You are on page 1of 11

THE EFFECT OF DIFFERENT DISASTER EDUCATION PROGRAMS

ON TSUNAMI PREPAREDNESS AMONG SCHOOLCHILDREN IN


ACEH, INDONESIA

ANALISA JURNAL
Sebagai syarat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah : Disaster

Disusun Oleh :
HILMAN ARIF FIRMANSYAH
NPM : 213.C.0019

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MAHARDIKA CIREBON
2016/2017

THE EFFECT OF DIFFERENT DISASTER EDUCATION PROGRAMS


ON TSUNAMI PREPAREDNESS AMONG SCHOOLCHILDREN IN
ACEH, INDONESIA
A. Bencana
Definisi Bencana
Menurut Undang-Undang No.24 Tahun 2007, bencana adalah
peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu
kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor
alam dan atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga
mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan,
kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
Bencana merupakan pertemuan dari tiga unsur, yaitu ancaman
bencana, kerentanan, dan kemampuan yang dipicu oleh suatu kejadian.
Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau
serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh gejala-gejala alam yang dapat
mengakibatkan kerusakan lingkungan, kerugian materi, maupun korban
manusia (Kamadhis UGM, 2007).
Jenis Bencana

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (2010), jenis-jenis


bencana antara lain:
a. Gempa Bumi
merupakan peristiwa

pelepasan

energi

yang

menyebabkan

dislokasi (pergeseran) pada bagian dalam bumi secara tiba-tiba.


Mekanisme

perusakan

terjadi

karena

energi

getaran

gempa

dirambatkan ke seluruh bagian bumi. Di permukaan bumi, getara


tersebut dapat menyebabkan kerusakan dan runtuhnya bangunan

sehingga dapat menimbulkan korban jiwa. Getaran gempa juga dapat


memicu terjadinya tanah longsor, runtuhan batuan, dan kerusakan
tanah lainnya yang merusak permukiman penduduk. Gempa bumi juga
menyebabkan bencana ikutan berupa , kecelakaan industri da
transportasi serta banjir akibat runtuhnya bendungan maupun tanggul
penahan lainnya.
b. Tsunami
diartikan sebagai gelombang laut dengan periode panjang yang
ditimbulkan oleh gangguan impulsif dari dasar laut. Gangguan
impulsif tersebut bisa berupa gempa bumi tektonik, erupsi vulkanik
atau longsoran. Kecepatan tsunami yang naik ke daratan (run-up)
berkurang menjadi sekitar 25-100 Km/jam dan ketinggian air.
c. Letusan Gunung Berapi
adalah merupakan bagian dari aktivitas vulkanik yang dikenal
dengan istilah "erupsi". Hampir semua kegiatan gunung api berkaitan
dengan zona kegempaan aktif seba berhubungan dengan batas
lempeng. Pada batas lempeng inilah terjadi perubahan tekanan dan
suhu yang sangat tinggi sehingga mampu melelehkan material
sekitarnya yang merupakan cairan pijar (magma). Magma akan
mengintrusi batuan atau tanah di sekitarnya melalui rekahan-rekahan
mendekati permukaan bumi. Setiap gunung api memiliki karakteristik
tersendiri jika ditinjau dari jenis muntahan atau produk yang
dihasilkannya. Akan tetapi apapun jenis produk tersebut kegiatan
letusan gunung api tetap membawa bencana bagi kehidupan. Bahaya
letusan gunung api memiliki resiko merusak dan mematikan.
d. Tanah Longsorr
merupakan salah satu jenis gerakan massa tanah atau batuan,
ataupun percampuran keduanya, menuruni atau keluar lereng akibat
dari terganggunya kestabilan tanah atau batuan penyusun lereng
tersebut. Tanah longsor terjadi karena ada gangguan kestabilan pada
tanah/batuan penyusun lereng.
e. Banjir
dimana suatu daerah dalam keadaan tergenang oleh air dalam
jumlah yang begitu besar. Sedangkan banjir bandang adalah banjir

yang

datang

secara

tiba-tiba

yang

disebabkan

oleh

karena

tersumbatnya sungai maupun karena pengundulan hutan disepanjang


sungai

sehingga

merusak

rumah-rumah

penduduk

maupun

menimbulkan korban jiwa.


f. Kekeringan
adalah hubungan antara ketersediaan air yang jauh dibawah
kebutuhan air baik untuk kebutuhan hidup, pertanian, kegiatan
ekonomi dan lingkungan.
g. Angin Topan
adalah pusaran angin kencang dengan kecepatan angin 120 km/jam
atau lebih yang sering terjadi di wilayah tropis diantara garis balik
utara dan selatan, kecuali di daerah-daerah yang sangat berdekatan
dengan khatulistiwa. Angin topan disebabkan oleh perbedaan tekanan
dalam suatu sistem cuaca. Angin paling kencang yang terjadi di daerah
tropis ini umumnya berpusar dengan radius ratusan kilometer di sekitar
daerah sistem tekanan rendah yang ekstrem dengan kecepatan sekitar
20 Km/jam. Di Indonesia dikenal dengan sebutan angin badai.
h. Gelombang Pasang
adalah gelombang air laut yang melebihi batas normal dan dapat
menimbulkan bahaya baik di lautan, maupun di darat terutama daerah
pinggir pantai. Umumnya gelombang pasang terjadi karena adanya
angin kencang atau topan, perubahan cuaca yang sangat cepat, dan
karena ada pengaruh dari gravitasi bulan maupun matahari. Kecepatan
gelombang pasang sekitar 10-100 Km/jam. Gelombang pasang sangat
berbahaya bagi kapal-kapal yang sedang berlayar pada suatu wilayah
yang dapat menenggelamkan kapal-kapal tersebut. Jika terjadi
gelombang pasang di laut akan menyebabkan tersapunya daerah
pinggir pantai atau disebut dengan abrasi.
i. Kegagalan Teknologi
adalah semua kejadian bencana yang diakibatkan oleh kesalahan
desain, pengoperasian, kelalaian dan kesengajaan manusia dalam
penggunaan teknologi atau industry
j. Kebakaran
adalah situasi dimana suatu tempat atau lahan atau bangunan
dilanda api serta hasilnya menimbulkan kerugian. Sedangkan lahan

dan hutan adalah adalah semua kejadian bencana yang diakibatkan


oleh kesalahan desain, pengoperasian, kelalaian dan kesengajaan
manusia dalam penggunaan teknologi atau industri. keadaan dimana
lahan dan hutan dilanda api sehingga mengakibatkan kerusakan lahan
dan hutan serta hasil-hasilnya dan menimbulkan kerugian.
k. Aksi Teror atau Sabotase
adalah semua tindakan yang menyebabkan keresahan masyarakat,
kerusakan bangunan, dan mengancam atau membahayakan jiwa
seseorang atau banyak orang oleh seseorang atau golongan tertentu
yang tidak bertanggung jawab. Aksi teror atau sabotase biasanya
dilakukan dengan berbagai alasan dan berbagai jenis tindakan seperti
pemboman suatu bangunan/tempat tertentu, penyerbuan tiba-tiba suatu
wilayah, tempat, dan sebagainya. Aksi terror atau sabotase sangat sulit
dideteksi atau diselidiki oleh pihak berwenang karena direncanakan
seseorang atau golongan secara diam-diam dan rahasia.
l. Kerusuhan atau Konflik Sosial
adalah suatu kondisi dimana terjadi huru-hara atau kerusuhan atau
perang atau keadaan yang tidak aman di suatu daerah tertentu yang
melibatkan lapisan masyarakat, golongan, suku, ataupun organisasi
tertentu.
m. Epidemi, Wabah dan Kejadian Luar Biasa
merupakan ancaman yang diakibatkan oleh menyebarnya penyakit
menular yang berjangkit di suatu daerah tertentu. Pada skala besar,
epidemi atau wabah atau Kejadian Luar Biasa (KLB) dapat
mengakibatkan meningkatnya jumlah penderita penyakit dan korban
jiwa. Beberapa wabah penyakit yang pernah terjadi di Indonesia dan
sampai sekarang masih harus terus diwaspadai antara lain demam
berdarah, malaria, flu burung, anthraks, busung lapar dan HIV/AIDS.
Wabah penyakit pada umumnya sangat sulit dibatasi penyebarannya,
sehingga kejadian yang pada awalnya merupakan kejadian lokal dalam
waktu singkat bisa menjadi bencana nasional yang banyak adalah
suatu kondisi dimana terjadi huru-hara atau kerusuhan atau perang atau
keadaan yang tidak aman di suatu daerah tertentu yang melibatkan

lapisan masyarakat, golongan, suku, ataupun organisasi tertentu


menimbulkan korban jiwa. Kondisi lingkungan yang buruk, perubahan
iklim, makanan dan pola hidup masyarakat yang salah merupakan
beberapa faktor yang dapat memicu terjadinya bencana ini.
Dari beberapa jenis bencana yang telah dijelaskan pada penjelasan
sebelumnya, dalam pembahasan ini akan dibahas tentang kejadian
bencana yaitu Tsunami berdasarkan jurnal internasional yang ada dan
dengan hasil ilmiah penulis jurnal yang mebahas tentang pendidikan
berbasis pengajaran bencana yang diharapkan dapat diadakan di
kurikulum pendidikan yang ada.
B. Analisa jurnal
1. Judul Penelitian
THE EFFECT OF DIFFERENT DISASTER EDUCATION
PROGRAMS ON TSUNAMI PREPAREDNESS AMONG
SCHOOLCHILDREN IN ACEH, INDONESIA
2. Penulis Penelitian
a. Wignyo Adiyoso
b. Hidehiko Kanegae
3. Latar Belakang jurnal
Setelah 2004 tsunami usaha telah dilakukan untuk membangun
sekolah bencana ketahanan dan studi efektivitas terbatas .Penelitian ini
bertujuan melihat efek dari berbagai bencana program pendidikan di
sekolah anakpengetahuan , persepsi risiko , kesadaran dan kesiapan
perilaku. 2004 Desember tsunami dipicu oleh gempa berkekuatan 9,0
skala Richter di Sumatera Utara Pulau yang sangat berdampak pada
sosial, ekonomi dan mata pencaharian masyarakat. Di antara negaranegara yang terletak di sepanjang Samudera Hindia yang terkena
tsunami, Aceh adalah daerah yang paling parah meninggalkan 123.000
orang tewas, 113.000 orang hilang dan 406.000 orang mengungsi .
Orang-orang yang lebih tinggi tewas diyakini karena tidak adanya
sistem peringatan dini dan kurangnya orang kesiapan Orang khususnya

di Banda Aceh tidak memiliki pengalaman tentang tsunami


dibandingkan dengan Simeleu Pulau di mana hanya 44 orang yang
tewas karena orang di Simeleu terus cerita tradisional dari kuno
mereka tentang tsunami Pemerintah, lembaga-lembaga lokal, nasional
dan internasional dan organisasi non-pemerintah dibayar perhatian
untuk mendidik orang menjadi lebih sadar bencana dan menjadi
mempersiapkan ketika bencana terjadi. Sebagai anak adalah salah satu
kelompok yang rentan terhadap bencana, pemerintah telah melakukan
upaya dengan memperkenalkan sekolah pendidikan bencana berbasis
termasuk menggabungkan pengurangan risiko bencana ke dalam
kurikulum sekolah. Itu pengenalan pendidikan bencana berbasis
kurikulum-di sekolah itu diharapkan bahwa sekolah menjadi lebih
sadar tentang bencana alam
4. Poin poin Jurnal
a. SEKOLAH SIAGA

BENCANA

(SSB)

&

Pendidikan

Pengurangan Risiko Bencana (PPRB)


Sekolah tetap terpercaya sebagai wahana efektif untuk
membangun budaya bangsa termasuk membangun kesiagaan
bencana warga negara pada usia anak, pendidik dan tenaga
kependidikan dan para pemangku kepentingan lainnya termasuk
masyarakat luas. Kesiapan sekolah dalam menghadapi bencana
juga merupakan bagian dari Upaya Pengurangan Resiko Bencana
(PRB) pada Kerangka Aksi Hyogo 2005 2015 yang menjadi
landasan PRB internasional (Twig, 2007).
Sekolah Siaga Bencana (SSB)
Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kecakapan hidup
dalam mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian dan
langkah-langkah yang tepat guna dan berdaya guna. (NASKAH
AKADEMIK KPB 2009)

Sekolah Siaga Bencana (SSB) sebagai upaya kesiagaan


sekolah dikembangkan untuk menggugah kesadaran seluruh
pemangku kepentingan dalam bidang pendidikan baik individu
maupun kolektif di sekolah dan lingkungan sekolah dalam hal
kesiagaan bencana
Pendidikan Pengurangan Risiko Bencana (PPRB)
Adalah sebuah proses pembelajaran bersama yang bersifat
interaktif ditengah masyarakat dan lembagalembaga yang ada.
Cakupan pendidikan pengurangan risiko bencana lebih luas
daripada pendidikan formal di sekolah dan universitas. Termasuk
di dalamnya adalah pengakuan dan penggunaan kearifan
tradisional dan pengetahuan lokal bagi perlindungan terhadap
bencana alam.
Tujuan SEKOLAH SIAGA BENCANA (SSB) & Pendidikan
Pengurangan Risiko Bencana (PPRB)
1) Menumbuhkembangkan nilai dan sikap kemanusiaan
2) Menumbuhkembangkan sikap dan kepedulian terhadap risiko
bencana
3) Mengembangkan

pemahaman

tentang

risiko

bencana,

pemahaman tentang kerentanan sosial, pemahaman tentang


kerentanan fisik, serta kerentanan prilaku dan motivasi,
4) Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan untuk pencegahan
dan pengurangan risiko bencana, pengelolaan sumberdaya alam
dan lingkungan yang bertanggungjawab, dan adaptasi terhadap
risiko bencana
5) Mengembangkan upaya untuk pengurangan risiko bencana
diatas, baik secara individu maupun kolektif Meningkatkan
pengetahuan dan ketrampilan siaga bencana
6) Meningkatkan kemampuan tanggap darurat bencana
7) Mengembangkan kesiapan untuk mendukung pembangunan
kembali komunitas saat bencana terjadi dan mengurangi
dampak yang disebabkan karena terjadinya bencana

8) Meningkatkan

kemampuan

untuk

beradaptasi

dengan

perubahan besar dan mendadak


Oleh karena itu, penting untuk mengevaluasi efektivitas kedua
program di meningkatkan pengetahuan sekolah, kesadaran,
persepsi risiko, dan kesiapsiagaan pada bencana tsunami. studi
tentang program kesiapsiagaan bencana berbasis sekolah telah
terbatas terutama di Indonesia. Pelajaran ini mengkaji efektivitas
sekolah berbasis kurikulum pendidikan bencana dan nonkurikulum

berbasis-on,

tujuan:

membangun

pengetahuan,

kesadaran, dan keterampilan dalam mendukung sekolah untuk


dapat mempersiapkan dan menanggapi dan pulih dari bencana
b. Peran penting sekolah dalam pengurangan risiko bencana

Sebagai sekolah memainkan peran penting dalam


memberikan

kontribusi

bagi

kesadaran

bencana

di

masyarakat, upaya harus dibuat berfokus pada bagaimana


membangun sekolah ketahanan terhadap bencana.
Sekolah memiliki beberapa fungsi dalam risiko
bencana Pengurangan termasuk memfasilitasi dan bekerja
sama

dengan

lingkungan,

meningkatkan

kapasitas

masyarakat, pusat penampungan evakuasi saat bencana


terjadi, dan menyediakan model gempa gedung sekolah
bukti kepada masyarakat. Dalam hal kesadaran masyarakat,
sekolah dapat bertindak sebagai agen dalam masyarakat
yang bertanggung jawab untuk menyebarkan informasi
bencana kepada keluarga dan anggota masyarakat anak
sekolah.
Pendekatan-pendekatan

lain

termasuk

simulasi

game, lokakarya, pembuatan peta, pengeboran bencana,


kuis dan lomba menggambar.

Pendidikan sekolah pada bencana kontribusi untuk


mengembangkan pengetahuan dan persepsi gempa bencana
tetapi terbatas untuk kesiapan gempa maupun lainnya.
c. Pengembangan SSB dan PPRB
pendidikan disebut Sekolah Siaga Bencana (SSB) atau
secara harfiah berarti Siaga Bencana Berbasis Sekolah Program
(SDPP) SDPP didukung oleh UNESCO telah berhasil dilaksanakan
di tempat yang berbeda di Indonesia. Program dasar dari SSB
adalah kurikulum bencana berkembang melalui berbagai kegiatan
termasuk training of trainers bagi para guru, workshop,
pengembangan modul, pelatihan untuk sekolah masyarakat,
melengkapi dengan percobaan kegiatan yang berkaitan dengan
subjek bencana. Kegiatan lain yang memasang tanda-tanda dan
pesan tentang pendidikan bencana, mendistribusikan materi yang
berhubungan dengan informasi bencana dan penilaian dari gedung
sekolah tahan gempa
5. Kesimpulan
Efek dari sekolah mengadopsi bencana berbasis kurikulum.
masalah pada anak-anak sekolah yang berkaitan dengan pengurangan
risiko bencana adalah efektif dalam meningkatkan pengetahuan
bencana, meningkatkan tingkat persepsi risiko, individu dan kesiapan
sekolah.
Temuan penting adalah bahwa Pengaruh pelaksanaan isu bencana
berbasis kurikulum-sekolah dapat mempromosikan sekolah perilaku
kesiapan anak-anak meskipun hanya mengunjungi fasilitas pendidikan
bencana dan darurat terbatas.
Pengetahuan umum bahwa hukuman tuhan sebagai penyebab
utama tsunami harus ditangani komprehensif-tidak terbatas di sekolah.
Guru dan siswa memainkan peran penting dalam meningkatkan
kesadaran, menyebarkan pengetahuan yang benar tentang bencana dan

mempromosikan kesiapan perilaku pada bencana di masyarakat luas


daripada terbatas di sekolah.
C. Lampiran Jurnal
(Terlampir).
DAFTAR PUSTAKA
Wignyo Adiyoso, Hidehiko Kanegae. 2012. THE EFFECT OF DIFFERENT
DISASTER
EDUCATION
PROGRAMS
ON
TSUNAMI
PREPAREDNESS AMONG SCHOOLCHILDREN IN ACEH,
INDONESIA. Disaster Mitigation of Cultural Heritage and Historic Cities,
Vo.
6
(July
2012).
http://rcube.ritsumei.ac.jp/bitstream/10367/3682/1/dmuch6_23.pdf.
(Diakses
pada 26 September 2016 pukul 21.00 WIB)

Ardito,

M.
2009.
Sekolah
Siaga
Bencana.
http://file.upi.edu/Direktori/PROCEEDING/GEOGRAFI/SEKOLAH_SIA
GA_BENCANA_%26_Pendidikan_Pengurangan_Risiko_Bencana.pdf
(Diakses pada 26 September 2016 pukul 21.35 WIB)