You are on page 1of 16

MAKALAH

PERSYARATAN BARANG DAN JASA


(Label Produk)
Mata Kuliah : Pendidikan Konsumen

Oleh :
Ummi Nadhiroh

14050394019

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA


FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN PENDIDIKAN KESEJAHTERAHAN KELUARGA
PRODI S1 PENDIDIKAN TATA BOGA
2015/2016
1

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Alloh SWT. bahwa penulis telah menyelesaikan
tugas makalah mata kuliah Pendidikan Konsumen Persyaratan Barang Dan Jasa :Label
Produk.
Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang penyusun hadapi.
Namun penyusun menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat
bantuan, dorongan dan bimbingan orang tua dan teman - teman , sehingga kendala-kendala yang
penulis hadapi teratasi. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Tuhan Yang Maha Esa
2. Drs.Mein Kharnolis, MSM selaku dosen Mata Kuliah Pendidikan Konsumen yang
telah memberikan tugas, petunjuk, kepada penulis sehingga penulis termotivasi dan
menyelesaikan tugas ini.
3. Orang tua yang telah turut membantu, membimbing, dan mengatasi berbagai kesulitan
sehingga tugas ini selesai.
Semoga materi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang
membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai, Amiin.

Surabaya, 3 april 2016

Penyusun

DAFTAR ISI
Kata Pengantar ...

ii

Daftar Isi ....

iii

1. BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

B. Rumusan Masalah

C. Tujuan..

2. BAB II PEMBAHASAN
A.
B.
C.
D.
E.

pengertian label produk ..


fungsi label produk ......
syarat syarat label . . .
undang- undang label ..
cotoh pelabelan

2
7
9
10
11

3. BAB III PENUTUP


3.1 KESIMPULAN
3.2 SARAN.

13
13

DAFTAR PUSTAKA ..

14

BAB 1
Pendahuluan
1.1

Latar Belakang
Peran label pada produk pangan sangat penting. Label yang baik akan memudahkan

konsumen dalam pemilihan produk yang diperlukannya. Selain itu, label juga berperan sebagai
sarana pendidikanmasyarakat dan dapat memberikan nilai tambah pada produk. Semakin
bertambahnya kompetitor produk, label dapat menjadi strategi menarik dalam pemasaran, namun
label dapat juga menjadi pesan yang menyesatkan (Karmini & Briawan 2004).Menurut
Drichoutis, lazaridis, dan Nayga (2006b), ada beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku
membaca label informasi zat gizi, antara lain umur, pendapatan, pendidikan, jenis kelamin, dan
status bekerja.
1.2

Rumusan Masalah
1.2.1 bagaimana pengertian label produk ?
1.2.2 bagaimana fungsi label ?
1.2.3 bagimana syarat-syarat label?
1.2.3 bagaimana undang-undang suatu label ?
1.2.3 bagaimanan contoh pelabelan halal?

1.3

Tujuan.
1.3.1 untuk mengetahui pengertian label.
1.3.2 untuk mengetahui fungsi label..
1.3.3 untuk mengetahui syarat-syarat label.
1.3.3 untuk mengetahui undang-undang suatu label.
1.3.3 untuk mengetahui contoh pelabelan.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1

Pengertin Label Produk


Suatu produk di samping di beri merek, kemasan, juga harus diberi label. Menurut

Gitosudarmo

(2000:199),

label

adalah

bagian

dari

sebuah

produk

yang

berupa

keterangan/penjelasan mengenai barang tersebut atau penjualnya. Label merupakan suatu bagian
dari sebuah produk yang membawa informasi verbal tentang produk atau tentang penjualannya.
Angipora (1999:154) mengatakan bahwa label pada dasarnya dapat merupakan bagian
dari sebuah kemasan (pembungkus) atau dapat merupakan etikat lepas yang ditempelkan pada
produk.Dengan demikian, sudah sewajarnya kalau antara kemasan, merek dan label dapat terjalin
satu hubungan yang erat sekali.
Label merupakan suatu bagian dari sebuah produk yang membawa informasi verbal
tentang produk atau penjualnya.
Menurut Tjiptono label merupakan bagian dari suatu produk yang menyampaikan
informasi mengenai produk dan penjual. Sebuah label biasa merupakan bagian dari kemasan,
atau bisa pula merupakan etiket (tanda pengenal) yang dicantelkan pada produk.
Sedangkan Kotler menyatakan bahwa label adalah tampilan sederhana pada produk atau
gambar yang dirancang dengan rumit yang merupakan satu kesatuan dengan kemasan. Label bisa
hanya mencantumkan merek atau informasi.
Basu Swasta mendefinisikan label yaitu bagian dari sebuah barang yang berupa
keterangan (kata-kata) tentang barang tersebut atau penjualnya. Jadi, sebuah label itu mungkin
merupakan bagian dari pembungkusnya, atau mungkin merupakan suatu etiket yang tertempel
secara langsung pada suatu barang.
2.2 Fungsi Label
Gitosudarmo (2000:199) dalam bukunya menjelaskan bahwa ada beberapa hal terkait
dengan label, seperti fungsi label dan beberapa macam label. Berikut penjelasann Fungsi Label,
yaitu :
1. Label mengidentifikasikan produk atau merek. Contoh : nama Bintang menggolongkan
produk
2. Label berfungsi menggolongkan produk.
5

Contoh : buah persik dalam kaleng diberi label golongan A, B, C. Menjelaskan beberapa
hal mengenai produk, yaitu siapa yang membuat, dimana dibuat, kapan dibuat, apa
isinya, bagaimana cara menggunakan dengan aman.
3. Sebagai alat promosi.
Menurut Kotler, fungsi label adalah:
1. Label mingidentifikasi produk atau merek
2. Label menentukan kelas produk
3. Label menggambarkan beberapa hal mengenai produk (siapa pembuatnya, dimana dibuat,
kapan dibuat, apa isinya, bagaimana menggunakannya, dan bagaimana menggunakan
secara aman)
4. Label mempromosikan produk lewat aneka gambar yang menarik. Pemberian label
dipengaruhi oleh penetapan, yaitu:
a. Harga unit (unit princing); menyatakan harga per unit dari ukuran standar.
b. Tanggal kadaluarsa (open dating); menyatakan berapa lama produk layak
dikonsumsi.
c. Label keterangan gizi (nutritional labeling); menyatakan nilai gizi dalam produk.

2.3

Syarat-syarat Dan Tujuan Pelebelan

Tujuan pelebelan :
1. Memberi informasi tentang isi produk yang diberi label tanpa harus membukaKemasan.
2. Berfungsi sebagai sarana komunikasi produsen kepada konsumen tentang Hal-hal yang
perlu diketahui oleh konsumen tentang produk tersebut,Terutama hal-hal yang kasat mata
atau tak diketahui secara fisik.
3. Memberi petunjuk yang tepat pada konsumen hingga diperoleh fungsi produkyang
optimum.4.Sarana periklanan bagi produsen.5.Memberi rasa aman bagi konsumen.
Syarat syarat pelabelan :
1. Nama Produk
Untuk membuat brand produk, yang perlu diperhatikan adalah mencantumkan nama jenis
olahan dan merek dagang yang digunakan. Contohnya seperti : Keripik Pisang Kusuka.
Kata Keripik pisang mewakili jenis produk dan Kusuka merupakan merek dagang
yang digunakan.
2. Komposisi

3. Berat bersih / Isi Netto


Mengingat produk olahan pangan bisa dikemas dalam berbagai ukuran, maka penting
bagi Anda untuk mencantumkan berat bersih produk pada label makanan. Sebab, selain
memperhatikan kualitas produk, sebagian konsumen juga mempertimbangkan kuantitas
produk di setiap kemasan makanan.
4. Nama dan Alamat Pabrik
Asal-usul produsen maupun distributor produk menjadi salah satu hal yang banyak
ditanyakan oleh calon konsumen. Biasanya untuk produk dalam negeri, nama dan alamat
produsen yang dicantumkan pada label makanan. Sedangkan untuk produk makanan
yang diimport dari luar negeri, maka perlu mencantumkan nama atau perusahaan yang
menjadi distributor atau importir produk tersebut.
5. No. Registrasi Badan POM (MD,Makanan Dalam Negeri/ML, Makanan Luar Negeri).
legalitas atau perizinan produk. Dari mulai izin yang dilekuarkan BPOM RI, izin halal
dari MUI, atau izin sementara yang dikeluarkan oleh dinas kesehatan setempat (biasanya
berupa izin P-IRT)
6. Kode Produksi (Barkode)7.Tanggal Kadarluarsa.Petunjuk atau carapenggunaan.Petunjuk
atau cara peyimpanan
Kode produksi merupakan alat yang dapat menjelaskan tentang proses produksi makanan
yang diproduksi pada kondisi dan waktu yang sama. Kode produksi biasanya dapat
disertai dengan atau berupa tanggal produksi yang meliputi tanggal, bulan, tahun
7

pembuatan. Dengan memperhatikan ketujuh hal di atas pada saat pembuatan desain label
makanan, diharapkan produk Anda bisa bersaing di pasaran dan mendatangkan omzet
penjualan yang cukup besar setiap bulannya.
7. Informasi Nilai Gizi
8. Label halal( Pencantuman tulisan halal diatur oleh keputusan bersamaMenteri
Kesehatan danMenteri Agama(MUI), Makanan halal adalah semua jenis makanan yang
tidak mengandung unsur atau bahan yangterlarang/haram dan atau yang diolah menurut
hukum-hukum agama Islam.)
9. Tulisan atau pernyataan (produk-produk tertentu)Ex...makanan yang mengandung bahan
yang berasal dari babi:MENGANDUNG BABI
2.4 Undang Undang Pelebelan
Pelebelan menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1996 Tentang
Pangan
Pasal 30
1. Setiap orang memproduksi atau memasukkan ke dalam wilayah Indonesia pangan yang
dikemas untuk diperdagangkan wajib mencantumkan label pada, di dalam, dan atau di
2.

kemasan pangan.
Label, sebagaimana dimaksud pada ayat (1), memuat sekurang-kurangnya keterangan

a.
b.
c.
d.

mengenai :
Mana produk;
Daftar bahan yang digunakan;
Berat bersih atau isi bersih;
Nama dan alamat pihak yang memproduksi atau memasukkan pangan ke dalam wilayah

Indonesia;
e. Keterangan tentang halal; dan
f. Tanggal, bulan, dan tahun kedaluarsa,
3. Selain keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Pemerintah dapat menetapkan
keterangan lain yang wajib atau dilarang untuk dicantumkan pada label pangan.
Pasal 31
1. Keterangan pada label, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30, ditulis atau dicetak atau
ditampilakan secara tegas dan jelas sehingga dapat mudah dimengerti oleh masyarakat.
2. Keterangan pada label, sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditulis atau dicetak dengan
menggunakan bahasa Indonesia, angka Arab, dan huruf Latin.

3. istilah asing, selain sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dapat dilakukan sepanjang
tidak ada padanannya, tidak dapat diciptakan padanannya, atau digunakan untuk
kepentingan perdagangan pangan ke luar negeri.
Pasal 32
Setiap orang dilarang mengganti, melabel kembali, atau menukar tanggal, bulan dan
tahun kedaluarsa pangan yang diedarkan.
Pasal 33
1. Setiap label dan atau iklan tentang pangan yang diperdagangkan harus memuat
keterangan mengenai pangan dengan benar dan tidak menyesatkan.
2. Setiap orang dilaranga memberikan keterangan atau pernyataan tentang pangan yang
diperdagangkan melalui, dalam, dan atau denga label atau iklan apabila keterangan atau
pernyataan tersebut tidak benar dan atau menyesatkan.
3. Pemerintah mengatur, mengawasi, dan melakukan tindakan yang diperlukan agar iklan
tentang pangan yang diperdagangkan tidak memuat keterangan yang dapat menyesatkan.
Pasal 34
1. Setiap orang yang menyatakan dalam label atau iklan bahwa pangan yang
diperdagangkan adalah sesuai dengan persyaratan agama atau kepercayaan tertentu
bertanggung jawab atas kebenaran pernyataan berdasarkan persyaratan agama atau
kepercayaan tersebut.
2. Label tentang pangan olahan yang dierdagangkan untuk bayi, anak berumur di bawah
lima tahun, dan ibu yang sedang hamil atau menyusui wajib memuat keterangan tentang
peruntukan, cara penggunaan, dan atau keterangan lain yang perlu diketahui mengenai
dampak pangan terhadap kesehatan manusia.
Pasal 35
Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30, Pasal 31, Pasal 33, dan Pasal 34
ditetapkan lebih lanjut denga Peraturan Pemerintah

A. Pedoman Umum Pelabelan di Indonesia


Peraturan pelabelan produk pangan olah di Indonesia diatur dalam peraturan Menteri
Kesehatan RI No. 79/Menkes/PER/III/1978. Dalam peraturan tentang label dan periklanan
makanan ini diatur tentang tata cara pelabelan serta ketentuan-ketentuan yang menyertainya.
Peraturan ini telah dilengkapi dengan keputusan Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan
Makanan (Dirjen POM) No. 02240/B/S/SK//VII/1991 yang diterbitkan pada tanggal 2 Juli 1996.
9

Sesuai dengan peraturan yang berlaku, label harus dapat memberikan informasi yang tidak
menyesatkan mengenai sifat, bahan kandungan, asal, daya tahan, nilai ataupun kegunaannya.
Label dan periklanan harus jelas dan berisi keterangan yang lengkap serta mudah dibaca. Untuk
itu dalam peraturan-peraturan tersebut, khususnya dalam surat keputusan Dirjen POM.
Dimuat tatacara terperinci yang perlu dipatuhi oleh pembuat label. Bagi produk-produk
pangan untuk tujuan ekspor, pelabelan tentunya harius juga memperhatikan peraturan pelabelan
yang berlaku di negara tujuan ekspor, misalnya NLEA (the Nutrition Labeling and Education )
untuk USA atau JAS (Japan Agriculture Safety) untuk Jepang, selain juga peraturan dari
organisasi dunia, seperti Codex Alimentarius Commision (WHO). Pelabelan di Indonesia ditulis
berdasarkan pedoman yang meliputi kriteria penulisan dan isi label. Kriteria penulisan label
mencakup :
A.
B.
C.
D.
E.

tulisan dengan huruf Latin atau Arab.


ditulis dengan bahasa Indonesia dengan huruf Latin atau Arab.
ditulis lengkap, jelas, mudah dibaca (ukuran huruf minimal 0,75 mm, warna kontras).
tidak boleh dicantumkan kata, tanda, gambar dan sebagainya yang meyesatkan.
tidak boleh dicantumkan referensi, nasihat, pernyataan dari siapapun dengan tujuan
menaikkan penjualan. Isi label mencakup :
a. informasi yang harus dicantumkan pada label.
b. pernyataan (claim) pada label periklanan.
c. gambar pada label/iklan.

2.5 Contoh Pelebelan


Saya mengambil contoh pelebelan halal.
A. Pengertian halal
Menurut LPPOM MUI (Lembaga Pengkajian Pangan , Obat, dan Kosmetik Majelis Ulama
Indonesia), yang dimaksud dengan produk halal adalah produk yang memenuhi syarat kehalalan
sesuai syariat islam (www.wikipedia.org). Syarat kehalalan produk tersebut meliputi:
a. Tidak mengandung babi dan bahan bahan yang berasal dari babi
b. Tidak mengandung bahan-bahan yang diharamkan seperti; bahan yang berasal dari organ
manusia,darah, dan kotoran-kotoran.
c. Semua bahan yang berasal dari hewan yang disembelih dengan syariat Islam.
d. Semua tempat penyimpanan tempat penjualan pengolahan dan transportasinya tidak
boleh digunakan untuk babi; jika pernah digunakan untuk babi atau barang yang tidak
halal lainnya terlebih dahulu dibersihkan dengan tata cara yang diatur menurut syariat.
B. Pengertian Labelisasi Halal
10

Label adalah bagian dari sebuah produk yang berupa keterangan/penjelasan mengenai
barang tersebut atau penjualnya (Gitosudarmo,2000:199). Sedangkanyang dimaksud dengan
produk halal menurut LPPOM MUI (Lembaga Pengkajian Pangan, Obat, dan Kosmetik Majelis
Ulama Indonesia), adalah produk yang memenuhi syarat kehalalan sesuaisyariat islam.
Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa labelisasi halal adalah
pencantuman keterangan/penjelasan halal pada kemasan sebuah produk yang memenuhi syarat
kehalalan sesuai dengan syariat islam. Labelisasi halal merupakan salah satu poin penting di
dalam penelitian ini.
Menurut Rangkuti (2010:8), labelisasi halal adalah pencantuman tulisan atau pernyataan
halal pada kemasan produk untuk menunjukkan bahwa produk yang dimaksud berstatus sebagai
produk halal. Label halal sebuah produk dapat dicantumkan pada sebuah kemasan apabila
produk tersebut telah mendapatkan sertifikat halal oleh BPPOM MUI. Sertifikasi dan labelisasi
halal bertujuan untuk memberikan kepastian hukum dan perlindungan terhadap konsumen, serta
meningkatkan daya saing produk dalam negeri dalam rangka meningkatkan pendapatan
Nasional.
C. Proses Labelisasi Halal
Ada beberapa proses yang harus dilalui oleh para pemasar yang ingin mendapatkan
keterangan halal untuk produk yang diproduksinya. Tetapi sebelum mendapatkan keterangan
halal, sebuah produk yang diproduksi oleh sebuah perusahaan harus terlebih dahulu memperoleh
sertifikat halal dari Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama
Indonesia atau sering disebut dengan LPPOM MUI. Untuk memperoleh sertifikat halal, maka
LPPOM MUI memberikan ketentuan bagi perusahaan, seperti yang terdapat pada situs
(www.riau1.kemenag.go.id). Ketentuannya adalah sebagai berikut:
a. Sebelum produsen mengajukan sertifikat halal terlebih dahulu harus mempersiapkan
Sistem Jaminan Halal.Penjelasan rinci tentang Sistem Jaminan Halal dapat merujuk
kepada Buku Panduan Penyusunan Sistem Jaminan Halal yang dikeluarkan oleh LP POM
MUI.
b. Berkewajiban mengangkat secara resmi seorang atau tim Auditor Halal Internal (AHI)
yang bertanggungjawab dalam menjamin pelaksanaan produksi halal.
c. Berkewajiban menandatangani kesediaan untuk diinspeksi secara mendadak tanpa
pemberitahuan sebelumnya oleh LPPOM MUI.
11

d. Membuat laporan berkala setiap 6 bulan tentang pelaksanaan Sistem Jaminan Halal.
Setelah semua ketentuan di atas telah dipenuhi, maka produsen dapat lanjut ke proses
prosedur sertifikasi halal. Adapun prosedur yang harus dijalani adalah sebagai berikut :
a. Pertama-tama produsen yang menginginkan sertifikat halal mendaftarkan ke
sekretariat LPPOM MUI.
b. Setiap produsen yang

mengajukan

permohonan

Sertifikat

Halal

bagi

produknya,harus mengisi Borang yang telah disediakan. Borang tersebut berisi


informasitentang data perusahaan, jenis dan nama produk serta bahan-bahan
yangdigunakan.
c. Barang yang sudah diisi beserta dokumen pendukungnya dikembalikan ke
sekretariat

LPPOM

MUI

untuk

diperiksa

kelengkapannya,

dan

bila

belummemadai perusahaan harus melengkapi sesuai dengan ketentuan.


d. LPPOM MUI akan memberitahukan perusahaan mengenai jadwal audit.
TimAuditor LPPOM MUI akan melakukan pemeriksaan/audit ke lokasi produsen
danpada saat audit, perusahaan harus dalam keadaan memproduksi produk
yangdisertifikasi.
e. Hasil pemeriksaan/audit dan hasil laboratorium (bila diperlukan) dievaluasi
dalamRapat Auditor LPPOM MUI. Hasil audit yang belum memenuhi
persyaratandiberitahukan kepada perusahaan melalui audit memorandum. Jika
telah memenuhi persyaratan, auditor akan membuat laporan hasil audit guna
diajukan pada Sidang Komisi Fatwa MUI untuk diputuskan status kehalalannya.
f. Laporan hasil audit disampaikan oleh Pengurus LPPOM MUI dalam
SidangKomisi Fatwa Mui pada waktu yang telah ditentukan.
g. Sidang Komisi Fatwa MUI dapat menolaklaporan hasil audit jika dianggapbelum
memenuhi

semua

persyaratan

yangtelah

ditentukan,

dan

hasilnya

akandisampaikan kepada produsen pemohon sertifikasi halal.


h. Sertifikat Halal dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia setelah ditetapkan
status kehalalannya olehKomisi Fatwa MUI.
i. Sertifikat Halal berlaku selama 2 (dua) tahun sejak tanggal penetapan fatwa.
j. Tiga bulan sebelum masa berlaku Sertifikat Halal berakhir, produsen harus
mengajukan perpanjangan sertifikat halal sesuai dengan aturan yang telah
ditetapkan LPPOM MUI. Kemudian dilakukanlah tata cara pemeriksaan (Audit)
mulai dari manajemen, bahan-bahan baku, dll. Pemeriksaan (audit) produk halal
mencakup :

12

1. Manajemen produsen dalam menjaminkehalalan produk (Sistem Jaminan


Halal).
2. Pemeriksaan dokumen-dokumen spesifikasiyang menjelaskan asal-usul
bahan,komposisi

dan proses

pembuatannya

dan/atau

sertifikat

halal

pendukungnya,dokumen pengadaan dan penyimpanan bahan, formula


produksi serta dokumenpelaksanaan produksi halal secara keseluruhan.
3. Observasi lapangan yang mencakup proses produksi secara keseluruhan mulai
dari penerimaan bahan, produksi, pengemasan dan penggudangan serta
penyajianuntuk restoran/catering/outlet.
4. Keabsahan dokumen dan kesesuaian secara fisik untuk setiap bahan
harusterpenuhi.
5. Pengambilan contoh dilakukan untuk bahan yang dinilai perlu.
Setelah semua proses dilalui dan dinyatakan kehalalannya, maka sertifikat halal dapat
dikeluarkan. Proses selanjutnya adalah pencantuman label halal di kemasan produk yang
dinyatakan halal. Pencantuman label halal inilah yang sering kita dengar dengan sebutan
labelisasi halal. Bagi Perusahaan yang ingin mendaftarkan Sertifikasi Halal ke LPPOM MUI ,
baik industry pengolahan (pangan, obat, kosmetika), Rumah Potong Hewan (RPH),
restoran/katering, maupun industri jasa (distributor, warehouse, transporter, retailer) harus
memenuhi Persyaratan Sertifikasi Halal yang tertuang dalam Buku HAS 23000 (Kebijakan,
Prosedur, dan Kriteria).
BAGAN PROSES SERTIFIKASI HALAL

13

BAB 3
PENUTUP
3.1

Kesimpulan
Label merupakan suatu bagian dari sebuah produk yang membawa informasi verbal

tentang produk atau penjualnya.


Menurut Tjiptono label merupakan bagian dari suatu produk yang menyampaikan
informasi mengenai produk dan penjual. Sebuah label biasa merupakan bagian dari kemasan,
atau bisa pula merupakan etiket (tanda pengenal) yang dicantelkan pada produk.
1. Label mengidentifikasikan produk atau merek. Contoh : nama Bintang menggolongkan
produk
14

2. Label berfungsi menggolongkan produk. Contoh : buah persik dalam kaleng diberi label
golongan A, B, C. Menjelaskan beberapa hal mengenai produk, yaitu siapa yang
membuat, dimana dibuat, kapan dibuat, apa isinya, bagaimana cara menggunakan dengan
aman.
3. Sebagai alat promosi.
3.2

Saran

Setelah pembaca membaca makalah ini, diharpkan mampu menaati peraturan saat
pelabelan.

DAFTAR PUSTAKA
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta: Rineka
Cipta,2006,

hlm. 65

Philip Kotler dan Gary Amstrong, Dasar-Dasar Pemasaran, Jakarta: Prenhallindo, 1997, hlm.
274
LP POM MUI, Pedoman Untuk Memperoleh SERTIFIKAT HALAL, Semarang, 2003, hlm.
Philip Kotler,Manajemen Penjualan, Jakarta : Erlangga, 1984, hlm. 120
Angipora, Marinus, Dasar-Dasar Pemasaran, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002,
hlm. 192
Tjiptono, Fandy, Strategi Pemasaran, Edisi 2, Yogyakarta: Penerbit Andi, 1997, hlm. 107
Philip Kotler, Manajemen Pemasaran, Jilid 2, Jakarta: Prenhallindo, 2000, hlm. 477
15

16