You are on page 1of 21

Praktikum Kimia Organik/Kelompok II/S.

Genap/2014

Bab 1. Pendahuluan
1.1

Latar Belakang
Ikan Patin adalah sekelompok ikan berkumis (Siluriformes) yang termasuk

dalam genus Pangasius, famili Pangasiidae. Nama "patin" juga disematkan pada
salah satu anggotanya, P. nasutus. Kelompok hewan ini banyak yang bernilai
ekonomi, seperti patin dan patin siam (P. hypophthalmus syn, P. sutchi, atau
beberapa pustaka menyebutnya jambal siam). Beberapa anggotanya yang hidup di
Sungai Mekong dikenal berukuran sangat besar, mencapai panjang dua meter
lebih (Ahira, 2009).
Minyak ikan termasuk senyawa lipida yang bersifat tidak larut dalam air.
Minyak ikan dapat mencegah beberapa penyakit antara lain jantung koroner,
kelebihan kolesterol darah, penyakit kanker, mengobati kerontokan rambut dan
untuk kekebalan tubuh. Minyak ikan ini dibagi dalam dua golongan, yaitu minyak
hati ikan (fish liver oil) yang terutama dimanfaatkan sebagai sumber vitamin A
dan D dan golongan lainnya adalah minyak tubuh ikan (body oil) (Ahira, 2009).
Melihat potensi dan kegunaan lemak yang terdapat pada ikan patin, maka
dilakukanlah percobaan ini sekaligus menghitung kadar asam lemak bebasnya.
Dimana jika kadar asam lemak bebasnya tinggi akan mengakibatkan minyak
berwana coklat dan itu akan menurunkan kualitas minyak tersebut (Ahira, 2009).
1.2

Tujuan Praktikum

1.
2.
3.

Mengisolasi minyak ikan dari limbah ikan patin.


Menghitung rendemen.
Menghitung persentase asam lemak bebas limbah ikan patin.

Ekstraksi Minyak Ikan dari Limbah Ikan Patin

Praktikum Kimia Organik/Kelompok II/S.Genap/2014

Bab 2. Tinjauan Pustaka

2.1 Ikan Patin


2.1.1 Morfologi Ikan Patin
Ikan patin (Pangasius sp.) adalah salah satu ikan asli perairan Indonesia
yang telah berhasil didomestikasi. Jenisjenis ikan patin di Indonesia sangat
banyak, antara lain Pangasius pangasius, Pangasius humeralis, Pangasius
lithostoma, Pangasius nasutus, Pangasius polyuranodon dan Pangasius
niewenhuisii. Pangasius sutchi dan Pangasius hypophtalmus yang dikenal sebagai
jambal siam atau lele bangkok merupakan ikan yang berasal dari Thailand (Kordi,
2005).
Ikan patin mempunyai bentuk tubuh memanjang, berwarna putih perak
dengan punggung berwarna kebiruan. Ikan patin tidak memiliki sisik, kepalanya
relatif kecil dengan mulut terletak diujung kepala agak ke bawah. Hal ini
merupakan ciri khas golongan catfish. Panjang tubuhnya dapat mencapai 120 cm.
Sudut mulutnya terdapat dua pasang kumis pendek yang berfungsi sebagai peraba.
Sirip punggung memiliki sebuah jarijari keras yang berubah menjadi patil yang
besar dan bergerigi dibelakangnya, sedangkan jarijari lunak pada sirip
punggungnya terdapat 67 buah (Kordi, 2005).
Pada permukaan punggung terdapat sirip lemak yang ukurannya sangat
kecil dan sirip ekornya membentuk cagak dengan bentuk simetris. Sirip duburnya
agak panjang dan mempunyai 3033 jari-jari lunak, sirip perutnya terdapat 6 jarijari lunak. Sedangkan sirip dada terdapat sebuah jari-jari keras yang berubah
menjadi senjata yang dikenal sebagai patil dan memiliki 1213 jari-jari lunak
(Kordi, 2005).
2.1.2 Klasifikasi Ilmiah
Klasifikasi ilmiah ikan patin adalah sebagai berikut (Kordi, 2005):
Kingdom

: Animalia

Filum

: Chordata

Ekstraksi Minyak Ikan dari Limbah Ikan Patin

Praktikum Kimia Organik/Kelompok II/S.Genap/2014

Kelas

: Agtinopterygii

Ordo

: Ostariophysi

Sub-ordo

: Siluroidea

Famili

: Pangasidae

Genus

: Pangasius

Spesies

: Pangasius hypophtalmus

Nama Inggris

: Catfish

Gambar 2.1 Ikan Patin (Kordi, 2005)


2.1.3 Kandungan dan Manfaat Ikan Patin
Ikan patin merupakan salah satu ikan air tawar yang kaya dengan lemak
ikan yang baik untuk kesehatan kita. Kandungan ikan patin kaya akan manfaat
seperti halnya jenis ikan lainnya karena selain merupakan sumber protein, ikan
patin juga mengandung berbagai zat yang sangat bermanfaat seperti asam lemak
tak jenuh omega-3, selenium, dan taurin. Manfaat lainnya juga dilihat dari analisis
kandungan gizi ikan patin yang mengandung 16,08% protein, kandungan lemak
sekitar 5,75%, karbohidrat 1,5%, abu 0,97% dan air 75,7%. Berikut adalah
beberapa kandungan yang terdapat didalam ikan patin, yaitu (Panagan, dkk,
2011):
1.

Omega-3 yang berguna untuk proses perkembangan otak pada janin dan

2.
3.

penting bagi perkembangan fungsi saraf dan penglihatan bayi.


Mengandung serat protein yang pendek sehingga mudah dicerna.
Kaya akan asam amino seperti asam taurin untuk merangsang pertumbuhan

4.
5.

sel otak pada bayi.


Vitamin A dalam minyak hati ikan untuk pertumbuhan dan kekuatan tulang.
Vitamin B6, membantu metabolisme asam amino dan lemak serta mencegah
anemia dan kerusakan syaraf.

Ekstraksi Minyak Ikan dari Limbah Ikan Patin

Praktikum Kimia Organik/Kelompok II/S.Genap/2014

6.

Vitamin B12 yang berguna untuk pembentukan sel darah merah, membantu
metabolisme lemak, melindungi jantung dan mencegah terjadinya

7.
8.
9.
10.

kerusakan syaraf.
Zat besi yang mudah di serap oleh tubuh.
Yodium untuk mencegah terjadinya penyakit gondok.
Seng yang membantu kerja enzim dan hormon.
Fluor yang berperan dalam menyehatkan gigi anak.

2.2

Ekstraksi
Ekstraksi adalah suatu cara pemisahkan suatu zat dari campurannya.

Ekstraksi juga merupakan proses pemisahan satu atau lebih komponen dari suatu
campuran homogen menggunakan pelarut cair sebagai separating agent. Ekstraksi
biasa digunakan untuk memisahkan dua zat berdasarkan perbedaan kelarutannya.
Ekstraksi minyak atau lemak adalah suatu cara untuk mendapatkan minyak
atau lemak dari bahan yang diduga mengandung minyak atau lemak. Ekstraksi
minyak atau lemak itu 3 metode, yaitu 1. rendering (dry rendering dan wet
rendering), 2. mechanical expression dan 3. solvent extraction.
1.

Rendering
Rendering merupakan suatu cara ekstraksi minyak atau lemak dari bahan

yang diduga mengandung minyak atau lemak dengan kadar air yang tinggi. Pada
semua cara rendering, penggunaan panas adalah sesuatu yang spesifik. Tujuan
penggunaan panas ini adalah untuk menggumpalkan protein pada dinding sel
bahan dan untuk memecahkan dinding sel tersebut sehingga mudah ditembus oleh
minyak atau lemak yang terkandung didalamnya.
Menurut pengerjaannya rendering dibagi dengan dua cara, yaitu :
a.

Wet Rendering
Wet rendering adalah proses rendering dengan penambahan sejumlah air

selama berlangsungnya proses tersebut. Cara ini dikerjakan pada ketel yang
terbuka atau tertutup dengan menggunakan temperatur yang tinggi serta tekanan
40 sampai 60 pound tekanan uap (40-60 psi). Penggunaan temperatur rendah pada
wet rendering dilakukan jika diinginkan flavor netral dari minyak atau lemak.
Bahan yang akan diekstraksi ditempatkan pada ketel yang diperlengkapi
dengan alat pangaduk, kemudian air ditambahkan dan campuran dipanaskan
Ekstraksi Minyak Ikan dari Limbah Ikan Patin

Praktikum Kimia Organik/Kelompok II/S.Genap/2014

perlahan-lahan sampai suhu 50C sambil diaduk. Minyak yang terekstraksi akan
naik keatas dan kemudian dipisahkan. Proses wet rendering dengan menggunakan
temperatur rendah kurang begitu popular, sedangkan proses wet rendering dengan
menggunakan temperatur yang tinggi disertai dengan tekanan uap air,
dipergunakan untuk menghasilkan minyak atau lemak dalam jumlah yang besar.
Peralatan yang digunakan adalah autoclave atau digester. Air dan bahan yang
akan diekstraksi dimasukan kedalam digester dengan tekanan uap air sekitar 40
sampai 60 pound selama 4-6 jam.
b.

Dry Rendering
Dry rendering adalah proses rendering tanpa penambahan air selama proses

berlangsung. Dry rendering dilakukan dalam ketel yang terbuka dan dilengkapi
dengan steam jacket serta alat pengaduk. Bahan yang diperkirakan mengandung
minyak atau lemak dimasukkan kedalam ketel tanpa penambahan air. Bahan
tersebut kemudian dipanaskan sambil diaduk. Pemanasan dilakukan pada suhu
220F sampai 230F (105C-110C). Ampas bahan yang telah diambil minyaknya
akan diendapkan pada dasar ketel. Minyak atau lemak yang dihasilkan dipisahkan
dari ampas yang telah mengendap dan pengambilan minyak dilakukan dari bagian
atas ketel.
2.

Pengepresan Mekanis (Mechanical Expression)


Pengepresan mekanis merupakan suatu cara ekstraksi minyak atau lemak,

terutama untuk bahan bahan yang berasal dari biji-bijian. Cara ini dilakukan untuk
memisahkan minyak dari bahan yang berkadar minyak tinggi (30-70%). Pada
pengepresan mekanis ini diperlukan perlakuan pendahuluan sebelum minyak atau
lemak dipisahkan dari bijinya. Perlakuan pendahuluan tersebut mencakup
pembuatan serpih, perajangan, penggilingan serta tempering atau pemasakan.
Terdapat dua cara umum dalam pengepresan mekanis, yaitu:
a.

Pengepresan Hidraulik (Hydraulic Pressing)


Pada cara hydraulic pressing, bahan dipres dengan tekanan sekitar 2000

pound/inch2 (140,6 kg/cm = 136 atm). Banyaknya minyak atau lemak yang dapat
diekstraksi tergantung pada lamanya pengepresan, tekanan yang dipergunakan,

Ekstraksi Minyak Ikan dari Limbah Ikan Patin

Praktikum Kimia Organik/Kelompok II/S.Genap/2014

serta kandungan minyak dalam bahan. Sedangkan banyaknya minyak yang tersisa
pada bungkil bervariasi antara 4 sampai 6 persen, tergantung dari lamanya bungkil
ditekan dibawah tekanan hidra.

Gambar 2.2 Hydraulic Pressing (Ketaren, 2008)


b.

Pengepresan Berulir (Expeller Pressing)


Cara expeller pressing memerlukan perlakuan pendahuluan yang terdiri dari

proses pemasakan atau tempering. Proses pemasakan berlangsung pada


temperatur 240F (115,5C) dengan tekanan sekitar 15-20 ton/inch 2. Kadar air
minyak atau lemak yang dihasilkan berkisar sekitar 2,5-3,5%, sedangkan bungkil
yang dihasilkan masih mengandung minyak antara 4-5%. Cara lain dalam
mengekstraksi minyak atau lemak dari bahan yang diduga mengandung minyak
atau lemak adalah gabungan dari proses wet rendering dengan pengepresan secara
mekanik atau dengan sentrifusi.

Gambar 2.3 Expeller Pressing (Ketaren, 2008)


3.

Ekstraksi Dengan Pelarut (Solvent Extraction)


Prinsip dari proses ini adalah ekstraksi dengan melarutkan minyak dalam

pelarut minyak dan lemak. Pada cara ini dihasilkan bungkil dengan kadar minyak
yang rendah yaitu sekitar 1% atau lebih rendah serta mutu minyak kasar yang

Ekstraksi Minyak Ikan dari Limbah Ikan Patin

Praktikum Kimia Organik/Kelompok II/S.Genap/2014

dihasilkan cenderung menyerupai hasil dari expeller pressing. Hal ini disebabkan
karena sebagian fraksi yang bukan minyak akan ikut terekstraksi. Pelarut minyak
atau lemak yang biasa digunakan dalam proses ekstraksi adalah petroleum eter,
gasoline carbon disulfide, karbon tetra klorida, benzene dan n-heksana.
Salah satu contoh solvent extraction ini adalah metode sokletasi. Ekstraksi
yang dilakukan menggunakan metode sokletasi, yakni sejenis ekstraksi dengan
pelarut organik yang dilakukan secara berulang ulang dan menjaga jumlah pelarut
relatif konstan dengan menggunakan alat soklet. Minyak nabati merupakan suatu
senyawa trigliserida dengan rantai karbon jenuh maupun tidak jenuh. Minyak
nabati umumnya larut dalam pelarut organik, seperti heksana dan benzen. Untuk
mendapatkan minyak nabati dari bagian tumbuhannya, dapat dilakukan dengan
metode sokletasi menggunakan pelarut yang sesuai. Karakteristik beberapa jenis
pelarut yang biasa digunakan dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2.1 Jenis-Jenis Pelarut
Solven
Pelarut Non-Polar
Heksana
Benzena
Toluena
Dietil eter
Kloroform
Etil asetat
Pelarut Polar
1,4-Dioksana
Tetrahidrofuran
(THF)
Diklorometana
(DCM)
Asetona
Asetonitril
(MeCN)
Dimetilformamida
(DMF)
Dimetil sulfoksida
(DMSO)
Asam asetat

Titik didih

Konstanta
Dielektrik

Massa jenis

69 C
80 C
111 C
35 C
61 C
77 C

2.0
2.3
2.4
4.3
4.8
6.0

0.655 g/ml
0.879 g/ml
0.867 g/ml
0.713 g/ml
1.498 g/ml
0.894 g/ml

101 C

2.3

1.033 g/ml

66 C

7.5

0.886 g/ml

40 C

9.1

1.326 g/ml

56 C

21

0.786 g/ml

82 C

37

0.786 g/ml

153 C

38

0.944 g/ml

189 C

47

1.092 g/ml

118 C

6.2

1.049 g/ml

Ekstraksi Minyak Ikan dari Limbah Ikan Patin

Praktikum Kimia Organik/Kelompok II/S.Genap/2014

n-Butanol
Isopropanol (IPA)
n-Propanol
Etanol
Metanol
Asam format
Air
(Sumber: Ahira, 2009)

118 C
82 C
97 C
79 C
65 C
100 C
100 C

18
18
20
30
33
58
80

0.810 g/ml
0.785 g/ml
0.803 g/ml
0.789 g/ml
0.791 g/ml
1.21 g/ml
1.000 g/ml

Setelah proses ekstraksi dilakukan, kemudian dilanjutkan ke proses


pemurnian minyak. Pemurnian minyak bertujuan untuk menghilangkan rasa serta
bau yang tidak enak, warna yang tidak menarik dan memperpanjang masa simpan
minyak sebelum dikonsumsi atau digunakan sebagai bahan mentah dalam
industri.
Pengotor yang terdapat dalam minyak terdiri dari 3 golongan, yaitu 1.
pengotor yang larut, 2. pengotor yang tidak larut dan 3. pengotor yang berbentuk
suspensi dalam minyak (Anto, 2012).
1.

Pengotor yang larut


Kotoran yang termasuk golongan ini adalah asam lemak bebas, sterol,

hidrokarbon dan zat warna. Kotoran ini dapat dihilangkan dengan cara mekanis
seperti pengendapan, penyaringan dan sentrifusi.
2.

Pengotor yang tidak larut


Kotoran yang terdiri dari biji atau partikel, getah, serat, mineral-mineral

serta air dalam jumlah kecil. Kotoran ini dapat dipisahkan dengan cara mekanis
seperti pengendapan dan penyaringan.
3.

Pengotor yang berbentuk suspense dalam minyak


Terdiri dari fosfolipid, karbohidrat, senyawa nitrogen dan senyawa

kompleks lainnya. Kotoran ini dapat dihilangkan dengan uap panas, elektrolisa
dan disusul dengan proses mekanik.
Tahap-tahap pemurnian minyak adalah sebagai berikut :
1.

Pemisahan bahan berupa suspensi dan dispersi koloid dengan cara

2.

penguapan, degumming dan pencucian dengan asam.


Pemisahan asam lemak bebas dengan cara netralisasi.

Ekstraksi Minyak Ikan dari Limbah Ikan Patin

Praktikum Kimia Organik/Kelompok II/S.Genap/2014

3.
4.
5.

Decolourisasi dengan proses pemucatan.


Deodorisasi.
Pemisahan gliserida jenuh/stearin dengan cara pendinginan.

2.3

Produk yang dihasilkan

2.3.1 Lemak dan Minyak


Lemak dan minyak adalah salah satu kelompok yang termasuk pada
golongan lipid, yaitu senyawa organik yang terdapat di alam yang tidak larut
dalam air tetapi larut dalam pelarut organik non-polar, misalnya dietil eter
(C2H5OC2H5), kloroform (CHCl3), benzena dan hidrokarbon lainnya. Lemak dan
minyak dapat larut dalam pelarut yang disebutkan di atas karena lemak dan
minyak mempunyai polaritas yang sama dengan pelarut tersebut.
Bahan-bahan dan senyawa kimia akan mudah larut dalam pelarut yang sama
polaritasnya dengan zat terlarut. Akan tetapi polaritas bahan dapat berubah karena
adanya proses kimiawi. Misalnya asam lemak dalam larutan KOH berada dalam
keadaan terionisasi dan menjadi lebih polar dari aslinya sehingga mudah larut
serta dapat diekstraksi dengan air. Ekstraksi asam lemak yang terionisasi ini dapat
dinetralkan kembali dengan menambahkan asam sulfat encer (10 N) sehingga
kembali menjadi tidak terionisasi dan kembali mudah diekstraksi dengan pelarut
non-polar.
Lemak dan minyak merupakan senyawa trigliserida atau tri asil gliserol
yang berarti triester dari gliserol. Jadi lemak dan minyak juga merupakan
senyawa ester. Hasil hidrolisis lemak dan minyak adalah asam karboksilat dan
gliserol. Asam karboksilat ini juga disebut asam lemak yang mempunyai rantai
hidrokarbon yang panjang dan tidak bercabang (Ritonga, 2002).

2.3.2 Pembentukan Lemak dan Minyak


Lemak dan minyak merupakan senyawaan trigliserida dari gliserol. Pada
pembentukannya, trigliserida merupakan hasil proses kondensasi satu molekul
gliserol dan tiga molekul asam lemak (umumnya ketiga asam lemak tersebut
berbeda-beda) yang membentuk satu molekul trigliserida dan satu molekul air.

Ekstraksi Minyak Ikan dari Limbah Ikan Patin

Praktikum Kimia Organik/Kelompok II/S.Genap/2014

10

Gambar 2.4 Reaksi Pembentukan Trigliserida (Ritonga, 2002)


2.3.3 Kegunaan Lemak dan Minyak
Lemak dan minyak merupakan senyawaan organik yang penting bagi
kehidupan makhluk hidup. Adapun kegunaan lemak dan minyak adalah sebagai
berikut:
1.
2.

Memberikan rasa gurih dan aroma yang spesifik.


Sebagai salah satu penyusun dinding sel dan penyusun bahan-bahan

3.

biomolekul.
Sumber energi yang efektif dibandingkan dengan protein dan karbohidrat.
Hal ini disebabkan karena lemak dan minyak jika dioksidasi secara
sempurna akan menghasilkan energi 9 kal/liter gram lemak atau minyak.
Sedangkan protein dan karbohidrat hanya menghasilkan 4 kalori tiap 1 gram

4.
5.
6.
7.

protein atau karbohidrat.


Digunakan untuk menggoreng makanan.
Minyak nabati adalah bahan utama pembuatan margarin.
Lemak hewani adalah bahan utama pembuatan susu dan mentega.
Mencegah timbulnya penyumbatan pembuluh darah yaitu pada asam lemak
esensial.

2.3.4 Perbedaan Lemak dan Minyak


Perbedaan lemak dan minyak adalah sebagai berikut:
1.
Pada temperatur kamar lemak berwujud padat dan minyak berwujud cair.
2.
Gliserida pada hewan berupa lemak (lemak hewani) dan gliserida pada
3.

tumbuhan berupa miyak (minyak nabati).


Komponen minyak terdiri dari gliserida yang memiliki banyak asam lemak
tak jenuh sedangkan komponen lemak memiliki asam lemak jenuh.

2.3.5 Asam Lemak

Ekstraksi Minyak Ikan dari Limbah Ikan Patin

Praktikum Kimia Organik/Kelompok II/S.Genap/2014

11

Asam lemak adalah asam monokarboksilat rantai lurus tanpa cabang yang
mengandung atom karbon genap mulai dari C-4, tetapi yang paling banyak adalah
C-16 dan C-18. Asam lemak dapat dikelompokan berdasarakan panjang rantai,
ada tidaknya ikatan rangkap dan isomer trans-cis. Asam lemak berdasarkan
panjang rantai meliputi asam lemak rantai pendek (Short Chain Fatty Acids,
SCFA) yang mengandung jumlah atom karbon C-4 sampai C-8, asam lemak rantai
sedang (Medium Chain Fatty Acids, MCFA) mengandung atom karbon C-10 dan
C-12, dan asam lemak rantai panjang (Long Chain Fatty Acids, LCFA)
mengandung jumlah atom karbon C-14 atau lebih (White, 2009).
Berdasarkan jumlah ikatan rangkap asam lemak terdiri dari asam lemak
jenuh dapat dibagi tiga golongan, asam lemak jenuh (Saturated Fatty Acid; SFA)
karena tidak mempunyai ikatan rangkap, asam lemak tak jenuh tunggal (Mono
Unsaturated Fatty Acids; MUFA) hanya memiliki satu ikatan ranggkap dan asam
lemak tak jenuh jamak (Polyunsaturated Fatty Acids, PUFA) memiliki lebih dari
satu ikatan rangkap (White, 2009).
Suatu molekul lemak tersusun dari satu hingga tiga asam lemak dan satu
gliserol. Gliserol adalah alkohol trihidrat, yaitu mempunyai tiga gugus hidroksil
(Gaman dan Sherrington, 1992). Jumlah asam lemak yang terdapat pada gugus
gliserol menyebabkan adanya pembagian molekul lemak menjadi monogliserida,
digliserida dan trigliserida.
Asam lemak adalah asam organik berantai panjang yang mempunyai atom
karbon 4-24, memiliki gugus karboksil tunggal dan ujung hidrokarbon nonpolar
yang panjang menyebabkan hampir semua lipid bersifat tidak larut dalam air dan
tampak berminyak atau berlemak (Davanport dan Johnson, 1971). Penamaan
asam lemak berdasarkan pada jumlah atom karbon dan posisi ikatan tak jenuh dari
gugus karboksilnya (Lobb, 1992).
Asam lemak dibedakan menjadi asam lemak jenuh (Saturated Fatty Acid;
SFA) dan asam lemak tak jenuh (Unsaturated Fatty Acid; UFA).
1.

Asam lemak jenuh


Asam lemak yang tidak memiliki ikatan rangkap disebut asam lemak jenuh.

Asam lemak jenuh memiliki titik cair lebih tinggi daripada asam lemak tak jenuh

Ekstraksi Minyak Ikan dari Limbah Ikan Patin

Praktikum Kimia Organik/Kelompok II/S.Genap/2014

12

dan merupakan dasar dalam menentukan sifat fisik lemak dan minyak. Lemak
yang tersusun oleh asam lemak jenuh akan berbentuk padat.
Komposisi kandungan asam lemak minyak ikan patin terdiri dari asam
lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh. Asam lemak jenuh minyak ikan patin
terdiri dari asam laurat (C12H24O2), asam miristat (C14H28O2), asam palmitat
(C16H32O2) dan asam stearat (C18H36O2) dengan kandungan asam palmitat paling
tinggi.
2.

Asam lemak tak jenuh


Asam lemak yang memiliki ikatan rangkap satu atau lebih dinamakan asam

lemak tidak jenuh. Lemak yang tersusun oleh asam lemak tak jenuh akan bersifat
cair pada suhu kamar. Asam lemak tak jenuh yang mengandung satu ikatan
rangkap disebut asam lemak tak jenuh tunggal (Monounsaturated Fatty Acid;
MUFA). Asam lemak yang mengandung dua atau lebih ikatan rangkap disebut
asam lemak tak jenuh majemuk (Polyunsaturated Fatty Acid; PUFA) (Muchtadi,
dkk, 1993). Semakin panjang rantai karbon dan semakin banyak jumlah ikatan
rangkapnya, semakin besar kecenderungan untuk menurunkan kadar kolesterol
dalam darah.
Asam lemak tak jenuh terdiri dari asam oleat/omega-9 (C17H33COOH), asam
linoleat/omega-6 (C17H31COOH) dan asam linolenat/omega-3 (C17H29 COOH)
yang merupakan asam lemak essensial dengan kandungan asam oleat paling
tinggi. Komposisi asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh ikan sangat
bervariasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi hal ini antara lain jenis ikan, jenis
kelamin, ukuran tingkat kematangan/umur, siklus bertelur, lokasi geografis, jenis
makanan dan musim.
Pada umumnya komposisi minyak ikan laut lebih kompleks dan
mengandung asam lemak tak jenuh berantai panjang yang relatif lebih banyak
dibanding dengan ikan air tawar. Asam lemak tak jenuh berantai panjang pada
minyak ikan laut terdiri dari asam lemak C18, C20, dan C22, sedangkan pada minyak
ikan air tawar hanya mengandung sedikit asam lemak C 20 dan C22. Asam lemak di
alam terdapat sebagai ester asam lemak dalam bentuk ester antara gliserol dengan
asam lemak ataupun terkadang ada gugus hidroksilnya yang teresterkan tidak

Ekstraksi Minyak Ikan dari Limbah Ikan Patin

Praktikum Kimia Organik/Kelompok II/S.Genap/2014

13

dengan asam lemak tetapi dengan phosfat seperti phosfolipid. Ester asam lemak
sering dimodifikasi baik untuk bahan makanan ataupun untuk bahan surfaktan,
aditif, detergen dan lain sebagainya (Tarigan, 2002).
2.3.6 Asam Lemak Bebas
Asam lemak bebas (ALB) adalah suatu asam yang dibebaskan pada proses
hidrolisis lemak oleh enzim. Asam lemak bebas dihasilkan bila terjadi hidrolisis
terhadap minyak trigliserida sehingga asam lemak terlepas dari ikatan dengan
gliserol. Peningkatan hidrolisis terhadap minyak akan meningkatkan jumlah asam
lemak bebas yang dihasilkan. Peningkatan jumlah asam lemak bebas menurunkan
mutu minyak dan meningkatkan potensi terjadinya kerusakan minyak. Kerusakan
minyak dapat mempengaruhi aroma sehingga minyak berbau tengik selain itu juga
dapat merusak peralatan karena mengakibatkan timbulnya korosi. Apabila jenis
asam lemak bebas yang dihasilkan adalah dari jenis asam lemak tidak jenuh maka
ini akan memperbesar terjadinya oksidasi bila tersedia cukup oksigen. Reaksi
antara

asam

lemak

bebas

tidak

jenuh

dengan

oksigen

menghasilkan

hidroperoksida sebagai produk antara. Selanjutnya akan menghasilkan produk


oksidasi sekunder yang berpengaruh terhadap aroma (Ritonga, 2002).
Adapun faktor-faktor yang dapat menyebebkan naiknya asam lemak bebas
dalam minyak antara lain adalah kadar air yang terkandung dan enzim yang
terdapat dalam minyak tersebut. Lebih dari 50 asam lemak bebas yang berbeda
telah ditemukan dalam minyak ikan laut namun delapan jenis seringkali mewakili
lebih dari 80% dari jumlah keseluruhan. Jumlah asam lemak bebas menurut
standar mutu internasional yang disyaratkan untuk minyak ikan sebesar 1-7%
(Ritonga, 2002).

Ekstraksi Minyak Ikan dari Limbah Ikan Patin

Praktikum Kimia Organik/Kelompok II/S.Genap/2014

Gambar 2.5 Reaksi Hidrolisis Trigliserida (Ketaren, 2008)

Bab 3. Metodologi Praktikum


3.1

Alat-Alat yang digunakan

1.

Corong pisah

2.

Oven

3.

Kain pengepres

4.

Buret

5.

Pipet tetes

6.

Erlenmeyer

7.

Gelas kimia

8.

Corong

9.

Statip dan klem

Ekstraksi Minyak Ikan dari Limbah Ikan Patin

14

Praktikum Kimia Organik/Kelompok II/S.Genap/2014

10.

Botol aqua

11.

Sarung tangan

12.

Water batch

13.

Timbangan

14.

Piknometer

15

3.2

Bahan-Bahan yang digunakan

1.

Limbah ikan patin

2.

Aquades/air

3.

Natrium Sulfat Anhidrat

4.

NaOH yang distandarisasi

5.

Phenolpthalein

6.

Alkohol (etanol)

7.

Vaseline

3.3
3.3.1
1.
2.
3.
4.
5.

Prosedur Praktikum
Dry Rendering
Limbah ikan patin dibersihkan dan dikeringkan, kemudian ditimbang.
Lalu dimasukkan kedalam alat pengukus atau oven.
Limbah ikan patin dioven dengan unit alat pengukus selama 5 jam.
Limbah ikan dipres untuk mengeluarkan minyak.
Minyak dimasukkan kecorong pisah dengan ditambahkan Natrium Sulfat

6.
7.

Anhidrat.
Kemudian minyak yang diperoleh ditimbang.
Hitung % rendemen.
(1)

3.3.2 Penentuan Kadar Asam Lemak Bebas


1.
Larutan NaOH dimasukkan kedalam buret.
2.
Sampel minyak diambil sebanyak 20 ml dan dimasukkan ke erlenmeyer
3.
4.

ditambah dengan 20 ml alkohol.


Kemudian dipanaskan dalam water batch 5 menit sambil diaduk.
3 tetes phenolphtalein ditambahkan kedalam erlenmeyer sebagai indikator

5.

warna.
Kemudian dititrasi sampai warna minyak menjadi warna pink atau merah
muda.

Ekstraksi Minyak Ikan dari Limbah Ikan Patin

Praktikum Kimia Organik/Kelompok II/S.Genap/2014

6.

16

Hasil titrasi dicatat dan ditentukan persentase asam lemak bebas dalam
minyak dengan persamaan:
.... (2)

3.3.3
1.
2.
3.
4.

Penentuan Densitas Minyak


Timbang berat piknometer kosong.
Sampel minyak diambil dan dimasukkan kedalam piknometer 10 ml.
Kemudian timbang berat piknometer yang berisi minyak.
Hitunglah densitas.

3.3.4 Penentuan Laju Pembentukan ALB


1.
Timbang berat minyak yang telah dibiarkan selama 20 jam.
2.
Hitung laju pembentukan ALB.

3.4

Rangkaian Alat

%Gambar
ALB = 3.1 Rangkaian
N NaOH Alat
X V Proses
NaOH(ml)
X MrMinyak
MinyakIkan Patin
Ekstraksi
X 100 %
Berat sampel (gr) X 1000

Ekstraksi Minyak Ikan dari Limbah Ikan Patin

Praktikum Kimia Organik/Kelompok II/S.Genap/2014

17

Bab 4. Hasil dan Pembahasan

4.1
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Hasil Praktikum
Berat sampel
Berat minyak yang diperoleh
Rendemen
Massa jenis
% ALB
Laju pembentukan ALB

4.2

Pembahasan

: 250 gram
: 144,978 gram
: 57,99%
: 0.8932 gram/ml
: 0,947%
: 1,57 x 10-6 gram/detik

Percobaan ini adalah ekstraksi minyak ikan untuk mendapatkan minyak


dari suatu jenis ikan dengan cara rendering. Dari bahan yang digunakan seberat
250 gram didapatkan minyak sebanyak 144,978 gram dengan rendemen 57,99%.
Sedangkan rendemen yang didapat oleh kelompok sebelumnya sebesar 65,39%.
Perbedaan rendemen ini disebabkan dengan beberapa faktor, yaitu bahan awal
yang digunakan dan pengepresan. Bahan yang digunakan lebih sedikit
dibandingkan dengan bahan kelompok sebelumnya. Mereka menggunakan bahan
bersih sebanyak 280 gram sedangkan kelompok kami menggunakan bahan bersih
sebanyak 250 gram. Pengepresan seharusnya dilakukan ketika bahan yang dioven
telah dingin. Mengepres ketika bahan masih panas menyebabkan pengepresan
tidak maksimal sehingga minyak masih tersisa pada bahan. Akibatnya berat
minyak yang didapat sedikit dan menyebabkan rendemennya kecil.

Ekstraksi Minyak Ikan dari Limbah Ikan Patin

Praktikum Kimia Organik/Kelompok II/S.Genap/2014

18

Kemudian dilakukan proses titrasi untuk menentukan kadar ALB minyak


ikan patin. % ALB minyak secara teoritis berkisar antara 0,1%-13%. Semakin
besar persentase kadar asam lemak bebas maka akan semakin buruk kualitas
minyak. Dari hasil percobaan diperoleh % ALB sebesar 0,947%. Hal ini
menunjukkan bahwa % ALB yang didapat dari hasil percobaan sesuai secara
teoritis, sehingga menunjukan kualitas minyak yang didapat cukup bagus.
Sedangkan % ALB kelompok sebelumnya sebesar 3,18%. Perbedaan % ALB
yang diperoleh disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu perbedaan volume yang
terpakai saat titrasi, berat sample dan juga lama pengovenan. Volume NaOH yang
digunakan pada titrasi sebanyak 6 ml sedangkan pada kelempok sebelumnya
yaitu 2 ml. Semakin banyak volume NaOH yang digunakan saat titrasi maka %
ALB seharusnya lebih banyak, tetapi berat sampel yang kami gunakan lebih
banyak daripada kelompok sebelumnya, maka % ALB yang kami dapatkan lebih
rendah daripada kelempok sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa minyak yang
kelompok kami peroleh lebih baik daripada kelompok sebelumnya. Waktu
mengoven yang kami lakukan adalah 5 jam, sedangkan kelompok sebelumnya 3
jam 40 menit. Semakin lama dipanaskan, kandungan air dalam minyak akan
semakin sedikit, maka % ALB juga akan semakin kecil. Sehingga minyak yang
diperoleh juga memiliki kualitas yang bagus.
Uji densitas minyak ikan patin dengan menggunakan piknometer. Didapat
densitas minyak sebesar 0,8932 gram/ml sedangkan densitas minyak teoritis
sebesar 0,92 gram/ml. Hasil yang kami dapat tidak sesuai dengan teoritisnya. Hal
ini dipengaruhi oleh temperatur minyak ikan yang masih tinggi dan suhunya
belum stabil. Sedangkan kelompok sebelumnya mendapatkan densitas sebesar
0.888 gram/ml. Densitas yang diperoleh lebih besar dari kelompok sebelumnya.
Hal ini karena kerapatan minyak lebih besar dan berat minyak yang digunakan
saat uji densitas lebih besar.
Menghitung laju pembentukan ALB dilakukan setelah minyak didiamkan
selama 20 jam pada suhu kamar. Pada dasar botol terdapat endapan putih
dikarenakan kandungan asam lemak jenuh yang terdapat pada minyak ikan patin
dan adanya pembentukan asam lemak bebas yang disebabkan oleh proses

Ekstraksi Minyak Ikan dari Limbah Ikan Patin

Praktikum Kimia Organik/Kelompok II/S.Genap/2014

19

hidrolisis yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu temperatur, waktu


penyimpanan, dan kandungan air. Dari percobaan didapat laju pembentukan asam
lemak bebas sebesar 1,57 x 10-6 gram/detik sedangkan pada kelompok
sebelumnya 5,4 x 10-4 gram/detik. Hal ini menunjukkan bahwa laju pembentukan
ALB kelompok sebelumnya lebih cepat karena dipengaruhi berat minyak yang
mereka dapat lebih banyak setelah didiamkan selama satu hari. Dan terbukti dari
%ALB mereka yang lebih besar sehingga laju pembentukan ALB nya lebih cepat.

Bab 5. Kesimpulan dan Saran


5.1
1.
2.
3.
4.
5.

Kesimpulan
Minyak ikan patin yang didapat adalah sebesar 144,978 gram.
Rendemen yang diperoleh adalah sebesar 57,99%.
Densitas minyak adalah sebesar 0,8932 gram/ml.
% ALB minyak yang dihasilkan adalah sebesar 18,94%.
Laju pembentukan ALB-nya adalah sebesar 1,57 x 10-6 gram/detik.

5.2
1.

Saran
Pada saat pemilihan sampel (limbah ikan patin), pilihlah isi perutnya yang

2.

berwarna kuning.
Pada proses pemisahan di corong pisah, tunggu hingga endapannya turun
terlebih dahulu baru dilakukan pemisahan agar hasil yang diperoleh lebih

3.

murni.
Pada saat titrasi, lakukan dengan hati-hati agar tidak melewati titik akhir
titrasi.

Ekstraksi Minyak Ikan dari Limbah Ikan Patin

Praktikum Kimia Organik/Kelompok II/S.Genap/2014

20

Daftar Pustaka

Ahira, A., 2009, Minyak Lemak, Minyak Ikan yang Kaya Manfaat,
http://www.anneahira.com/minyak-lemak.htm, Diakses 12 Mei 2014 pukul
11.27 WIB.
Anto, Siswaidi, 2012, Proses Pemurnian Minyak Nabati, http://industryoleo
chemical.com/2012/04/proses-pemurnian-minyak-nabati.html, Diakses 14
Mei 2014 pukul 19.34 WIB.
Davanport JB. dan Johnson AR., 1971, The Nomenclature and Classification of
Lipids, Biochemistry and Methodology of Lipids, Wiley-Interscience,
Sydney.
Gaman, P. M. dan Sherrington K. B., 1992, Ilmu Pangan, Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta.
Hart, Harold, 1990, Kimia Organik: Suatu Kuliah Singkat, Jakarta, Erlangga.
HS, Irdoni dan Nirwana HZ, 2014, Modul Praktikum Kimia Organik-B,
Universitas Riau, Pekanbaru.
Ketaren, S., 2008, Minyak dan Lemak Pangan, Universitas Indonesia Press,
Jakarta.
Kordi, M., 2005, Budidaya Ikan Baronang, Rineka Cipta, Jakarta.
Lobb K., 1992, Fatty Acid Classification and Nomenclature, Chow CK, editor.
Fatty Acids in Foods and Their Health Implications, Marcel Dekker, Inc,
New York.
Muchtadi, D., Palupi N.S., dan Astawan M., 1993, Metabolisme Zat Gizi,
Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Panagan, Almunady T., Heni Yohandini, Jojor Uli Gultom, 2011, Analisis
Kualitatif dan Kuantitatif Asam Lemak Tak Jenuh Omega-3 dari Minyak
Ikan Patin (Pangasius pangasius) dengan Metode Kromatografi Gas,
Universitas Sriwijaya, Sumatera Selatan.

Ekstraksi Minyak Ikan dari Limbah Ikan Patin

Praktikum Kimia Organik/Kelompok II/S.Genap/2014

21

Ritonga, Yusuf M., 2002, Destilasi Asam Lemak, Universitas Sumatera Utara,
Medan.
Tarigan, HG.,1991, Motodologi Pengajaran Bahasa-2, Angkasa, Bandung.
White, A., 2009, Western Medical Acupuncture: A Definition, Acupunct Med,
27, 33-36.

Ekstraksi Minyak Ikan dari Limbah Ikan Patin