Вы находитесь на странице: 1из 22

LAPORAN KASUS

SEORANG WANITA 51 TAHUN DENGAN


TUMOR GINGGIVA SUSPEK JINAK

Diajukan untuk melengkapi tugas kepaniteraan senior


Ilmu Kesehatan Gigi dan Mulut Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro

Disusun Oleh :
Vera Palupi Putri

22010110200155

Andriardus Mujur

22010111200030

Fitri Amalia

22010111200070

Wulan Febriani

22010111200145

ILMU KESEHATAN GIGI DAN MULUT


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2011

BAB I

PENDAHULUAN
Tumor rongga mulut adalah suatu pertumbuhan jaringan abnormal yang terjadi
pada rongga mulut yang pertumbuhannya tidak dapat dikendalikan dan tidak berguna bagi
tubuh. Jaringan tersebut dapat tumbuh pada bibir, pipi, dasar mulut, palatum, lidah dan di
dalam tulang rahang . Jaringan tersebut dapat tumbuh pada bagian anterior rongga mulut,
posterior rongga mulut, dan tulang rahang.
Tumor rongga mulut sering didapatkan pada orang yang mempunyai oral hygine
yang buruk, adanya riwayat iritasi kronik misalnya oleh karena tambalan ataupun gigi palsu,
menginang, merokok, alkohol, pasien yang mendapat penyinaran, dan lain- lain.
Hasil penelitian diperoleh 105 kasus tumor rongga mulut pada periode tersebut, 56
kasus tumor jinak rongga mulut dan 49 kasus tumor ganas rongga mulut. Prevalensi diagnosis
akhir tertinggi untuk tumor jinak rongga mulut adalah ameloblastoma 28 kasus (50%).
Prevalensi penderita perempuan lebih tinggi dari penderita laki- laki yaitu 30:26. Prevalensi
diagnosis akhir tertinggi untuk tumor ganas rongga mulut adalah skuamos sel karsinoma
sebanyak 27 kasus (55,1%). Prevalensi penderita laki- laki lebih tinggi dari penderita
perempuan yaitu 30:19. Prevalensi berdasarkan kelompok usia tertinggi terjadi pada
kelompok usia 41-50 tahun dan terapi yang paling banyak digunakan sebagai pilihan
perawatan adalah terapi pembedahan baik untuk tumor jinak maupun tumor ganas.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1

2.1 Defenisi Neoplasma


Neoplasma adalah pembentukan jaringan baru yang abnormal yang bertumbuh
dengan kecepatan yang tidak biasa, progresif, dan tidak dapat dikontrol oleh tubuh.
Neoplasma dibedakan menjadi neoplasma jinak (benigna) dan ganas (maligna).
Neoplasia jinak merupakan pertumbuhan jaringan baru yang lambat, ekspansi,
terlokalisir, berkapsul, dan tidak bermetastasis. Neoplasia ganas merupakan
pertumbuhan jaringan baru yang cepat, infiltratif ke jaringan sekitarnya, dan dapat
menyebar ke organ-organ lain/ metastase, sering juga disebut kanker.
2.2 Etiologi Neoplasma
Tumor/neoplasma jinak di rongga mulut dapat berasal dari sel odontogen atau
non odontogen. Tumor-tumor odontogen sama seperti pembentukan gigi normal,
merupakan interaksi antara epitel odontogen dan jaringan ektomesenkim odontogen.
Dengan demikian proses pembentukan gigi sangat berpengaruh dalam tumor ini.
Sedangkan tumor non odontogen rongga mulut dapat berasal dari epitel mulut,
nevus/pigmen, jaringanikatmulut, dan kelenjar ludah.
2.2.1

Faktor penyebab yang merangsang tumor jinak digolongkan dalam dua


kategori, yaitu :

Faktor internal, yaitu faktor yang berhubungan dengan herediter dan faktorfaktor pertumbuhan, misalnya gangguan hormonal dan metabolisme.

Faktor eksternal, misalnya trauma kronis, iritasi termal kronis (panas/dingin),


kebiasaan buruk yang kronis, dan obat-obatan.

2.2.2

Bahan Pemicu Tumor

2.2.2.1 Tembakau dan Alkohol


Tembakau dan alkohol tujuh puluh lima persen tumor mulut dan faring di
Amerika Serikat berhubungan dengan penggunaa tembakau untuk susur atau
suntildan konsumsi alkohol. Merokok sigaret dan peminum alkohol mempunyai
resiko yang tinggi menderita tumor lidah dan mulut.

Merokok cerutu dan pipa mempuyai resiko yang lebih tinggi mendapatka
tumor mulut dibandingkan dengan perokok sigaret.Meskipun demikian masih
terdapat keraguan tentang seberapa besar peranan panas yag dihasilkan oleh
tembakau dan batang pipa dapat menyababkan penyakit tumor mulut.
2.2.2.2 Bahan Kimia
Sebagian bahan kimia (70%-90%)sebagian besar berhubungan dengan
terjadinya tumor.Bahan bahan yang dapat menimbulkan tumor di lingkungan dan di
dalam makanan.Bahan kimia karsinogenik yang berasal dari lingkngan antara lain
coal tar, polycyclic aromatic hydrocarbon, aromatic amines, nitrat, nitrit, nitrosamin.
Zat aflatoxin yag dihsilkan oleh jamur aspergillus flavus pada tanaman kacangkacagan dapat meyebabkan tumor usus dan hati (hepatocarsiogen) .Asbestos yang
terdapat dalam baha-bahan bangunan jika terhirup serigkali berhubugan dengan
tumor pada selaput paru-paru. Selain itu logam-logam berat seperti kromium dan
berilium dapat merangsang munculnya tumor dengan bereaksi pada asam nukleat
fosfat pada DNA.
2.2.2.3 Mikroorganisme
Beberapa mikroorganisme yag berhubunga degan tumor mulut adalah
candida albicans. Peneknan sistem kekebalan tubuh oleh obat-obatan atau HIV dapat
menyebabkan infeksi candida meningkat. Hubungan antara infeksi candida dengan
penyakit speckled leukoplakia adalah pada 7-39% dijumpai adanya hyphaedan
penyakit ini memiliki kecederugan utuk berubah menjadi tumor. Penyakit sifilis
yang disebabkan oleh mikroorgnisme treponeme pallidumdegan lesi tersier
dilaporkan berhubungan juga dengan terjadinya kaker lidah.
2.2.2.4 Defisiesi Nutrisi
Defisiensi mikronutrisi seperti vitamin A, C, E dan Fe dilaporkan mempuyai
hubungan degan terjadiya tumor . Vitamin A memiliki dua golongan yaitu retinol
dan caretenoids yang mempuya kemampuan untuk menghambat pembentuka tumor
dengan memperbaiki keratinisasi dan menghambat efek karsinogen.
Dilaporkan juga bahwa terjadi peningkatan insidensi kaker payudara pada
penderita defisiensi vitamin E. Sedangkan pada penderita defisiensi zat besi akan
3

mengalami anemia yang berhubungan erat dengan sydrome Plummer-Vinson.


Syndrome ini merupaka faktor pencetus tumor mulut yaitu karsinoma sel skuamosa.
2.2.2.5 Radiasi
Sinar

ultraviolet

merupakan

suatu

bahan

yang

diketahui

bersifat

karsinogenik. Sinar ini menyababkan terjadinya kasinoma sel basal kulit dan bibir.
Efek radiasi juga meningkat pada orang-orang yang memgang radiograf selama
proses rongent foto berlangsung.
2.2.2.6 Faktor Sistem kekebalan Tubuh
Dilaporkan bahwa ada peningkatan insidensi tumor pada pasie yang medapat
penekanan sisten kekebalan tubuh, seperti pada penderita transplantasi, AIDS,
defisiensi kekebalan genetik. Konsep ii uga didukung oleh Melief dkk. (1975) yag
melaporkan bahwa pasie yang mendapat penekanan sistem kekebalan tubuh sebesar
10%. Gangguan sistem kekebalan selin disebabkan kerusakan genetik juga daat
disebabkan oleh penuaan, obat-obtan dan infeksi virus.
2.2.2.7 Makanan
Makanan yang mengandung Bahan kimia seperti MSG (penyedap masakan),
bahan pengawet makanan, bahan pewarna tekstil yang sering dibuat campuran sirup
atau makanan lain, sudah dikenal lama sebagai bahan karsinogen. Oleh sebab itu
kurangi makan mie instant atau lain2 yang serba instant, karena itu semua bahan
pemicu tumor.

2.3 Klasifikasi Neoplasma


2.3.1

Klasifikasi Neoplasma Jinak

2.3.1.1 Odontogenik
a. Epitelium odontogenik (berdasarkan asal jaringan)
- Ameloblastoma
- Calcifyng epitelial odontogenik tumor (pinborg tumor)
- Clear cell odontogenik tumor
- Squamos odontogenik tumor
- Adenomatoid odontogenik tumor
b. Epitelium dan ectomesenkim odontogenik
4

- Ameloblastic fibroma
- Ameloblastic fibroodontoma
- Odontoameloblastoma
- Complex Odontoma
- Compound Odontoma
c. Ektomesenkim( dengan atau tanpa epitelium odontogenik)
- Odontogenik fibroma
- Odontogenik Myxoma
- Benigna cementoblastoma
2.3.1.2 Non odontogenik
a. Osteogenik neoplasm
- cemento-ossifyng fibroma
b. Lesi tulang non neoplastik
- cherubism-central giant cell granuloma, dll

2.3.2

Klasifikasi Neoplasma Ganas (Malignant)

2.3.2.1 Odontogenik
a. Ektodermal : intraalveolar carcinoma
b.Mesodermal : odontogenik sarcoma
c. Ektodermal & mesodermal : ameloblastic fibrosarcoma
2.3.2.2 Non odontogenik
a. Osteosarcoma
b. Ewing sarcoma
c. Multiple myeloma
Karcinoma merupakan tumor ganas yang berasal dari jaringan epitel.
Sarkoma merupakan tumor ganas yang berasal dari jaringan ikat. Benigna pada
rongga mulut dapat dijumpai pada jaringan gusi atau membran mukoperiosteal dari
pros.alveolar rahang atas atau rahang bawah : Fibroma, Hyperplasia, pyogenic
gran1uloma, pregnancy tumor, papilloma, hemangioma, peripheral giant cell
reparative granuloma, peripheral giant cell tumor, neuroma
5

Pada tulang kortikal rahang atas atau rahang bawah : Exostoses, torus
palatina, torus mandibula, chondroma, osteochondroma, osteoma atau diffus
hiperostosis. Dalam tulang kanselus rahang atas atau bawah : Diffuse hyperostosis
osteoma, ossifyng fibroma, asteoid osteoma, ameloblastoma, myxoma, odontoma,
dll
Diatas atau dibawah mukosa pipi: Fibroma, neuro fibroma, lipoma,
fibropapilloma, hemangioma, epulis fisuratum, pleomorpic adenoma,dll
Pada palatum : Fibroma, fibromatosis, fibropapilloma, myxofibroma,
rhabdomyoma, mixed tumor, dll. Pada lidah : Papilloma, hemangioma,
rhabdomyoma, myoblastoma, leiomyoma, lympangioma. Pada dasar mulut : Mixed
tumor (plemorpic adenoma), myxofibroma, dll
2.4 EPULIS
2.4.1

Defenisi Epulis
Tumor jinak pada gingiva yang berasal dari jaringan periondontium atau

periosateum
2.4.2

Etiologi Epulis

Berasal dari Iritasi kronis dan hormonal


2.4.3

Klasifikasi epulis :

2.4.3.1 Fibromatosa
Gejala : merupakan pembengkakan pada gusi, biasanya tidak ada rasa sakit
Tanda : massa yang kenyal, bisa pedenculated atau sessile
-

Warna lesi sama dengan gusi sekitar

Dapat terjadi ulcerasi di permukaan akibat trauma lokal

Diagnosis
-

Ditentukan berdasarkan biopsi eksisi dan pemeriksaan histopatologi

2.4.3.2 Granulomatosa
Epulis granulomatosa merupakan lesi yang timbul akibat dampak paska bedah
dari soket setelah dilakukan ekstraksi. Epulis ini terjadi pada interdental
gingival, benjolan massa irregular, warna kemerahan/Kebiruan, bertangkai, konsistens
ilunak/lembeksehingga mudah berdarah.

2.4.3.3 Gravidarum
Epulis gravidarum adalah reaksi jaringan granulomatik yang berkembang pada
gusi selama kehamilan. Tumor ini adalah lesi proliferatif jinak pada jaringan
lunak mulut dengan angka kejadian berkisar dari 0,2 hingga 5% dari ibu hamil.Epulis
tipe ini berkembang dengan cepat, dan ada kemungkinan berulang padakehamilan
berikutnya. Tumor kehamilan ini biasanya muncul pada trimester
pertamakehamilan namun ada pasien yang melaporkan kejadian ini pada trimester ked
ua kehamilannya.Perkembangannyacepat seiring dengan peningkatan hormone
estrogendan progesteron pada saat kehamilan
a.Penyebab primer Iritasi lokal seperti plak merupakan penyebab primer epulis
gravidarumsamahalnya seperti pada ibu yang tidak hamil, tetapi perubahan hormonal
yangmenyertai kehamilan dapat memperberat reaksi keradangan pada gusi oleh
iritasilokal. Iritasi lokal tersebut adalah kalkulus/plak yang telah mengalami pengapur
an, sisa-sisa makanan, tambalan kurang baik, gigi tiruan yang kurang baik.
b.Penyebab sekunder Kehamilan merupakan keadaan fisiologis yang menyeba
bkan perubahankeseimbangan hormonal, terutama perubahan hormon estrogen dan
progesterone.Peningkatan konsentrasi hormon estrogen dan progesterone pada masa
kehamilanmempunyai efek bervariasi pada jaringan, diantaranya pelebaran pembuluh
darah
yang
mengakibatkan bertambahnya aliran
darah sehingga
gingiva menjadi lebihmerah, bengkak, dan mudah mengalami perdarahan.

2.4.3.5 Epulis Angiomatosa (Epulis Telangiecticum)


Merupakan respon granulasi yang berlebihan yang merupakan reaksi
endotel(proliferasi) dan etiologinya disebabkan oleh trauma atau tidak diketahui namu
ndiduga karena hemangioma gingiva. Dikatakan respon berlebihan karena pertumbuh
an cepat,berbatas jelas, konsistensi lunak seperti spons, merah cerah
danmudah berdarah. Epulis angiomatosa seringkali di diferensial diagnosis dengan
epulisgranulomatosa dan epulis gravidarum
2.4.3.6 Sel raksasa (giant cell)

2.5

FIBROMA

Tumor jinak jaringan ikat rongga mulut

Gejala :

Pembengkakan yang tidak sakit


7

Tanda :

Pembengkakan yang kenyal berwarna merah muda, pedunculated atau sessile, sering
ditemukan di palatum atau gusi

Tes Diagnosis

Biopsi eksisi dan pemeriksaan histopatologi


2.6

PAPILOMA SEL SKUAMOSA


Lesi soliter di palatum, tetapi dapat juga terjadi di mukosa mulut lainnya dan ada

hubungannya dengan HPV

Gejala:

Pembengkakakn yang tidak sakit

Tanda:

Lesi bisa pedunculated atau sessile


Lesi klasiknya berupa pertumbuhanyang menyerupai kembang kol dengan permukaan
berwarna puth atau merah muda, atau tergantung pada derajat keratinisasi yang terjadi
2.7

PEMERIKSAAN KLINIS dan PEMERIKSAAN PENUNJANG

2.7.1

Anamnesis
Dalam hal ini pasien ditanyakan mengenai tanda dan gejala seperti :

Nyeri (jarang ada, jika ada biasanya karena infeksi sekunder atau lesi invasif)

Bengkak(selalau ada, jika lambat lesi menyebar, jika cepat terjadi infeksi
bersamaan/ lesi yang agresif)

2.7.2

Fungsi yang terganggu (termasuk fungsi mobilisasi rahang)

Perubahan motorik/ sensorik

Riwayat keganasan (fatktor predisposisi)

Riwayat keluarga (sindrom nervus sel basal dan sindrom Gardner)

Pemeriksaan Fisik

Periksa bagian epitel, jaringan ikat, otot, tulang, vaskular, dan kelenjar getah
bening

Melihat perubahan permukaaan sepeerti trauma, neoplasma, metabolik atau


inflamasi.

Perhatikan adanya edema, lokasi, jaringan asal onset dan kecepatan


pembesarannya. Kemudian ukurannya, ditanyakan juga mengenai perubahan
ukuran yang berhubungan dengan makan, fungsi rahang dan adanya massa.

Melihat terganggunya fungsi rahang berhubungan dengan penyakit yang


mengenai TMJ, tumor ganas, atau tumor jinak yang agresif.

Fraktur patologis pada mandibula dapat mengakibatkan gangguan akut pada


oklusi, mobilitas rahang, dan bentuk wajah.

Tumor/ penyebaran kista dari maksila dapat menyebabkan sumbatan pada hidung
dan telinga serta deviasi nasal septum.

Untuk semua lesi pada rahang, harus dilakukan auskultasi untuk mendengar
adanya bruit atau pulsasi.

Dapat pula dilakukan pemeriksaan melalui pembauan, karena masing-masing


jaringan

2.7.3

memiliki

bau

tersendiri

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Roentgen

Tomography

CT scan

MRI

Radionuclide imaging

Biopsi

Sialography
Kelebihan Kekurangan Roentgen Skrining

dapat dilakukan

mudah

murah

eliminasi struktur overlyng -diskriminasi yang rendah

2dimensi
Kelebihan dan kekurangan Tomography
9

yang

dapat

diidentifikasi.

Memberikan informasi secara proporsional


-

struktur terlihat dalam keadaan preselected plane

dimensi yg akurat -Tinggi radiasi

mahal

alat terbatas

CT scan -lokasi & staging tumor

Evaluasi pengobatan

menghasilkan gambar dari banyak sisi

dapat mengetahui sampai densitas yg kecil

peralatan yg rumit dan mahal

alat terbatas
MRI

tumor jaringan lunak

dapat mendeteksi adanya metastasis

ekstensi tumor pd rahang ke jaringan lunak

tidak ada radiasi

noninvasif

tissue contrast

diskriminasi jaringan

mahal

alat terbatas

gambaran detil tulang yang kurang baik

lama
Radionuclide Imaging

Metastasis

Artritis

infeksi skeletal

deteksi penyakit yg menyebar luar

menunjukan anatomi

lama

semua organ terekspos


10

BIOPSI
Merupakan pengambilan jaringan patologi untuk tujuan pemeriksaan mikroskopik.
Indikasi :

Jika pemeriksaan klinis& tanda gejala tdk cukup untuk menegakan diagnosis

Lesi yg persistensi setelah dilakukan removal

Untuk

melihat

perubahan

malignansi

Kontraindikasi :

Lesi yang pulsatile (vaskularisasi aktif)

Lesi radiolusen intrabony(sepsis pada lesi & jaringan sekitar)

Lesi yang berpigmen (tingkat malignansi tinggi)

Biopsi insisi : lesi ganas & tumor jinak agresif

Jenis -jenis:

Biopsi eksisi : lesi kecil (<1cm) & lesi jinak, dilakukan sampai 1-2mm

Punch biopsi : jarang dilakukan dimulut, lebih sering untuk kulit

Biopsi aspirasi : massa jaringan lunak dikepala dan leher( KGB & kel.saliva)

Cytological smear : lesi epitel dipermukaan, terutama yg tdk brkeratin tebal

BAB III
LAPORAN KASUS
3.1 IDENTITAS PENDERITA
11

Nama

: Ny. Tiadah

Umur

: 51 tahun

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Jenis kelamin

: Perempuan

Masuk Poli

: 23 November 2011 pukul 10.00 WIB

No. CM

: C324625

Alamat

: Karangturi, bogosari-Guntur-Demak

3.2 KELUHAN SUBYEKTIF


ANAMNESIS
Autoanamnesis pada tanggal 23 November 2011 pukul 10.00 WIB di poli Gigi dan Mulut
RSDK
Keluhan utama : benjolan pada gusi kiri atas
Riwayat Penyakit Sekarang:
1 tahun sebelum memeriksa ke poli gigi mulut,pasien mengeluh muncul benjolan di gusi
kiri atas. Benjolan semakin lama semakin besar, tidak nyeri, dan tidak mudah berdarah.
Pasien masi bisa makan seperti biasa.
2 bln yang lalu, benjolan telah berukuran sebesar bola bekel pada gusi kiri pinggir atas.
Mulai terasa nyeri jika disentuh. Tidak mudah berdarah, masih dapat makan dan minum
seperti biasa
3 hari SMRS, benjolan terpukul dari arah luar. Darah mengalir dari benjolan. Darah baru
berhenti setelah ditekan. Nyeri (+) senut- senut hingga telinga kiri, pusing (+), pingsan (-).
1 hari SMRS, benjolan masih terasa nyeri, pusing (+), sulit membuka mulut (-). Makan dan
minum (-) karena nyeri. Darah kadang- kadang masih keluar. Pasien berobat ke RSD Sunan
Kalijaga dan dirujuk ke RSDK.

Riwayat Penyakit Dahulu


1. Penderita belum pernah sakit seperti ini sebelumnya
2. Riwayat sakit gigi sebelumnya (+).
3. Riwayat minum obat-obat epilepsi disangkal.
12

4. Riwayat penyakit DM dan Hipertensi disangkal


5. Riwayat merokok dan minum alkohol disangkal
6. Riwayat menyirih disangkal.
7. Riwayat Penyinaran sebelumnya disangkal
Riwayat Penyakit Keluarga
1. Riwayat menderita penyakit seperti ini disangkal
2. Riwayat keganasan disangkal
3. Riwayat darah tinggi disangkal
4. Riwayat kencing manis disangkal
Riwayat Sosial Ekonomi
Suami bekerja sebagai petani, pasien sebagai ibu rumah tangga. Mempunyai 4 orang anak
yang sudah mandiri. Tinggal hanya dengan suami dengan penghasilan perbulan Rp.400.000.
Biaya pengobatan ditanggung.pribadi dengan rencana mengajukan Jamkesmas.
Kesan : sosial ekonomi kurang
3.3 PEMERIKSAAN OBYEKTIF
PEMERIKSAAN FISIK
Dilakukan pada tanggal 23 November 2011 pukul 10.30 WIB di poli Gigi dan Mulut RSDK
Keadaan Umum

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Composmentis

Tanda Vital
Tensi

: 120/70

Nadi

: 88 kali/menit

RR

: 22 kali/menit

Suhu

: 36,5 C

EKSTRA ORAL
Inspeksi : asimetri wajah (+), pembengkakan (+) trismus (-)
Palpasi : benjolan di mukosa bucal rahang atas kiri (+) ukuran 5x4x3 cm, konsistensi
keras batas tegas, warna seperti warna sekitarnya
Leher
13

Inspeksi : pembesaran nnll -/Palpasi : pembesaran nnll. -/INTRA ORAL


Mukosa Pipi

: Edema -/+ ; hiperemis -/+

Mukosa Palatum

: Edema -/- ; hiperemis -/-

Mukosa dasar mulut

: Edema -/- ; hiperemis -/-

Mukosa Pharynx

: Edema -/- ; hiperemis -/-

Kelainan periodontal

: Gigi goyang (-)

Ginggiva atas

: Benjolan regio bucal kiri, hiperemis -/+

Ginggiva bawah

: Edema -/- ; hiperemis -/-

Karang gigi

: (+) generalisata

Pocket

: (-)

3.4 STATUS LOKALIS


Inspeksi

: Tampak benjolan di mukosa buccal kiri atas sebesar telur ayam, hiperemis
(+), oedematous (+), ulcus (-)

Palpasi

: Teraba benjolan ukuran 4x4x2,5 cm, konsistensi keras, batas tegas nyeri
tekan (+), mudah berdarah (-), permukaan rata, bertangkai (+)

Gigi 2.6
Inspeksi

: tampak sisa akar

Palpasi

: -/-

Perkusi

: -/-

Sondase

: -/-

Gigi 2.7
Inspeksi

: tampak sisa akar

Palpasi

: -/-

Perkusi

: -/-

Sondase

: -/14

Gigi 2.8
Inspeksi

: tampak gigi tumbuh miring

3.5 DIAGNOSIS KERJA


Diagnosis Keluhan Utama : Tumor ginggiva suspek jinak pada regio buccal sinistra
Diagnosa Banding

Epulis fibromatosis

Fibroma

Papiloma sel skuamosa

Diagnosis Penyakit Lain :


-

Periodontitis kronis e.c Gangren Pulpa 2.6, 2.7

Erupsio Difficilis 2.8

Gingivitis kronis generalisata e.c Calculus

3.6 PEMERIKSAAN PENUNJANG


Pemeriksaan laboratorium

: Darah lengkap, GDS, elektrolit, kimia darah

Pemeriksaan radiologi

: X-photo panoramik

Pemeriksaan PA

: Pemeriksaan histopatologi jaringan tumor

3.7 PENATALAKSANAAN
1. Tumor ginggiva suspek jinak pada regio buccal sinistra
Tx

: Konsul Bedah Mulut ( pro eksisi biopsy / ekskokleasi)

2. Periodontitis kronis e.c Gangren Pulpa 2.6, 2.7


Tx

: Ekstraksi GP 2.6, 2.7

3. Erupsio Difficilis 2.8


Tx

: Ekstraksi 2.8

4. Gingivitis kronis generalisata e.c Calculus


Tx

: Kalkulektomi

15

BAB IV
PEMBAHASAN

Pada kasus ini pasien di diagnosis dengan tunor ginggiva suspek jinak pada regio
16

buccal kiri rahang atas. Anamnesis di dapatkan pasien mengeluh muncul benjolan di gusi kiri
rahang atas 1 tahun yang lalu, benjolan mula- mula kecil makin lama semakin besar, tidak
nyeri, dan tidak mudah berdarah. Pasien masi bisa makan seperti biasa. 2 bln yang lalu,
benjolan telah berukuran sebesar bola bekel pada gusi kiri pinggir atas. Mulai terasa nyeri
jika disentuh. Tidak mudah berdarah, masih dapat makan dan minum seperti biasa. 3 hari
SMRS, benjolan terpukul dari arah luar. Darah mengalir dari benjolan. Darah baru berhenti
setelah ditekan. Nyeri (+) senut- senut hingga telinga kiri, pusing (+), pingsan (-). 1 hari
SMRS, benjolan masih terasa nyeri, pusing (+), sulit membuka mulut (-). Makan dan minum
(-) karena nyeri disangkal. Darah kadang- kadang masih keluar. Riwayat keganasan
sebelumnya disangkal, riwayat sakit gigi sebelumnya (+),
Hipertensi),

penyinaran

sebelumnya,

merokok,

penyakit sistemik (DM,

mengkonsumsi

alkohol

disangkal.

Pemeriksaan Ekstraoral didapatkan asimetri wajah (+), pembengkakan pada pipi kiri (+) dan
tidak terdapat trismus. Palpasi didapatkan benjolan di mukosa bucal rahang atas kiri (+)
ukuran 5x4x3 cm, konsistensi keras batas tegas, warna seperti warna sekitarnya.
Pemeriksaan Intraoral didapatkan benjolan di mukosa buccal kiri atas sebesar telur ayam,
hiperemis (+), oedematous (+), ulcus (-). Palpasi didapatkan benjolan ukuran 4x4x2,5 cm,
konsistensi keras, batas tegas nyeri tekan (+), mudah berdarah (-), permukaan rata, bertangkai
(+). Pada pemeriksaan gigi geligi pasien juga didapatkan adanya periodontitis kronis e.c
gangren radix 2.6; 2.7 dan erupsi difficilis 2,8 serta gingivitis kronis generalisata e.c calculus.

BAB V
KESIMPULAN
Telah diperiksa seorang perempuan berumur 51 tahun dengan diagnosis penyakit
utama tumor gingival region buccal suspek jinak dan diagnosis penyakit lainnya yaitu
periodontitis kronis e.c gangren radiks 2.6, 2.7 serta didapati gingivitis kronis generalisata e.c
kalkulus. Penegakkan diagnosis pada penderita ini dilakukan
17

dengan anamnesis dan

pemeriksaan fisik. Penatalaksanaan selanjutnya, pasien di konsulkan ke bedah mulut untuk


dilakukan eksisi biopsy.

Daftar pustaka
1. Sudiono Janti dkk. 2001. Penuntun Praktikum Patologi Anatomi. EGC: Jakarta
2. Sudiono Janti dkk. 2003. Ilmu Patologi. EGC: Jakarta

18

3. Sudiono janti,2008. Pemeriksaan Patologi untuk Diagnosis Neoplasma Mulut. EGC:


Jakarta
4. Syafriadi Mei, 2008. Patologi Mulut (Tumor Neoplastik dan Non Neoplastik Rongga
Mulut).Jogjakarta: Andi
5. Tumor Rongga Mulut. www.Bedah mulut dan Maxillofacial. September 2005.
6. Madhusudan A.S, et all. Giant cell epulis: report of 2 cases. Departemen patologi oral
dan maxillofacial . Rumah sakit pendidikan kedokteran gigi pacific.
7. Ajagbe, HA., Daramola JO. Fibrous Epulis: Experience ini clinical presentation and
treatment of 39 cases. Journal of the national of medical association
8. Anonym. Ekskokleasi epulis. www.bedah-umum.com
9. Anonym. Tumor Jinak Rongga Mulut. November, 2011. www.wordpress.com

LAMPIRAN
19

20

21