You are on page 1of 7

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Audit terhadap siklus pengeluaran mencakup dua pendekatan yaitu
pengujian terhadap internal kontrol dan pengujian substantif. Pengujian terhadap
inteernal kontrol bertujuan untuk melihat apakah pengendalian internal terhadap
siklus pengeluaran aset tetap diterapkan di perusahaan. Pengujuian susbtantif
terhadap aktiva tetap berfungsi untuk melihat apakah besarnya pengeluaran
terhadap aktiva tetap jumlahnya samadengan yang dicatat dalam laporan
keuangan

perusahaan.

Kedua

pendekatan

ini

sangat

berbeda

dalam

imlpementasinya, sehingga program audit untuk yang kedua pendekatan tersebut


juga sangat berbeda.
Sebelum membahas lebih lanjut siklus pengeluaran ini, terlebih dahulu
perlu dijelaskan pengertian pengeluaran yaitu adalah rangkaian kegiatan bisnis
dan operasional pemrosesan data terkait yang berhubungan dengan pembelian
serta pembayaran barang dan jasa
1.2 Rumusan masalah
1.
2.
3.
4.

Apa saja yang termasuk di dalam ruang lingkup aktiva tetap ?


Bagaimana pengendalian internal dalam siklus pengeluaran aset tetap ?
Bagaimana perlakuan akuntansi terhadap aset tetap ?
Apa tujuan dan prosedur audit terhadap siklus pengeluaran aset tetap ?

1.3 Tujuan Penulisan


Sesuai dengan rumusan masalah diatas maka tujuan yang ingin dicapai
dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Menjelaskan mengenai aktiva tetap
2. Mengetahui pengendalian internal dalam siklus pengeluaran aset tetap
3. Mengetahui perlakuan akuntansi terhadap aset tetap sesuai IFRS
4. Mengetahui tujuan dan prosedur audit terhadap siklus pengeluaran aset
tetap

BAB II
PEMBAHASAN
.1 Ruang Lingkup Aset Tetap
Asset tetap adalah aset berwujud yang diperoleh dalam bentuk siap
pakai atau dengan dibangun lebihb dahulu, dan digunakan dalam operasi
perusahaan, tidak dimaksudkan untuk dijual dalam kegiatan normal
perusahaan dan mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun.
Menurut SAK ETAP (IAI, 2009;68) :
Aset tetap adalah aset berwujud yang :
a. Dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan
barang atau jasa, untuk disewakan kepihak lain, atau untuk
tujuan administratif ; dan
b. Diharapkan akan digunakan lebih dari satu periode.
Suatu benda berwujud harus diakui sebagai suatu aset dan
dikelompokan sebagai aset tetap bila :
A. Besar
kemungkinan
(probable)

bahwa

manfaat

keekonomian dimasa yang akan datang yang berkaitan


dengan aset tersebut akan mengalir kedalan perusahaan ;
dan
B. Biaya perolehan aset dapat diukur secara handal.
Beberapa sifat atau ciri aset tetap adalah :
1. Tujuan dari pembeliannya bukan untuk dijual kembali
atau diperjual belikan sebagai barang dagangan, tetapi
untuk dipergunakan dalam kegiatan operasi perusahaan.
2. Mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun.
3. Jumlahnya cukup material.
Transaksi yang bersangkutan dengan aktiva tetap:
Aktiva Tetap
Penghentian pemakaian
Penjualan
Pertukaran

Pemerolehan
Pengeluaran modal
Revaluasi
Pertukaran
Depresiasi Akumulasian Aktiva Tetap
Penghentian pemakaian
Depresiasi
Penjualan

Pertukaran
2.2 Pengendalian internal dalam siklus pengeluaran terhadap aset tetap
Untuk mengetahui pengendalian internal siklus pengeluaran terhadap siklus
pengeluaran aset tetap dilakukan dengan cara :
1.
2.
3.
4.
5.

Apakah ada otorisasi ketika ada pengeluaran terhadap aset tetap?


Apakah ada pemisahan fungsi antar bagian dalam pengeluaran aset tetap?
Apakah ada inventarisasi dalam aset tetap?
Apakah ada inspeksi dalam pemeriksaan aset tetapnya?
Apakah ada dokumentasi ketika terjadi pengeluaran pada aset tetap?
Contoh internal kontrol question aset tetap :

2.3 perlakuan akuntansai aset tetap


2.4 tujuan dan prosedsur audit siklus pengeluaran aset tetap
Tujuan untuk prosedur audit siklus pengeluaran akuntansi adalah untuk
membuktikan 5 asersi auditor :
1.
2.
3.
4.
5.

Tentang keberadaan atau keterjadian


Kelengkapan
Hak dan kewajiban terhadap aset tetap
Alokasi dan penilaian aset tetap
Penyajian dan pengungkapkan
Sebelum membuktikan apakah saldo aktiva tetap yang dicantumkan oleh

klien di dalam neracanya sesuai dengan aktiva tetap yang benar-benar ada pada
tanggal neraca, auditor melakukan rekonsiliasi antara informasi aktiva tetap yang
dicantumkan di neraca dengan catatan akuntansi yang mendukungnya.
Rekonsiliasi ini perlu dilakukan agar auditor memperoleh keyakinan bahwa
informasi aktiva tetap yang dicantumkan di neraca didukung dengan catatan
akuntansi yang dapat dipercaya. Oleh karena itu, auditor melakukan enam
prosedur audit berikut ini dalam melakukan rekonsiliasi informasi aktiva tetap di
neraca dengan catatan akuntansi yang bersangkutan:
a. Usut saldo aktiva tetap yang tercantum di neraca ke saldo akun aktiva tetap
yang bersangkutan di dalam buku besar. Untuk memperoleh keyakinan
bahwa saldo aktiva tetap yang tercantum di neraca didukung dengan catatan
4

akuntansi yang dapat dipercaya kebenaran mekanisme pencatatannya, maka


saldo aktiva tetap yang di cantumkan di neraca diusut ke akun buku besar.
b. Hitung kembali saldo akun aktiva tetap dan depresiasi akumulasian yang
bersangkutan di buku besar. Untuk memperoleh keyakinan mengenai
ketelitian perhitungan saldo akun aktiva tetap, auditor menghitung kembali
saldo akun aktiva tetapdan depresiasi akumulasian yang bersangkutan
dengan

menambah

saldo

awal

dengan

jumlah

pengkreditan

dan

menguranginya dengan jumlah pendebitan tiap-tiap akun tersebut.


c. Usut saldo awal akun aktiva tetap dan depresiasi akumulasian yang
bersangkutan ke kertas kerja tahun lalu. Sebelum auditor melakukan
pengujian terhadap transaksi rinci yang menyangkut akun aktiva tetap dan
depresiasi akumulasian yang bersangkutan, ia perlu memperoleh keyakinan
atas kebenaran saldo awal akun tersebut.
d. Lakukan review terhadap mutasi luar biasa dalam jumlah dan sumber
posting dalam akun aktiva tetap dan depresiasi akumulasiannya. Kecurangan
dalam

transaksi

pemerolehan,

pertukaran,

penghentian

pemakaian,

depresiasi aktiva dapat ditemukan melalui review atas mutasi luar biasa, baik
dalam jumlah maupun sumber posting dalam akun aktiva tetap, dan
depresiasi akumulasian, dan pendapatan dan rugi luar biasa.
e. Usut posting pendebitan dan pengkreditan akun aktiva tetap dan depresiasi
akumulasian yang bersangkutan ke jurnal yang bersangkutan. Untuk
memperoleh keyakinan bahwa mutasi penambahan dan pengurangan aktiva
tetap berasal dari jurnal-jurnal yang bersangkutan, pendebitan didalam akun
aktiva tetap diusut keregister bukti kas keluar dan jurnal umum sedangkan
pengkreditan kedalam akun tersebut diusut ke jurnal umum.
f. Lakukan rekonsiliasi buku pembantu aktiva tetap dengan akun control aktiva
tetap dan depresiasi akumulasian yang bersangkutan di buku besar. Saldo
akun control aktiva tetap dan depresiasi akumulasian yang bersangkutan di
buku besar tersebut kemudian dicocokkan dengan jumlah saldo akun
pembantu aktiva tetap ke dalam arsip bukti kas keluar yang belum ddibayar
untuk memperoleh keyakinan bahwa catatan akuntansi klien yang
bersangkutan dengan aktiva tetap dapat dipercaya ketelitiannya.

BAB III
PENUTUP
.1 Kesimpulan
Aktiva tetap memiliki karateristik yang berbeda dengan karakteristik
aktiva lancar, yang berdampak terhadap pengujian subtantif terhadap aktiva tetap.
Frekuensi transaksi yang menyangkut aktiva tetap relatif sedikit, maka jumlah
waktu yang dikonsumsi untuk pengujian substantif terhadap aktiva tetaprelatif
lebih sedikit bila dibandingkan dengan waktu yang digunakan untuk pngujian
substantif terhadap aktiva lancar. Karena transaksi yang bersangkutan dengan
aktiva tetap sedikit pengaruhnya terhadap perhitungan rugi-laba, maka auditor
tidak mengarahkan perhatiannya terhadap masalah ketelitian pisah batas transaksi
yang bersangkutan dengan aktiva tetap pada akhir tahun.

.2 Saran