Вы находитесь на странице: 1из 13

TUGAS KEWARGANEGARAAN

Penerapan Hukum terhadap Tindak Pidana


Korupsi di Indonesia secara Berlanjut
Nama Anggota:

Dimas Angga Dwi P. J. P.


Lathifa Khoirunnisa
Shella Febyuli Ulya
Riyandini Fairuz N.
Dwi Fitria R.

(115070507111001)
(115070500111011)
(115070500111004)
(115070500111016)
(115070501111006)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2011

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Korupsi (bahasa Latin: corruptio dari kata kerja corrumpere yang bermakna busuk,
rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok). Secara harfiah, korupsi adalah perilaku
pejabat publik, baik politikus/politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan
tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan
menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka.
Dalam arti yang luas, korupsi atau korupsi politis adalah penyalahgunaan jabatan
resmi untuk keuntungan pribadi. Semua bentuk pemerintah|pemerintahan rentan korupsi
dalam prakteknya. Beratnya korupsi berbeda-beda, dari yang paling ringan dalam bentuk
penggunaan pengaruh dan dukungan untuk memberi dan menerima pertolongan, sampai
dengan korupsi berat yang diresmikan, dan sebagainya. Titik ujung korupsi adalah
kleptokrasi, yang arti harafiahnya pemerintahan oleh para pencuri, dimana pura-pura
bertindak jujur pun tidak ada sama sekali.
Dewasa ini permasalahan korupsi semakin meningkat pesat, di indonesia tindakan
tindakan korupsi terjadi dimana mana, baik di pusat, di daerah mulai dari kota besar sampai
pelosok negeri, mulai dari pejabat pemerintah, swasta hingga tukang parkir. Rasa malu dan
bersalah

tertutupi

dengan

kebanggaan

semu

hasil

tindakan

tercela

itu.

Indonesia adalah salah satu negara yang terkorup di dunia. Hampir semua instansi negeri ini
hingga penegak hukum dari ujung barat indonesia hingga ujung timur tercemar korupsi.
Pada tahun 2008, hasil survei PERC ini menyebutkan Indonesia mencetak nilai 9,07
dari angka 10 sebagai negara paling korup 2010. Kemudian pada tahun 2009 angka tingkat
korupsi Indonesia semakin meningkat ditahun dibanding tahun 2008. Pada tahun 2009,
Indonesia berhasil menyabet prestasi sebagai negara terkorup dari 16 negara surveilances
dari PERC 2009. Indonesia mendapat nilai korupsi 8.32 disusul Thailand (7.63), Kamboja
(7,25), India (7,21) and Vietnam (7,11), Filipina (7,0). Sementara Singapura (1,07) ,
Hongkong (1,89), dan Australia (2,4) menempati tiga besar negara terbersih, meskipun ada
dugaan kecurangan sektor privat. Sementara Amerika Serikat menempati urutan keempat
dengan skor 2,89. Jadi, dari data PERC 2010, dalam kurun 2008-2010, peringkat korupsi

Indonesia meningkat dari 7.98 (2008.), 8.32 (2009) dan naik menjadi 9.07 (2010) dibanding
dengan 16 negara Asia Pasifik lainnya.
Banyak sekali kasus-kasus korupsi yang ditangani oleh lembaga hukum di negara ini
dengan sebelah mata dan banyak sekali permainan uang di dalamnya. Koruptor yang telah
memakan uang rakyat bertriliunan rupiah dan seharusnya mendapatkan hukuman seberatberatnya terkadang mudah sekali untuk meringankan hukumannya bahkan bebas dari
tahanan. Masyarakat kecil yang hanya maling ayam saja, di kurung berbulan-bulan, namun
koruptor yang mencuri uang rakyat bertriliunan rupiah bisa bebas dengan mudah. Pengadilan
yang tidak setara inilah yang menyebabkan korupsi di Indonesia semakin meningkat. Mereka
tidak takut untuk korupsi karena hukuman yang mereka terima sangat ringan dan bisa dibeli
dengan uang. Pengadilan semacam inilah yang harus diberantas oleh pemerintah untuk
membersihkan Indonesia dari korupsi.
Tujuan
1. Memberikan wawasan pada masyarakat tentang korupsi
2. Menumbuhkan sifat dan sikap anti korupsi
3. Memotivasi masyarkat untuk menjauhi korupsi serta memberantas korupsi di
Indonesia
4. Meningkatkan rasa nasionalisme pada masyarakat
Rumusan Masalah:
1.
2.
3.
4.
5.

Apa pengertian dari korupsi?


Apa saja yang menjadi faktor pendorong melakukan tindakan korupsi?
Apa saja dampak negatif yang ditimbulkan dari tindakan korupsi?
Apa landasan hukum tentang pemberantasan korupsi?
Bagaimana peran pemerintah selama ini dalam pemberantasan tindak pidana korupsi?

KAJIAN PUSTAKA
Pengertian Korupsi

Banyak para ahli yang mencoba merumuskan korupsi, yang jika dilihat dari struktrur
bahasa dan cara penyampaiannya yang berbeda, tetapi pada hakekatnya mempunyai makna
yang sama.
Kartono (1983) memberi batasan korupsi sebagi tingkah laku individu yang
menggunakan wewenang dan jabatan guna mengeduk keuntungan pribadi, merugikan
kepentingan umum dan negara. Jadi korupsi merupakan gejala salah pakai dan salah urus dari
kekuasaan, demi keuntungan pribadi, salah urus terhadap sumber-sumber kekayaan negara
dengan menggunakan wewenang dan kekuatan-kekuatan formal (misalnya denagan alasan
hukum dan kekuatan senjata) untuk memperkaya diri sendiri.
Korupsi terjadi disebabkan adanya penyalahgunaan wewenang dan jabatan yang
dimiliki oleh pejabat atau pegawai demi kepentingan pribadi dengan mengatasnamakan
pribadi atau keluarga, sanak saudara dan teman. (Pope, 2003)
Wertheim menyatakan bahwa seorang pejabat dikatakan melakukan tindakan korupsi
bila ia menerima hadiah dari seseorang yang bertujuan mempengaruhinya agar ia mengambil
keputusan yang menguntungkan kepentingan si pemberi hadiah. Kadang-kadang orang yang
menawarkan hadiahdalam bentuk balas jasa juga termasuk dalam korupsi. (Lubis, 1970)
Selanjutnya, Wertheim menambahkan bahwa balas jasa dari pihak ketiga yang
diterima atau diminta oleh seorang pejabat untuk diteruskan kepada keluarganya atau
partainya/ kelompoknya atau orang-orang yang mempunyai hubungan pribadi dengannya,
juga dapat dianggap sebagai korupsi. Dalam keadaan yang demikian, jelas bahwa ciri yang
paling menonjol di dalam korupsi adalah tingkah laku pejabat yang melanggar azas
pemisahan antara kepentingan pribadi dengan kepentingan masyarakat, pemisaham keuangan
pribadi dengan masyarakat. (Lubis, 1970)
Sebab-Sebab Korupsi
Ada beberapa sebab terjadinya praktek korupsi. Singh (1974) menemukan dalam
penelitiannya bahwa penyebab terjadinya korupsi di India adalah kelemahan moral (41,3%),
tekanan ekonomi (23,8%), hambatan struktur administrasi (17,2 %), hambatan struktur sosial
(7,08 %). (Saleh, 1978)
Sementara itu Merican (1971) menyatakan sebab terjadinya korupsi adalah sebagai
berikut :
a. Peninggalan pemerintahan kolonial.
b. Kemiskinan dan ketidaksamaan.
c. Gaji yang rendah.
d. Persepsi yang populer.
e. Pengaturan yang bertele-tele.
f. Pengetahuan yang tidak cukup dari bidangnya.
Di sisi lain Ainan (1982) menyebutkan beberapa sebab terjadinya korupsi yaitu :
a. Perumusan perundang-undangan yang kurang sempurna.
b. Administrasi yang lamban, mahal, dan tidak luwes.
c. Tradisi untuk menambah penghasilan yang kurang dari pejabat pemerintah dengan
upeti atau suap.

d. Dimana berbagai macam korupsi dianggap biasa, tidak dianggap bertentangan


dengan moral, sehingga orang berlomba untuk korupsi.
e. Di India, misalnya menyuap jarang dikutuk selama menyuap tidak dapat
dihindarkan.
f. Menurut kebudayaannya, orang Nigeria Tidak dapat menolak suapan dan korupsi,
kecuali mengganggap telah berlebihan harta dan kekayaannya.
g. Manakala orang tidak menghargai aturan-aturan resmi dan tujuan organisasi
pemerintah, mengapa orang harus mempersoalkan korupsi.
Akibat Korupsi
Akibat-akibat korupsi diatas adalah sebagai berikut :
1. Tata ekonomi seperti larinya modal keluar negeri, gangguan terhadap perusahaan,
gangguan penanaman modal.
2. Tata sosial budaya seperti revolusi sosial, ketimpangan sosial.
3. Tata politik seperti pengambil alihan kekuasaan, hilangnya bantuan luar negeri, hilangnya
kewibawaan pemerintah, ketidakstabilan politik.
4. Tata administrasi seperti tidak efisien, kurangnya kemampuan administrasi, hilangnya
keahlian, hilangnya sumber-sumber negara, keterbatasan kebijaksanaan pemerintah,
pengambilan tindakan-tindakan represif.
Secara umum akibat korupsi adalah merugikan negara dan merusak sendi-sendi
kebersamaan serta memperlambat tercapainya tujuan nasional seperti yang tercantum dalam
Pembukaan Undang-undang Dasar 1945. (Revida, 2003)
Korupsi di Indonesia
Korupsi merupakan salah satu masalah terbesar yang dihadapi oleh bangsa Indonesia
sampai dengan saat ini. Dari berbagai survei yang dilakukan oleh sejumlah lembaga
internasional selalu menempatkan Indonesia dalam urutan tertinggi dari negara yang paling
korup di dunia. (Kurniawan, 2009)
Salah satu isu yang paling krusial untuk dipecahkan oleh bangsa dan pemerintah
Indonesia adalah masalah korupsi. Hal ini disebabkan semakin lama tindak pidana korupsi di
Indonesia semakin sulit untuk diatasi. Maraknya korupsi di Indonesia disinyalir terjadi di
semua bidang dan sector pembangunan. Apalagi setelah ditetapkannya pelaksanaan otonomi
daerah, berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah
yang diperbaharui dengan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004, disinyalir korupsi terjadi
bukan hanya pada tingkat pusat tetapi juga pada tingkat daerah dan bahkan menembus ke
tingkat pemerintahan yang paling kecil di daerah. (Suwarno, 2006)
Pemerintah Indonesia sebenarnya tidak tinggal diam dalam mengatasi praktek-praktek
korupsi. Upaya pemerintah dilaksanakan melalui berbagai kebijakan berupa peraturan
perundang-undangan dari yang tertinggi yaitu Undang-Undang Dasar 1945 sampai dengan
Undang-Undang tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Selain itu,
pemerintah juga membentuk komisi-komisi yang berhubungan langsung dengan pencegahan
dan pemberantasan tindak pidana korupsi seperti Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara
Negara (KPKPN) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). (Suwarno, 2006)

Upaya pencegahan praktek korupsi juga dilakukan di lingkungan eksekutif atau


penyelenggara negara, dimana masing-masing instansi memiliki Internal Control Unit (unit
pengawas dan pengendali dalam instansi) yang berupa inspektorat. Fungsi inspektorat
mengawasi dan memeriksa penyelenggaraan kegiatan pembangunan di instansi masingmasing, terutama pengelolaan keuangan negara, agar kegiatan pembangunan berjalan secara
efektif, efisien dan ekonomis sesuai sasaran. Di samping pengawasan internal, ada juga
pengawasan dan pemeriksaan kegiatan pembangunan yang dilakukan oleh instansi eksternal
yaitu Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Badan Pengawas Keuangan Pembangunan
(BPKP). (Suwarno, 2006)
Selain lembaga internal dan eksternal, lembaga swadaya masyarakat (LSM) juga ikut
berperan dalam melakukan pengawasan kegiatan pembangunan, terutama kasus-kasus
korupsi yang dilakukan oleh penyelenggara negara. Beberapa LSM yang aktif dan gencar
mengawasi dan melaporkan praktek korupsi yang dilakukan penyelenggara negara antara lain
adalah Indonesian Corruption Watch (ICW), Government Watch (GOWA), dan Masyarakat
Tranparansi Indonesia (MTI). (Suwarno, 2006)

PEMBAHASAN

Ada beberapa definisi Korupsi, definisi korupsi menurut Transparency


International adalah perilaku pejabat publik, baik politikus politisi maupun pegawai
negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya
mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang di
percayakankepada mereka.
Dari sudut pandang hukum, korupsi mencakup unsur-unsur :
1.

Melanggar hukum

2.

Penyalahgun aan wewenang

3.

Merugikan negara

4.

Memperkaya pribadi/diri sendiri


Dalam arti luas korupsi atau korupsi politis adalah penyalahgunaan jabatan

resmi untuk kepentingan pribadi. Semua bentuk pemerintah rentan korupsi dalam
prakteknya. Beratnya korupsi berbeda-beda, dari yang paling ringan dalam bentuk
penggunaan pengaruh dan dukungan untuk memberi dan menerima pertolongan, sampai
dengan korupsi berat yang diresmikan, dan sebagainya. Titik ujuk korupsi adalah
kleptokrasi, yang arti harfiahnya pemerintahan oleh para pencuri, dimana pura-pura
bertindak jujur pun tidak ada sama sekali. Korupsi menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia adalah penyelewengan atau penggelapan (uang negara atau perusahaan)
untuk kepentingan pribadi atau orang lain. Korupsi di definisikan oleh Bank Dunia
sebagai penyalahgunaan jabatan publik untuk mendapatkan ke untungan pribadi.

Sedangkan ada banyak pengertian korupsi yang di gunakan oleh para peneliti,
seperti :
1.

Korupsi di definisikan sebagai penyalah gunaan kekeuasaan oleh pegawai

pemerintah untuk kepentingan pribadi.


2.

Korupsi di definisikan sebagai suatu tindakan penyelahgunaan kekayaan

negara, yang melayani kepentingan umum, untuk kepentingan pribadi atau

perorangan. Akan tetapi praktek korupsi sendiri, seperti suap atau sogok kerap
ditemui di tengah masyarakat tanpa harus melibatkan hubungan negara.

Topoligi Korupsi menurut Syed Hussein Alatas topologi korupsi ada 7, yaitu :
1.

Korupsi transaktif yaitu korupsi yang menunjukan adanya

kesepakatan tibal balik antara pihak yang memberi dan menerima demi
keuntungan bersama dimana kedua pihak sama-sama aktif menjalankan
tindak korupsi.
2.

Korupsi ekstortif yaitu korupsi yang menyertakan bentuk-bentuk

koersi tertentu dimana pihak pemberi dipaksa untuk menyuap agar tidak
membahayakan diri, kepentingan, orang-orangnya atau hal-hal lain yang
dihargainya.
3.

Korupsi investif yaitu korupsi yang melibatkan suatu penawaran

barang atau jasa tanpa adanya pertalian langsung dengan keuntungan tertentu
yang diperoleh pemberi, selain keuntungan yang di harapkan akan di peroleh
di masa datang.
4.

Korupsi nepotistik yaitu korupsi berupa pemberian perlakukan

khusus pada teman atau yang mempunyai kedekatan hubungan dalam rangka
menduduki jabatan publik. Dengan kata lain mengutamakan kedekatan hubungan
dan bertentangan dengan norma dan aturan yang berlaku.
5.

Korupsi autigenik yaitu korupsi yang dilakukan individu karena

mempunyai kesempatan untuk memperoleh keuntungan dari pengetahuan dan


pemahamannya atas sesuatu yang hanya diketahui sendiri.
6.

Korupsi suportif yaitu korupsi yang menicu penciptaan suasana yang

kondusif untuk melindungi atau mempertahankan keberadaan tindak korupsi.


7.

Korupsi defensif yaitu tindak korupsi yang terpaksa di lakukan

dalam rangka mempertahankan diri dari pemerasan.

Korupsi dapat terjadi apabila ada faktor-faktor yang mendorongnya. Adapunfaktor-faktor


pendorong terjadinya korupsi sebagai berikut:

Kedekatan sistem dan kontak yang intensif antara ekonomi dan administrasi.

Arus informasi yang masuk tidak menyolok.

Pemusatan kompetensi pada pekerja ahli tertentu dengan ruang gerak yangmemungkinkan
mereka mengambil keputusan.

Batasan yang kabur antara hal-hal yang dapat diterima secara sosial dan perbuatan yang
melanggar hukum.

Kurangnya kesadaran korban (pihak yang dirugikan) bahwa mereka dibrlakukan tidak adil.

DAMPAK NEGATIF KORUPSI David Bayle

menginventarisasi akibat dari perilaku korupsi:

Tindak korupsi mencerminkan mencapai tujuan-tujuan yang ditetapkan pemerintah (misalnya, korupsi
dalam pengangkatan pejabat atau salah alokasisumber daya menimbulkan efisiensi dan pemborosan).

Korupsi akan segera menular ke sektor swasta dalam bentuk upaya mengejar labadengan cepat (dan
berlebihan) dalam situasi yang sulit diramalkan, ataumelemahkan investasi dalam negeri dan
menyisihkan pendatang baru. Dengandemikian, mengurangi partisipasi dan pertumbuhan sektor
swasta.

Korupsi mencerminkan kenaikan biaya administrasi (membayar pajak harus ikutmenyuap karena
membayar beberapa kali lipat untuk pelayanan yang sama).

Jika korupsi merupakan bentuk pembayaran yang tidak sah, maka hal ini akanmengurangi jumlah
dana yang disediakan untuk publik.

Korupsi merusak mental aparat pemerintah dan melunturkan keberanian yangdiperlukan untuk
mematuhi standar etika yang tinggi.

Korupsi dalam pemerintahan menurunkan rasa hormat kepada kekuasaan danakhirnya menurunkan
legitimasi pemerintah.

Jika elit politik dan pejabat tinggi pemerintah secara luas dianggap korup, maka publik akan
menyimpulkan tidak ada alasan bagi publik untuk tidak boleh korup juga.

Seorang pejabat atau politisi yang korup adalah pribadi yang hanya memikirkandiri sendiri, tidak mau
berkorban demi kemakmuran bersama dimasa mendatang.

Korupsi menimbulkan kerugian yang sangat besar dari sisi produktifitas karenawaktu dan energi habis
untuk menjalin hubungan guna menghindari ataumengalahkan sistem daripada untuk meningkatkan
kepercayaan danmemberikan alasan yang objektif mengenai permintaan layanan yang diperlukan.

Korupsi, karena merupakan ketidak adilan yang dilembagakan, maka mau tidak mau akan
menimbulkan perkara yang harus dibawa ke pengadilan dan tuduhan-tuduhan palsu yang digunakan
pada pejabat yang jujur untuk tujuan pemerasan.

Bentuk korupsi yang paling menonjol di beberapa negara yaitu uang licin atauuang rokok
menyebabkan keputusan ditimbang berdasarkan uang, bukan berdasarkan kebutuhan manusia.
Meskipun demikian, korupsi juga mempunyaimanfaat, misalnya mempercepat proses birokrasi, baik
di dalam birokrasi pemerintahan maupun non pemerintahan. Pengendaraan kendaraan
bermotor ketika ditilang polisi, cendering untuk menyuap polisi daripada mengikuti sidangdi
pengadilan yang sering kali lebih mahal secara ekonomi. Pencari SIM atau paspor lebih baik menyuap
daripada habis waktunya diping pong oleh pejabat birokrasi. Bahkan, pada tingkat tertentu korupsi
bermanfaat untuk menjagahubungan paternalistik dan klientelistik antar individu dan antar lembaga
Landasan hukum yang mengatur dan membahas masalah korupsi di Indonesia antara

lain:

UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Peraturan Pemerintah R.I. No. 71 tahun 2000 tentang Tata Cara Pelaksanaan Peran
Serta Masyarakat dan Pemberian Penghargaan Dalam Pencegahan danPemberantasan
Tindak Pidana Korupsi.

UU No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU No. 31 Tahun 1999


tentangPemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Pasal 5:
1)Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan palinglama 5
(lima) tahun dan atau pidana denda paling sedikit Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta
rupiah) dan paling banyak 250.000.000(dua ratus lima puluh juta rupiah) setiap orang
yang:
a. Memberi atau menjanjikan sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelenggara
negara dengan maksud supaya pegawai negeri atau penyelanggara negara
tersebut berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya, yang
bertentangan dengan kewajibannya; atau

b. Memberi sesuatu pada pegawai negeri atau penyelenggara negara karena atau
berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengankewajibannya,
dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya.
2) Bagi pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima pemberianatau
janji sebagaimana dimaksud dalam ayat 1) huruf a atau huruf b, dipidanadengan
pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam ayat 1)
Pasal 6:
1)Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15
(lima belas) tahun dan atau pidana denda paling sedikit Rp 150.000.000,00 (seratus
lima puluh juta rupiah) dan paling banyak 750.000.000 (tujuh ratus lima puluh juta
rupiah) setiap orang yang:
a. Memberi atau menjanjikan sesuatu kepada hakim dengan maksud untuk
mempengaruhi putusan perkara yang diserahkan kepadanya untuk diadili; atau
b. Memberi atau menjanjikan sesuatu kepada seseorang yang menurutketentuan
peraturan

perundang-undangan

ditentukan

menjadi

advokatuntuk

menghadirisidang pengadilan dengan maksud untuk mempengaruhinasihat


atau pendapat yang akan diberikan berhubung dengan perkar ayang diserahkan
kepada pengadilan untuk diadili.

Pasal 20: Setiap Penyelanggara Negara yang melanggar ketentuansebagaimana yang


dimaksud dalam pasal 5 dikenakan sanksi administratif sesuaidengan ketentuan
perundang-undangan yang berlaku (ayat 1). Setiap penyelanggara Negara yang
melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 dikenakan sanksi pidana
dan atau sanksi perdata sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
Peran pemerintah untuk mengatasi tindak pidana korupsi adalah pemerintah memiliki

suatu lembaga yang khusus untuk memproses para koruptor dan mencari para koruptor yang
ada di Indonesia,seperti yang kita kenal lembaga tersebut yaitu KPK (Komisi Pemberantasan
Korupsi).selain itu juga tidak hanya peran pemerintah yang penting untuk mengatasi tindak
pidana tetapi masyarakat juga sangat memiliki peran penting untuk mengatasi tindak korupsi.

Perkembangan hukum yang ada di Indonesia dalam mengatasi masalah tindak pidana
korupsi yaitu pemerintah memiliki undang-undang yang dapat menghukum para koruptor dan
semakin membuat para koruptor tersebut tidak bisa bertinndak banyak untuk menutupi apa
yang sudah mereka lakukan pada keuangan negara.undang-undang yang ditetapkan saat ini
diharapkan lebih strategis lagi saat memberantas korupsi di Indonesia.
Tindakan pemerintah yang sudah di terapkan untuk memberantas korupsi yang ada di
Indonesia ini adalah menindak tegas pada siapapun juga tidak melihat mereka memiliki
jabatan apa dan pangkat apa semua yang ketahuan korupsi di proses ke KPK,adanya KPK
yang mempermudah pemberantasan korupsi dan dilandasi hukum yang kuat,bukti yang kuat
dan tidak sembarangan saat menangkap korupsi.dengan adanya KPK pemerintah sangat
terbantu sekali dan juga para masyarakat antusian untuk mendukung kinerja pemerintah
dengan mempertahankan KPK sebagai lembaga yang memiliki kinerja sangat optimal.
PENUTUP

Kesimpulan
Korupsi adalah penyalahgunaan wewenang yang ada pada pejabat atau pegawai demi
keuntungan pribadi, keluarga dan teman atau kelompoknya. Korupsi menghambat
pembangunan, karena merugikan negara dan merusak sendi-sendi kebersamaan dan
menghianati cita-cita perjuangan bangsa.

Cara penaggulangan korupsi adalah bersifat

Preventif dan Represif. Pencegahan (preventif) yang perlu dilakukan adalah dengan
menumbuhkan dan membangun etos kerja pejabat maupun pegawai tentang pemisahan yang
jelas antara milik negara atau perusahaan dengan milik pribadi, mengusahakan perbaikan
penghasilan (gaji), menumbuhkan kebanggaan-kebanggaan dan atribut kehormatan diri setiap
jabatan dan pekerjaan, teladan dan pelaku pimpinan atau atasan lebih efektif dalam
memasyarakatkan pandangan, penilaian dan kebijakan, terbuka untuk kontrol, adanya kontrol
sosial dan sanksi sosial, menumbuhkan rasa sense of belongingness diantara para pejabat
dan pegawai. Sedangkan tindakan yang bersifat Represif adalah menegakan hukum yang
berlaku pada koruptor dan penayangan wajah koruptor di layar televisi dan herregistrasi
(pencatatan ulang) kekayaan pejabat dan pegawai.

Saran

Saran yang dapat disampaikan adalah tentang kinerja pemerintah dalam menyikapi
masalah korupsi, pemerintah sebaiknya lebih tegas dalam menyusun undang-undang yang
berlaku mengenai sanksi hukum pelaku tindak pidana korupsi. Serta menyusun ulang kinerja
KPK, karena KPK sekarang telah terpengaruh dunia poilitik yang tidak sehat dan hanya
digunakan sebagai program janji-janji politik saja.
Kemudian saran untuk masyarakat adalahnmasyarakat sebaiknya juga mempunyai
kesadaran diri masing-masing untuk tidak melakukan korupsi sekecil apapun. Masyarakat
juga harus menyadari akibat dan kerugian yang akan dirasakan oleh semua pihak. Serta
kepedulian diri untuk saling mengingatkan satu sama lain.

DAFTAR PUSTAKA
Kartono, Kartini. 1983. Pathologi Sosial. Jakarta: Rajawali Press
Kurniawan, Teguh. 2009. Membangun Mekanisme Akuntabilitas Publik dan Partisipasi
Masyarakat dalam Upaya Pemberantasan Korupsi di Indonesia. Jakarta: Jurnal UGM
dalam Indonesia Memanggil Pakar oleh KPK
Lubis, Mochtar. 1977. Bunga Rampai Etika Pegawai Negeri. Jakarta: Bhratara Karya Aksara
Pope, Jeremy. 2003. Strategi Memberantas Korupsi: Elemen Sistem Integritas Nasional
(Terjemahan). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
Revida, Erika. 2003. Korupsi di Indonesia: Masalah dan Solusinya. Medan: Jurnal
Universitas Sumatra Utara
Saleh, Wantjik. 1978. Tindak Pidana Korupsi Di Indonesia. Jakarta: Penerbit Ghalia
Indonesia
Suwarno, Yogi. 2006. Strategi Pemberantasan Korupsi. Jakarta: Jurnal Peneliti pada Pusat
Kajian Administrasi Internasional LAN RI