You are on page 1of 3

1. Bidang agama, yaitu berkembangnya agama Hindu-Buddha di Indonesia .

Sebelum masuk
pengaruh India, kepercayaan yang berkembang di Indonesia masih
bersifat animisme dan dinamisme. Masyarakat pada saat itu melakukan pemujaan terhadap
arwah nenek moyang dan kekuatan-kekuatan benda-benda pusaka tertentu serta
kepercayaan pada kekuatan-kekuatan alam.
2. Bidang politik dan pemerintahan, pengaruhnya terlihat jelas dengan lahirnya kerajaankerajaan bercorak Hindu-Buddha di Indonesia. Sebelum masuknya pengaruh agama HinduBuddha di Indonesia tampaknya belum mengenal corak pemerintahan dengan sistem
kerajaan. Sistem pemerintahan yang berlangsung masih berupa pemerintahan kesukuan
yang mencakup daerah-daerah yang terbatas.
3. Bidang pendidikan membawa pengaruh bagi munculnya lembaga-lembaga pendidikan.
Meskipun lembaga pendidikan tersebut masih sangat sederhana dan mempelajari satu
bidang saja, yaitu keagamaan. Akan tetapi lembaga pendidikan yang berkembang pada
masa Hindu-Buddha ini menjadi cikal bakal bagi lahirnya lembaga-lembaga pendidikan di
Indonesia.bukti yang menunjukkan telah berkembangnya pendidikan pada masa kerajaankerajaan Hindu-Buddha di Indonesia, antara lain adalah:
9. Bidang seni bangunan merupakan salah satu peninggalan budaya Hindu-Buddha di
Indonesia yang sangat menonjol antara lain berupa candi dan stupa. Selain itu, terdapat
pula beberapa bangunan lain yang berkaitan erat dengan kehidupan keagamaan,
seperti: ulan dan satramerupakan semacam pesanggrahan atau tempat bermalam para pe
iarah;sima adalah daerah perdikan yang berkewajiban memelihara bangunan suci di suatu
daerah; patapan adalah tempat melakukan tapa;sambasambaran yang berarti tempat
persembahan; meru merupakan bangunan berbentuk tumpang yang melambangkan gunung
Mahameru sebagai tempat tinggal dewadewa agama Hindu.

C. STRUKTUR BIROKRASI KERAJAAN BALI


Upaya untuk mengetahui susunan pemerintahan raja-raja di Bali pada masa lampau
mengalami banyak kesulitan.hal ini disebabkan tidak semua raja yang pernah memerintah
meninggalkan prasasti, atau keterangan-keterangan lain yang bisa di gunakan untuk
menyusun gambaran tentang pemerintahan pada masa itu. Namun pada prasasti-prasasti
yang tertua antara 882 M - 934 M disebutkan bahwa dalam menjalankan pemerintahannya
seorang raja dibantu oleh suatu badan penasihat raja. Di samping itu, raja dibantu badanbadan seperti Panglapuan, Somahanda Senapati di Panglapuan, Pasamaksa dan
Panglapkuan. Semenjak masa pemerintahan Dharma Udayana bersama dengan
permaisurinya Gunapriyadhamapatni, badan penasihat raja disebut dengan Pakirakiran I Jro
Makabehan. Badan ini beranggotakan beberapa orang Senapati dan Pendeta Siwa-Buddha,
Menurut R. Gorris, para Senapati dari Kerajaan Bali pada masa lamapau dapat di
samakan dengan punggawa, pada masa kerajaan Gel-gel dan Klungkung (setelah
Majapahit). padadaerahnya sendiri, paa Senapati ini berkuasa atas segala bidang kekuasaan
dan pemerintahan. Seorang Senapati juga berkuasa atas hukum, serta mempunya
panglapuan sendiri.

Sekitar abad ke- 9 M, para Senapati ini terdiri dari :


1. Senapati Sarbwa, jabatan ini pernah dipegang oleh Kiha, Kumpi Adhi, dan Kumpi Dyah
Sanat.
2. Senapati Dinganga, jabatan ini pernah dipegang oleh Prajuna, Atri dan Cakra.
3. Senapati Danda, jabatan ini pernah dipegang oleh Kumpi Maradoya.
Dengan demikian, dalam menjalankan pemerintahannya raja dibantu oleh para pejabat
kerajaan yang diangkat dan diberhentikan oleh raja. Para pejabat yang menjalankan
pemeritahannya samapai ke daerah-daerah adalah wakil-wakil raja yang tunduk. Serta taat
terhadap raja.
E. STRUKTUR BIROKRASI KERAJAAN MAJAPAHIT
Kerajaan Majapahit merupakan sebuah kerajaan kuno yang struktur pemerintahan dan
birokrasi kerajaannya dapat diketahui dengan lebih lengkap. Pada masa pemerintahan raja
Hayam Wuruk, Kerajaan Majapahit telah memiliki susunan pemerintahan yang birokrasinya
telah teratur.
Struktur pemerintahan Kerajaan Majapahit mencerminkan adanya suatu teritorial dan
desentralisasi dengan birokrasi yang terperinci. Hal ini terjadi karena adanya pengaruh
kepercayaan yang bersifat kosmologi. Berdasarkan konsepsi tersebut, seluruh kerajaan
Majapait dianggap sebagai replika dari jagad raya dan Raja Majapahit disamakan dengan
dewa tertinggi yang bersemayam di puncak Mahameru.
Raja dipandang sebagai penjelmaan dewa di dunia dan memeggang otoritas politik
tertinggi serta menduduki puncak hirerarkhi Kerajaan Majapahit. Dalam menjalankan
tugasnya raja dibantu oleh sejumlah pejabat birokrasi kerajaan. Sebelum menjadi raja
biasanya para putra mahkota diberi kedudukan sebagai raja muda.
Perintah raja diturunkan kepada pada paa pejabat yang disebut Rakryan Mahamantri
Katrini dan kemudian diteruskan kepada para pejabat di bawahnya aitu Rakryan Mantri ri
Pakia-kiran, para Dharmadhyaksa dan para Dharma-upapatti. Rakryan Mahamantri i Halu
dan Rakryan Mahamantri i Sirikan. Di antara ketiga Rakryan Mahamantri ini maka Rakryan
Mahamantri i Hino adalah yang tertinggi dan yang berhak menggantikan kedudukan raja.
Selanjutnya Rakryan Matri ri Pakira-kiran merupakan kelompok pejabat tinggi kerajaan
yang terdiri dari Rakryan Mahapatih dana Patih Hamengkubhumi, Rakryan Tumenggung,
Rakryan Demung, Rakryan Rangga, dan Rakryan Kamuruhan. Kelima pejabat ini pada masa
zaman pemerintahan Majapahit disebut dengan Sang Panca Wilwatikta, dengan Rakryan
Mahapatih yang tertinggi. Rakryan Mahapatih memimpin sebuah Badan Pelaksana
Pemerintahan yang disebut Wesapuri Kamntryaning Amatya ring Sanagara, dan Patih
Hemengkubhumi juga disebut dengan Apatih ring Tiktawilwadhika. Hal itu dimaksudkan
untuk membedakan jabatan patih yang ada di daerah.
Di bawah Raja Majapahit terdapat sejumlah Raja-raja daerah (paduka bhatara) yang
memerintah sebuah negara daerah. Mereka biasanya meruapakn para saudara atau pun
kerabat raja. Dalam melaksanakan tugas-tugas kerajaan mereka dibebani tugas dan
tanggung jawab untuk mengumpulkan penghasilan kerajaan dan penyebaran upeti kepada
perbendaharaan kerajaan serta meliputi pertahanan wilayah kerajaan.
Dalam menjalankan pemerintahannya, para penguasa daerah dibantu oleh pejabatpejabat daerah dan struktur birokrasi yang hampir sama dengan struktur birokrasi yang ada
di pusat kerajaan, tetapi dalam tugas yang jauh lebih kecil dan lebih sempit. Dalam hal ini

para penguasa daerah mempunyai hak. Untuk mengangkat dan memberhentikan pejabatpejabat birokrasi di bawahnya.