You are on page 1of 6

KEVIN LABBEIK

156020301111016

TEORI AKUNTANSI DAN PERUMUSANNYA


TEORI AKUNTANSI
Teori akuntansi adalah adalah cabang akuntansi yang terdiri dari pernyataan
sistematik tentang prinsip dan metodologi yang membedakan dengan praktik. Definisi lain
teori akuntansi merupakan suatu susunan konsep, definisi, dan dalil yang menyajikan
secure sistematis gambaran fenomena akuntansi serta menjelaskan hubungan antarvariabel
dalam struktur akuntansi dengan maksud untuk dapat memprediksi fenomena yang muncul.
Fungsi Teori akuntansi adalah :
1. Sebagai pedoman bagi lembaga penyusun standar akuntansi
2. Memberikan kerangka acuan dalam menyelesaikan masalah akuntansi yang
tidak ada standar resmi
3. Meningkatkan pemahaman dan keyakinan pembaca terhadap informasi yang
disajikan dalam laporan keuangan
4. Agar laporan keuangan dapat diperbandingkan
5. Memberikan kerangka acuan dalam menilai prosedur dan praktik akuntansi
Sebagaimana penjelasan Deegen (2006), Terdapat banyak pendapat tentang
pengertian teori, diantaranya:
1. Teori adalah sebuah skema atau ide atau pernyataan yang ada sebagai penjelasan atau
fakta atau fenomena, (Kamus Inggris Oxford).
2. Teori adalah seperangkat dalil umum yang digunakan sebagai prinsip-prinsip untuk
menjelaskan fenomena-fenomena, (Kamus Macquarie).
3. Teori adalah seperangkat prinsip, konseptual, dan pragmatis yang membentuk
kerangka acuan untuk bidang penyelidikan, (Hendriksen, 1970).
4. Teori adalah sistem yang memiliki tujuan yang saling berkaitan dan fundamental untuk
menciptakan standar yang konsisten, (US Financial Accounting Standards Board).
Selain penjelasan di atas, Mautner (2006) dalam Gaffikin (2008) juga memberikan
gambaran tentang teori, yaitu seperangkat preposisi yang menyediakan prinsip-prinsip
untuk melakukan analisis atau penjelasan dari suatu pokok permasalahan. Pada prinsipnya
sebuah teori dihasilkan melalui penelitian yang terus-menerus. Hasil penelitian ini, jika
sejalan dengan teori yang digunakan akan menguatkan teori tersebut, sebaliknya hasil
penelitian juga bisa membentuk teori baru.
PEMBUAT KEBIJAKAN AKUNTANSI
Teori akuntansi berkaitan erat dengan penyusunan kebijaksanaan akuntansi.
Hubungan antara teori akuntansi dan proses penetapan standar harus dipahami dalam
konteksnya yang luas. Kondisi ekonomi memiliki dampak terhadap faktor politik dan teori

akuntansi. Demikian juga,faktor politik memiliki dampak terhadap teori akuntansi.


Lingkungan akuntansi keuangan mempengaruhi proses penetapan kebijakan,yang pada
akhirnya juga akan turut menentukan proses pelaporan keuangan. FASB dan SEC
menjalankan fungsinya sebagai badan pembuat kebijakan dalam bidang akuntansi
keuangan sekaligus penetapan standar.
Faktor-faktor yang mempengaruhi penetapan kebijakan akuntansi :
1. Kondisi Ekonomi
Tingkat inflasi yang tinggi,terjadi pada tahun 1970 an dimana FASB
mengharuskan pada perlunya pengungkapan atas informasi mengenai perubahan
harga adalah salah satu contoh klasik dari kondisi ekonomi yang berimplikasi
pada pembuatan kebijakan.
2. Faktor Politik
Adapun yang dimaksud dengan faktor politik adalah pihak-pihak yang
merupakan subjek dimana ketentuan dan berbagai regulasi dihasilkan.
3. Teori Akuntansi
Teori akuntansi dikembangkan dan disaring lewat sebuah proses riset akuntansi.
Hasil riset utama berasal dari akuntan pendidik,kantor akuntan publik,dan sektor
industri swasta.
Di lain sisi, Watts dan Zimmerman (1979) memaparkan bahwa perkembangan teori
akuntansi mengikuti logika permintaan dan penawaran. Dalam hal ini munculnya teori
akuntansi karena terdapat pihak-pihak yang membutuhkannya. Kalau mencermati uraian
Watts dan Zimmerman (1979), pengguna sekaligus pemicu permintaan teori akuntansi,
antara lain: eksekutif, legislatif, mahasiswa, pengadilan, auditor, manajer perusahaan,
praktisi.
SIFAT DAN TEORI AKUNTANSI
Teori akuntansi memiliki beberapa sifat, diantaranya yaitu :
a)
b)
c)
d)

e)
f)
g)

Merupakan seperangkat prinsip yang logis, saling terkait dan membentuk


kerangka umum.
Berkaitan erat dengan penyusunan kebijakan akuntansi.
Harus mencakup semua literatur akuntansi yang memberikan pendekatan yang
berbeda-beda satu sama lain.
Harus dapat memberikan penjelasan mengenai praktik akuntansi, menjawab
dan menjelaskan semua fenomena yang melatarbelakangi penerapan suatu
metode dalam praktik akuntansi.
Harus dapat menjelaskan mengapa perusahaan lebih cenderung menggunakan
metode LIFO daripada FIFO dalam menilai persediaannya.
Harus bisa memprediksi atau bahkan menemukan gejala akuntansi yang
belum diketahui.
Sangat penting dalam menyusun dan memverifikasi prinsip akuntansi.

PERIODISASI TEORI AKUNTANSI


Menurut Godfrey dkk (1992) periodisasi teori akuntansi dapat digolongkan sebagai
berikut:
1. Pre-theory period (1492-1800)
Peragalo mengemukakan bahwa tidak ada teori akuntansi yang dirumuskan
sejak Pacioli sampai pada awal abad ke-19. kalaupun ada saran-saran atau
pertanyaan-pertanyaan belum dapat digolongkan sebagai teori atau pernyataan
yang sistematis.
2. General scientific period (1800-1955)
Dalam periode ini sudah ada pengimbangan teori yang penekanannya baru
berupa penjelasan terhadap praktek akuntansi. Di sini sudah ada kerangka kerja
untuk menjelaskan dan mengembangkan praktek akuntansi. Akuntansi
dikembangkan berdasarkan metode empiris yang mengutamakan pengamatan
atas kenyataan sehari-hari atau realitas bukan didasarkan pada logika. Laporan
AAA A Tentative Statement of Accounting Principles Affecting Corporate
Reports pada tahun 1938 serta laporan AICPA tentang A Statement of
Accounting Principle (Sanders, Hatfield dan Moore) merupakan dua contoh
perumusan teori akuntansi berdasarkan metode empiris atau disebut era general
scientific ini.
3. Normative period (1956-1970)
Dalam periode ini perumus teori akuntansi mencoba merumuskan normanorma atau praktek akuntansi yang baik. Kalau dalam periode sebelumnya
menekankan kepada APA yang terjadi dalamperiode ini Bagaimana
seharusnya dilakukan, What should be. Pada periode ini muncul kritik
terhadap konsep historical cost dan pendukung adanya conceptual
framework. Beberapa terbitan laporan pada era ini adalah: An Inquiry into the
Nature of Accounting oleh Goldberg yang diterbitkan pada tahun 1965, AAA
menerbitkan A Statement of Basic Accounting Theory.
4. Specific Scientific Period (1970-sekarang)
Periode ini disebut juga positive era. Di sini teori akuntansi tidak cukup hanya
dengan sifat normatif tetapi harus bisa diuji kebenarannya. Norma dinilai
subyektif jadi harus diuji secara positif.
Pendekatan normatif dikritik karena:
(1) teori normatif tidak melibatkan pengujian hipotesa.
(2) teori normatif didasarkan pada pertimbangan subyektif.
Karena teori normatif dianggap merupakan pendapat pribadi yang subyektif maka
tidak bisa diterima begitu saja harus dapat diuji secara empiris agar memiliki dasar teori
yang kuat. Pada periode ini data empiris sudah banyak tersedia kemudian teknik-teknik
statistik dan teknik yang menggunakan disiplin lain untuk melakukan pengujian sudah
demikian banyak sehingga memudahkan melakukan pengujian.
Tujuan dari pendekatan teori akuntansi positif adalah untuk menerangkan dan
meramalkan praktek akuntansi. Salah satu contoh dalam penggunaan teori positif ini adalah
hipotesa bonus plan. Hipotesa ini menunjukkan bahwa manajemen yang remunerasinya

didasarkan pada bonus maka mereka akan berusaha memaksimasi pendapatannya melalui
pendekatan akuntansi yang dapat menaikkan laba sehingga bonusnya tinggi. Dalam
penyusunan laporan keuangan manajemen tentu akan memilih standar akuntansi yang dapat
menaikkan laba atau bonus mereka.
Teori ini akan dapat menjelaskan atau memprediksi prilaku manajemen dalam mana
bonus plan diberlakukan. Watts dan Zimmerman pendukung konsep ini dalam bukunya
Positive Accounting Theory menyatakan bahwa keuntungan pendekatan ini adalah bahwa
regulator bisa meramalkan konsekuensi ekonomis dari berbagai kebijakan atau praktek
akuntansi.
Menurut Godfrey dkk pada akhir-akhir ini ada kecenderungan munculnya
perbedaan antara Riset Academics dan Riset Profesional yang sebelumnya dinilai seragam.
Riset Academics tetap dalam pendekatan positif yang umumnya menekankan pada peran
dan pengaruh informasi akuntansi sedangkan Profesional agak condong pada pendekatan
normatif yang umumnya menekankan upaya untuk menyeragamkan praktek akuntansi agar
lebih bermanfaat bagi praktisi.
METODE PERUMUSAN TEORI AKUNTANSI
Merumuskan teori akuntansi atau dengan kata lain melakukan penelitian akuntansi
harus memiliki metode. Belkaoui dan Godfrey mengemukakan dalam literature dikena
beberapa metode berikut ini.
1. Metode Deskriptif (Pragmatic)
Dalam metode ini akuntansi dianggap sebagai seni yang tidak dapat dirumuskan,
maka metode perumusan teori akuntansi harus bersifat menjelaskan
atau descriptive dan menganalisis praktik yang ada dan diterima sekarang.
2. Psychological Pragmatic
Di sini diamati reaksi dari pemakai laporan keuangan terhadap output akuntansi
laporan keuangan yang disusun dari berbagai aturan, standar, prinsip atau pedoman.
Bidang ini dapat juga disebut behavioral accounting.
3. Metode Normatif (1950-1960)
Disini akuntansi dianggap sebagai norma peraturan yang harus diikuti tidak peduli
apakah berlaku atau dipraktikan sekarang atau tidak.
4. Metode Positive (1970)
Suatu metode yang diawali dari suatu metode ilmiah yang sedang berlaku atau
diterima umum. Berdasarkan teori ini, dirumuskan problem penelitian untk
mengamati perilaku atau fenmena nyata yang tidak ada dalam teori.
PENDEKATAN DALAM PERUMUSAN TEORI AKUNTANSI
Teori harus mampu merumuskan kebenaran. Oleh karena itu teori harus selalu diuji.
Ada 3 kriteria atau pihak atau sumber yang memiliki wewenang dalam mennetukan
kebenaran atas suatu teori, yaitu:
1. Dogmatic

Kebenaran dikatakan benar karena disampaikan oleh ahli yang memenang


memiliki wewenang untuk menyampaikan kebenaran dan ini tidak perlu diuji
lagi. Keyakinan pada kebenaran ini hanya berdasar pada kepercayaan,
keyakinan, atau iman seseorang. Misalnya keyakinan beragama, charisma
seseorang, jabatan, dan lain sebagainya.
2. Self evidence
Kebenaran disampaikan dari suatu teori yang dibuktikan oleh pengetahuan
umum, pengamatan, atau pengalaman.
3. Scientific
Kebenaran disampaikan dari suatu teori yg dibuktikan lewat metode ilmiah.
Teori dirumuskan, diuji, dan seterusnya berulang secara terus-menerus.
Menurut Godfrey, dalam mengaitkan antara teori dengan kenyataan , dikenal
tiga jenis hubungan, yaitu :
a. Syntactic
Teori dirumuskan dengan garis logis. Hubungan itu dirumuskan dalam
bentuk aturan seperti aturan bahasa, aturan matematik, dan lain sebagainya.
b. Semantic
Teori menghubungkan konsep dasar dari suatu teori ke objek
nyata.hubungan ini dituangkan dalam bentuk aturan yang sesuai atau definisi
operasional. Semantic menyangkut hubungan kata, tanda, atau symbol dari
kenyataan sehingga teori itu lebih mudah dipahami, realistic, dan berarti.
c. Pragmatic
Tidak semua teori memiliki aspek pragmatis. Disini pragmatis itu berkaitan
dengan pengaruh kata-kata, symbol terhadap manusia. Akuntansi dianggap
memiliki kemampuan mempengaruhi perilaku manusia.
EVALUASI TEORI
Karena sifatnya yang bukan kebenaran mutlak, evaluasi teori juga harus selalu
dilakukan. Setidaknya, harus ada pertimbangan apakah argumen yang mendukung teori
tersebut (setidaknya tampak) logis atau masuk akal. Jika memungkinkan, suatu teori harus
dipecah untuk melihat apakah argumen, dalam bentuk yang disederhanakan tampak logis.
Pertimbangan logis tidak hanya dilakukan atas argumen, tetapi juga terhadap asumsi yang
mendasari teori dan data yang digunakan.
Ketika membaca dokumen tertulis untuk mendukung ide-ide atau teori tertentu,
perlu kehati-hatian dan kewaspadaan dalam memastikan keberterimaan suatu teori tersebut.
Dengan cara ini dimungkinkan untuk mempertimbangkan dan mengambil posisi yang
sama dalam hal menerima argumen penulis.
Menurut Thouless (1974, p.24) ada beberapa bagian di mana kebenaran tampaknya
dikaburkan oleh pemikiran emosional. Karena itu, pembaca disarankan harus menyalin
ayat-ayat yang kontroversial dari surat kabar, buku, atau pidato yang mengandung kata
emosional. Semua kata-kata emosional tersebut selanjutnya perlu digarisbawahi dan ditulis
ulang, tetapi bagian-bagian dengan kata-kata emosional telah diganti dengan yang netral.
Setelah itu, dilakukan pemeriksaan bagian yang sudah dalam bentuk baru dimana yang ada

hanya pernyataan tentang fakta-fakta tanpa menunjukkan sikap emosional penulis


kemudian mencoba untuk membuktikan fakta-fakta tersebut.
Dalam ilmu sosial, selalu diperlukan pertimbangan logika argumen dan berbagai
asumsi yang telah dibuat. Teori ilmu sosial pada dasarnya berdasarkan abstraksi dan
realitas. Kita tidak bisa benar-benar mengharapkan teori khusus tentang perilaku manusia
untuk diterapkan sepanjang waktu. Setiap orang itu berbeda dan untuk mengharapkan teori
atau model perilaku manusia memiliki kemampuan prediktif yang sempurna akan sangat
naf. Artinya, perilaku manusia tidak bisa diprediksi dengan tepat Sangat sulit untuk melihat
bagaimana model atau teori bisa pernah sepenuhnya menjelaskan tindakan manusia.