You are on page 1of 3

Profil Pendiri Muhammadiyah

KH Ahmad Dahlan yang memiliki nama kecil Muhammad Darwis lahir pada tahun
1868 dari pasangan KH Abu Bakar yang merupakan seorang khatib dan Imam besar di
Masjid besar Kesultanan Yogjakarta sedangkan Ibunya bernama Siti Aminah yang merupakan
anak seorang penghulu yang bernama Haji Ibrahim. Ia merupakan anak ke empat dari tujuh
bersaudara. Dari silsilah tersebut menunjukkan bahwa Ahmad Dahlan merupakan keturunan
priyayi dan kyia sekaligus.
Muhammad Darwis berguru tentang pendidikan agama Islam dari ayah, kakak iparnya
(KH Muhammad Shalih, KH Muhsin dan KH Muhammad Nur), dan KH Abdul Hamid serta
KH Dahlan Semarang. Pendidikan agama yang telah didapatnya menjadi bekalnya untuk
berangkat ke Tanah Suci. Muhammad Darwis menunaikan Ibadah hajinya sebanyak dua kali.
Kemudian ia kembali ke tanah kelahirannya dan mengubah namanya menjadi Ahmad Dahlan
sesuai dengan nama pemberian gurunya di Tanah Suci. Setelah kembali dari Tanah Suci
Ahmad Dahlan menikah dengan Siti Walidah yang pada saat itu berusia 17 tahun. Pernikahan
mereka dihadiri oleh para ulama dan menjadi ajang pertemuan para ulama se-Jawa. Setelah
menikah ia juga menjadi seorang pedagang batik. Allah memanggil orang yang paling
dikasihi oleh Dahlan yaitu ibunya tepat setelah kelahiran putri pertamnya yang diberi nama
Siti Johana.
Ayah Dahlan memberi kepercayaan kepadanya untuk memberi pengajian kepada
anak-anak, remaja dan selanjutnya kepada orang dewasa. Namun, ia merasa resah karena
pelaksaan syariat Islam yang mengarah ke arah Bidah yang dilakukan oleh masyarakat
Yogjakarta, sehingga ia bercita-cita untuk melakukan perubah. Perubahan tersebut dimulai
dengan keinginannya mengubah arah kiblat masjid Kesultanan Yogjakarta. Keinginan
tersebut ditentang oleh para kaum tua dan menimbulkan kemarahan kyia penjaga tradisi (kyia
Penghulu Kamaludiningrat). Dan Akhirnya Dahlan mendirikan langgarnya sendiri yang
diarahkan ke arah kiblat yang sebenarnya. Langar tersebut juga akhirnya dihancurkan oleh
warga karena dianggap Dahlan telah menyebarkan dan mengajarkan aliran sesat. Hal tersebut
membuatnya hampir menyerah dan hampir meninggalkan tanah kelahirannya hingga salah
seorang anggota keluarga mengahalangi niatnya tersebut dan membangun kembali langgar
yang sebelumnya telah dihancurkan.
Dahlan kembali bangkit dan bersemangat setelah mendapat dukungan dari keluarga
dan murid-muridnya serta orang-orang yang memiliki pemikiran yang terbuka. Setelah
kepergian ayahnya, ia diberi kepercayaan untuk menggantikan posisi ayahnya sebagai khatib

tetap masjid Gedhe Kauman. Bahkan kraton menetapkannya sebagai anggota Raad Agama
Islam Islam Hukum Kraton.
Saat usianya yang ke 35 tahun ia menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya atas
dukungan dari Sri Sultan Kraton Yogja. Dan pada saat itu ia kembali memperdalam ilmu
agama Islam dan bersentuhan dengan gerakan pembaharuan dalam Islam di Timur Tengah. Ia
juga banyak membaca berbagai kitab dari tokoh pemabaharuan Islam seperti Taqqiyudin Ibnu
Taimiyyah, Jamaludin Al Afghani dan Muhammad Abduh hal tersebut secara tidak langsung
ia semakin termotivasi untuk melakukan perubahan.
Setelah kembali dari Tanah Suci ia mengundurkan diri dari khatib masjid Gedhe dan
pada tahun 1909 beliau bergabung dengan perkumpulan Boedi Oetomo dengan tujuan dapat
memperluas ajaran Islam dan memberikan pelajaran agama di sekolah-sekolah dan kantor
pemerintahan. Namun, karena dekat dengan para cendikiawan Jawa di Boedi Oetomo beliau
dituduh sebagai kyai kejawen. Tapi tuduhan tersebut tidak menyurutkan semangat para murid
(pemuda) kauman untuk terus belajar agama dari beliau.
12 November 1912 M ditetapkan oleh KH Ahmad Dahlan sebagai lahirnya
Muhammdiyah. Ditemani oleh isterinya dan lima orang murid setianya yaitu Sudja, Sangidu,
Fahruddin, Hisyam dan Dirjo beliau membentuk perkumpulan tsb. Boedi Oetomo membantu
Dahlan dalam mengurus izin pendirian perkumpulan. Permohonan izin tersebut disambut
baik dan mendapat persetujan dari Sri Sultan yang mengharapkan kehadiran suatu
perkumpulan Islam sejak dulu. Sri Sultan berpesan agar kelak Muhammadiyah tidak
mengecilkan kedudukan masjid Gedhe. Menurut KH Ahmad Dahlan fungsi Masjid Kauman
tidak akan tergantikan karena Muhammaddiyah adalah wadah untuk meningkatkan
pendidikan umat. Hingga akhirnya pada 18 November 1912M turunlah surat izin pendirian
perkumpulan tersebut dan di Sabtu terahir bulan Desember 1912 pendirian perkumpulan tsb
diumumkan kepada masyarakat yang dihadiri oleh keluarga besar KH Ahmad Dahlan dan
undangan.
Di periode awal berdirinya kekuatan utama gerakan Muhammadiyah ialah etika dan
semngat kewelas-asihan atas sesama, sikap terbuka dan toleransi. Sehinga gerakan ini juga
mendapat dukungan dari orang Belanda, China dan priyayi Jawa. Hal tersebut Dr. Soetomo
(salah seorang pemimpin Boedi Oetomo) bersedia menjadi advisor HB Muhammadiyah
bidang Kesehatan.
Sosok kyai Dahlan merupakan sosok intelektual organik, beliau menjalakan fungsi
intelektualnya sebagai organisator dan penggerak bagi kaumnya dan betul-betul
berpartisipaso aktif dalam kehidupan. Ajakan Dahlan sangat mudah dipahami karena ia hanya

mengatakan dan melakukan apa yang diyakininya sebagai kebenaran. Oleh karena itu, beliau
menyampaikan dakwahnya dengan penuh kasih sayang, santun penuh adab dan
menyejukkan.
Keshalihannya begitu konkrit dengan sungguh-sungguh melakukan amal shaleh yang
dampaknya jelas terasa bagi orang lain dan masyarakat. Zuhud dalam urusan dunia tampak
nyata dengaan kerelaannya mengorbankan seluruh harta dan tenaganya demi kecerdasan dan
kemajuan umat. Dahlan mengajak orang untuk mengeluarkan hartanya demi membantu
orang-orang miskin. Beliau bukanlah aktivis sosial yang melupakan urusan agama layaknya
aktivis komunis. Sehingga Muhammadiyah tidak dikenal sebagai gerakan sosial biasa yang
hanya mengusung jargon pembelaan terhadap rakyat kecil namun kering nuansa
kerohaniannya.
Kyia Ahmad Dahlan adalah seorang yang zahid karena pikiran dan aktivitas sosialnya
lahir dari ketaatannya beribadah dan cara pandang yang benar akan dunia dan akhirat. Beliau
adalah penggiat dan pencari dunia untuk tujuan akhirat.
Pada tahun 1961 Pemerintah Indonesia mengangkat KH Ahmad Dahlan sebagai
pahlawan Nasional. Melalui surat keputusan Presiden Soekarno Nomor 657 tanggal 27
Desember 1961.