You are on page 1of 16

ARTIKEL

PENGARUH PENGELUARAN PEMERINTAH, INVESTASI DAN TENAGA


KERJA TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI PROPINSI SUMATERA
BARAT

Oleh :
LUSI TRI FATMAH SHAH
2008/05957

PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2013

PENGARUH PENGELUARAN PEMERINTAH, INVESTASI, DAN TENAGA KERJA


TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI PROPINSI SUMATERA BARAT

Lusi Tri Fatmah Shah, Drs. Akhirmen, M.Si, Dewi Zaini Putri, SE, MM
Jurnal Ekonomi Pembangunan
Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Padang
E-mail :lusitrifatmahshah@yahoo.com

ABSTRAK
Jenis penelitian ini adalah deskriptif dan asosiatif yaitu penelitian yang mendeskriptifkan variabel
penelitian dan menemukan ada tidaknya pengaruh antara variabel bebas dengan variabel terikat. Jenis
data adalah data sekunder. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah studi pustaka dan
dokumentasi dari tahun 1994 sampai tahun 2011. Analisis data yang digunakan adalah deskriptif dan
induktif yaitu: Metode regresi linear berganda, Uji Prasyarat (Uji Autokorelasi, Uji Multikolinearitas, Uji
Heteroskedastisitas, Normalitas sebaran data), koefisien determinasi, Uji t dan Uji F.
Hasil penelitian ini adalah: (1) Pengeluaran pemerintah berpengaruh secara signifikan positif
terhadap pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat (2) Investasi tidak berpengaruh signifikan terhadap
pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat (3) Tenaga kerja berpengaruh signifikan positif terhadap
pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat (4) secara bersama-sama pengeluaran pemerintah, investasi, dan
tenaga kerja berpengaruh signifikan positif terhadap pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat. Kontribusi
secara bersama-sama antara pengeluaran pemerintah, investasi, dan tenaga kerja terhadap pertumbuhan
ekonomi Sumatera Barat.
Kata Kunci :Pengeluaran pemerintah, investasi, tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi
Abstract
This research is descriptive and associative research that mendeskriptifkan variables and find
whether there is influence between independent variables with the dependent variable . The type of data is
secondary data . Techniques of data collection in this research is to study literature and documentation
from 1994 until 2011 . Analysis of the data used is descriptive and inductive , namely : multiple linear
regression method , Prerequisite Test ( Test autocorrelation , Multicollinearity Test , Test Heteroskidastity,
Normality of distribution of data) , the coefficient of determination , t-test and Test F.
The results of this study are : ( 1 ) Government spending significantly positive effect on economic growth
of West Sumatra ( 2 ) Investments no significant effect on economic growth in West Sumatra ( 3 ) Labor
positive significant effect on economic growth of West Sumatra ( 4 ) the co- the same government
spending , investment , and labor significantly positive effect on economic growth of West Sumatra .
Contribute jointly between government spending , investment , and labor on the economic growth of West
Sumatra
2

Keywords: Government spending, investment, employment and economic growth


I. PENDAHULUAN

berkaitan erat dengan potensi ekonomi dan


karakteristik yang dimiliki suatu daerah pada
umumnya berbeda dengan yang dimiliki daerah
lain.
Era otonomi daerah pada masa sekarang
ini telah menghadirkan suatu kondisi dimana
setiap daerah dituntut untuk mengembangkan
potensi yang dimilikinya guna mendorong
pertumbuhan ekonomi daerah tersebut dan
meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan
masyarakat. Propinsi Sumatera Barat merupakan
salah satu daerah yang memiliki potensi terhadap
pertumbuhan ekonomi. Pembangunan ekonomi
di Sumatera Barat diarahkan untuk mencapai
kemajuan, kemandirian, dan kesejahteraan
masyarakat, yang dilakukan antara lain melalui
peningkatan output (PDRB), investasi daerah,
peningkatan
efisiensi,
produktifitas
perekonomian, peningkatan penyerapan tenaga
kerja, perbaikan kualitas sumber daya manusia
dan program-program lainnya. Program-program
ini sangat penting artinya dalam rangka
mencapai sasaran pembangunan jangka panjang.
Peranan pemerintah daerah adalah
meningkatkan
keberhasilan
pembangunan
nasional dan juga dalam mengefektifitaskan
manfaat dari keberhasilan pembangunan
nasional tersebut. Dalam pembangunan daerah
banyak hal yang mempengaruhi diantaranya
yang sangat penting adalah pengeluaran
pemerintah, investasi dan tenaga kerja. Kenaikan
dan penurunan pertumbuhan di Sumatera Barat
dipengaruhi oleh banyak faktor. Menurut Todaro
(2003:92) ada tiga faktor atau komponen utama
yang berpengaruh dalam pertumbuhan ekonomi
suatu daerah ketiganya adalah akumulasi modal,
pertumbuhan penduduk dan kemajuan teknologi.
Pembangunan daerah merupakan wujud upaya
peningkatan kapasitas pemerintah daerah dalam
menjalankan pemerintahannya. Pembangunan

Indonesia merupakan negara yang


dikategorikan ke dalam negara Sedang
Berkembang (NSB) yang menganut sistem
perekonomian terbuka dimana negara Indonesia
melakukan kerjasama dengan negara lain yang
bersifat
internasional.
Keberhasilan
perekonomian suatu negara dilihat dari kondisi
pertumbuhan
ekonominya.
Pertumbuhan
ekonomi dipandang sebagai suatu syarat yang
sangat penting untuk perbaikan kesejahteraan
masyarakat dan juga dipandang sebagai syarat
mutlak untuk mencapai tujuan pembangunan
lainnya. Salah satu tolak ukur yang penting
dalam menentukan keberhasilan ekonomi adalah
pertumbuhan ekonomi yang menggambarkan
suatu dampak nyata dari kebijakan pembangunan
yang dilaksanakan untuk pertumbuhan ekonomi
yang berkaitan erat dengan proses peningkatan
produksi barang dan jasa dalam kegiatan
ekonomi masyarakat.
Pertumbuhan
ekonomi
adalah
pertumbuhan
dari
pendapatan
nasional
(pendapatan daerah) yang terjadi disuatu negara
dari tahun ketahun. Pertumbuhan ekonomi yang
tinggi dinilai dapat membuat keberhasilan
program-program pembangunan, karena dengan
meningkatnya
pertumbuhan
ekonomi,
pemerintah akan memberikan pembiayaan
pembangunan negara yang lebih adil dan merata
disegala bidang baik itu untuk infrastruktur fisik
maupun infrastruktur non fisik.
Salah satu sasaran pembangunan nasional
adalah menciptakan pertumbuhan ekonomi dan
pemerataan hasil pembangunan, termasuk di
dalamnya pemerataan pendapatan antar daerah
(wilayah). Untuk mencapai sasaran di atas
bukanlah pekerjaan yang ringan, karena pada
umumnya pembangunan ekonomi suatu daerah
3

daerah tidak diwujudkan tanpa adanya


pembangunan fisik berupa sarana dan prasarana.
Pembangunan fisik dapat dilaksanakan jika
pengeluaran pemerintah meningkat.
Pengeluaran pemerintah akan meningkat
sejalan
dengan
peningkatan
kegiatan
perekonomian suatu negara atau wilayah.
Keadaan ini dapat dijelaskan dalam kaidah yang
dikenal sebagai Hukum Wagner yaitu mengenai
adanya korelasi positif antara pengeluaran
pemerintah dengan tingkat pendapatan nasional.
Walaupun demikian peningkatan pengeluaran
pemerintah yang besar belum tentu berakibat
baik terhadap aktivitas perekonomian, untuk itu
perlu dilihat efisiensi penggunaan pengeluaran
pemerintah. Terdapat beberapa faktor penentu
besarnya pengeluaran pemerintah diantaranya
faktor
penduduk,
bertambahnya
jumlah
penduduk menjadi pertimbangan pengalokasian
dana dalam jumlah tertentu untuk memenuhi dan
melayani kebutuhan dari tambahan jumlah
penduduk tersebut.
Pengeluaran
pemerintah
berupaya
membangun sarana dan prasarana infrastruktur
baik jalan raya, penerangan, bandara,
perkeretaapian dan lain sebagainya yang pada
akhirnya dapat meningkatan investasi di provinsi
tersebut. Namun dalam prakteknya pengeluaran
pemerintah ini harus dilakukan dengan hati-hati
jangan sampai menimbulkan masalah baru dalam
perekonomian. Selain pengeluaran pemerintah,
investasi
sangat
berpengaruh
terhadap
pertumbuhan ekonomi, mengingat Sumatera
Barat memiliki sumber daya alam yang cukup
bagus dan berkemungkinan besar bisa
menanamkan investasi di propinsi ini, karena
banyaknya tersedia berbagai bahan mentah dari
berbagai sektor seperti
sektor
pertanian,
perkebunan, dan juga potensi daerah yang dapat
dijadikan objek wisata sehingga apabila potensipotensi daerah ini diberdayakan maka sangat
besar manfaatnya dalam
menghasilkan
pendapatan daerah
dan
juga menunjang

terciptanya kegiatan ekonomi disekitar daerah


tersebut yang dapat meningkatkan pendapatan
masyarakat
setempat
dan
meningkatkan
pertumbuhan ekonomi.
Untuk
meningkatkan
pertumbuhan
ekonomi dibutuhkan investasi yang sangat besar.
Investasi merupakan faktor utama dalam
pertumbuhan ekonomi. Dengan adanya investasi
akan meningkatkan pendapatan nasional melalui
output yang dihasilkannya, serta dapat
meningkatkan pendapatan masyarakat. Investasi
juga memegang peranan yang penting dalam
menggairahkan perekonomian atau dunia
usaha. Dengan posisi semacam itu investasi
pada hakekatnya juga merupakan langkah
awal kegiatan pembangunan ekonomi dan
penanaman modal yang mempengaruhi tinggi
rendahnya pertumbuhan ekonomi. Oleh karena
itu
pemerintah Sumatera Barat senantiasa
berusaha menciptakan iklim yang kondusif untuk
menarik minat investor asing agar menanamkan
modalnya di Sumatera Barat.
Perubahan investasi berpengaruh positif
terhadap pertumbuhan ekonomi, semakin tinggi
investasi maka pertumbuhan ekonomi juga akan
semakin membaik dan juga semakin banyaknya
investasi akan membuka lapangan pekerjaan
yang secara tidak langsung akan menyerap
tenaga kerja.
Faktor tenaga kerja merupakan salah satu
faktor penentu pertumbuhan ekonomi. Tenaga
kerja merupakan unsur utama di dalam proses
produksi barang dan jasa serta mengatur sarana
produksi untuk menghasilkan barang dan jasa
tersebut. Tenaga kerja merupakan bagian penting
dari penduduk dimana pertumbuhan tenaga kerja
sejalan dengan pertumbuhan penduduk. Penting
sekali untuk meningkatkan jumlah lapangan
kerja agar menampung jumlah tenaga kerja yang
semakin bertambah dari tahun ke tahun,
sehingga daya produksi barang dan jasa akan
meningkat secara signifikan.
4

Pada Tabel 2 dapat dilihat perkembangan


pertumbuhan ekonomi, pengeluaran pemerintah,
investasi dan tenaga kerta di Sumatera Barat
tahun 2002-2011. Pertumbuhan PDRB terbesar
adalah pada tahun 2008 yaitu sebesar 6,88
persen, hal ini disebabkan oleh pengeluaran
pemerintah mengalami pertumbuhan sebesar
5,32 persen diikuti pertumbuhan investasi
sebesar 5,28 persen dan didorong dengan tenaga
kerja yang mengalami pertumbuhan sebesar 0,99
persen. Pertumbuhan pengeluaran pemerintah
tertinggi terjadi pada tahun 2011 yaitu sebesar
18,09 persen dimana menyebabkan PDRB
mengalami pertumbuhan sebesar 6,22 persen.
Investasi tertinggi terjadi pada tahun 2010
dimana mengalami pertumbuhan sebesar 11,7
persen, hal ini menyebabkan PDRB mengalami
pertumbuhan sebesar 5,93 persen. Pertumbuhan
tenaga kerja tertinggi terjadi pada tahun 2003
dimana mengalami pertumbuhan sebesar 10,43
persen.
Pertumbuhan pengeluaran pemerintah
terendah terjadi pada tahun 2004 dimana
pertumbuhan mengalami penurunan sebesar 2,18
persen, hal ini seharusnya menyebabkan PDRB
mengalami penurunan, tetapi pada tahun 2004
PDRB mengalami pertumbuhan sebesar 5,47
persen. Pertumbuhan investasi terendah terjadi
pada tahun 2006 dimana investasi mengalami
penurunan sebesar 4,02 persen dimana
seharusnya PDRB mengalami penurunan, tetapi
pada tahun 2006 PDRB mengalami pertumbuhan
sebesar 6,14 persen. Tenaga kerja pada tahun
2004 mengalami pertumbuhan terendah sebesar
-3,23
persen,
seharusnya
menyebabkan
pertumbuhan PDRB mengalami penurunan,
tetapi pada tahun 2004 PDRB mengalami
pertumbuhan sebesar 5,47 persen.
Pertumbuhan ekonomi berarti
perkembangan kegiatan dalam perekonomian
yang menyebabkan barang dan jasa yang
diproduksi
masyarakat
bertambah
dan
kemakmuran
masyarakat
meningkat.

Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi


merupakan impian bagi semua negara terlebih
negara miskin dan berkembang. Namun untuk
mencapai tingkat perekonomian yang tinggi
tidaklah mudah. Pertumbuhan ekonomi dapat
dicapai dengan berbagai faktor pendukung
seperti stabilitas nasional, sumber daya alam
yang tersedia, sumber daya manusia yang
berkualitas, budaya dan modal.
Pengeluaran pemerintah meliputi semua
pembelian barang dan jasa yang dilakukan oleh
pemerintah daerah. Pemerintah sebagai salah
satu pelaku ekonomi yang memiliki tujuan untuk
mendukung kegiatan roda perekonomian agar
berjalan lebih baik dan bersemangat. Peran
pemerintah seperti dikemukakan oleh Keynes
sering kali diperlukan untuk mendorong
pertumbuhan perekonomian. Untuk menjalankan
sektor yang tidak dilakukan oleh sektor swasta
seperti
memproduksi
barang
publik.
Memproduksi barang publik tentu memerlukan
dana yang terwujud dalam pengeluaran
pemerintah baik level nasional maupun daerah.
Pengeluaran pemerintah dapat terjadi
apabila sektor swasta dan pemerintah saling
bersaing dalam melakukan peranannya dalam
perekonomian. Pengeluaran pemerintah lebih
mendapatkan peran sebagai pendorong atau
stimulus bagi kegiatan perekonomian di suatu
daerah dimana pengeluaran pemerintah memberi
dukungan terhadap sektor swasta dalam
meningkatkan perekonomian daerah terutama
untuk meningkatkan investasi. Disamping itu
kegiatan
investasi
memungkinkan
suatu
masyarakat terus menerus meningkatkan
kegiatan ekonomi dan kesempatan kerja,
meningkatkan
pendapatan
nasional
dan
meningkatkan taraf kemakmuran masyarakat.
Masalah.

Dengan demikian dalam meningkatkan


pertumbuhan
ekonomi
Sumatera
Barat,
pengeluaran
pemerintah sangat penting
demikian juga dengan investasi dan tenaga kerja
5

yang turut berperan dalam meningkatkan


pertumbuhan ekonomi.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis
tertarik untuk melakukan penelitian dengan
judul: Pengaruh Pengeluaran Pemerintah,
Investasi dan Tenaga Kerja Terhadap
Pertumbuhan Ekonomi Propinsi Sumatera
Barat

pertumbuhan ekonomi dicapai oleh suatu


negara (Sukirno, 2000:56).
Dari teori-teori di atas dapat
disimpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi
merupakan salah satu indikator yang sangat
penting dalam melakukan analisis tentang
pembangunan ekonomi yang terjadi pada
suatu negara. Dimana pertumbuhan ekonomi
ini menunjukkan sejauh mana aktivitas
perekonomian akan menghasilkan tambahan
pendapatan masyarakat pada suatu periode
tertentu. Faktor-faktor pertumbuhan ekonomi
adalah kenaikan kuantitas dan kualitas tenaga
kerja, penambahan modal yaitu penambahan
investasi dan pengeluaran pemerintah.

II. KAJIAN TEORI


A. Kajian Teori
1. Konsep Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi menerangkan


atau mengukur prestasi dari perkembangan
sesuatu
ekonomi.
Dalam
kegiatan
perekonomian yang sebenarnya pertumbuhan
ekonomi berarti perkembangan fisikal
produksi barang dan jasa yang berlaku di
suatu negara, seperti pertambahan dan
jumlah
produksi
barang
industri,
perkembangan infrastruktur, pertambahan
jumlah sekolah, rumah sakit, pertambahan
produksi sektor jasa dan pertambahan
produksi barang modal. Jadi pertumbuhan
ekonomi
mengukur
prestasi
dari
perkembangan suatu perekonomian dari
suatu periode ke periode lainnya. (Sukirno,
2004:423)
Pertumbuhan ekonomi ini dapat dilihat
dan diukur dari perkembangan Pendapatan
Domestik Regional Bruto (PDRB) atas harga
konstan dari tahun ke tahun. Tingkat
pertumbuhan
ekonomi
mengukur
pertambahan pendapatan nasional rill, yaitu
pendapatan nasional yang dihitung pada
harga konstan, kenaikan pendapatan nasional
rill ini berarti barang-barang dan jasa-jasa
yang dihasilkan suatu negara telah meningkat
kalau
dibandingkan
dengan
tahun
sebelumnya. Jumlah kenaikan yang berlaku,
jika dibandingkan dengan pendapatan
nasional
rill
tahun
sebelumnya,
menggambarkan
tingkat
(prestasi)

2. Konsep Pengeluaran Pemerintah

Pengeluaran pemerintah merupakan


salah satu aspek penggunaan sumber daya
ekonomi yang secara langsung dikuasai oleh
pemerintah dan secara tidak langsung
dimiliki
oleh
masyarakat
melalui
pembayaran pajak. Pajak yang diterima
pemerintah
akan
digunakan
untuk
membiayai berbagai kegiatan pemerintah.
Pengeluaran pemerintah untuk menyediakan
sarana dan prasarana seperti fasilitas
pendidikan, kesehatan, jalan, rumah sakit,
irigasi dan infrastruktur lainnya dimana
dilakukan untuk kepentingan masyarakat
(Sukirno, 2004:38)
Secara makro, dalam Nanga (2001:85)
para ahli ekonomi menjelaskan pengertian
pengeluaran pemerintah ke dalam tiga
golongan, yaitu: Model
pembangunan
tentang
perkembangan
pengeluaran
pemerintah. Model ini dikembangkan oleh
Rostow dan Musgrave yang menghubungkan
pengeluaran pemerintah dengan tahap-tahap
pembangunan ekonomi:
a.
Pada tahap awal perkembangan ekonomi,
persentase investasi pemerintah terhadap
total investasi adalah besar, karena pada
6

13

tahap ini pemerintah harus menyediakan


prasarana, seperti: pendidikan, kesehatan,
transportasi.
b. Pada tahap menengah pembangunan
ekonomi,
investasi
pemerintah
tetap
diperlukan untuk meningkatkan pertumbuhan
ekonomi agar dapat tinggal landas, namun
pada tahap ini perananan investasi swasta
sudah semakin besar.
c. Pada tingkat ekonomi lebih lanjut dalam
pembangunan ekonomi, aktivitas pemerintah
beralih dari penyediaan prasarana ke
pengeluaran-pengeluaran untuk aktivitas
sosial seperti: program kesejahteraan,
program
pelayanan
kesehatan,
dan
sebagainya.
Lebih lanjut lagi, Wagner dalam
Mangkoesoebroto (2002:72) menyebutkan
bahwa dalam suatu perekonomian apabila
pendapatan per kapita meningkat, secara
relatif pengeluaran pemerintah juga ikut
meningkat.

lama yang telah haus dan perlu


didepresiasikan (Sukirno, 2004:121).
Dalam teori investasi atau penanaman
modal merupakan kegiatan menanamkan
dana yang bersumber dari masyarakat atau
pemerintah
untuk
digunakan
dalam
menjalankan
kegiatan
bisnis
atau
mengadakan alat-alat atau fasilitas produksi
seperti lahan, membuka pabrik-pabrik,
mendatangkan mesin-mesin, membeli bahan
baku dan sebagainya. Penanaman modal
yang bersumber dari masyarakat dapat
berupa investasi swasta ataupun investasi
dari pihak asing, sementara penanaman
modal bersumber dari pemerintah dinamakan
belanja modal.
4. Konsep Tenaga Kerja
Tenaga kerja didefinisikan sebagai
penduduk berumur 10 tahun atau lebih yang
bekerja, mencari pekerjaan, dan sedang
melakukan kegiatan lain. Seperti sekolah
mampu mengurus rumah tangga dan
penerima
pendapatan.
Menurut
BPS
penduduk berumur 10 tahun keatas terbagi
sebagai tenaga kerja. Dikatakan tenaga kerja
bila mereka melakukan pekerjaan dengan
maksud memperoleh atau membantu
memperoleh pendapatan atau keuntungan
dan lembaga bekerja paling sedikit 1 (satu)
jam secara kontiniu selama seminggu yang
lalu.
Menurut Sukirno (2006:27) tenaga
kerja adalah bagian penduduk suatu negara
yang dapat digunakan dengan faktor
produksi lain untuk melakukan kegiatan
produktif dan menghasilkan barang dan jasa
yang diperlukan masyarakat. Tenaga kerja
adalah orang yang melaksanakan dan
menggerakkan
segala
kegiatan,
menggunakan peralatan dengan teknologi
dalam menghasilkan suatu output berupa

3. Konsep Investasi
Investasi yang lazim disebut juga dengan
istilah penanaman modal atau pembentukan
modal merupakan komponen kedua yang
menentukan. tingkat pengeluaran agregat.
Dengan demikian istilah investasi dapat
diartikan
sebagai
pengeluaran
atau
perbelanjaan penanam-penanaman modal
atau perusahaan untuk membeli barangbarang
modal
dan
perlengkapanperlengkapan untuk menambah kemampuan
memproduksi barang-barang dan jasa-jasa
yang tersedia dalam perekonomian.
Pertambahan jumlah barang modal ini
memungkinkan
perekonomian
tersebut
menghasilkan lebih banyak barang dan jasa
di masa yang akan datang. Adakalanya
penanaman
modal
dilakukan
untuk
menggantikan barang-barang modal yang
7

barang atau jasa yang bernilai ekonomi untuk


memenuhi kebutuhan masyarakat.
Tenaga kerja merupakan penduduk
yang berumur di dalam batasan usia kerja,
batasan usia kerja berbeda antara satu negara
dengan negara lain. Batas usia kerja yang
dianut oleh Indonesia adalah minimal 10
tahun tanpa batas maksimum. Menurut
Todaro (2003:93) bahwa jumlah tenaga kerja
yang besar akan menambah jumlah tenaga
yang produktif dan akan meningkatkan
jumlah produksi serta memberi dampak
positif terhadap pembangunan.
Untuk pencapaian hasil yang di
inginkan, penggunaan tenaga kerja tidak
hanya tergantung pada jumlah tenaga kerja
yang digunakan, tetapi juga sangat
tergantung kepada kualitas atau mutu dari
tenaga kerja itu sendiri. Dapat dikatakan
bahwa mutu tenaga kerja merupakan salah
satu penyebab perubahan nilai produktivitas.
Jadi tinggi rendahnya produktivitas sangat
tergantung pada mutu dari tenaga kerja yang
digunakan dalam proses produksi itu sendiri.

Adalah
pengeluaran
atau
perbelanjaan
penanaman modal atau perusahaan untuk
membeli
barang-barang
modal
dan
perlengkapan-perlengkapan untuk menambah
kemampuan memproduksi barang-barang dan
jasa-jasa yang tersedia dalam perekonomian,
yang diukur dalam total investasi. Di mana data
yang digunakan dalam penelitian ini adalah
PMTB konstan 2000 di ukur dalam satuan
rupiah. Tenaga Kerja (X3) Adalah banyaknya
jumlah tenaga kerja yang bekerja di propinsi
Sumatera Barat, diukur dengan jumlah penduduk
10 tahun ke atas yang berkerja di Sumatera Barat
yang diukur dalam satuan orang pertahun.
Hasil Penelitian Dan Pembahasan
1. Analisis Induktif

a. Uji Persyaratan Analisis


1) Uji Autokorelasi
Berdasarkan hasil uji autokorelasi dengan
metode Bruesch-Godfrey (LM Test), dapat
diketahui bahwa nilai Chi-squares
hitung
sebesar 0,785 sedangkan nilai Chi-squares tabel
pada = 5% dengan dk = 4 adalah 9,49. Karena
nilai Chi-squares hitung (2) lebih kecil dari nilai
kritis Chi-squares tabel (2) maka dapat
disimpulkan bahwa model ini tidak mengandung
masalah autokorelasi.

III. METODE PENELITIAN

Penelitian
ini
termasuk
penelitian
deskriptif dan asosiatif. Penelitian ini
menjelaskan pengaruh antara variabel bebas
yaitu pengeluaran pemerintah, investasi dan
tenaga kerja dengan variabel terikatnya
pertumbuhan ekonomi sumatera barat. Data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah data
sekunder yang dikumpulkan dari tahun 1994
sampai tahun 2011. Konsep yang penulis
gunakan dalam penelitian ini yaitu Pertumbuhan
Ekonomi (Y) output dari suatu perekonomian
dalam memproduksi barang-barang dan jasa-jasa
di Sumatera Barat yang diukur dari PDRB atas
dasar harga konstan 2000 dengan satuan rupiah.
Pengeluaran pemerintah (X1) berunsurkan pos-pos
pengeluaran yang tercantum dalam APBD untuk
membiayai pelaksanaan roda pemerintahan
sehari-hari yang dilihat dalam pengeluaran
pemerintah konstan 2000 satuan pengukuran yang
digunakan adalah rupiah (Rp). Investasi (X2)

2) Uji Multikolinearitas
Berdasarkan hasil estimasi seperti disajikan
Tabel 9, dapat dinyatakan bahwa tidak terjadi
korelasi yang tinggi antara variabel, sehingga
memenuhi kriteria pengujian dengan VIF 5.
Dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi
multikolinearitas.
3) Uji Heteroskedastisitas
Dari hasil uji heteroskedastisitas dengan
menggunakan uji white test. Nilai probabilitas
chi-square sebesar 0,0585 yang lebih besar dari
nilai (alpha) sebesar 0,050 maka dapat
8

disimpulkan bahwa model ini tidak terdapat


masalah heteroskedastisitas.

Apabila tenaga kerja meningkat sebesar 1


persen maka akan meningkatkan pertumbuhan
ekonomi sebesar 1,12 persen dengan asumsi
cateris paribus.

4) Uji Normalitas Residual


Dari estimasi data diperoleh hasil uji
normalitas sebaran data variabel. Berdasarkan
hasil estimasi dapat dinyatakan bahwa data
dalam penelitian ini tersebar secara normal.
Sebab, nilai J-B Normality test statistik < nilai X2
(chy square tabel).

c.KoefisienDeterminasi(R2)

Berdasarkan hasil estimasi seperti


disajikan tabel 7 diperoleh nilai R2 sebesar
0,9745. Artinya 97,45 persen pertumbuhan
ekonomi
dipengaruhi
oleh
pegeluaran
pemerintah, investasi, dan tenaga kerja. Sisanya
sebesar 2,5 persen disumbangkan oleh faktorfaktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan
ekonomi dan tidak diteliti dalam penelitian ini

b. Analisis Regresi Linear Berganda


Dari hasil pengolahan data sekunder dengan
menggunakan program Eviews yang dapat dilihat
pada tabel
7, diperoleh persamaan linear
berganda sebagai berikut :
Log Y

d.PengujianHipotesis
1)Ujit
Uji statistik t dilakukan untuk melihat
besarnya pengaruh dari tiap-tiap variabel bebas
terhadap variabel terikat. Dari hasil regresi linear
berganda di dapat hasil sebagai berikut :

= 0,11 + 0,72 log X1 - 0,14 log X2 + 1,12 log X3

R-square

= 0,9745

a. Hipotesis I
Hipotesis pertama dalam penelitian ini
adalah terdapat pengaruh
signifikan
positif (+) pengeluaran pemerintah
terhadap pertumbuhan ekonomi Sumatera
Barat. dapat dilihat nilai thitung sebesar
7,0940 dari pengeluaran pemerintah dan
pertumbuhan ekonomi dan t table = 2,1314,
sehingga t hitung t tabel (7,094 2,1314)
maka akibatnya Ho ditolak dan Ha
diterima. Sehingga hipotesis alternatif
yang diajukan dalam penelitian ini
diterima, bahwa terdapat pengaruh
signifikan positif (+) pengeluaran
pemerintah (X1) terhadap pertumbuhan
ekonomi Sumatera Barat (Y) dengan
asumsi cateris paribus.

Berdasarkan hasil estimasi dapat terlihat


bahwa pengaruh pengeluaran pemerintah (X1)
terhadap pertumbuhan ekonomi (Y) pada tahun
1994-2011 adalah positif dengan koefisien
regresinya adalah 0,72 persen. Hal ini berarti
bahwa
apabila
pengeluaran
pemerintah
meningkat sebesar 1 persen, maka akan
meningkatkan pertumbuhan ekonomi Sumatera
Barat (Y) sebesar 0,72 persen dengan asumsi
cateris paribus.
Bentuk pengaruh investasi (X2) terhadap
pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat (Y) pada
tahun 1994-2011 adalah negatif sebesar -0,14
persen. Jika investasi meningkat sebesar 1
persen maka akan mengurangi pertumbuhan
ekonomi sebesar -0,14 persen. Hal ini berarti
semakin banyak investasi di Sumatera Barat
maka pertumbuhan ekonomi di Sumatera Barat
juga akan menurun dengan asumsi cateris
paribus.
Bentuk pengaruh tenaga kerja (X3)
terhadap pertumbuhan ekonomi (Y) pada tahun
1994-2011 adalah positif sebesar 1,12 persen.

b. Hipotesis II
Hipotesis kedua dalam penelitian
ini adalah terdapat pengaruh signifikan
positif
(+)
investasi
terhadap
pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat.
9

Berdasarkan olahan data pada tabel 12


dapat dilihat nilai t hitung sebesar -1,2468
dan t tabel -2,1314 sehingga t hitung > t tabel
(-1,2468 > -2,1314) maka akibatnya Ho
diterima dan Ha ditolak. Sehingga
hipotesis alternatif yang diajukan dalam
penelitian ini ditolak, bahwa tidak
terdapat pengaruh signifikan investasi
(X2) terhadap pertumbuhan ekonomi
Sumatera Barat (Y) dengan asumsi
cateris paribus.

hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini


diterima, bahwa terdapat pengaruh signifikan
antara pengeluaran pemerintah, investasi dan
tenaga kerja terhadap pertumbuhan ekonomi di
Sumatera Barat

c. Hipotesis III
Hipotesis ketiga dalam penelitian
ini adalah terdapat pengaruh signifikan
positif (+) jumlah tenaga kerja terhadap
pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat.
dapat dilihat nilai thitung sebesar 6,2607
dan ttabel sebesar 2,1314 sehingga t hitung
t tabel (6,2607 1,761) maka akibatnya Ho
ditolak dan Ha diterima. Sehingga
hipotesis alternatif yang diajukan dalam
penelitian ini diterima, bahwa terdapat
pengaruh signifikan positif (+) jumlah
tenaga kerja (X3) terhadap pertumbuhan
ekonomi Sumatera Barat (Y) dengan
asumsi cateris paribus.

Berdasarkan uji hipotesis yang telah


dilakukan dalam penelitian ini bahwa terdapat
pengaruh yang signifikan antara pengeluaran
pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi.
Pengaruh pengeluaran pemerintah (X1) terhadap
pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat (Y)
selama periode 1994-2011 adalah positif dengan
koefisien regresi sebesar 0,716. Apabila
pengeluaran pemerintah meningkat sebesar 1
persen maka akan meningkatkan pertumbuhan
ekonomi sebesar 0,716 persen. Hal ini berarti
semakin tinggi pengeluaran pemerintah maka
akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi
Sumatera Barat.
Terdapatnya pengaruh yang signifikan di
sini mengindikasikan bahwa pertumbuhan
ekonomi Sumatera Barat ditentukan oleh
pengeluaran
pemerintah.
Pengeluaran
pemerintah mempunyai peranan dan fungsi
cukup besar dalam menunjang kegiatan
pemerintah dan masyarakat yang dapat langsung
dinikmati, serta peningkatan jangkauan dan misi
pelayanan yang secara langsung berkaitan
dengan pembentukan modal untuk peningkatan
produksi.
Hasil penelitian ini sesuai dengan teori
dalam Rostow (dalam Capra, 2000:33)
menyatakan bahwa pemerintah harus mendorong
pengeluaran pemerintah sekeras mungkin
dengan cara mengambil peran yang menentukan
dalam ekonomi, sehingga akan dapat mencapai
pertumbuhan yang dapat menghasilkan atau

B.Pembahasan
1. Pengaruh Pengeluaran Pemerintah (X1)

terhadap Pertumbuhan Ekonomi Propinsi


Sumatera Barat

2. Uji F

Hipotesis tahap kedua penelitian ini adalah


terdapat pengaruh yang signifikan antara
pengeluaran pemerintah, investasi dan tenaga
kerja terhadap pertumbuhan ekonomi di
Sumatera Barat. Pengkajian hipotesis secara
bersama-sama dilakukan dengan menggunakan
uji F. Jika Fhitung Ftabel, maka Ho ditolak dan
Ha diterima, artinya bahwa secara bersama-sama
variabel bebas berpengaruh terhadap variabel
terikat.
Berdasarkan analisis data pada tabel 12
di atas dapat dilihat nilai Fhitung dalam penelitian
ini sebesar 178,457 atau signifikan yang
diperoleh adalah 0,000 pada = 0,05, berarti
nilai Fhitung = 178,457 Ftabel = 3,34. Dengan
demikian Ho ditolak dan Ha diterima sehingga
10

pertumbuhan yang berkesinambungan akan


lompatan kedepan.
Terjadinya
peningkatan
pengeluaran
pemerintah akan meningkatkan pertumbuhan
ekonomi misalnya untuk penyediaan atau
perbaikan infrastruktur maka proses produksi
barang dan jasa akan semakin lancar. Hal ini
akan menyebabkan terjadinya peningkatan
produksi barang dan jasa yang akan mengimbas
pada peningkatan perkembangan ekonomi. Hal
ini mengindikasikan peningkatan penyediaan
atau perbaikan infrastruktur yang berakibat pada
peningkatan proses produksi barang dan jasa
menyebabkan
peningkatan
terhadap
pertumbuhan ekonomi.
Peran dan kebijakan pemerintah sangat
penting terhadap pertumbuhan ekonomi,
pemerintah harus meningkatkan sarana dan
prasarana baik dalam pendidikan, kesehatan,
penyediaan infrastruktur jalan dan lain-lain,
selain itu peran pemerintah dalam meningkatkan
gaji dan kesejahteraan pegawai diharapkan dapat
meningkatkan
kinerja
pegawai
dalam
memberikan layanan publik sehingga nantiknya
pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat semakin
meningkat.
Sebagai
bahan
perbandingan
hasil
penelitian sejenis yang dilakukan oleh Sodiq
(2007) yang meneliti Pengeluaran Pemerintah
Dan Pertumbuhan Ekonomi Regional dalam
penelitian ini dapat disimpulkan bahwa
pengeluaran pemerintah berpengaruh signifikan
terhadap pertumbuhan ekonomi.

investasi menjadi peranan kunci dalam proses


peningkatan pertumbuhan ekonomi. Demikian
juga yang diungkapkan oleh Rostow (dalam
Kuncoro 2006:53), yang pada tahap tinggal
landas kenaikan laju investasi pada akhirnya
akan menyebabkan pertumbuhan ekonomi yang
tinggi pada sektor-sektor dalam perekonomian.
Dapat kita ketahui pertumbuhan ekonomi
propinsi Sumatera Barat faktor utamanya bukan
disebabkan oleh faktor investasi. Hal ini
disebabkan karena sektor utama pertumbuhan
ekonomi Sumatera Barat adalah sektor pertanian,
dimana sektor pertanian di Sumatera Barat masih
dipegang oleh penduduk asli dan adanya
dukungan pemerintah terhadap sektor pertanian.
Sejak zaman orde baru sampai sekarang
pemerintah Sumatera Barat masih mengandalkan
sektor pertanian sebagai sektor utama dalam
pendapatan, diikuti sektor perdagangan, hotel
dan restoran.
Kebijakan yang dilakukan pemerintahpun
masih mementingkan sektor pertanian sebagai
sektor utama, sehingga sektor industri masih
belum begitu berkembang. Dimana membuat
para investor lesu menanamkan modalnya di
Sumatera Barat, selain itu tidak signifikannya
pengaruh investasi terhadap pertumbuhan
ekonomi disebabkan oleh kondisi geografis
Sumatera Barat yang kurang menguntungkan,
dimana kondisi alam yang rawan bencana seperti
gempa bumi yang menyebabkan semakin
kurangnya aliran modal ke Sumatera Barat.
Pemerintah
harus
membuat
suatu
kebijakan yang mendukung sektor industri,
pertambangan dan penggalian karena Sumatera
Barat memiliki potensi terhadap sektor industri,
pertambangan, penggalian, dan diharapkan juga
kepada pemerintah untuk mempermudah
berbagai peraturan daerah, perizininan dan
birokrasi, serta memberikan dukungan kepada
investor untuk berinvestasi dan membuat para
investor tertarik untuk menanamkan modalnya,
sehingga dapat menciptakan peluang yang besar

2. Pengaruh
Investasi
(X2)
Terhadap
Pertumbuhan Ekonomi Sumatera Barat (Y)
Berdasarkan uji hipotesis yang telah
dilakukan dalam penelitian ini, ditemukan bahwa
investasi tidak memiliki pengaruh signifikan
terhadap pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat.
Hasil ini bertentangan dengan teori yang
dikemukakan oleh Harrold-Domard dalam
Sukirno (2000: 229) yang menyatakan bahwa
11

bagi tenaga kerja, termasuk industri yang


membuka kesempatan kerja lebih luas. Sehingga
investasi akan meningkat dan diharapkan
pertumbuhan ekonomi akan meningkat pula.
Sebagai bahan perbandingan hasil
penelitian sejenis yang dilakukan oleh Sodiq
(2007) yang meneliti Pengeluaran Pemerintah
Dan Pertumbuhan Ekonomi Regional, dalam
penelitian ini dapat disimpulkan bahwa investasi
swasta tidak berpengaruh signifikan terhadap
pertumbuhan ekonomi regional. Hal ini
dikarenakan pelaksanaan otonomi daerah telah
memperburuk iklim investasi di Indonesia.
Masih rendahnya pelayanan publik, kurangnya
kepastian hukum dan berbagai peraturan daerah
yang tidak diindentifikasi sebagai bukti iklim
bisnis yang kondusif. Jadi hasil penelitian
penulis ini sama dengan hasil penelitian sejenis
Sodiq di atas.
Pengaruh Tenaga Kerja terhadap
Pertumbuhan Ekonomi Sumatera Barat
3.

Berdasarkan uji hipotesis ditemukan bahwa


terdapat pengaruh signifikan antara tenaga kerja
dengan pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat.
Pengaruh tenaga kerja (X3) terhadap pertumbuhan
ekonomi Sumatera Barat (Y) selama periode 19942011 adalah positif dengan koefisien regresi sebesar
1,12. Apabila tenaga kerja meningkat sebesar 1
persen maka akan meningkatkan pertumbuhan
ekonomi sebesar 1,12 persen. Hal ini berarti semakin
tinggi tenaga kerja maka akan meningkatkan
pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat.
Dengan
banyaknya tenaga kerja yang
digunakan, tingkat pengangguran akan berkurang,
kapasitas produksi yang dihasilkan meningkat dan
berarti terjadi peningkatan pada pertumbuhan
ekonomi. Tenaga kerja dipandang sebagai suatu
faktor produksi yang mampu untuk meningkatkan
daya guna faktor produksi lainnya seperti (mengolah
tanah, memanfaatkan modal, dsb) sehingga
perusahaan memandang tenaga kerja sebagai suatu
12

investasi dan banyak perusahaan yang memberikan


pendidikan kepada karyawannya sebagai wujud
kapitalis tenaga kerja. Dapat di ketahui di Sumatera
Barat ini pada umumnya pekerjaan masyarakat
terutama di pedesaan banyak yang bertani
dikarenakan mereka tidak mempunyai biaya untuk
melanjutkan sekolah. Akan tetapi sisi positifnya hal
ini bisa memicu pertumbuhan ekonomi karena
tenaga kerja tesebut bisa menambah hasil produksi,
dan dapat mengurangi pengangguran.
Menurut
Todaro
(2000:115)
yang
menyebutkan bahwa pertumbuhan penduduk dan
pertumbuhan tenaga kerja secara tradisional
dianggap sebagai salah satu faktor positif yang
memacu pertumbuhan ekonomi. Jumlah tenaga kerja
yang lebih besar berarti akan menambah tingkat
produksi, sedangkan pertumbuhan penduduk yang
lebih besar berarti ukuran pasar domestiknya lebih
besar.
Kebijakan yang dilakukan pemerintah
dalam pemberdayaan petani dan dengan adanya
PNPM (Program Nasional Pemberdayaan
Masyarakat) mandiri, yang secara langsung
melibatkan masyarakat, mulai dari tahap
perencanaan, pelaksanaan hingga pemantauan
dan evaluasi sehingga hasil produksi para petani
menjadi meningkat. Tujuan dari PNPM ini
adalah meningkatkan efektivitas penanggulangan
kemiskinan dan penciptaan tenaga kerja.
Pemerintah
juga
harus
meningkatkan
pendidikan dan kesehatan dimana nantiknya
akan menciptakan tenaga kerja yang profesional
dan memiliki kesehatan yang baik. Sehingga
hasil produksi akan meningkat. Diharapkan pula
pemerintah dapat memperluas lapangan kerja,
terutama bagi angkatan kerja penduduk miskin
korban PHK dan lain-lain, sehingga dapat
menurunkan
tingkat
pengangguran,
meningkatkan kualitas produktifitas tenaga kerja,
pengawasan dan perlindungan bagi tenaga kerja,
serta keharmonisan dalam hubungan industrial.
Sehingga hal ini bisa membuat pertumbuhan
ekonomi menjadi lebih baik.

Sebagai bahan perbandingan menurut


Muhammad Rizzal (2013) yang berjudul
Pengaruh investasi pemerintah tenaga kerja, dan
desentralisasi fiskal terhdap pertumbuhan
ekonomi kabupaten di Indonesia. Terdapat
pengaruh yang signifikan positif antara tenaga
kerja terhadap pertumbuhan ekonomi, sesuai
dengan teori sollow yang menyatakan bahwa
tenaga kerja merupakan salah satu faktor utama
untuk pertumbuhan ekonomi

bersamaan
akan
dapat
meningkatkan
pertumbuhan ekonomi.
Pengeluaran pemerintah untuk investasi
merupakan bagian yang terbesar dari total
investasi yang ada. Pemerintah juga dituntut
untuk mengoptimalkan potensi pendapatan yang
dimiliki dan salah satunya memberikan proporsi
pengeluaran pemerintah yang lebih besar pada
sektor-sektor yang produktif di daerah agar
gilirannya dapat meningkatkan pertumbuhan
ekonomi. Jika sarana prasarana yang dimiliki
daerah memadai maka masyarakat dapat
melakukan aktivitas sehari-hari secara aman dan
nyaman yang akan berpengaruh pada tingktat
produktifitasnya yang semakin meningkat, dan
dengan adanya infrastruktur yang memadai akan
menarik investor untuk membuka usaha di
daerah
tersebut.
Dengan
bertambahnya
pengeluaran pemerintah maka akan berdampak
pada periode yang akan datang yaitu produtifitas
masyarakat meningkat dan bertambahnya
investor akan meningkatkan pertumbuhan
ekonomi.
Dengan meningkatnya investasi
akan
dapat meningkatkan penyerapan tenaga kerja
yang merupakan salah satu faktor utama dalam
proses produksi dan juga akan mengurangi
tingkat pengangguran. Penggunaan tenaga kerja
yang diimbangi dengan ketersediaan investasi
sebagai modal dan pengeluaran pemerintah yang
mendukung untuk memperlancar jalannya
investasi dan tenaga kerja tersebut akan
meningkatkan kapasitas dalam produksi,
sehingga
pendapatan di dalam negeri
meningkat, maka terciptalah
pertumbuhan
ekonomi.

4.Pengaruh Pengeluaran Pemerintah (X1),


Investasi (X2) Dan Tenaga Kerja (X3)
Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Sumatera
Barat (Y).
Berdasarkan hasil uji hipotesis dengan
menggunakan uji F ditemukan bahwa terdapat
pengaruh signifikan antara pengeluaran
pemerintah, investasi, dan tenaga kerja secara
bersama-sama terhadap pertumbuhan ekonomi
Sumatera Barat dengan sig 0,000 < = 0,05.
Pengaruh secara bersama-sama ini menunjukkan
bahwa sumbangan seluruh variabel bebas dalam
penelitian ini terhadap pertumbuhan ekonomi
Sumatera Barat sebesar 0,975 artinya bahwa
97,5 persen dan sisanya 2,5 persen dipengaruhi
oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam
penelitian ini.
Hasil penelitian ini sesuai dengan teori
Sollow dalam Todaro (2003:164) pertumbuhan
ekonomi tergantung pada perkembangan faktorfaktor produksi. Dimana output dipengaruhi oleh
modal dan tenaga kerja. Modal di dapatkan dari
pengeluaran pemerintah dan investasi.
Kebijakan
pemerintah
sangat
berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi.
Salah satu kebijakan pemerintah adalah
mengatur
pengeluaran
pemerintah
dan
mendorong penanaman modal. Pengaruh
pengeluaran pemerintah dan tenaga kerja
bersama-sama dapat berpengaruh terhadap
pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat. Apabila
ada peningkatan dari pengeluaran pemerintah
dan tenaga kerja yang diserap maka secara

V. SIMPULAN DAN SARAN


1. Simpulan
Dari hasil uji hipotesis dan pembahasan, maka
kesimpulan penelitian ini adalah sebagai berikut

1.
pertumbuhan
13

Secara
parsial,
ekonomi
dipengaruhi

signifikan
positif
oleh
pengeluaran
pemerintah propinsi Sumatera Barat (prob =
0,0000 < = 0,05), dengan tingkat pengaruh
sebesar 0,7156. Artinya apabila pengeluaran
pemerintah mengalami peningkatan sebesar
1 persen, maka akan meningkatkan
pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat
sebesar 0,7156 dengan asumsi cateris
paribus.
2.
Secara
parsial,
pertumbuhan ekonomi tidak mempunyai
pengaruh signifikan terhadap di propinsi
investasi Sumatera Barat (prob = 0,2329 >
0,05). Artinya ketika investasi meningkat
sebesar 1 persen maka akan mengurangi
pertumbuhan ekonomi sebesar -0,14 persen
dengan cateris paribus.
3. Secara parsial, pertumbuhan ekonomi
dipengaruhi signifikan positif oleh tenaga
kerja di propinsi Sumatera Barat (prob =
0,0000 < = 0,05) dengan tingkat
pengaruhnya 1,12 persen. Artinya ketika
tenaga kerja meningkat sebesar 1 persen,
maka pertumbuhan ekonomi meningkat
sebesar 1,12 persen dengan asumsi cateris
paribus.

Dengan adanya pengaruh pengeluaran


pemerintah yang signifikan terhadap
pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat,
sebaiknya
pengeluaran
pemerintah
Propinsi Sumatera Barat harus terus
meningkatkan
jumlah
pengeluaran
pemerintah
karena
pengeluaran
pemerintah
terbukti
mampu
meningkatkan Pertumbuhan ekonomi di
propinsi Sumatera Barat. Pemerintah
terlebih dahulu harus tahu didalam hal
apa saja dana yang dikeluarkan oleh
pemerintah tersebut digunakan, agar dana
tersebut bermanfaat masyarakat dan
dapat
meningkatkan
pertumbuhan
ekonomi di Propinsi Sumatera Barat
secara keseluruhan.
2. Dengan tidak adanya pengaruh signifikan
antara investasi terhadap pertumbuhan
ekonomi maka diharapkan pemerintah
melakukan kebijakan yang mendorong
investasi tersebut. Dan yang tidak kalah
pentingnya iklim yang kondusif untuk
berinvestasi.
Sehingga
nantinya
diharapkan investasi pada sektor industri,
pertambangan dan sektor lainnya
berkembang
di
Sumatera
Barat.
Berkembang
nya
investasi
dapat
meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
3. Dengan adanya pengaruh signifikan
positif antara tenaga kerja dengan
pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat
maka diharapkan pemerintah Sumatera
Barat perlu mengembangkan kebijakan
yang dapat meningkatkan kualitas tenaga
kerja agar produktifitas menjadi lebih
tinggi dan akhirnya akan dapat
berpengaruh
terhadap
pertumbuhan
ekonomi. Dan diharapkan juga dapat
meningkatkan
jumlah
anggaran
pendidikan untuk meningkatkan kualitas
dari tenaga kerja yang terdapat di
Provinsi Sumatera Barat.
1.

4. Secara
bersama-sama
pengeluaran
pemerintah, investasi dan tenaga kerja
berpengaruh secara signifikan terhadap
pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat (prob
= 0.0000 < = 0,05). Besaran sumbangan
ketiga variabel bebas dalam penelitian ini
terhadap pertumbuhan ekonomi Sumatera
Barat adalah sebesar 97,45 persen, berarti
2,45 persen pertumbuhan ekonomi Sumatera
Barat ditentukan oleh variabel lain yang
tidak diteliti dalam penelitian ini.
B. Saran
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan
sebelumnya dan hasil hipotesis penelitian ini serta
kesimpulan yang diperoleh dari hasil analisis, maka
dapat dikemukakan saran-saran sebagai berikut :

DAFTAR BACAAN
14

Badan Pusat Statistik. Sumatera Barat dalam


Angka 1981-2010 BPS Sumatera Barat:
Sumatera Barat

Mohammad. Rizal Mubaroq 2013 Pengaruh


Investasi, Tenaga Kerja, dan Desentralisasi
Fiskal Terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Kabupaten di Indonesia tahun 2007:2010:
Departemen Ilmu Ekonomi Universitas
Padjadjaran

Dornbusch, Rudiger et all. 2008. Makroekonomi.


PT. Media Global Edukasi: Jakarta

Nasir, Moh. 2003. Metode Penelitian . Ghalia


Indonesia: Jakarta

Daniel Sitanggang. 2007, Analisis Peranan


Modal Asing Terhadap Pertmbuhan
Ekonomi Indonesia. STIE Teladan: Medan

Nachrowi, Djalal. 2006. Ekonometri. PT. Raja


Grafindo: Jakarta

Fakih, Masour. 2003. Runtuhnya Teori


pembangunan dan Globalisasi. Pustaka
Pelajar: Yogyakarta

Sukirno, Sadono. 2004. Pengantar Teori


Ekonomi Makro. LPFE UI : Jakarta

Gujarati, Damodar. 2003. Ekonometrika Dasar.


Terjemahan oleh Zumarno Zain Erlangga:
Jakarta

_____________. 2005. Pengantar Teori Makro


Ekonomi. Raja Grafindo Persada: Jakarta
--------------------. 2002. Ekonomi Pembangunan
Proses,
Masalah
dan
Dasar
Kebijaksanaan. LPFE UI: Jakarta.

Jamli . 2009 Pengaruh Investasi dan Tenaga


Kerja Terhadap Produksi Batubara dan
Pertumbuhan
Ekonomi
di
Kutai
Kartanegara: Politeknik Negeri Samarinda

--------------------.2000,
Teori
Pengantar
Makroekonomi. Penerbit PT.Raja Grafinda
Persada: Jakarta

Jhingan M.L. 2004, Ekonomi Pembangunan


Dan Perencanaan, PT Raja Grafindo Persada:
Jakarta

Sukirno, S. 2004. Makro Ekonomi Modern. Edisi


2. Raja Grafindo: Jakarta

Jamzani Sodik & Didi Nuryadin. 2005, Investasi


dan Pertumbuhan Ekonomi
Regional (studi kasus pada 26 Propinsi di
Indonesia pra dan pasca
otonomi):
Fakultas
Ekonomi
UPN
Veteran
Yogyakarta

Supranto, J. 2001. Ekonometrik. FE UI: Jakarta


Tambunan,
Tulus.
2003.
Perekonomian
Indonesia, Beberapa Masalah Penting:
Ghalia Indonesia: Jakarta

Kuncoro, Mudrajad. 2004. Otonomi dan


Pembangunan Daerah, Penerbit
Erlangga: Yogyakarta

Todaro,Michael dan Stephen Smith. 2004.


Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga.
Edisi kedelapan. Erlangga. Jakarta.

Mankiw, N. Gregory. 2000. Pengantar Ekonomi


Jilid 2. Erlangga: Jakarta

Todaro. Michael. P. 2003. Pembangunan


Ekonomi. Bumi Aksara: Jakarta

________________. 2001. Pengantar Ekonomi.


Edisi Kelima Jilid 2. Erlangga: Jakarta

-----------------------.1991. Pembangunan
Ekonomi Di Dunia KeTiga.Terjemahan
Jilid1Oleh Burhanuddin Abdullah.
Erlangga : Jakarta

________________. 2003. Teori Makro


Ekonomi. Edisi Keempat. Erlangga:
Jakarta.

Yosi Shandra, 2012, Konsumsi dan Investasi


Serta Pertumbuhan Ekonomi Sumatera
15

Barat. Universitas Lambung Mangkurat:


Banjarmasin

16