You are on page 1of 39

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Apendisitis adalah peradangan dari apendiks, dan merupakan penyebab abdomen
akut yang paling sering. Penyakit ini dapat mengenai semua umur baik laki-laki maupun
perempuan, tetapi lebih sering menyerang laki-laki berusia antara 10 sampai 30 tahun
(Arief,dkk, 2007).
Apendisitis atau radang apendiks akut merupakan kasus infeksi intraabdominal
yang sering dijumpai di negara-negara maju, sedangkan pada Negara berkembang
jumlahnya lebih sedikit, hal ini mungkin terkait dengan diet serat yang kurang pada
masyarakat modern (perkotaan) bilang dibandingkan dengan masyarakat desa yang
cukup banyak mengkonsumsi serat. Appendiksitis dapat menyerang orang dalam
berbagai umur, umumnya menyerang orang dengan usia dibawah 40 tahun, khususnya
antara 8 sampai 14 tahun, dan sangat jarang terjadi pada usia dibawah 2tahun. Adapun
jumlah penderita apendisitis di Indonesia pada tahun 2009 adalah sebesar 27% dari
jumlah penduduk Indonesia.
Appendisitis merupakan salah satu kegawatdaruratan medis. Komplikasi utama
apendisitis adalah perforasi apendiks yang dapatberkembang menjadi abses, peritonitis
bahkan shock dan perforasi. Perforasi Saluran Cerna, yang umumnya juga dikenal
sebagai perforasi usus, adalah suatu kondisi medis yang ditandai dengan terbentuknya
suatu lubang pada dinding lambung, usus halus atau usus besar, yang menyebabkan
kebocoran isi usus kedalam rongga perut. Perforasi merupakan komplikasi dari
appendisitis yang terjadi jika tidak ditangani secara cepat. Appendiks yang berisi pus
pecah sehingga bakteri menyebar ke rongga perut. Selanjutnya perforasi dapat
menyebabkan terjadinya peritonitis atau peradangan pada selaput rongga perut yang
dapat mengancam nyawa pasien.
Insiden perforasi adalah 10% sampai 32%. Insiden lebih tinggi pada anak kecil
dari pada usia lanjut. Perforasi terjadi secara umum 24 jam pertama setelah
awitan

nyeri.

Angka

adalah

10-15%

dari

apendisitis

akut

kematian
kasus

adalah

yang

yang
ada,

0,2%-0,8%.

timbul

akibat

sedangkan

yang

terjadinya

angka

berhubungan

perforasi

kematian

dengan

pasien

komplikasi

penyakitnya dari pada akibat intervensi tindakan (Sjamsuhidayat, 2005).


Intervensi medis utama untuk masalah apendisitis adalah pembedahan. Jadi,
selain dari masalah apendisitis itu sendiri, masalah lain yang mungkin timbul adalah
infeksi luka operasi pasca pembedahan.Oleh karena itu dalam perawatan pada pasien
apendiktomi atau laparatomi perlu diperhatikan cara perawatan luka dengan teknik

aspetik dan septik.Perawat sebagai salah satu tim kesehatan mempunyai tanggung
jawab
spiritual

untuk

mengatasi

maupun

dampak

masalahmasalah
dari

penyakit

baik

bio,

psiko

yang

dialami

sosial,

pasien

cultural,

apendisitis.

(Schwartz,2000).
Berdasarkan angka kejadian dan kegawatan yang bisa terjadi pada kasus dan
pentingnya peran perawat dalam penanganan pasien dengan apendisitis perforasi
maka penulis tertarik untuk mengangkat ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN Sdr.
W DENGAN APENDISITIS PERFORASI PRE DAN POST LAPARATOMI yang sudah
dilaksanakan diruangan keperawatan VIP AD DAWA di RS AR Bunda Prabumulih tahun
2014

B. TUJUAN PENULISAN
a) Tujuan Umum
Mampu memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan apendisitis perforasi
sebelum dan sesudah laparatomi
b) Tujuan khusus
1. Perawat mampu melaksanakan pendekatan pada pasien dan menganalisa
sehingga dapat mengetahui kebutuhan pasien dan dapat memberikan asuhan
keperawatan pada pasien dengan apendisitis perforasi sebelum dan sesudah
laparatomi
2. Perawat mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada pasien dengan
apendisitis perforasi sebelum dan sesudah laparatomi
3. Perawat mampu melaksanakan tindakan keperawatan sebagai pelaksanaan dari
rencana tindakan keperawatan pada pasien apendisitis perforasi sebelum dan
sesudah laparatomi
4. Perawat mampu melaksanakan evaluasi pada klien

pada pasien dengan

apendisitis perforasi sebelum dan sesudah laparatomi

C. MANFAAT PENULISAN
Bagi Rumah Sakit
Makalah ini bermanfaat sebagai bahan informasi

dalam upaya pemberianasuhan

keperawatan yang ditujukan kepada pasien dengan apendisitis perforasi sebelum dan
sesudah laparatomi.
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. DEFINISI
Apendiksadalah organ tambahan kecil yang menyerupai jari yang panjangnya kira-kira
10 cm (94 inci), melekat pada sekum tepat di bawah katup ileosekal. Salah satu fungsi
apendiks adalah menghasilkan Immunoglobulin A (IgA) seperti halnya bagian lain dari usus.
IgA merupakan salah satu immunoglobulin (antibodi) yang sangat efektif melindungi tubuh
dari infeksi kuman penyakit. Apendiks berisi makanan dan mengosongkan diri secara teratur
ke dalam sekum, namun jika pengosongannya tidak efektif dan lumennya kecil, apendiks
cenderung menjadi tersumbat dan rentan terhadap infeksi. (Brunner dan Sudarth, 2002).
Apendiks sering juga disebut dengan usus buntu atau umbai cacing (apendiks veriformis)

Gambar 1 : anatomi apendiks (usus buntu)


Apendisitis adalah peradangan dari apendiks, dan merupakan penyebab abdomen
akut yang paling sering. Penyakit ini dapat mengenai semua umur baik laki-laki maupun
perempuan, tetapi lebih sering menyerang laki-laki berusia antara 10 sampai 30 tahun
(Arief,dkk, 2007).
Apendisitis merupakan inflamasi apendiks vermiformis, karena struktur yang terpuntir,
appendiks merupakan tempat ideal bagi bakteri untuk berkumpul dan multiplikasi (Chang,
2010)

Gambar 2 : perbedaan apendiks normal dan apendiks terinfeksi

Perforasi Saluran Cerna, yang umumnya juga dikenal sebagai perforasi usus, adalah
suatu kondisi medis yang ditandai dengan terbentuknya suatu lubang pada dinding
lambung, usus halus atau usus besar, yang menyebabkan kebocoran isi usus kedalam
rongga perut. Perforasi merupakan komplikasi dari appendicitis yang terjadi jika tidak
ditangani secara cepat. Appendiks yang berisi pus pecah sehingga bakteri menyebar ke
rongga perut. Selanjutnya perforasi dapat menyebabkan terjadinya peritonitis atau
peradangan pada selaput rongga perut yang dapat mengancam nyawa pasien.
B. ETIOLOGI

Apendisitis belum ada penyebab yang pasti atau spesifik, tetapi ada faktor prediposisi
yaitu :
1. Faktor yang tersering adalah obstruksi lumen. Pada umumnya obstruksi ini terjadi
karena:
a) Hiperplasia dari folikel limfoid, ini merupakan penyebab terbanyak.
b) Adanya faekolit dalam lumen appendiks
c) Adanya benda asing seperti biji-bijian
d) Penyempitan lumen karena fibrosa akibat peradangan sebelumnya.
2.
3.

Infeksi kuman dari colon yang paling sering adalah E. Coli dan Streptococcus
Laki-laki lebih banyak dari wanita. Yang terbanyak pada umur 15-30 tahun (remaja

4.

dewasa). Ini disebabkan oleh karena peningkatan jaringan limpoid pada masa tersebut.
Tergantung pada bentuk apendiks:
a)
b)
c)
d)

Appendik yang terlalu panjang


Massa appendiks yang pendek
Penonjolan jaringan limpoid dalam lumen appendiks
Kelainan katup di pangkal appendiks

C. PATOFISIOLOGI
Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks oleh hiperplasia
folikel limfoid, benda asing, penyempitan karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya,
atau neoplasma.Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa
mengalami bendungan. Makin lama mukus tersebut makin banyak, namun elastisitas
dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan
intralumen. Tekanan yang meningkat tersebut akan menghambat aliran limfe yang
mengakibatkan edema, diapedesis bakteri, dan ulserasi mukosa. Pada saat inilah terjadi
terjadi apendisitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium.
Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut akan
menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan menembus dinding.
Peradangan

yang

timbul

meluas

dan

mengenai

peritoneum

setempat

sehingga

menimbulkan nyeri di daerah kanan bawah. Keadaan ini disebut dengan apendisitis
supuratif akut.
Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti
dengan gangren. Stadium ini disebut dengan apendisitis gangrenosa. Bila dinding yang
telah rapuh itu pecah, akan terjadi apendisitis perforasi.
Bila semua proses di atas berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan
akan bergerak ke arah apendiks hingga timbul suatu massa lokal yang disebut infiltrat
apendikularis.

Peradangan

apendiks

tersebut

dapat

menjadi

abses

atau

menghilang.Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang
memudahkan terjadinya perforasi. (Mansjoer, 2007)
4

D. MANIFESTASI KLINIK
1.
Nyeri kuadran bawah terasa dan biasanya disertai dengan demam ringan, mual,
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

muntah dan hilangnya nafsu makan.


Nyeri tekan local pada titik McBurney bila dilakukan tekanan.
Nyeri tekan lepas dijumpai.
Terdapat konstipasi atau diare.
Nyeri lumbal, bila appendiks melingkar di belakang sekum.
Nyeri defekasi, bila appendiks berada dekat rektal.
Nyeri kemih, jika ujung appendiks berada di dekat kandung kemih atau ureter.
Pemeriksaan rektal positif jika ujung appendiks berada di ujung pelvis.
Tanda Rovsing dengan melakukan palpasi kuadran kiri bawah yang secara paradoksial

menyebabkan nyeri kuadran kanan.


10. Apabila appendiks sudah ruptur, nyeri menjadi menyebar, disertai abdomen terjadi
akibat ileus paralitik.
11. Pada pasien lansia tanda dan gejala appendiks sangat bervariasi.
E. KOMPLIKASI
Komplikasi

terjadi

akibat

keterlambatan

penanganan

Apendisitis.

Faktor

keterlambatan dapat berasal dari penderita dan tenaga medis. Faktor penderita meliputi
pengetahuan dan biaya, sedangkan tenaga medis meliputi kesalahan diagnosa, menunda
diagnosa, terlambat merujuk ke rumah sakit, dan terlambat melakukan penanggulangan.
Kondisi ini menyebabkan peningkatan angka morbiditas dan mortalitas. Adapun jenis
komplikasi diantaranya:
1. Abses
Abses merupakan peradangan appendiks yang berisi pus. Teraba massa lunak di
kuadran kanan bawah atau daerah pelvis. Massa ini mula-mula berupa flegmon dan

berkembang menjadi rongga yang mengandung pus. Hal ini terjadi bila Apendisitis
2.

gangren atau mikroperforasi ditutupi oleh omentum


Perforasi
Perforasi adalah pecahnya appendiks yang berisi pus sehingga bakteri menyebar ke
rongga perut. Perforasi jarang terjadi dalam 12 jam pertama sejak awal sakit, tetapi
meningkat tajam sesudah 24 jam. Perforasi dapat diketahui praoperatif pada 70% kasus
dengan gambaran klinis yang timbul lebih dari 36 jam sejak sakit, panas lebih dari
38,50C, tampak toksik, nyeri tekan seluruh perut, dan leukositosis terutama
polymorphonuclear

(PMN).

Perforasi,

baik

berupa

perforasi

bebas

maupun

mikroperforasi dapat menyebabkan peritonitis.


3.

Peritononitis
Peritonitis adalah peradangan peritoneum, merupakan komplikasi berbahaya yang
dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis. Bila infeksi tersebar luas pada
permukaan peritoneum menyebabkan timbulnya peritonitis umum. Aktivitas peristaltik
berkurang sampai timbul ileus paralitik, usus meregang, dan hilangnya cairan elektrolit
mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi, dan oligouria. Peritonitis disertai
rasa sakit perut yang semakin hebat, muntah, nyeri abdomen, demam, dan leukositosis.

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Laboratorium
Terdiri dari pemeriksaan darah lengkap dan C-reactive protein (CRP). Pada
pemeriksaan darah lengkap ditemukan jumlah leukosit antara 10.000-18.000/mm3
(leukositosis) dan neutrofil diatas 75%, sedangkan pada CRP ditemukan jumlah serum
2.

yang meningkat.
Radiologi
Terdiri dari pemeriksaan ultrasonografi (USG) dan Computed Tomography Scanning
(CT-scan). Pada pemeriksaan USG ditemukan bagian memanjang pada tempat yang
terjadi inflamasi pada appendiks, sedangkan pada pemeriksaan CT-scan ditemukan
bagian yang menyilang dengan fekalith dan perluasan dari appendiks yang mengalami

3.

inflamasi serta adanya pelebaran sekum


Analisa urin bertujuan untuk mendiagnosa batu ureter dan kemungkinan infeksi saluran

4.

kemih sebagai akibat dari nyeri perut bawah.


Pengukuran enzim hati dan tingkatan amilase membantu mendiagnosa peradangan

6.

hati, kandung empedu, dan pankreas.


Pemeriksaan barium enema untuk menentukan lokasi sekum. Pemeriksaan Barium
enema dan Colonoscopy merupakan pemeriksaan awal untuk kemungkinan karsinoma

7.

colon.
Pemeriksaan foto polos abdomen tidak menunjukkan tanda pasti Apendisitis, tetapi
mempunyai arti penting dalam membedakan apendisitis dengan obstruksi usus halus
atau batu ureter kanan.

PENATALAKSANAAN MEDIS
Penatalaksanaan yang dapat

dilakukan

pada

penderita

Apendisitis

meliputi

penanggulangan konservatif dan operasi.


1. Penanggulangan konservatif
Penanggulangan konservatif terutama diberikan pada penderita yang tidak mempunyai
akses ke pelayanan bedah berupa pemberian antibiotik. Pemberian antibiotik berguna
untuk mencegah infeksi. Pada penderita Apendisitis perforasi, sebelum operasi
dilakukan penggantian cairan dan elektrolit, serta pemberian antibiotik sistemik
Operasi
Bila diagnosa sudah tepat dan jelas ditemukan Apendisitis maka tindakan yang

2.

dilakukan

adalah

operasi

membuang

appendiks

(appendektomi).

Penundaan

appendektomi dengan pemberian antibiotik dapat mengakibatkan abses dan perforasi.


Pada abses appendiks dilakukan drainage (mengeluarkan nanah).
Pencegahan Tersier
Tujuan utama dari pencegahan tersier yaitu mencegah terjadinya komplikasi yang lebih

3.

berat seperti komplikasi intra-abdomen. Komplikasi utama adalah infeksi luka dan abses
intraperitonium. Bila diperkirakan terjadi perforasi maka abdomen dicuci dengan garam
fisiologis atau antibiotik. Pasca appendektomi diperlukan perawatan intensif dan
pemberian antibiotik dengan lama terapi disesuaikan dengan besar infeksi intraabdomen.
H. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian Keperawatan
a) Wawancara
Dapatkan riwayat kesehatan dengan cermat khususnya mengenai:

Keluhan utama klien akan mendapatkan nyeri di sekitar epigastrium menjalar ke


perut kanan bawah. Timbul keluhan Nyeri perut kanan bawah mungkin beberapa jam
kemudian setelah nyeri di pusat atau di epigastrium dirasakan dalam beberapa waktu
lalu.Sifat keluhan nyeri dirasakan terus-menerus, dapat hilang atau timbul nyeri
dalam waktu yang lama. Keluhan yang menyertai biasanya klien mengeluh rasa

mual dan muntah, panas.


Riwayat kesehatan masa lalu
Diet,kebiasaan makan makanan rendah serat.
Kebiasaan eliminasi.

b) Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik keadaan umum klien tampak sakit ringan/sedang/berat.


Sirkulasi : Takikardia.
Respirasi : Takipnoe, pernapasan dangkal.
Aktivitas/istirahat : Malaise.
7

Eliminasi : Konstipasi pada awitan awal, diare kadang-kadang.


Distensi abdomen, nyeri tekan/nyeri lepas, kekakuan, penurunan atau tidak ada

bising usus.
Nyeri/kenyamanan, nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilicus, yang
meningkat berat dan terlokalisasi pada titik Mc. Burney, meningkat karena berjalan,
bersin, batuk, atau napas dalam. Nyeri pada kuadran kanan bawah karena posisi

ekstensi kaki kanan/posisi duduk tegak.


Demam lebih dari 38oC.
Data psikologis klien nampak gelisah.
Ada perubahan denyut nadi dan pernapasan.
Pada pemeriksaan rektal toucher akan teraba benjolan dan penderita merasa nyeri

pada daerah prolitotomi.


Berat badan sebagai indikator untuk menentukan pemberian obat.

2. Diagnosa Keperawatan
Pre operasi
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologi (distensi jaringan intestinal oleh
inflamasi)
2. Perubahan pola eliminasi (konstipasi) berhubungan dengan penurunan peritaltik.
3. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual muntah.
4. Cemas berhubungan dengan akan dilaksanakan operasi.
Post operasi
1. Nyeri berhubungan dengan agen injuri fisik (luka insisi post operasi appenditomi).
2. Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif (insisi post pembedahan).
3. Defisit self care berhubungan dengan nyeri; immobilisasi.
4. Kurang pengetahuan tentang kondisi prognosis dan kebutuhan pengobatan
berhubungan dengan kurang informasi

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
1.Identifikasi
A. Identitas Pasien

B. Identitas Penanggung Jawab

Nama / Umur

: Sdr. W / 32 Tahun

Nama / Umur

Tanggal MRS

: 14 Agustus 2014

Pekerjaan

Jenis kelamin

: Laki-laki

Jenis Kelamin

Agama

: Islam

Agama

Ruangan

: VIP Ad Dawa

Hubungan dengan Pasien : Adik Ipar

Diagnosa Medis : Appendisitis Perforasi


No. Med. Rec

: 14081614

Alamat

: Jl. Mayor Iskandar

: Ny. D/ 23 Tahun
: Karyawan swasta

Alamat

: Perempuan
: Islam

: Jl. Alipatan

2.Keluhan Utama: Sakit perut hilang timbul disertai dengan demam


Riwayat Perjalanan Penyakit (PQRST):
Seminggu sebelum masuk RS klien mengeluh sakit perut disertai dengan demam,awalnya
nyeri timbul di ulu hati,hilang timbul, namun lama kelamaan menjalar ke perut kanan bawah.
Nyeri kadang terasa sangat sakit dan berlangsung lama, namun kadang berkurang.Sehari
sebelum masuk rumah sakit nyeri di perut kanan bawah terasa sangat berat sampai
berkeringat dingin. Klien juga mengeluh mua
Riwayat Kesehatan Yang Lalu:
Klien hanya menderita demam saja namun tidak dibawa ke rumah sakit, klien hanya diobati di
rumah saja
Riwayat Kesehatan Keluarga:
Di dalam keluarga klien tidak ada yang pernah mengalami penyakit yang sama dengan klien
saat ini
9

3. Pemeriksaan Fisik / Biologis


TD: 130/80 mmHg, T: 38,00C, RR: 24 x/menit, Nadi: 96 x/menit
Kesadaran
4

() CM

( ) Apatis

Kepala

() t.a.k

( ) Mesosefal ( ) Asimetris

( ) Hematoma

Rambut

() t.a.k

( ) Kotor

( ) Kering

Muka

() t.a.k.

( ) Asimetris ( ) Bells Palsy

Mata

() t.a.k

( ) Anisokor

Telinga

( ) Somnolen

( ) Berminyak

( ) Rontok

( ) Kelainan kongenital

( ) Sklera Ikterik ( ) Gangguan Penglihatan

( ) Konjungtivitis anemi
Cahaya

() t.a.k

( ) Nyeri

( ) Tuli

( ) Koma GCS:15 M: 6 V: 5 E:

) Midriasis / Miosis

) Tidak Ada Reaksi

( ) Berdengung

( ) Keluar Cairan
Hidung

() t.a.k

( ) Asimetris ( ) Epistaksis

Mulut

() t.a.k

() Simetris

( )Asimetris

( ) Lain-lain
( ) Bibir Pucat

( ) Kelainan Kongenital
Gigi

() t.a.k

( ) Karies

( ) Goyang

Lidah

() t.a.k

( ) Kotor

( ) Mukosa kering

Tenggorokan

() t.a.k

( ) Faring Merah ( ) Sakit Menelan ( ) Tonsil Membesar

Leher

() t.a.k

( ) Kaku Kuduk

( ) Pembesaran Tiroid

( ) Tambal

( ) Gigi Palsu

( ) Gerakan Asimetris

( ) Pembesaran vena Jugularis

( ) Keterbatasan Gerak

( ) Luka Bekas Operasi:


Dada

Paru-paru

Bentuk:
Dada

() Simetris

( ) Asimetris

) Retraksi Otot

( ) Funnel Chest ( ) Kiposis

( ) Pigeon Chest ( ) Barel Chest

() Vesikuler

( ) Ronchi

( ) Rales

( ) Apnue

( ) Apnea

( ) Tacipnea

( ) Wheezing
( ) Bradipnea

( ) Cheyne-Stokes
10

Jantung

( ) Galop

( ) Murmur

( ) BJ 1 / BJ 2

( ) Palpitasi

( ) Ictus Cordis Terlihat


Masalah Keperawatan: Hipertermia
Abdomen

( ) t.a.k

() Nyeri Tekan, di titik mc burney

( ) Hiper Timpani Sedikit( ) Distensi Abdomen ( ) Hepatomegali


() Benjolan, Lokasi ...

() Bising Usus: 3-5 x/menit

Masalah Keperawatan: Nyeri abdomen


Integumen

Extremitas

() t.a.k

() Turgor Elastis

( ) Jelek

( ) Fistula

( ) Pucat

( ) Sianosis

( ) Lesi

( ) Memar

( ) Lecet

() t.a.k
( ) Tremor

( ) Dekubitus

( ) Ikterik
( ) Ptechiae

() Kekuatan Otot Baik() Kurang ( ) Kejang


( ) fraktur

( ) Kelainan Kongenital

( ) Plegi di ... ( ) Parese di ...


( ) Inkoordinasi

Masalah Keperawatan: Tidak Ada


Genetalia

() t.a.k

( ) Hipospadia

( ) Ada Luka

( ) Bengkak

( ) Keluar Lendir / Darah


Masalah Keperawatan: Tidak Ada

4.Data Psikologis, Sosiologis dan Spiritual


Psikologis

) t.a.k

( ) Sedih

() Gelisah
( ) Hiperaktif

() Cemas

( ) Rendah Diri

( ) Acuh Tak Acuh ( ) Marah

( ) Mudah Tersinggung
Sosiologis

() t.a.k

( ) Menarik Diri

( ) Gelisah

Spiritual

() t.a.k

( ) Perlu dibantu dalam Peribadatan

( ) Takut

Masalah keperawatan: Cemas


5.Pola Kebiasaan Sehari-hari

11

No
1

Aktifitas
Pola Makan

Keterangan
Jumlah
Jenis
Frekuensi
Cara
Pemberian

Di Rumah
1 Porsi
NB
2-3 x sehari
Oral

Di Rumah Sakit
1/2 Porsi
NL
2-3 x sehari
Oral

Pola Minum

1000-1500 ml
Air putih, Teh, Kopi
7-8 gelas/hari
Oral

500-1000 ml
Air putih, jus buah
3-4 gelas/hari
Oral

Pola
Eliminasi

Pola Tidur

Jumlah
Jenis
Frekuensi
Cara
Pemberian
BAB/Konsisten
si
Warna
Frekuensi
Masalah
BAK / Warna
Jumlah
Frekuensi
Lama

Pola
Kebersihan

Mandi
Gosok Gigi
Berpakaian

2 x sehari
2-3 x sehari
2 x ganti

Masalah
Resiko
pemenuhan
nutrisi kurang
dari
kebutuhan
Tidak Ada
Masalah

Biasa
dan Biasa dan berbentuk
Berbentuk
Kuning
Kuning
3 x seminggu
2 kali seminggu
Tidak Ada
Tidak ada
Kuning Jernih
Kuning Jernih
500 ml / hari
500 ml / hari
3-4 x/hari
3-4 x sehari
6-7 jam/hari
5-6 jam/hari
1 x sehari (Pagi)
1-2 x sehari
2 x ganti

Tidak ada
masalah

Tidak Ada
Masalah
Tidak Ada
Masalah

6.Data Penunjang
Tanggal
Kamis,
14
Agustus
2014

Jenis Pemeriksaan
Laboratorium

Hasil Pemeriksaan
Darah rutin
Hb : 16,7
Leukosit : 12.800
Bse : 11
Differential counter
Basofil : 0
Eosinofil : 0
Myelocyt : 0
Meta myelocyt : 0
Band : 0
Segment : 80
Lympocyt : 11
Monocyt : 9
Trombosit : 159.000
Ht : 46
Fungsi ginjal
Creatinin : 0,59
Ureum : 17

Nilai normal
12,0 16,0gr%
5.000-10.000mm3
1-15 mm/jam
0-1%
2-4%
0%
0%
3-5%
55-65%
25-35%
4-8%
150.000-400.000/mm3
38-48%
0,5-1,1
15-50
<200
12

Jumat,
15
Agustus 2014

Sabtu,
16
Agustus 2014

Laboratorium

Gula sewaktu : 77
Faeces
Kosistensi : lembek
Blood : Mucus : Leukosit : 0-1/Lp
Kista : Amuba : Telur cacing : Benzidine test : Urine
Warna : kuning muda
Kejernihan : jernih
BJ : 1.010
PH : 6,0
Protein : - / negatif
Reduksi : - / negatif
Urobilin : - / negatif
Keton : - / negatif
Sendimen
Epitel cell : 0-1 / Lp
Leukosit : 0-1 / Lp
Erytrosit : - / negatif
Crystal : - / negatif

USG abdomen
(dr. Alex, Sp. Rad)

Apendisitis kronis, perforasi

Laboratorium

Bleeding time : 230


Clothing time : 900
HbSAg : non reaktif
Anti HIV : non reaktif

Rontgen thorax

Normal

EKG

Normal

1-3 menit
6-25 menit

7. Terapi
(14 Agustus 2014)
- IVFD RL gtt 20x / menit
- Inj. Gentidin 1 ampul (UGD)
- Inj. Trovensis 1 ampul (UGD)
- Inj. Bioxon 2x1 gr
- Trogyl infusion 3x500 mg
- Otozol 1x1 vial
13

(15 Agustus 2014)


- Inj. Bioxon 2x1 gr distop diganti dengan inj. Bactraz 2x1 gr
(16 Agustus 2014)
Tambahan terapi injeksi :
Inj. Toramin 3x1 ampul
Inj. Sarkorbin 2x1 ampul

(21 Agustus 2014)


Obat untuk pulang :
Opixime 2x1 tab
Trogyl 3x1 tab
Tramifen 3x1 tab
Cester 1x1 tab

B. Analisa data
No
1

Data
DS :
Klien mengatakan
badannya terasa
meriang

Etiologi
Obstruksi pada usus

Masalah keperawatan
Hipertermia

Mukosa terbendung

DO :

Tekanan intraluminal

KU : Lemah

Suhu 38,00 C,

TD : 130/90mmhg

Nadi : 90x/menit

RR : 24x/menit

Mukosa bibir kering

Palpasi kulit panas

Terjadi proses peradangan

Klien berkeringat

Aliran darah terganggu

Ulserasi dan invasi bakteri pada dinding


apendiks

Peningkatan suhu tubuh

DS :
Klien

Obstruksi pada usus


mengatakan

perutnya sakit

Nyeri akut

Mukosa terbendung

14

DO :

-KU : Lemah

Tekanan intraluminal

-Tampak menahan nyeri

Nyeri akut

-Keringat dingin
-Klien terlihat berhatihati bergerak
-Klien berbaring dalam
posisi

badan

melengkung
memegangi
perutnya
-Skala nyeri 4-5
-TD : 130/90mmhg
-Nadi : 90x/menit
3

-RR : 24x/menit
DS :
Klien
takut

Obstruksi pada usus

mengatakan
dengan

efek

Mukosa terbendung

dari

lanjutan
penyakitnya
DO :

Tekanan intraluminal

- Kontak mata kurang

Aliran darah terganggu

- Klien sering bertanya

tetang penyakitnya
dan prosedur operasi
- Kurang istirahat
- Berfokus pada diri
sendiri
- Iritabilitas
- Takut
- Bingung
- Sulit berkonsentrasi

Cemas

Ulserasi dan invasi bakteri pada dinding


apendiks

Apendisitis

Trombosis pada vena intramural

Pembengkakan dan iskemia

Perforasi

15

Rencana pembedahan

Cemas
Obstruksi pada usus

DS :
Klien

mengatakan

perutnya sakit

Nyeri
akut
operasi

pasca

Mukosa terbendung

DO :

-KU : Lemah

Tekanan intraluminal

-Tampak menahan nyeri

Aliran darah terganggu

-Keringat dingin
-Klien terlihat berhati-

Ulserasi dan invasi bakteri pada dinding

hati bergerak

apendiks

-Skala nyeri 5-6


-TD : 130/90mmhg

Apendisitis

-Nadi : 96x/menit

-RR : 24x/menit

Trombosis pada vena intramural

Pembengkakan dan iskemia

Perforasi

Pembedahan

Luka insisi

Nyeri
Perforasi

DS :
Klien mengatakan tidak
berani

banyak

bergerak, nyeri

Defisit self care

Pembedahan

Efek anestesi spinal dan umum

DO:
-Terpasang drain
-Terpasang kateter

Pasien terpasang drain dan kateter

16

-Klien terlihat kesakitan


-Klien tidak mampu
mandi dan

Nyeri

Posisi head up dan bed rest total selama

mengganti pakain

24 jam

sendiri

Immobilisasi

Defisit self care


Perforasi

DS :
Klien

mengatakan

lukanya nyeri

Resiko infeksi

Pembedahan

DO :

-Terlihat

luka

bekas

operasi
-Klien dirawat di ruang
perawatan

biasa,

bukan ruangan steril


-Kondisi luka baik
-Tidak terlihat tanda

Luka insisi

Jalan masuk kuman

Resiko infeksi

infeksi
C. Daftar Prioritas Masalah
No.

Tanggal

1.
2.
3.

14 Agustus 2014
14Agustus 2014
15Agustus 2014

1
2
3

16 Agustus 2014
17 Agustus 2014
18 Agustus 2014

Prioritas Masalah

Paraf

Pra operasi
Hipertermia
Gangguan rasa nyaman; nyeri akut
Cemas
Pasca operasi
Gangguan rasa nyaman; nyeri akut
Defisit self care
Resiko infeksi
Prabumulih, 14 Agustus 2014
Perawat

yang

mengkaji,

17

(Nurul)

18

D. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN


Pre operasi
NO
1

DIAGNOSA

Tujuan
(NOC)

Intervensi
(NIC)

KEPERAWATAN
Hipertermia berhubungan

Setelah dilakukan tindakan

dengan

keperawatan, diharapkan

proses

peradangan

1. Observasi

RASIONAL

tanda-tanda 1.

vital: suhu, nadi, tensi, Tanda-tanda vital merupakan acuan

pasien menunjukkan :

pernapasan.
2. Anjurkan pasien

Suhu tubuh dalam batas


normal dengan kriteria hasil:

untuk mengetaui keadaan umum


untuk

pasien

banyak minum jelaskan 2.

manfaatnya bagi pasien.


Dengan banyak minum air putih dapat
3. Berikan kompres hangat
membantu menurukan suhu tubuh
2. Nadi dan RR dalam
(pada daerah frontal, axila
rentang normal
3.
& lipat paha).
3. Tidak
ada
perubahan 4. Anjurkan
untuk
tidak Dengan dilakukan kompres dapat
1. Suhu 36 37C

warna kulit dan tidak ada


pusing, merasa nyaman

memakai

selimut

&

pakaian yang tebal.


5. Kolaborasi dengan

tim

medis untuk pemberian

membantu proses penguapan


4.
Pakaian

antipiretik

yang

tebal

dapat

meningkatkan suhu tubuh


5.
Untuk membantu menurunkan suhu
tubuh

Nyeri akut berhubungan

Setelah

dilakukan

dengan agen injuri biologi

keperawatan

selama

asuhan 1. Kaji tingkat nyeri, lokasi 1. Untuk mengetahui sejauh mana


2x24

dan karasteristik nyeri.

tingkat

nyeri

dan

merupakan
19

(distensi jaringan intestinal

jam, diharapkan nyeri klien

oleh inflamasi)

berkurang

dengan

indikator secara dini untuk dapat

kriteria

hasil:

2. Jelaskan

1. Klien mampu mengontrol

pada

pasien

tentang penyebab nyeri

untuk

nonfarmakologi 3. Ajarkan
mengurangi

nyeri,

mencari bantuan)
2. Melaporkan bahwa
berkurang

tehnik

pernafasan

untuk

diafragmatik

lambat / napas dalam


nyeri

dengan

menggunakan manajemen

tingkat

kecemasan

dan

menambah

pengetahuan pasien tentang nyeri.


3. Napas dalam dapat menghirup O2

menggunakan

tehnik

menurunkan
pasien

nyeri (tahu penyebab nyeri,


mampu

memberikan tindakan selanjutnya


2. Informasi
yang
tepat
dapat

4. Berikan aktivitas hiburan


(ngobrol dengan anggota

secara adequate sehingga otot-otot


menjadi relaksasi sehingga dapat
mengurangi rasa nyeri.
4. meningkatkan relaksasi dan dapat
meningkatkan

kemampuan

kooping.
keluarga)
nyeri
5. deteksi
dini
terhadap
5. Observasi
tanda-tanda
3. Tanda vital dalam rentang
perkembangan kesehatan pasien.
vital
normal : TD (systole 1106. Sebagai profilaksis untuk dapat
6. Kolaborasi dengan tim
130mmHg, diastole 70menghilangkan rasa nyeri.
medis dalam pemberian
90mmHg),
HR(60analgetik
100x/menit),
RR
(1624x/menit),

suhu

(36,5-

37,50C)
4. Klien tampak rileks mampu
3.

Cemas

berhubungan

dengan

akan

dilaksanakan operasi.

tidur/istirahat
Setelah dilakukan
keperawatan,
kecemasan

asuhan 1. Evaluasi tingkat ansietas, 1. Ketakutan dapat terjadi karena

diharapkan
klien

dengan kriteria hasil:

berkurang

catat

verbal

verbal pasien.

dan

non

nyeri hebat, penting pada prosedur


diagnostik dan pembedahan.

2. Berikan informasi faktual 2. Dapat

meringankan

ansietas
20

1. Melaporkan
menurun

sampai

ansietas

mengenai

tingkat

tindakan

teratasi
2. Tampak rileks

diagnosis,
prognosis

dan

terutama

ketika

pemeriksaan

tersebut melibatkan pembedahan.

persiapkan untuk tindakan


prosedur
3. Jadwalkan

istirahat

adekuat dan periode tidur.


4.

3. Membatasi
menghemat

kelemahan,
energi

dan

meningkatkan kemampuan koping.

Anjurkan keluarga untuk 4. Mengurangi kecemasan klien

menemani disamping klien

Post operasi
NO
1.

DIAGNOSA

Tujuan
NOC
dilakukan

Kriteria hasil
RASIONAL
NIC
asuhan 1. Kaji skala nyeri lokasi, 1. Berguna dalam pengawasan dan

KEPERAWATAN
Nyeri akut berhubungan

Setelah

dengan agen injuri fisik

keperawatan, diharapkan nyeri

karakteristik dan laporkan

keefesien

(luka insisi post operasi

berkurang

perubahan nyeri dengan

penyembuhan,perubahan

appenditomi).

hasil:
1.
2.
3.
4.

dengan

Melaporkan

kriteria
nyeri

tepat.
2. Monitor tanda-tanda vital

obat,

karakteristik nyeri.
2. Deteksi
dini

kemajuan
dan
terhadap

perkembangan kesehatan pasien.


berkurang
3. Menghilangkan
tegangan
Klien tampak rileks
3. Pertahankan
istirahat
Dapat tidur dengan tepat
abdomen yang bertambah dengan
dengan
posisi
semi
Tanda-tanda vital dalam
posisi terlentang.
fowler.
batas normal
4. Meningkatkan kormolisasi fungsi
4. Dorong ambulasi dini.
TD (systole 110-130mmHg,
organ
21

diastole

5. Meningkatkan relaksasi.
5. Berikan aktivitas hiburan. 6. Menghilangkan nyeri.
HR(60-100x/menit),
RR
6. Kolaborasi tim dokter
(16-24x/menit), suhu (36,5dalam
pemberian
37,50C)
analgetika.
2.

Resiko

infeksi

berhubungan
tindakan

dengan

invasif

post pembedahan).

(insisi

Setelah

70-90mmHg),

dilakukan

keperawatan

asuhan 1. Kaji adanya tanda-tanda 1. Dugaan adanya infeksi

diharapkan

infeksi dapat diatasi dengan


kriteria hasil:
1. Klien bebas dari tanda-

infeksi pada area insisi


2. Monitor tanda-tanda vital.
Perhatikan

demam,

menggigil,

berkeringat,

2. Dugaan adanya infeksi/terjadinya


sepsis, abses, peritonitis

perubahan mental
tanda infeksi
3. Lakukan teknik isolasi
2. Menunjukkan kemampuan
3. Mencegah transmisi penyakit virus
untuk
infeksi
enterik,
untuk mencegah timbulnya
ke orang lain
termasuk cuci tangan
infeksi
3. Nilai leukosit (4,5-10ribu/ul)
efektif.
4. Pertahankan
teknik
aseptik

ketat

pada 4. mencegah meluas dan membatasi

perawatan luka insisi /

penyebaran organisme infektif /

terbuka,

kontaminasi silang.

bersihkan

dengan betadine.
5. Awasi / batasi pengunjung
dan siap kebutuhan.
5. Menurunkan resiko terpajan.
6. Kolaborasi
tim
medis
dalam pemberian ntibiotik
6. Terapi ditunjukkan pada bakteri
anaerob dan hasil aerob gra
22

3.

Defisit

self

berhubungan
nyeri, immobilisasi.

care
dengan

Setelah

dilakukan

keperawatan
kebersihan

negatif.
asuhan 1. Mandikan pasien setiap 1. Agar
badan

diharapkan
klien

dapt

dipertahankan dengan kriteria


hasil:

menjadi

segar,

hari sampai klien mampu

melancarkan peredaran darah dan

melaksanakan

meningkatkan kesehatan.

sendiri

serta cuci rambut dan


potong kuku klien.
2. Ganti pakaian yang kotor

1. Klien bebas dari bau badan


2. Untuk melindungi klien dari kuman
2. Klien tampak bersih
dengan yang bersih.
dan meningkatkan rasa nyaman
3. Klien dapat mandiri atau 3. Berikan Hygene Edukasi
3. Agar klien dan keluarga dapat
dengan bantuan
pada
klien
dan
termotivasi
untuk
menjaga
keluarganya
tentang
personal hygiene.
pentingnya kebersihan diri
4. Berikan pujian pada klien 4. Agar klien merasa tersanjung dan
tentang kebersihannya.
lebih kooperatif dalam kebersihan
5. Bimbing keluarga klien 5. Agar
keterampilan
dapat
memandikan / menyeka
pasien
6. Bersihkan dan atur posisi
serta tempat tidur klien.

diterapkan
6. Klien

merasa

nyaman

dengan

tenun yang bersih serta mencegah


terjadinya infeksi.

E. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

RUMAH SAKIT AR BUNDA PRABUMULIH


Jl. Angkatan 45 Prabumulih
Telp. 0713 322954 Fax. 0713-32590

CATATAN PERKEMBANGAN PERAWATAN

23

Nama lengkap
Umur
Jenis kelamin
No
1

Sdr. W
32 tahun
Laki-laki

No.Rekam Medik
Ruang
Diagnosa Medis

Tanggal
14-08-2014

Diagnosa keperawatan
Hipertermia berhubungan dengan

16.00 WIB

proses peradangan

Implementasi
1. Mengobservasi tanda-tanda
vital:

suhu,

nadi,

tensi,

pernapasan.
2. Meganjurkan pasien untuk

DS :
Klien mengatakan badannya
terasa meriang dan kepalanya
pusing

banyak

minum

KU : Lemah

Suhu 38,00 C,

TD : 130/90mmhg

Nadi : 90x/menit

RR : 24x/menit

Mukosa bibir kering

Palpasi kulit panas

Klien berkeringat

S:
badannya berkurang
O:
KU : sedang

Suhu 37,60 C,

TD : 120/80mmhg

memakai selimut & pakaian

Nadi : 90x/menit

yang tebal.
5. Menjelaskan pada pasien

RR : 24x/menit

Palpasi kulit hangat

Klien berkeringat

bahwa

daerah

penggunaan

antipiretik tidak dianjurkan


pada pasien yang diduga
menderita apendisitis

A: masalah teratasi sebagian


P: intervensi diteruskan jika
suhu meningkat

14-08-2014

Nyeri akut berhubungan dengan 1. Mengkaji tingkat nyeri, lokasi 23.00 wib

21.00 WIB

agen

injuri

biologi

paraf
Ambar,
tesa

Klien mengatakan panas

(pada

frontal, axila & lipat paha).


4. Menganjurkan untuk tidak

Evaluasi
18.00

jelaskan

manfaatnya bagi pasien.


3. Memberikan
kompres
hangat

DO :

14081614
Ad Dawa
Apendisitis perforasi

(distensi

dan karasteristik nyeri.

Nopita,
hanif
24

jaringan intestinal oleh inflamasi)

2. Menjelaskan

DS : Klien mengatakan perutnya 3.


sakit
4.
DO :
-KU : Lemah

pada

pasien S : Klien mengatakan sakit

tentang penyebab nyeri


perutnya berkurang dengan
Mengajarkan tehnik napas
kompres hangat
dalam
Menganjurkan
klien O :
beristirahat total selama nyeri
-KU : Lemah
muncul

5. Mengobservasi tanda-tanda -Keringat dingin

-Tampak menahan nyeri

vital
-Klien terlihat bisa beristirahat
6. Memberikan kompres hangat
-TD : 120/80mmhg
-Klien terlihat berhati-hati bergerak
di daerah abdomen
-Nadi : 90x/menit
-Klien berbaring dalam posisi 7. Memberikan terapi antibiotik
Inj. Bioxon 2x1 gr
-RR : 20x/menit
badan
melengkung
Trogyl infusion 3x500 mg
Sesuai petunjuk dokter untuk -Skala nyeri 3-4
memegangi perutnya
mengurangi efek inflamasi
-Skala nyeri 4-5
8. Menjelaskan pada pasien A : masalah teratasi sebagian
-TD : 130/90mmhg
bahwa penggunaan analgetik P : intervensi 1-7 dilanjutkan
-Nadi : 90x/menit
tidak dianjurkan pada pasien
jika nyeri kembali muncul
-RR : 24x/menit
yang
diduga
menderita
-Keringat dingin

berhubungan

apendisitis
dengan 1. Mengevaluasi

15-08-2014

Cemas

16.00

akan dilaksanakan operasi.


DS :
Klien mengatakan takut dengan
efek lanjutan dari penyakit dan
prosedur operasi

tingkat 20.00 WIB

ansietas, catat verbal dan


non verbal pasien.

Nurul

S : Klien mengatakan ingin


sembuh

dan

2. Memberikan informasi faktual menghadapi


mengenai
diagnosis, pembedahan
tindakan

prognosis

persiapan

untuk

tidak

takut

prosedur

dan

tindakan
25

DO :

prosedur

O:

- Hasil pemeriksaan laboratorium


menunjukkan tanda infeksi
(leukosit = 12.800 mm3)
- Hasil USG menunjukkan adanya
apendisitis kronis

3. Menjadwalkan

4. Menyemangati

klien
klien

dan
untuk

berdoa

klien terlihat lebih rileks


klien kolaboratif dalam
terapi

adekuat dan periode tidur.

menganjurkan

- Klien terlihat panik

istirahat

A : masalah teratasi
P : intervensi selesai

- Kontak mata kurang


- Klien sering bertanya tetang
penyakitnya dan prosedur

5. Meganjurkan keluarga untuk


menemani disamping klien

operasi
- Kurang istirahat
- Berfokus pada diri sendiri
- Iritabilitas
- Takut
- Bingung
15-08-2014

Sulit berkonsentrasi
Nyeri akut berhubungan dengan

21.00 WIB

agen

injuri

biologi

(distensi

jaringan intestinal oleh inflamasi)

1. Menganjurkan klien untuk 23.00 wib


berbaring
muncul
2. Memotivasi

selama

nyeri

S : Klien mengatakan sakit

DS : Klien mengatakan perutnya

untuk perutnya berkurang dengan


menerapkan teknik nafas kompres hangat

sakit

dalam sambil berdoa di

DO :

Nurul

klien

dalam hati
3. Mengobservasi

O:

tanda- -KU : Lemah


26

-KU : Lemah
-Tampak menahan nyeri
-memegangi perutnya
-Klien terlihat berhati-hati bergerak
-Skala nyeri 4-5
-TD : 130/90mmhg

tanda vital
4. Memberikan

-Klien terlihat bisa beristirahat


hangat di daerah abdomen
-TD : 120/80mmhg
5. Memberikan
terapi
-Nadi : 90x/menit
antibiotik
Inj. Bioxon 2x1 gr
-RR : 20x/menit
Trogyl infusion 3x500 mg
-Skala nyeri 3-4
Sesuai petunjuk dokter

-Nadi : 90x/menit
-RR : 24x/menit

-Keringat dingin
kompres

untuk

mengurangi

efek

inflamasi
6. Menenangkan pasien

A : masalah teratasi sebagian


P : intervensi 1-7 dilanjutkan
jika nyeri kembali muncul

16-08-2014

Nyeri berhubungan dengan agen 1. Mengkaji skala nyeri, lokasi, 13.30 wib

12.30

injuri fisik (luka insisi post operasi

karakteristik

dan

laporkan

appenditomi)

perubahan

nyeri

dengan

DS :
Klien mengatakan sakit di luka

-KU : Lemah
-Drain dan balutan luka terpasang
-Tampak menahan sakit
-Keringat dingin
-Klien terlihat berhati-hati bergerak

S : Klien mengatakan sakit

perutnya berkurang setelah


tepat.
2. Memonitor KU dan tanda- mendapatkan suntikan
tanda vital setiap :
- 15 menit selama 1 jam

operasi
DO :

Nurul

O:

pertama pasca operasi


-KU : Lemah
30 menit setelah 1 jam
-Klien terlihat bisa beristirahat
pasca operasi
1 jam setelah 2 jam -TD : 120/80mmhg

-Nadi : 90x/menit
istirahat -RR : 20x/menit
dengan posisi semi fowler.
-Skala nyeri 3-4
4. Mendorong ambulasi dini,
pasca operasi
3. Mempertahankan

miring kanan dan miring kiri


27

-Skala nyeri 5-6


-TD : 130/90mmhg
-Nadi : 96x/menit

5. Kolaborasi tim dokter dalam


pemberian analgetika, yaitu :
Inj. Toramin 3x1 ampul

A : masalah teratasi sebagian


P : intervensi 1-6 dilanjutkan
jika nyeri kembali muncul

-RR : 24x/menit
6

17-08-2014

Defisit self care berhubungan 1. Melakukan hand hyegiene 06.30 WIB

06.00 WIB

dengan nyeri, immobilisasi.


DS :

sebelum

dan

sesudah

menyentuh pasien
2. Memandikan
klien2

klien

Dewi ,
Ranti
mengatakan

kali badannya lebih segar setelah


dimandikan
sehari
Klien mengatakan tidak berani 3. Mengganti pakaian yang
banyak bergerak, nyeri
O:
kotor dengan yang bersih.
4. Melakukan

DO:
-Terpasang drain
-Terpasang kateter
-Klien terlihat kesakitan
-Klien tidak mampu mandi dan
mengganti pakain sendiri
-Klien terlihat berkeringat dan bau

perawatan

kateter
5. Memberikan Hygene Edukasi

infeksi saluran kemih

pada klien dan keluarganya


tentang

pentingnya

kebersihan diri
6. Memberikan pujian

memandikan

menyeka

pasien
8. Membersihkan dan mengatur
posisi serta tempat tidur klien

akibat kateter
Alat
tenun

yang

digunakan klien terlihat

pada

klien tentang kebersihannya.


7. Membimbing keluarga klien

Klien terlihat bersih


tidak ada tanda-tanda

rapi dan bersih


Tidak tercium bau dari

badan klien
Keluarga klien terlihat
bisa membantu klien
untuk menyeka wajah
dan mencuci tangan
klien

28

A : masalah teratasi sebagian


P: intervensi dilanjutkan jika
pasien

masih

belum

bisa

melakukan perwatan diri


7

17-08-2014

Nyeri berhubungan dengan agen

10.00

injuri fisik (luka insisi post operasi

karakteristik dan laporkan

appenditomi)

perubahan

DS :
Klien mengatakan sakit di luka
operasi
DO :
-KU : sedang
-Drain
-balutan luka terpasang bersih
-Tampak menahan sakit
-Klien terlihat berhati-hati bergerak
-Skala nyeri 3-4
-TD : 120/80mmhg
-Nadi : 88x/menit
-RR : 20x/menit

1. Mengkaji skala nyeri, lokasi, 12.00 wib

2.
3.
4.
5.

nyeri

dengan

Nurul

S : Klien mengatakan sakit

perutnya berkurang setelah


tepat.
mendapatkan suntikan
Mempertahankan istirahat.
Mendorong ambulasi dini
Memotivasi kl
O:
Memberikan
aktivitas
hiburan,

yaitu

menonton -KU : sedang

-Klien terlihat bisa beristirahat


televisi.
6. Kolaborasi tim dokter dalam
dan menonton TV
pemberian analgetika, yaitu -TD : 120/80mmhg
Inj. Toramin 3x1 ampul

-Nadi : 80x/menit
-RR : 20x/menit
-Skala nyeri 3-4
A : masalah teratasi sebagian
P : intervensi dilanjutkan jika
nyeri kembali muncul

-Klien terlihat memejamkan mata


melakukan nafas dalam ketika
29

nyeri datang
9

18-08-2014

Resiko

infeksi

10.00

dengan

tindakan

berhubungan
insisi

pasca

pembedahan
DS :
Klien mengatakan lukanya nyeri
DO :
-Terlihat luka bekas operasi
-Terpasang drain
-Kondisi balutan baik
-Kondisi luka baik
-Tidak terlihat tanda infeksi
-TD : 110/70 mmHg
-Suhu : 36,70 C
-Nadi : 76x/menit
-RR : 18x/menit

1. Melakukan hand hiegiene S : klien mengatakan nyeri


sebelum

dan

sesudah lukanya mulai berkurang

menyentuh pasien
2. Mengkaji adanya
tanda

infeksi

tanda- O :

pada

area

insisi
3. Memonitor tanda-tanda vital.
Perhatikan

demam,

menggigil,

berkeringat,

perubahan mental
4. Mempertahankan

teknik

Kondisi luka baik


Tidak ditemukan tanda

inflamasi
Tidak ditemukan
darah

dan

jaringan

TD : 110/70 mmHg

insisi tertutup yang pertama,

Suhu : 36,70 C

membersihkan dengan NaCl

Nadi : 76x/menit

0,9 % steril dan betadine.


6. Mengawasi / membatasi
pengunjung
7. Mengingatkan

keluarga,
dan

pasien

sendiri untuk menbersihkan


tangan
8. Berkolaborasi
medis

dalam

dengan

tim

pemberian

pus,

nekrotik
Ttv dalam batas normal

aseptik ketat
5. Melakukan perawatan luka

pengunjung

Nurul

RR : 18x/menit
A : masalah teratasi
P : memberikan Pendidikan
kesehatan
perawatan

mengenai
luka

selama

di

rumah sakit dan setelah di


rumah

antibiotik, yaitu :
Inj. Bactraz 2x1 vial
30

19-08-2014

Nyeri berhubungan dengan agen

Trogyl infusion 3x500 mg


1. Mengkaji skala nyeri, lokasi, 12.00 wib

injuri fisik (luka insisi post operasi

karakteristik dan laporkan

appenditomi)

perubahan

DS :
Klien mengatakan sakit di luka
operasi hilang timbul
DO :
-KU : sedang
-Drain dan kateter sudah dilepas
-balutan luka terpasang bersih
-Klien terlihat berhati-hati bergerak
-Skala nyeri 3-4

nyeri

dengan

nurul

S : Klien mengatakan sakitnya

berkurang
setelah
tepat.
mendapatkan suntikan
2. Mempertahankan istirahat.
3. Mendorong ambulasi dini,
latihan aktivitas minimal O :
sepeti duduk dan ke kamar -KU : sedang
mandi
-Klien terlihat bisa beristirahat
4. Memberikan
aktivitas
dan beraktivitas minimal
hiburan, yaitu menonton
seperti duduk dan berdiri
televisi.
5. Kolaborasi tim dokter dalam -Klien sudah bisa ke kamar
pemberian analgetika, yaitu

mandi

sendiri

walaupun

Inj. Toramin 3x1 ampul

masih tampak kesakitan


-TD : 120/80mmhg

-TD : 120/80mmhg

-Nadi : 80x/menit

-Nadi : 88x/menit

-RR : 20x/menit

-RR : 20x/menit
-Klien terlihat memejamkan mata
melakukan nafas dalam ketika
nyeri datang

-Skala nyeri 3-4


A : masalah teratasi sebagian
P : intervensi dilanjutkan jika
nyeri kembali muncul

RS AR BUNDA PRABUMULIH
Jl. Angkatan 45 Prabumulih
Telp. 0713-322954 Fax 0713-325980

PERENCANAAN PASIEN PULANG

31

Nama
Sdr. W
Umur
32 tahun
Jenis kelamin
Laki-laki
Kondisi pasien (Vital sign)
TD: 120/80mmHg
Suhu
: 36,20Sp.B
c
Dokter
Dr.
Bujang,
Kesadaran: Compos Mentis
Diet: Nasi Lunak
Pengobatan Lanjutan:
- Opixime 2x1 tab
- Trogyl 3x1 tab
- Tramifen 3x1 tab
- Cester 1x1 tab

No. Rekam Medis


Ruang
Diagnosa Medis
Nadi: 86 Masuk
x/m
Tanggal

14081614
Ad Dawa
Apendisitis
perforasi
RR: 16x/m
14-08-2014

Konsultasi Lanjutan: Kontrol ulang Ke Poliklikik Rawat jalan RS Bunda untuk


perawatan luka pada tanggal 23 Agustus 2014
Bimbingan nasehat yang diberikan:
- Jaga Personal hyegiene
- Jaga kondisi perban agar tetap bersih dan kering
- Cuci tangan sesering mungkin
- Istirahat yang cukup
- Minum obat secara teratur
- Jaga pola makan, hindari makanan yang keras, asam dan pedas
- Batasi aktivitas yang berat
- Lakukan tehnik napas dalam dan kurangi kecemasan saat nyeri muncul
- Kontrol ulang sesuai jadwal
Prabumulih, 21 Agustus 2014
Perawat/ Bidan

(Nurul Fadhilah)

32

BAB IV
PEMBAHASAN

Setelah diberikan Asuhan Keperawatan pada klien Sdr.W dengan Pre dan Post Laparatomi atas indikasi apendisitis perforasi
di VIP Ad dawa Rumah Sakit AR. Bunda Prabumulih tanggal 14 Agustus 2014 data sebagai berikut :
Saat pengkajian pada Sdr W tidak mendapat kesulitan karena informasi juga didapat dari keluarga klien dimana informasi
didapatkan langsung melalui wawancara, observasi, tindakan medis dan keperawatan.
Sesuai dengan teori mengenai apendisitis perforasi, pada klien SdrW ditemukan tanda dan gejala seperti demam, mual, nyeri
kuadran kanan bawah abdomen (titik Mc Burney), penurunan bising usus (3-5 x/menit), nyeri tekan (rovsing sign positif dan PSOAS
sign positif).Selain itu, hasil pemeriksaan penunjang juga mendukung diagnosa apendisitis perforasi antara lain hasil pemeriksaan
laboratorium : leukosit meningkat (12.800 mm3), dan hasil USG abdomen mengarah pada apendisitis perforasi, sedangkan hasil
pemeriksaan fungsi ginjal, faeces dan urin klien normal.
Adapun diagnosa keperawatan pada klien dengan apendisitis perforasi menurut NANDA (2000) adalah sebagai berikut :
Pre operasi
1.
Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologi (distensi jaringan intestinal oleh inflamasi)
2.
Perubahan pola eliminasi (konstipasi) berhubungan dengan penurunan peritaltik.
3.
Kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual muntah.
4.
Cemas berhubungan dengan akan dilaksanakan operasi.
Post operasi
1.
Nyeri berhubungan dengan agen injuri fisik (luka insisi post operasi appenditomi).
2.
Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif (insisi post pembedahan).
3.
Defisit self care berhubungan dengan nyeri; immobilisasi.
4.
Kurang pengetahuan tentang kondisi prognosis dan kebutuhan pengobatan b.d kurang informasi
33

Sedangkan diagosa keperawatan yang muncul pada klien SdrWterdapat 6 diagnosa keperawatan yaitu :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Hipertermia berhubungan dengan proses peradangan


Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologi (distensi jaringan intestinal oleh inflamasi)
Cemas berhubungan dengan akan dilaksanakan operasi.
Nyeri berhubungan dengan agen injuri fisik (luka insisi post operasi appenditomi).
Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif (insisi post pembedahan).
Defisit self care berhubungan dengan nyeri, immobilisasi.
Pada tahap perencanaan dan tindakan keperawatan menurut diagnosa keperawatan yang muncul pada Sdr. Wdisesuaikan
dengan kondisi, situasi dan kemampuan klien serta disesuaikan dengan sarana dan prasarana yang tersedia diruangan.
Pada tahap implementasi, asuhan keperawatan dilakukan sesuai dengan teori dan membandingkan tindakan keperawatan

yang ada di lapangan dari rencana tindakan yang telah ditetapkan. Didapatakan bahwa klien memberikan respon menuju perbaikan
kesehatan dan keluarga klien kooperatif dalam melakukan keperawatan terhadap klien, implementasi dilakukan selama pasien
dirawat diruangan Ad Dawa, tindakan dilakukan secara kontinu dan berkesinambungan.
Tahap evaluasi merupakan tahap akhirr dari asuhan keperawatan. Evaluasi adalah tindakan yang disengaja dan terus
menerus serta melibatkan klien dengan keluarganya, perawat serta anggota tim kesehatan lainnya. Tujuan evaluasi adalah
mengetahui tentang tujuan dalam rencana keperawatan tercapai atau tidak dan untuk pengkajian ulang (lismidar, 1990)
Dari hasil yang didapatkan dalam tindakan keperawatan yang diberikan kepada klien SdrW, bahwa masalah teratasi
sesuai dengan kriteria hasil pada saat intervensi. Luka bekas operasi kondisinya baik, tidak ditemukan infeksi luka operasi (ILO),
sistem pencernaan makanan pasien juga mulai baik. Pada tanggal 21 Agustus 2014 klien dibolehkan pulang dengan rawat jalan .
Sebelum klien pulang dilakukan discharge planning dan pendidikan kesehatan untuk klien dan keluarga ketika dirumah

BAB V
34

PENUTUP

A. Kesimpulan
Apendisitis adalah peradangan dari apendiks, dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering. Yang
ditandai dengan demam, nyeri kuadaran kanan bawah abdomen, mual, muntah serta didukung oleh pemeriksaan penunjang
seperti peningkatan leukosit dan hasil USG menunjukkan adanya apendisitis. Perforasi Saluran Cerna, yang umumnya juga
dikenal sebagai perforasi usus, adalah suatu kondisi medis yang ditandai dengan terbentuknya suatu lubang pada dinding
lambung, usus halus atau usus besar, yang menyebabkan kebocoran isi usus kedalam rongga perut. Perforasi merupakan
komplikasi dari appendicitis yang terjadi jika tidak ditangani secara cepat. Appendiks yang berisi pus pecah sehingga bakteri
menyebar ke rongga perut. Selanjutnya perforasi dapat menyebabkan terjadinya peritonitis atau peradangan pada selaput
rongga perut yang dapat mengancam nyawa pasien.
Setelah mengkaji dan melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien SdrW maka penulis menarik kesimpulan
sebagai berikut :
1. Pada pengkajian terjadi kerja sama antara penulis dengan pasien serta keluarganya dan penulis tidak menemukan
hambatan untuk mengumpulkan data dan ditemukan masalah keperawatan, tetapi tidak semua masalah keperawatan
yang ada dalam teori ditemukan pada pasien.
Masalah yang ditemukan pada pasien adalah hipertermia, nyeri akut, cemas, nyeri akut pasca operasi, defisit perawatan
diri, dan resiko infeksi
2. Tidak semua diagnosa keperawatan yang ada pada teori timbul pada pasien. Hal ini dikarenakan dalam merumuskan
diagnosa keperawatan disesuaikan dengan data dan kondisi pasien saat pengkajian.
Diagnosa keperawatan yang timbul pada pasien adalah :
a) Hipertermia berhubungan dengan proses peradangan
b) Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologi (distensi jaringan intestinal oleh inflamasi)
35

c)
d)
e)
f)

Cemas berhubungan dengan akan dilaksanakan operasi.


Nyeri berhubungan dengan agen injuri fisik (luka insisi post operasi appenditomi).
Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif (insisi post pembedahan).
Defisit self care berhubungan dengan nyeri, immobilisasi.

3. Rencana yang dibuat disesuaikan dengan diagnosa keperawatan yang timbul pada pasien Sdr. W

implementasi

dilakukan sesuai dengan rencana keperawatan yang telah dibuat dengan beberapa penambahan sesuai dengan kondisi
pasien.
4. Pada tahap evaluasi dilakukan pada pasien Sdr. W Peningkatan suhu tubuhteratasi karena klien tidak demam lagi, nyeri
sebelum dan setelah operasi teratasi dengan teknik pengalihan nyeri dan pemberian analgetik, cemas pada saat pre
operasi teratasi dengan pendidikan kesehatan, defisit self care teratasi dengan bersama-sama keluarga ikut membantu
klien memenuhi kebutuhan perawatan diri, dan resiko infeksi teratasi karena infeksi luka operasi serta infeksi akibat
pemasangan kateter tidak terjadi.

B. Saran
Dari analisa dan kesimpulan yang ada, maka saran yang kami buat adalah sebagai berikut :
1. Dalam melaksanakan perencanaan keperawatan diharapkantenaga kesehatan melaksanaan pengkajian secara
paripurna dengan tetap mempertahankan hubungan baik dengan keluarga sehingga ketika dalam menentukan
rencana tindakan yang diberikan dengan fasilitas yang ada yang berhubungan dengan klien, tenaga kesehatan dapat
melibatkan keluarga sehingga asuhan keperawatan yang diberikan dapat dilaksanakan dengan komprehensif.
2. Dalam perawatan luka operasi diharapkan tenaga keperawatan lebih memperhatikan masalah teknik septik, aseptik,
dan antiseptik agar infeksi luka operasi tidak terjadi

36

DAFTAR PUSTAKA

Fatma. (2010). Askep Appendicitis. Diakses http://fatmazdnrs.blogspot.com/2010/08/askep-appendicitis.html pada tanggal 17agustus


2014.
Mansjoer, A. (2001). Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius FKUI
NANDA, 2012, Diagnosis Keperawatan NANDA : Definisi dan Klasifikasi.
Nuzulul. (2009). Askep Appendicitis. Diakses http://nuzulul.fkp09.web.unair.ac.id/artikel_detail-35840-Kep%20Pencernaan Askep
%20Apendisitis.html tanggal 09 Mei 2012.
Smeltzer, Bare (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Brunner & suddart. Edisi 8. Volume 2. Jakarta, EGC

37

Laporan Pasca Operasi


12.30

Pasien selesai Operasi dengan anastesi umum dan spinal, drain terpasang di
abdomen kanan bawah, kateter dan ivfd masih terpasang
KU : lemah, kesadaran : Somnolen, TD : 130/90, N : 98x/menit, RR : 20 x/menit
Pasien kemudian pindahkan dari OK ke Ruang Rawat VIP Ad Dawa

12.45

Pasien berbaring dengan posisi semifowler, O2 terpasang 4L/menit


Keluarga diberikan penjelasan untuk tidak memberikan pasien makan dan
minum sampai ada instruksi dari dokter bedah
KU : Lemah, Kesadaran : Somnolen, TD : 120/80, N : 96x/menit, RR :
20x/menit
Diberikan inj. Toramin 1 ampul

13.00

KU : Lemah, Kesadaran : Somnolen, TD : 120/80, N : 90x/menit, RR :


20x/menit

13.30

KU : Lemah, Kesadaran : Somnolen, TD : 120/70, N : 96x/menit, RR :


20x/menit

13.45

KU : sedang, Kesadaran : compos mentis, TD : 120/980, N : 96x/menit, RR :


20x/menit
Klien dijelaskan untuk puasa terlebih dahulu

14.15

KU : sedang, Kesadaran : compos mentis, TD : 120/980, N : 96x/menit, RR :


20x/menit

14.45

KU : sedang, Kesadaran : compos mentis, TD : 120/980, N : 96x/menit, RR :


20x/menit

15.15

KU : sedang, Kesadaran : compos mentis, TD : 120/980, N : 96x/menit, RR :


20x/menit, O2 dilepas
Bising usus + 10-15x/menit

33

33