You are on page 1of 3

Contesting sustainability in urban transport perspectives from a Swedish town

Natural Resources Forum 39, Halaman 15-26, Tahun 2015


Paul Fenton dan Sara Gustafsson

Studi kasus menyoroti masalah akrab bagi banyak kotamadya - sektor transportasi,
sebagian besar bergantung pada bahan bakar fosil kendaraan pribadi yang menghasilkan
dampak yang signifikan terhadap iklim dan lingkungan, bersama dengan biaya ekonomi
dan sosial lainnya. Namun, meskipun sadar akan dampak negatif ini, sulit untuk
menerapkan langkah-langkah untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan
memungkinkan transisi menuju sektor transportasi berkelanjutan.
Industrialisasi, urbanisasi, dan perubahan demografi, dalam beberapa dekade
terakhir menyebabkan kekhawatiran tentang dampak antropogenik pada lingkungan.
Pengembangan seperti yang diinformasikan konseptualisasi pembangunan berkelanjutan
sebagai sebuah kerangka longgar didefinisikan untuk mengatasi kekhawatiran lingkungan,
ekonomi, dan social dengan cara yang harmonis (WCED, 1987;PBB, 1992).
Upaya untuk mengoperasionalkan pembangunan berkelanjutan sering terfokus
pada kegiatan lokal, awalnya melalui platform Agenda Lokal 21 (United Nations, 1992).
Upaya-upaya tersebut telah menekankan peran sentral kotamadya dalam menangani
lingkungan, ekonomi, dan kepedulian sosial.
Kotamadya di Swedia telah memainkan peran penting dalam memajukan banyak
aspek perkembangan berkemajuan dengan Agenda Lokal 21 dan mekanisme lainnya.
Dalam beberapa sektor, khususnya pemanasan distrik, ini telah menghasilkan pengurangan
berkelanjutan gas emisi rumah kaca (IEA, 2013). Namun, gambaran ini tercampur dengan
sektor transport. Peran dan tanggung jawab bervariasi negara (contoh: infrastruktur jalan
dan rel, bandara, pelabuhan), daerah (contoh: transport umum) dan lokal (contoh:
perencanaan kota). Dalam 20 tahun silam, banyak proyek-proyek yang telah mendorong
inovasi-inovasi seperti penemuan kendaraan baru atau bahan bakar baru, congestion
charging, infrastruktur sepeda, dan lain-lain.
Akan tetapi, banyak kotamadya di Swedia masih kesulitan untuk mengurangi
ketergantungan kendaraan pribadi dan mengaktifkan mobilitas yang berkemajuan. Jurnal
ini mempertanyakan mengapa, meskipun telah mengadopsi target untuk mempromosikan
mobilitas berkemajuan, kotamadya tetap kesulitan mengimplimentasi langkah-langkah
untuk memungkinkannya mobilitas yang berkemajuan.
Norrkoping, sebuah negeri yang terletak di Swedia sering dianggap maju dalam
debat tentang pembangunan berkelanjutan dan dikenal unik berkenaan dengan

pemerintahan kota. Wollman (2008) mencatat bahwa Swedia memiliki sejarah yang lebih
panjang dari kota pemerintahan itu sendiri daripada negara-negara Eropa dan Swedia
memiliki mandat konstitusi dengan kekuatan yang signifikan, termasuk perpajakan.

Dokumen penelitian menunjukkan bahwa, selama 15 tahun terakhir, Norrkping


memiliki rumusan berulang pernyataan yang jelas mengungkapkan niatnya untuk
meningkatkan keberlanjutan sistem transport, mengurangi penggunaan mobil, dan
memprioritaskan modus lain dalam transport. Politik kotamadya dan kerangka institusional
telah sadar akan kebutuhan untuk mengatasi pembangunan berkelanjutan dan khususnya
transportasi dan mereka telah berkomitmen untuk langkah-langkah khusus menggunakan
alat perencanaan tersebut.
Namun demikian, dokumen penelitian mengungkapkan sejumlah masalah berulang
dan bukti tidak konsisten, tidak lengkap atau pelaksanaan parsial beberapa kebijakan atau
tindakan (misalnya, masalah berulang dengan polusi udara atau kecelakaan di lokasi yang
sama). Namun, kegagalan untuk mencapai menyatakan tujuan tersebut tidak menghasilkan
adopsi secara substansial pendekatan baru, melainkan pengulangan dari tujuan masa lalu.
Jurnal ini menyoroti ketidaksesuaian antar tujuan jangka lama dan performa
kebijakan Norrkoping ini. Untuk menginvestigasi mengapa ketidaksesuaian ini terjadi,
peneliti memutuskan untuk melaksanakan sebuah survei, untuk menyelediki bagaimana
sebuah grup pemegang saham berpikir tentang peran transport dalam perencanaan kota.
Survei dibuat di SurveyMonkey, sebuah alat online dan didistribusikan ke penerima pada
tangal 3 Mei 2012, dan balasan dibutuhkan pada tanggal 22 Mei 2012.
Survei terdiri dari 13 pertanyaan. Bagian utama survey ini meliputi peran dan
persepsi penerima (Q1; Q10), pilihan pribadi dan kelakuan (Q2-3), dan pendapat (Q4-9;
Q11-12). Pertanyaan yang meliputi pendapat berpasangan, pertanyaan pertama dalam
pasangan itu menanyakan pendapat yang seharusnya terjadi dan yang kedua menanyakan
bagaimana pendapat penerima tentang implementasi yang sebenarnya terjadi.
Responden percaya bahwa transisi untuk berhenti menggunakan mobil tidaklah
mungkin. Walau sudah tersedia peralatan (politik dan kebijakan) yang benar, responden
tetap tidak memiliki kepercayaan untuk kemampuan mereka membuat perubahan. Performa
lampau mungkin telah memberikan efek kepercayaan diri responden, dalam hal
ketidakberhasilan objektif yang pernah terjadi, mungkin telah menurunkan kepercayaan diri
untuk prestasi masa depan. Ditambah, kepercayaan diri mungkin disebabkan oleh emosi
atau kognisi (Druckman dan McDermott, 2008).
Sebagai contoh, eksposur berulang dalam percobaan sebelum-sebelumnya yang
gagal untuk meningkatkan transportasi berkelanjutan mungkin membuat responden untuk
melebih-lebihkan kemungkinan kegagalan di masa yang akan datang (Tversky dan
Kahneman, 1973). Dalam kata lain, pesimis disini adalah sesuatu yang dilebih-lebihkan.
2

Sebagai contoh, pesimis terhadap kemungkinan peraihan perubahan dengan menggunakan


strategi atau kebijakan mungkin akan memberikan efek ke ramalan, di mana responden
secara selektif membayangkan solusi hipotetis terhadap masalah (cth: teknologi baru, jenis
bahan bakar, dll), daripada aktif mencoba untuk membentuk masa depan (Wilson dan
Gilbert, 2003).
Zaller dan Feldman (1992) menggunakan pendekatan lain untuk memahami hasil
sebuah survei, menyatakan bahwa opini dibentuk dan diperbaharui ketika responden
ditanyakan pertanyaan-pertanyaan dan kadang bergantung pada efek framing. Sehingga,
respons mungkin memberikan wawasan yang terbatas atau hanya menunjukkan
ketidaksesuaian ketika tersirat dalam pertanyaannya. Untuk responden survei ini, artinya
cara pertanyaan dikaitkan dengan konteks personal atau profesi nya menimbulakn mereka
merespon dengan cara yang berbeda.
Studi ini bertujuan menyelidiki kelakuan dan opini dari sejumlah orang-orang
penting agar bisa menidentifikasi ketidaksesuaian dan menggambarkan bagaimana
psikologi politik memberikan wawasan yang memperkaya pemahaman kita tentang
kebijakan kotamadya dan praktiknya. Perlu dicatat bahwa dengan memfokuskan kepada
psikologi politiknya, studi ini tampaknya telah meremehkan kepentingan dari dinamika
politik, institusi, dan faktor-faktor lainnya yang dapat mempengaruhi kebijakan, kelakuan,
dan opini pada tingkat kotamadya walaupun ini bukanlah niat dari penulis.