Вы находитесь на странице: 1из 7

LAPORAN PENDAHULUAN

APPENDISITIS

Oleh:

Utin Helviana, S. Kep.


NIM: 20010320043

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2006

APPENDIKS
Apendiks disebut juga umbai cacing. Istilah usus buntu yang sering
dipakai di masyarakat awam adalah kurang tepat karena usus buntu sebenarnya
adalah sekum. Fungsi organ ini tidak diketahui namun sering menimbulkan
masalah kesehatan. Peradangan akut apendiks memerlukan tindak bedah segera
untuk mencegah komplikasi yang umumnya berbahaya.
A. Definisi.
Appendiksitis adalah suatu keadaan peradangan pada appendiks (umbai
cacing). Apendisitis merupakan infeksi bacteria. Berbagai hal berperan sebagai
faktor pencetusnya. Sumbatan lumen apendiks merupakan factor yang diajukan
sebagai factor pencetus disamping hiperplasi jaringan limfe. Fekalit, tumor
apendiks dan cacing askaris dapat pula menyebabkan sumbatan. Penyebab lain
yang diduga dapat menyebabkan apendisitis ialah erosi mukosa apendiks karena
parasit seperti E. histolytica.
Penelitian epidemiologi menunjukkan peran kebiasaan makan makanan rendah
serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya apendisitis. Kontipasi akan
menaikkan tekanan intrasekal, yang berakibat timbulnya sumbatan fungsional
apendiks dan meningkatnya pertumbuhan kuman flora kolon biasa. Semuanya ini
akan mempermudah timbulnya apendisitis akut.
B. Etiologi
1. Obstruksi
Obstruksi adalah sumbatan pada pangkal appendiks. Dengan adanya obstruksi
maka mucus yang diproduksi appendiks tidak dapat dicurahkan ke caecum
dan tertimbun dalam lumen appendiks. Kapasitas lumen appendiks 0,1 ml
sedangkan mucus diproduksi dengan kecepatan 1-2 ml/hari. Timbunan cairan
dalam appendiks akan meningkatkan tekanan intraluminal dan menyebabkan
desakan pada dinding appendiks (terjadi distensi appendiks). Distensi dinding

appendiks selanjutnya menyebabkan tergencetnya saluran limfe dan vasa


darah padanya. Obstruksi appendik dapat disebabkan oleh:
a. Sumbatan dalam lumen, jenisnya:
1) Fecolith/sterkolith yaitu massa feses yang membatu
2) Corpus alienum, misalnya biji-bijian.
3) Telur parasit
4) Parasit
b. Bengkokan/tekukan appendiks (kinking)
c. Pembesaran folikel appendiks
d. Stenosis / obliterasi appendiks
e. Pseudoobstruksi, yaitu karena peristaltic yang melemah
2. Infeksi
Infeksi pada appendiks tejadi secara hemtogen berasal dari tempat lain.
C. Patologi
Sesuai dengan yang disebutkan diatas, maka patologi yang didapat pada
apendisitis dapat mulai di mukosa dan kemudian melibatkan seluruh lapisan
dinding apendiks dalam waktu 24-48 jam pertama. Usaha pertahanan tubuh
adalah membatasi proses radang dengan menutup apendiks dengan omentum,
usus halus, atau adneksa sehingga terbentuk massa periapendikuler yang dikenal
dengan istilah infiltrate apendiks. Di dalamnya dapat terjadi nekrosis jaringan
berupa abses yang dapat mengalami perforasi. Jika tidak terbentuk abses,
apendisitis akan sembuh dan massa periapendikuler akan tenang untuk selanjutnya
akan mengurai diri secara lambat.
Apendiks yang pernah meradang tidak akan sembuh dengan sempurna
tetapi akan membentuk jaringan parut yang menyebabkan perlengketan dengan
jaringan sekitarnya. Perlengketan ini dapat menimbulkan keluhan berulang di
perut kanan bawah. Pada suatu ketika organ ini dapat meradang akut lagi dan
dinyatakan sebagai mengalami eksaserbasi akut.
D. Gambaran klinis

Apendisitis sering tampil dengan gejala khas yang didasari oleh radang
mendadak umbai cacing yang memberikan tanda setempat, disertai maupun tidak
disertai rangsang peritoneum local. Gejala klasik apendisitis adalah nyeri samarsamar dan tumpul yang merupakan nyeri visceral di daerah epigastrum di sekitar
umbilicus. Keluhan ini sering disertai mual dan kadang muntah. Umumnya nafsu
makan menurun. Dalam beberapa jam nyeri akan berpindah ke kanan bawah titik
Mc. Burney. Di sini nyeri dirasakan lebih tajam dan lebih jelas letaknya sehingga
merupakan nyeri somatic setempat. Kadang tidak ada nyeri epigastrum tetapi
terdapat konstipasi sehingga penderita merasa memerlukan obat pencahar.
Tindakan itu dianggap berbahaya karena bisa mempermudah terjadinya perforasi.
Bila terdapat perangsangan peritoneum biasanya pasien mengeluh sakit perut bila
berjalan atau batuk.
Bila letak apendiks retrosekal di luar rongga perut, karena letaknya
terlindung sekum maka tanda perut kanan bawah tidak begitu jelas dan tidak ada
tanda rangsangan peritoneal. Rasa nyeri lebih kearah perut sisi kanan atau nyeri
timbul pada saat berjalan, karena kontrkaksi psoas mayor yang menegang dari
dorsal.
Apendiks yang terletak di rongga pelvis, bila meradang, dapat
menimbulkan gejala dan tanda rangsangan sigmoid atau rectum sehingga
peristaltic meningkat, pengosongan rectum akan lebih cepat dan berulang-ulang.
Jika apendiks tadi menempel ke kandung kemih, dapat terjadi peningkatan
frekuensi kencing, karena rangsangan dindingnya.
Gejala apendiks pada anak tidak spesifik. Gejala awalnya sering hanya
rewel dan tidak mau makan. Anak sering tidak bisa melukiskan rasa nyerinya.
Dalam beberapa jam kemudian akan timbul muntah-muntah dan anak menjadi
lemah dan letargik.
Pada orang lanjut usia gejalanya juga lebih samara-samar saja. Tidak
jarang terlambat didiagnosa. Akibatnya lebih dari separo penderita baru dapat
didiagnosa setelah perforasi.
Pada kehamilan keluhan utama apendisitis adalah nyeri perut, mual dan muntah.
Yang perlu diperhatikan adalah pada kehamilan trimester pertama sering juga

terjadi mual dan muntah. Pada kehamilan lanjut sekum dengan apendiks
terdorong ke kraniolateral sehingga keluhan tidak dirasakan di perut kanan bawah
tetapi lebih ke region lumbal kanan.
E. Pemeriksaan
Demam biasanya ringan, dengan suhu sekitar 37,5-38,50C. Bila suhu lebih
tinggi, mungkin sudah terjadi perforasi. Bisa terdapat perbedaan suhu aksilar dan
rectal samapi 10 C. Pada inspeksi perut tidak terdapat gambaran spesifik.Kembung
sering terlihat pada penderita dengan komplikasi perforasi. Penonjolan perut
kanan bawah bisa terlihat pada massa atau abses apendikuler.
Pada palpasi didapatkan nyeri yang terbatas pada region iliaka kanan, bisa
disertai nyeri lepas. Nyeri tekan perut kanan bawah ini merupakan kunci
diagnosis. Pada penekanan perut kiri bawah akan dirasakan nyeri di perut kanan
bawah yang disebut tanda Rovsing. Pada apendisitis retrosekal atau retroileal
diperlukan palpasi dalam untuk menentukan adanya rasa nyeri.
Peristaltik usus sering normal, paralitik dapat hilang karena ileus paralitik
F. Diagnosa Keperawatan.
Carpenito (2000), menyebutkan diagnosa keperawatan utama pada pembedahan
umum yaitu:
1. Praoperasi.
a.

Ketakutan

yang

berhubungan

dengan

pengalaman

pembedahan,

kehilangan kontrol, dan hasil yang tidak dapat diperkirakan.


b. Ancietas yang berhubungan dengan prosedur praoperasi.
2. Periode pasca operasi.
a. Resiko infeksi berhubungan dengan destruksi pertahanan garis depan
terhadap serangan bakteri.
b. Resiko terhadap perubahan fungsi pernafasan berhubungan dengan status
pascaanastesi, imobilitas pascaoperasi dan nyeri.
c. Nyeri akut berhubungan dengan insisi, flatus dan immobilitas.

d. Resiko terhadap konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltik


sekunder akibat dari anastesia , imobilitas dan nyeri.
e. Resiko terhadap perubahan nutrisi: Kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan peningkatan kebutuhan protein untuk poenyembuhan
luka dan penurunan masukan sekunder akibat, nyeri, mual, muntah, dan
pembatasan diet.
f. Resiko terhadap ketidak efektifan penatalaksanaan program terapeutik
berhubungan dengan ketidak cukupan pengetahuan tentang perawatan
dirumah, perawatan luka insiusi, tanda-tanda dan gejala komplikasi,
poembatasan aktivitas, dan perawatan tindak lanjut.
Berdasar patofisologi dan diagnosa keperawatan diatas dapat disusun
diagnosa keperawatan utama pada appendicitis adalah: (berdasar terminologi
NANDA).
1. Praoperasi.
a. Nyeri berhubungan dengan agen cedera biologi (infeksi appendiks).
b. Takut berhubungan dengan stimulus phobia (pembedahan).
c. Cemas berhubungan dengan krisis situasional dalam menghadapi prosedur
pembedahan.
d. Kesiapan dalam peningkatan koping individu.
2. Pascaoperasi.
a. Resiko infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tak adekuat (kulit
tidak utuh karena insisi pembedahan).
b. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik (luka insisi
pembedahan).
c. Resiko konstipasi berhubungan dengan penurunan motilitas traktus
gastrointestinal.
d. Kesiapan dalam peningkatan nutrisi.
Daftar Pustaka
Carpenito, LJ. (2000). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8, Jakarta: EGC.

Guyton Arthur C, MD. (1990). Fisiologi manusia dan mekanisme penyakit. Edisi
III, Jakarta: EGC.
NANDA, (2001). Nursing Diagnosis; Definition and Classification (2001-2002),
Philadelphia.