You are on page 1of 11

BAB I.

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang

Membran memiliki ketebalan yang berbeda-beda,ada yang tebal dan ada juga
yang tipis serta ada yang homogen dan juga heterogen. Ditinjau dari bahannya
membran terdiri dari bahan alami dan bahan sintetis. Bahan alami adalah bahan
yang berasal dari alam misalnya pulp dan kapas, sedangkan bahan sintetis dibuat
dari bahan kimia,misalnya polimer. Membran berfungsi memisahkan material
berdasarkan ukuran dan bentuk molekul, menahan komponen dari umpan yang
mempunyai ukuran lebih besar dari pori-pori membran dan melewatkan
komponen yang mempunyai ukuran yang lebih kecil. Larutan yang mengandung
komponen yang tertahan disebut konsentrat dan larutan yang mengalir disebut
permeat. Filtrasi dengan menggunakan membran selain berfungsi sebagai sarana
pemisahan juga berfungsi sebagai sarana pemekatan dan pemurnian dari suatu
larutan yang dilewatkan pada membran tersebut.Teknik pemisahan dengan
membran umumnya berdasarkan ukuran partikel dan berat molekul dengan gaya
dorong berupa beda tekan, medan listrik dan beda konsentrasi. penggunaan
membran tidak hanya dipakai untuk keperluan industri, tapi sudah berkembang ke
semua aspek kehidupan. Salah satunya adalah pada bidang kesehatan, seperti
hemodialisis, hemofiltrasi, oksigenasi darah, controlled release, organ buatan,
plasmapheresis, biosensor dan bidang farmasi lainnya. Dialisis adalah proses
perpindahan molekul terlarut dari suatu campuran larutan yang terjadi akibat

difusi pada membran semi-permeabel. Molekul terlarut yang berukuran lebih kecil
dari pori-pori membran tersebut dapat keluar, sedangkan molekul lainnya yang
lebih besar akan tertahan di dalam kantung membran. Selulosa adalah salah satu
jenis materi penyusun membran dialisis yang cukup umum dipakai karena bersifat
inert untuk berbagai jenis senyawa atau molekul yang akan dipisahkan. Laju
difusi ditentukan oleh beberapa kondisi:
1. Konsentrasi molekul pelarut yang akan keluar dari kantung dialisis. Jika
konsentrasi molekul terlarut di lingkungan lebih kecil dibandingkan dengan
yang ada di dalam kantung dialisis maka laju difusi akan semakin cepat.
2. Luas permukaan kantung dialisis. Semakin luas permukaan membran yang
digunakan maka laju difusi akan semakin cepat.
3. Volume pelarut. Jika rasio luas permukaan membran dengan volume pelarut
besar maka laju difusi akan berlangsung dengan cepat karena molekul
terlarut dapat berdifusi dalam jarak yang dekat.

Metode dialsis banyak digunakan dalam pemurnian protein (terutama enzim).


Dalam proses ini, dialisis digunakan untuk menghilangkan molekul garam, seperti
amonium sulfat, sebelum dilanjutkan dalam proses pemurnian berikutnya ataupun
pada tahap akhir pemurnian. Dialisis juga banyak digunakan dalam proses
pencucian darah pada pasien penderita gagal ginjal. Untuk kasus ini, peranan
ginjal untuk menghilangkan senyawa beracun, garam dan air berlebih digantikan
dengan sistem buatan. Hemodialisis adalah metode pencucian darah dengan
menggunakan mesin, sedangkan dialisis peritoneal menggunakan membran
peritoneal yang berlokasi di daerah perut untuk menggantikan peranan ginjal.

B.
Tujuan
Tujuan dari penulisan artikel ini yaitu:
1.
Mengetahui aplikasi membran di dalam bidang dialisis
2.
Mengetahui prinsip kerja dialisis
3.
Mengetahui aplikasi membran dalam bidang kesehatan lainnya.

BAB II. ISI


A. Aplikasi Membran Dalam Bidang Dialisis
1. Pengertian Hemodialisis
Hemodialisis (HD) adalah cara pengobatan / prosedur tindakan untuk
memisahkan darah dari zat-zat sisa / racun yang dilaksanakan dengan mengalirkan
darah melalui membrane semipermiabel dimana zat sisa atau racun ini dialihkan
dari darah ke cairan dialisat yang kemudian dibuang, sedangkan darah kembali ke
dalam tubuh sesuai dengan arti dari hemo yang berarti darah dan dialisis yang
berarti memindahkan. Jadi Hemodialisis adalah suatu cara untuk memisahkan
darah dari sampah metabolism dan racun tumbuh bila ginjal sudah tak berfungsi.
Disini digunakan ginjal buatan yang berbentuk mesin hemodialisis.

Pada aplikasi ini, untuk membersihkan darah manusia dipisahkan sisa-sisa


metabolisme berupa partikel-partikel kecil, seperti urea, kalium, urid acid, fosfat
dan kelebihan klorida menggunakan membran khusus

yaitu membran

semipermeable yang tebalnya sekitar 0,025 mm. Membran semipermeable ini


membiarkan partikel yang lebih kecil berdifusi tetapi menahan protein darah yang
ukurannya lebih besar. Hemodialisis adalah suatu mesin ginjal buatan (atau alat
hemodialisis) terutama terdiri dari membran semipermeabel dengan darah di
satu sisi dan cairan dialisis di sisi lain. (Price, 2005).

2. Cara kerja Proses Hemodialisis


Cara kerjanya adalah: darah dikeluarkan dari tubuh melalui pipa-pipa plastic
menuju mesin ginjal buatan (mesin hemodialisis). Setelah darah bersih dari
sisa metabolism dan racun tubuh, darah akan kembali ke tubuh. Pada GGA
dilakukan hemodialisis sampai fungsi ginjal membaik. Pada GGK berat,
dilakukan hemodialisis 2 3 kali seminggu, diulang seumur hidup atau sampai
dilakukan cangkok ginjal.

Pada PGK, hemodialisis dilakukan dengan mengalirkan darah ke dalam suatu


tabung ginjal buatan (dialiser) yang terdiri dari dua kompartemen yang terpisah.
Darah pasien dipompa dan dialirkan ke kompartemen darah yang dibatasi oleh

membran semipermeabel buatan (artifisial) dengan kompartemen dialisat.


Kompartemen dialisat dialiri cairan dialisis yang bebas pirogen, berisi larutan
dengan komposisi elektrolit mirip serum normal dan tidak mengandung sisa
metabolisme nitrogen. Cairan dialisis dan darah yang terpisah akan mengalami
perubahan konsentrasi karena zat terlarut berpindah dari konsentrasi yang tinggi
ke arah konsentrasi yang rendah sampai konsentrasi zat terlarut sarna di kedua
kompartemen (difusi).

Prinsip pencucian darah sebagai berikut :

Gambar 2.1 Membran semipermeable

Gambar 2.2 Bagan Hemodialisis

Gambar 2.3. Skema proses dialisis


(Sumber : ..)

Sirkuit darah dari sistem dialisis mula-mula dilengkapi dengan larutan garam atau
darah sebelum dihubungkan dengan sirkulasi penderita. Hemodialisis dilakukan
dengan mengalirkan darah ke dalam suatu tabung ginjal buatan (dialiser) yang
terdiri dari dua kompartemen yang terpisah. Darah pasien dipompa dan dialirkan
ke kompartemen darah yang dibatasi oleh selaput semipermeabel buatan
(artifisial) dengan kompartemen dialisat.

Kompartemen dialisat dialiri cairan

dialisis yang bebas pirogen. Cairan dialisis dan darah yang terpisah akan
mengalami perubahan konsentrasi karena zat terlarut berpindah dari konsentrasi
yang tinggi ke arah konsentrasi yang rendah sampai konsentrasi zat terlarut sama
di kedua kompartemen (difusi). Pada proses dialisis, air juga dapat berpindah dari
kompartemen darah ke kompartemen cairan dialisat dengan cara menaikkan
tekanan hidrostatik negatif pada kompartemen cairan dialisat. Perpindahan air ini
disebut ultrafiltrasi . Tekanan darah penderita mungkin cukup untuk meluncurkan
darah melalui sirkuit ekstrakorporeal (di luar tubuh) atau juga memerlukan pompa
darah untuk membantu aliran sekitar 200- 400 ml/menit .
Besar pori pada selaput akan menentukan besar molekul zat terlarut yang
berpindah. Molekul dengan berat molekul lebih besar akan berdifusi lebih lambat
dibanding molekul dengan berat molekul lebih rendah. Kecepatan perpindahan zat
terlarut tersebut makin tinggi bila (1) perbedaan konsentrasi di kedua
kompartemen makin besar, (2) diberi tekanan hidrostatik di kompartemen darah,
dan (3) bila tekanan osmotik di kompartemen cairan dialisis lebih tinggi. Cairan
dialisis ini mengalir berlawanan arah dengan darah untuk meningkatkan efisiensi.
Perpindahan zat terlarut pada awalnya berlangsung cepat tetapi kemudian
melambat sampai konsentrasinya sama di kedua kompartemen.

Selama proses dialisis pasien akan terpajan dengan cairan dialisat sebanyak 120150 liter setiap dialisis. Zat dengan berat molekul ringan yang terdapat dalam
cairan dialisat akan dapat dengan mudah berdifusi ke dalam darah pasien selama
dialisis. Karena itu kandungan solut cairan dialisat harus dalam batas-batas yang
dapat ditoleransi oleh tubuh. Cairan dialisat perlu dimurnikan agar tidak terlalu
banyak mengandung zat yang dapat membahayakan tubuh. Dengan teknik reverse
osmosis air akan melewati membran semi permeabel yang memiliki pori-pori
kecil sehingga dapat menahan molekul dengan berat molekul kecil seperti urea,
natrium, dan klorida.
Pada proses dialisis terjadi aliran darah di luar tubuh. Pada keadaan ini akan
terjadi aktivasi sistem koagulasi darah dengan akibat timbulnya bekuan darah.
Karena itu pada dialisis diperlukan pemberian heparin selama dialisis
berlangsung. Ada tiga teknik pemberian heparin yaitu teknik heparin rutin,
heparin minimal, dan bebas heparin. Pada teknik heparin rutin, teknik yang paling
sering digunakan sehari-hari. Heparin diberikan dengan cara bolus diikuti dengan
continous infusion. Pada keadaan di mana risiko perdarahan sedang atau berat
digunakan teknik heparin minimal dan teknik bebas heparin. Contoh beberapa
keadaan risiko perdarahan berat misalnya pada pasien dengan perdarahan
intraserebral, trombositopenia, koagulopati, dan pascaoperasi dengan perdarahan.
Perangkap bekuan darah atau gelembung udara dalam jalur vena akan
menghalangi udara atau bekuan darah kembali ke dalam aliran darah penderita.

Oleh karena itu, pasien hemodialisis harus mendapat asupan makanan yang cukup
agar tetap dalam gizi yang baik. Gizi kurang merupakan prediktor yang penting
untuk terjadinya kematian pada pasien hemodialisis. Asupan protein diharapkan 18

1.2 g/kgBB/hari dengan 50% terdiri atas protein dengan nilai biologis tinggi.
Asupan kalium diberikan 40-70 meqhari. Pembatasan kalium sangat diperlukan.
Oleh karena itu makanan tinggi kalium seperti buah-buahan dan urnbi-umbian
tidak dianjurkan dikonsumsi. Jumlah asupan cairan dibatasi sesuai dengan jumlah
air kencing yang ada ditambah insensible water loss. Asupan natrium dibatasi 40120 meqhari guna mengendalikan tekanan darah dan edema. Asupan tinggi
natrium akan menimbulkan rasa haus yang selanjutnya mendorong pasien untuk
minum. Bila asupan cairan berlebihan maka selama periode di antara dialisis akan
terjadi kenaikan berat badan yang besar.

BAB III. PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Membran adalah penghalang atau pembatas selektif yang
diletakkan diantara dua fasa
2. Hemodialisis adalah terapi pengganti ginjal pada pasien gagal
ginjal akut, gagal ginjal kronis, dan gagal ginjal terminal melalui
mesin yang menggunakan membran.
3. Hemodialisis lebih efektif untuk pasien penderita gagal ginjal akut
jika dibandingkan dengan cangkok ginjal.
4. Pasien hemodialisis harus mendapat asupan makanan yang cukup
9

agar tetap dalam gizi yang baik

DAFTAR PUSTAKA

nd

Geankoplis, Christie , Transport Process dan Unit Operation, 3


Edition, Prentice Hall Inc, New Delhi, India 1997

Mulder. M., Basic Principles of Membran Tecnology, second edition,


Kluwer Academic Publisher, The Netherlands, 1996
th

Perry, Robert H, Perrys Chemical Engineering Handbook, 6 Edition,


McGraw Hill Company, New York, USA, 1998.
McCabe, Warren L., Smith, Julian C., Harriot, Peter, Unit Operations of
Chemical Engineering, fifth edition, McGraw-Hill, Singapore, 1993

10

Janssen M, van der Meulen J (1996). "The bleeding risk in chronic


haemodialysis: preventive strategies in high-risk patients.". Neth J
Med 48 (5): 198-207. PMID 8710039.
Raja R, Kramer M, Rosenbaum J, Bolisay C, Krug M. "Hemodialysis
without heparin infusion using Cordis Dow 3500 hollow fiber.". Proc
Clin Dial Transplant Forum 10: 39-42. PMID 7346852.
http://www.gogle.com/membran

http://en.wikipedia.org/hemodialysis

http://www.oas.org/usde/publications/Unit/oea59e/ch35.htm

www.wescinc.com

www.info.com

11