You are on page 1of 7

TUGAS KIMIA FISIKA

NAMA : RIRIS ULIMA


NIM : 1307113522
DOSEN PENGAMPU : Dr SYAIFUL BAHRI,MSi

JURUSAN TEKNIK KIMIA S1-A


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS RIAU
2014

ARTIKEL GLOBAL WARMING (PEMANASAN GLOBAL)

Mungkin anda pernah membayangkan berada di dalam mobil yang tertutup rapat pada
siang hari. Sinar matahari dengan leluasa dapat memasuki ruangan mobil melalui kaca mobil,
sehingga menyebabkan udara di dalam mobil menjadi lebih panas. Udara di dalam mobil
menghangat, karena panas sinar matahari yang masuk tidak dapat leluasa keluar. Sehingga panas
tersebut terperangkap di dalam mobil.
Demikian halnya dengan pemanasan global. Matahari memancarkan radiasinya ke bumi
menembus lapisan atmosfer bumi. Radiasi tersebut akan dipantulkan kembali ke angkasa,
namun sebagian gelombang tersebut diserap oleh gas rumah kaca, yaitu CO2, CH4, N2O, HFCs
dan SF4 yang berada di atmosfer. Sebagai akibatnya gelombang tersebut terperangkap di dalam
atmosfer bumi. Peristiwa ini terjadi berulang-ulang, sehingga menyebabkan suhu rata-rata di
permukaan bumi meningkat (suhu di permukaan bumi menjadi lebih panas dibandingkan suhu
normal). Peristiwa inilah yang sering disebut dengan pemanasan global.
Pemanasan global merupakan fenomena global yang disebabkan oleh aktivitas manusia
di seluruh dunia, pertambahan populasi penduduk, serta pertumbuhan teknologi dan industri.
Oleh karena itu, peristiwa ini berdampak global. Beberapa aktivitas manusia yang menyebabkan
terjadinya pemanasan global yaitu :
1. Konsumsi energi bahan bakar fosil. Sektor industri merupakan penyumbang emisi
karbon terbesar, sedangkan sektor transportasi menempati posisi kedua. Menurut
Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral (2003), konsumsi energi bahan bakar fosil
memakan sebanyak 70% dari total konsumsi energi, sedangkan listrik menempati posisi
kedua dengan memakan 10% dari total konsumsi energi. Dari sektor ini, Indonesia
mengemisikan gas rumah kaca sebesar 24,84% dari total emisi gas rumah kaca. Indonesia
termasuk negara pengkonsumsi energi terbesar di Asia setelah Cina, Jepang, India dan
Korea Selatan. Konsumsi energi yang besar ini diperoleh karena banyaknya penduduk
yang menggunakan bahan bakar fosil sebagai sumber energinya, walaupun dalam
perhitungan penggunaan energi per orang di negara berkembang, tidak sebesar
penggunaan energi per orang di negara maju. Menurut Prof. Emil Salim, USA
mengemisikan 20 ton CO2/orang per tahun dengan jumlah penduduk 1,1 milyar

penduduk, Cina mengemisikan 3 ton CO2/orang per tahun dengan jumlah 1,3 milyar
penduduk, sementara India mengemisikan 1,2 ton CO2/orang dengan jumlah 1 milyar
penduduk. Dengan demikian, banyaknya gas rumah kaca yang dibuang ke atmosfer dari
sektor ini berkaitan dengan gaya hidup dan jumlah penduduk. USA merupakan negara
dengan penduduk yang mempunyai gaya hidup sangat boros, dalam mengkonsumsi
energi yang berasal dari bahan bakar fosil, berbeda dengan negara berkembang yang
mengemisikan sejumlah gas rumah kaca, karena akumulasi banyaknya penduduk.
2. Sampah. Sampah menghasilkan gas metana (CH4). Diperkirakan 1 ton sampah padat
menghasilkan 50 kg gas metana. Sampah merupakan masalah besar yang dihadapi kotakota di Indonesia. Menurut Kementerian Negara Lingkungan Hidup pada tahun 1995
rata-rata orang di perkotaan di Indonesia menghasilkan sampah sebanyak 0,8 kg/hari dan
pada tahun 2000 terus meningkat menjadi 1 kg/hari. Dilain pihak jumlah penduduk terus
meningkat sehingga, diperkirakan pada tahun 2020 sampah yang dihasilkan mencapai
500 juta kg/hari atau 190 ribu ton/tahun. Dengan jumlah ini maka sampah akan
mengemisikan gas metana sebesar 9500 ton/tahun. Dengan demikian, sampah di
perkotaan merupakan sektor yang sangat potensial, mempercepat proses terjadinya
pemanasan global.
3. Kerusakan hutan. Salah satu fungsi tumbuhan yaitu menyerap karbondioksida (CO2),
yang merupakan salah satu dari gas rumah kaca, dan mengubahnya menjadi oksigen
(O2). Saat ini di Indonesia diketahui telah terjadi kerusakan hutan yang cukup parah.
Laju kerusakan hutan di Indonesia, menurut data dari Forest Watch Indonesia (2001),
sekitar 2,2 juta/tahun. Kerusakan hutan tersebut disebabkan oleh kebakaran hutan,
perubahan tata guna lahan, antara lain perubahan hutan menjadi perkebunan dengan
tanaman tunggal secara besar-besaran, misalnya perkebunan kelapa sawit, serta
kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan oleh pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH)
dan Hutan Tanaman Industri (HTI). Dengan kerusakan seperti diatas, tentu saja proses
penyerapan karbondioksida tidak dapat optimal. Hal ini akan mempercepat terjadinya
pemanasan global.

Sebagai sebuah fenomena global, dampak pemanasan global dirasakan oleh seluruh umat
manusia di dunia, termasuk Indonesia. Posisi Indonesia sebagai negara kepulauan, menempatkan
Indonesia dalam kondisi yang rentan menghadapi terjadinya pemanasan global. Sebagai akibat
terjadinya pemanasan global, Indonesia akan menghadapi peristiwa :
Pertama, Kenaikan temperatur global, yang menyebabkan mencairnya es di kutub utara
dan selatan, sehingga mengakibatkan terjadinya pemuaian massa air laut, kenaikan permukaan
air laut serta punahnya beruang kutub. Hal ini akan menurunkan produksi tambak ikan dan
udang, serta terjadinya pemutihan terumbu karang (coral bleaching), dan punahnya berbagai
jenis ikan. Selain itu, naiknya permukaan air laut akan mengakibatkan pulau-pulau kecil dan
daerah landai di Indonesia akan hilang. Ancaman lain yang dihadapi masyarakat yaitu
memburuknya kualitas air tanah, sebagai akibat dari masuknya atau merembesnya air laut, serta
infrastruktur perkotaan yang mengalami kerusakan, sebagai akibat tergenang oleh air laut.

GAMBAR :
a. Meningkatnya permukaan air laut menyebabkan terjadinya bencana banjir.
b. Beruang kutub yang terbakar oleh panasnya global warming.
Kedua, Pergeseran musim sebagai akibat dari adanya perubahan pola curah hujan.
Perubahan iklim mengakibatkan intensitas hujan yang tinggi pada periode yang singkat serta
musim kemarau yang panjang. Di beberapa tempat terjadi peningkatan curah hujan sehingga
meningkatkan peluang terjadinya banjir dan tanah longsor, sementara di tempat lain terjadi
penurunan curah hujan yang berpotensi menimbulkan kekeringan. Sebagian besar Daerah Aliran

Sungai (DAS) akan terjadi perbedaan tingkat air pasang dan surut yang makin tajam. Hal ini
mengakibatkan meningkatnya kekerapan terjadinya banjir atau kekeringan. Kondisi ini akan
semakin parah apabila daya tampung badan sungai atau waduk tidak terpelihara akibat erosi.

GAMBAR :
C. Kekeringan dapat menyebabkan kematian akibat gagal panen dan kurangnya
produktivitas hasil pertanian.

Untuk itu, setiap individu diharapkan partisipasinya untuk bekerjasama saling bantu
membantu dalam menghentikan pemanasan global. Kita tidak harus menunggu pemerintah untuk
turun tangan dengan mengeluarkan suatu kebijakan politik yang drastis untuk menangani isu ini.
Setiap orang dari kita dapat melakukan sesuatu guna menghentikan isu ini. Kamu tidak harus
melakukan sesuatu yang luar biasa karena dengan sesuatu yang kecil, dilakukan dengan
kesadaran diri yang tinggi dapat membuat hasil yang besar.
Kita mungkin berpikir bahwa satu orang hanya akan memberikan dampak kecil untuk
menjaga keberlangsungan planet ini namun hal itu sama sekali tidak benar. Setiap orang dari kita
dapat membuat perubahan yang bermakna untuk alam ini. Tindakan kecil kita sangat dapat
membantu menyelamatkan planet ini. Siapa yang tahu pohon yang indah dan kuat dapat tumbuh
dari benih tunggal yang dikemudian hari dapat menyelamatkan hidupmu atau keluarga kamu?
Selagi kamu menjalankan tindakan kecil yang disertai kebaikan dan semangat nyata, ajak dan

motivasi orang lain untuk melakukan hal yang sama. Gabungan dari tindakan tersebut secara
pasti dapat membuat perubahan besar untuk kebaikan bersama.
Nah berikut beberapa cara yang dapat kamu lakukan untuk mengurangi pemanasan
global :
1. Matikan semua alat elektronik saat tidak digunakan. Kerlip merah penanda standby yang
menunjukkan alat tersebut masih menggunakan listrik. Artinya ada terus berkontribusi pada
pemanasan global.
2. Pilihlah perlengkapan elektronik serta lampu yang hemat energy.
3. Jemur dan biarkan pakaian kering dibawah terik matahari. Jangan menggunakan mesin
pengering, sebab mesin pengering mengeluarkan CO2.
4. Beli makanan organik
Tanah organik menangkap dan menyimpan CO2 lebih besar dari pertanian konvensional.
The Soil Association menambahkan bahwa produksi secara organik dapat mengurangi 26 %
CO2 yang disumbang oleh pertanian.
5. Tanam pohon setiap ada kesempatan. Baik di lingkungan ataupun berpartisipasi dalam
program penanaman pohon. Bisa dengan menyumbang bibit, dana, dan lain-lain. Tergantung
kesempatan dan kemampuan. Karena 1 pohon berukuran agak besar dapat menyerap 6 Kg
CO2 per tahunnya.
6. Gunakan kipas angin
AC yang menggunakan daya 1.000 Watt menyumbang 650 gr CO2 per jamnya. Karena itu,
cobalah untuk menggunakan kipas angin.
7. Jangan meletakan kulkas atau pendingin disamping kompor atau pemanas, pindahkan
semuanya ke lokasi lain yang berjauhan satu sama lain. Kulkas yang diletakan disamping
kompor atau pemanas mengkonsumsi energi lebih banyak daripada yang diletakan
berjauhan. Kulkas yang menjaga suhu tetap dingin agar makanan yang didalamnya tahan
lama akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mendinginkan bila ditaruh
bersebelahan dengan aplikasi pemanas.
8. Bawalah botol air minum sendiri. Bila kamu akan pergi piknik atau melakukan perjalanan,
alih-alih membeli air kemasan, bawalah perbekalan sendiri terutama air minum dalam botol.
Air mineral dalam botol plastik, menggunakan bahan plastik yang baru dapat hancur setelah
lebih dari 200 tahun bila tidak di daur ulang, oleh karena itu hilangkan kebiasaan
menggunakan botol plastik sekali pakai.

9. Ketika kamu ingin berbelanja di pasar, supermarket atau minimarket, usahakanlah membawa
tas / kantong sendiri. Dengan membawa tas / kantong sendiri, kamu sudah turut mengurangi
karbon diudara akibat pembakaran kantung-kantung plastik dari tempat-tempat tersebut.
10. Bepergian yang ramah lingkungan
Cobalah untuk berjalan kaki supaya mengurangi emisi CO2 sisa pembakaran bahan bakar
minyak pada kendaraan.
Terakhir, mendukung penggunaan produk-produk daur ulang dan memanfaatkan produk
tersebutsecara penuh juga merupakan salah satu cara untuk membantu menyelamatkan planet
kita ini.
Go Green, Go Clean dan selamatkan planet kita untuk generasi masa depan kita :) .