnya agama Hindu-Buddha
tidak hanya berkembang di India, namun juga ke wilayah
Indonesia. Penyebaran agama dan kebudayaan Hindu-Buddha ke
Indonesia tidak terlepas dari hubungan dagang yang sudah
berlangsung lama antara India dengan Indonesia. Kemungkinan
hubungan dagang antara India dengan Indonesia sudah terjadi
sejak awal abad pertama masehi. Hubungan dagang tersebut
terjalin karena didukung oleh letak strategis Indonesia yang
berada dalam jalur perdagangan Internasional.

Peta persebaran pengaruh agama Hindu-Buddha di Asia

Hipotesis para ahli tentang teori masuknya agama HinduBudha ke Indonesia


1. Teori Kolonisasi
- Hipotesa Ksatria

Majumdar menyatakan bahwa ada petualang India setelah


sesampainya di Indonesia membangun koloni. Para kolonis ini
kemudian mengadakan hubungan dagang dan mendatangkan
para seniman dari India untuk membangun candi-candi di
Indonesia.
C.C Berg menyatakan bahwa kebudayaan India itu dibawa
oleh orang-orang India yang sesampainya di Indonesia mereka
menikah dengan puteri-puteri bangsawan/ pemuka masyarakat
Indonesia. Setelah menikah, mereka menjadi raja di Indonesia
dan menurunkan dinasti-dinasti
J.L Moens menghubungkan berdirinya kerajaan-kerajaan
Hindu-Budha di Indonesia dengan runtuhnya kerajaan-kerajaan
Hindu-Budha di India. Sehingga dia menafsirkan bahwa keluarga/
dinasti raja India yang runtuh itu meninggalkan India untuk pergi
ke Indonesia dan mendirikan kerajaan di Indonesia.
- Hipotesa Waisya
N.J korm berpendapat bahwa pengaruh India di Indonesia
datang dari bangsa India sendiri yaitu dari kaum pedagang.
Dimana selain berdagang mereka melakukan pernikahan dengan
penduduk pribumi.
- Hipotesa Brahmana
Menurut J.C van Leur, bila dilihat dari upacara-upacara yang
dilakukan maupun bahasa yang dipergunakan di lingkungan
keratin merupakan kebudayaan khusus para brahmana. Jadi van
Leur menyimpulkan bahwa yang membawa pengaruh India itu
adalah kaum brahmana
2. Teori Arus Balik
Menurut F.D.K Bosch, dalam proses akulturasi kebudayaan ini bangsa
Indonesia turut berperan aktif. Pada mulanya, orang-orang dari India yang
membawa agama Hindu dan Buddha yaitu dari golongan intelektual melalui
jalan dagang yang lajim dilalui para pelancong dengan menumpang kapal
dagang. Setelah sampai di Indonesia, mereka kemudian diundang

untuk memberi suatu sinar kehinduan pada masyarakat


Indonesia. Setelah orang Indonesia ini masuk agama Hindu-

Budha kemudian mereka sendiri belajar ke India lalu kembali


pulang dan aktif menyebarkan agama Hindu-Budha di Indonesia.

Hasil
Akulturasi
kebudayaan
Kebudayaan Asli Indonesia

Hindu-Budha

dengan

Hasil kebudayaan akulturasi tersebut terlihat dari beberapa


aspek, yaitu :
1.

Bidang Sosial

Tingkatan Sistem Kasta

Setelah masuknya Hindu-Budha terjadi perubahan dalam


tatanan sosial masyarakat Indonesia, yang tadinya sistem
pembagian kerja yang mengadopsi sistem sosial masyarakat
zaman prasejarah, berubah menjadi pembagian masyarakat atau
sistem kasta. Sistem kasta ini terbagi menjadi beberapa bagian
yaitu :
a.
b.

Kasta Brahmana terdiri atas para Brahmana/pendeta.


Kasta Ksatria terdiri atas para bangsawan (kepala (Raja) dan
anggota lembaga pemerintahan) serta prajurit.

c.

Kasta Waisya terdiri atas para pedagang dan petani.

d.

Kasta Sudra terdiri atas para pekerja atau budak.

2.

Bidang Ekonomi
Dalam hal ekonomi tidak begitu besar pengaruhnya pada
masyarakat Indonesia, disebabkan karena masyarakat telah
mengenal pelayaran dan perdagangan jauh sebelum masuknya
pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia.

1.

Bidang Pemerintah
Masuknya Hindu-Buddha terjadi juga perubahan dalam sistem
pemerintahan, yang tadinya sistem Primus Interpares, yang
dipimpin oleh seorang kepala suku atau orang yang dituakan
dalam kelompok masyarakat tertentu, berubah menjadi sistem
Kerajaan yang dipimpin oleh seorang Raja, yang berkuasa secara
turun-temurun. Raja dianggap sebagai keturunan dewa yang
memiliki kekuatan, dihormati, dan dipuja, sehingga memperkuat
kedudukannya untuk memerintah wilayah kerajaan secara turuntemurun serta meninggalkan sistem pemerintahan kepala
suku (Primus Interpares).

1.

Bidang Pendidikan
Masuknya Hindu-Buddha juga mempengaruhi kehidupan
masyarakat Indonesia dalam bidang pendidikan. Sebab
sebelumnya masyarakat Indonesia belum mengenal tulisan.
Namun, dengan masuknya Hindu-Buddha sebagian masyarakat
Indonesia mulai mengenal budaya baca dan tulis. Adapun bukti
pengaruh dalam pendidikan di Indonesia yaitu dengan
digunakannya bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa dalam
kehidupan sebagian masyarakat Indonesia.

2.

Bidang Kepercayaan
Sebelum masuk pengaruh Hindu-Buddha ke Indonesia, bangsa
Indonesia mengenal dan memilih kepercayaan yaitu pemujaan
terhadap roh nenek moyang (animisme dan dinamisme).
Masuknya
agama
Hindu-Buddha
mendorong
masyarakat
Indonesia mulai menganut agama Hindu-Buddha walaupun tidak
meninggalkan kepercayaan asli, seperti pemujaan terhadap roh
nenek moyang dan dewa-dewa alam. Telah terjadi semacam
sinkretisme yaitu penyatuan paham-paham lama seperti

animisme, dinamisme, totemisme, dalam keagamaan HinduBudhha.


3.

Seni dan Budaya


Pengaruh kesenian India terhadap perkembangan kesenian
Indonesia terlihat jelas pada bidang-bidang :
Seni Bangunan
Seni bangunan yang menjadi bukti berkembangnya pengaruh
Hindu-Buddha di Indonesia pada bangunan Candi. Candi Hindu
maupun Buddha yang ditemukan di Sumatera, Jawa, dan Bali
pada dasarnya merupakan perwujudan akulturasi budaya lokal
dengan bangsa India. Pola dasar candi merupakan perkembangan
dari zaman Prasejarah tradisi Megalitikum, yaitu punden berundak
yang
mendapat
pengaruhHindu-Buddha,
seperti
Candi
Borobudur.

Candi Borobudur merupakan tipe punden berundak asli Indonesia yang mendapat pengaruh
budaya Hindu-Buddha

Seni Sastra
Pada periode awal di Jawa Tengah terdapat pengaruh sastra
Hindu yang cukup kuat. Pada periode tengah, bangsa Indonesia
mulai melakukan penyaduran atas karya India, contohnya : Kitab
Bharatayudha, Mahabharata, dan Ramayana.
Seni Rupa
Seni rupa dapat berupa patung dan relief. Patung dapat kita
lihat pada penemuan patung Buddha berlanggam Gandara di

Bangun Kutai, serta patung Budha berlanggam Amarawati di


Sikending (Sulawesi Selatan). Selain patung terdapat pula reliefrelief pada dinding candi, seperti relief Candi Borobudur yang
mengisahkan tentang riwayat sang Buddha serta suasana alam
Indonesia, terlihat dengan adanya lukisan rumah panggung dan
hiasan burung merpati. Di samping itu, terdapat hiasan perahu
bercadik. Lukisan-lukisan tersebut merupakan lukisan asli
Indonesia, karena lukisan seperti itu tidak pernah ditemukan pada
candi-candi yang ada di India.

Relief pada dinding Candi Borobudur yang menceritakan tentang Riwayat sang Buddha

Relief pada dinding Candi Borobudur yang menggambarkan tentang Perahu Bercadik