You are on page 1of 17

BAB II

TINJAUAN UMUM
2.1.

Lokasi dan Kesampaian Daerah


Lokasi penambangan Batuandesit secara administratif terletak pada, Desa

Somorejo , Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah


dengan batas daerah:
a.
b.
c.
d.

Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Hargorejo.


Sebelah Barat Desa Kalirejo, Kecamatan Kokap, D.I.Yogayakarta.
Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Tlogoketes.
Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Krendetan.

Secara astronomis terletak pada 1100154,63 BT - 110026,77 BT dan


74923,87 LS - 74933,62 LS dengan ketinggian 142 meter diatas permukaan
laut (Gambar 2.1)
Lokasi penambangan dapat ditempuhi melalui perjalanan darat berupa
jalan aspal dengan menggunakan kendaraan bermotor baik sepeda motor maupun
mobil melalui beberapa jalan artenatif :
a. Dari arah Yogyakarta ditempuh kurang lebih 90 menit, kearah barat melalui
jalan Jogja Purworejo lalu masuk ke Desa Somorejo sejauh 3 km.
b. Dari arah Purworejo kearah selatan melalui jalan provinsi Purworejo- Jogja
30 menit lalu masuk ke Desa Somorejo sejauh 3 km.
CV. GUNUNG MULIA adalah perusahaan yang bergerak di bidang
penambangan batuandesit. Perusahaan ini terletak di Desa Somorejo, Kecamatan
Bagelen, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. CV. GUNUNG MULIA mulai
beroperasi pada Januari 2016, hingga saat ini masih dalam tahap development.
CV.GUNUNG MULIAmempunyai daerah WIUP seluas 11.1 Ha.

390000

392500

395000

397500

9
1
4
2
5
0
0

KECAMATAN
PURWOREJO

DESA KEMANUKAN

PETA KESAMPAIAN DAERAH


CV. GUNUNG MULIA
DESA SOMOREJO
KECAMATAN BAGELEN
KABUPATEN PURWOREJO
PROVINSI JAWA TENGAH

KECAMATAN
KALIGESING

DESA PIJI

9
1
4
0
0
0
0

KECAMATAN
BANYUURIP
DESA SOKO

DESA SEMAGUNG

3 km

DESA SEMONO
DESA TLOGOKOTES

DESA DURENSARI

LEGENDA :

9
1
3
7
5
0
0

DESA KALIREJO

KECAMATAN
PURWODADI

BATAS DESA
DESA SOKOAGUNG

BATAS KECAMATAN

KECAMATAN
BAGELEN
DESA HARGOREJO

9
1
3
5
0
0
0

DESA BAGELEN

LOKASI
PENELITIAN

DESA SOMOREJO

JALAN KERETA API

DESA KRENDETAN

DESA TLOGOKOTES
DESA BUGEL

BATAS PROVINSI

KULON PROGO
DIY

JALAN PROVINSI

9
1
3
2
5
0
0

SUNGAI
DESA DADIREJO

9
1
4
3
0
0
0

INDEKS PETA KABUPATEN PURWOREJO

Sumber : Data perusahaan CV.Gunung Mulia

Gambar 2.1
Peta Kesampaian Daerah
2.2.

Iklim dan Curah Hujan


Kabupaten Purworejo mempunyai iklim tropis, dengan dua musim yaitu

musim kemarau dan musim penghujan. Kondisi curah hujan digambarkan dalam
curah hujan pada tahun 2006-2015. Data curah hujan diperoleh dari Balai
Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Kabupaten Purworejo. Dari data curah
hujan tersebut dapat ditentukan jumlah hari hujan setiap bulannya, sehingga bisa
dihitung hari kerja efektifnya, karena ketika dalam suatu hari terjadi hujan dengan
intensitas tinggi kegiatan penambangan di CV. GUNUNG MULIA harus segera
dihentikan dengan alasan safety.

Tabel 2.1
Data Curah Hujan rata-rata Bulanan
Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah tahun 2006 2015

Sumber: Balai PSDA Kabupaten Purworejo

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nop Des
Sumber: Balai PSDA Kabupaten Purworejo

Gambar 2.2
Grafik Curah Hujan rata-rata bulanan
Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah tahun 2006 2015

Jan Feb Mar Apr Mei Jun

Jul Agt Sep Okt Nop Des

Sumber: Balai PSDA Kabupaten Purworejo

Gambar 2.3
Grafik Hari Hujan bulanan
Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah tahun 2006 2015
2.3.

Keadaan Geologi
Keadaan geologi dilokasi bahan galian Batuandesit di daerah Desa

Somorejo, Kecamatan Bagelen meliputi kondisi lithologi, geologi struktur dan


geoteknik. Bahan galian Batuandesit di Desa Somorejo tertutup secara tidak
merata dibeberapa tempat oleh lapisan penutup berupa lempung yang berwarna
coklat dengan ketebalan antara 1,5 2 meter. Lapisan penutup yang tebal pada
umumnya berada di bagian yang relatif lebih rendah sedangkan lapisan yang tipis
menempati bagian bagian yang relatif agak tinggi / menonjol keatas (puncak).
2.3.1. Morfologi
Daerah penelitian mencakup morfologi perbukitan di Desa Somorejo
Kecamatan Bagelen Kabupaten Purworejo yang termasuk ke dalam wilayah
Pegunungan Progo Barat yang secara fisiografi merupakan suatu kubah dengan
puncaknya yang relatif datar dan sisi-sisinya yang terjal. Pegunungan Progo di
sebelah utara dan timur di batasi oleh lembah sungai Progo. Dataran endapan
alluvial pantai merupakan batas selatannya, sedangkan di sebelah barat
pegunungan Progo ini di batasi oleh dataran rendah Purworejo.

2.3.2. Stratigrafi
Menurut Sujanto dan Ruskamil (1975) daerah Purworejo merupakan
daerah tinggian yang dibatasi oleh tinggian dan rendahan Kebumen di bagian
barat dan Yogyakarta di bagian timur, yang didasarkan pada pembagian
tektofisiografi wilayah Jawa Tengah bagian selatan. Yang mencirikan tinggian
Purworejo yaitu banyaknya gunung api purba yang timbul dan tumbuh di atas
batuan paleogen, dan ditutupi oleh batuan karbonat dan napal yang berumur
neogen.
Dalam stratigrafi regional mengenai daerah fieldtrip, dibahas umur batuan
berdasarkan batuan penyusunnya, untuk itu perlu diketahui sistem umur batuan
penyusun tersebut. Sistem tersebut antara lain :
1. Sistem Eosen
Batuan yang menyusun sistem ini adalah batu pasir, lempung, napal, napal
pasiran, batu gamping, serta banyak kandungan fosil foraminifera maupun
moluska. Sistem eosen ini disebut Nanggulan group. Tipe dari sistem ini
misalnya di desa Kalisongo, Nanggulan Kulon Progo, yang secara keseluruhannya
tebalnya mencapai 300 m. Tipe ini dibagi lagi menjadi empat yaitu Yogyakarta
beds, Discoclyina, Axiena Beds dan Napal Globirena, yang masing masing sistem ini tersusun oleh batu pasir, napal, napal pasiran, lignit dan
lempung. Di sebelah timur Nanggulan group ini berkembang fasies gamping
yang kemudian dikenal sebagai gamping eosen yang mengandung fosil
foraminifera, colenterata, dan moluska.
2. Sistem Oligosen Miosen
Sistem oligosen miosen terjadi ketika kegiatan vulkanisme yang
memuncak dari Gunung Menoreh, Gunung Gadjah, dan Gunung Ijo yang berupa
letusan dan dikeluarkannya material material piroklastik dari kecil sampai balok
yang berdiameter lebih dari 2 meter. Kemudian material ini disebut formasi
andesit tua, karena material vulkanik tersebut bersifat andesitik, dan terbentuk
sebagai lava andesit dan tuff andesit. Sedang pada sistem eosen, diendapkan pada
lingkungan laut dekat pantai yang kemudian mengalami pengangkatan dan
perlipatan yang dilanjutkan dengan penyusutan air laut. Bila dari hal tersebut,

10

maka sistem oligosen miosen dengan formasi andesit tuanya tidak selaras
dengan sistem eosen yang ada dibawahnya. Diperkirakan ketebalan istem ini 600
m. Formasi andesit tua ini membentuk daerah perbukitan dengan puncak puncak
miring.
3. Sistem Miosen
Setelah pengendapan formasi andesit tua daerah ini mengalami
penggenangan air laut, sehingga formasi ini ditutupi oleh formasi yang lebih muda
secara tidak selaras. Fase pengendapan ini berkembang dengan batuan
penyusunnya terdiri dari batu gamping reef, napal, tuff breksi, batu pasir, batu
gamping globirena dan lignit yang kemudian disebut formasi jonggrangan, selain
itu juga berkembang formasi sentolo yang formasinya terdiri dari batu gamping,
napal dan batu gamping konglomeratan. Formasi Sentolo sering dijumpai
kedudukannya diatas formasi Jonggrangan. Formasi Jonggrangan dan formasi
Sentolo sama sama banyak mengandung fosil foraminifera yang beumur
burdigalian miosen. Formasi formasi tersebut memiliki persebaran yang luas
dan pada umumnya membentuk daerah perbukitan dengan puncak yang relatif
bulat. Diakhir kala pleistosen daerah ini mengalami pengangkatan dan pada
kuarter terbentuk endapan fluviatil dan vulkanik dimana pembentukan tersebut
berlangsung terus menerus hingga sekarang yang letaknya tidak selaras diatas
formasi yang terbentuk sebelumnya.
Berdasarkan sistem umur yang ditentukan oleh penyusun batuan stratigrafi
regional menurut Wartono Rahardjo dkk(1977), Wirahadikusumah (1989), dan
Mac Donald dan partners (1984), daerah penelitian dapat dibagi menjadi 3
formasi, yaitu :
a.

Formasi Andesit Tua


Formasi ini mempunyai batuan penyusun berupa breksi andesit, lapili tuff,

tuff, breksi lapisi , Aglomerat, dan aliran lava serta batu pasir vulkanik yang
tersingkap di daerah Purworejo dan Kulon Progo. Formasi ini diendapkan secara
tidak selaras dengan formasi nanggulan dengan ketebalan 660 m. Diperkirakan
formasi ini formasi ini berumur oligosen miosen.

11

b.

Formasi Jonggrangan
Formasi ini mempunyai batuan penyusun yang berupa tuff, napal, breksi,

batu lempung dengan sisipan lignit didalamnya, sedangkan pada bagian atasnya
terdiri dari batu gamping kelabu bioherm diselingi dengan napal dan batu
gamping berlapis. Ketebalan formasi ini 2540 meter. Letak formasi ini tidak
selaras dengan formasi andesit tua. Formasi jonggrangan ini diperkirakan berumur
miosen. Fosil yang terdapat pada formasi ini ialah poraminifera, pelecypoda dan
gastropoda.
c.

Formasi Sentolo
Formasi Sentolo ini mempunyai batuan penyusun berupa batu pasir

napalan dan batu gamping, dan pada bagian bawahnya terdiri dari napal tuffan.
Ketebalan formasi ini sekitar 950 m. Letak formasi ini tak selaras dengan formasi
jonggrangan. Formasi Sentolo ini berumur sekitar miosen bawah sampai
pleistosen.
Sedang menurut Van Bemellen Pegunungan Kulon Progo dikelompokkan
menjadi beberapa formasi berdasarkan batuan penyusunnya. Formasi tersebut
dimulai dari yang paling tua yaitu sebagai berikut
a.

Formasi Nanggulan
Formasi Nanggulan mempunyai penyusun yang terdiri dari batu pasir,

sisipan lignit, napal pasiran dan batu lempungan dengan konkresi limonit, batu
gamping dan tuff, kaya akan fosil foraminifera dan moluska dengan ketebalan 300
m. berdasarkan penelitian tentang umur batuannya didapat umur formasi
nanggulan sekitar eosen tengah sampai oligosen atas. Formasi ini tersingkap di
daerah Kali Puru dan Kali Sogo di bagian timur Kali Progo. Formasin Nanggulan
dibagi menjadi 3, yaitu:
1.

Axinea Beds
Formasi paling bawah dengan ketebalan lapisan sekitar 40 m, terdiri dari abut

pasir, dan batu lempung dengan sisipan lignit yang semuanya berfasies litoral,
axiena bed ini memiliki banyak fosil pelecypoda.

12

2. Yogyakarta Beds

Formasi yang berada di atas axiena beds ini diendapkan secara selaras dengan
ketebalan sekitar 60 m. terdiri dari batu lempung ynag mengkonkresi nodule,
napal, batu lempung, dan batu pasir. Yogyakarta beds mengandung banyak fosil
poraminifera besar dan gastropoda.
3. Discocyclina Beds

Formasi paling atas ini juga diendapkan secara selaras diatas Yogyakarta beds
denagn ketebalan sekitar 200m. Terdiri dari batu napal yang terinteklasi dengan
batu gamping dan tuff vulkanik, kemudian terinterklasi lagi dnegan batuan arkose.
Fosil yang terdapat pada discocyclina beds adalah discocyclina.
b.

Formasi Andesit Tua


Formasi ini mempunyai batuan penyusun berupa breksi andesit, lapili tuff,

tuff, breksi lapisi , Aglomerat, dan aliran lava serta batu pasir vulkanik yang
tersingkap di daerah Purworejo dan Kulon progo. Formasi ini diendapkan secara
tidak selaras dengan formasi nanggulan dengan ketebalan 660 m. Diperkirakan
formasi ini formasi ini berumur oligosen miosen.
c.

Formasi Jonggrangan
Formasi ini mempunyai batuan penyusun yang berupa tufa, napal, breksi,

batu lempung dengan sisipan lignit didalamnya, sedangkan pada bagian atasnya
terdiri dari batu gamping kelabu bioherm diselingi dengan napal dan batu
gamping berlapis. Ketebalan formasi ini 2540 meter. Letak formasi ini tidak
selaras dengan formasi andesit tua. Formasi jonggrangan ini diperkirakan berumur
miosen. Fosil yang terdapat pada formasi ini ialah poraminifera, pelecypoda dan
gastropoda.
d.

Formasi Sentolo
Formasi Sentolo ini mempunyai batuan penyusun berupa batu pasir

napalan dan batu gamping, dan pada bagian bawahnya terdiri dari napal tuffan.
Ketebalan formasi ini sekitar 950 m. Letak formasi initak selaras dengan formasi
jonggrangan. Formasi Sentolo ini berumur sekitar miosen bawah sampai
pleistosen.

13

e.

Formasi Alluvial dan Gumuk Pasir


Formasi ini endapan secara tidak selaras terhadap lapisan batuan yang

umurnya lebih tua. Litologi formasi ini adalah batu pasir vulkanik. Endapan
gumuk pasir terdiri dari pasir pasir baik yang halus maupun yang kasar,
sedangkan endapan alluvialnya terdiri dari batuan sedimen yang berukuran pasir,
kerikir, lanau dan lempung secara berselang seling.
Dari seluruh pegunungan Kulon Progo sendiri termasuk dalam formasi
Andesit tua. Formasi ini mempunyai litologi yang penyusunnya berupa breksi
andesit, aglomerat, lapili, tuff, dan sisipan aliran lava andesit. Dari penelitian yang
dilakukan Purmaningsih (1974) didapat beberapa fosil plankton seperti
Globigerina Caperoensis bolii, Globigeria Yeguaensis weinzeierl dan applin dan
Globigerina Bulloides blow. Fosil tersebut menunjukka batuan berumur Oligosen
atas. Karena berdasarkan hasil penelitian menunjukkan pada bagian terbawah
gunung berumur eosen bawah, maka oleh Van bemellen andesit tua diperkirakan
berumur oligosen atas sampai miosen bawah dengan ketebalan 660 m.
Jenis batuandesit yang ada di Desa Somorejo termasuk di dalam Formasi
Andesit Tua, dengan dominasi batuan beku vulkanik berupa Batuandesit, yang
keberadaannya tersebar secara merata hampir di seluruh daerah ini. Sebagian
besar Batuandesit berasosiasi satuan batulempung yang telah lapuk, satuan
batulempung ini merupakan hasil lapukan yang cukup lama dari satuan
Batuandesit yang ada.
Jenis magma diorit merupakan salah satu magma terpenting dalam
golongan kapur alkali sebagai sumber terbentuknya andesit. Lelehan magma
tersebut merupakan kumpulan mineral silikat yang kemudian menghablur akibat
pendinginan magma pada temparatur antara 1500 2500 C membentuk andesit
berkomposisi mineral felspar plagioklas jenis kalium felspar natrium plagioklas,
kuarsa, felspatoid serta mineral tambahan berupa hornblenda, biotit dan piroksen.
Andesit bertekstur afanitik mikro kristalin dan berwarna gelap
Batuandesit di daerah Desa Somorejo mengalami proses pelapukan
sehingga di bagian atas dari batuan Batuandesit segarnya ditutupi oleh bagian
batuandesit lapuk yang dinamakan kulit batuan. Pada batuan Batuandesit lapuk,
14

komposisi batuannya lebih dominan diisi oleh mineral-mineral lempung. Lapisan


ini hampir menutupi seluruh daerah pengamatan dengan ketebalan yang berbedabeda, umumnya berkisar 1.5 2 meter.
Batuandesit pada daerah penelitian bersifat pejal (massif) dan kompak
dengan tekstur porfiro granitik dengan nilai kuat tekan berkisar antara 90,82
kg/cm2, berat isi asli 2,48 ton/m3. Sehingga Batuandesit ini dapat dijadikan
sebagai batu ornamen dinding maupun lantai bangunan gedung atau untuk batu
belah untuk pondasi bangunan / jalan raya. Selain itu batuandesit juga dibutuhkan
untuk persiapan proyek pemerintah, sebagai contoh pembangunan bandara di
Kulon Progo.

Sumber : Regional Stratigraphic from field mapping on Purworejo

Gambar 2.5
Stratigrafi Kabupaten Purworejo

15

Sumber : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi

Gambar 2.4
Peta Geologi Daerah Penelitian

16

Pada lokasi penambangan batuandesit CV.GUNUNG MULIA ditemukan


beberapa singkapan batuandesit salah satunnya yang ditujukan oleh gambar 2.6.
Singkapan tersebut berada pada koordinat (749'32.56"S; 110 2'4.26"E;30).

Batuandesit

Gambar 2.6
Singkapan Batuandesit di CV. Gunung Mulia

2.4.

Keadaan Sosial dan Ekonomi


Kecamatan Bagelen merupakan salah satu Kecamatan yang berada di

Kabupaten Purworejo. Kecamatan Bagelen terdiri dari 17 desa, Desa Somorejo


merupakan lokasi daerah penelitian. Jumlah penduduk di Kecamatan Bagelen
pada tahun 2014 adalah 29.124 jiwa. Sebagian besar mata pencaharian penduduk
di Kecamatan Bagelen adalah sebagai petani. Luas Kecamatan Bagelen yaitu
63.76 km2, yang sebagian besar terdiri dari lahan perkebunan dan persawahan.
Keadaan sosial ekonomi penduduk Desa Somorejo, Kecamatan Bagelen
rata-rata sudah tidak ada yang hidup dibawah garis kemiskinan, walaupun ada
sebagian kecil warga yang hidupnya menengah. Mayoritas penduduk di Desa
Somorejo adalah beragama Islam, hal ini dibuktikan dengan banyaknya tempat
ibadah yaitu Masjid dan Mushola. Norma dan adat istiadat di daerah ini dipegang
teguh oleh setiap warga. Ini dibuktikan dengan perilaku ramah yang diperlihatkan
oleh setiap warga.

2.5.

Gambaran Umum Kegiatan Penambangan Di CV. Gunung Mulia


17

2.5.1. Sistem dan Metode Penambangan


Pada area penambangan bahan galian batuandesit, kondisi bahan galian
batuandesit di Desa Somorejo, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo cukup
dekat dengan permukaan tanah dan hanya tertutup oleh lapisan tanah penutup
dengan ketebalan 1.5 - 2 meter sehingga tata cara penambangan yang sesuai
adalah dengan sistem tambang terbuka.
Penambangan batuandesit ini menggunakan metode quarry yaitu metode
penambangan yang diterapkan pada bahan galian mineral industri. Penambangan
dilakukan pada tiap tiap level dengan membuat jenjang pada tiap levelnya.
Metode ini dipilih dengan pertimbangan bahwa kondisi bahan galian yang
letaknya didekat permukaan tanah sehingga sangat efektif jika menggunakan
tambang terbuka. Untuk target produksi CV. GUNUNG MULIA sebesar 220.926
ton/tahun.
2.5.2. Kegiatan Persiapan Penambangan Batuandesit di CV. GUNUNG
MULIA. Terbagi menjadi tiga tahap yaitu :
a.

Land Clearing
Tahap land clearing yaitu pembersihan lahan atau pembabatan vegetasi

serta semak belukar yang ada pada areal IUP Operasi Produksi. Pembabatan
vegetasi dilakukan dengan menggunakan Backhoe dan peralatan manual seperti
gergaji mesin, sabit dan cangkul, sehingga semua batang pohon dan semak
belukar tidak mengganggu untuk pekerjaan penambangan selanjutnya.

b.

Gambar 2.7
Kegiatan Pembersihan Lahan
Pengupasan Tanah Penutup

18

Kegiatan pengupasan lapisan tanah penutup atau over burden di CV.


GUNUNG MULIA ini bertujuan untuk mengupas lapisan tanah yang menutupi
batuandesit yang akan ditambang. Pada CV. GUNUNG MULIA over burden
terdiri dari 2 lapisan material tanah penutup yang berbeda, yaitu tanah penutup
dan kulit batu. Kegiatan pengupasan over burden dilakukan dengan menggunakan
Backhoe. Pada tahap awal, pengupasan dilakukan pada atas bukit, sedangkan yang
lainnya dilakukan secara bertahap sesuai kemajuan tambang yang telah dicapai.
c.

Pembuatan Jalan Tambang Awal (Development Time)


Kegiatan persiapan penambangan selanjutnya meliputi dalam pembuatan

kegiatan sarana dan prasarana seperti jalan tambang, jalan angkut yang
menghubungkan antara lokasi pemasaran dan sebagainya.

Gambar 2.8
Pembuatan Jalan Tambang Awal
2.5.3. Tahapan Kegiatan Utama Penambangan Andesit CV. Gunung Mulia
Kegiatan penambangan dimaksudkan untuk memisahkan sebagian
batuandesit dari batuan asalnya dan menerapkan metode penambangan secara
quarry. Kegiatan penambangan batuandesit diantaranya :
1.

Pembongkaran
Pekerjaan ini dimaksudkan untuk membongkar andesit dari batuan asalnya

sehingga dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan yang diinginkan. Loosening


merupakan tahapan utama dari kegiatan penambangan yang bertujuan untuk
melepaskan material dari batuan induknya, sehingga di CV. GUNUNG MULIA

19

pembongkaran material dilakukan dengan cara mekanis menggunakan alat gali /


muat yaitu hydraulic rock breaker excavator Doosan DX225 LCA.

Gambar 2.9
Kegiatan Pembongkaran Batuandesit

2.

Pemuatan
Pemuatan

(Loading)

merupakan

kegiatan

yang

dilakukan

untuk

mengisikan endapan bahan galian andesit hasil pembongkaran ke dalam alat


angkut. Kegiatan loading dilakukan dengan menggunakan alat muat backhoe
Caterpillar 320B dan diisikan ke dalam dump truck Mitsubishi Colt Diesel 125PS.

Gambar 2.10
Kegiatan Pemuatan Batuandesit

3.

Pengangkutan

20

Kegiatan pengangkutan (Hauling) adalah kegiatan yang dilakukan untuk


mengangkut material andesit dari front penambangan untuk dibawa ke pemasaran
yang dituju. Pengangkutan dilaksanakan dengan sistem siklus yang artinya dump
truck yang telah dimuati langsung berangkat tanpa harus menunggu dump truck
yang lain dan setelah membongkar muatan langsung kembali ke lokasi
penambangan untuk dimuati kembali.
Kegiatan pengangkuatan menggunakan dump truck, dimana dalam satu
kali pengangkutan batuandesit yang dibawa 1 ritase dengan tonase sebanyak 13,3
ton atau 8m3. Dump truck yang digunakan yaitu Mitsubishi Colt Diesel 125PS.

Gambar 2.11
Kegiatan Pengangkutan Andesit CV. GUNUNG MULIA

2.5.1. Jenis dan Jumlah Peralatan yang Digunakan


Dalam pelaksanaan pekerjaan kegiatan operasi produksi Batuandesit, alat
yang digunakan dari penambangan hingga pengangkutan material tambang
sampai stockpile pengolahan batuandesit menggunakan peralatan antara lain
adalah dump truck sebanyak 1 unit digunakan untuk mengangkut produksi
penambangan sampai ke lokasi stockpile dengan merk Mitsubishi Colt Diesel
125PS, sedangkan untuk penggalian top soil, pemuatan top soil, pembuatan
saluran penyaliran dan pemuatan Batuandesit menggunakan alat excavator
Caterpillar 320B sebanyak 1 unit , alat hydraulic rock breaker excavator merk
Doosan DX225 LCA sebanyak 1 unit yang berguna untuk penggalian dan
pemecah batuan atau pembongkaran batuandesit, dan beberapa alat pendukung
21

yaitu dozer merk Mitsubishi yang digunakan untuk perataan jalan dan compactor
merk Junma Vibratory Roller YZC3 untuk pemadatan jalan tambang.

Gambar 2.12
Alat Pemadatan Jalan Tambang di CV. GUNUNG MULIA

Gambar 2.13
Alat Perata Jalan Tambang di CV. GUNUNG MULIA

22