You are on page 1of 10

PERSETUJUAN PEMBIMBING ARTIKEL E-JURNAL

PENGEMBANGAN MODUL KONSEP MOL DAN PERHITUNGAN KIMIA


BERBASIS DISCOVERY LEARNING UNTUK KELAS X SMA/MA
HAT NOVITA SARI

Artikel dengan judul ini telah kami setujui untuk dipublikasikan di e-journal dengan
keterangan:
1. Artikel ini disusun berdasarkan skripsi saudara Hat Novita Sari untuk persyaratan wisuda
periode 107 dan telah diperiksa/disetujui oleh kami kedua pembimbingnya.
2. Nama dan urutan nama penulis dalam artikel ini adalah sebagai berikut.
Hat Novita Sari#1, Yerimadesi*2, Bayharti#3
Padang, Agustus 2016
Pembimbing I

Pembimbing II

Yerimadesi, S.Pd, M.Si


NIP.19740917 200312 2 001

Dra.Hj.Bayharti,M.Sc
NIP.19550801 197903 2 001

PENGEMBANGAN MODUL KONSEP MOL DAN


PERHITUNGAN KIMIA BERBASIS DISCOVERY
LEARNING UNTUKKELAS X SMA/MA
Hat Novita Sari#1, Yerimadesi*2, Bayharti#3
Jurusan Kimia, Universitas Negeri Padang, Indonesia
#1
Mahasiswa Kimia, #3Pembimbing II
1

hatnovitasari@gmail.com
yerimadesi_74@yahoo.com

*2

Pembimbing I,
*Jurusan Kimia, Universitas Negeri Padang, Indonesia
2

yerimadesi_74@yahoo.com

Abstract- Mole concept and stoikiometry is the subject matter of class X semester of high school chemistry 2
elusive by some students. To understand this material teachers need to implement an instructional model that
directs students to find their own concept of knowledge gained so memorable and enduring in memory of
students. One model that can be applied is a model of discovery learning. To implement this model required
instructional materials that can enhance students' critical thinking ability. One of the teaching materials that can
be used is a discovery-based learning modules. This study aims to produce modules mole concept and
stoikiometry based discovery learning valid and practical. This study is a Research and Development (R & D)
and the development model used is a model 4-D consists of four stages; (1) define, (2) design, (3) develop and
(4) disseminate. The research instrument used in the form of a questionnaire in the form of sheet validity and
practicalities. Validity sheets filled out by 5 lecturers of department of chemistry and chemical 3 teachers.
Practicalities sheets filled out by 3 people a chemistry teacher and 30 students of class X SMAN 3 Padang. Data
analysis was performed using Cohen's Kappa formula. Validity test results gained an average of 0.76 kappa
moment with high validity category. The test results by the practicalities of teachers and students gained an
average moment kappa of 0.65 and 0.67 with high practicality categories. Based on the results of this study
concluded that the module concept of the mole and stoikiometry based discovery learning valid and practical, so
that it can be used in learning activities.
Keywords: Discovery-Based Learning Module, Mol Concepts and stoikiometry, Research and Development, 4D Model

I.

III.

PENDAHULUAN

Pembelajaran kimia dan penilaian hasil


belajar kimia harus memperhatikan karakteristik
ilmu kimia sebagai sikap, proses, dan produk.
Dalam konteks ini, kimia bukan sekedar bagaimana
cara bekerja, melihat dan cara berfikir, melainkan
sebagai jalan untuk mengetahui/menemukan konsep
sendiri sehingga pengetahuan yang didapat mudah
diingat dan akan bertahan lama dalam ingatan siswa.
Guru hendaknya menguasai dan dapat menerapkan
berbagai model pembelajaran agar dapat mencapai
tujuan pembelajaran yang sangat beraneka ragam.
Beberapa model pembelajaran yang dapat
diterapkan sebagai berikut;
Problem Based
Learning (PBL), Project based learning (PjBL),
Inquiry Learning dan Discovery Lerning (DL).
Salah satu model pembelajaran yang dapat
membantu siswa mengetahui/menemukan konsep
sendiri adalah model pembelajaran discovery
lerning[2]

II. Ilmu kimia merupakan bagian dari ilmu


pengetahuan alam yang mempelajari struktur dan
sifat materi (zat), perubahan materi (zat), dan energi
yang menyertai perubahan tersebut[1]. Salah satu
materi pelajaran kimia kelas X adalah Konsep mol
dan perhitungan kimia. Konsep mol dan perhitungan
kimia merupakan materi yang bersifat faktual,
konseptual, prinsip dan prosedural. Fakta dari materi
ini adalah 1mol = 6,02 X1023 jumlah partikel,
sedangkan materi yang berupa konsep adalah mol
adalah satuan jumlah suatu materi (ion, atom, dan
molekul), dan prinsip dari materi ini adalah satu mol
zat menyatakan banyaknya zat yang mengandung
jumlah partikel yang sama dengan jumlah partikel
dalam 12,0 gram isotop C-12. Pada materi ini siswa
dituntut untuk memahami konsep dan informasi
mengenai
kegunaan
konsep
mol
dalam
menyelesaikan perhitungan kimia.
1

IV.Berdasarkan wawancara yang telah


dilakukan di SMAN 2 & 3 kota Padang dan SMAN
2 Bukittinggi, diperoleh informasi bahwa dalam
pelaksanaan pembelajaran kimia pada materi konsep
mol dan perhitungan kimia sudah menggunakan
buku teks dan LKS. Namun, siswa masih kesulitan
dalam proses pembelajaran terutama dalam
memahami konsep, rumus, dan persamaan pada sub
materi volume molar pada keadaan STP dan RTP,
rumus kimia (rumus empiris dan molekul) dan
pereaksi pembatas. Hal ini disebabkan semua
materi/konsep sudah tersedia didalam buku teks dan
LKS, dan penyajian materi masih ada yang salah
dalam penulisan rumus/persamaan.
V.
Model pembelajaran discovery learning
mengarahkan peserta didik untuk menemukan
konsep, rumus, persamaan-persamaan, kemudian
melalui proses peserta didik didorong untuk
mengidentifikasi apa yang ingin diketahui dan
dilanjutkan dengan mencari informasi sendiri,
mengkonstruksi apa yang dipahami sehingga
akhirnya sampai pada suatu kesimpulan[3].
Pembelajaran dengan model discovery learning ini
telah banyak diteliti dapat meningkatkan aktivitas
dan hasil belajar, seperti hasil belajar kognitif siswa
pada materi biologi tahun pelajaran 2011/2012 di
SMA Negeri 7 Surakarta[4]
VI. Dalam
mengimplementasikan
model
discovery learning ini, diperlukan bahan ajar[5].
Penggunaan bahan ajar dapat meningkatkan
meningkatkan kemampuan berfikir kritis siswa[6].
Beberapa bahan ajar yang dapat digunakan untuk
membantu proses pembelajaran yaitu; lembar
kegiatan siswa (LKS), handout, buku cetak dan
modul[7].
VII. Modul merupakan suatu unit yang lengkap
terdiri dari rangkaian kegiatan belajar yang disusun
untuk membantu siswa mencapai tujuan yang
dirumuskan secara jelas dan spesifik agar siswa
dapat belajar secara mandiri tanpa atau dengan
bimbingan guru[8]. Salah satu tujuan pengajaran
modul ialah untuk mencapai tujuan pembelajaran
secara efisien dan efektif[9].
VIII.Modul yang akan dikembangkan yaitu
modul konsep mol dan perhitungan kimia berbasis
discovery learning. Tahapan pembelajaran dalam
discovery learning tergambar dalam menyusun
modul yaitu pada lembar kegiatan. Tahapan
discovery learning meliputi 6 tahap yaitu:
stimulation (pemberian rangsangan), problem
statement (identifikasi masalah), data collection
(pengumpulan data), data processing (pengolahan
data), verification (pembuktian), dan generalization

(menarik kesimpulan). Berdasarkan latar belakang


diatas maka dilakukan penelitian dengan judu :
Pengembangan Modul Konsep Mol dan
Perhitungan Kimia berbasis Discovery Learning
Untuk Siswa Kelas X SMA/MA.
IX.
X.

METODE PENELITIAN

XI. Penelitian ini merupakan peneliitian


Reaserch and Development (R&D). Model
pengembangan yang digunakan adalah model
pengembangan 4-D, yang terdiri dari 4 tahap yaitu;
define (pendefenisian), design (perancangan),
develop
(pengembangan),
dan
disseminate
[10]
(penyebaran) . Pada penelitian dan pengembangan
yang akan dilakukan kali ini hanya terbatas pada
tahap develop (pengembangan), sehingga tahap
penyebaran (disseminate) tidak dilakukan. Subjek
penelitian ini adalah dosen jurusan kimia FMIPA
UNP, guru kimia SMAN 3 Padang, dan siswa kelas
X MIA SMAN 3 Padang.
XII. Pada
tahap
define
(pendefenisian)
dilakukan analisis awal-akhir, analisis siswa,
analisis tugas, analisis konsep, dan analisis tujuan
pembelajaran. Langkah-langkah pada tahap define
ini meliputi:
a. Analisis awal-akhir
XIII.
Analisis awal-akhir ini bisa dilakukan
melalui study literature, yaitu berdasarkan rujukan
dari penelitian sebelumnnya dan buku yang relevan,
dan mewawancarai beberapa orang guru kimia
SMA/MA (1 orang guru kimia SMAN 2 Padang,
dan 2 orang guru SMAN 3 Padang). Lembar
wawancara dapat dilihat pada Lampiran 5-6.
b. Analisis siswa
XIV.
Analisis ini dilakukan melalui study
literature dan wawancara yang dilakukan di sekolah
untuk mengetahui karakteristik siswa yang meliputi
kemampuan akademik, motivasi belajar. Lembar
wawancara dapat dilihat pada Lampiran 5-6.
c. Analisis tugas
XV.
Analisis
ini
bertujuan
untuk
mengidentifikasi dan menganalisis kemampuan
yang harus dikuasai siswa, dengan cara
menganalisis Kompetensi Dasar (KD) berdasarkan
silabus Permendikbud tahun 2014 nomor 59.
d. Analisis konsep
XVI.
Analisis konsep merupakan identifikasi
konsep-konsep utama pada materi yang akan
dibahas. Analisis konsep konsep mol dan
perhitungan kimia dilakuan berdasarkan analisis
Kompetensi dasar yang ada pada silabus Kurikulum

2013 pada Permendikbud 2014 n0. 59, dan


sendiri apakah pekerjaannya telah diselesaikan
mempelajari buku-buku kimia perguruan tinggi dan
dengan baik atau tidak.
buku kimia SMA yang relevan, yaitu buku Justiana
h. Evaluasi, merupakan alat pengukur keberhasilan
S & Muchtaridi, 2009, Unggul Sudarmo, 2013,
atau tercapai tidaknya tujuan yang telah
Raymon Chang, 2004, Hiskia Achmad, 2001, dan
dirumuskan dalam modul. Evaluasi berisi soalBrady, 2012, sehingga diperoleh tabel analisis
soal untuk menilai keberhasilan siswa dalam
konsep yang dapat dilihat pada (Lampiran 1).
mempelajari bahan yang disajikan dalam modul.
e. Analisis tujuan
kisi-kisi soal evaluasi sesuai tujuan pembelajaran
XVII.
Analisis tujuan pembelajaran merupakan
yang dapat dilihat pada Lampiran 2.
tahap pengubahan hasil analisis tugas dan analisis
i. Kunci Jawaban Evaluasi, berisi jawaban yang
konsep ke dalam tujuan pembelajaran. Tujuan
benar untuk tiap soal yang ada dalam lembar
pembelajaran didapat dari merumuskan kompetensi
penilaian, dan digunakan sebagai alat koreksi
dasar menjadi indikator, kemudian indikator
sendiri terhadap pekerjaan yang dilakukan.
dirumuskan menjadi tujuan pembelajaran yang lebih
XIX. Tahap develop (pengembangan) ini terdiri
spesifik.
dari tiga tahap, yaitu uji validitas, revisi, dan uji
XVIII. Tahap design (perancangan) bertujuan
praktikalitas modul konsep mol dan perhitungan
untuk merancang modul konsep mol dan
kimia berbasis discovery learning untuk kelas X
perhitungan kimia berbasis discovery learning.
SMA/MA. Uji validitas dilakukan oleh 5 orang
Perancangan dilakukan berdasarkan komponen
dosen kimia FMIPA UNP, 1 orang guru kimia
modul[11], yang terdiri dari;
SMAN 2 Padang dan 2 orang guru kimia SMAN 3
a. Cover, pada bagian ini berisi judul dan gambar
Padang sebagai validator. Daftar nama validator
yang berhubungan dengan materi. Cover dibuat
dapat dilihat pada Lampiran 7. Kritikan, masukan,
semenarik mungkin untuk menimbulkan minat
dan saran dari validator menjadi bahan untuk
pembaca. Design cover dapat dilihat pada
merevisi modul konsep mol dan perhitungan kimia
Gambar 3.
berbasis discovery learning.
b. Kompetensi yang akan dicapai, di dalamnya
XX. Uji praktikalitas ini dilakukan dengan
berisi kompetensi inti, kompetensi dasar,
memberikan angket uji praktikalitas kepada 1 orang
indikator, dan tujuan pembelajaran yang harus
guru kimia SMAN 2 Padang, 2 orang guru kimia
dikuasai siswa.
SMAN 3 Padang dan 30 orang siswa SMAN 3
c. Petunjuk penggunaan, dengan adanya petunjuk
Padang .
penggunaan ini diharapkan siswa dapat belajar
XXI. Instrumen
pengmpulan
data
yang
secara mandiri dan peranan guru jelas dalam
digunakan dalam penelitian ini adalah lembar
proses pembelajaran.
validasi dan praktikalitas (angket respon guru dan
d. Peta konsep, diharapkan siswa lebih mudah
siswa). Data dari lembar validasi dan praktikaltas
mengingat konsep inti dari materi yang akan
yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan
dipelajarinya.
formula kappa cohen untuk menentukan validitas
e. Lembar Kegiatan, berisi materi pelajaran konsep
dan praktikalitas modul konsep mol dan perhitungan
mol dan perhitungan kimia yang disusun
kimia berbasis discovery learning yang dihasilkan.
berdasarkan model discovery learning yang
XXII.
Tabel 1. Daftar Nama Validator Lembar
terdiri dari 6 tahap; stimulation, problem
Validasi
statement, data collection, data processing,
XXIII. N XXIV.
Nama Validator
XXV.
Spesialisa
verification, dan generalization.
o
si
f. Lembar kerja, berisi tugas-tugas atau latihan
XXVI. 1XXVII.
Dr. Rahadian Z, S.Pd,XXVIII.
Kimia
yang harus dikerjakan siswa baik secara
M.Si
Fisika
kelompok maupun mandiri yang berguna untukXXIX. 2XXXII.
Dr. Minda Azhar, XXXV.
Biokimia
melihat sejauh mana pemahaman siswa tentang XXX. 3
XXXVI.
Pendidika
M.Si
XXXI. XXXIII.
4
Fauzana Gazali, S.Pd,
n Kimia
lembar kegiatan yang telah ia kerjakan.
XXXVII.
Kimia
M.Si
g. Kunci jawaban lembar kerja, berisi jawaban
XXXIV.
Yerimadesi,
S.Pd,
Fisika
yang diharapkan tentang tugas-tugas atau latihan
M.Si
yang dikerjakan siswa pada waktu melaksanakan
XXXVIII. XXXIX.
5
Dra. Hj. Bayharti,
XL.
Kimia
kegiatan belajar dengan mempergunakan lembar
M.Sc
Anorgani
kerja. Dengan kunci ini siswa dapat mengoreksi
k
XLI. 6 XLII.

Dra. Zarniwati

XLIII.

Guru

XLIV. 7XLVII.
XLV.
XLVI. 8XLVIII.
XLIX.

Helmida Fitri, S.Pd,


M.Si
Suci
Charisma
Pendar, S.Pd

L.

LI.

LII.

LIII.
LIV.

moment kappa(k )=

Kimia
LXXII. Tahap
define
(pendefenisian)
ini
SMA
merupakan tahap awal yang terdiri 5 langkah
Negeri 2
meliputi analisis awal-akhir, analisis siswa, analisis
Padang
tugas, analisis konsep, dan analisis tujuan
Guru
pembelajaran. Data yang diperoleh pada tahap ini
Kimia
akan diuraikan sebagai berikut ini.
SMAN 3
Padang
a. Analisis Awal Akhir
Guru
LXXIII.
Data yang diperoleh pada analisis awalKimia
SMAN 3
akhir berupa hasil wawancara, yang menyatakan
Padang
bahwa sebagian siswa masih kesulitan dalam

memahami konsep dan rumus umum/persamaan


yaitu pada materi volume molar, pereaksi pembatas
dan persamaan reaksi. Lembar wawancara dapat
dilihat pada Lampiran 5-6. Selain itu, di sekolah
belum terdapat bahan ajar dalam bentuk modul pada
materi konsep mol dan perhitungan kimia berbasis
discovery learning. Bahan ajar yang digunakan pada
pembelajaran kimia materi konsep mol dan
perhitungan kimia disekolah sudah menggunakan
buku teks, powerpoint, dan LKS. Permasalahannya
didalam buku teks dan LKS tersebut tidak menuntut
siswa menemukan konsep sendiri, sehingga
diperlukan bahan ajar yang bisa membuat siswa
belajar menemukan konsep sendiri.

pPe
1Pe

Tabel 2. Kategori Keputusan berdasarkan


LV.
Moment Kappa (k)[12]
LVI.
Inte LVII.
Kate
rval
gori
LVIII.
0,81 LIX.
sang

at
1,00
tingg
i
LX.
0,61 LXI.
Ting

gi
0,80
LXII.
0,41 LXIII.
Seda

ng
0,60
LXIV.
0,21 LXV.
Ren

dah
0,40
LXVI.
0,01 LXVII.sangat

rend
0,20
ah
LXVIII.
<0,0 LXIX.tidak
0
valid

LXX.
LXXI. HASIL DAN PEMBAHASAN
A Hasil Penenlitian
Berdasarkan tujuan penelitian dan jenis
penelitian Research and Developmen (R&D) dengan
model pengembangan 4-D , maka dihasilkan suatu
produk berupa modul konsep mol dan perhitungan
kimia berbasis discovery learning untuk kelas X
SMA/MA. Model pengembangan 4-D terdiri dari
tahap define (pendefinisian), design (perancangan),
develop
(pengembangan)
dan
disseminate
(penyebaran) yang akan memperlihatkan hasil
penelitian secara keseluruhan yang dapat diuraikan
sebagai berikut ini.
1. Tahap Define (Pendefenisian)

b. Analisis siswa
LXXIV. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru
diperoleh data bahwa kemampuan akademik siswa
kelas X secara umum heterogen, dan motivasi
belajar siswa juga tergolong sedang. Berdasarkan
study literature bahwa anak yang berumur 12-18
tahun berdasarkan tahap perkembangan kognitif
menurut Piaget dalam (Budiningsih, Asri, 2012)
berada pada tahap operational formal. Dimana pada
tahap ini anak sudah mampu berfikir abstrak dan
logis. Anak juga memiliki kemampuan untuk
menarik
kesimpulan,
menafsirkan,
dan
[13]
mengembangkan hipotesa . Oleh karena itu
dibutuhkan model pembelajaran yang mampu
membuat anak berfikir kritis, menarik kesimpulan,
dan mengembangkan hipotesa, salah satunya adalah
model discovery learning.
Dalam mengimplementasikan model perlu
bahan ajar yang mampu membuat anak untuk
berperan aktif dalam belajar, salah satu bahan ajar
adalah modul. Untuk itu dirancang modul berbasis
discovery learning yang mendorong siswa untuk
menemukan sendiri, menyelidiki sendiri dan
merumuskan hipotesis dan menemukan kebenaran
dengan menggunakan proses induktif/deduktif
sampai pada menarik kesimpulan.
c. Analisis Tugas

LXXV. Berdasarkan silabus Permendikbud no. 59


tahun 2014, materi konsep mol dan perhitungan
kimia berada pada kompetensi dasar (KD) 3.11 dan
4.11 sebagai berikut.

untuk menjadi tujuan pembelajaran yang lebih


spesifik. Berikut ini tujuan pembelajaran dari materi
konsep mol dan perhitungan kimia, diharapkan
siswa dapat:
1) Menjelaskan pengertian mol dengan benar.
2) Menentukan massa molar suatu unsur dan suatu
senyawa dengan benar.
3) Menghitung volume molar gas dengan benar.
4) Menentukan rumus empiris dari suatu senyawa
dengan benar.
5) Menentukan rumus molekul dari suatu senyawa
dengan benar.
6) Menentukan rumus senyawa hidrat dengan
benar.
7) Menghitung kadar zat seperti (persen, ppm,
Molaritas, Molalitas dan Fraksi mol) dengan
tepat.
8) Menganalisis hubungan antara jumlah mol,
partikel, massa dan volume gas dalam
persamaan reaksi dengan benar.
9) Mengaitkan konsep mol untuk menentukan
pereaksi pembatas dengan benar.

3.11

Menerapkan konsep massa molekul relatif,


persamaan reaksi, hukum-hukum dasar kimia,
dan konsep mol untuk menyelesaikan
perhitungan kimia
4.11 Mengolah dan menganalisis data terkait massa
atom relatif dan
massa molekul relatif,
persamaan reaksi, hukum-hukum dasar kimia,
dan konsep mol untuk
menyelesaikan
perhitungan kimia.
LXXVI.
Untuk melihat ketercapaian kompetensi
dasar oleh siswa, maka dirumuskan menjadi
beberapa
indikator
pembelajaran.
Indikator
digunakan sebagai acuan untuk merancang modul
konsep mol dan perhitungan kimia berbasis
discovery learning. Indikator pembelajaran dapat
dilihat sebagai berikut.
1. Menjelaskan pengertian Mol
2. Menentukan massa molar dan volume molar gas
dari suatu senyawa.
3. Mengaplikasikan konsep mol dalam menentukan
rumus kimia
4. Menentukan rumus senyawa hidrat
5. Menghitung kadar zat dalam campuran seperti
(persen, PPM, Molaritas, Molalitas dan Fraksi
mol).
6. Menganalisis hubungan antara jumlah mol, partikel,
massa dan volume gas dalam persamaan reaksi
7. Mengaitkan konsep mol untuk menentukan pereaksi
pembatas.
LXXVII.
d. Analisis konsep
LXXVIII.
Tabel analisis konsep digunakan untuk
membuat peta konsep. Tabel analisis konsep dapat
dilihat pada Lampiran 1. Peta konsep digunakan
untuk memudahkan siswa dalam mempelajari
konsep-konsep yang terdapat pada materi konsep
mol dan perhitungan kimia. Materi konsep mol dan
perhitungan kimia terdiri materi utama dan materi
pendukung. Materi utama yaitu konsep mol, rumus
kimia, kadar zat, dan stoikiometri reaksi. Materi
pendukung yaitu pengertian mol, massa molar,
volume molar, rumus empiris, rumus molekul,
rumus senyawa hidrat, kadar zat dalam satuan
(persen massa, persen volume, ppm, molal, molar,
dan fraksi mol), persamaan kimia, dan pereaksi
pembatas.
e. Analisis tujuan pembelajaran
LXXIX.
Analisis tujuan pembelajaran dirumuskan
berdasarkan indikator dan tabel analisis konsep,

2. Tahap design (perancangan)


LXXX. Pada tahap ini diperoleh modul konsep mol
dan perhitungan kimia berbasis discovery learning,
yang terdiri dari komponen-komponen modul yang
telah disusun sebagai berikut.
Pada cover yang dirancang berwarna
hijau berisi judul materi konsep mol dan
perhitungan kimia, nama pengarang modul,
nama dosen pembimbing, kelas, fakultas dan
universitas asal, kemudian gambar yang
berhubungan dengan materi konsep mol dan
perhitungan kimia.
Kompetensi yang akan dicapai yang
terdiri dari KI, KD, Indikator dan tujuan
pembelajaran. Kompetensi yang akan dicapai
yang terdapat pada modul berisi mengenai
kompetensi yang harus dicapai siswa setelah
membaca dan memahami modul.
Pada petunjuk belajar pada modul berisi
petunjuk guru dan petunjuk siswa. Petunjuk
penggunaan guru berisi tentang rentetan
kegiatan guru dalam membimbing siswa dalam
menggunakan modul. Petunjuk penggunaan
siswa berisi cara penggunaan kegiatan yang
dilakukan siswa dalam menggunakan modul.
Peta konsep diharapkan agar siswa lebih
mudah mengingat konsep inti dari materi
konsep mol dan perhitungan kimia yang akan
dipelajarinya.
Lembar kegiatan berisi materi konsep
mol dan perhitungan kimia yang merupakan

kegiatan belajar siswa yang disusun


berdasarkan tahapan discovery learning yang
a
Isi
0,76
Tinggi
meliputi stimulation, problem statement, data
Kebahasaa
collection, data processing, verification, dan
0,80
Tinggi
n
generalization.
Penyajian
0,74
Tinggi
Lembar kerja berisi pertanyaan yang
Kegrafika
harus diselesaikan siswa baik berkelompok
0,74
Tinggi
n
maupun mandiri, untuk melihat sejauh mana
Rata-rata
0,76
Tinggi
pemahaman siswa terhadap lembar kegiatan
LXXXIII.
Gambar 1. Validasi modul Konsep Mol dan
yang telah diselesaikannya.
Perhitungan Kimia Berbasis Discovery
Evaluasi terdapat 30 pertanyaan yang
Learning terhadap semua aspek penilaian.
ditujukan untuk siswa, guna untuk mengukur LXXXIV.
seberapa jauh keberhasilan kompetensi yang Berdasarkan keempat aspek yang dinilai oleh validator
mereka kuasai setelah mengikuti proses
diperoleh hasil analisis data validitas modul
pembelajaran.
konsep mol dan perhitungan kimia berbasis
Kunci lembar kegiatan berisi semua
discovery learning dengan momen kappa sebesar
jawaban pertanyaan yang ada pada lembar
0,76 dengan kategori Tinggi. Setelah analisis data
kegiatan pada modul konsep mol dan
dilakukan perbaikan terhadap modul konsep mol
perhitungan kimia, siswa dapat mencocokkan
dan perhitungan kimia berbasis discovery learning
sendiri jawaban dan siswa bisa menilai hasil
sesuai dengan saran yang diberikan oleh validator .
belajarnya secara berkelanjutan.
perbaikan.
Kunci lembar kerja berisi jawaban
pertanyaan yang ada pada lembar kerja pada
a. Uji Praktikalitas Modul
modul konsep mol dan perhitungan kimia.
LXXXV. Tingkat praktilitas modul yang didapatkan
Siswa dapat menilai hasil belajar dengan
melalui analisa angket respon siswa dan guru
mencocokkan jawabannya dengan kunci
menunjukkan bahwa modul konsep mol dan
jawaban, dan siswa dapat mengulang kembali
perhitungan kimia berbasis discovery learning
hingga penguasaan materi tuntas.
ini memiliki tingkat kepraktisan tinggi seperti
Kunci lembar evaluasi berisi jawaban
yang terlihat pada Tabel 3.
pertanyaan yang ada pada lembar evaluasi
LXXXVI.
Tabel 3. Data praktikalitas media
dalam modul konsep mol dan perhitungan
pembelajaran
kimia. Siswa dapat menilai hasil belajar
LXXXVII.
DataLXXXVIII.
Rat
LXXXIX.
Kat
dengan mencocokkan jawabannya dengan
praktikalit
aego
kunci jawaban yang diberikan.
as
rata
ri
3. Tahap Develop (Pengembangan)
LXXXI. Tahap develop (pengembangan) diperoleh
hasil uji validitas dan uji praktikalitas modul
konsep mol dan perhitungan kimia berbasis
discovery learning yang diberikan oleh dosen
jurusan kimia UNP, guru kimia SMA, dan siswa
kelas X SMA. Hasil penelitian uji validitas dan
praktikalitas diperoleh sebagai berikut ini.
a. Uji Validitas Modul Konsep Mol dan
Perhitungan Kimia Berbasis Discovery
Learning.
LXXXII. Berdasarkan data analisis terhadap lembar
validasi yang diberikan penilaian oleh validator,
maka dapat diungkapkan tingkat kevalidan modul
Konsep Mol dan Perhitungan Kimia Berbasis
Discovery Learning. seperti yang tergambar pada
Gambar 1 berikut.
Kompone
n

Ratarata
nilai
Kapp

XC.

XCIII.

Angket
respon
guru
Angket
respon
siswa

XCI.

mo
men
kap
pa
0,65

XCII.

Tin
ggi

XCIV.

0,66

XCV.

Tin
ggi

B. Pembahasan
1. Validitas Modul Konsep Mol dan
Perhitungan Kimia Berbasis Discovery
Learning
XCVI. Aspek penilaian dibagi menjadi beberapa
komponen yang terdiri dari kelayakan isi,
komponen kebahasaan, komponen penyajian dan
komponen kegrafikan.
XCVII.
Pada komponen kelayakan isi memiliki
rata-rata momen kappa 0,74 dengan kategori

Kategori
kevalida
n

kevalidan tinggi. Hal ini terbukti bahwa modul


konsep mol dan perhitungan kimia berbasis
discovery learning sudah sesuai dengan tuntutan
kompetensi inti dan kompetensi dasar. Isi modul
juga sesuai dengan kehidupan sehari-hari sehingga
dapat menambah wawasan pengetahuan siswa[14]
XCVIII. Komponen kebahasaan modul konsep mol
dan perhitungan kimia berbasis discovery learning
memiliki rata-rata momen kappa sebesar 0,80
dengan kategori kevalidan tinggi. Hal ini sesuai
dengan aspek penilaian bahwa modul konsep mol
dan perhitungan kimia berbasis discovery learning
telah menggunakan bahasa yang baik dan mudah
dipahami oleh siswa[15].
XCIX. Komponen
penyajian modul memiliki
rata-rata momen kappa sebesar 0,74 dengan
kategori kevalidan tinggi. Hal ini menunjukkan
bahwa pada modul konsep mol dan perhitungan
kimia berbasis discovery learning sudah disusun
susuai dengan tahapan discovery learning yaitu
stimulation (pemberian rangsangan), problem
statement (identifikasi masalah), data collection
(pengumpulan data), data processing (pengolahan
data), verification (pembuktian), generalization
(kesimpulan).
C. Komponen kegrafisan modul memiliki
rata-rata momen kappa sebesar 0,74 dengan
kategori kevalidan tinggi. Hal ini menunjukkan
bahwa modul konsep mol dan perhitungan kimia
berbasis discovery learning telah menggunakan
tata letak yang sesuai, yaitu berhubungan dengan
ukuran huruf, jenis huruf, spasi, tampilan cover,
tata letak isi modul, dan penempatan ilustrasi dan
gambar menarik, sebab tata letak yang baik akan
menimbulkan daya tarik tersendiri terhadap minat
belajar siswa[16].
CI. Berdasarkan rata-rata momen kappa untuk
keempat komponen berada pada interval 0,61-0,80
dengan kategori kevalidan tinggi yang menyatakan
bahwa modul konsep mol dan perhitungan kimia
berbasis discovery learning yang dikembangkan
sudah
dapat
digunakan
dalam
proses
pembelajaran.
2. Praktikalitas Modul Konsep Mol dan
Perhitungan Kimia Berbasis Discovery
Learning
CII.
Hasil uji praktikalitas oleh 3 orang guru
kimia diperoleh rata-rata momen kappa sebesar 0,65
dengan kategori kepraktisan tinggi. Kemudian hasil
uji praktikalitas oleh siswa memiliki rata-rata
momen kappa sebesar 0,66, dengan kategori
kepraktisan tinggi.

CIII.

Pada komponen kemudahan penggunaan


modul memiliki momen kappa 0,72 dan 0,77 dengan
kategori tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa modul
konsep mol dan perhitungan kimia berbasis
discovery learning dapat memudahkan guru dan
siswa dalam melaksanakan pembelajaran, dan
membangun komunikasi pembelajaran yang efektif
antara guru dan siswa[17].
CIV.
Efisiensi waktu modul memiliki rata-rata
momen kappa sebesar 0,48 dan 0,53 dengan
kategori kepraktisan sedang. Hal ini menunjukkan
bahwa modul konsep mol dan perhitungan kimia
berbasis discovery learning masih memiliki
kelemahan dari segi waktu penggunaan modul. hal
ini disebabkan karena tahapan discovery learning
banyak dan memakan waktu yang lama, sehingga
tidak semua siswa mampu mempelajari modul
dalam waktu yang sama[18].
CV.
Dilihat dari manfaat modul memiliki
momen kappa sebesar 0,75 dan 0,68 dengan
kategori tinggi. Hal ini menunjukkan modul konsep
mol dan perhitungan kimia berbasis discoveri
learning dapat membantu siswa dalam menemukan
konsep melalui pertanyaan-pertanyaan pada modul
sehingga dengan modul siswa memiliki kesempatan
melatih diri belajar secara mandiri.Selain itu,
pembelajaran
dengan
modul
menekankan
pengulangan
sehingga
dapat
memperkuat
pemahaman siswa. Hal ini menunjukkan bahwa
modul yang dikembangkan sudah praktis dan dapat
digunakan di sekolah[19].
CVI. SIMPULAN
CVII. Modul konsep mol dan perhitungan kimia
berbasis discovery learning untuk kelas X SMA/
MA yang dihasilkan mempunyai kategori kevalidan
dan kepraktisan tinggi, baik oleh guru maupun
siswa.
CVIII. UCAPAN TERIMAKASIH
CIX. Penulis mengucapkan terimakasih kepada
Ibu Yerimadesi, S.Pd, M.Si, Ibu Dra. Hj. Bayharti,
M.Sc, Ibu Dr.Latisma Dj., M.Si, Ibu Dr. Minda
Azhar, M.Si, dan Bapak Dr. Rahadian Z., S.Pd,
M.Si dan kepala sekolah SMA Negeri 3 Padang,
serta semua pihak yang telah membantu dalam
penyelesaian penelitian dan penyusunan artikel ini.
CX.

CXI.
CXII.
CXIII.

[1]

REFERENSI

Chang, Raymond. 2005. Konsep-konsep Inti Kimia


Dasar-Edisi Ketiga Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
[2] Permendikbud. 2014. Panduan Mata Pelajaran
Peminatan Kimia SMA.
[3]

CXIV.

CXV.

CXVI.

CXVII.

CXVIII.

CXIX.
CXX.

[4] Melani, Riyan, 2012. Pengaruh Metode GuidedCXXI.


Discovery Learning Terhadap Sikap Ilmiah Dan Hasil
Belajar Kognitif Biologi Siswa Sma Negeri 7 Surakarta
Tahun pelajaran 2011/2012. Jurnal pendidikan Biologi. Vol.
CXXII.
4 No. 1, 2012.
[5]
[6] Nugraha, D. A. 2013. Pengembangan Bahan Ajar Reaksi CXXIII.
Redoks Bervisi Sets, Berorientasi Kontruktivistik. Journal
Of Innovative Science Education. Program Pasca Sarjana
Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri CXXIV.
Semarang, Indonesia.
[7] Departemen Pendidikan Nasional. 2008. PengembanganCXXV.
Bahan Ajar. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, CXXVI.
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan
CXXVII.
Menengah, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas.
CXXVIII.
[8] Sabri, Ahmad. 2007. Strategi Belajar Mengajar. Ciputat :
Penerbit Quantum Teaching.
[9] Suryosubroto. 1983. Sistem Pengajaran Dengan Modul. CXXIX.
Yogyakarta: Bina Aksara.
CXXX.
[10] Trianto. 2012. Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: CXXXI.
Bumi Aksara.
CXXXII.

[11]Daryanto & Dwicahyono, A. 2014. Pengembangan


Perangkat Pembelajaran (Silabus, RPP, PHB, Bahan Ajar).
Yogyakarta: Gava Media.
[12]Boslaugh, Sarah dan Paul A. W. (2008). Statistics in a
Nutshell, a desktop quick reference. Beijing, Cambridge,
Famham, Kln, Sebastopol, Taipei, Tokyo: Oreilly.
[13]Budiningsih, Asri, 2012. Belajar & Pembelajaran.
Jakarta: PT Rineka Cipta.
[14] Purwanto, Ngalim. M, 2006. Prinsip-prinsip dan Teknik
Evaluasi Pengajaran. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
[15]Depdiknas
[16]Hamdani. 2011. Strategi Belajar Mengajar. Bandung :
CV Pustaka Setia.
[17]
[18]Nasution. 2011. Berbagai Pendekatan Dalam Proses
Belajar Mengajar, (edisi pertama). Jakarta: Bumi Aksara.

[19]

CXXXIII.