You are on page 1of 3

Membangun Sinergitas Petani Menyongsong

Masyarakat Ekonomi Asean


Pelaksanaan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sudah tidak lama lagi, tinggal 38 minggu saja.
Sudah sampai di mana kesiapan petani kita menghadapi era MEA tersebut? Di mana nantinya
dalam sistem pasar bebas negara-negara yang tergabung dalam Asean ini akan bebas menjual
produknya. Apakah nilai jual yang dihasilkan petani kita akan mampu berkompetisi dan memberi
nilai lebih bagi petani tersebut?
Ada dua kegiatan penting agar petani bisa bersinergi dalam menghadapi era MEA
tersebut. Pertama, aksi kolektif petani melalui kegiatan penguatan kelembagaan petani (peran
kelembagaan petani). Kedua, kegiatan pemberdayaan petani melalui pengawalan dan
pendampingan penyuluhan (peran penyuluh).
Bagaimana petani melakukan kegiatan secara bersama guna meningkatkan posisi tawar mereka
(bargaining position) yaitu dengan cara berkelompok; seperti membuat kelembagaan kelompok
tani, koperasi petani, kelompok usaha bersama (KUB), pusat pelatihan petani dan perdesaan
swadaya (P4S) dll. Karena, dalam konsep aksi kolektif, Marshall (1988) menggambarkan aksi
kolektif sebagai tindakan yang diambil oleh suatu kelompok (baik secara langsung maupun
melalui organisasi) untuk mencapai kepentingan bersama.
Jadi peran petani secara individu akan lebih kuat jika mereka bergabung dalam kelompok tani.
Melalui aksi kolektif, petani dalam kelompok tani dapat berinteraksi dan bernegosiasi dengan
para pihak luar serta membangun jaringan kerja dalam rangka memperjuangkan hak bersama di
dalam kelompok taninya. Aksi kolektif (kelompok) lebih kuat daripada aksi individu. Melalui
kelompok tani, petani bisa melakukan proses pembelajaran yang dilakukan mendorong motivasi
setiap individu (petani) anggota kelompok untuk melakukan aksi bersama guna mencapai satu
tujuan. Kepentingan bersama menjadi aspek penting dan menjadikan semangat bagi anggota
kelompok untuk bekerjasama.
Jika kelembagaan petani sudah kuat, mereka bisa menjalin mitra dengan luar lembaganya seperti
bank dan pasar. Misalnya, dalam mengakses modal ke bank akan menjadi lebih mudah jika suatu
lembaga itu sudah besar dan kuat, sehingga pihak bank percaya untuk menanamkan modalnya
kepada lembaga petani tersebut, seperti LKMA atau koperasi petani (Koptan). Begitu juga dalam
masalah pemasaran hasil pertanian, suatu kelompok tani/Gapoktan yang bagus kelembagaannya
akan mudah bernegosiasi dengan perusahaan untuk mendistribusikan hasil pertanian mereka.
Kelompok tani biasanya sudah bisa membuat suatu nota kesepahaman (MoU) dengan cv.tertentu
dalam pemasaran hasil, sehingga petani tidak perlu ragu untuk tetap berproduksi dan takut akan
harga yang rendah. Kelembagaan petani yang bagus juga sudah bisa mengakses informasi
dengan cepat. Itu semua terwujud karena adanya kegiatan proses pembelajaran yang terus
menerus yang dilakukan oleh petani dalam kelompok taninya melalui kegiatan pemberdayaan
petani melalui pendampingan penyuluhan.

Di jaman memasuki era perdagangan bebas Asia Tenggara ini, tentu saja peranan kelembagaan
petani tadi menjadi penting, karena sudah jelas peran kelompok akan lebih besar dan kuat
daripada petani individual. Untuk mewujudkan kelembagaan petani yang kuat tidak terlepas dari
peran petani dan penyuluh dalam proses kegiatan penyuluhan pertanian. Kegiatan pemberdayaan
petani melalui pengawalan dan pendampingan penyuluhan (peran penyuluh)menjadi penting
karena bersifat berkelanjutan.
Penyuluhan pertanian telah memegang peranan penting dalam pembangunan pertanian kaitannya
dalam peningkatan kualitas sumberdaya manusia pertanian. Melalui penyelenggaraan
penyuluhan pertanian, para pelaku utama pembangunan pertanian yaitu petani dapat mengubah
perilakunya baik itu pengetahuan, sikap dan keterampilannya menuju ke arah perbaikan sistem
usaha tani yang akan membawa ke arah peningkatan produktivitas, pendapatan dan selanjutnya
akan mengarah pada peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan keluarga petani
Penyuluhan pertanian juga merupakan langkah pemberdayaan petani yang akan mencetak petanipetani yang mandiri dalam menyelesaikan permasalahannya tanpa adanya ketergantungan secara
terus-menerus kepada pihak lain. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun
2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (SP3K) menyebutkan
bahwa penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan yang selanjutnya disebut penyuluhan
adalah proses pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mereka mau dan mampu
menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi,
permodalan dan sumberdaya lainnya, sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi
usaha, pendapatan dan kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi
lingkungan hidup.
Suhardiyono (1992) menjelaskan bahwa penyuluh pertanian memiliki beberapa peran yang dapat
diisi secara bertahap, yaitu : 1. Penyuluh sebagai pembimbing petani; 2. Penyuluh sebagai
organisator dan dinamisator petani; 3. Penyuluh sebagai teknisi; 4. Penyuluh sebagai jembatan
penghubung antara lembaga penelitian dengan petani.
Pernyataan ilmiah para pakar penyuluhan nasional maupun internasional : bahwa penyuluhan
mempunyai peranan yang sangat penting dalam pembangunan pertanian, antara lain: (a)
melaksanakan pendidikan pertanian di tingkat petani, (b) menyediakan informasi publik untuk
menjamin ketahanan pangan dan peningkatan produksi pertanian dan (c) secara umum
berkontribusi meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan petani.
Bagaimanapun, peran penyuluhan sangat diperlukan dalam proses pemberdayaan petani melalui
kelembagaan petani untuk mewujudkan kelembagaan petani yang berkualitas yang mampu
menghasilkan petani-petani yang handal dan siap berkompetisi dengan hasil produksinya dalam
era MEA yang semakin dekat. Mari, saling bersinergi antara petani dan penyuluh untuk siap-siap
berkontribusi bagi bangsa Indonesia di bidang pertanian dalam menyongsong Masyarakat
Ekonomi Asean.
sumber
(http://tabloidsinartani.com/read-detail/read/membangun-sinergitas-petanimenyongsong-masyarakat-ekonomi-asean/)