You are on page 1of 24

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Distosia yang secara literatur berarti persalinan yang sulit, memiliki
karakteristik kemajuan persalinan yang abnormal atau lambat. Persalinan
abnormal atau lambat umum terjadi bila ada disproporsi antara ukuran bagian
terbawah janin dengan jalan lahir. Pada presentasi kepala, distosia adalah
indikasi yang paling umum saat ini untuk seksio sesaria primer. CPD
(cephalopelvic disproportion) adalah akibat dari panggul sempit, ukuran kepala
janin yang besar, atau lebih sering kombinasi dari kedua di atas. Setiap
penyempitan diameter panggul yang mengurangi kapasitas pelvis dapat
mengakibatkan distosia selama persalinan. Panggul sempit bisa terjadi pada
pintu atas panggul, midpelvis, atau pintu bawah panggul, atau umumnya
kombinasi dari ketiganya. Karena CPD bisa terjadi pada tingkat pelvic inlet,
outlet dan midlet, diagnosisnya bergantung pada pengukuran ketiga hal
tersebut yang dikombinasikan dengan evaluasi ukuran kepala janin.
Persalinan normal suatu keadaan fisiologis, normal dapat berlangsung
sendiri tanpa intervensi penolong. Kelancaran persalinan tergantung 3 faktor
P utama yaitu kekuatan ibu (power), keadaan jalan lahir (passage) dan
keadaan janin (passanger). Faktor lainnya adalah psikologi ibu (respon ibu),
penolong saat bersalin, dan posisi ibu saat persalinan. Dengan adanya
keseimbangan atau kesesuaian antara faktor-faktor "P" tersebut, persalinan
normal diharapkan dapat berlangsung. Bila ada gangguan pada satu atau lebih
faktor P ini, dapat terjadi kesulitan atau gangguan pada jalannya persalinan.
Distosia berpengaruh buruk bagi ibu maupun janin. Pengenalan dini dan
penanganan tepat akan menentukan prognosis ibu dan janin.

B. Rumusan Masalah
1. yang dimaksud dengan distosia bahu?
2. Apa saja yang menjadi etiologi pada distosia bahu?
3. Apa faktor resiko distosia bahu ?
4. Bagaimana tanda dan gejala distosia bahu ?
5. Apa saja klasifikasi distosia ?
6. Apa saja saja manifestasi klinik distosia bahu ?
7. Bagaimana penangan khusus pada pasien distosia ?
8. Bagaimana format asuhan keperawatan distosia bahu ?
9. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien distosia bahu ?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui yang dimaksud dengan distosia bahu.
2. Untuk mengetahui etiologi pada distosia bahu.
3. Untuk mengetahui yang menjadi faktor resiko pada distosia bahu.
4. Untuk mengetahui tanda dan gejala pada distosia bahu.
5. Untuk mengetahui apa saja klasifikasi atau macam-macam distosia.
6. Untuk memahami manifestasi klinik distosia bahu.
7. Untuk memahami penangan khusus untuk pasien distosia.
8. Untuk mengetahui format asuhan keperawatan distosia bahu.
9. Untuk memahami asuhan keperawatan pada pasien distosia bahu.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Distosia ialah kesulitan dalam jalannya persalinan.(Mochtar, 1989).
Distosia secara harfiah, berarti persalinan sulit, ditandai oleh kemajuan
persalinan yang terlalu lambat. Secara umum, persalinan abnormal sering
terjadi jika terdapat ketidakseimbangan ukuran antara bagian presentasi
janin dan jalan lahir. Distosia merupakan akibat dari beberapa kelainan
berbeda yang dapat berdiri sendiri atau kombinasi. (Leveno, 2009).
Distosia bahu adalah tersangkutnya bahu janin dan tidak dapat
dilahirkan setelah kepala janin dilahirkan. Selain itu distosia bahu juga
dapat didefinisikan sebagai ketidakmampuan melahirkan bahu dengan
mekanisme atau cara biasa. (Rusniawati, 2011)
Distosia bahu ialah kelahiran kepala janin dengan bahu anterior
macet diatas sacral promontory karena itu tidak bisa lewat masuk ke dalam
panggul,atau bahu tersebut bisa lewat promontorium,tetapi mendapat
halangan dari tulang sacrum atau tulang ekor.
Distosia bahu adalah suatu keadaan diperlukannya tambahan
maneuver obstetric oleh karena dengan tarikan biasa ke arah belakangan
pada kepala bayi tidak berhasil untuk melahirkan bayi. Pada persalinan
persentasi kepala,setelah kepala lahir bahu tidak dapat dilahirkan dengan
cara pertolongan biasa dan tidak didapatkan sebab lain dari kesulitan
tersebut.
Insidensi distosia bahu sebesar sebesar 0,2-0,3 % dari seluruh
persalinan vaginal persentasi kepala . apabila distosia bahu didefinisikan
sebagai jarak waktu antara lahirnya kepala dengan lahirnya badan bayi
lebih dari 60 detik,maka insidensitasnya menjadi 11%. (Prawirohardjo,
2011).
Pada mekanisme persalinan normal,ketika kepala dilahirkan, maka
bahu memasuki panggul dalam posisi oblig. Bahu poterior memasuki
panggul lebih dahulu sebelum bahu anterior. Ketika kepala melakukan
putaran paksi luar bahu posterior berada dicekungan tulang sakrum atau
disekitar spina ischiadika dan memberikan ruang yang cukup bagi bahu

anterior untuk memasuki panggul melalui belakang tulang pubis atau


berotasi dari foramen obturator. Apabila bahu berada dalam posisi anteroposterior ketika hendak memasuki pintu atas panggul, maka bahu porterior
dapat tertahan promontorium dan bahu anterior tertahan tulang pubis.
Dalam keadaan demikian kepala yang sudah dilahirkan akan tidak
dapat melakukan putar paksi luar dan tertahan akibat adanya tarikan yang
terjadi antar bahu posterior dengan kepala (disebut dengan turtle sign).
(Prawirohardjo,

2011).

Distosia

bahu

biasanya

terdapat

kasus

maksrosomia. Resikonya meningkat 11 kali lipat bayi dengan BB 4000 g


dan 22 kali lipat pada bayi dengan BB 4500 g posterm dan makrosomia
beresiko mengalami distosia bahu karena pertumbuhan trunkal dan bahu
tidak sesuai dengan pertumbuhan kepala pada masa akhir kehamilan .
Faktor Distosia bahu harus dicurigai pada pemanjangan kala II atau
pemanjangan fase deselarasi pada kala II.
Kemajuan persalinan yang normal membuat persalinan lebih lama,
lebih sakit, dan sulit (L. M. Bobak dan M.D. Jemsen, 1995) atau diartikan
sebagai persalinan yang sulit atau dikatakan juga kesulitan dalam jalannya
persalinan (Rsutam Muktar, 1994).
B. Etiologi
1. Kelainan tenaga (Power)
Kelainan tenaga adalah his yang tidak normal dalam kekuatan atau
sifatnya. Hal ini dapat menyebabkan hambatan dan mempersulit
persalinan.
2. Kelainan jalan lahir (passage)
Berkaitan dengan variasi ukuran dan bentuk ruang pelvis ibu, atau
keabnormalan saluran reproduksi yang dapat mengganggu dorongan dan
pengeluaran janin.
3. Kelainan letak dan bentuk janin (passenger)
Ukuran yang tidak sesuai atau perkembangan janin abnormal.
C. Faktor Resiko Distosia Bahu
1. Maternal
a. Kelainan anatomi panggul
b. Diabetes gestasional
c. Kehamilan pasotmatur
d. Riwayat distosia bahu
e. Tubuh ibu pendek
2. Fetal
a. Dugaan macrosomia
4

3. Masalah persalinan
a. Assisted vaginal delivery (forceps atau vacum)
b. Protracted active phase pada kala I persalinan
c. Protracted pada kala II persalinan
Distosia bahu sering terjadi pada persalinan dengan tindakan cunam
tengah atau pada gangguan persalinan kala I dan atau kala II yang
memanjang.
D. Tanda dan Gejala
1. Pada proses persalinan normal kepala lahir melalui gerakan ekstensi.
Pada distosia bahu kepala akan tertarik kedalam dan tidak dapat
mengalami putar paksi luar yang normal.
2. Ukuran kepala dan bentuk pipi menunjukkan bahwa bayi gemuk dan
besar. Begitu pula dengan postur tubuh parturien yang biasanya juga
obesitas .
3. Usaha untuk melakukan putar paksi luar, fleksilateral dan traksi ridak
4.
5.
6.
7.

berhasil melahirkan bahu.


Kemajuan lambat dari 7-10 cm, meskipun kontraksinya baik.
Kemajuan lambat dan kloning serta kelahiran kepala lambat.
Gelisah.
Sesak nafas.

E. Klasifikasi
1. Kelainan his
Adalah his yang tidak normal, baik kekuatan atau sifatnya. Sehingga
menghambat kelancaran persalinan. Sebelum membicarakan kelainan his
ada baiknya kita ketahui dahulu his yang normal.
1) Tonus otot : di luar his tidak seberapa tinggi dan meningkat saat ada
his.
2) Kontraksi rahim : dimulai pada tanduk rahim kemudian menjalar pada
seluruh otot rahim.
3) Kontraksi paling dominan pada fundus uterus dan lebih lama
sedangkan ada bagian tengah lebih lambat, singkat dan tidak sekuat
pada fundus uterus. Segmen bawah rahim dan serviks bersifat pasif,
sehingga janin dapat turun ke bawah dan dapat terjadi pembukaan.
4) Sifat his lama, kuat, teratur, sering dan ada rekalsasi.
2. Jenis kelainan his

1) Insersia uterus
Adalah his yang sifatnya lebih lama, singkat, dan jarang
dibandingkan his normal.
a. Insersia uterus primer : kelemahan his timbul sejak permulaan
persalinan
b. Insersia uterus sekunder : kelemahan his timbul sesudah adanya
his yang kuat, teratur, dan dalam waktu yang lama.
2) Tetonia uterus (hypertonic uterusne contraction)
Adalah his yang terlalu kuat dan terlalu sering, tidak ada relaksasi
rahim. Pada dasarnya, tetania uterus bukan penyebab distosia, tetapi
karena disini dibahas tentang kelainan his, maka sedikit dijelaskan
tentang tetania uterus.
Pengaruh pada persalinan :
a) Partus presipitatus ialah partus yang cepat dan sudah selesai
dalam 3 jam.
b) Luka yang luar biasa pada serviks, vagina dan perineum.
c) Pada bayi dapat terjadi perdarahan intrakarnial.

3) Incoordinate uterusne action


Adalah sifat his yang semula teratur kemudian menjadi tidak ada
koordinasi dan sinkronisasi antara kontraksi dan bagian-bagiannya.
Jadi, kontraksi tidak efisien dalam mengadakan pembukaan, apalagi
dalam pengeluaran janin.
Faktor-faktor yang mempengaruhi :
Belum ada kesesuaian paham antara beberapa ahli tentang faktor
yang mempengaruhi timbulnya kelainan his, namun ada beberapa
faktor yang di kemukan
a. Kehamilan primigravida tua atau multigravida.
b. Herediter.
c. Emosi dan kekuatan.
d. Kelainan uterus.
e. Kesalahan dalam memimpin persalinan.
f. Kehamilan kembar.
g. Kehamilan postmatur.
3. Jenis Kelainan Jalan Lahir
1) Kelainan bentuk panggul
a. Perubahan bentuk karenan kelainan pertumbuhan intrauterus.

Panggul Mapele : ialah panggul yang hanya punya sebuah


sayap pada sakrum, sehingga panggul tumbuh sebagai panggul

miring.
Panggul Robert : kedua sayap sakrum tidak ada, sehingga

panggul sempit dan ukuran melintang.


Split pelvis : pengaturan tulang panggul pada simpisis tidak

terjadi hingga panggul terbuka ke depan.


Panggul asimilasi : sakrum terdiri atas 6 os. Vertebrata

(asimilasi tinggi) atau 4 os. Vertebrata (asimilasi rendah).


b. Perubahan bentuk karena penyakit pada tulang panggul atau sendi
panggul
Rakitis : kurang mendapat vitamin D dan sinar matahari pada
anak-anak dapat mengakibatkan sakrum dan promontoriumnya
bergerak ke depan dan bagian bawahnya ke belakang, sehinga

diameter anteroposterior lebih luas dari normal.


Osteomalasia : kekurangan sinar matahari dan menimbulkan

kelainan panggul (sekarang jarang ditemukan).


Neoplasma : tumor tulang panggul dapat menimbulkan

penyempitan jalan lahir.


Atrofi, karies dan nekrosis.
Penyakir pada sendi sakroiliaka.
c. Perubahan bentuk karena penyakit tulang belakang.
Kifosis : sakrum bagian atas ditekan ke belakang, sakrum
bagian bawah memutar ke depan, sehingga panggul tampak
seperti corong, PAP luas, dan bagian-bagian lain mneyempit.
Skoliosis : panggul menjadi miring.
Spondilolitesis.
d. Perubahan bentuk karena penyakit kaki.
Perubahan atau kelainan pada kaki anak, maka beban kerja kaki
yang sakit dipikul oleh kaki yang sehat, sehingga mengubah
bentuk tulang panggul menjadi miring, misalnya : luksasio koksa,
atrofi atau kelumpuhan satu kaki.
e. Kelainan traktrus genitalia
pada vulva terdapat edema, stenosis dan tumor yang
dipengaruhi oleh gangguan gizi, radang atau perlukaan dan
infeksi.

Pada vagina yang mengalami sektum dan dapat memisahkan

vagina atau beberapa tumor.


Pada serviks karena disfungsi

parut/kersinoma.
Pada uterus terdapatnya mioma atau adanya kelainan bawaan

seperti letak uterus abnormal.


Pada ovarium, terdapat beberapa tumor.

uterus

atau

karena

4. Jenis Kelainan Janin


Kelainan janin dapat dibedakan menjadi dua bentuk.
a. Kelainan letak kepala/mal presentasi/mal posisi. Kelainan ini antara
lain sebagai berikut.
1) Letak langsung
Janin dengan letak memanjang/membujur dalam rahim kepala di
fundus dan bokong di bawah, yang disebabkan oleh hal-hal
berikut ini.
Fiksasi kepala pada pintu atas panggul, karena : panggul
sempit, hidrosefalus, anensefali, plasenta previa, dan tumor

pelvis.
Janin mudah bergerak pada hidramnion, multipara, dan janin

kecil.
Gamelli (kehamilan ganda)
2) Letak lintang
Sumbu memanjang, janin menyilang, ibu tegak lurus atau
mendekat 90 derajat.
b. Kelainan bentuk dan ukuran janin diklasifikasikan menjadi beberapa
jenis berikut.
Distosia kepala pada hidrosefalus, kepala besar, dan tumor di leher.
Distosia bahu pada janin dengan bahu lebar.
Distosia perut pada hidrosefalus, asites.
Distosia bokong pada spina bifida dan tumor pada bokong janin.
Kembar siam.
F. Menifestasi Klinis
Manifestasi yang dapat dirasakan dan dilihat pada ibu dan anak adalah
sebagai berikut.
1. Ibu : suhu tubuh meningkat, nadi dan pernapasan cepat, edema pada vulva
dan serviks, serta bisa jadi ketuban berbau.
2. Janin : DJ cepat dan tidak teratur.
8

G. Penanganan Khusus
1. Kelainan his
a. Penanganan umum
1) Nilai dengan segera keadaan umum ibu dan janin.
2) Lakukan penilaian kondisi janin : DJJ.
3) Kolaborasi dalam pemberian :
Infus RL dan larutan NaCl isotonik.
Berikan analgesik berupa tramandol/petidin 25 mg (IM) atau
morvin 10 mg (IM).
4) Perbaikan keadaan umum.
Dukungan emosional dan perubahan posisi.
Berikan cairan.
b. Penanganan khusus
1) Kelainan his
TD diukur tiap 4 jam
DJJ tiap jam pada kata I dan tingkatkan pada kala II.
Pemeriksaan dalam.
Kolaborasi dalam pemberian :
- Infus RL 5% dan larutan NaCl isotonik (IV)
- Berikan analgetik, seperti : petidin, morfin.
- Pemberian oksitoksin untuk memperbaiki his.
c. Kelainan janin
1) Pemeriksaan dalam.
2) Pemeriksaan luar.
3) MRI.
4) Jika sampai kala II tidak ada kemajuan, dapat dilakukan seksio
caesarea, baik primer pada awal persalinan maupun sekunder pada
akhir persalinan.

d. Kelainan jalan lahir


Jika terjadi kunjungata vera (pada VT teraba promontorium), maka
persalinan dengan dilakukan dengan SC.
H. Format Asuhan keperawatan
Pengkajian

Pengkajian merupakan langkah awal dari proses keperawatan. Adapun


pengkajian ibu dengan distorsia meliputi hal hal berikut ini.
1. Identitas ibu
a. Nama
b. Usia
c. Alamat
d. Data penting lainnya
2. Riwayat penyakit dahulu
Hal yang perlu dikaji pada ibu apakah ibu pernah mengalami distorsia
sebelumnya; apakah ada penyulitan persalinan sebelumnya seperti
hipertensi, anemia, dan panggul sempit; apakah ada riwayat penyakit DM;
apakah ada riwayat kembar; dan lain lain
3. Riwayat penyakit sekearang
Apakah dalam kehamilan sekarang ada kelainan seperti kelainan letak
janin (sungsang, lintang) apa yang menjadi presentasi.
4. Riwayat penyakit keluarga
Apakah dalam keluarga ada anggota keluarga yang menderita penyakit
kelainan darah, DM, eklampsia, dan preeklampsia
5. Pemeriksaan keadaan umum dan tanda tanda vital.
6. Pemeriksaan fisik
a. Kepala
Apakah konjungtiva anemia, muka pucat, dan sebagainya.
b. Toraks
Inspeksi pernapasan: frekuensi kedalaman, jenis pernapasan, juga
apakah ada bagian paru yang tertinggal saat pernapasan
c. Abdomen
Kaji his (kekuatan, frekuensi, lama). Apakah his kurang

semenjak awal persalinan atau menurun saat persalinan.


Apakah posisi letak presentasi dan sikap anak normal atau

tidak. Raba fundus uterus: keras atau lembek


Apakah anak kembar atau tidak. Lakukan perabaan pada
simfisis apakah penuh atau tidak, untuk mengetahui adanya

distensi usus dan kandung kemih.


d. Vulva dan vagina
Lakukan VT: apakah ketuban sudah pecah atau belum
Edema pada vulva/serviks
Apakah teraba promontorium
Ada atau tidaknya kemajuan persalianan

10

Apakah teraba jaringan plasenta untuk mengidentifikasi adanya

plasenta previa
e. Panggul
Lakukan pemeriksaan panggul luar
Apa ada kelainan bentuk panggul
Apa ada kelainan tulang belakang
Diagnosa keperawatan
1. Nyeri yang berhubungan dengan tekanan kepala pada serviks, partus lama,
dan konstraksi tidak efektif.
2. Risiko tinggi cedera janin yang berhubungan dengan penekanan kepala
pada panggul, partus lama, dan CPD
3. Risiko tinggi kekurangan cairan yang berhubungan dengan
hipermetabolisme, pembatasan masukan cairan.
4. Risiko tinggi cedera maternyang berhubungan dengan kerusakan jaringan
lunak karena persalinan lama.
5. Risiko tinggi infeksi yang berhubungan dengan ruptur membran, tindakan
invasif.
6. Cemas yang berhubungan dengna persalinan
Intervensi keperawatan
1. Diagnosa 1: Nyeri yang berhubungan dengan tekanan kepala pada serviks,
partus lama, dan kontraksi tidak efektif.
Tujuan umum: kebutuhan rasa nyaman terpenuhi/nyeri berkurang.
Tujuan khusus:
a. Ibu dapat menyebutkan intensitas nyeri berdasarkan skala nyeri.
b. Ibu dapat menggunakan teknik relaksasi
c. Kontraksi uterus efektif
d. Tekanan kepala pada serviks tidak berlangsung lama
e. Kemajuan persalinan baik
Intervensi
Mandiri
a. Tentukan sifat, lokasi, dan durasi a.
nyeri.

b.

Kaji

kontraksi

uterus

Rasional
Membantu dalam mendiagnosis dan
memilih tindakan, penekanan kepala

hemoragik dan nyeri tekan abdomen

pada serviks yang berlangsung lama

Kaji intensitas nyeri ibu dengan b.

akan menyebabkan nyeri.


Setiap individu punya

skala nyeri

ambang nyeri yang berbeda dengan


11

tingkat

skala dapat diketahui intensitas nyeri


c.

d.

Kaji stress psikologis ibu/pasangan c.

itu
Ansietas sebagai respons terhadap

dan respons emosional terhadap

situasi darurat dapat memperberat

kejadian

derajat ketidak nyamanan karena

Berikan lingkunagn yang nyaman,

sindrom ketegangan takut nyeri


Teknik relaksasi dapat mengalihkan

d.

tenang, dan aktivitas untuk

perhatian dan rasa nyeri

mengalihkan nyeri. Bantu ibu dalam


metode relaksasi dan jelaskan
e.

prosedur.
Kuatkan dukungan sosial/dukungan

e.

keluarga

Dengan kehadiran keluarga akan


membuat ibu rasa nyaman dan dapat
mengurangi tingkat kecemasan
dalam melewati persalinan. Ibu
merasa diperhatikan dan perhatian
terhadap nyeri akan terhindari

Kolaborasi
f. Berikan narkotik atau sedaktif sesuai
g.

instruksi fokter.
Siapkan untuk prosedur bedah bila

f.

Pemberian narkotik atau sedatif

g.

dapat mengurangi nyeri hebat


Berikan narkotika atau sedatif

diindikasikan

sesuai instruksi dokter

2. Diagnosa 2: risiko tinggi cedera janin yang berhubungan dengan


penekanan kepala pada panggul, partus lama, dan CPD.
Tujuan umum: cedera pada janin dapat dihindari
Tujuan khusus:
a. DJJ dalam batas normal
b. Kemajuan persalinan baik
Intervensi

Rasional

Mandiri
a. Melakukan manuver leopold untuk a.
menentukan
presentasi

posisi

janin

dan

Berbaring transveral atau presentasi


bokong

memerlukan

kelahiran

caesarea. Abnormalitas lain seperti


presentasi wajah, dagu, dan posterior

12

juga dapat memerlukan intervensi


khusus untuk mencegah persalinan
b.

c.

Dapatkan data dasar DJJ secara b.

yang lama
DJJ harus direntang dari 120 160

manual dan/atau elektronik. Pantau

dengan variasi rata rata, percepatan

dengan sering, perhatikan variasi

dengan variasi rata rata, percepatan

DJJ dan perubahan periodik pada

dalam

respons terhadap kontraksi uterus.


Catat kemajuan persalinan

maternal, gerakan janin, dan kontraksi


Persalinan lama/disfungsional dengan

c.

respons

perpanjangan

terhadap

fase

akvitas

laten

dapat

menimbulkan masalah kelelahan ibu,


stres

berat,

infeksi

berat,

dan

hemoragi karena atonia/ruptur uterus,


menempatkan janin pada resiko lebih
d.

Inspeksi perineum ibu terhadap d.

tinggi terhadap hipoksia dan cedera


Penyakit hubungan kelamin pada

kutil vagina, lesi harpes, atau rabes

didapat oleh janin selama proses

klamidial.

melahirkan

dianjurkan

persalinan

dengan seksio caesaria. Khususnya


ibu dengan virus harpes simplek tipe
e.

Catat DJJ bila ketuban pecah setiap

e.

15 menit

II.
Perubahan pada tekanan cairan
ammion dengan ruptur atau variasi
deselerasi DJJ setelah robek dapat
menunjukan kompresi tali pusat yang

f.

Posisi ibu miring ke arah posisi

f.

punggung janin.
g.

Siapkan untuk pemindahan rumah

menurunkan transfer oksigen ke janin


Meningkatkan perfusi plasental
mencegah sindrom hipotensif

g.

telentang
Gangguan status fetal atau identifikasi

sakit sesuai indikasi bila ibu di

kondisi maternalmemerlukan

rumah atau pusat kelahiran

observasi lebih ketat dan dapat

alternatif.

menandakan kebutuhan intervensi


terapeutik.

13

Implementasi Keperawatan
Implementasi merupakan tindakan yang sesuai dengan yang telah
direncakan, mencakup tindakan mandiri dan kolaborasi.
Tindakan mandiri adalah tindakan keperawatan berdasarkan analisis dan
kesimpulan perawat dan bukan atas petunjuk tenaga kesehatan lain.
Tindakan kolaborasi adalah tindakan keperawatan yang didasarkan oleh
hasil keputusan bersama dengan dokter atau petugas kesehatan lain.
Evaluasi Keperawatan
Merupakan hasil perkembangan ibu dengan pedoman kepada hasil dan
tujuan yang hendak dicapai.

BAB III
Asuhan Keperawatan Dengan Klien Distorsia Bahu
A. PENGKAJIAN
1. BIODATA
Nama : Ny. N
Umur : 26 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan

14

Suku : Jawa/Indonesia
Agama : Islam
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Pendidikan Terakhir : SMU
Alamat : Jl. Pangeran Antasari, No. 69, RT.3, RW. 1, Kec. Kecubung,
Kel. Satumilyar Kab. Bojong.
No. RM : 25 18 96
Ruang Dirawat : VK
Tanggal MRS : 22 Maret 2014
Tanggal Pengkajian : 22 Maret 2014
Diagnosa Medis : Persalinan Distosia Bahu
IDENTITAS PENANGGUNG JAWAB
Nama : Tn. K
Umur : 28 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Suku : Banjar/Indonesia
Agama : Islam
Pekerjaan : Swasta
Pendidikan Terakhir : SMA
Alamat : Jl. Pangeran Antasari, No. 69, RT. 3, RW. 1, Kec. Kecubung,
Kel. Satumilyar Kab. Bojong.
Hubungan dengan klien : Suami
2. STATUS KESEHATAN
a. Keluhan
Keluhan Utama

: Nyeri karena kontraksi uterus

Keluhan saat Pengkajian

: Nyeri

b. Riwayat Penyakit Sekarang


Ibu mengatakan hamil anak ketiga usia kehamilan 9 bulan,
mengeluh mulas dan nyeri dipinggang dan ibu mengatakan sudah
mengeluarkan air- air sejak tanggal 22 Maret 2014 pukul 07.00 WITA.
Ibu mengatakan masih merasakan gerakan janin, gerakan aktif
sebanyak 20 kali dalam 24 jam.
15

c. Riwayat Penyakit Keluarga


Klien tidak ada riwayat penyakit keluarga seperti DM, Hipertensi,
TBC, dll.
3. KEBIASAAN SEHARI-HARI
- Makan dan minum : Ibu makan terakhir tanggal 23 Maret 2014 pukul
23.30 WITA. Dan Ibu sering minum dan minum terakhir 1 gelas air
putih.
- Eliminasi (BAB/BAK) : BAB terakhir 1 x pada 23 Maret 2014 pukul
05.30 WITA
BAK terakhir 1 x pada 23 Maret 2014 pukul 22.30 WITA
- Istirahat/tidur : Ibu mengatakan tidur malam selama 8 jam, tidur siang
1-2 ja
sehari
- Psikologis : Ibu mengatakan merasa cemas menghadapi persalinannya

B. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan umum
Kesadaran
2. Tanda-tanda vital

: Lemah
: Compos mentis
:- TD : 120/80 mmHg
- Nadi : 78 x/menit
- Napas : 22 x/menit
- Suhu : 370C

3. TB dan BB : TB : 157 cm, BB : 68 kg.


16

4. Inspeksi
a. Muka : Tidak ada cloasme
- Konjungtiva : anemis.
- Sklera : an ikterik
- Pulpil : isokor , tidak ada nistagmus.
b. Mulut dan Gigi : bersih, bibir tampak pucat, tidak ada caries gigi, tidak
ada stomatitis, gigi lengkap, tidak ada gangguan menelan.
c. Leher : tidak ada pembendungan vena jugularis, kelenjar tiroid ataupun
limfe yang membengkak.
d. Dada : simetris, tidak ada benjolan yang abnormal, terdapat
hyperpigmentasi pada areola mamae dan kolostrum sudah keluar.
e. Abdomen : Pembesaran perut sesuai usia kehamilan, terdapat linea
nigra dan strie gravidarum serta tidak ada luka bekas operasi.
f. Punggung dan pinggang : terdapat tanda michales yang simetris.
g.Vulva : serviks teraba lunak, nyeri tekan, nyeri pada uteris kanan dan
kiri.
h.Ekstremitas : tidak ada udema, akral; hangat, tidak ada varises.
5. Palpasi
- leopold 1 : TFU pertengahan pusat dan Px, pada fundus teraba 1 bagian
yang
lunak, tidak melenting dan kurang bundar yang berarti bokong
- leopold 2 : Pada perut bagian sebekah kiri teraba ada tahanan yang
lebar yang
berarti punggung dan sebelah kanan teraba bagian yang kecil- kecil
yang berarti
ekstrimitas
- Leopold 3 : Bagian terbawah janin teraba bulat, keras dan melenting
yang berarti
kepala
- Leopold 4 : Bagian yang terbawah janin sudah masuk PAP (divergen)
Mc Donald : 38 cm
TBJ : (TFU 11) x 155
: (38 11) x 155
17

: 4185 gram
6. Auskultasi
DJJ terdengar 140x/menit, punctum maximum dibawah pusat sebelah kiri
7. Perkusi
Reflek patela ada (+)
8. Pemeriksaan Dalam, pukul 24.00 WITA
- Vulva / Vagina : Blood slym
- Dinding Vagina : Teraba rugei
- Promontorium : Tidak teraba
- Portio : Lunak
- Serviks : Tipis, pembukaan 9 cm , efficement : 90 %
- Ketuban : Sudah pecah sejak pukul 01.00 WITA
- Presentasi : Kepala, UUK kiri depan
- Penurunan : Hodge III (+), 1/5
- His : Ada
- Frekuensi : 3x dalam 10 menit
- Lamanya : 20 40 detik
C. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Foto Ro p.a.p (22 Maret 2014)
Hasil: Ukuran bayi yang lebih besar melebihi kesempatan ukuran panggul
D. ANALISA DATA
No. Data Etiologi Masalah Keperawatan
1. DS : Pasien mengatakan nyeri di perut
DO :

P : Nyeri karena adanya tekanan kepala janin pada serviks


Q : seperti ada dorongan dari dalam
R : daerah perut bagian bawah

Pasien nampak meringis menahan nyeri


- S : skala nyeri 4
- T : Sewaktu-waktu Tekanan kepala pada serviks Nyeri
2.

DS :
DO : TBJ : 4185 gram
18

Panggul ibu sempit CPD Resiko tinggi cedera janin


E. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri b/d tekanan kepala pada servik
2. Resiko tinggi cedera janin b/d CPD.
F. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
1.

Dx : nyeri b/d tekanan kepala pada servik, partus lama, kontraksi tidak

efektif.
Tujuan : Kebutuhan rasa nyaman terpenuhi/ nyeri berkurang :
- Klien tidak merasakan nyeri lagi.
- Klien tampak rilek
- Kontraksi uterus efektif
- Kemajuan persalinan baik.
Intervensi Rasional
Tentukan sifat, lokasi dan durasi nyeri, kaji kontraksi uterus,
hemiragic dan nyeri tekan abdomen.
Membantu
penekanan

kepala

dalam
pada

mendiagnosa

dan

servik

berlangsung

yang

memilih

tindakan,

lama

akan

menyebabkan nyeri.
Kaji intensitas nyeri klien dengan skala nyeri Setiap individu
mempunyai tingkat ambang nyeri yang berbeda, denga skala dapat
diketahui intensitas nyeri klien.
Kaji stress psikologis/ pasangan dan respon emosional terhadap
kejadian Ansietas sebagai respon terhadap situasi darurat dapat
memperberat derajat ketidaknyamanan karena sindrom ketegangan
takut nyeri.
Berikan lingkungan yang nyaman, tenang dan aktivitas untuk
mengalihkan nyeri, Bantu klien dalam menggunakan metode relaksasi
dan jelaskan prosedur Teknik relaksasi dapat mengalihkan perhatian
dan mengurangi rasa nyeri
Kuatkan dukungan social/ dukungan keluarga.

19

Dengan kehadiran keluarga akan membuat klien nyaman, dan dapat


mengurangi tingkat kecemasan dalam melewati persalinan, klien merasa
diperhatikan dan perhatian terhadap nyeri akan terhindari.
2. Dx : Resiko tinggi cedera janin b/d penekanan kepala pada panggul,
partus lama,
CPD.
Tujuan : Cedera pada janin dapat dihindari dengan kriteria Hasil :
- DJJ dalam batas normal
- Kemajuan persalinan baik
Intervensi Rasional
Lakukan manuver Leopold untuk menentukan posis janin dan
presentasi Berbaring tranfersal atau presensasi bokong memerlukan
kelahiran sesarea. Abnormalitas lain seperti presentasi wajah, dagu, dan
posterior juga dapat memerlukan intervensi khusus untuk mencegah
persalinan yang lama
Dapatkan data dasar DJJ secara manual dan atau elektronik,
pantau dengan sering perhatikan variasi DJJ dan perubahan periodic
pada respon terhadap kontraksi uterus. DJJ harus direntang dari 120160 dengan variasi rata-rata percepatan dengan variasi rata-rata,
percepatan dalam respon terhadap aktivitas maternal, gerakan janin dan
kontraksi uterus.
Catat kemajuan persalinan. Persalinan lama/ disfungsional
dengan perpanjangan fase laten dapat menimbulkan masalah kelelahan
ibu, stress berat, infeksi berat, haemoragi karena atonia/ rupture uterus.
Menempatkan janin pada resiko lebih tinggi terhadap hipoksia dan
cedera.
Infeksi perineum ibu terhadap kutil vagina, lesi herpes atau
rabas klamidial Penyakit hubungan kelamin didapat oleh janin selama
proses melahirkan karena itu persalinan sesaria dapat diidentifikasi
khususnya klien dengan virus herpes simplek tipe II.

20

Catat DJJ bila ketuban pecah setiap 15 menit. Perubahan pada


tekanan caitan amnion dengan rupture atau variasi deselerasi DJJ
setelah robek dapat menunjukkan kompresi tali pusat yang menurunkan
transfer oksigen kejanin.
Posisi klien pada posisi punggung janin Meningkatkan perfusi
plasenta/ mencegah sindrom hipotensif telentang.
G. CATATAN PERKEMBANGAN
No. Hari/tanggal/diagnose Implementasi Evaluasi
1. Minggu, 23/03/2014
Diagnosa : Nyeri berhubungan dengan tekanan kepala pada serviks .
1. Menentukan sifat, lokasi dan durasi nyeri, kaji kontraksi uterus,
hemiragic dan nyeri tekan abdomen.
2. Mengkaji intensitas nyeri klien dengan skala nyeri
3. Mengkaji stress psikologis/ pasangan dan respon emosional terhadap
kejadian.
4. Memberikan lingkungan yang nyaman, tenang dan aktivitas untuk
mengalihkannyeri, Membantu klien dalam menggunakan metode
relaksasi dan menjelaskan prosedur.
5. Mengkuatkan dukungan social/ dukungan keluarga.
S : pasien masih mengeluh nyeri
O :Wajah pasien masih tampak meringis
A : masalah belum teratasi.
P : lanjutkan intervensi.
2. Selasa, 24/03/2014
Diagnosa : Resiko tinggi cedera janin berhubungan dengan CPD
1. Melakukan manuver Leopold untuk menentukan posis janin dan
presentasi.
2. Dapatkan data dasar DJJ secara manual dan atau elektronik, pantau
dengan

sering perhatikan variasi DJJ dan perubahan periodic

pada respon terhadap kontraksi uterus.


21

3. Mencatat kemajuan persalinan.


4. Mencatat DJJ bila ketuban pecah setiap 15 menit.
5. Memposisi klien pada posisi punggung janin
S : pasien tidak merasakan nyeri
O : pasien tidak meringis
A : Masalah teratasi
P : Hentikan intervensi.

22

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Distosia ialah kesulitan dalam jalannya persalinan. Distosia
secara harfiah, berarti persalinan sulit, ditandai oleh kemajuan
persalinan yang terlalu lambat. Secara umum, persalinan abnormal
sering terjadi jika terdapat ketidakseimbangan ukuran antara bagian
presentasi janin dan jalan lahir. Distosia merupakan akibat dari
beberapa kelainan berbeda yang dapat berdiri sendiri atau kombinasi.
B. Saran
Makalah ini masih memiliki banyak kekurangan, sehingga diminta
kepada pembaca untuk memberikan saran untuk menyempurnakan
makalah ini.

23

DAFTAR PUSTAKA
Prawirohardjo, Sarwono. 2011. Ilmu Kebidanan. Jakarta : PT. Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo
Mitayani. 2009. Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta : Salemba Medika

24