You are on page 1of 3

108 Tahun Peringatan Kebangkitan Nasional

Saatnya Mengikis Mental Apatis


Oleh: Ahmad Azwar Batubara
Berhasil dan tidaknya usaha ini bergantung kepada kesungguhan hati
kita, bergantung kepada kesanggupan kita bekerja. Saya yakin bahwa
nasib Tanah Air di masa depan terletak di tangan kita. (Sutomo)
Tiada pernah hilang di ingatan kita, bangsa ini dahulu tersiksa
dengan sistem kerja paksa tanpa henti yang dilakukan oleh Belanda ketika
menjajah bangsa ini. Banyak luka dan air mata yang jatuh di bumi pertiwi
atas penjajahan tersebut. Belum lagi sumber daya alam di negara Gemah
Ripah Loh Jinawi yang terus menerus digrogoti dan dicuri oleh para
bangsa penjajah.
Rakyat Indonesia sangat terpuruk dan tersiksa dengan keadaan ini
menyebabkan para pemuda terdahulu membuat suatu pergerakan agar
terlepas dari rantai penindasan dan penjajahan. Banyak penggerakpenggerak pada masa itu menginginkan kebebasan dan terus menerus
membangkitkan semangat rakyat Indonesia.
Kebangkitan nasional salah satu peristiwa penting di negara ini.
Mengutip dari website Kemdikbud.go.id, Kebangkitan nasional adalah
masa di mana bangkitnya rasa dan semangat persatuan, kesatuan dan
nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan
Indonesia

yang

sebelumnya

tidak

pernah

muncul

selama

masa

penjajahan. Budi Otomo salah satu organisasi yang memperjuangkan dan


membangkitan semangat rakyat Indonesia.
Kebangkitan untuk membangkitkan jiwa kebangsaan dan rasa harga
diri yang kuat terhadap seluruh lapisan masyarakat di Indonesia, kaum
terpelajar yang dipelopori oleh dr. Wahidin Sudirohusodo dan tokoh
pemuda seperti Sutomo mulai menggerakkan para pemuda dan pelajar
Indonesia untuk membentuk organisasi yang akan bergerak dalam bidang
sosial, budaya, ekonomi, dan politik.

Pada tahun 1906, kaum terpelajar tersebut mulai terjun ke daerahdaerah

untuk

mencari

dukungan

moral

dan

material

dari

kaum

bangsawan, para pegawai, dan dermawan agar bersedia secara aktif


membantu

usaha

dalam

memperbaiki

nasib

bangsanya.

Dalam

ceramahnya di depan para pelajar STOVIA, dr. Wahidin Sudirohusudo


melontarkan keinginannya untuk mendirikan badan pendidikan yang
disebut studiefonds. Ajakan tersebut mendapat sambutan hangat dari
seluruh pelajar.
Salah seorang pelajar STOVIA yang bernama Sutomo segera
menghubungi kawan-kawannya untuk mendiskusikan mengenai nasib
bangsanya. Pada hari Minggu, tanggal 20 Mei 1908 Sutomo yang saat ini
diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Pada waktu itu Sutomo dan
kawan-kawannya di ruang kelas Sekolah Kedokteran STOVIA di Batavia
atau Jakarta mendirikan sebuah perkumpulan yang diberi nama Budi
Utomo (Budi Luhur).
Sudah 108 tahun peringatan kebangkitan nasional diperingati.
Segala visi misi yang dibentuk pemerintah dan persiapan konsep acara
selalu dibentuk setiap tahunnya. Namun yang menjadi permasalahan di
era digital seperti sekarang ini, sudah sejauh mana para pemuda
mengenal lebih dekat apa arti dari Kebangkitan Nasional?
Mungkin hanya sedikit para pemuda yang mengetahui makna
Kebangkitan Nasional sesungguhnya. Dapat dilihat para pemuda dewasa
ini hanya mementingkan diri sendiri, hanya mementingkan kebutuhan
pribadinya saja. Contoh yang selalu kita perhatikan dengan saksama,
ketika sebuah kampus atau universitas membuat kebijakan-kebijakan
yang mempersulit mahasiswa, hanya segelintir mahasiswa yang mau ikut
dan turut berpartisipasi untuk mengkritisi dan memantau kebijakan
kampus tersebut. Ini menunjukkan bahwasanya masih banyak sekali
pemuda dan mahasiswa apatis di negara ini.
Masih
kelemahan

mengkutip

website

perjuangan

bangsa

Kemendikbud.go.id
terdahulu

dalam

ada

beberapa

memperjuangkan

kemerdekaan, salah satunya perlawanan terhadap penjajah masih secara


sporadis dan tidak serentak. Bila kita telaah lebih dalam pada perjuangan

para pejuang yang terdahulu, salah satu penyebab gagalnya suatu


kelompok memperoleh kemerdekaan karena para pejuang terdahulu
hanya bergerak di daerahnya masing-masing, belum mau untuk bergerak
bersama melawan penjajahan.
Peristiwa reformasi pada tahun 1998, merupakan salah satu
pencapaian terbesar jika seluruh pemuda bersatu untuk menghantam dan
menghancurkan kebijakan peemerintah yang dikira sudah tidak dapat
ditoleransi

lagi.

Turunnya

presiden

Soeharto

dari

singgasananya

merupakan salah satu bukti nyata bahwasanya kita sebagai pemuda


harus bersatu membuka cakrawala agar tetap kritis bukan apatis.
Begitu juga dengan para pemuda yang dewasa ini disebut-sebut
sebagai agent of change namun hanya berdiam diri mementingkan diri
sendiri tanpa memerhatikan situasi di sekelilingnya bahkan di negaranya.
Ini menjadi persoalan penting yang harus diselesaikan.
Sudah saatya kita sebagai pemuda lebih tanggap lebih peduli
dengan keadaan di sekitar kita. Hidup bukan hanya untuk diri sendiri,
hiduplah untuk orang banyak. Ayo Bergerak! Ayo Bertindak!
.