You are on page 1of 5

MEMAHAMI PERAN LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN SEBAGAI

JARING PENGAMAN SISTEM PERBANKAN NASIONAL

Oleh: Abu Samman Lubis


Widyaiswara Madya Balai Diklat Keuangan Malang

ABSTRAK
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang dibentuk berdasarkan Undangundang Nomor 24 tahun 2004 adalah lembaga independen yang berfungsi
menjamin simpanan nasabah dan turut serta memelihara stabilitas
sistem perbankan di Indonesia. Pendirian LPS dilatarbelakangi terjadinya
krisis moneter yang menghantam Indonesia yang mengakibatkan 16 bank
dilikuidasi, dan mengakibatkan menurunnya tingkat kepercayaan
masyarakat terhadap perbankan.
LPS melaksanakan tugas dengan berkoordinasi dengan berbagai pihak,
yaitu Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI), dan Forum
Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan (FKSSK), dan secara reguler mereka
bertemu dan membahas berbagai hal.
Apabila bank telah gagal melaksanakan fungsinya (bank gagal), LPS akan
melindungi simpanan nasabah. Penjaminan dilakukan dalam jumlah
terbatas, program penjaminan disesuaikan dengan kondisi sistem
perbankan, dan penjaminan simpanan merupakan jaminan pengaman
keuangan (financial safety nets). Dengan demikain kepercayaan
masyarakat dengan sistem perbankan Indonesia dapat dipulihkan
kembali.
Kata kunci: LPS, dan dana nasabah

I. Latar Belakang
Pada 1998, krisis moneter yang menghantam Indonesia ditandai dengan
likuidasi atas 16 bank, mengakibatkan menurunnya tingkat kepercayaan
masyarakat pada sistem perbankan. Untuk mengatasi krisis tersebut,
pemerintah mengeluarkan beberapa kebijakan, di antaranya memberikan
jaminan atas seluruh kewajiban pembayaran bank, termasuk simpanan
masyarakat (blanket guarantee).

Dalam pelaksanaannya, blanket guarante memiliki ruang lingkup


penjaminan yang terlalu luas sehingga menyebabkan timbulnya moral
hazard baik dari sisi pengelola bank maupun masyarakat. Untuk
mengatasi hal tersebut, program penjaminan yang cakupannya terlalu
luas diganti dengan sistem penjaminan yang terbatas. Sistem penjaminan
terbatas diimplementasikan melalui pembentukan Lembaga Penjamin
Simpanan (LPS) sebagai pelaksana penjaminan dana masyarakat.
Pada 22 September 2004, LPS lahir melalui Undang-Undang RI Nomor 24
tentang Lembaga Penjamin Simpanan. LPS adalah sebuah lembaga
independen yang memiliki mandat menjamin simpanan nasabah dan turut
aktif dalam memelihara stabilitas sistem perbankan sesuai dengan
kewenangannya. Pada 22 September 2005 LPS resmi beroperasi dengan
modal awal Rp4 triliun yang diambil dari APBN.
Sebagai lembaga independen, LPS memiliki tugas penting dalam menjaga
kepercayaan masyarakat sesuai fungsi penjaminan yang efektif dan
kredibel. Prinsip penjaminan LPS mengacu pada Core Principle
International Association of Deposit Insurers (IADI) ke-9 tentang cakupan
penjaminan yang menjadi pedoman dalam menerapkan penjaminan yang
terbatas. Prinsip tersebut menekankan, institusi penjamin simpanan harus
mampu mendefinisikan secara jelas simpanan yang akan dijamin
(insurable deposit), nilai simpanan yang dijamin, dan mampu menjamin
mayoritas nasabah yang ada di negaranya.
Pedoman IADI menyebutkan tiga hal pokok dalam penerapan sistem
penjaminan simpanan. Pertama, penjaminan simpanan dalam jumlah
terbatas, Kedua, program penjaminan disesuaikan dengan kondisi sistem
perbankan, dan Ketiga, penjaminan simpanan menjadi bagian dari jaring
pengaman keuangan (financial safety nets/FSN). FSN dibatasi hanya
meliputi jaring pengaman sistem perbankan.
II. Rumusan Masalah
Artikel ini dirancang untuk mendiskripsikan atau menggambarkan
Lembaga Penjamin Simpanan berdasarkan Undang-Undang No. 24 Tahun
2004 tentang LPS, yakni:
1. Apa yang dimaksud dengan LPS itu?
2. Bagaimana fungsi, wewenang, serta tugas LPS?
3. Bagaimana peran LPS sebagai Jaring Pengaman Sistem Perbankan
Nasional.
III. Pengertian, Fungsi, Wewenang, dan Tugas LPS
Pengertian Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) adalah lembaga yang
independen, transparan, dan akuntabel dalam melaksanakan tugas dan

wewenangnya. LPS berbentuk badan hukum dan bertanggung jawab


kepada Presiden. Selanjutnya, berdasarkan Pasal 4 UU No. 24 Tahun 2004,
fungsi LPS adalah a) menjamin simpanan nasabah penyimpan, dan b)
turut aktif dalam memelihara stabilitas sistem perbankan sesuai dengan
kewenangannya. Dalam melaksanakan fungsi penjaminan simpanan, LPS
mempunyai tugas a) merumuskan dan menetapkan kebijakan
pelaksanaan penjaminan simpanan; dan b) melaksanakan penjaminan
simpanan. Sedangkan dalam hal melaksanakan fungsi turut aktif dalam
memelihara stabilitas sistem perbankan sesuai dengan kewenangannya,
LPS mempunyai tugas a) merumuskan dan menetapkan kebijakan dalam
rangka turut aktif memelihara stabilitas sistem perbankan; b)
merumuskan, menetapkan, dan melaksanakan kebijakan penyelesaian
Bank Gagal (bank resolution) yang tidak berdampak sistemik; dan c)
melaksanakan penanganan Bank Gagal yang berdampak sistemik.
Selanjutnya, dalam rangka melaksanakan tugasnya, LPS mempunyai
wewenang sebagai berikut:
Menetapkan dan memungut premi penjaminan;
Menetapkan dan memungut konstribusi pada saat bank pertama kali
menjadi peserta;
Melakukan pengelolaan kekayaan dan kewajiban LPS;
Mendapatkan data simpanan nasabah, data kesehatan bank, laporan
keuangan bank dan laporan hasil pemeriksaan bank sepanjang tidak
melanggar kerahasiaan bank;
Melakukan rekonsiliasi, verifikasi dan/atau konfirmasi atas data
sebagaimana dimaksud huruf d;
Menetapkan syarat, tata cara dan ketentuan pembayaran klaim;
Menunjuk, menguasakan dan menugaskan pihak lain untuk bertindak bagi
kepentingan dan/atau atas nama LPS, guna melaksanakan sebagian tugas
tertentu;
Melakukan penyuluhan kepada bank dan masyarakat tentang pinjaminan
simpanan; dan
Menjatuhkan sanksi administrasi.
IV. Peran LPS sebagai Jaring Pengaman Sistem Perbankan Nasional
Sebelum menjelaskan peran atau tugas LPS dalam menjamin simpanan
nasabah dan memelihara stabilitas sistem perbankan perlu dijelaskan
hubungan kelembagaan atau koordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan
(OJK), Bank Indonesia, LPS, Kementerian Keuangan, dan Forum Koordinasi
Stabilitas Sistem Keuangan (FKSSK).
Untuk pengamanan sistem perbankan nasional penerapannya dapat
dianalogikan sebagai tim sepakbola ada penyerang, pemain tengah, bek
(pemain belakang) dan kiper. Setiap posisi punya peran masing-masing.
Jika dianalogikan dengan sistem perbankan kita memiliki fungsi masing-

masing. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berperan sebagai ujung tombak


(front
office).
Dengan
perannya
mengatur
dan
mengawasi
mikroprudensial dengan kuat dan efektif, OJK diharapkan mampu
mendorong perbankan untuk mencapai goal (tujuan), yaitu sistem
perbankan yang sehat, stabil, bertumbuh, dan bermanfaat bagi rakyat
banyak. Selain itu, dengan mengidentifikasi permasalahan secara dini dan
tindakan perbaikan yang segera (prompt corrective actions) diharapkan
permasalahan perbankan dapat diatasi pada stadium awal.
Adapun tujuan OJK dibentuk agar keseluruhan kegiatan di dalam sektor
jasa
keuangan:
1. terselenggara secara teratur, adil. transparan, dan akuntabel;
2. mampu mewujudkan sistem keuangan yang tumbuh secara
berkelanjutan
dan
stabil;
dan
3. mampu melindungi kepentingan konsumen dan masyarakat.
Jika ketiga pertahanan tersebut tidak mampu bertahan juga, Kementerian
Keuangan adalah pemain terakhir yang diharapkan mampu menjaga
gawang tetap aman. Kemenkeu sebagai pemegang otoritas terhadap
fiskal dan koordinator FSN mampu memberikan kebijakan untuk menjaga
sistem perbankan tetap stabil. Untuk menjaga stabilitas sistem keuangan
dibentuklah Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan (FKSSK). FKSSK
adalah Operasionalisasi dari Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK)
dengan
anggota
terdiri
atas:
1. Menteri Keuangan selaku anggota merangkap koordnator;
2. Gubernur Bank Indonesia selaku anggota;
3. Ketua Dewan Komisioner OJK selaku anggota; dan
4. Ketua Dewan Komisioner LPS selaku anggota.
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) adalah bagian dari sistem Jaring
Pengaman Sektor Keuangan (JPSK)/anggota FKSSK bersama dengan BI,
Menteri Keuangan, dan OJK. FKSSK menetapkan dan melaksanakan
kebijakan yang diperlukan dalam rangka pencegahan dan penanganan
krisis pada sistem keuangan sesuai dengan kewenangan masing-masing.
Keputusan FKSSK yang terkait dengan penyelesaian dan penanganan
suatu bank gagal (bank resolotion) yang ditangani berdampak sistemik
mengikat LPS.
pemegang saham dan pengurus bank melepaskan dan menyerahkan
kepada LPS segala hak, kepemilikan, kepengurusan dan/atau kepentingan
lain pada bank dimaksud; dan
V. Simpulan
Lembaga Penjamin Simpanan adalah lembaga independen, transparan,
dan akuntabel yang berfungsi menjamin simpanan nasabah perbankan.

Oleh karena itu, dalam melaksanakan fungsinya, LPS mempunyai tugas


merumuskan dan menetapkan kebijakan pelaksanaan penjaminan
simpanan serta melaksanakan penjaminan simpanan. Untuk menjaga
stabilitas sistem keuangan dibentuklah Forum Koordinasi Stabilitas Sistem
Keuangan (FKSSK), yang salah satu anggotanya adalah LPS. LPS
melakukan penanganan Bank Gagal yang berdampak sistemik setelah
FKSSK menyerahkan penanganannya kepada LPS. dan LPS menjamin
simpanan nasabah sesuai peraturan perundang-undangan.

DAFTAR PUSTAKA
Undang-Undang No. 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan.
Undang-Undang No. 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan.
Perpu No. 3 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 24
Tahun 2004 Tentang LPS.
Kompas. 2013. 2013. Penjaminan oleh LPS Berjalan Efektif. 18 Juni .
Jakarta.
Kompas. 2014. Memahami Peran LPS Melalui Analogi Sepak Bola. 24
Juni. Jakarta.