You are on page 1of 5

Gotong Royong Pada Masyarakat Suku

Tengger
26 Juli 2012 16:22:18 Dibaca : 5,398

Gotongroyong meratakan jalan menuju Puncak Bromo, Juni 2011. Dok.Pri


Gotong royong merupakan salah satu ciri kehidupan sosial masyarakat di negeri
tercinta ini. Pola hidup kemasyarakatan ini memang telah tertanam sejak jaman
dulu. Sebagai contoh hasil gotong royong adalah berdirinya Borobudur yang
berdiri jaman Wangsa Syailendra abad ke 8.
Pada masa kini, gotong royong masih banyak dilakukan di daerah
perkampungan dan pedesaan sebagai bentuk kerukunan dan kekeluargaan. Bagi

masyarakat di wilayah kota, boleh dikatakan telah terkikis oleh kemajuan


teknologi dan nilai-nilai kebersamaan yang mulai surut. Bukan karena egoisme
semata tetapi karena tuntutan profesionalisme dalam pekerjaan sehingga waktu
amat sedikit terluangkan untuk kegiatan ini.
Bagi masyarakat pedesaan yang kehidupan masyarakatnya masih terasa
kekerabatannya, kegiatan gotong royong masih sering dilaksanakan. Baik
dalam kegiatan keluarga seperti dalam pesta perkawinan atau khitanan
maupun membangun rumah. Juga dalam kegiatan kemasyarakatan seperti
bersih desa, membangun pos kamling, dan membersihkan jalan serta
selokan.
Masyarakat Suku Tengger melakukan gotong royong ini biasa disebut
dengan istilah gugur gunung. Bedanya, pada masyarakat Suku Tengger gotong
royong bukan hanya di lakukan hanya di wilayah desanya tetapi keluar jauh dari
tempat tinggal mereka. Bahkan bisa sampai sekitar 5 10 km dari desa. Sesuatu
yang jarang dilaksanakan di tempat lain. Bisa saja mereka memberi upah untuk
para pekerja mengingat pendapatan perkapita mereka di atas rata-rata karena
wilayahnya yang subur. Namun bagi mereka semangat kekeluargaan,
kekerabatan, dan kebersamaan lebih berharga daripada nilai uang yang harus
dikeluarkan untuk membangun sesuatu.
Pertengahan 2011 yang lalu, masyarakat Suku Tengger di Desa Ngadisari
bergotong royong meratakan debu, pasir, dan bebatuan kecil yang keluar dari
perut Bromo saat terjadi letusan di akhir 2010 dan awal 2011. Gotong royong
ini dilakukan beberapa kali mengingat medan yang cukup berat dan luas.
Tepatnya persis di bawah anak tangga menuju puncak Gunung Bromo.

Jalan bagus arus wisatawan pun meningkat. Dok.Pri


Bagi masyarakat Suku Tengger di Desa Ngadas tak berbeda dalam gugur
gunung membersihkan jalan dari semak belukar, perdu, dan ilalang yang cepat
tumbuh subur menutupi pandangan di jalan terjal, berliku, dan gelap tertutup
pepohonan yang tinggi.

Membuka lahan untuk membangun gedung SMP. Dok.Pri

Gedung SMP Negeri di Ngadas sedang dibangun dengan latar belakang sebuah
Pura. Dok. Pri
Pada awal 2007, masyarakat Suku Tengger di Desa Ngadas juga bergotong
royong secara serempak membuka lahan untuk membangun gedung Sekolah
Menengah Pertama. Selama itu pendidikan tingkat SMP masih satu atap dengan
SD Negeri Ngadas.
Akankah sikap gotong royong sebagai tanda kerukunan, kekeluargaan, dan
kekerabatan ini bisa ditumbuhkan di wilayah perkotaan ?

Melapangkan jalan menuju Ngadas dari semak dan perdu. Dok.Pri

Jalan menjadi lapang. Dok. Pri