You are on page 1of 22

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
II.1 ANATOMI DAN FISIOLOGI KULIT
Kulit adalah organ terbesar di tubuh, tidak hanya berfungsi sebagai sawar mekanis antara
lingkungan eksternal dan jaringan dibawahnya, tetapi secara dinamis juga terlibat dalam
mekanisme pertahanan dan berbagai fungsi lain. Kulit terdiri dari dua lapisan, epidermis
disebelah luar dan dermis disebelah dalam.(1)
A. EPIDERMIS
Epidermis terdiri dari banyak lapisan sel epitel. Lapisan epidermis di bagian
dalam terdiri dari sel- sel berbentuk kubus yang hidup dan cepat membelah diri,
sementara sel-sel di lapisan luar mati dan menggepeng. Epidermis tidak mendapatkan
pasokan darah langsungr dan hanya mendapatkan makanan melalui difus nutrien dari
jaringan epidermis di bawahnya. Sel-sel epidermis berikatan erat satu sama lain
melalui pada desmosom titik yang berhubungan dengan intrasel untuk membentuk
suatu lapisan pembungkus kohesif yang kuat. Selama pematangan sel penghasil
kreatinin, terjadi akumulasi filamen-filamen keratin secara progresif yang saling
berikatan silang di sitoplasma. Sewaktu sel-sel di bagian luar mati, yang tertinggal
hanya inti kreatinin fibrosa yang membentuk skuama keras-gepeng dan menjadi
lapisan kreatinisasi protektif-kuat. Skuama pada lapisan keratinisasi paling luar yang
terkelupas atau tanggal akbiat abrasi, secara terus-menerus di ganti melalui
pembelahan sel dilapisan epidermis sebelah dalam. Lapisan kreatinisasinya bersifat
kedap udara, cukup kedap air dan sulit untuk ditembus oleh sebagian besar bahan.
Lapisan ini juga berfungsi menahan lewatnya bahan dalam kedua arah antara tubuh
dan lingkungan eksternal. Epidermis mengandung empat jenis sel : (1)

Sel kreatinosit

Melanosit

Sel langerhans

Sel granstein

Lapisan epidermis ada 6, yaitu :


1. Stratum dysjunctum
2. Stratum corneum
3. Stratum lucidum
4. Stratum granulosum
5. Stratum spinosum
6. Stratum basale
7.
Fungsi epidermis sendiri yaitu :
Melindugi dari kekeringan
Pelindung dari masuknya bakteri
Melindungi dari toksin
Menjaga keseimbangan cairan: menghindari kehilangan cairan yang
berlebihan
Neuronsensori dan interaksi sosial

B. DERMIS
Dermis adalah lapisan jaringan ikat yang mengandung banyak serat elstin
(untuk peregangan) dan serat kolagen (untuk kekuatan), serta sejumlah besar
pembuluh darah dan ujung-ujung saraf khusus.Jaringan penyambung padat berbentuk
irregular yg mensupport epdermis dan berikatan dng jar.subcutan ( hypodermis)
Tebal : 0,6 mm 3 mm,pada wanita lebih tipis dibanding pria.(1)
Pembuluh darah dermis tidak hanya memasok darah kedermis dan epidermis tetapi,
juga berperan penting dalam mengatur suhu. Kaliber pembuluh-pembuluh darah
ini,dan dengan demikian volume darah yang mengalir didalamnya dapat di kontrol
untuk mengubah-ubah tingkat pertukaran panas antara pembuluh permukaan kulit ini
dengan lingkungan eksternal. Reseptor-reseptor di ujung perifer serat saraf aferen di
dermis mendeteksi tekanan,suhu,nyeri,dan masukkan somatosensorik lainnya. Ujungujung saraf eferen didermis mengontrol kaliber pembuluh darah, ereksi rambut,dan
sekresi oleh kelenjar eksokrin. Dermis dibagi mennjadi :(1)
Superficial yang tipis yang dikenal dengan papilary layer, terdapat
fibroblast, serat elastin dan kolagen tipe 3 serta banyak terdapat kapiler.

Dan

bagian

yang

paling

tebal

yang

dikenal

dengan

reticularlayer,terdapat serat kolagen tipe 2,terisi matriks ekstrasel yang


mengandung

dermatan

sulfat

dan

glikosaminoglikan,sel

fibroblas,makrofag,lymfosit dan mast cells. Membentuk garis paralel


dengan permukaan tubuh diuat lines of Langer surgical important
minimize scar tissue.
Fungsi dermis sendiri yaitu :

Melindungi

dari

trauma

dengan

elastisitas,

daya

tahan

dan

komponennya.

Menjaga keseimbangan cairan melalui regulasi aliran darah kulit

Termoregulasi melalui control aliran darah.

Faktor pertumbuhan dan arah kontak pada replikasi epidermis dan


perbaikan dermis.

C. Hypodermis ( subcutaneous tissue)


Hypodermis merupakan bagian dalam dari lapisan reticular layer.Jaringan
penyambung jarang terbungkus oleh serabut kolagen, serta banyak mengandung
jaringan lemak terutama bagian perut dan pinggul yg dapat mencapai ketebalan 3 cm
lapisan ini disebut panniculus adiposus.(1)

,
Kelenjar eksokrin kulit terdiri dari kelenjar dari kelenjar sebasea,yang menghasilkan
sebum, suatu bahan berminyak yang melunakkan dan membuat kulit kedap air, dan kelenjar
keringat, yang mengahsilkan keringat pendingin. Folikel rambut mengahsilkan rambut, yang
didistribusi dan fungsinya minimal pada manusia. Selain itu kulit juga mensintetis vitamin D
dengan adanya sinar matahari. (1)
II.2 DEFINISI
Luka bakar adalah suatu trauma yang disebabkan oleh panas, arus listrik, bahan kimia
dan petir yang mengenai kulit, mukosa dan jaringan yang lebih dalam.
II.3 EPIDEMIOLOGI
Di Amerika Serikat, sekitar 1,1 juta orang per tahun mengalami luka bakar yang
cukup serius dan harus mencari perawatan kesehatan. Sekitar 45.000 dari memerlukan rawat
inap, dan sekitar 4.500 mati.Lebih dari 90 persen dari kebakaran dapat dicegah, dengan
hampir satu-setengah yang berhubungan dengan merokok atau karena penyalahgunaan bahan
mudah terbakar. Jumlah tahunan membakar kematian di Amerika Serikat telah menurun dari
kira-kira 15.000 pada tahun 1970 menjadi sekitar 4.500 saat ini. Selama periode yang sama,
ukuran luka bakar yang berhubungan dengan 50 persen angka kematian telah meningkat dari
30 persen dari total luas permukaan tubuh (TBSA) sehingga 80 persen dari TBSA orang
dewasa muda. Hampir 95 persen pasien yang dirawat di pusat perawatan luka bakar di
Amerika Serikat bertahan hidup, dan lebih dari satu-setengah dari mereka kembali ke fungsi

sosial dalam waktu 12-24 bulan setelah cedera. Kualitas perawatan luka bakar tidak lagi
diukur hanya dengan kelangsungan hidup, tetapi juga oleh fungsi jangka panjang dan
penampilan.Seperti bentuk-bentuk lain trauma, luka bakar sering mempengaruhi anak-anak
dan kaum muda dewasa.Anak-anak kurang dari 8 tahun, luka bakar yang paling umum adalah
luka bakar, biasanya diakibatkan cairan panas. Pada anak yang lebih tua dan orang dewasa,
luka bakar yang paling umum adalah yang berhubungan dengan api, biasanya akibat
kebakaran rumah. Bahan kimia atau cairan panas, diikuti oleh listrik, dan kemudian logam
cair atau panas yang paling sering terkait dengan pekerjaan menyebabkan luka bakar.

II.4 FASE LUKA BAKAR & KLASIFIKASI


A. Fase akut.
Disebut sebagai fase awal atau fase syok. Dalam fase awal penderita akan
mengalami ancaman gangguan airway (jalan nafas), brething (mekanisme bernafas),
dan circulation (sirkulasi). Gangguan airway tidak hanya dapat terjadi segera atau
beberapa saat setelah terbakar, namun masih dapat terjadi obstruksi saluran
pernafasan akibat cedera inhalasi dalam 48-72 jam pasca trauma. Cedera inhalasi
adalah penyebab kematian utama penderiat pada fase akut.Pada fase akut sering
terjadi gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit akibat cedera termal yang
berdampak sistemik.(3)
B. Fase Sub-Akut
Berlangsung setelah fase syok teratasi. Masalah yang terjadi adalah kerusakan
atau kehilangan jaringan akibat kontak denga sumber panas. Luka yang terjadi
menyebabkan:(3)
1. Proses inflamasi dan infeksi.
2. Problem penuutpan luka dengan titik perhatian pada luka telanjang atau tidak
berbaju epitel luas dan atau pada struktur atau organ organ fungsional.
3. Keadaan hipermetabolisme

C.Fase Lanjut
Fase lanjut akan berlangsung hingga terjadinya maturasi parut akibat luka dan
pemulihan fungsi organ-organ fungsional. Problem yang muncul pada fase ini adalah
penyulit berupa parut yang hipertropik, kleoid, gangguan pigmentasi, deformitas dan
kontraktur.(3)

KLASIFIKASI LUKA BAKAR


a) Dalamnya Luka Bakar
Kedalaman luka bakar dideskripsikan dalam derajat luka bakar, yaitu luka bakar derajat I,
II, atau III :

Derajat I
Pajanan hanya merusak epidermis sehingga masih menyisakan banyak
jaringan untuk dapat melakukan regenerasi. Luka bakar derajat I biasanya sembuh
dalam 5-7 hari dan dapat sembuh secara sempurna. Luka biasanya tampak sebagai
eritema dan timbul dengan keluhan nyeri dan atau hipersensitivitas lokal. Contoh luka
bakar derajat I adalah sunburn.

Derajat II
Lesi melibatkan epidermis dan mencapai kedalaman dermis namun masih
terdapat epitel vital yang bisa menjadi dasar regenerasi dan epitelisasi. Jaringan
tersebut misalnya sel epitel basal, kelenjar sebasea, kelenjar keringat, dan pangkal
rambut. Dengan adanya jaringan yang masih sehat tersebut, luka dapat sembuh

dalam 2-3 minggu. Gambaran luka bakar berupa gelembung atau bula yang berisi
cairan eksudat dari pembuluh darah karena perubahan permeabilitas dindingnya,
disertai rasa nyeri. Apabila luka bakar derajat II yang dalam tidak ditangani dengan
baik, dapat timbul edema dan penurunan aliran darah di jaringan, sehingga cedera
berkembang menjadi full-thickness burn atau luka bakar derajat III.

Derajat III
Mengenai seluruh lapisan kulit, dari subkutis hingga mungkin organ atau
jaringan yang lebih dalam. Pada keadaan ini tidak tersisa jaringan epitel yang dapat
menjadi dasar regenerasi sel spontan, sehingga untuk menumbuhkan kembali jaringan
kulit harus dilakukan cangkok kulit. Gejala yang menyertai justru tanpa nyeri maupun
bula, karena pada dasarnya seluruh jaringan kulit yang memiliki persarafan sudah
tidak intak.

Derajat luka bakar berdasarkan kedalaman

b)

Berat Ringanya Luka Bakar

Untuk mengkaji beratnya luka bakar harus dipertimbangkan beberapa faktor antara lain: (3)
1) Persentasi area (Luasnya) luka bakar pada permukaan tubuh.
2) Kedalaman luka bakar.
3) Anatomi lokasi luka bakar.
4) Umur.
6) Trauma yang menyertai atau bersamaan.
American college of surgeon membagi dalam: (3)
A. Parah critical:
a) Tingkat II : 30% atau lebih.
b) Tingkat III : 10% atau lebih.
c) Tingkat III pada tangan, kaki dan wajah.
d) Dengan adanya komplikasi penafasan, jantung, fractura, soft tissue yang luas.
B. Sedang moderate:
a) Tingkat II : 15 30%
b) Tingkat III : 1 10%
8

C. Ringan minor:
a) Tingkat II : kurang 15%
b) Tingkat III : kurang 1%
II.5 Luas Luka Bakar
Wallace membagi tubuh atas bagian 9% atau kelipatan 9 yang terkenal dengan
nama rule of nine atua rule of wallace yaitu:
1) Kepala dan leher

: 9%

2) Lengan masing-masing 9%

: 18%

3) Badan depan 18%, badan belakang 18% : 36%


4) Tungkai maisng-masing 18%

: 36%

5) Genetalia/perineum

: 1%

Total

: 100%

10

II.5 ETIOLOGI
Luka bakar kutaneus disebabkan oleh panas, dingin, atau bahan kimia kaustik kulit.
Bila panas diberikan pada kulit, kedalaman cedera sebanding dengan suhu diterapkan, durasi
kontak, dan ketebalan kulit.
A. Luka Bakar Lepuh
Luka bakar, biasanya dari air panas, adalah yang paling umum yang menyebabkan
luka bakar .Air pada 60 C (140 F) menyebabkan luka dalam parsial atau luka
bakar dalam dalam 3 detik.Pada 69 C (156 F), luka bakar yang sama terjadi
dalam 1 detik. Luka bakar di kulit cenderung kurang dalam berbanding daerah yang
ditutupi pakaian karena ia mempertahankan kontak panas dan cairan panas dengan
kulit untuk jangka waktu lebih lama. Luka bakar lepuh dari minyak panas biasanya
dalam ketebalan parsial atau luka dalam, seperti minyak atau lemak dengan suhu
200 C (400 F). Luka bakar tar dan aspal adalah jenis khusus luka lepuh. Tar harus
dibersihkan dengan aplikasi salep berbasis petroleum atau pelarut non toksik
(misalnya, Medisol atau minyak bunga matahari) di bawah pakaian. Perban harus
diganti dan sering disapu salep sampai larut.

B.

Luka Bakar Termal


Luka bakar akibat api adalah penyebab utama trauma termal. Meskipun insiden
luka-luka yang disebabkan oleh kebakaran rumah telah menurun dengan
menggunakan detektor asap, kebakaran yang berhubungan dengan merokok,
penggunaan cairan yang mudah terbakar yang tidak tepat, kecelakaan kendaraan
bermotor dan kebakaran pakaian oleh kompor atau ruang pemanas menyebabkan
sebagian besar luka bakar termal

C.

Luka Bakar Akibat Bahan Kimia


Luka bakar ini disebabkan oleh

ledakan gas alam, propana, butana,

petroleum distil, alkohol, cairan yang mudah terbakar, dan listrik menyebabkan
panas untuk jangka waktu singkat. Luka ini umumnya memiliki distribusi ke seluruh
kulitdengan daerah-daerah terdalam yang terkena bahan bakar . Biasanya iadangkal
atau ketebalan parsial, kedalamannya tergantung pada jumlah dan jenis dari bahan

11

bakar yang meledak. Namun, luka bakar akibat listrik dan bensin memerlukan
ketebalan graft.
D.

Luka Bakar Listrik


Luka bakar listrik disebabkan oleh kontak langsung aliran listrik dengan badan, dan
lukanya sering lebih serius dari pada yang terlihat dipermukaan. Tubuh manusia
dapat berindak sebagai penghantar energi listrik dan mengakibatkan kerusakan
jaringan akibat panas yang ditimbulkannya.

II.6

Luka Bakar Listrik


Electrical injury atau luka akibat arus listrik adalah kerusakan jaringan tubuh
yang di sebabkan oleh arus listrik yang melintasi tubuh, dapat berupa kulit yang
terbakar, kerusakan organ internal dan jaringan.
Luka Luka bakar listrik disebabkan oleh kontak langsung aliran listrik dengan
tubuh. Tubuh manusia dapat berindak sebagai penghantar energi listrik dan
mengakibatkan kerusakan jaringan akibat panas yang ditimbulkannya. Perbedaan
kecepatan hilangnya panas antara kulit dengan jaringan yang lebih dalam
mengakibatkan terlihatnya permukaan kulit tampakseakan normal, padahal jaringan
otot didalamnya mengalami nekrosis. Dengan demikian, luka bakar listrik sering lebih
serius dari pada yang terlihat dipermukaan dan ekstremitas, terutama pada jari-jari.
Selain itu, saat aliran listrik mengenai pembuluh darah dan saraf dapat menyebabkan
trombosis luka dan kerusakan saraf. Pasien dengan luka bakar listrik biasanya
membutuhkan tindakan fasciotomy dan perlu dirujuk ke pusat penanganan luka bakar.
Penanganan segera pada pasien luka bakar listrik harus meliputi perhatian
terhadap jalan nafas dan pernapasan, pemberian cairan inravena pada ekstremitas
yang tidak terkena, EKG, dan pemasangan kateter. Aliran listrik bisa menyebabkan
aritmia pada sistem kardiovaskular yang membutuhkan tindakan kompresi dada. Jika
tidak timbul aritmia setelah beberapa saat setelah terkena arus listrik, maka tidak perlu
dilakukan monitoring. Aliran listrik bisa menyebabkan kontraksi berlebih pada otot,
sehingga dokter harus melihat dan menilai kerusakan dari otot dan tulang termasuk
kemungkinan cedera pada spinal. Rhabdomiolisis menyebabkan dilepaskannya
mioglobin yang pada akhirnya dapat menyebabkan gagal ginjal akut. Jangan
menunggu hasil laboratorium untuk melakukan terapi myoglobinuria. Urin yang
berwarna gelap menandakan adanya hemokromogens didalam urin. Pemberian cairan
12

harus ditingkatkan agar mencapai produksi urin 100mL/ jam, pada orang orang
dewasa 2 mL/kg/jam, pada anak <30kg.
.

II.6 Indikasi Rawat Inap Luka Bakar(3)


A. Luka bakar grade II:
1) Dewasa > 20%
2) Anak/orang tua > 15%
B. Luka bakar grade III.
C. Luka bakar dengan komplikasi: jantung, otak dll

II.7 PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan luka bakar dimulai pada saat pertama kali korban ditemukan. Pada
saat korban ditemukan, biasanya api sudah mati. Dan apabila korban masih dalam keadaan
terbakar, maka dapat dilakukan tindakan atau cara-cara sebagi berikut ini :(2)

Menyiram dengan air dalam jumlah banyak, apabila api disebabkan karena bensin
atau minyak tana, karena bila jumlah air dalam penyiraman hanya sedikit akan
mengakibatkan api semakin besar.

Menggulingkan korban gawat darurat, kalau bisa dalam selimut basah, dengan cara
ini,penolong harus waspada jangan sampai turut terbakar.
Hentikan Proses Luka Bakar

13

Luka bakar akan mengalami pendalaman, walaupun api sudah mati. Untuk
mengurangi proses pendalaman ini, luka dapat disiram dengan air pendinginnya.
Proses pendalaman ini hanya akan berlangsung selama 15 menit. Sehingga apabila
pertolongan pertama tiba setelah 15 menit, usaha ini akan sia-sia.(2)
Circulation
Kulit yang terbuka akan menyebabkan penguapan air yang berlebih dari tubuh
sehingga mengakibatkan terjadinya dehidrasi. Walaupun dehidrasi akan terjadi agak
lambat, namun pemasangan infus pada luka bakar diatas 15% merupakan suatu
keharusan.(2)
Parkland formula
1. 24 jam pertama: cairan Ringer Laktat (RL) 4 mL/kgBB untuk setiap 1%
permukaan tubuh yang terbakar pada dewasa dan 3 mL/kgBB untuk setiap 1%
permukaan tubuh yang terbakar pada anak. Cairan RL ditambahkan untuk
maintenance pada anak:
- 4 mL/kg BB/jam untuk anak dengan berat 0-10 kg
- 40 mL/jam + 2 mL/jam untuk anak dengan berat 10-20 kg
- 60 mL/jam + 1 mL/kg BB/jam untuk anak dengan berat 20 kg atau lebih.
Formula ini direkomendasikan tanpa koloid di 24 jam pertama.
2. 24 jam selanjutnya: koloid diberikan sebesar 20-60% dari kalkulasi volume
plasma.

Tanpa

kristaloid.

Glukosa

pada

air

ditambahkan

untuk

mempertahankan output urin 0,5 1 mL/jam pada dewasa dan 1 mL/jam pada
anak.
Pemberian Cairan dengan menggunakan Rumus Baxter
Rehidrasi dilakukan dengan perhitungan sebagai berikut :(2)

4cc/kgBB/%lukabakar/24 jam.

Separuhnya diberikan dalam 8 jam pertama dan separuhnya lagi diberikan


dalam 16 jam berikutnya.

Rumus inipun tidak mutlak tepat karena banyak faktor tidak


diperhitungkan, misalnya luka bakar yang dalam.

Contoh :

14

Korban gawat darurat dengan BB 50kg, luas luka bakar 20%. Maka korban gawat darurat
akan mendapat 50 x 20 x 4 cc / 24 jam = 4000 cc / 24 jam. Separuhnya 2000 cc (4 kolf)
dalam 8 jam pertama, 2000 cc sisanya 16 jam berikutnya
Catatatan : 2000cc x 20 (tetes infus set) = 84 tetes / menit. ( 8 jam )
Rumus ini hanya merupakan patokan awal, dan menilai cukupnya cairan yang
diberikan lebih tepat dengan menilai reproduksi urin setiap jam, yaitu 30 50 cc setiap jam
pada orang dewasa. Atau dapat menggunakan ukuran 1-1,5 cc / kgBB / jam. Contohnya,
korban yang Bbnya 50 kg, maka produksi urin normalnya antara 50 70 cc / jam.
Bila masa pra rumah sakit hanya singkat, maka tidak perlu pemasangan kateter
uretra ( pemasangan DC, Dauer Catheter). Namun dalam keadaan khusus dimana masa prarumah sakit yang lama ( transportasi yang sangat lama ), maka perlu pemasangan DC
sehingga dapat di lakukan monituring produksi urin.(2)
Airway
Jalan nafas, adalah sumbatan jalan atas (larinx, pharinx) akibat cedera inhalasi yang
ditandai kesulitan bernafas atau suara nafas yang berbunyi (stridor hoarness). Kecurigaan
dibuat bila ditemukan oedem mukosa mulut dan jalan nafas, ditemukan sisa-sisa pembakaran
di hidung atau mulut dan luka bakar mengenai muka atau leher. Cedera ini harus segera
ditangani karena angka kematiannya sangat tinggi.(2)

Breathing
Gangguan breathing atau pernafasan dapat timbu segera atau setelah beberapa saat
kemudian. Gangguan pernafan yang timbul cepat dapat disebkan karena :(2)
Inhalasi paretikel partikel panas yang menyebabkan proses peradangan dan
edema pada saluran jalan nafas yang paling kecil. Mengatasi sesak yang terjadi
adalah dengan penanganan yang agresif.
Keracunan CO ( Carbon Mono-oksida )
Asap dari api mengandung CO. Apabila korban gawat darurat berada dalam
ruangan cukup besar. Diagnostiknya sulit (apalagi di fase pra- rumah sakit).
Kulit yang berwarna merah terang biasanya belum terlihat. Pulse oksimeter

15

akan menunjukkan tingkat saturasi O2 yang cukup, walaupun korban gawat


darurat dalam keadaan sesak.
Bila diduga kemungkinan keracunan CO2 maka diberikan O2 100 %
dengan menggunakan non- breathing mask, ataupun bila perlu ventilasi
tambahan dengan BVM yang ada reservoir O2.

Monitoring urine dan CVP(3)

Topikal dan tutp luka :(3)


a. Cuci luka dengan savlon : NaCl 0,9% ( 1 : 30 ) + buang jaringan
nekrotik.
b. - Tulle.
c. - Silver sulfa diazin tebal.
d. - Tutup kassa tebal.
e. - Evaluasi 5 7 hari, kecuali balutan kotor
Obat obatan :(3)
-

Antibiotika : tidak diberikan jika psien datang < 6 jam sejak kejadian

Analgetika : kuat ( morfin, petidin) diberikan secara iv

Anti tetanus : diberikan pada luka bakar II & III

Antasida :kalau perlu

Survei Sekunder
Survei sekunder dillakukan dalam bentuk :
Anamnesis
Penting untuk menanyakan dengan teliti hal sekitar kejadian kita. Tidak
jarang terjadi bahwa di samping luka bakar akan di temukan pula perlukaan
lain yang di sebabkan usaha untuk melarikan diri dari api dalam keadaan
panik.
Pemeriksaan ujung rambut
Pemeriksaan teliti dilakukan apabila ada waktu. Apabila di temukan kelainan
maka diberikan pertolongan yang sesuai kondisi korban. Bila ada ahli, maka
rujuk kepada tim ahli.
16

Luka bakarnya sendiri


Tidak perlu dilakukan apa-apa, selain menutup dengan kain bersih.
Menyemprot dengan air dingin hanya dilakukan bila tiba sebelum 15 menit
setelah kejadian. Catatan : dinegara yang amat dingin, tidak boleh menyiram
dengan air dingin karena korban gawat darurat akan hiportermia dan jangan
memecahkan bula atau vesikula.(2)
Perawatan Luka Pada Luka Bakar
Terdapat 2 jenis perawatan luka pada luka bakar, yaitu :
1. Perawatan luka bakar terbuka (exposure method)
Keuntungan perawatan terbuka adalah mudah dan murah. Permukaan
luka yang selalu terbuka menjadi dingin dan kering sehingga kuman
sulit berkembang. Kerugiannya bila digunakan obat tertentu,
misalnya mitras-argenti, alas tidur menjadi kotor. Penderita dan
keluargapun merasa kurang enak karena melihat luka yang tampak
kotor.

Perawatan

terbuka

ini

memerlukan

ketelatenan

dan

pengawasan yang ketat dan aktif. Keadaan luka harus diamati


beberapa kali dalam sehari. Cara ini baik untuk merawat LB yang
dangkal. Untuk LB III dengan eksudasi dan pembentukan pus harus
dilakukan pembersihan luka berulang-ulang untuk menjaga luka tetap
kering. Penderita perlu dimandikan tiap hari, tubuh sebagian yang
luka dicuci dengan sabun atau antiseptik dan secara bertahap
dilakukan eksisi eskar atau debridement.(5)
2. Perawatan luka bakar tertutup (occlusive dressing method)
Perawatan tertutup dilakukan dengan memberikan balutan yang
dimaksudkan untuk menutup luka dari kemungkinan kontaminasi.
Keuntungannya adalah luka tampak rapi, terlindung dan enak bagi
penderita. Hanya diperlukan tenaga dan biaya yang lebih karena
dipakainya banyak pembalut dan antiseptik. Untuk menghindari
kemungkinan kuman untuk berkembang biak, sedapat mungkin luka
ditutup kasa penyerap (tole) setelah dibubuhi dan dikompres dengan
antispetik. Balutan kompres diganti beberapa kali sehari. Pada waktu
penggantian balut, eskar yang terkelupas dari dasarnya akan

17

terangkat, sehingga dilakukan debridement. Tetapi untuk LB luas


debridement harus lebih aktif dan dicuci yaitu dengan melakukan
eksisi eskar.(5)
Tindakan Bedah
Tindakan bedah selanjutnya pada penderita LB yang dapat melewati fase aktif
adalah eksisi dan penutupan luka. Hal ini sangat penting bila ingin menghindarkan
kematian oleh sepsis dan akibat-akibat hipermetabolisme yang sulit diatasi. Eksisi
eskar dilakukan secara tangensial. Seluruh jaringan nekrotik dibuang, bila perlu
sampai fascia atau lebih dalam.(5)
Keuntungan eksisi eskar dan penutupan luka yang dini adalah :(5)
1. Keadaan umum cepat membaik.
2. Jaringan nekrotik sebagai media tumbuh bakteri dihilangkan.
3. Penyembuhan luka menjadi lebih pendek bila dilakukan skin graft.
4. Timbulnya jaringan parut dan kontraktur dikurangi.
5. Sensitivitas lebih baik.
Terapi Suportif
LB menimbulkan hipermetabolisme dengan akibat nitrogen balans (-).
Hiperpigmentasi dimulai hari ke 4 selama 7 10 hari dengan formula :(5)
1. Tinggi protein : 2-3 g/kgBB/hari
Tinggi kalori : 50-75 kal/kgBB/hari
2. Dewasa : 25 kal/kgBB + 40 kal % LB
Anak-anak : 40 kal/kgBB + 40 kal % LB
Kalorinya terdiri dari : 20% protein
50 60% KH
30 30% lemak
vitamin C 1.500 mg; B 50 mg
Riboflavin 50 mg; Niacide 500 mg (anak-anak dosis disesuaikan)
Pemeriksaan laboratorium

Hb, Ht, ureum dan kreatini, elektrolit darah.


18

Kultur dan sensitivitas luka bakar.

Produksi urin dan berat jenis

II.8 KOMPLIKASI
Infeksi, Infeksi merupakan masalah utama. Bila infeksi berat, maka penderita dapat
mengalami sepsis. Berikan antibiotika berspektrum luas, bila perlu dalam bentuk kombinasi.
Kortikosteroid jangan diberikan karena bersifat imunosupresif (menekan daya tahan), kecuali
pada keadaan tertentu, misalnya pda edema larings berat demi kepentingan penyelamatan
jiwa penderita.(5)
Curlings ulcer (ulkus Curling), Ini merupakan komplikasi serius, biasanya muncul
pada hari ke 5 10. Terjadi ulkus pada duodenum atau lambung, kadang-kadang dijumpai
hematemesis. Antasida harus diberikan secara rutin pada penderita luka bakar sedang hingga
berat.Pada endoskopi 75% penderita luka bakar menunjukkan ulkus di duodenum.(5)
Gangguan Jalan Nafas, Paling dini muncul dibandingkan komplikasi lainnya,
muncul pada hari pertama. Terjadi karena inhalasi, aspirasi, edema paru dan infeksi.
Penanganan dengan jalan membersihkan jalan nafas, memberikan oksigen, trakeostomi,
pemberian kortikosteroid dosis tinggi dan antibiotika.(5)
Konvulsi, Ia komplikasi paling unik, dan sering terjadi pada anak-anak. Konvulsi ini
disebabkan oleh ketidak seimbangan elektrolit, hipoksia, infeksi, obat-obatan (penisilin,
aminofilin, difenhidramin) dan 33% oleh sebab yang tak diketahui.Komplikasi luka bakar
yang lain adalah timbulnya kontraktur dan gangguan kosmetis.(5)

II.9 PROGNOSIS
Morbiditas dan mortalitas penderita luka bakar berhubungan luas luka bakar, derajat
luka bakar, umur, tingkat kesehatan, lokalisasi luka bakar, cepat lambatnya pertolongan yang
diberikan dan fasilitas tempat pertolongannya.(5)

Permasalahan Pasca Luka Bakar

19

Setelah sembuh dari luka, masalah berikutnya adalah akibat jaringan parut
yang dapat berkembang menjadi cacat berat. Kontraktur kulit dapat mengganggu
fungsi dan menyebabkan kekakuan sendi, atau menimbulkan cacat estetis yang jelek
sekali terutama bila parut tersebut berupa keloid. Kekakuan sendi memerlukan
program fisioterapi yang intensif dan kontraktur memerlukan tindakan bedah.
Pada cacat estetik yang berat mungkin diperlukan ahli ilmu jiwa untuk
mengembalikan rasa percaya diri penderita, dan diperlukan pertolongan ahli bedah
rekonstruksi terutama jika cacat mengenai wajah atau tangan.
Bila luka bakar merusak jalan nafas akibat inhalasi, dapat terjadi atelektasis,
pneumonia atau insufisiensi fungsi paru pasca trauma.(5)

DAFTAR PUSTAKA
1. Sherwood, Lauralee. Pertahanan Tubuh. Fisiologi Manusia: Dari Sel ke Sistem. Edisi
2. 2001. Jakarta: EGC.
2. Sudiarto, SKp.Mkes.RN & Sartono, CRNA, CCRN, RN. Luka Bakar. Basic Trauma
Cardiac Life Suport. 2011. Jakarta : Sagung Seto.
.
3. Dr. M. Sjaifuddin Noer, Sp.BP. 2006. Surabaya : Airlangga University Press
4. Dr. Yuda handaya ,SpB,FINACS,FMAS.Luka Bakar dan Kontraktur. Available at :
http://www.dokteryudabedah.com/wp-content/uploads/2011/03/Lengkap-TentangLuka-Bakar.pdf

20

5. Muhammad Akbar. Combutio ( Luka Bakar) . Medical. 2008.

Laporan Kasus dan Referat


Luka Bakar

21

Disusun Oleh :
Meilisa Sri Suzana
H1A010026

Pembimbing :
dr. Raymond Ukurta Meliala, Sp.B, FINACS

KEPANITERAAN KLINIK BEDAH RSUD M.YUNUS


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2015

22