You are on page 1of 27

a.

Artikel mading PPNI


ASKEP PRIMIGRAVIDA
b. 2.1. Konsep dasar asuhan kebidanan primigravida dengan kehamilan fisiologis.
c.

2.1.1. Pengertian kehamilan

d. Kehamilan ialah pertumbuhan dan perkembangan janin intra uterin mulai konswepsi dan
berakhir sampai permulaan persalinan. (Manuaba.Ida bagus gede, 1998;4)
2.1.1.1. Penyebab Kehamilan
Kehamilan dapat terjadi karena pertemuan ovum dan sperma. Pada coitus air mani
terpancar

kedalam ujung dari vagina sebanyak 3CC. Dalam air mani terdapat

spermatozoa

atau

sel-sel

mani

sebanyak100-200

juta

tiap

cc.

Sel mani bentuknya seperti kecebong dengan kepala yang lonjong dan ekor yang panjang
seperti cambuk. Inti sel terdapat dikepala sedang ekor gunanya untuk bergerak maju.
Karena pergerakkan ini maka dalam sartu jam spermatozoa melalui canalis servikalis dan
cavum uteri kemudian kemudian berada dalam tuba. Disini sel mani menunggu
kedatangan sel telur, jika pada saat ini terjadi ovulasi maka mungkin terjadi fertilisasi,
jadi kehamilan dapat dihasilkan bila coitus dilaksanakan pada saat ovulasi. (Obtetrie
fisiologi Padjajaran. 1983; 99)
2.1.1.2. Tanda-tanda Kehamilan
Tanda-tanda kehamilan meliputi tanda-tanda presumtif, tanda mungkin hamil, dan tanda
hamil pasti.
Tanda-tanda persumtif yaitu : Amenorrhoe, mual dan muntah, mengidam (ingin makan
khusus), tidak tahan suatu bau-bauan, pingsan bila berada ditempat ramai, sesak dan
padat, anorexia, lelah, payudara membesar, tegang dan sedikit nyeri serta kelenjar
montgomeri terlihat lebih besar dan padat. Asanya konstipasi, pigmentasi kuliut, epulis
(hypertropi dari pupil gusi) dan pemekaran vena-vena.
Sedangkan tanda-tanda kemungkinan hamil yaitu : perut membesar, uterus membesar
adanya tanda hegar, tanda chadwick, tanda piskasek, adanya kontraksi kecil uterus bila
dirangsang

(braxton

hicks),

teraba

ballotement,

dan

reaksi

kehamilan

positif.

San tanda hamil pasti yaitu : adanya gerakan janin, denyut janin dapat didengar dengan
stetoskop,

dopler,

fero

elektrocardiogram

serta

terlihat

di

USG,

foto

rontgen.

2.1.2. Pengertian primigravida


Primigravida ialah seorang wanita hamil untuk pertama kalinya. (Mochtar, Rustam,
1990;100)
2.1.2.1. Tanda-tanda kehamilan primigravida meliputi :

Perut tegang, pusar menonjol, rahim tegang, payudara tegang, labia mayora tampak
bersatu, hypen seperti pada beberapa tempat, vagina sempit dengan rugae yang utuh,
servicks licin bulat dan tidak dapat dilalui oleh satu ujung jari, perineum utuh dan baik.
Pada servix terdapat pembukaan yang didahului dengan pendataran dan setelah itu baru
pembukaan (pembukaan rata-rata1 Cm dalam 2 jam). Pada bagian terbawah janin turun
pada 4-6 minggu akhir kehamilan, dan pada persalinan hampir selalu dengan episiotomi
(Mochtar, Rustam, 1998; 46)
2.1.3. Perubahan-perubahan pada ibu hamil.
Kehamilan

melibatkan

perubahan

fisik

maupun

emosional

dari

2.1.3.1. Perubahan fisiologis


Di bawah ini terdapat perubahan sistem reproduksi dalam bentuk tabel.
e. Tabel2.1.3.1.
Perubahan fisiologis

Perubahan pada...
1.Endometrium

Penyebab
Pengaruh hormon estedrogen progesteron
mempertahankan implantasi di endometrium.

Proliferasi endometrium sebagai


persiapan terjadinya inplantasi
ovum.
Glukogen dihimpun dalam
lapisan endometrium untuk
mensuplai makanan pada
blastokis bila terjadi konsepsi
2. Ovarium bertanggung jawab Implatansi blatokist dan perkembangan plasenta
terhadap pembentukan corpus

dijamin oleh sekresi progesteron. NCG mulai usia

luteum

kehamilan 8 hari, yang berfungsi menyediakan


nutrisi dan hormon untuk mempertahankan corpus

ibu

hamil.

luteum 7-10 minggu sampai placenta dapat


berfungsi
3. Tuba falopii merupakan

Dengan rangsangan hormon esterogen dan

tempat mertemunya ovum dab

progesteron cairan dalam memberi isyarat tentang

sperma dan merupakan saluran kondisi, peristiwa dan kapasitas sperma dan
telur kedalam uterus

pembelahan-pembelahan dalam gamet mengadakan


persiapan yang memadai pada endometrium untuk
iumplantasi telur..

4. Cervix uteri

Esterogen bertanggung jawab terhadap perubahan


cervix sehingga timbul tanda chadwick. Sumbatan

Terdapat peningkatan dari


vascularisasi, edema lembut dan
pembesaran dari
glandula/kelenjarcervical

disaluran cervix dapat berfungsi untuk janin, dari


inovasi mekanik atau bakteri pada awal persalinan
sumbatan ini twerpisah dan kencang. Pembuluh
darahnya terp[otong dan cairan kental dikeluarkan
sebagai blood slym.

5. Payudara

Si bawah rangsangan esterogen dan progesteron


payudara membesar ukurannya, puting susu juga

terdapat peningkatan dari ukuran


nodulus dan sensitifitas. Sistem
saluran payudara telah tumbuh
sejak usia kehamilan 3 bulan

6. Vagina

membesar, warnanya lebih gelap, menonjol,


kelenjar montgomerinya membesar. Produksi
kolostrum berlangsung pada akhir kehamilan dan
buah dada terus membesar.
Dibawah pengaruh esterogen terdapat proliferasi
dari sel-sel vagina yang menyebabkan dinding

Vascularisasi meningkat pada


vagina sehingga vagina menjadi
lebih padat

saluran vagina menjadi lebih tebalberlipat-lipat dan


membesar dalam mempersiapkan lewatnya kepala

bayi.
7. Pertumbuhan uterus

Pengaruh esterogen dan progesteron mempengaruhi


pertumbuhan dan berfungsinya uterus. Progesteron

Berat uterus meningkat dari 3050 gram menjadi 900-1000 gram

mempersiapkan tempat implantasi dan


menghalangi kontraktifitas miometrium.

pada kehamilan aterm.


Volume uterus meningkat dari

Uterus akan dapat teraba

10 ml menjadi 2-10 liter pada


kehamilan aterm

3 bulan pada sekitar simpisis


6 bulan setinggi pusat
4 bulan 3 jari dibawah pusat

Posisi uterus

Perkembangan janin dapat dipantau , menyebabkan


tekanan pada ureter kanan. Berat uterus pada

Memasuki rongga panggul pada


minggu ke 12 dan mengadakan
dextro rotasi kearah kanansesuai

trimester III dapat menekan vena kava dan aorta


dapat menyebabkan tanda-tanda hipertensi pada
posisi terlentang

pembesarannya
Uterusbertahan dalam posisi

Pertumbuhan janin teraba. Kehilangan pusat gaya

longituginal terhadap garis aksis berat sesuai dengan pemberatan uterus.


panggul
Sokongan bagian depan oleh

Penyempitan lumen rectum dapat terjadi

dinding abdomen
Uterus tidak begitu semsitif

Kontraksi pada awal kehamilan dapat

untuk kontraksi sehingga sampai menyebabkan keguguran. Kelahiran pre term

pertengahan kehamilan, ketika merupakan resiko pada kehamilan trimester III


uterus menjadi lebih sensitif
akibat rangsangan oksitosin
Pada akhir trimester II sampai

Merupakan permulaan kelahiran pada kehamilan

trimester III, uterus lebih sensitif aterm. Menyebabkan kematangan,


untuk kontraksi

dilatasi,perdarahan cervix pada kehamilan aterm.

Kontraksi Broxton hicks

Esterogen menyebabkan peregangan myometrium.

merupakan kontraksi yang tidak Wanita hamil merasakan kontraksi terasa


beraturan, datang sewaktu-

tegangandan tekanan pada uterus. Kontraksi ini

waktu, tidak mempunyai irama dapat diraba pada pemeriksaan . Pada trimester III
tertentu, kontraksi ini dapat

kehamilan dalam masa persalinan.(Maternity

timbul selama kehamilaan.

Nursing W.B. Sauders, 1981)

f.
2.1.3.2. Penyesuaian dan proses psikologis
Penyesuaian dan proses psikologis sibagi dalam trimester I, II, dan III seperti tercantum
dalam tabel di bawah ini

Tabel 2.1.3.2
Penyesuaian dan proses psikologis

Klasihikasi
Trimester I

Periode

Perusahan psikologis

Periode penyesuaian

Meningkatnya kebutuhan mencintai dan

terhadap kenyataan

dicintai tanpa seks libido karena

bahwa ia hamil

dipengaruhi oleh kelelahan, mual dan

payudara yang membesar.


Adanya kekhawatiran dan kecemasan.
Trimester II

Periode kesehatan

Ibu merasa sehat


Bebas dari ketidaknyamanan
Merupakan fase bathiniah, kehamilan untuk
membangkitkan identitas keibuannya.
Sebagai wanita merasa lebih erotik.

Trimester III

Periode penggunaan

Terdapat rasa gelisah

yang waspada
Adanya rasa ketakutan
Ketidak nyamanan fisik
Memerlukan dukungan
Seksualitas menurun karena perut
membesar sehingga menciptakan rasa
bersalah pada ibu.
Berbagi perasaan diantara pasangan sangat
penting untuk periode ini. (Varney.H.1997)

g.
h.

2.2. KONSEP ASUHAN KEBIDANAN

Dalam memberikan Asuhan kebidanan dilakukan melalui langkah-langkah pengkajian,


menentukan diagnosa, merencanakan dan melaksanakan asuhan kebidanan serta melakukan
evaluasi hasil kegiatan.

2.2.1. Pengkajian

Pemeriksaan pada iobu selama kehamilan penting sekali. Hasil pemeriksaan yang lengkap
akan

memberikan

gambaran

yang

menyeluruh

untuk

menilai

kesejahteraan

ibu,

mengidentifikasikan perubahan-perubahan normal serta mendeteksi keadaan-keadaan yang


mengandung resiko kehamilan dan massa persaklinan. Pengkajian dilakukan terhadap
keseluruhan aspek yang meliputi aspek fisik, psikologis, sosial dan spiritual ibu seperti
tercantum dalam tabel dibawah ini.

1.2.1.1. Pengkajian data subyektif

i. Tabel 2.2.1.1.
j. Pengkajian Data Subyektif

Pengkajian

Hal-hal yang dikaji

Tujuan

Tentang
1. Identitas/Bio Nama DX/suami,
data

Untuk mengetahui atau mengenal penderita

umur, agama, status

dan menentukan status sdosial ekonominya

perkawinan,

yang harus diketahui misal : untuk

pendidikan, pekerjaan, menentukan Anjuran apa yang diberikan


alamat, penghasilan

selain itu umur penting untuk prognosa


kelahiran.

2. Keluhan
utama

Apa yang px

Agar diketahui apakah penderita datng untuk

rasakan/penderita

pemeriksaan kehamilan atau kalau ada

rasakan saat ini

keluhan-keluhan lain yang penting

3. Riwayat

Usia hamil, HDHT,

Anamnesa haid serta siklusnya dapat

kehamilan siklus haid,

diperhitungkan tanggal persalinan serta

ini

perdarahan

memantau perkembangan kehamilannya

pervaginam, fluor,

serta dengan anamnesa ini dapat diketahui

mual/muntah, masalah dengan segera adanya kelainan / masalah


kelainan pada

dalam kehamilan dan dapat ditangani dengan

kehamilan sekarang, segera.


pemakaian obatobatan/jamu
4. Riwayat
obstetri

Jumlah kehamilan,

Pertanyaan ini mempengaruhi prognosa

jumlah persalinan,

persalinan dan persiapan persalinan yang

yang lalu jumlah persalinan

lampau adalah hasil ujianujian dari segala

cukup bulan, jumlah faktor yang mempengaruhi persalinan.


persalinan prematur,
jumlah anak hidup,
jumlah keguguran.
Perdarahan pada
kehamilan, persalinan,
nifas terdahulu, berat
bayi <> 4 kg.
Adanya masalahmaslah persalinan
kehamilan dan nifas
yang lalu
5. Riwayat
penyakit

Jantung, ttekanan

Data ini penting diketahui untuk melihat

darah tinggi, TBC,

adanya kemungkinan penyakit-penyakit yang

pernah operasi, alergi menyertai dan dapat mempengaruhi


obat/makanan, ginjal,

asma, epilepsi,

kehamilan.

penyakit hati, pernah


kecelaakaan.
6. Riwayat

- Anak

kembar

kesehhatan
keluarga

Data ini untuk melihat kemungkinan terjadi


terhadap ibu hamil dan mengupayakan

- Penyakit

menular

pencegahan dan penanggulangannya.

yang dapat
mempengaruhi
persalinan (TBC)
- Penyakit

keluarga

yang dapat
diturunkan CDM
7. Riwayat KB - Metode KB apa yang Data ini untuk menentukan rencana tindakan
dipakai dan lama dalam mengambil keputusan bila diperlukan
pemakaian

dan membantu dalam mengkaji keadaan


psikologis ibu.

8. Riwayat
sosial

- Status

soosial

ekonomi

ekonomi

Data ini untuk mengetahui adanya


kebiasaan-kebiasaan sehari-hari ibu yang
akan mempengaruhi kehamilan.

- Respon

ibu dan

keluarga terhadap
kehamilan
- Jumlah

kelluarga di

rumah yang
membantu
- Siapa

yang membuat

keputusan dalam
keluarga.
- Pendidikan,

pekerjaan,
penghasilan.
9. Pola

- Makan

dan minum

kegiatan
sehari-hari

Data ini untuk mengetahui adakah kebiasaan


sehari-hari ibu yang akan mempengaruhi

- Pola

eliminasi

- Keberhasilan

- Aktifitas

- Tidur

kehamilan.

diri

sehari-hari

dan istirahat

- Olahraga.

k.
Tabel 2.2.1.2.

l. Pengkajian data obyektif


m.

Pengkajian
Pemeriksaan umum

Hal yang dikaji

Rasionalisasi

- Kesadaran

Untuk menilai kesan pertama


kepadda klien dan menentukan

- Tinggi

- Berat

badan

badan

tindakan
Untuk memberikan gambaran
menganai ukuran panggul

- Tanda-tanda

vital;

suhu, nadi, tensi,

Untuk mengetahui status gizi ibu &


dapat dipantau perkembangannya.

respirasi
Untuk mengatahui adanya kelainan
pada sistem tubuh.
Pemeriksaan fisik
1. Inspeksi

- Rambut

: bersih/kotor Untuk mengetahui keadaan setiap

apakah mudah

bagian tubuh dan pengaruhnya

dicabut.

terhadap kehamilan

- Muka

adakah cloasma

gravidarum
- Mulut

dan gigi :

kebersihan,
stomatitis, caries
leher : addakah
pembesaran
kelenjar limfe.
- Dada

: bentuk

payudara
pigmentasi areola
pappila mamae
- Perut

apakah

pembesaran perut
sesuai umur
kehamilan, adakah
strie gravidarum

atau bekass operasi


- Vulva

: keadaan

perineum.
- Ekstremitas

: adakah

vances, oedema,
luka
2. Palpasi

- Leopold

- Leopold

II

- Leopold

III

- Leopold

IV

Menentukan TFU dan tuanya


kehamilan serta bagian apa yang di
fundus
Menentukan letak punggung anak
dengan presentasi membujur dan
menentukan kepala anak pada letak
lintang.
Menentukan apa yang terddapat
dibagian bawah dan apakah bagian
anak sudah masuk PGP atau belum.
Menentukan bagiaan bawah dan
seberapa masuknya.

3. Auscultasi

- Denyut

4. Perkusi

- Reflek

jantung janin

patella

Untuk mengetahui keadaan janin


mengetahui reflek patela bila
kemungkinan mengalami
kekurangan Vit B1.

5. Ukuran panggul luar - Distantia spinarum

Untuk mengetahui keadaan panggul


yang akan berpengaruh pada proses

- Distantia

cristorum

persalinan.

- Bordelogue

- Lingkar

6. Pemeriksaan

panggul

- Albumin

laboratorium

Untuk mengetahui faktor resiko ibu


hamil, misal : pre eklamsi

- Reduksi

Untuk mengetahui apakah ibu


- Hb

- HBSAg

mengidap DM
Untuk mengetahui faktor resiko
terhaddap anemia
Untuk mengetahui faktor resiko
terhadap hepaatitis

n.

2.2.1. Pengkajian

Data Dasar
S

Ibu mengatakan hamil ...... bulan

Diagnosa / Masalah
G............., P.............mgg

kehamilan ke berraapa, gerakan anak


O

mulai dirasakan kapan HDHT,


keluhan saat ini.

T/H, intra/ekstra uterin, letak, k/u


ibu.......

K/u ibu kesadaran ..........


BB........, TB......cm, , T......., S.........,
N......., R.........
Hasil inspeksi............
Hasil palpasi............
Hasil auscultasi.............
Hasil perkusi..............
Hasil pemeriksaan laboratorium

o.
2.2.3. Pengkajian

Diagnosa

G........,

D.........,

..........mgg,

T/H,

inttra

uterin

panggul.........k/u

ibu.............
Tujuan
Kriteria

:
:

kehamilan
-

Keadaan

berjalan
ibu

dan

- TFU sesuai umur kehamilan

Perencanaan
1. Lakukan komunikasi therapeutik
dengan klien
2. Berikan penjelasan pada px tentang
kondisi kehamilannya

Rassionalisasi
Dengan komunikasi therapeutik diharapkan
tercipta hubungan/ kerja sama yang baik
antara klien dan petugas
Pemberian informasi pada klien tentang
kondisi kehamilannya akan menambah
pengetahuan klien dan membuat klien

normal
janin

baik

tenang dan tidak cemas.

3. Berikan KIE
- Tanda-tanda

- Persiapan

Dengan penjelasan ibu akan lebih

persalinan

menngerti dan tidak akan bingung dalam


menghadapi masalah.

persalinan

Konvoi yang teratur akan dapat


- Tanda-tanda

bahaya

mempermudah kita untuk mendeteksi


kelainan-kelainan yang ada secara dini.

- Tempat

melahirkan

- Penolong

4. Anjurkan klien kontrol 1 bulan lagi

p.
2.2.4.

Implementasi

Implementasi

dilakukan

sesuai

dengan

rencana

tindakan

didalam

pelaksanaan

kemungkinan bidan melakukan tindakan secara langsung pada klien atau bekerjasama
(kolaborasi

dengan

tenaga

lain.

Kegiatan pelaksanaan perlu dikendalikan agar tetap menuju sasaran. Setiap tindakan
yang

dilakukan

memberikan

perubahan

2.2.5.

pada

sasaran.

Evaluasi

Tahap ini menentukan tingkat keberhasilan dari tindakan. Bila tindakan yang dilakukan
mencapai tujuan perlu dipertimbangkan kemungkinan masalah baru yang timbul akibat
keberhasilan. Dan sebaliknya bila tindakan tidak mencapai tujuan maka lanngkahlangkah sebelumnya perlu diteliti kembali.
q.

Diposkan oleh Muh. Andrian Senoputra di 16:30

Link ke posting ini

r.

Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook Berbagi ke Google Buzz

KEMBALIKAN RUU KEPERAWATAN DALAM PROGLESNAS 2011


Term Of Reference
Perawat adalah salah satu tenaga kesehatan yang menjadi ujung tombak pembangunan
kesehatan di Indonesia. Perawat sebagai tenaga kesehatan dengan proporsi terbesar
(60%) dan berada di garis terdepan dalam pemberian pelayanan kesehatan selama 24
jam secara terus menerus memberikan pelayanan kepada masyarakat di setiap sudut
pelosok negri ini. Namun keikhlasan perawat dalam mengabdikan diri pada bangsa
ternyata belum juga dipandang penting oleh pemerintah. Buktinya, sampai hari ini
pemerintah tidak menunjukkan itikad baik untuk memberi perlindungan hukum pada
profesi perawat.
Perjuangan panjang perawat Indonesia untuk mendapatkan payung hukum lewat UU
Keperawatan sebagaimana lazimnya negara lain terkesan terus dihambat. Bagaimana
tidak? Pada awalnya RUU Keperawatan sudah menjadi prioritas no. urut 160 dalam
Proglesnas 2004, no. urut 26 pada Proglesnas 2009 dan akhirnya menjadi inisiatif DPR
menjadi no. urut 18 tahun 2010. Tapi yang mengejutkan, setelah sekalipun menjadi
inisiatif DPR ternyata kebiasaan melenyapkan sesuatu yang sudah disepakati terjadi di
DPR pada Sidang Paripurna 12 Oktober 2010 yang semena mena menunda usulan Baleg:
justru memasukkan RUU NAKES yang bak siluman menggantikan RUU Keperawatan yang
sudah diinisiasi selama ini oleh DPR. Akhirnya, RUU Tenaga Kesehatan menggusur RUU

Keperawatan. Sampai hari ini, RUU Keperawatan masih didepak dari Baleg. Kenapa bisa
terjadi? Apa sebenarnya alasan serta keinginan DPR dan pemerintah belum juga
menggolkan RUU Keperawatan?. Belum cukupkah negara kita menjadi negara sisa
bersanding dengan Laos dan Timor Leste (apa iya dua ini aja atau Vietnam masih, trus
timor leste perlu disebutJ) yang belum punya UU Keperawatan (Nurses Act )? Bukankah
kewajiban yuridis negara menyediakan pengaturan yang kuat untuk menjamin pelayanan
kesehatan masyarakat dengan profesionalitas dan akuntabilitas perawat? Sudah
sepatutnya negara membuat pengaturan yang kuat untuk melindungi masyarakat dari
pelayanan perawat yang buruk dan tidak bertanggung jawab, yang sekaligus melindungi
para pemberi pelayanan pada masyakat dengan tidak terbatas pada kondisi geografi dan
strata sosial ekonomi serta berada pada semua seting pelayanan kesehatan. Namun disisi
lain, tidak ada pengaturan yang kuat untuk menjamin kompetensi dan kualitas asuhan
yang diberikan dan perlindungan dalam melayani masyarakat selama ini.
Mungkinkah negara ini perlu menunggu korban-korban perawat lainnya masuk ke sel
penjara layaknya kasus Misran yang pernah hangat hingga dibawa ke Mahkamah
Konstitusi bulan Mei 2010 lalu? Kasus Perawat Misran di Kalimantan Timur adalah fakta
tak terbantahkan betapa akan terancamnya pelayanan kesehatan pada daerah-daerah
terpencil bila perawat selalui dihantui oleh resiko masalah hukum karena tidak ada
pengaturan UU untuk perawat tersendiri. Kerap terjadi situasi darurat di daerah-daerah
di mana tidak terdapat dokter dan proses rujukan pasien ke rumah sakit karena
terkendala faktor geografis, biaya, jarak, dan ketersediaan sarana transportasi, tenaga
keperawatan terpaksa dituntut bak buah simalakama karena harus memberikan obatobat yang termasuk daftar G untuk menyelamatkan pasien. Padahal, UU Kesehatan tak
membolehkannya, tapi disisi lain,bila membiarkan pasien terlantar perawat pun terjerat
hukum.
Sampai kemarin, kami perawat Indonesia sudah cukup bersabartapi hari ini, demi
masyarakat yang selalu menjadi penguat perawat dalam menjalankan pengabdian
tulusnya dan demi rekan sejawat yang ikhlas mengabdi di persada negeri selama ini,
kami menuntut pemerintah dan DPR untuk mengembalikan RUU Keperawatan dalam
proglesnas 2011 dan menyerukan seluruh perawat Indonesia untuk bergerak
mengantarkan kembali RUU Keperawatan.
PRESS RELEASE
JANGAN ADA PERMAINAN LAGI
KEMBALIKAN RUU KEPERAWATAN DALAM PROGLESNAS 2011
Jakarta, 2 Nopember 2010, Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) menyatakan
kekecewaan yang sangat dalam terhadap sikap yang ditunjukkan oleh DPR dan
Pemerintah yang sampai hari ini tidak menunjukkan dukungan terhadap hadirnya RUU
Keperawatan di negri ini. Kami menyatakan sikap sebagai berikut:
1. Mendesak DPR bersama Pemerintah untuk mengembalikan RUU Keperawatan dalam
Prolegnas 2011

2. Menolak jika RUU Keperawatan digeser dalam RUU Tenaga Kesehatan . Keberadaan
RUU Nakes inisiasi pemerintah yang muncul bak siluman pada rapat paripurna
Oktober lalu menunjukkan ketidakadilan pada profesi perawat yang padahal selama
ini menjadi ujung tombak pemerintah dalam melayani masyarakat
3. DPR dan Pemerintah sepatutnya meminta maaf pada seluruh perawat Indonesia atas
sikap yang tidak adil dan terkesan tidak melindungi perawat. Lebih khusus terkait
dengan kasus Misran lalu, yaitu perawat yang bertugas di daerah terpencil dimana
tidak ada tenaga dokter dan apoteker sehingga memaksa perawat untuk melakukan
tindakan diluar wewenang seperti dalam pemberian obat demi keselamatan pasien.
Jangan sampai korban nyawa dari masyarakat kita sebagaimana yang telah terjadi
di Kabupaten Kutai Kertanegara Provinsi Kalimantan Timur tak menjadi suatu harga
dan terabaikan begitu saja.
4. Negara seharusnya berterima kasih terhadap kesediaan para tenaga perawat untuk
mau mengabdikan diri membantu masyarakat di daerah terpencil, terdalam dan
kepulauan sesuai dengan program yang dibuat sendiri oleh pemerintah, bahkan
dalam kondisi tertentu melakukan pekerjaan yang bukan wewenangnya dimana
tenaga kesehatan lain tidak tersedia dan bersedia.
5. DPR seharusnya berkonsentrasi untuk membahas justru substansi RUU Keperawatan
dan segera mensahkannya menjadi UU Keperawatan, mengingat perawat adalah
profesi mandiri yang memerlukan kepastian hukum dalam menjalankan praktik
profesinya serta untuk memberikan jaminan kepada masyarakat agar mendapatkan
pelayanan sesuai standar praktik sebagaimana negara lain yang telah mempunyai
Nurses Act.
6. Sikap perawat Indonesia terhadap RUU Nakes adalah sangat mendukung selama
mengatur hal-hal umum terkait tenaga kesehatan di Indonesia namun untuk hal
terkait pengaturan profesi perawat harus diatur dengan sebuah regulasi yang kuat
yaitu UU Keperawatan yang secara akademik dan politik mendapat dukungan dari
berbagai pihak sehingga diprioritaskan di tahun 2010.
7. Kami menyerukan kepada seluruh perawat Indonesia untuk tetap memberikan
pelayanan kesehatan kepada masyarakat sesuai dengan discipline ilmu dan kode
etik profesi, namun bila RUU Keperawatan tetap tidak menjadi Prioritas maka kami
akan melakukan MOGOK NASIONAL dalam pelayanan Kesehatan.
Semoga pengabdian perawat selama ini tidak membuat DPR dan pemerintah lupa akan
perlindungan hukum terhadap ujung tombak pelayanan kesehatan di negri ini. Atau
Semoga pengabdian perawat selama ini tidak dikhianati oleh penyelenggara negara.
Hormat dan terimakasih kami sampaikan pada rekan sejawat di seluruh pelosok
Indonesia yang telah bersedia dan bekerja tanpa pamrih selama ini. Kepada seluruh

rakyat Indonesia, terimakasih atas dukungan yang diberikan selama ini. Kami akan tetap
dan selalu berusaha memberikan upaya terbaik untuk membangun negara.
Contact Person : Harif Fadhillah, Ketua Satgas RUU Keperawatan PPNI
08161435752
Popularity: 17% [?]

Kata kunci yang berhubungan dengan artikel ini:


Ruu Keperawatan (168)
RUU Keperawatan 2011 (50)
keperawatan (40)
ruu keperawatan terbaru (31)
UNDANG-UNDANG KEPERAWATAN 2011 (31)
ruu keperawatan 2010 (15)
uu keperawatan (14)
artikel keperawatan terbaru (12)
uu perawat (9)
uu keperawatan 2011 (8)

TREN DAN ISU MUTAKHIR PRAKTEK PERAWAT


Minggu, 05 Oktober 08 - Dian Roslan Hidayat M.Kes
Upaya-upaya bidang kesehatan selama ini seperti preventif, promoti, kuratif dan
rehabilitatif rupanya perlu mendapatkan refleksi dari perawat. Kritisi tersebut
bukan untuk menggugat cakupan pelayanan kesehatan, melainkan perawat perlu
menciptakan model praktik pelayanan perawatan yang khas dan berbeda,
sehingga meskipun perannya tidak langsung berdampak terhadap peningkatan
indeks pembangunan manusia, namun tetap berarti (mengisi sektor yang
kosong/tidak tergarap) karena perannya tidak identik dengan profesi lain atau
sebagai sub sistem tenaga kesehatan lainnya.
Mengingat hal hal tersebut kita perlu mencermati beberapa peristiwa di belahan
dunia lain, akan perubahan perubahan konsep dan pengembangan kesehatan.
Khususnya di negara maju seperti Amerika, hasil riset yang dikemukakan oleh
Bournet (dalam Jurnal Riset) tentang perkembangan Hospital At Home atau
perawatan pasien di rumah mereka sendiri, secara kuantitatif menunjukan
peningkatan dari tahun ke tahunnya. Pada tahun 1970an rasionya adalah 291 ; 1 ,
kemudian tahun 1990an perbandingannya sekitar 120 ; 1 dan terakhir penelitian
pada tahun 2004 perbedaannya menjadi semakin tipis yaitu 12 ; 1. Masih
penelitian tentang Hospital At Home dan di Amerika menunjukan bahwa, tingkat
kepuasan pasien yang di rawat di rumahnya sendiri lebih memuaskan pasien dan
keluarga dibandingkan dengan mereka yang dirawat di rumah sakit. Bila kita
melihat tren dan isu di negara lain tersebut kita dapat membuat satu analisis
bahwa, Hospital At Home akan menjadi salah satu model anyar yang
perkembangannya akan sangat pesat.
Implikasinya bagi perawat dan praktek keperawatan jelas hal ini merupakan angin
surga, karena dengan praktik dalam model Hospital At Home, perawat akan
menunjukan eksistensinya. Keuntungannya dalam meningkatkan peran perawat
antara lain; (1) Otonomi praktik keperawatan akan jelas dibutuhkan dan dibuktikan,
mengingat kedatangan perawat ke rumah pasien memikul tanggung jawab profesi,
(2) Perawat dimungkinkan menjadi manager/ leader dalam menentukan atau
memberikan pandangan kepada pasien tentang pilihan pilihan tindakan atau
rujukan yang sebaiknya ditempuh pasien, (3) Patnership, berdasarkan pengalaman
di lapangan kebersamaan dan penghargaan dengan sesama rekan sejawat serta
profesi lain memperlihatkan ke-egaliterannya , (4) Riset dan Pengembangan Ilmu,
hal ini yang paling penting, dengan adanya konsistensi terhadap keperawatan

nampak fenomena keunggulan dari Hospital At Home ini, ketika perawat mengasuh
pasien dengan jumlah paling ideal yaitu satu pasien dalam satu waktu, interaksi
tersebut selain memberikan tingkat kepuasan yang baik juga memberikan
dorongan kepada perawat untuk memecahkan masalah secara scientific approach.
Berdasarkan uraian tersebut jelaslah bahwa ruang kosong praktek Hospital At
Home ini menjadi peluang bidang garap yang akan menambah tegas betapa
perawat memiliki peran yang tidak identik dan tidak tergantikan. Pengalaman di
lapangan membuktikan tentang betapa tingginya animo masyarakat akan
kehadiran Hospital At Home (Nursing At Home), hanya saja ada beberapa
tantangan yang menuntut keseriusan untuk segera mengembangkan model ini.
Tantanga tersebut diantaranya adalah Infrastruktur Hospital At Home yang sangat
mahal, salahsatunya adalah keberadaan alat kesehatan, dengan konsep one tools
one patien/home, maka bisa dibayangkan kebutuhan alat kesehatan ini akan
semakin membengkak, baik kebutuhan secara jumlah ataupun mahalnya alat
tersebut. Kedua adalah sosialisasi, perlu adanya perumusan metoda sosialisasi
yang efektif, ethic dan legal dalam mengenalkan model pelayanan Hospital At
Home tersebut agar tidak terjadi misinterpretasi dan miskomunikasi.

Dian Roslan Hidayat S.Kep M.Kes


Direktur Utama Intan Nursing Center Garut
Dosen Stikes Karsa Husada Garut
LARANGAN BERJILBAB BAGI PERAWAT
Pilu..Itulah perasaan seorang Winnie Dwi Mandella, perawat di RS Mitra
Keluarga Bekasi Barat. Betapa tidak? Di negeri mayoritas Muslim ini, ia
diperlakukan tidak adil. Dipecat dari pekerjaannya hanya karena mengenakan
kerudung/jilbab.
Alasan pihak manajemen adalah sesuai peraturan perusahaan, tidak memakai
pakaian seragam kerja yang telah ditetapkan perusahaan berikut
perlengkapannya sesuai dengan perlengkapan di unit kerja masing-masing.
Padahal tertuang dalam UU No. 13 /2003 tentang Ketenagakerjaan Pasal 153
huruf c, menyatakan bahwa pengusaha dilarang memutuskan hubungan kerja dengan
alas an pekerja/buruh menjalankan ibadah yang diperintahkan agamanya.
Artinya, undang-undang tersebut mengikat seluruh rakyat Indonesia beribadah
menjalankan seluruh perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Dalam Islam
sendiri diwajibkan bagi perempuan yang telah baliq untuk menutup rapat
auratnya kecuali muka dan telapak tangan. Tindakan rumah sakit tersebut yang
memecat perawat karena mengenakan jilbab adalah sebuah kesewenang-wenangan.

Dalam UUD 1945 Pasal 29 ayat 2 diatur bahwa Negara menjamin kemerdekaan
tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut
agamanya dan kepercayaannya. Jelas bahwa siapapun berhak berjilbab di
tempat kerjanya. Jadi, jika ada yang melanggar pasal tersebut, perusahaan
perlu merevisi peraturannya.

LANDASAN HUKUM PROFESI PERAWAT


I Wayan Titib Sulaksana, SH., M.S.
Dosen Hukum FH UNAIR & Ketua YLBHI Surabaya
Manusia sebagai makhluk sosial yang selalu senantiasa berhubungan dengan manusia lain dalam
masyarakat, senantiasa diatur diantaranya norma agama, norma etik dan norma hukum. Ketiga
norma tersebut, khususnya norma hukum dibutuhkan untuk menciptakan ketertiban di dalam
masyarakat. Dengan terciptanya ketertiban, ketentraman dan pada kahirnya perdamaian dalam
berkehidupan, diharapkan kepentingan manusia dapat terpenuhi. Kesehatan, sebagai salah satu
kebutuhan pokok manusia selain sandang, pangan, papan dan pendidikan, perlu diatur dengan
berbagai piranti hukum. Sebab pembangunan di bidang kesehatan diperlukan tiga faktor :
1. perlunya perawatan kesehatan diatur dengan langkah-langkah tindakan konkrit dari
pemerintah
2. perlunya pengaturan hukum di lingkungan sistem perawatan kesehatan
3. perlunya kejelasan yang membatasi antara perawatan kesehatan dengan tindakan tertentu.
Ketiga faktor tersebut memerlukan piranti hukum untuk melindungi pemberi dan penerima jasa
kesehatan, agar ada kepastian hukum dalam melaksanakan tugas profesinya. Dalam pelayanan
kesehatan (Yan-Kes), pada dasarnya merupakan hubungan unik, karena hubungan tersebut
bersifat interpersonal. Oleh karena itu, tidak saja diatur oleh hukum tetapi juga oleh etika dan
moral. Di dalam konteks ini, saya mencoba memberikan pemahaman kepada kawan-kawan
perawat tentang arti penting peraturan hukum di bidang kesehatan dalam melaksanakan tugas
pelayanan kesehatan.
I. Undang-Undang No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan
I.1. BAB I Ketentuan Umum, Pasal 1 Ayat 3
Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta
memiliki pengetahuan dan atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang
untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.
I.2. Pasal 1 Ayat 4
Sarana Kesehatan adalah tempat yang dipergunakan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan.
II. Keputusan Menteri kesehatan Republik Indonesia Nomor:
1239/MENKES/SK/XI/2001 tentang Registrasi dan Praktek Perawat (sebagai revisi dari SK No.

647/MENKES/SK/IV/2000)
II.1. BAB I Ketentuan Umum Pasal 1 :
Dalam Keputusan Menteri ini yang dimaksud dengan :
1. Perawat adalah orang yang telah lulus pendidikan perawat baik di dalam maupun di luar
negeri sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2. Surat Izin Perawat selanjutnya disebut SIP adalah bukti tertulis pemberian kewenangan untuk
menjalankan pekerjaan keperawatan di seluruh Indonesia (garis bawah saya).
3. Surat Ijin Kerja selanjutnya disebut SIK adalah bukti tertulis untuk menjalankan pekerjaan
keperawatan di seluruh wilayah Indonesia (garis bawah saya).
ketentuan Pidana yang diatur dalam Pasal 359, 360, 351, 338 bahkan bisa juga dikenakan pasal
340 KUHP. Salah satu contohnya adalah pelanggaran yang menyangkut Pasal 32 Ayat (4)
Undang-Undang No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan. Dalam ketentuan tersebut diatur
mengenai pelaksanaan pengobatan dan atau perawatan berdasarkan ilmu kedokteran atau ilmu
keperawatan hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan
kewenangan untuk itu. Pelanggaran atas pasal tersebut dapat dikenakan sanksi pidana
sebagaimana diatur dalam Pasal 82 ayat (1a) Undang-Undang No. 23 tahun 1992 tentang
Kesehatan :
barang siapa yang tanpa keahlian dan kewenagan dengan sengaja : melakukan pengobatan dan
atau peraywatan sebagaimana dimaksud pasal 32 ayat (4), dipidana dengan pidana penjara
paling lama 5 (lima) tahun atau pidana denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta
rupiah).
perorangan/berkelompok (garis bawah saya).
5. Standar Profesi adalah pedoman yang harus dipergunakan sebagai petunjuk dalam
menjalankan profesi secara baik
II.1.2. BAB III Perizinan, Pasal 8 :
1. Perawat dapat melaksanakan praktek keperawatan pada sarana pelayanan kesehatan, praktek
perorangan/atau berkelompok.
2. Perawat yang melaksanakan praktek keperawatan pada sarana pelayanan kesehatan harus
memiliki SIK (garis bawah saya).
3. Perawat yang melakukan praktek perorangan/berkelompok harus memiliki SIPP (garis bawah
saya).
Pasal 9 Ayat 1
SIK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 Ayat 2 diperoleh dengan mengajukan permohonan
kepada kepala dinas kesehatan kabupaten/kota setempat.
Pasal 10

SIK hanya berlaku pada 1 (satu) sarana pelayanan kesehatan.


Pasal 12
(1).SIPP sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 ayat (3) diperoleh dengan mengajukan
permohonan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat.
4. Surat Ijin Praktek Perawat selanjutnya disebut SIPP adalah bukti tertulis yang diberikan
perawat untuk menjalankan praktek perawat
(2).SIPP hanya diberikan kepada perawat yang memiliki pendidikan ahli madya keperawatan
atau memiliki pendidikan keperawatan dengan kompetensi yang lebih tinggi.
Pasal 13
Rekomendasi untuk mendapatkan SIK dan/atau SIPP dilakukan melalui penilaian kemampuan
keilmuan dan keterampilan bidang keperawatan, kepatuhan terhadap kode etik profesi serta
kesanggupan melakukan praktek keperawatan.
Pasal 15
Perawat dalam melaksanakan praktek keperawatan berwenang untuk :
a. melaksanakan asuhan keperawatan meliputi pengkajian, penetapan diagnosa keperawatan,
perencanaan, melaksanakan tindakan keperawatan dan evaluasi keperawatan.
b. Tindakan keperawatan sebagaimana dimaksud pada butir a meliputi : intervensi keperawatan,
observasi keperawatan, pendidikan dan konseling kesehatan.
c. Dalam melaksanakan asuhan keperawatan sebagaimana dmaksud huruf a dan b harus sesuai
dengan standar asuhan keperawatan yang ditetapkan organisasi profesi.
d. Pelayanan tindakan medik hanya dapat dilakukan berdasarkan permintaan tertulis dari dokter
(garis bawah saya).
Pengecualian pasal 15 adalah pasal 20;
(1). Dalam keadaan darurat yang mengancam jiwa pasien/perorangan, perawat berwenang untuk
melakukan pelayanan kesehatan diluar kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15.
(2). Pelayanan dalam keadaan darurat sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1) ditujukan untuk
penyelamatan jiwa.
Pasal 21
(1).Perawat yang menjalankan praktek perorangan harus mencantumkan SIPP di ruang
prakteknya. (garis bawah saya).
(2).Perawat yang menjalankan praktek perorangan tidak diperbolehkan memasang papan
praktek (garis bawah saya).
Pasal 31

(1). Perawat yang telah mendapatkan SIK aatau SIPP dilarang :


a. menjalankan praktek selain ketentuan yang tercantum dalam izin tersebut.
b. melakukan perbuatan bertentangan dengan standar profesi.
(2). Bagi perawat yang memberikan pertolongan dalam keadaan darurat atau menjalankan tugas
di daerah terpencil yang tidak ada tenaga kesehatan lain, dikecualikan dari larangan
sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) butir a.
Di dalam praktek apabila terjadi pelanggaraan praktek keperawatan, aparat penegak hukum
lebih cenderung mempergunakan Undang-Undang No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan dan
ketentuanSebagai penutup, saya sangat berharap adanya pemahaman yang baik dan benar tentang
beberapa piranti hukum yang mengatur pelayanan kesehatan untuk menunjang pelaksanaan
tugas di bidang keperawatan dengan baik dan benar

Perlu Dibuat Payung Hukum bagi Profesi Perawat


Kalangan perawat tetap menginginkan payung hukum dalam bentuk undang-undang untuk menjamin rekrutmen,
pendidikan dan pelayanan yang berkualitas.
Pada 12 Mei 2008 lalu, depan gedung DPR RI dipenuhi belasan ribu pengunjuk rasa
berseragam putih-putih. Tidak seperti biasanya dimana pengunjuk rasa adalah mahasiswa
atau elemen pro-demokrasi lainnya, kali itu para pengunjuk rasa adalah para perawat.
Mereka tergabung dalam Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).
Tuntutan PPNI dalam unjuk rasanya tentu tidak terkait dengan masalah kenaikan harga
atau menurunkan rezim pemerintahan. Tuntutan mereka utamanya hanyalah mendesak
agar pemerintah dan DPR segera meng-gol-kan RUU Keperawatan.
Perlunya perlindungan hukum, dalam bentuk undang-undang, terhadap profesi perawat
adalah sebuah keniscayaan. Pandangan ini dilontarkan Dewi Irawaty, Dekan Fakultas Ilmu
Keperawatan UI kepada hukumonline yang ditemui dalam acara Peluncuran Progam
Doktoral Ilmu Keperawatan UI di Jakarta, akhir pekan lalu.
Keberadaan profesi perawat, kata Dewi, selama ini bukannya tanpa dasar hukum.
Memang selama ini ada beberapa aturan hukum yang mengatur mengenai perawat. Tapi
bukan dalam sebuah undang-undang. Paling hanya keputusan Menteri Kesehatan, ucap
Dewi.
Bagi Dewi, profesi perawat yang bertanggung jawab terhadap keselamatan dan
kemaslahatan umat, seharusnya diatur dalam sebuah undang-undang. Perawat ini butuh
aturan hukum yang lebih tinggi yang mengatur mengenai kualitas dan pelayanan termasuk
juga sanksi bagi perawat yang tidak melaksanakan tugasnya dengan baik.
Hal senada diungkapkan Harif Fadhilah. Sekretaris I PPNI ini melihat adanya
ketidakharmonisan dalam beberapa regulasi seputar perawat. Dalam beberapa regulasi

yang ada, terjadi ketidakharmonisan pengaturan dalam segi perekrutan, pendidikan


maupun pelayanan kesehatan oleh perawat, jelas Harif via telepon Jumat (19/9).
Saking pentingnya undang-undang ini, jelas Harif, sampai-sampai PPNI mengaku sudah
memperjuangkannya sejak tahun 1989. Walaupun konsep RUU-nya baru kami telurkan
pada 1998. Hingga saat ini, kami sudah menyempurnakan RUU ini hingga 19 kali. Sekarang
sedang penyempurnaan yang kedua puluh kalinya.
Meski sudah berpuluh kali disempurnakan, pemerintah tak kunjung memprioritaskan untuk
segera dibahas di Senayan. Pasca demonstrasi Mei lalu itu, PPNI memilih potong
kompas. Mereka mendesak agar RUU Keperawatan dijadikan RUU inisiatif DPR. Kami
sempat senang karena Ketua DPR sudah berkirim surat ke Badan Legislatif DPR untuk
memprioritaskan RUU ini ke dalam Prolegnas 2008. Sayang, hingga kini tak ada kabar
gembira lagi dari gedung DPR itu, keluh Harif.
Problem rekrutmen
Seperti ditegaskan Harif, perangkat hukum yang ada saat ini masih memicu masalah
sendiri bagi dunia keperawatan. Dari segi rekrutmen misalnya. Menurut Harif, meski ada
Keputusan Menkes bernomor 1239 Tahun 2001 tentang Registrasi dan Praktik Perawat,
ternyata tidak sesuai dengan harapan.
Rekrutmen perawat, kata Harif, seharusnya melalui sebuah uji kompetensi. Praktiknya
selama ini hanya melalui uji formalitas. Selama ini hanya berdasarkan kelulusan
formalitas saja dari perguruan tinggi atau akademi kesehatan. Padahal untuk melayani
kesehatan masyarakat, dibutuhkan perawat yang berkualitas yang dihasilkan melalui uji
kompetensi.
Masalah mendasar yang muncul kemudian adalah lembaga yang berwenang menguji
kompetensi calon perawat. Kalau praktik di luar negeri, instansi yang berwenang menguji
kompetensi adalah konsil perawat, yaitu semacam badan independen, timpal Dewi.
PPNI dalam RUU Keperawatan memang tegas menyebut Konsil Keperawatan Indonesia
sebagai suatu badan otonom yang bersifat independen. Salah satu tugas konsil ini adalah
melakukan uji kompetensi dan registrasi perawat. Selain itu, Konsil juga bertugas untuk
menyusun standar pendidikan dan pembinaan terhadap praktik penyelenggaraan profesi
perawat.
Di Indonesia, lembaga Konsil ini dikenal dalam UU No 29 Tahun 2004 tentang Praktik
Kedokteran. Tugasnya mirip dengan konsil yang ada dalam RUU Keperawatan. Bedanya,
konsil dalam UU Praktik Kedokteran ditujukan bagi dokter umum dan dokter gigi.
Bagi Dewi, seharusnya tidak ada pembedaan perlakuan antara profesi dokter dengan
perawat. Toh keduanya sama-sama melayani masyarakat dalam bidang kesehatan. Jadi
kalau di dunia kedokteran ada konsil, harusnya juga ada nursing regulatory body bagi

perawat.
Tidak Bisa Bersaing
Jika dirunut, masalah rekrutmen dan registrasi perawat bisa menimbulkan masalah lain.
Salah satunya mengenai daya saing tenaga kerja perawat Indonesia dengan perawat luar
negeri.
Harif menuturkan contoh ketika pada suatu waktu tenaga perawat Indonesia hanya bisa
dipakai sebagai pembantu perawat di Jepang. Sekadar ilustrasi, menurut Harif, dalam
dunia keperawatan internasional dikenal empat jenjang. Paling buncit adalah jenjang
pembantu perawat.
PPNI merasa riskan dengan kondisi dan kemampuan daya saing perawat Indonesia ini.
Apalagi saat ini Indonesia sudah menandatangani Mutual Recognition Arrange (MRA),
semacam perjanjian pertukaran perawat di antara negara-negara ASEAN. Januari 2010
nanti, MRA itu sudah resmi berlaku. Nanti jadi apa perawat Indonesia di luar negeri?
Harif khawatir.
Ketidakprofesionalan rekrutmen dan sistem registrasi perawat juga bisa berdampak pada
pelayanan kesehatan ke masyarakat. Dengan kondisi dimana sebaran dokter belum merata
di seluruh Indonesia, maka perawat diharapkan bisa menjadi ujung tombak pelayanan
kesehatan terhadap masyarakat.
Walaupun sebenarnya tindakan kesehatan atau medis yang diambil seorang perawat
adalah tindakan yang sifatnya emergency. Nantinya perawat itu harus segera melakukan
tindakan kolaboratif dengan dokter. Oleh karena itu, kami juga membekali perawat dengan
mata kuliah pengobatan yang sifatnya emergency, papar Dewi.
RUU Keperawatan lebih jauh mengatur mengenai tindakan medik terbatas yang bisa
dilakukan oleh perawat yaitu sebagai jenis dan bentuk tindakan medik yang disepakati
bersama dengan profesi kedokteran melalui ketetapan menteri kesehatan dan dilakukan
oleh perawat professional yang kompeten dibidangnya.
Menurut Harif, pengaturan hukum mengenai kewenangan perawat mengambil tindakan
medis terbatas itu mutlak diperlukan untuk melindungi perawat. Karena ada salah satu
pasal dalam UU Praktik Kedokteran yang bisa dipakai untuk menjerat perawat. Ini terbukti.
Ada beberapa perawat kami di daerah yang ditangkapi polisi, pungkasnya.

(IHW)
(Sumber : http://cms.sip.co.id/hukumonline)