You are on page 1of 2

GRANULOMA INGUINAL

A. PENDAHULUAN
Granuloma inguinale pertama kali ditemukan oleh MC LEOD pada
tahun 1882 di madras, india, dengan nama ulkus serpiginosa. CONYERS dan
DANIELS pada tahun 1896 menemukan penyakit berbentuk lupoid pada
ulkus di lipat paha. LAL dan NICHOLAS tidak menyetujui penggunaan
nama

granuloma inguinale, karena lesi tidak selalu terdapat

di daerah

inguinal, karena itu di anjurkan memakai nama granuloma Donovani.[1]


Penyakit ini termasuk penyakit kelamin, meskipun timbul keraguraguan mengenai cara penularan, karena pada banyak kasus penyakit tidak
menular ke mitra seksualnya. Hal-hal menyokong bahwa penyakit ini di
tularkan melalui hubungan seksual ialah :[1]
1. Pada anamnesis terdapat kontak seksual sebelumnya lesi.
2. Insidensnya tinggi pada kelompok umur dengan aktivitas seksual
paling banyak; lesi terdapat pada genitalia interna seperti serviks,
tanpa di sertai lesi lain.
3. Lesi terdapat hanya di sekitar anus pada orang homoseksual yang
pasif.
4. Lesi terdapat pada daerah genital atau perigenital.
Selain di tularkan melalui hubungan seksual, calymatobacterium
granulomatis dapat ditemukan pada intestin, dan pada keadaan higiene buruk
terjadi autoinokulasi feses pada kulit yang mudah terkena trauma atau
inflamasi bakteri. Suatu jenis organisme yang menyerupai C. Granulomatis
dapat di isolasikan dari feses.

Orang yang memiliki kontak seksual dengan pasien yang memiliki


granuloma inguinale dalam 60 hari sebelum timbulnya gejala pasien harus
diperiksa dan menawarkan terapi. Namun, nilai terapi empiris tanpa adanya
tanda-tanda dan gejala klinis belum ditetapkan.[2]