Вы находитесь на странице: 1из 13

PORTOFOLIO

KASUS BEDAH
Abses Cruris Sinistra

Disusun Oleh :
dr. Rahmadani Ayu Azari
Pendamping :
dr. Dyah Noviyanti

RSUD SURADADI
KABUPATEN TEGAL
2016

Berita Acara Presentasi Portofolio

Pada hari ini, telah dipresentasikan portofolio oleh :


Nama

: Rahmadani Ayu Azari

Dengan judul

: Abses Cruris Sinistra

Topik

: Bedah

Nama pendamping

: dr. Dyah Noviyanti

Nama wahana

: RSUD Suradadi

Berita acara ini ditulis dan disampaikan sesuai dengan sesungguhnya.


Pendamping

dr. Dyah Noviyanti

BAB I
DESKRIPSI KASUS
Nama Peserta

: dr. Rahmadani Ayu Azari

Nama Wahana

: RSUD Suradadi

Topik

: Kasus Bedah
Abses Cruris Sinistra

Tanggal Kasus

: 11 Januari 2016

Nama Pasien

: Tn. S

Usia

: 51 tahun

JenisKelamin

: Laki-laki

Alamat

: Jatibogor

No. RM

: 030741

Pendamping

: dr. Dyah Noviyanti

NIP

ObyekPresentasi

Keilmuan
Diagnosti
c
Neonatus
Dewasa

Keterampilan
Manajemen

Deskripsi

Bayi
Lansia
: KasusBedah

Tujuan

: TinjauanPustaka

Bahan-bahan

Audit

Cara membahas
-

Diskusi

Penyegaran
Maalah

TinjauanPustaka
Istimewa

Anak
Ibuhamil

Remaja

- Riset

- Kasus

- Tinjauanpustaka

- Pos

- Email

- PresentasidanDiskusi

BAB II
LAPORAN KASUS
Nama Penderita

: Tn. S

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Umur

: 51tahun

Alamat

: Jatibogor 3/4

No. RM

: 030741

Tanggal Pemeriksaan : 11Januari 2016

KeluhanUtama

: kaki kiri bengkak

Anamnesis :
Pasien datang ke IGD RSUD Suradadi dengan keluhan kaki bengkak sebelah kiri sejak 3
hari yang lalu. Seminggu sebelum bengkak, 1 minggu yang lalu kaki kiri bagian bawah habis
terkena cangkul, luka cangkul 4x0,5x0,5 cm. Setelah terkena pacul tidak dibawa ke puskesmas
hanya dipijat-pijat. Semakin hari kakinya menjadi bengkak, merah, nyeri dan mengeluarkan
nanah dan keluhan lain yang dirasakan badan nggreges, kemudian dibawa ke puskesmas
suradadi dan dirujuk ke RSUD Suradadi.

- RPD:

Riwayat hipertensi disangkal


Riwayat penyakit Diabetes Mellitus disangkal.
Riwayat penyakit jantung disangkal
Riwayat keluarga dengan gejala sama disangkal
Riwayat penyakit pembekuan darah disangkal
Riwayat trauma setelah terkena cangkul
Riwayat gastritis sudah lama

-RPK
Di keluarga tidak ada yang mengalami keluhan serupa.
-R.Sosek
Pasien berobat menggunakan KIS (BPJS)

PEMERIKSAAN FISIS

a. Keadaan Umum

: sakit sedang, kesadarancompos mentis

b. Tanda Vital
TD

: 140/75

Nadi

: 86 x/menit

Frekuensi Pernapasan : 20 x/menit


Suhu

: 36,5 oC

c. Status internus

Kulit

pucat (-), tinea alba/corporis (-), dermatitis (-), kuning (-), malar
rush (-),tidak tampak adanya petechie di kedua lengan. Akral
dingin di ekstremitas atas (-/-), akral dingin di ekstremitas bawah
(-/-). CRT <2, Test Rumple Leed (-)

Kepala

Mesocephal,

Rambut

tidak mudah dicabut

Mata

cekung (-/-), konjungtiva anemis (-/-), skleraikterik (-/-), refleks


pupil (+/+), pupil isokor 3 mm, arcus senilis (+), subkonjungtiva
bleeding (-), hematom(-)

Hidung

Nafas cuping hidung (-/-),mimisan (-/-), discharge (-/-), nyeri


tekan(-/-)

Telinga

Bentuk normal, Discharge ( - / - ),pendengaran,

membrane timpani utuh (+/+), berdenging (-/-), nyeri tekan (-/-)

Mulut

Bibir kering ( - ), Bibir sianosis ( - ), bibir pecah-pecah (-),


sariawan (-), gusi bengkak dan berdarah (-), lidah kotor (-), oral
trush (-), lidah tremor (-), tepi hiperemis (-), atropi papil lidah (-),
tonsil T1-T1, faring hiperemis(-)

Leher

JVP ,Simetris, tidak ada pembesaran kelenjar getah bening,tidak


Ada pergeseran trakea, kakukuduk (-)

Thorax

simetris statis dan dinamis, retraksi intercostal (-), atropiotot


pectoralis mayor (-), venektasi (-), spider naevi (-), rambut ketiak
rontok (-), pembesaran kelenjar getah bening aksiler (-), nyeri
sternum (-), nyeritekan (-), flukstuasi (-)

i.

Jantung
o Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
o Palpasi

: Ictus cordis tidak melebar, tidak kuat angkat, thrill (-)

o Perkusi:

Batas kiri

Batas atas : ICS II, Linea parasternalis sinistra

Batas kanan : ICS IV, linea parastenalis dextra

Pinggang jantung : ICS III, Linea parasternalis sinistra

: ICS V, 2 cm medial linea midclavikularis

sinistra

o Auskultasi: BJ I & II reguler, Gallop ( - ), Murmur ( - ), intensitas normal


ii.

Paru
o Inspeksi

: simetriskiridankanan, bentuk normochest, pembuluh

darah tidak ada kelainan, bruit (-)


o Palpasi
: Sela iga kiri = kanan,fremittus raba dalam batas normal
kiri = kanan,nyeri tekan (-),massa tumor : (-)
o Perkusi
: Paru kanan dan kiri sonor
o Auskultasi
: vesikuler, ronki (-), wheezing (-)

Abdomen :
o Inspeksi

: Datar

o Auskultasi

: Bising usus ( + ) normal

o Perkusi

: Timpani di seluruh kuadran

o Palpasi

: supel

d. Status Lokalis
Kaki kiri bengkak, merah, dan nyeri dari bawah lutut hingga punggung kaki. Perabaan
suhu tidak begitu panas, nyeri tekan (-), fluktuatif (-). 10 cm dari lutut bagian medial
terdapat luka yang mengeluarkan nanah, 15 cm dari lutut terdapat luka bekas cangkul.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium
PEMERIKSAA

HASIL

SATUAN

NILAI NORMAL

DARAH LENGKAP
HB
9,7
Leukosit
14.400
LED
-

g/dl
/ul
/mm

12-16
4800-10800
0-20

Hitung jenis sel


Eosinofil
Basofil
Neutrofil batang
Neutrofil segmen
Limfosit
Monosit
Hematokrit
Protein plasma
Trombosit
Eritrosit
MCV
MCH
MCHC
RDW
GDS

%
%
%
%
%
%
%
g/dl
10^3
10^6
Fl
Pg
g/dl
%
mg/dl

1-2
0-1

29,9
413
3,62
82,6
26,8
32,4
112

PENATALAKSANAAN

Infus RL 20 tpm
Infus sanmol 3x1gram k/p

50-70
20-40
2-8
37-47
6-8
150-450
4.2-5.4
80-100
27-32
32-36
<200

Inj cefotaxim 2x1gram


Infus metronidazole 3x500mg
Bersihkan luka denganNaCl 0,9% dan balut kasa lembab

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
DEFINISI
Abses (Latin: abscessus) merupakan kumpulan nanah (netrofil yang telah mati)
yang terakumulasi di sebuah kavitas jaringan karena adanya proses infeksi (biasanya oleh
bakteri atau parasit) atau karena adanya benda asing (misalnya serpihan, luka peluru, atau
jarum suntik). Proses ini merupakan reaksi perlindungan oleh jaringan untuk mencegah
penyebaran/perluasan infeksi ke bagian tubuh yang lain. Abses adalah infeksi kulit dan
subkutis dengan gejala berupa kantong berisi nanah.
Abses adalah pengumpulan nanah yang terlokalisir sebagai akibat dari infeksi yang
melibatkan organisme piogenik, nanah merupakan suatu campuran dari jaringan nekrotik,
bakteri, dan sel darah putih yang sudah mati yang dicairkan oleh enzim autolitik.

Abses (misalnya bisul) biasanya merupakan titik mata, yang kemudian pecah;
rongga abses kolaps dan terjadi obliterasi karena fibrosis, meninggalkan jaringan parut
yang kecil.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa abses adalah suatu infeksi kulit
yang disebabkan oleh bakteri / parasit atau karena adanya benda asing (misalnya luka
peluru maupun jarum suntik) dan mengandung nanah yang merupakan campuran dari
jaringan nekrotik, bakteri, dan sel darah putih yang sudah mati yang dicairkan oleh enzim
autolitik.
Etiologi
1. Infeksi mikrobial
Salah satu penyebab yang paling sering ditemukan pada proses radang ialah
infeksi mikrobial. Virus menyebabkan kematian sel dengan cara multiplikasi
intraseluler. Bakteri melepaskan eksotoksin yang spesifik yaitu suatu sintesis
kimiawi yang secara spesifik mengawali proses radang atau melepaskan
endotoksin yang ada hubungannya dengan dinding sel.
2. Reaksi hipersentivitas
Reaksi hipersentivitas terjadi bila perubahan kondisi respons imunologi
mengakibatkan tidak sesuainya atau berlebihannya reaksi imun yang akan
merusak jaringan.
3. Agen fisik
Kerusakan jaringan yang terjadi pada proses radang dapat melalui trauma fisik,
ultraviolet atau radiasi ion, terbakar atau dingin yang berlebih (frosbite).
4. Bahan kimia iritan dan korosif
Bahan kimiawi yang menyebabkan korosif (bahan oksidan, asam, basa) akan
merusak jaringan yang kemudian akan memprovokasi terjadinya proses radang.
Disamping itu, agen penyebab infeksi dapat melepaskan bahan kimiawi spesifik
yang mengiritasi dan langsung mengakibatkan radang.
5. Nekrosis jaringan
Aliran darah yang tidak mencukupi akan menyebabkan berkurangnya pasokan
oksigen dan makanan pada daerah bersangkutan, yang akan mengakibatkan
terjadinya kematian jaringan, kematian jaringan sendiri merupakan stimulus yang

kuat untuk terjadinya infeksi. Pada tepi daerah infark sering memperlihatkan
suatu respons, radang akut.
Suatu infeksi bakteri bisa menyebabkan abses melalui beberapa cara:
a) Bakteri masuk ke bawah kulit akibat luka yang berasal dari tusukan jarum yang
tidak steril
b) Bakteri menyebar dari suatu infeksi di bagian tubuh yang lain
c) Bakteri yang dalam keadaan normal hidup di dalam tubuh manusia dan tidak
menimbulkan gangguan, kadang bisa menyebabkan terbentuknya abses.
Peluang terbentuknya suatu abses akan meningkat jika :
a) Terdapat kotoran atau benda asing di daerah tempat terjadinya infeksi
b) Daerah yang terinfeksi mendapatkan aliran darah yang kurang
c) Terdapat gangguan sistem kekebalan
Bakteri tersering penyebab abses adalah Staphylococus Aureus
Patofisiologi
Proses abses merupakan reaksi perlindungan oleh jaringan untuk mencegah
penyebaran atau perluasan infeksi ke bagian lain tubuh. Organisme atau benda asing
membunuh sel-sel lokal yang pada akhirnya menyebabkan pelepasan sitokin. Sitokin
tersebut memicu sebuah respon inflamasi (peradangan), yang menarik kedatangan
sejumlah besar sel-sel darah putih (leukosit) ke area tersebut dan meningkatkan aliran
darah setempat.
Struktur akhir dari suatu abses adalah dibentuknya dinding abses, atau kapsul,
oleh sel-sel sehat di sekeliling abses sebagai upaya untuk mencegah pus menginfeksi
struktur lain di sekitarnya. Meskipun demikian, seringkali proses enkapsulasi tersebut
justru cenderung menghalangi sel-sel imun untuk menjangkau penyebab peradangan
(agen infeksi atau benda asing) dan melawan bakteri-bakteri yang terdapat dalam
pus.Abses harus dibedakan dengan empyema. Empyema mengacu pada akumulasi nanah
di dalam kavitas yang telah ada sebelumnya secara normal, sedangkan abses mengacu
pada akumulasi nanah di dalam kavitas yang baru terbentuk melalui proses terjadinya
abses tersebut.
Abses adalah suatu penimbunan nanah, biasanya terjadi akibat suatu infeksi
bakteri. Jika bakteri menyusup ke dalam jaringan yang sehat, maka akan terjadi infeksi.

Sebagian sel mati dan hancur, meninggalkan rongga yang berisi jaringan dan sel-sel yang
terinfeksi. Sel-sel darah putih yang merupakan pertahanan tubuh dalam melawan infeksi,
bergerak ke dalam rongga tersebut dan setelah menelan bakteri, sel darah putih akan mati.
Sel darah putih yang mati inilah yang membentuk nanah, yang mengisi rongga tersebut.
Akibat penimbunan nanah ini, maka jaringan di sekitarnya akan terdorong.
Jaringan pada akhirnya tumbuh di sekeliling abses dan menjadi dinding pembatas abses,
hal ini merupakan mekanisme tubuh untuk mencegah penyebaran infeksi lebih lanjut.
Jika suatu abses pecah di dalam maka infeksi bisa menyebar di dalam tubuh maupun
dibawah permukaan kulit, tergantung kepada lokasi abses.
Manifestasi Klinis
Abses bisa terbentuk diseluruh bagian tubuh, termasuk paru-paru, mulut, rektum,
dan otot.Abses yang sering ditemukan didalam kulit atau tepat dibawah kulit terutama jika
timbul diwajah.
Gejala dari abses tergantung kepada lokasi dan pengaruhnya terhadap fungsi suatu
organ saraf. Gejalanya bisa berupa:
a)
b)
c)
d)
e)
f)

Nyeri
Nyeri tekan
Teraba hangat
Pembengakakan
Kemerahan
Demam

Suatu abses yang terbentuk tepat dibawah kulit biasanya tampak sebagai benjolan. Adapun
lokasi abses antara lain ketiak, telinga, dan tungkai bawah. Jika abses akan pecah, maka
daerah pusat benjolan akan lebih putih karena kulit diatasnya menipis. Suatu abses di
dalam tubuh, sebelum menimbulkan gejala seringkali terlebih tumbuh lebih besar.Paling
sering, abses akan menimbulkan nyeri tekan dengan massa yang berwarna merah, hangat
pada permukaan abses , dan lembut.

Abses yang progresif, akan timbul "titik" pada kepala abses sehingga Anda dapat
melihat materi dalam dan kemudian secara spontan akan terbuka (pecah).

Sebagian besar akan terus bertambah buruk tanpa perawatan. Infeksi dapat menyebar ke
jaringan di bawah kulit dan bahkan ke aliran darah.

Jika infeksi menyebar ke jaringan yang lebih dalam, Anda mungkin mengalami demam
dan mulai merasa sakit. Abses dalam mungkin lebih menyebarkan infeksi keseluruh
tubuh.

Pemeriksaan Diagnostik
Abses di kulit atau dibawah kulit sangat mudah dikenali, sedangkan abses dalam
seringkali sulit ditemukan. Pada penderita abses biasanya pemeriksaan darah
menunjukkan peningkatan jumlah sel darah putih. Untuk menentukan ukuran dan lokasi
abses dalam, bisa dilakukan pemeriksaan rontgen, USG, CT scan atau MRI.

Penatalaksanaan
a. Abses biasanya tidak membutuhkan penanganan menggunakan antibiotik. Namun
demikian, kondisi tersebut butuh ditangani dengan intervensi bedah, debridemen, dan
kuretase. Hal penting untuk diperhatikan bahwa penanganan hanya dengan
menggunakan antibiotik tanpa drainase pembedahan merupakan tindakan yang tidak
efektif. Hal tersebut terjadi karena antibiotik sering tidak mampu masuk ke dalam
abses, selain bahwa antibiotik tersebut seringkali tidak dapat bekerja dalam pH yang
rendah.
b. Suatu abses harus diamati untuk mengidentifikasi penyebabnya, terutama apabila
disebabkan oleh benda asing, karena benda asing tersebut harus diambil. Apabila
tidak disebabkan oleh benda asing, biasanya hanya perlu diinsisi absesnya,
bersamaan dengan pemberian obat analgesik dan mungkin juga antibiotik.
c. Drainase abses dengan menggunakan pembedahan biasanya diindikasikan apabila
abses telah berkembang dari peradangan serosa yang keras menjadi tahap nanah yang
lebih lunak.
d. Apabila menimbulkan risiko tinggi, misalnya pada area-area yang kritis, tindakan
pembedahan dapat ditunda atau dikerjakan sebagai tindakan terakhir yang perlu
dilakukan.
e. Karena sering kali abses disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus, antibiotik
antistafilokokus seperti flucloxacillin atau dicloxacillin sering digunakan. Dengan
adanya kemunculan Staphylococcus aureus resisten Methicillin (MRSA) yang
didapat melalui komunitas, antibiotik biasa tersebut menjadi tidak efektif. Untuk

menangani MRSA yang didapat melalui komunitas, digunakan antibiotik lain:


clindamycin, trimethoprim-sulfamethoxazole, dan doxycycline.

Hal yang perlu diperhatikan bahwa penanganan hanya dengan menggunakan


antibiotik tanpa drainase pembedahan merupakan tindakan yang kurang efektif.Hal
tersebut terjadi karena antibiotik sering tidak mampu masuk ke dalam abses, selain itu
antibiotik tersebut seringkali tidak dapat bekerja dalam pH yang rendah.

DAFTAR PUSTAKA

Price,Sylvia.2005.Patofisiologi.Jakarta:EGC.
Mansjoer,Arief.2007.Kapita selekta kedokteran.Jakarta.EGC
J. c. e. Underwood 2000.Patologi Umum dan Sistematika. Edisi II. Jakarta: Balai Penerbitan
Buku Kedokteran ECG.