You are on page 1of 8

STUDI KASUS KECELAKAAN KERJA TAMBANG BATU BARA

DI PT ECI PALARAN, SAMARINDA, KALIMANTAN TIMUR


Tugas ini disusun untuk memenuhi mata kuliah Standarisasi Keselamatan Kerja
Dosen Pengampu : Dr. Runi Asmaranto, ST., MT.

Disusun Oleh :
Nama

: Munfarid

NIM

: 135060400111035

Kelas

:A

No. Urut

:8

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK PENGAIRAN
MALANG
2016

2 Pekerja Tambang di Samarinda Tertimbun Longsor, 1 Belum


Ditemukan

MERDEKA.COM - Meidi (29), operator ekskavator tambang batu bara dilaporkan


tertimbun bersama alat beratnya, di areal tambang batu bara PT ECI di Palaran,
Samarinda, Kalimantan Timur, Selasa (8/3) pagi. Hingga sore ini, Meidi masih dalam
pencarian tim SAR gabungan.
Informasi dihimpun, salah seorang rekan kerja Meidi sekaligus saksi Riki Sakartung
(41) mengungkap, sekitar pukul 08.40 WITA dia sedang mengawasi Meidi dan
rekannya seorang operator alat berat Artic, Agus (33), melakukan loading batu bara.
Tiba-tiba di lokasi Riki melihat adanya longsoran kecil material tanah. Dia kemudian
meminta Agus dan Meidi untuk meninggalkan lokasi tambang. Sekitar 5 menit
kemudian, longsoran besar material menimpa Agus dan Meidi beserta 2 alat berat
yang mereka kemudikan.
"Setelah melihat keduanya tertimbun, saksi Riki langsung menghubungi rekan lainnya
untuk melakukan evakuasi," kata Kasi Operasional Basarnas Kantor SAR Balikpapan,
Mujiono, saat dikonfirmasi merdeka.com Rabu (8/3) sore.
Pekerja setempat berhasil menyelamatkan Agus dalam kondisi kritis. Agus langsung
dibawa ke RS terdekat.
"Sementara Meidi belum berhasil ditemukan," ujar Mujiono.
Usai menerima informasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)
Kalimantan Timur, 8 personel Basarnas Kantor SAR Balikpapan diterjunkan ke
Samarinda guna membantu proses pencarian Meidi. Evakuasi juga dilakukan bersama
kepolisian dan TNI.
"Kami bawa peralatan Thermal Detector untuk proses pencarian, dan untuk
mengetahui suhu tubuh manusia yang berada di lokasi longsoran. Yang jelas, tim di
lokasi masih melakukan pencarian," pungkas Mujiono.
Di lokasi kejadian, sedikitnya 2 ekskavator berupaya mencari korban Meidi. Lokasi
kejadian yang dikelilingi tebing galian tambang batu bara membuat petugas SAR
ekstra hati-hati melakukan proses pencarian korban.

KLIKSAMARINDA - Kecelakaan kerja di perusahaan pertambangan batu bara


kembali terjadi. Kali ini, dua orang karyawan PT Mitra Indah Lestari (MIL) tertimbun
longsor ketika sedang melakukan pekerjaan penggalian tanah di lokasi pertambangan
Jalan Peti Kemas, PT Energi Cahaya Industri (PT ECI), Kelurahan Bukuan,
Kecamatan Palaran, Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim).
Salah satu korban, Agus Pawon (36) yang merupakan sopir mobil Arctic berhasil
dievakuasi. Sementara korban lainnya, Medi (29) yang merupakan operator
Excavator, masih tertimbun bersama kendaraan alat berat tersebut.
Informasi yang dihimpun KlikSamarinda di lapangan, musibah tersebut terjadi sekitar
pukul 09.00 wita. Korban, Medi yang sedang berada di dalam kabin excavator sempat
menghubungi karyawan PT MIL lainnya lewat alat komunikasi HT.
"Dia (medi) sempat meminta bantuan. Dia bilang "tolong kami, udara sudah mau
habis"," ujar Murtalib (40) yang juga bekerja sebagai operator Excavator.
Mendengarkan permintaan tolong korban yang sedang tertimbun, sejumlah operator
exavator di perusahaan tersebut langsung menuju ke lokasi tempat tertimbunnya dua
karyawan tersebut.
"Sopir Arctic (Agus) dia cepat ditemukan. Begitu tanah digali (pakai excavator) kabin
Arctic langsung terlihat dan langsung dibuka dan korban dikeluarkan," ujar Murtalib.
Sesaat setelah ditemukan, Agus segera dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan
pingsan. Hingga berita ini diturunkan, tiga unit excavator dan satu unit dozer
dikerahkan menggali tanah guna menemukan Medi yang masih tertimbun.
Saat upaya penggalian, aparat kepolisian menjaga ketat lokasi kejadian. (*)

PROKAL.CO, SAMARINDA. Medi (30) karyawan tambang batu bara tewas dalam
kecelakaan kerja. Karyawan subkontraktor PT Mitra Indah Lestari (MIL) di
perusahaan tambang batu bara PT Energi Cahaya Industritama (ECI) ini merupakan
korban kedua di lubang yang sama.
Sebelumnya pada lubang tambang di Kelurahan Bukuan, Palaran, itu, telah
menewaskan bocah bernama Nadia Zaskia.

Bocah berusia 8 tahun itu tewas di salah satu lubang tambang milik perusahaan yang
tak ditutup dan direklamasi 2014 silam.
Tewasnya Medi bukan kali pertama dialami karyawan tambang di lokasi kerja
mereka. Februari lalu, tiga nyawa juga terenggut tertimpa longsor di lokasi tambang
di Samboja, Kutai Kartanegara (Kukar).
Dengan kejadian yang menimpa Medi, berarti sudah empat karyawan di Kaltim yang
tewas akibat longsoran di lokasi tambang batu bara.
Pada kejadian Selasa (8/3) lalu, seorang rekan Medi bernama Agus Pawon (31),
selamat.
Fakta ini membuktikan jika pertambangan di Kaltim semakin ganas. Semakin banyak
korban yang sudah ditelan akibat aktivitas ini. Tidak hanya warga sekitar yang
tenggelam di kolam bekas galian tambang, tapi juga karyawannya sendiri.
Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim menekan kepada pemerintah dan
perusahaan. Jatam mendesak dilakukan reklamasi terhadap bekas lubang tambang
yang masih menganga. Sebaliknya, keamanan pekerja tambang harus lebih
ditingkatkan oleh perusahaan bersangkutan.
Dari hasil penelusuran yang dilakukan Jatam Kaltim, Medi merupakan anak kedua
dari sembilan bersaudara. Medi telah bekerja di PT MIL sejak lima tahun silam
sebagai operator ekskavator.
Medi bermukim di Palaran. Dia tinggal di rumah kos. Sedangkan tempat
kelahirannya, di Pinrang, Sulawesi Selatan (Sulsel). Kendati berasal dari luar pulau
Kalimantan, namun orangtua Medi bernama Ece berada di Tarakan, Kalimantan Utara
(Kaltara). Selain orangtua Medi, di Tarakan juga tinggal istri dan dua anaknya, serta
beberapa anggota keluarganya yang lain.
Keluarga Medi rencananya akan menyambangi Samarinda. Saat ini jenazah Medi
masih berada di di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) IA Moeis. Medi akan
dikebumikan di kampung halamannya di Pinrang.
Aspek keselamatan karyawan juga harus diperhatikan perusahaan, kata Merah
Johanysyah, Dinamisator Jatam Kaltim.

Jatam bahkan menduga manajemen PT ECI melakukan pelanggaran. Alasannya, saat


ini aktivitas perusahaan sebenarnya masih dihentikan, karena menjalani sanksi dari
Pemprov Kaltim.
Seperti diketahui, pada Desember 2015 silam, Gubernur Awang Faroek memberikan
sanksi terhadap 11 perusahaan pertambangan batu bara di Kaltim. PT ECI salah satu
perusahaan yang harus menerima sanksi tersebut. Pemberian sanksi tersebut karena
perusahaan bersangkutan dianggap lalai, sehingga menyebabkan terenggutnya korban
tewas.
Kebijakan ini diambil Awang Faroek sebagai respon atas terus berjatuhannya korban
di bekas lubang tambang. Hingga kini sudah 14 nyawa yang tewas di lubang tambang.
Jika hal ini benar terbukti, maka PT ECI dianggap menggadaikan keselamatan kerja
karyawannya. Alasannya beroperasi secara ilegal saat sanksi masih berjalan.
Karena itu, Merah mendesak kepada Pemprov Kaltim untuk mencabut izin
perusahaan tambang yang lalai dan bandel. Dijelaskannya, aturan tentang izin
lingkungan dan izin pertambangan perusahaan dalam aspek keselamatan kerja diduga
menyalahi peraturan Menteri ESDM RI Nomor 38 tahun 2014 tentang penerapan
sistem manajemen keselamatan pertambangan minerba, yaitu Pasal 2 huruf b
mencegah kecelakaan tambang, penyakit akibat kerja dan kejadian berbahaya.
Dinas Pertambangan dan Energi Kaltim harus melakukan evaluasi total, paparnya.
Usai kejadian itu, Manager PT ECI Yupa Permana, yang dimintai keterangannya oleh
polisi mengaku tak tahu bagaimana longsor bisa terjadi.
"Saat itu saya di kantor. Saya cuma terima laporan. Lalu ke lokasi untuk melihat
kondisinya," tutur Yupa.
Sama halnya dengan Yupa, Kepala Tehnik Tambang (KTT) PT ECI Daniel
mengatakan, dirinya sebenarnya bukanlah KTT di areal tambang batu bara yang
digarap PT MIL.
"KTT-nya sedang umrah, namanya pak Budi. Saya tak tahu persis bagaimana
kejadiannya. Saat kejadian saya masih di kantor dan bersiap menuju lapangan," tutur
Daniel singkat saat ditemu Sapos di lokasi kejadian, Selasa (8/3) lalu.
Sementara itu dari pihak kepolisian penyidikan atas kematian Medi dilakukan oleh
Polsekta Palaran kepada pihak Polresta Samarinda.

Saat ini kami masih menunggu hasil visum dari rumah sakit. Setelah hasilnya kami
kantongi, maka penyidikan akan kami lanjutkan, tandas Kasat Reskrim Polresta
Samarinda, Kompol Sudarsono. (rm-3/nha)

Foto Proses Evakuasi

ANALISA KASUS
1. Identifikasi Kondisi Bahaya (Potensi)
Setiap tempat kerja selalu mengandung berbagai potensi bahaya yang dapat
mempengaruhi kesehatan tenaga kerja maupun dapat menyebabkan hilangnya
jiwa dari pekerja akibat pekerjaan yang dilakukan. Potensi bahaya adalah segala
sesuatu yang berpotensi menyebabkan terjadinya kerugian, kerusakan, cidera,
sakit, kecelakaan atau bahkan dapat mengakibatkan kematian yang berhubungan
dengan proses dan sistem kerja.

Dalam studi kasus ini, dilihat dari kondisi awal, potensi bahaya yang
menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja terdiri dari beberapa faktor, yaitu:
Faktor manusia
a. Pekerja tidak menggunakan alat pelindung diri secara lengkap.
b. Pekerja bertindak tidak aman.
c. Perusahaan sering membandel dan menyalahi peraturan izin lingkungan
dan pertambangan Menteri ESDM RI Nomor 38 tahun 2014 tentang
penerapan sistem manajemen keselamatan pertambangan minerba, yaitu
Pasal 2 huruf b mencegah kecelakaan tambang, penyakit akibat kerja dan
kejadian berbahaya.
Faktor Teknis
a. Adanya getaran dari mesin alat berat yang menimbulkan gerakan
terjadinya longsoran di areal tambang batubara.
Faktor lingkungan
a. Lokasi tambang batubara memliki kondisi kemiringan lereng tanah yang
sangat curam.
b. Material di areal tambang batubara yang mudah longsor.
2. Sumber Bahaya / Kecelakaan
Dalam studi kasus ini, sumber bahaya/kecelakaan disebabkan oleh sikap
penambang,

kebijakan

perusahaan

dan

kondisi

lingkungan

kerja yang

menyebabkan terjadinya kelongsoran pada tambang batubara.


3. Tipe Kecelakaan
Pada studi kasus yang terjadi, tipe kecelakaan berupa tertimpa reruntuhan
tanah pada areal tambang batubara.
4. Akibat Kecelakaan
- Hilangnya nyawa 1 orang penambang
- Menyebabkan kondisi kritis pada 1 orang penambang yang selamat
- Alat berat yang tertimbun dan menjadi rusak
- Adanya sanksi untuk perusahaan atas musibah terjadinya kelongsoran di areal
tambang batubara.
5. Tindakan Pencegahan yang Disarankan

Untuk perusahaan, diwajibkan untuk taat pada peraturan yang berlaku dan
menerapkan SMK3 (Standar Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja)

yang telah ditetapkan.


Memberikan pelatihan dan pendidikan K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja)
terhadap seluruh tenaga kerja berupa pemakaian alat pelindung diri (APD) dan
memberi tahu jalur evakuasi saat kondisi darurat sehingga dapat memperkecil
terjadinya resiko kecelakaan kerja yang ada di lapangan dan dapat melindungi

diri sendiri serta tidak merugikan perusahaan.


Melakukan pengontrolan secara intensif terhadap seluruh pekerja dengan
memberikan reward (penghargaan) dan penalty (sanksi) dalam menerapkan

K3 yang ada di lapangan guna memaksimalkan hasil K3 itu sendiri.


Melakukan studi kelayakan pada tempat kondisi lingkungan kerja, supaya
tetap berada dalam kondisi yang aman dan selamat akan terjadi kondisi yang
tidak diinginkan.

Daftar Bacaan:
http://www.kliksamarinda.com/berita-2267-ini-kesaksian-bencana-longsor-di

lokasi-tambang-palaran-samarinda.html. (diakses 26 September 2016).


http://samarinda.prokal.co/read/news/2152-nyawa-kedua-di-lubang-yang-sama.

(diakses 26 September 2016).


https://www.merdeka.com/peristiwa/2-pekerja-tambang-di-samarinda-tertimbunlongsor-1-belum-ditemukan.html. (diakses 26 September 2016).