You are on page 1of 21

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pompa


Pompa adalah suatu alat yang digunakan untuk memindahkan suatu cairan
(fluida) dari suatu tempat ke tempat lain dengan cara menaikkan tekanan cairan
tersebut , atau dari suatu tempat yang bertekanan rendah ke tempat yang
bertekanan tinggi, atau dari satu tempat ke tempat lain yang jauh serta untuk
mengatasi tahanan hidrolisnya. Kenaikan tekanan cairan tersebut digunakan untuk
mengatasi hambatan-hambatan pengaliran. Hambatan-hambatan pengaliran itu
dapat berupa perbedaan tekanan, perbedaan ketinggian atau hambatan gesek.
Pompa beroperasi dengan prinsip membuat perbedaan tekanan antara
bagian masuk (suction) dengan bagian keluar (discharge). Dengan kata lain,
pompa berfungsi mengubah tenaga mekanis dari suatu sumber tenaga (penggerak)
menjadi tenaga kinetis (kecepatan), dimana tenaga ini berguna untuk mengalirkan
cairan dan mengatasi hambatan yang ada sepanjang pengaliran. Dengan demikian
pompa menaikan energi cairan yang dilayani sehingga cairan tersebut dapat
mengalir dari suatu tempat yang bertekanan rendah ke tempat yang bertekanan
tinggi. Pada suatu industri, pompa merupakan peralatan penunjang yang sangat
penting. Hal ini karena pompa digunakan sebagai peralatan sirkulasi air
pendingin, sebagai penggerak fluida kerja pada sistem hidrolis, sirkulasi minyak
pelumas pada mesin, dsb. Selain itu juga digunakan sebagai suply kebutuhan air
bersih, pemadam kebakaran dan lain-lain.
2.2 Klasifikasi dan Kinerja Pompa
Pompa dapat diklasifikasikan dalam beberapa cara yang berbeda, misalnya
berdasarkan kondisi kerjanya, cairan yang dilayani / dipindahkan, bentuk elemen
yang bergerak, jenis penggeraknya, serta berdasarkan cara mentransfer fluida dari
dari pipa hisap ke pipa tekan. Namun secara general pompa dapat diklasifikasikan
sbb :
Jenis dan Prinsip Kerja
a) Positive Displacement Pumps
Pada pompa positive displacement, perpindahan zat cair dari suatu tempat
ke tempat lain disebabkan perubahan volume ruang kerja pompa yang
diakibatkan oleh gerakan elemen pompa yaitu maju-mundur (bolak-balik) atau
berputar (rotary). Dengan perubahan volume tersebut maka zat cair pada
bagian keluar (discharge) mempunyai tekanan yang lebih besar dibanding

pada bagian masuk (suction) dan konsekuensinya kapasitas yang dihasilkan


sesuai volume yang dipindahkan.
Ciri-Ciri Umum Pompa Positif :
o Head yang dihasilkan relatif tinggi dibanding dengan kapasitas.
o Mampu beroperasi pada suction yang kering, sehingga tidak memerlukan
proses priming.
o Kapasitas atau aliran zat cair tidak kontinyu.
Pompa Reciprocating
Adalah pompa yang merubah energi mekanis penggeraknya menjadi
energi aliran fluida yang dilayani dengan menggunakan bagian pompa yang
bergerak bolak-balik di dalam silinder. Bagian atau elemen pompa yang
bergerak tersebut bisa disebut piston ataupun plunger tergantung dari
konstruksinya.
b) Pompa Rotary
Pompa rotary adalah pompa-pompa positip (positive displacement
pumps) dimana energi ditransmisikan dari motor penggerak ke cairan oleh
suatu bagian (elemen) yang mempunyai gerakan berputar di dalam rumah
pompa. Berdasarkan desainnya, pompa rotary dapat diklasifikasikan sebagai
berikut :
1. Screw Pump
Kebutuhan untuk memperbaiki kelemahan pompa reciprocating dalam
menghasilkan kapasitas rendah serta aliran lebih uniform dapat dikurangi
oleh penggunaan pompa screw. Tekanan, kapasitas serta putaran dari
pompa ini dapat mencapai 200 kg/cm2, 300 m3/jam serta 10.000 rpm.
Kelebihan lain dari pompa screw antara lain :

Efisiensinya totalnya tinggi (70 % 80%)

Ukuran pompa relatif kecil, ringan karena rotor dapat bekerja


pada putaran tinggi

Aliran hampir benar-benar uniform.

Getarannya relatif kecil

Kapasitas isapnya baik sekali

Dapat beroperasi dalam berbagai posisi, horizontal, vertikal,


miring dsb.

2. Gear Pump
Pompa roda gigi mampu digunakan untuk memompa cairan yang
mempunyai viskositas rendah hingga tinggi. Pompa ini umumnya dipakai
sebagi pompa minyak pelumas. Pompa roda gigi terdiri dari roda gigi
penggerak dan roda gigi yang digerakkan. Konstruksinya bisa external
ataupun juga internal. Kebaikan pompa roda gigi adalah :

Aliran uniform

Konstruksi sederhana

Kapasitasnya relatih besar dibanding ukuran pompa yang kecil

Instalasi sederhana
3. Lobe Pump
Pompa lobe mempunyai dua rotor setiap lobe, baik untuk lobe dua,
tiga maupun empat masing-masing lobenya tetap mempunyai dua rotor.
Pompa tiga lobe mempunyai efisiensi lebih baik dibanding dengan dua
lobe, begitu seterusnya. Namun dari segi pembuatannya lebih sulit.
Prinsip kerja pompa lobe adalah : Kedua rotor berputar serempak dengan
arah saling berlawanan di dalam sebuah casing.
Sumbu gigi dari rotor selalu membentuk sudut 900 terhadap sumbu
gigi rotor yang lain. Jika rotor diputar dalam arah panah, seperti
ditunjukkan pada gambar dibawah, maka fluida yang terkurung antara
casing dengan lobe akan dipindahkan dari sisi inlet menuju outlet.
4. Sliding Vane
5. Rotary piston
c) Pompa Tekanan Dinamis

Pompa Tekanan Dinamis Pompa ini disebut juga dengan Non Positive
Displacement Pump, pompa tekanan dinamis terdiri dari poros, sudu sudu
impeller, rymah volut, dan salura keluar. Energi mekanis dari luar diberikan
pada poros pompa untuk memutar impeller. Akibat putaran dari inpeler
menyebabkan head dari fluida menjadi lebih tinggi karena mengalami
percepatan. Ditinjau dari arah aliran yang mengalir melalui sudu sudu gerak,
maka pompa tekanan dinamis digolongkan atas tiga bagian, yaitu :
a.

Pompa aliran radial


Arah aliran dalam sudu gerak pada pompa aliran radial pada bidang
yang tegak lurus terhadap poros dan head yang timbul akibat dari gaya
sentrifugal itu sendiri. Pompa aliran radial mempunyai head yang lebih
tinggi jika dibandingkan dengan pompa jenis yang lain.

b.

Pompa aliran aksial


Arah aliran dalam sudu gerak pada pompa aliran aksial terletak
pada bidang yang sejajar dengan sumbu poros dan head yang timbul akibat
dari besarnya gaya angkat dari sudu-sudu geraknya. Pompa aliran aksial
mempunyai head yang lebih rendah tetapi kapasitasnya lebih besar.

c. Pompa aliran campuran


Pada pompa ini fluida yang masuk sejajar dengan sumbu poros dan
keluar sudu dengan arah miring ( merupakan perpaduan dari pompa aliran
radial da pompa aliran aksial ). Pompa ini mempunyai head yang lebih
rendah namun mempunyai kapasitas lebih besar.
Jadi prinsip kerja dari pompa tekan dinamis adalah dengan
mengubah energi mekanis dari poros menjadi energi fluida, dan energi
inilah yang menyebabkan pertambahan head tekanan, head kecepatan, dan
head potensial pada fluida yang mengalir secara kontinu. Pada pompa
tekanan dinamis terjadinya aliran fluida adalah akibat dari kenaikan
tekanan di dalam fluida bukan akibat pergeseran volme impeller
pemindahannya seperti yang terjadi pada pompa tekanan statis. Pada
pompa tekanan dinamis dijumpai poros putar dengan kurungan sudu
disekelilingnya, dan melalui sudu sudu inilah fluida mengalir secara
kontiniu.
1) Pompa Sentrifugal
Pada pompa sentrifugal, energi penggerak dari luar diberikan kepada
poros yang kemudian digunakan untuk menggerakkan baling-baling yang
disebut impeller. Impeller memutar cairan yang masuk ke dalam pompa
sehingga mengakibatkan energi tekanan dan energi kinetik cairan bertambah.

Cairan akan terlempar ke luar akibat gaya sentrifugal yang ditimbulkan


gerakan impeler. Cairan yang keluar dari impeller ditampung oleh saluran
berbentuk volut (spiral) di keliling impeller dan disalurkan ke luar pompa
melalui difuser. Di dalam difuser ini sebagian energi kecepatan akan diubah
menjadi energi tekanan.
Prinsip Kerja Pompa sentrifugal
Gaya sentrifugal bekerja pada impeller untuk mendorong fluida ke sisi luar
sehingga kecepatan fluida meningkat
Kecepatan fluida yang tinggi diubah oleh casing pompa (volute atau diffuser)
menjadi tekanan atau head Selain itu, pada gambar memperlihatkan bagaimana
pompa jenis ini beroperasi
Cairan dipaksa menuju sebuah impeler oleh tekanan atmosfir, atau dalam hal
jet pump oleh tekanan buatan
Baling-baling impeler meneruskan energi kinetik ke cairan, sehingga
menyebabkan cairan berputar. Cairan meninggalkan impeler pada kecepatan
tinggi.
Impeler dikelilingi oleh volute casing atau dalam hal pompa turbin digunakan
cincin diffuser stasioner. Volute atau cincin diffuser stasioner mengubah energi
kinetik menjadi energi tekanan.
2) Pompa Dengan Efek Khusus
Pompa dengan efek khusus merupakan pompa yang bekerja secara khusus.
Khususnya pada Industri besar, termasuk pompa setrifugal Tipe khusus,
terutama digunakan untuk kondisi khusus di lokasi industri.
Adapun jenis-jenis pompa dengan efek khusus antara lain adalah sebagai
berikut:
Jet Pump (Pompa Sembur) digunakan untuk memompa fluida yang sangat
dalam. Pada pompa ini dilengkapi dengan venture guna menambah kevakuman
pada sisi hisap pompa sehingga fluida pada kedalaman yang cukup besar tetap
dapat tershisap ke sisi hisap pompa untuk kemudian dipompakan melalui sisi
discharge pompa.
Pompa Viscous digunakan untuk memompa fluida cair yang terdifusi dengan
gas-gas atau udara atau juga digunakan untuk memompa zat-zat cair yang di
dalamnya terkandung padatan. Pada pompa ini, impeller dibuat dengan bentuk
disk, sehinga bisa menghilangkan gelembung-gelembung udara.
Pompa Choper digunakan untuk instalasi pengolahan limbah rumh tangga.
Pada pompa jenis ini, impeller dilengkapi dengan pisau, guna menghancurkan
partikel-partikel atau sampah-sampah limbah rumah tangga.

Pompa Slury digunakan untuk memompa fluida cair yang bercampur dengan
lumpur atau zat lain yang bersifat korosif. Untuk mengatasi hal itu, pada
pompa jenis ini dilengkapi dengan impeller yang dilapisi dengan bahan karet.
2.3 Operation Pompa
Berikut jenis pompa menurut prinsip dan cara operasinya

1. Centrifugal pumps (pompa sentrifugal)


Sifat dari hidrolik ini adalah memindahkan energi pada daun/kipas pompa dengan
dasar

pembelokan/pengubah aliran (fluid dynamics). Kapasitas yang di hasilkan oleh


pompa sentrifugal adalah sebanding dengan putaran, sedangkan total head
(tekanan) yang di hasilkan oleh pompa sentrifugal adalah sebanding dengan
pangkat dua dari kecepatan putaran.

Gambar 1. Centrifugal pumps

2. Positive Displacement Pumps (pompa desak)

Sifat dari pompa desak adalah perubahan periodik pada isi dari ruangan yang
terpisah dari bagian hisap dan tekan yang dipisahkan oleh bagian dari pompa.
Kapasitas yang dihasilkan oleh pompa tekan adalah sebanding dengan kecepatan
pergerakan atau kecepatan putaran, sedangkan total head (tekanan) yang
dihasilkan oleh pompa ini tidak tergantung dari kecepatan pergerakan atau
putaran. Pompa desak di bedakan atas : oscilating pumps (pompa desak gerak
bolak balik), dengan rotary displecement pumps (pompa desak berputar). Contoh
pompa desak gerak bolak balik : piston/plunger pumps, diaphragm pumps. Contoh
pompa rotary displacement pumps : rotary pump, eccentric spiral pumps, gear
pumps, vane pumps dan lain-lain.
3.Jet pumps
Sifat dari jets pump adalah sebagai pendorong untuk mengangkat cairan dari
tempat yang sangat dalam. Perubahan tekanan dari nozzle yang disebabkan oleh
aliran media yang digunakan untuk membawa cairan tersebut ke atas (prinsip
ejector). Media yang digunakan dapat berupa cairan maupun gas. Pompa ini tidak
mempunyai bagian yang bergerak dan konstruksinya sangat sederhana.
Keefektifan dan efisiensi pompa ini sangat terbatas.

4. Air lift pumps (mammoth pumps)

Cara kerja pompa ini sangat tergantung pada aksi dari campuran antara cairan dan
gas (two phase flow)

5. Hidraulic pumps
Pompa ini menggunakan kinetik energi dari cairan yang dipompakan pada suatu
kolom dan energi tersebut diberikan pukulan yang tiba-tiba menjadi energi yang
berbentuk lain (energi tekan).
6. Elevator Pump
Sifat dari pompa ini mengangkat cairan ke tempat yang lebih tinggi dengan
menggunakan roda timbah,archimedean screw dan peralatan sejenis.
7.Electromagnetic Pumps

Cara kerja pompa ini adalah tergantung dari kerja langsung sebuah medan magnet
padi edia ferromagnetic yang dialirkan, oleh karena itu penggunaan dari pompa
ini sangat terbatas pada cairan metal.
2.4 Perawatan Pompa
Perawatan adalah suatu usaha yang dilakukan secara sengaja dan
sistematis terhadap peralatan hingga mencapai hasil/ kondisi yang dapat diterima
dan diinginkan. Dari pengertian di atas jelas bahwa kegiatan perawatan itu adalah
kegiatan yang terprogram mengikuti cara tertentu untuk mendapatkan
hasil/kondisi yang disepakati. Perawatan hendaknya merupakan usaha/kegiatan
yang dilakukan secara rutin/terus menerus agar peralatan atau sistem selalu dalam
keadaan siap pakai.

Berikut macam-macam perawatan pada pompa:


a. Preventive Maintenance
Preventive Maintenance merupakan tindakan pemeliharaan yang terjadwal
dan terencana. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi masalah-masalah yang
dapat mengakibatkan kerusakan pada pompa dan menjaganya selalu tetap
normal selama dalam operasi.
Contoh pekerjaan tersebut adalah:

Melakukan pengecekan terhadap pendeteksi indikator tekanan dan


temperatur fluida pada pompa, atau alat pendeteksi indikator
lainnya. apakah telah sesuai hasilnya untuk kondisi normal kerja
pompa atau tidak
Membersihkan kotoran-kotoran yang menempel pada bodi pompa
(debu, tanah maupun bekas minyak)
Mengikat baut-baut yang kendor
Pengecekan kondisi pelumasan pada bearing (unsealed)
Perbaikan/mengganti gasket pada sambungan-sambungan flange
yang bocor atau rusak.

2. Predictive Maintenance
Predictive Maintenance merupakan perawatan yang bersifat prediksi, dalam
hal ini merupakan evaluasi dari perawatan berkala (Preventive Maintenance).

Pendeteksian ini dapat dievaluasi dari indikaktor-indikator yang terpasang


pada instalasi pada pompa dan juga dapat melakukan pengecekan vibrasi dan
alignment pada pompa untuk menambah data dan tindakan perbaikan
selanjutnya.
3. Breakdown Maintenance
Breakdown Maintenance merupakan perbaikan yang dilakukan tanpa adanya
rencana terlebih dahulu. Dimana kerusakan terjadi secara mendadak pada
pompa yang sedang beroperasi, yang mengakibatkan kerusakan bahkan hingga
pompa tidak dapat beroperasi. Contoh kerusakan tesebut adalah:

Rusaknya bantalan karena kegagalan pada pelumasan


Terlepasnya couple penghubung antara poros pompa dan poros
penggeraknya akibat kurang kencangnya baut-baut yang tersambung.
Macetnya impeller karena terganjal benda asing.

4. Corrective Maintenance
Corrective Maintenance merupakan pemeliharaan yang telah direncanakan, yang
didasarkan pada kelayakan waktu operasi yang telah ditentukan pada buku
petunjuk pompa tersebut. Pemeliharaan ini merupakan general overhaul yang
meliputi pemeriksaan, perbaikan dan penggantian terhadap setiap bagian-bagian
pompa yang tidak layak pakai lagi, baik karena rusak maupun batas maksimum
waktu operasi yang telah ditentukan
2.5 Menghitung Daya Pompa
Head pump
Head pump adalah energi per satuan berat yang harus disediakan untuk
mengalirkan sejumlah zat cair yang direncanakan sesuai dengan kondisi instalasi
pompa, atau tekanan untuk mengalirkan sejumlah zat cair, yang umumnya
dinyatakan dalam satuan panjang.
Head dihasilkan oleh sebuah impeller hampir seluruhnya tergantung pada
seputar percepatan (velocity) tetapi flow dipengaruhi oleh beberapa faktor lain.
Jelas lebar dan ketinggian (area cross sectional) dari gang flow (vane) dan
diameter impeller eye adalah pertimbangan penting untuk menentukan seberapa
banyak volume air dapat melewati impeller. Faktor lain seperti bentuk vane juga
mempengaruhi kinerja impeller. Untuk merancang sebuah impeler bukan dengan
hanya mengambil ukuran dan bentuk sembarang lalu membuat beberapa sampel

dan kemudian mengujinya, tetapi dimulai dari titik awal desain yang disebut
Specific speed.
Menurut persamaan Bernoulli, ada tiga macam head (energi) fluida dari
sistem instalasi aliran, yaitu, energi tekanan, energi kinetik dan energi potensial.
Hal ini dapat dinyatakan dengan rumus sebagai berikut :

Keterangan :
H
: Head total pompa
/
: Head tekanan
Z
: Head statis total
2
V /2g : Head kecepatan
Karena energi itu kekal maka bentuk head dapat bervariasi pada penampang yang
berbeda. Namun pada kenyataannya selalu ada rugi energi (losses). Suatu fluida
yang mengalir akan berkaitan juga dengan hukum Bernoulli:

Karena a= s maka

Keterangan :
H
: Head total pompa
p/ : Head pompa karena perbedaan tekanan pada sisi isap dengan sisi tekan
: ps-pa/
2
v /2g : Head yang diakibatkan karena ada pebedaan kecepatan
: Vs-Va/2g
HST : Head statis ZS ZA
HL
: Head losses dari A ke B
a. Head Tekanan

Head tekanan adalah perbedaan head tekanan yang bekerja pada permukaan zat
cair pada sisi tekan dengan head tekanan yang bekerja pada permukaan zat cair
pada sisi isap. Head H sebuah pompa adalah pemanfaatan energi mekanik yang
dihasilkan pompa dalam menangani fluida berhubungan dengan berat fluida
dalam satuan meter (m). Hal ini tergantung pada density dari fluida yang
ditangani.

b. Head kecepatan
Head kecepatan adalah perbedaan antara head kecepatan zat cair pada saluran
tekan dengan head kecepatan zat cair pada saluran isap.
Head kecepatan dapat dinyatakan dengan rumus:

Keterangan :
hk : Head kecepatan
g : Percepatan gravitasi
Vd2/2g: Kecepatan zat cair pada saluran tekan
c. Head statis total
Head statis total adalah perbedaan tinggi antara permukaan zat cair pada sisi tekan
dengan permukaan zat cair pada sisi isap. Head statis total dapat dinyatakan
dengan rumus:
Z = Zd Zs
Keterangan
Z
: Head statis total.
Zd
: Head statis pada sisi tekan.
Zs
: Head statis pada sisi isap
Tanda + : Jika permukaan zat cair pada sisi hisap lebih rendah dari sumbu pompa
(Suction lift).
Tanda - : Jika permukaan zat cair pada sisi isap lebih tinggi dari sumbu pompa
(Suction head).

Kapasitas (Q)
Kapasitas pompa adalah banyaknya cairan yang dapat dipindahkan oleh pompa
setiap satuan waktu. Dinyatakan dalam satuan volume per satuan waktu seperti :
a. Barel per day (BPD)
b. Galon per menit (GPM)
c. Cubic meter per hour ( /hr)
Daya Poros Pompa (Break Horse Power)
Untuk mengatasi kerugian daya yang dibutuhkan oleh poros yang sesungguhnya
adalah lebih besar dari pada daya hidrolik.
Besarnya daya poros sesungguhnya adalah sama dengan effisiensi pompa atau
dapat dirumuskan sebagai berikut :

Keterangan :
BHP atau NP : Brake Horse Power
HHP
: Hidrolik Horse Power
p
: Efisiensi optimum pompa
Daya Penggerak (Driver)
Daya penggerak (driver) adalah daya poros dibagi dengan effisiensi mekanis
(effisiensi transmisi).
Dapat dihitung dengan rumus :

Keterangan :
Nd
:Daya Penggerak (HP)
BHP : Brake Horse Power
trans : Efisiensi transmisi dari gear box, belt, rantai atau kopling

: Faktor Cadangan
Effisiensi Pompa
Efisiensi pompa pada dasarnya didefinisikan sebagai perbandingan antara output
dan input atau perbandingan antara HHP Pompa dengan BHP pompa.

Effisiensi pompa merupakan perkalian dari beberapa effisiensi yaitu:

Keterangan :
p
: Effisiensi Pompa
h
: Effisiensi Hidrolis
v
: Effisiensi volumentri
m
: Effisiensi mekanis
Daya hidrolik pompa (HHP)
Daya hidrolik pompa adalah daya yang dibutuhkan untuk mengalirkan sejumlah
zat cair, parameter dalam perhitungan hidrolik pompa adalah kapasitas pompa,
total head, dan berat spesifik cairan.

Keterangan :
H
= Head pompa (m)
Q
= Kapasitas pompa (m3/s)

= Berat jenis cairan (kg/ m3)


Daya (Power)
Daya adalah kerja setiap satuan waktu pada sistem pompa terdapat dua jenis daya
yaitu :
a.Daya pompa (Pp)

b. Daya motor (Pm)


Daya penggerak adalah daya yang diberikan pada poros pompa atau daya
yang keluar dari poros penggerak.

Net Positive Suction Head Available (NPSHa)


Kavitasi akan terjadi apabila tekanan statis suatu aliran zat cair turun
sampai dibawah tekanan uap jenuhnya. Jadi untuk menghindari kavitasi harus
diusahakan agar tidak ada satu bagianpun dari aliran didalam pompa yang

mempunyai tekanan statis lebih rendah dari tekanan uap jenuh cairan pada
temperatur yang bersangkutan. Dalam hal ini perlu diperhatikan dua macam
tekanan yang memegang
peranan. Pertama tekanan
yang ditentukan oleh
kondisi
lingkungan
dimana pompa dipasang
dan kedua tekanannya
ditentukan oleh keadaan aliran didalam pompa. Berhubungan dengan hal tersebut
maka bisa didefinisikan suatu head isap positif neto atau NPSH, yang dipakai
sebagai ukuran keamanan pompa terhadap kavitasi.
NPSH yang tersedia adalah head yang dimiliki oleh zat cair pada sisi hisap
pompa (ekuivalen dengan tekanan mutlak pada sisi isap pompa) dikurangi dengan
tekanan uap zat cair jenuh di tempat tersebut.
Maka besarnya NPSHa yang tersedia dapat dihitung dengan persamaan berikut :

Atau

Keterangan :
Hsv = Net Positive Suction Head Available (NPSHa)
Pa
= Tekanan atmosfer absolut lingkungan sekitar
Ps
= Tekanan ukur indikator pada pipa isap pada potongan s-s, dapat bernilai
positif atau negatif
Pt
= Tekanan absolut pada permukaan fluida pada tanki tertutup yang
terhubung dengan pipa isap
Pvp = Tekanan uap jenuh fluida yang akan dipompa berdasarkan temperaturnya
pada potongan s-s (jika fluida adalah lean amine, maka pvp harus
menggunakan ukuran dari bubble point method)
Hf
= Ttotal rugi rugi tekanan antara tanki dengan sisi isap pompa
v
= Kecepatan rata rata pada sisi isap pompa
Z.Zps = Jarak tinggi vertikal (head statis)

= Berat jenis fluida pada temperatur pemompaan

2.6 Jenis-jenis Valve

Berikut berbagai macam jenis valve dengan dengan karakteristik dan cara kerja
masing-masing:
1.
Gate Valve
Jenis ini didesain untuk membuka dan menutup aliran dengan cara tertutup
rapat dan terbuka penuh sehingga valve ini tidak cocok untuk mengatur
debit aliran karena kurang akurat dalam hal mengontrol jumlah aliran.
2.

Plug Valve

3.

Memiliki fungsi yang sama dengan gate valve yaitu dengan menutup atau
membuka aliran secara keseluruhan. Namun beberapa pengaplikasian
valve ini digunakan untuk mengontrol aliran seperti pada pengaliran gas.
Ball Valve
Jenis ini dapat dioperasikan pada fluida bertemperatur -450F hingga
-500F, ball valve merupakan tipe quick opening valve yang hanya
memerlukan 1/4 putaran dari posisi tertutup penuh ke terbuka penuh.

4.

Globe valve
Aliran dalam valve berubah arah sehingga menghasilkan friksi yang cukup
besar meskipun dalam keadaan terbuka lebar. Jenis valve ini cukup penting
bila digunakan untuk penutupan yang rapat terutama pada aliran gas.

5.

Needle Valve
Pada dasarnya, jenis ini digunakan pada instrument, gage dan meter line
service. Valve ini dapat digunakan untuk throtling dengan sangat akurat
serta dapat juga digunakan pada tekanan tinggi dan temperatur tinggi.

6.

Diaphragm Valve
Valve ini memiliki kelebihan yaitu memiliki aliran yang tenang dan fluida
akan mengalir tanpa hambatan, jenis ini sangat baik untuk flow control
dan penutupan aliran yang sangat rapat walaupun di dalam pipeline
terkandung suspended solid. Diaphragm valve cocok digunakan untuk
fluida yang korosif, viscous material, fibrous materials, sludges, solids in
suspension, gas dan udara bertekanan.

7.

Butterfly Valve
Merupakan valve untuk tekanan rendah dengan desain sangat sederhanan
yang digunakan untuk mengontrol dan mengatur aliran, untuk terbuka
penuh dan tertutup penuh hanya diperlukan 1/4 putaran.

8.

Check Valve
jenis ini didesain untuk mencehak terjadinya aliran balik, check valve
terdiri dari beberapa jenis seperti lift check, swing check dan ball check.

9.

Pressure Relife Device

Jenis ini digolongkan sebagai safety valve, digunakan untuk mencegah


terjadinya overpressure pada sistem proses piping dan mencegah
terjadinya kerusakan peralatan. Ada dua jenis safety valve yaitu relief
valve dan pop valve, kedua jenis ini dapat membuka secara cepat. Relief
valve digunakan untuk membebaskan tekanan yang berlebih sedangkan
pop valve digunakan untuk aplikasi bertekanan tinggi. Namun kedua jenis
ini sebaiknya tidak digunakan bila fluida bersifat korosif, melibatkan backpressure, melibatkan pressure control atau bypass valve.
10.

Pressure Reducing Valve


Fungsi utama dari jenis ini adalah untuk menjaga agar tekanan dalam
sistem perpipaan selalu konstan dengan menurunkan tekanan dari sumber
yang memiliki tekanan lebih tinggi.

11.

Traps Valve
Fungsi dari trap adalah untuk membuang kondensat yang berasal dari
perpipaan steam (uap) tanpa adanya steam yang ikut terbuang. Trap valve
terdiri dari tiga jenis yaitu float trap, bucket trap dan inverted bucket trap.
Ukran trap disesuaikan dengan kapasitas discharge aktual atau effective
valve area bukan berdasarkan dengan ukuran intlet dan outlet pada
sambungan pipa.

2.7 Piping
Dalam proses perencanaan piping system di area pompa ini, ada beberapa hal
yang perlu diperhatikan, baik secara general maupun secara lebih khusus
tergantung servis fluidanya.
Secara umum yang perlu diperhatikan, tidak terbatas dengan daftar ini saja, yaitu:
1.

Suction Piping haruslah diusahakan sependek mungkin dengan jumlah


fitting yang minimum.
2. Pipe Support yang pertama pada pipa diusahakan pada pondasi pompa,
sehingga mencegah terjadinya perbedaan penurunan permukaan tanah yang
umum terjadi. Jadi, diusahakan pondasi pipe support integral dengan
pondasi pompa, dengan kata lain support pertama haruslah sedekat mungkin
ke nozzle pompa.
3. Hindari overhead loops di piping jika mungkin, jika tak terhindarkan,
pasang Vent di High Point.

4.

Untuk pompa dengan nozzle yang berada di samping, maka suction yang
vertikal sangat dianjurkan
5. Jika space tidak mencukupi pemasangan 3 kali diameter pipa requirement,
pasang vertical vane di center of LR 90 Elbow. Hal ini harus dicek oleh
Mechanical Engineer atau Process Engineer dan juga Vendor.
6. Elbow 90 Deg harus dipasang antara valve dan pompa, seperti gambar
dibawah.
7. Perlu atau tidaknya Drain Valve sangat tergantung jenis fluida yang
mengalir.
8. Temporary Strainer ditempatkan pada posisi yang lebih disukai, seperti
pada gambar dibawah. Alternative, bisa ditempatkan di Valve Downstream
Flange dengan strainer mengarah ke pump atau pada pump nozzle dengan
strainer mengarah menjauhi pump. Check ke Process Engineer atau
Mechanical Engineer jika ingin memasang Strainer di Nozzle.
9. Check clearance of strainer projecting terhadap Elbow 90 Deg.
10. Gunakan Concentric Reducer di Suction yang vertical jika disetujui oleh
Process atau Mechanical Engineer. Jika tidak, gunakan exccentric bottom
flat reducer.
11. Jika Valve terletak dekat ke Pump, maka gunakan Flat Type Temporary
Strainer yang bisa diselipkan di Flanged joint Downstream end of Valve.
12. Gambar 1 sampai 5, adalah untuk End or Side Suction Pumps, sedangkan
gambar 5 adalah untuk Side Suction Pumps only.
13. Semua Discharge Line mesti dilengkapi dengan Check Valve. Jika ada
kemungkinan terjadinya Hydraulic Shock pada system, maka digunakan
Valve type Non-Slamming Type Check Valve, dan loading support mesti
di check.
14. Semua Valves disekitar pump mesti mudah di akses untuk Hand
Operation tanpa menggunakan Chain or Extend into operational
passageways.
15. Temporary Strainer type Bath Tub mesti dipertimbangkan penggunaanya
jika kemungkinan akan sulit untuk di re-alignment dengan Nozzle pompa.
16. Valve di Discharge line mesti dipasang sedekat mungkin dengan Nozzle.
17. harus disediakan daerah bebas diatas Caisson PUmp untuk kemudahan
penarikan kabel dan pompa.
18. Unutk pompa jenis reciprocating, gunakan pipe support type Clamp,
jangan type Welded demi menghindari terjadinya Fatique Fracture pada
support weld. Design mesti sedemikian sehingga pistons dapat dikeluarkan
tanpa mengganggu sistem piping.
2.8 Problem Solving pada Pompa

1. Kavitasi
a. Pengertian Kavitasi
Kavitasi adalah gejala menguapnya zat cair yang sedang mengalir
sehingga membentuk gelembung gelembung uap, hal ini disebabkan
tekanan di dalam pompa berkurang sampai di bawah tekanan uap
jenuhnya. Misalnya air pada tekanan 1 atm akan mendidih dan menjadi
uap pada temperatur 100oC. Akan tetapi jika tekanan direndahkan maka
air akan mendidih pada temperatur yang lebih rendah. Jika tekanan
cukup rendah maka temperatur kamarpun akan mendidih. Apabila zat
cair mendidih maka akan timbul gelembung gelembung uap zat cair.
Gelembung - gelembung ini akan terbawa aliran fluida sampai akhirnya
berada pada daerah yang mempunyai tekanan lebih besar daripada
tekanan uap jenuh cairan.
Pada daerah tersebut gelembung tersebut akan pecah dan akan
menyebabkan shock pada dinding di dekatnya. Cairan akan masuk
secara tiba-tiba ke ruangan yang terbentuk akibat pecahnya gelembung
uap tadi sehingga mengakibatkan tumbukan. Jika pompa mengalami
kavitasi, maka akan timbul suara berisik dan getaran. Selain itu
performa pompa akan menurun secara tiba tiba, sehingga pompa tidak
dapat bekerja dengan baik. Jika pompa dijalankan terus menerus
dalam jangka lama, maka permukaan dinding saluran di sekitar aliran
yang berkavitasi akan mengalami kerusakan. Permukaaan dinding akan
termakan sehingga menjadi berlubang lubang (bopeng). Peristiwa ini
disebut erosi kavitasi, sebagi akibat dari tumbukan antara gelembung
gelembung uap yang pecah secara terus menerus.
b. Penyebab terjadinya kavitasi :
1. NPSHA > NPSHR
2. Head total pompa terlalu besar, sehingga pompa akan bekerja
dengan kapsitas aliran yang berlebihan, dan membuat
kemungkinan kavitasi menjadi lebih besar pula.
3. Pipa isap pada pompa terlalu panjang.
4. Suhu fluida yang ditransfer terlalu tinggi.
c. Menghindari Kavitasi Kavitasi dapat dicegah atau diminimalisasi
dengan cara :
1. Ketinggian letak pompa terhadap permukaan zat cair yang
dihisap harus dibuat serendah mungkin, dan pada pipa isap salah
satunya dengan diameter lebih besar untuk mengurangi agar
head isap statis menjadi rendah pula.

2. Pipa isap harus dibuat sependek mungkin. Apabila terpaksa


dipakai pipa isap panjang sebaiknya salah satu pipa isapnya
menggunakan pipa dengan diameter lebih besar untuk
mengurangi kerugian gesek.
3. Tidak dibenarkan pencegahan kavitasi dengan memperkecil laju
aliran dengan cara menghambat aliran sisi isap.
4. Jika pompa mempunyai head total pompa yang berlebihan, maka
pompa akan bekerja dengan kapasitas aliran yang berlebihan
pula, sehingga kemungkinan terjadi kavitasi lebih besar. Oleh
karena itu head total pompa harus ditentukan sedemikian hingga
sesuai dengan yang diperlukan pada operasi yang sesungguhnya.
5. Bila head total pompa sangat berfluktuasi, maka pada keadaan
head terendah harus diadakan pengamanan penuh terhadap
terjadinya kavitasi.
d. Dampak Kavitasi
1. Performa (efisiensi) pompa akan menurun.
2. Timbulnya vibrasi yang berlebih pada pompa dan vibrasi ini bila
dibiarkan terus - menerus maka dalam jangka panjang bisa
menyebabkan kerusakan pada komponen pompa lainnya.
3. Timbul suara berisik pada pompa.

2. Water Hammer
Aliran fluida yang berhenti mendadak menimbulkan kenaikan
tekanan yang sangat tajam sehingga menyerupai suatu pukulan dan
dinamakan gejala pukulan air (water hammer). Tekanan yang timbul
dinamakan tekanan pukulan air (water hammer pressure). Fenomena
keadaan unsteady ini dapat dikatakan sebagai perubahan energi kinetik
dan energi tekanan yang bisa menjadi positif atau negatif. Efek negatif
yang dihasilkan oleh fenomena tersebut diantaranya adalah merusak
valve, menimbulkan getaran pada pipa, menggetarkan tumpuan pipa,
menyebabkan kavitasi pada impeller pompa, dan memperpendek umur
pemakaian peralatan. Perubahan tekanan bangkitan yang terlalu besar
dapat menyebabkan pipa menjadi rusak atau pecah.
Water hammer adalah fenomena terjadinya fluktuasi tekanan yang
diakibatkan oleh penutupan valve secara tiba - tiba dan matinya pompa
secara mendadak. Hal ini akan berdampak buruk terhadap instalasi
perpipaan, terutama pipa sebagai jalur utama fluida dialirkan. Perubahan
tekanan yang terlalu tinggi dapat menyebabkan terjadinya dampak yang
buruk bagi sistem perpipaan, diantaranya adalah rusaknya atau pecahnya

pipa sistem dengan konsekuensi seluruh sistem peralatan harus mati


total.
Fenomena water hammer dipengaruhi oleh waktu penutupan valve.
Penutupan valve yang cepat mengakibatkan gelombang tekanan yang
terjadi akan semakin besar. Hal ini mengakibatkan perubahan deformasi
pada dinding pipa akan semakin besar.
Adapun kerusakan yang ditimbulkan dari water hammer sebagai
berikut:
1. Peralatan instalasi pompa seperti perpipaan, katub, dan pompa
dapat pecah karena lonjakan tekanan yang besar.
2. Pada waktu terjadi tekanan negatif pada aliran sisi keluar pompa,
pipa dapat mengempis dan pecah.
3. Tekanan negatif yang timbul dapat menyebabkan penguapan zat
cair apabila tekanan tersebut dibawah tekanan uap zat cair.
Penguapan at cair tersebut akan menghasilakan gelembung
gelembung uap air yang dapat pecah dan menghantam pipa atau
pompa, peristiwa ini disebut erosi kavitasi.
4. Apabila instalasi pompa tidak diberi pengaman seperti check valve
maka dapat terjadi aliran balik yang akan memutar impeler pompa,
putaran ini berkebalikan dari putaran normal pompa, sehingga
kondisi ini mengakibatkan kerusakan pada motor penggeraknya.
3. Gejala Surging
Gejala surging sering terjadi pada operasi pompa, laju aliran
berubah ubah secara periodik dan pada aliran terjadi fluktuasi tekanan.
Gejala ini timbul karena head pompa tidak mampu mengatasi head dari
sistem secara normal. Untuk mencegah surjing harus dipilih pompa
dengan head yang lebih tinggi daripada head dari sistem operasi yang
dibutuhkan.
4. Tekanan Berubah ubah
Gejala tekanan yang berubah ubah atau berfluktuasi sepanjang
aliran banyak terjadi pada pompa sentrifugal, khususnya pada pompa
volut. Di dalam pompa ada daerah antara sisi luar impeler dan ujung dari
volut (cut water), yang apabila setiap kali impeler dan melewati daerah
ini maka tekanan zat cair akan berdenyut. Denyut terus menerus akan
dirasakan sebagai fluktuasi tekanan yang merambat pada zat cair di
dalam pipa keluar. Apabila denyut tekanan zat cair beresonansi dengan
kolom air menyebabkan getaran dan bunyi berisik.

Gambar. Fluktuasi tekanan pada pompa volt