You are on page 1of 3

Bila dilihat dari peran manajer dalam membuat perencanaan dan bagaimana

mekanisme sebuah rencana dijalankan, Robbins (2000) melihat adanya dua


perspektif dalam memandang perencanaan. Di satu sisi terdapat pandangan yang
dinamakan planning mode di mana dalam pandangan ini manajer dianggap
sebagai seorang pemikir reflektif (reflective thinking) yang akan menetapkan
rencana terlebih dahulu untuk kemudian diterapkan dalam kegiatan organisasi
perusahaan. Planning mode mengasumsikan adanya jeda waktu antara rencana
yang dibuat dengan pelaksanaan (implementasi) rencana tersebut.
Pada sisi yang lain terdapat cara pandang yang disebut evolutionary mode.
Menurut pandangan kelompok ini, manajer bukanlah semata-mata sebagai pemikir
yang reflektif tetapi pada berbagai kesempatan manajer merupakan pemikir yang
reaktif serta menyesuaikan rencana dan keputusan yang dibuat tanpa henti dengan
perubahan yang terjadi di lingkungan perusahaan. Salah satu pemikir manajemen
yang termasuk dalam kelompok ini adalah Mintzberg (1989). Menurut Mintzberg,
pada saat manajer mengembangkan strategi, manajer lebih berperan laksana
seorang seniman pengrajin (crafter) yang menghasilkan benda-benda seni
(misalnya seorang pottery yang menghasilkan berbagai benda seni dari tanah liat).
Pada saat membuat pot, si seniman pottery merasakan kelenturan dan kepadatan
tanah liat yang sedang dibentuk menjadi sebuah pot. Demikian halnya seorang
manajer. Pada saat mereka membuat rencana, mereka memiliki proses merasa
(sensing) terhadap perubahan lingkungan yang sedang terjadi dan melakukan
adaptasi rencana perusahaan secara evolusioner terhadap perubahan lingkungan
yang terjadi.

Hierarki Perencanaan
Koontz dan Weihrich (1988) menggambarkan keterkaitan antara berbagai jenis
rencana yang dibuat perusahaan dalam bentuk hierarki rencana (hierarchy of
plans). Dalam hal ini Koontz dan Weihrich mengasumsikan bahwa tipe rencana yang
lebih bawah mengacu pada rencana yang tingkatnya lebih atas. Sebagai contoh
tujuan perusahaan akan mengacu kepada misi perusahaan. Demikian halnya
strategi perusahaan (dalam arti yang sempit sebagaimana akan diuraikan pada saat
membahas strategi) akan mengacu kepada tujuan perusahaan.
Gambar 6.2 berikut menggambarkan hierarki rencana yang pada umumnya
dibuat oleh perusahaan. Di puncak piamida hierarki terdapat misi perusahaan
sedangkan di tingkat paling bawah dari piramida terdapat budget.
Gambar 6.2
Hierarki
Perencanaan

m
is
si
o
objectiv
n
es

strategies
policies
procedures
rules
programs
budgets
Sumber: Diadaptasi dari Harold Koontz dan Heinz Weihrich, Management, Ninth Edition,
McGraw-Hill, 1988

Jenis-jenis Rencana
Berdasarkan jangka waktunya, rencana perusahaan dapat dibagi ke dalam jangka
panjang (long term plan) dan rencana jangka pendek (short term plan). Yang
dimaksud dengan long term plan adalah rencana yang memiliki jangka waktu lima
tahun lebih. Bahkan bila perusahaan berada di dalam industry yang perubahannya
sangat cepat seperti industri teknologi informasi dan komunikasi, maka
perencanaan dengan jangka waktu tiga tahun lebih sudah dapat dikategorikan
sebagai rencana jangka panjang. Di lain pihak, yang dimaksud dengan short term
plan adalah rencana yang memiliki jangka waktu satu sampai tiga tahun. Pada
umumnya tujuan dan strategi tingkat korporasi dan divisi usaha memiliki jangka
waktu tiga tahun atau lebih (termasuk rencana jangka panjang). Sedangkan tujuan
dan strategi masing-masing fungsi organisasi (marketing, keuangan, produksi,
sumber daya manusia) memiliki horizon waktu rencana jangka pendek sampai
menengah.
Pembagian jenis rencana dapat pula dilakukan dengan melihat hubungan
antara jenis rencana yang dibuat dan jenis keputusan yang dibuat. Pada saat
perusahaan berhubungan dengan berbagai aktivitas/masalah yang membutuhkan
keputusan rutin (programmed decision), perusahaan dapat membuat rencana yang
bisa diterapkan untuk mengatasi berbagai aktivitas/masalah rutin tersebut.
Rencana seperti ini disebut sebagai standing plan (rencana berkelanjutan).
Sebagai contoh, aturan, kebijakan, dan standard operating procedure (SOP)
merupakan beberapa contoh standing plan.
Sebaliknya perusahaan dapat pula mengembangkan rencana yang ditujukan
untuk mengatasi masalah yang tidak terprogram (unprogrammed dicision).
Rencana ini disebut sebagai single-use plan. Yang termasuk ke dalam kategori
single-use plan antara lain adalah program dan proyek (Jones dan George, 2007:
268).