You are on page 1of 14

Skripsi, Desember 2011 ( xvi + 61 halaman + 15 lampiran)

EFEKTIFITAS DIET IKAN GABUS TERHADAP PENINGKATAN ALBUMIN ANAK PADA PERAWATAN PASCA PULANG PENDERITA NEFROTIK SINDROM DI RSUD DR. R. SOEDJATI PURWODADI

Eni Nurwati 1

ABSTRAK

Latar Belakang. Beberapa orang memanfaatkan ikan gabus sebagai salah satu alternatif bahan makanan sumber albumin bagi penderita hipoalbuminemia Indonesia dilaporkan terdapat 6 kasus Sindrome Nefrotik per 100.000 anak per tahun. Penelitian awal yang pernah dilakukan peneliti pada 1 pasien, terjadi penurunan signifikan terhadap penurunan kadar albumin pada penderita NS. Tujuan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui efektifitas diet ikan gabus terhadap peningkatan albumin anak pada perawatan pasca pulang penderita nefrotik sindrom di RSUD Dr. R. Soedjati Purwodadi Methode. Jenis penelitian adalah Jenis penelitian ini adalah penelitian quasi eksperimen yaitu eksperimen yang memiliki perlakuan (treatments). Jumlah populasi adalah penderita berusia 7 tahun sampai 14 tahun yang pulang dari bangsal anak di RSUD Dr R. Soedjati Purwodadi dengan hipoalbuminemia karena sindrom nefrotik. Jumlah sampel 10 orang diambil secara purposive sampel dan populasi yang sedemikian rupa sehingga sampel yang dipilih mempunyai sifat yang sesuai dengan sifat populasi adalah Hasil. Dari penelitian diperoleh hasil efektifitas diet ikan gabus terhadap peningkatan albumin anak pada perawatan pasca pulang cukup bermakna pada kelompok perlakuan dengan nilai paired t test p=0,004 <

0,05

Kesimpulan. Diet ikan gabus terhadap peningkatan albumin anak pada perawatan pasca pulang cukup efektif.

Kata Kunci : Efektifitas, Ikan Gabus, Nefrotik Sindrome Kepustakaan : 13 buah (1996 – 2007)

PENDAHULUAN

Sindroma Nefrotik ( SN ) adalah salah satu penyakit ginjal yang sering dijumpai pada anak, merupakan suatu kumpulan gejala-gejala klinis yang terdiri dari proteinuria masif, hipoalbuminemia, hiperkholesterolemia serta sembab (UKK Nefrologi IDAI, 2005). Selain gejala-gejala klinis di atas, kadang-kadang dijumpai pula hipertensi, hematuri, bahkan kadang-kadang azotemia (Chesney, 2009). Angka kejadian SN pada anak tidak diketahui pasti, namun laporan dari luar negeri diperkirakan pada anak usia dibawah 14 tahun berkisar antara 2 sampai 7 kasus per tahun pada setiap 100.000 anak (Pardede, 2002). Angka kejadian SN di Amerika diperkirakan 2 – 7 kasus baru per 100.000 anak berusia dibawah 14 tahun per tahun (Roth dkk, 2002). Menurut Raja Syeh angka kejadian kasus sindroma nefrotik di Asia tercatat 2 kasus setiap 10.000 penduduk (Republika, 2005). Indonesia dilaporkan terdapat 6 kasus SN per 100.000 anak per tahun (Wirya, 2006). Gambaran histopatologik sindrom nefrotik primer agak berbeda dengan data-data di luar negeri. Wila Wirya menemukan hanya 44,2% tipe kelainan minimal dari 364 anak dengan sindrom nefrotik primer yang dibiopsi, sedangkan Noer di Surabaya mendapatkan 39,7% tipe kelainan minimal dari 401 anak dengan sindrom nefrotik primer yang dibiopsi.

Untuk kejadian di Jawa Tengah sendiri mencapai 4 kasus di tahun 2006. (Israr, 2008). Menurut catatan RSUP Dr. Kariadi Semarang yang merupakan rumah sakit pusat dan merupakan rumah sakit rujukan di kota Semarang dan Jawa Tengah selama tahun 2009 sampai dengan 2010 terdapat 21 anak yang menderita sindroma nefrotik yang dirawat di ruang anak rumah sakit tersebut dan pulang dengan perbaikan. Kabupaten Grobogan didapatkan data pada tahun 2006 – 2009 berturut-turut 6, 9, 11, 14 kasus baru per tahun (Data Dinkes Grobogan). Dan rata rata mendapatkan perawat di Rumah Sakit Dr R. Soedjati Purwodadi. Jumlah pasien dengan diagnosa nefrotik sindrome di RSUD Dr. R. Soedjati Purwodadi di tahun 2010 oleh catatan medis rata- rata perbulan ada 3 pasien, namun ada yang dalam satu bulan terdapat 7 pasien dengan nefrotik sindrome yang rata - rata berada di rawat di bangsal Anak. Peneliti melakukan survey pendahuluan, bahwa petugas hanya sekedar menghimbau dan menyarankan untuk melakukan diit ikan gabus untuk pasien NS dan mempersilahkan mau dilaksanakan silahkan dan tidak dilaksakan juga tidak apa, karena para petugas merasa belum yakin dengan efektifitas diit ini, dikarenakan belum adanya penelitian tentang hal ini di RSUD Dr R. Soedjati Purwodadi.

Penelitian awal yang pernah dilakukan peneliti pada 1 pasien, terjadi penurunan signifikan terhadap penurunan kadar albumin pada penderita NS. Berdasarkan hal tersebut maka peneliti ingin mengkaji lebih lanjut mengenai “efektifitas diet ikan gabus terhadap peningkatan albumin anak, pada perawatan pasca pulang penderita nefrotik sindrom di RSUD Dr. R. Soedjati Purwodadi.” Tujuan umum penelitian, mengetahui efektifitas diet ikan gabus terhadap peningkatan albumin anak pada perawatan pasca pulang penderita nefrotik sindrom di RSUD Dr. R. Soedjati Purwodadi, tujuan khususpenelitian antara lain: Mendiskripsikan kadar albumin anak pada perawatan pasca pulang penderita nefrotik sindrome sebelum diberlakukan diit ikan gabus di RSUD Dr. R. Soedjati Purwodadi, mendiskripsikan kadar albumin anak pada perawatan pasca pulang penderita nefrotik sindrom sesudah diberlakukan diit ikan gabus RSUD Dr. R. Soedjati Purwodadi, mengetahui perbedaan efektifitas diet ikan gabus terhadap peningkatan albumin anak pada perawatan pasca pulang yang diperlakukan diit ikan gabus maupun yang tidak diperlakukan diit ikan gabus pada penderita nefrotik sindrom di RSUD Dr. R. Soedjati Purwodadi

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah penelitian quasi eksperimen. Desain penelitian ini dengan desain comparatif yaitu dengan desain pretest-posttest. Populasi dari penelitian ini adalah pasien yang anak yang menderita nefrotik sindrome yang pulang dari ruang perawatan anak di ruang Anggrek, Bougenvile, Cempaka dan Teratai di RSUD Dr. R. Soedjati Purwodadi. Pada 3 bulan

terakhir jumlah pasien anak menderita nefrotik sindrome yang pulang dari RSUD Dr R. Soedjati Purwodadi pada bulan juli 6 orang, bulan agustus

  • 7 orang dan bulan september ada 5 orang. Teknik sampel menggunakan purposive sampel. Dalam penelitian ini sampelnya adalah penderita berusia

  • 7 tahun sampai 14 tahun yang pulang dari bangsal

anak di RSUD Dr R. Soedjati Purwodadi dengan

hipoalbuminemia karena sindrom nefrotik. Sampel untuk kelompok kontrol sebanyak 5 orang, kelompok perlakuan sebanyak 5 orang. Proses pengamatan pada ke - dua sampel dilakukan selama 1 bulan dirumah. Penelitian ini dilakukan di rumah pasien nefrotik syndrome yang telah pulang dari RSUD Dr R Soedjati Purwodadi. Pengumpulan data dengan pemeriksaan fisik berupa KU (keadaan umum) dan TTV ( tanda tanda vital). Analisis data menggunakan paired t test.

HASIL DAN PEMBAHASAN

  • A. Karakteristik Responden

Hasil penelitian mengenai karakteristik responden secara umum meliputi

variabel usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, lama kerja, jumlah anak. Selengkapnya mengenai hasil penelitian ini disajikan pada tabel dibawah ini.

Pada

tabel

5.3 diperlihatkan

hasil

penelitian mengenai usia ibu paling

banyak juga 22-27 tahun sebanyak 5 responden (50 %).

  • 2. Distribusi responden berdasarkan jenis kelamin Tabel 5.4.

Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin

  • 1. Distribusi responden berdasarkan usia

Jenis kelamin

Jumlah

Persentase

Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Responden

Laki laki

  • 6 %

60

Wanita

  • 4 %

40

Umur

7 tahun –

≤ 10 tahun

F

Persentase (%)

  • 6 T o t a l

60

%

 

10

100 %

11 tahun –

≤ 14 tahun

  • 4 %

40

Jumlah

10

100 %

Pada tabel 5.4. diperlihatkan hasil

Umur Anak

penelitian mengenai

jenis

kelamin

 

Dari

tabel

5.1

diketahui

umur

responden diketahui bahwa 60 %

responden anak antara 7 tahun – ≤ 10

responden laki

laki,

sementara

30

%

tahun sebanyak 6 responden (60 %)

Tabel 5.2

Karakteristik berdasarkan usia Ayah

responden

adalah wanita.

Tabel

5.6

Distribusi Frekuensi

Responden dengan karakteristik jumlah anak.

Usia

 

Jumlah

Persentase

16-21 thn

1

10

%

22-27 thn

5

50

%

Jumlah anak

Frekuensi

Persentase

(%)

28-33 thn

3

30

%

34-39 thn

1

10

%

1

4

40

%

T o t a l

10

100 %

2

4

40

%

   

3

2

20

%

Pada tabel 5.2 diperlihatkan hasil

penelitian mengenai usia ayah paling banyak 22-27 tahun sebanyak 5 responden

Jumlah

 

10

100 %

(50 %).

Dari

tabel

5.6

diketahui

bahwa

jumlah

anak

dari

orang

tua

responden

Tabel 5.3. Karakteristik berdasarkan usia ibu

responden

yang menderita SN satu anak dan dua

Usia

Jumlah

Persentase

anak sebanyak 4 responden (40 %) dan 3

16-21 thn

3

30

%

anak sebanyak 2 responden ( 20 %).

22-27 thn

5

50

%

28-33 thn

2

20

%

T o t a l

10

100 %

  • 3. Distribusi responden berdasarkan Tingkat Pendidikan Orang Tua

  • 4. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pekerjaan Ayah

Tabel 5.7. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat

Tabel 5.9 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pekerjaan Ayah

Pendidikan Ayah

Pekerjaan Ayah

Frekuensi

Prosent

Tingkat

Frekuensi

Persentase (%)

 

ase (%)

Pendidikan Ayah

Petani

4

40

%

SD

1

10

%

Wiraswasta

4

40

%

SMP

4

40

%

PNS

2

20

%

SMA

3

30

%

Jumlah

10

100 %

Perguruan Tinggi

2

20

%

Jumlah

48

100 %

Dari

tabel

5.7

diketahui

bahwa

Dari tabel 5.9 diatas dapat diketahui sebagian besar jenis pekerjaan ayah responden adalah petani dan wirasawata

responden ayah memiliki tingkat pendidikan yang bervariasi dimana

responden terbanyak berpendidikan SMP yaitu 4 responden (40,0%).

 

Tabel

5.8.

Distribusi

Frekuensi

Responden Berdasarkan Tingkat

 
 

Pendidikan Ibu

 

Tingkat Pendidikan

Frekuensi

Persentase

Ibu

 

(%)

SD

 

3

30

%

SMP

4

40

%

SMA

1

10

%

Perguruan Tinggi

2

20

%

Jumlah

10

100 %

 

Dari

tabel

5.8

diketahui

bahwa

responden memiliki

tingkat pendidikan

yang

bervariasi

dimana

responden

terbanyak berpendidikan SMP yaitu

 

4

responden (40,0%).

masing-masing 4 responden ( 40 %). Tabel 5.10 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pekerjaan Ibu

Pekerjaan Ibu

Frekuen

Prosentase

si

(%)

Tidak Bekerja (Ibu

4

40

Rumah Tangga)

1

10

Petani

3

30

Wiraswasta

2

20

PNS Jumlah

10

100,0

Dari

tabel

5.10

diatas

dapat

diketahui sebagian besar jenis pekerjaan Ibu responden adalah Ibu Rumah Tangga (Tidak Bekerja) sebanyak 4 responden

(40,0%)

5.

Cross

Tab

Jenis

Kelamin

Dengan

Peningkatan Albumin Responden

 

Tabel 5.11

Cross

Tab Jenis Kelamin

Dengan Peningkatan Albumin Responden

Jenis Kelamin

Peningkatan_albumin ( g/dl )

 
 

-0.2

0

0.2

0.4

0.8

1.1

1.2

Total

Laki laki

0

1

0

3

0

0

2

6

Perempuan

1

0

 

1

0

1

1

0

4

Total

1

1

1

3

1

1

2

10

Dari

tabel

5.11

diatas

dapat

diketahui anak laki laki yang mengalami

peningkatan albumin 0,4 g/dl sebanyak 3 orang.

6.

Cross

Tab

Umur

 

Responden Dengan

Peningkatan Albumin Responden

 

Tabel 5.12

Cross Tab Umur Responden

 

Dengan

 

Peningkatan

Albumin Responden

 
 

Umur

Peningkatan_albumin ( g/dl )

 

-0.2

0

0.2

0.4

0.8

1.1

1.2

Total

7-10 thn

1

0

1

1

1

1

1

6

11-14 thn

0

1

0

2

0

0

1

4

Total

1

1

1

3

1

1

1

10

Dari

tabel

5.12

diatas

dapat

diketahui responden usia 7-10 tahun rata rata mengalami peningkatan albumin, responden usia 11-14 tahun terdapat 1 responden yang mengalami penurunan albumin 0,2 g/dl.

  • B. Hasil Uji Univariat Perubahan Albumin pada responden

1.

Status pemberian ikan gabus pada kelompok perlakuan

Tabel 5.13. Pemberian ikan gabus pada kelompok perlakuan

Status pemberian

Frekuensi

Persentase (%)

Ikan gabus

 

Di Konsumsi

 
  • 5 %

100

Tidak Dikonsusi

  • 0 0 %

Jumlah

  • 5 %

100

Berdasarkan tabel 5.13 diatas, seluruh resonden pada kelompok intervensi (100%) mengkonsumsi ikan gabus yang di berikan sesuai dengan proporsi (0,25 x BB x kebutuhan protein dalam gr / 0,16) perhari selama 1 bulan.

2.

Jumlah albumin sebelum pulang dari RSUD Dr. R. Soedjati Purwodadi

Tabel 5.14 Rata-rata jumlah albumin

 

sebelum pulang dari RSUD Dr R. Soedjati Purwodadi.

Kelompok

Rata-rata Albumin

Jumlah

sebelum pulang

 

Sampel

Perlakuan

 

2,24

5

 

Kontrol

2,4

5

 

Dari

tabel

5.14

diatas

dapat

 

diketahui jumlah rata rata Albumin responden pada kelompok perlakuan sebelum pulang sejumlah 2,24 dan pada kelompok kontrol 2,4.

3.

Jumlah albumin saat pemeriksaan

I dan II Tabel 5.15 Rata-rata jumlah albumin

pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol.

Kelompok

Rata-rata Albumin Pemeriksaan I

Rata-rata Albumin Pemeriksaan II

Perlakuan

2,58

3.18

Kontrol

2,34

2.56

Dari tabel 5.15 dapat diketahui jumlah rata rata Albumin responden pada pemeriksaan I kelompok perlakuan 2,58 dan pemeriksan ke II 3,18. Jumlah rata rata Albumin responden pada pemeriksaan I kelompok kontrol 2,34 dan pemeriksan ke II 2,56

Kelompok Rata-rata Albumin Pemeriksaan I Rata-rata Albumin Pemeriksaan II Perlakuan 2,58 3.18 Kontrol 2,34 2.56 Dari

Dari Grafik 5.1 terlihat peningkatan lebih tinggi pada kelompok perlakuan dari pada kelompok kontrol.

  • 5. Jumlah perubahan albumin

  • 4. Jumlah perubahan albumin Tabel 5.16 Jumlah peningkatan albumin pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol.

Tabel 5.17

Jumlah peningkatan albumin pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol

Perubahan

Kelompok

Kelompok

Kelompok

Rata rata

Rata rata

Jumlah

perlakuan

Kontrol

perubaan

Perubahan

Sampel

Albumin

Albumin

Tetap

0

1 orang

Pemeriksaan

Pemeriksaan II

Meningkat

 
 

I

5 orang

3 orang

Perlakuan

0.34

  • 0.94 Turun

5

0

1 orang

Kontrol

-0.06

  • 0.16 5

 
 

Dari

tabel

5.17

diatas

dapat

 

Dari

tabel

5.16

diatas

dapat

diketahui pada kelompok perlakuan

diketahui rata rata perubahan Albumin responden pada kelompok perlakuan pada pemeriksaan ke dua pada kelompok perlakuan 0,94 g/dl dan kelompok kontrol yaitu 0,16 g/dl.

terdapat 5 responden yang mengalami peningkatan jumlah albumin dan pada kelompok kontrol terdapat 3 responden yang meningkat dan ada 1 reponden yang tetap juga ada 1 responden yang turun.

Grafik 5.1 Grafik Rata-rata jumlah albumin pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol.

  • C. Hasil Uji Bivariat Perubahan Albumin pada responden

Tabel

5.18

Hasil

perubahan Albumin

uji paired T Test

Paired T test

Kelompok

Kelompok

kontrol

Perlakuan

t

1,372

6,119

df

4

4

Signifikansi ( p )

0,242

0,004

Dari tabel 5.18 dapat diketahui uji paired t test pada kelompok kontrol nilai t yaitu 1,372; df = 4 ; dan nilai signifikansi p = 0,242. Pada pemeriksaan kelompok perlakuan nilai t yaitu 6,119 : df = 4; dan nilai signifikansi p = 0,004. Adanya hubungan bermakna pada uji paired t test di kelompok perlakuan dengan p value /signifikansi = 0,004 (p =0,004 < 0,05). Dengan t hitung 6,119 dan t tabel 2,75, t hit ( 6,119) > t tab (2,75). Cukup bermakna pada kelompok perlakuan dengan nilai paired t test p=0,004 < 0,05. Pada kelompok kontrol tidak menunjukkan hubungan bermakna dengan nilai p=0.242 > 0,05. Diit ikan gabus meningkatkan kadar albumin lebih tinggi pada kelompok perlakuan dibandingkan kelompok kontrol

PEMBAHASAN

  • A. Karakteristik Responden

1. Umur Responden Anak Penelitian ini meneliti responden dari umur 7 tahun sampai 14 tahun. Responden yang paling banyak menderita SN adalah usia 7 tahun sampai dengan 10 tahun yaitu 6 responden (60 %). Menurut Kliegman (2003), 85% dari kasus sindrom nefrotik terjadi pada anak, kebanyakan

terjadi antara umur 2 dan 7 tahun. Telah dilaporkan terjadi paling muda pada anak umur 6 bulan dan paling tua pada masa dewasa. Dimana

pada anak usia ini kondisi fisik anak masih lemah sehingga lebih rentan mengalami penyakit. SN yang terjadi pada anak anak sejak dini adalah SN jenis kongenital. Pertama kali dilaporkan di Finlandia sehingga disebut juga SN tipe Finlandia. Kelainan ini diturunkan melalui gen resesif. Biasanya anak lahir prematur (90%), plasenta besar (beratnya kira-kira 40% dari BB). Untuk tingkat umur ibu, responden terbanyak adalah usia 22-27 tahun sebanyak 5 responden (50%) Dimana pada usia ini masih para ibu muda dan baru pertama kali mengasuh, merawat seorang anak sehingga dari segi pengalaman, peran perawatan, kesiapan diri dan pengambilan keputusan masih kurang. Pada penelitian-penelitian diantaranya oleh Aday dan Eichhorn (1972), Diosy (1956) dan Rayner (1970), dijelaskan tentang peran ibu, yakni ibu menentukan gejala-gejala dan memutuskan pencarian sumber-sumber yang penting.

  • 1. Jenis Kelamin Hasil penelitian mengenai jenis kelamin responden diketahui bahwa 60 % responden laki laki, sementara 30 % adalah wanita. Sindrom nefrotik lebih sering terjadi pada pria dibandingkan wanita (2:1) (Kliegman, 2003) Insidens dapat mengenai semua umur tetapi sebagian besar (74%)

dijumpai pada usia 2-7 tahun. Rasio laki- laki : perempuan = 2 : 1, sedangkan pada masa remaja dan dewasa rasio ini berkisar 1 :

1. Belum ada teori yang pasti tentang kenapa jumlah laki- laki lebih banyak mengalami SN dari pada perempuan.

  • 2. Urutan Jumlah

Anak

Orang tua dari anak yang menderita SN dengan satu anak dan dua anak sebanyak 4 responden (40 %) dan 3 anak sebanyak 2 responden ( 20 %). Program pemerintah tentang program keluarga berencana dengan dua anak lebih baik, memungkinkan kondisi SN terjadi di posisi anak pertama atau kedua meskipun tidak selalu demikian. Belum ada data yang menjelaskan tentang urutan anak yang pasti yang terkena nefrotik syndrome.

  • 3. Tingkat

Pendidikan Orang Tua Ibu dengan tingkat pendidikan SMP yang paling banyak anaknya menderita SN yaitu 4 responden (40 %). Dalam penelitian ini mayoritas responden hanya tamatan SMP, meski masih ada yang lulusan SD. Ini di karenakan program wajib belajar sembilan tahun yang telah di canangkan oleh pemerintah bagi masyarakat minimal pendidika sekolah lulus SMP sudah bergulir.

  • 4. Pekerjaan

Sebagian besar jenis pekerjaan ayah

responden adalah petani dan wirasawata masing-masing 4 responden ( 40 %), hanya 2 responden yang PNS. Hal ini menunjukkan gambaran kecil tentang mayoritas penduduk Indonesia yang petani dan sedikit yang PNS.

  • B. Hasil Univariat Efektifitas Diet Ikan Gabus Terhadap Peningkatan Albumin Anak Pada Penderita Nefrotik Sindrom

    • 1. Pemberian Ikan Gabus. Dari penelitian di peroleh hasil bahwa seluruh resonden pada kelompok perlakuan/ intervensi (100%) mengkonsumsi ikan gabus yang di berikan sesuai dengan proporsi (0,25 x BB x kebutuhan protein dalam gr / 0,16) perhari selama 1 bulan berturut turut.

    • 2. Jumlah albumin sebelum pulang dari RSUD Dr. R Soedjati Purwodadi. Jumlah rata rata albumin responden pada kelompok perlakuan sebelum pulang sejumlah 2,24 g/dl dan pada kelompok kontrol 2,4 g/dl, dengan kenaikan albumin rata rata 0,94 g/dl pada kelompok perlakuan dan 0,16 g/dl pada kelompok konrol. Pemeriksaan sebelum pulang dilakukan pada pasien sebelum meninggalkan Rumah Sakit pada saat dinyatakan dokter boleh pulang ke rumah dengan KU dan TTV nya baik. Jumlah albumin masing masing kelompok pada

saat sebelum pulang hampir sama, dengan perbedaan di kelompok kontrol ( lebih 0,2 g/dl ).

  • 3. Jumlah albumin pada pemeriksaan I dan ke II setelah pulang dari RSUD Dr. R Soedjati Purwodadi. Jumlah rata rata Albumin responden pada pemeriksaan I kelompok perlakuan 2,58 g/dl dan pemeriksan ke II 3,18 g/dl. Jumlah rata rata Albumin responden pada pemeriksaan I kelompok kontrol 2,34 g/dl dan pemeriksan ke II 2,56 g/dl. Dari hasil penelitian didapatkan adanya peningkatan jumlah albumin bermakna pada kelompok perlakuan dibandingkan dengan kontrol, dengan nilai rata - rata perubahan sebesar 0,94 g/dl dikelompok perlakuan, di banding kelompok kontrol sebesar 0,16 g/dl. Terdapat 5 ( 100 % ) responden yang mengalami peningkatan jumlah albumin pada kelompok perlakuan. Pada kelompok kontrol terdapat 3 responden yang meningkat dan 1 reponden yang tetap serta 1 responden yang turun.

Sedangkan pada pengamatan minggu sebelumnya kenaikan tersebut belum begitu nampak. Masukan protein dari diet dapat menstimulisi sintesis albumin dan komponen protein dalam diet tersebut memegang peranan penting terhadap pengaturan atau

regulasi protein tubuh. Sekali albumin dikeluarkan dari hati ke plasma maka memiliki half life sekitar 21 hari (Stryer,

2006).

Dari data cross tab usia responden, responden usia 7-10 tahun rata rata

mengalami peningkatan albumin, responden usia 11-14 tahun terdapat 1 responden yang mengalami penurunan albumin 0,2 g/dl. Ini terjadi karena anak anak masih punya potensi untuk tumbuh dan berkembang.

  • C. Hasil Bivariat Efektifitas diet ikan gabus terhadap peningkatan albumin anak pada penderita nefrotik sindrom

Kadar protein total pada uji paired t test masing - masing kelompok pada kelompok kontrol nilai t yaitu 1,372; df = 4 ; dan nilai signifikansi p = 0,242, pada pemeriksaan kelompok perlakuan nilai t yaitu 6,119 : df = 4 ; dan nilai signifikansi p = 0,004. Adanya pengaruh bermakna pada uji paired t test di kelompok perlakuan dengan p value /signifikansi = 0,004 (p =0,004 < 0,05). Dengan t hitung 6,119 dan t tabel 2,75, t hit ( 6,119) > t tab (2,75) dan belum ada hubungan bermakna pada kelompok kontrol (p=0,242 > 0,05). Hal ini menunjukkan adanya pengaruh bermakna pada kelompok perlakuan atau kelompok yang diberlakukan diit ikan gabus.

Sehingga adanya efektitas diit ikan gabus terhadap peningkatan albumin responden. Ikan gabus memiliki PER 2,81 lebih baik dibandingkan dengan PER Casein, sehingga dapat dikatakan protein dalam ikan gabus memiliki nilai guna protein yang cukup baik. Perbedaan pada kinetik absorpsi asam amino dan pada kadar asam amino di vena porta setelah makan akan mempengaruhi sintesa albumin karena mempengaruhi pasokan asam amino ke hepar Adanya suplementasi protein dalam diet akan berpengaruh positif terhadap laju sintesa albtrmin. Pada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan diberikan diet dengan jumlah protein yang sama yaitu protein seimbang tidak dengan protein rendah atau tinggi . Diketahui bahwa Albumin merupakan komponen utama yang membentuk 50 % protein dalam plasma dengan fungsi yang sangat beragam dan merupakan protein yang sangat ekstensif dipelajari sebagai nuritional markers (petanda nutrisi)

(Kosnadi,2003).

Berdasarkan hasil penelitian, kenaikan bermakna kadar albumin pada kelompok perlakuan disebabkan digestibilitas yeng baik dan lebih tinggi kandungan asam amino esensial pada ikan gabus. Ketersedian hayati ikan gabus yang cukup berlimpah dengan

harga yang relatif murah menjadikan diit ikan gabus salah satu pilihan yang sangat patut untuk diperhitungkan dalam penatalaksanaan hipoalbuminemia baik dalam kasus sindroma nefrotik khususnya maupun pada kasus kasus hipoalbuminemia lain pada umumnya.

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil analisis dan pengujian hipotesis dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  • 1. Kadar albumin anak pada perawatan sebelum pulang dari Rumah Sakit penderita nefrotik sindrome sebelum diberlakukan diit ikan gabus di RSUD Dr. R. Soedjati Purwodadi yaitu pada kelompok kontrol 2,4 g/dl dan 2,24 g/dl pada kelompok pemberlakuan.

  • 2. Kadar albumin anak pada perawatan pasca pulang penderita nefrotik sindrom sesudah diberlakukan diit ikan gabus RSUD Dr. R. Soedjati Purwodadi yaitu pada kelompok kontrol 2,56 g/dl dan 3,18 g/dl pada kelompok perlakuan.

  • 3. Efektifitas diet ikan gabus terhadap peningkatan albumin anak pada perawatan pasca pulang cukup bermakna pada kelompok perlakuan dengan nilai paired t test, t hitung 6,119 dan t tabel 2,75, t hit ( 6,119) > t tab (2,75) p=0,004 < 0,05. Pada kelompok kontrol tidak menunjukkan

hubungan bermakna dengan nilai p=0.242 >

0,05. Diit ikan gabus meningkatkan kadar albumin lebih tinggi pada kelompok perlakuan dibandingkan kelompok kontrol Peneliti menyadari adanya keterbatasan dan kekurangan dalam penelitian ini. Keterbatasan dan kekurangan terutama mengenai :

  • 1. Penelitian ini hanya terfokus pada peningkatan albumin dan tidak memperhatiakan aspek peningkatan yang lain.

  • 2. Penelitian

ini

dilakukan dengan sampel dan waktu terbatas sehingga hasinya kurang sempurna dan kurang memuaskan.

  • 3. Kriteria

tanda

peningkatan albumin yang cukup sulit untuk di evaluasi secara klinis sehingga perlu ketelitian dalam memberi penilaian.

REFERENSI

Anonim. 2007. Petunjuk Praktikum Biokimia Untuk PSIK. Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Lab. Biokimia FK UGM.

Adam, Jhon MF. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III. Jakarta. Balai Penerbit FKUI.

Asdie, Ahmad H. 2004. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I . Jakarta. Balai Penerbit FKUI.

Bawazier, Lucky Aziza. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Volume 2 Edisi 6 : Proteinuria. Jakarta. Balai Pustaka FKUI.

Pratiwi, Andi Dyah. 2007. Epidemiologi DM dan Isu Muktahirnya,diakses 5 Agustus 2011 (http://ridwanamiruddin.wordpress.com/

Guyton AC, Hall JE. 1996. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi IX, Penerjemah:

Setiawan I, Tengadi LMAKA, Santoso A, Jakarta: EGC

Hidayat,

A

Ilmu

Aziz

Alimul.

Keperawatan

Salemba Medika.

2006.

Pengantar

Anak.

Jakarta.

Kliegman. 2003, Idiopatic Nephrotic Syndrom Nelson Textbook of Pediatrics. Jakarta. EGC.

Kosnadi,L. 2003. Pedoman pelayanan medic anak. Semarang. IKA FK Undip RSUP Dr Kariadi.

hubungan bermakna dengan nilai p =0.242 > 0,05. Diit ikan gabus meningkatkan kadar albumin lebih tinggi( http://ridwanamiruddin.wordpress.com/ 2007/12/10/ ) Guyton AC, Hall JE. 1996. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran , Edisi IX, Penerjemah: Setiawan I, Tengadi LMAKA, Santoso A, Jakarta: EGC Hidayat, A Ilmu Aziz Alimul. Keperawatan Salemba Medika. 2006. Pengantar Anak. Jakarta. Kliegman. 2003, Idiopatic Nephrotic Syndrom Nelson Textbook of Pediatrics . Jakarta. EGC. Kosnadi,L. 2003. Pedoman pelayanan medic anak . Semarang. IKA FK Undip RSUP Dr Kariadi. Noer MS, 2007. Sindrom Nefrotik , Patofisiologi Kedokteran . Surabaya. Universitas Airlangga. GRAMIK FK Priyana A. 2007. Patologi klinik . Jakarta. Penerbit Universitas Trisakti. Stryer L. 2006. Biokimia, Edisi IV , Penerjemah: Sadikin dkk (Tim Penerjemah Bagian Biokimia FKUI). Jakarta. EGC Wila Wirya IGN. 2006. Proteinuria . Buku Ajar Nefrologi Anak. Edisi Ke-2. Jakarta. Balai Penerbit FK UI. " id="pdf-obj-11-85" src="pdf-obj-11-85.jpg">

Noer MS, 2007. Sindrom Nefrotik, Patofisiologi

Kedokteran.

Surabaya.

Universitas Airlangga.

GRAMIK

FK

Priyana A. 2007. Patologi klinik. Jakarta. Penerbit Universitas Trisakti.

Stryer L. 2006. Biokimia, Edisi IV, Penerjemah:

Sadikin dkk (Tim Penerjemah Bagian Biokimia FKUI). Jakarta. EGC

Wila Wirya IGN. 2006. Proteinuria. Buku Ajar Nefrologi Anak. Edisi Ke-2. Jakarta. Balai Penerbit FK UI.

Nursalam. (2002). Manajemen Keperawatan Aplikasi dalam Praktik Keperawatan Profesional. Jakarta : Salemba Medika

Sastroasmoro,

S.

(2002).

Dasar-dasar

Metodologi Klinis, Edisi kedua. Jakarta:

Bina Rupa Aksara

Sastrohadiwiryo,S, (2002), Evaluasi Penerapan

Teknik Aseptik Pada Perawatan Luka

Post

Trumatik

Muhammadiyah,

di

IRNA

PKU

Yogyakarta.UGM

 

Press

Setyorini

(2009).

Manajemen

Sumber

Daya

Manusia

dalam

Keperawatan.

Jakarta:Makalah

disampaikan

pada

Seminar Keperawatan

Siagian, S.P. (1992). Manajemen Sumber Daya Manusia. Edisi I. Cetakan XIII. Jakarta :

Bumi Aksara

Suharsimi

Arikunto.

(2002),

Prosedur

Penelitian.Jakarta. PT Rineka Cipta

1.

Cook, T. D., & Campbell, D. T. (1979). Quasi Experimentation: Design & Analysis Issues for Field Settings. Houghton Mifflin Co: Bos.