You are on page 1of 8

METODE DISKUSI

D
I
S
U
S
U
N
O L E H
MUHAMMAD ISFANI
MISBAHUDDIN

INSTITUT AGAMA ISLAM AL- AZIZIYAH


SAMALANGA - BIREUEN 2015 2016

METODE DISKUSI

A. PENGERTIAN METODE DISKUSI


Menurut Arends (2008: 75), diskusi adalah situasi pendidik dan
peserta didik atau peserta didik dan peserta didik lainnya bercakap-cakap
dan berbagi ide dan pendapat. Samani (2012:150), mengungkapkan
bahwa diskusi adalah pertukaran pikiran (sharing of opinion) antara dua
orang atau lebih yang bertujuan memperoleh kesamaan pandang tentang
sesuatu masalah yang dirasakan bersama. Dengan demikian diskusi
merupakan suatu metode pembelajaran yang di dalamnya terdapat
percakapan antara individu dengan individu lainnya yang terbentuk ke
dalam suatu wadah atau kelompok yang dihadapkan oleh suatu
permasalahan sehingga mereka dapat bertukar pikiran untuk
mendapatkan pemecahan masalah yang benar melalui kesepakatan
bersama.
Sagala dalam Ernasari (2011:28), lebih lanjut menyebutkan bahwa:
Diskusi ialah percakapan ilmiah yang responsif berisikan pertukaran
pendapat yang dijalin dengan pertanyaan-pertanyaan problematis
pemunculan ide-ide dan pengujian ide-ide ataupun pendapat dilakukan
oleh beberapa orang yang tergabung dalam kelompok itu yang diarahkan
untuk memperoleh pemecahan masalahnya dan untuk mencari
kebenaran.
Namun, untuk membatasi pengertian diskusi yang luas ini, maka
peneliti memberikan konsep kelompok dalam pembahasan ini. Kelompok
adalah kumpulan orang yang terdiri dari dua atau tiga orang, bahkan
lebih. Menurut Sunjana dalam Sofyanti (2011:19), menyatakan bahwa
kelompok adalah suatu kumpulan orang dalam jumlah terbatas, setiap
anggota melakukan hubungan dan saling membutuhkan serta kegiatan
mereka didasarkan pada aturan atau norma-norma yang ditaati bersama.
Jadi, kelompok adalah suatu kumpulan orang yang telah direncanakan
sebelumnya dan dibentuk dengan tujuan tertentu.
Mulyasa (2005:89), menyatakan bahwa diskusi kelompok
meruapakan suatu proses teratur dan melibatkan sekelompok orang
dalam berinteraksi tatap muka untuk mengambil kesimpulan dan
memecahkan masalah. Suryosubroto dalam Yuniati (2007:15), bahwa
diskusi kelompok adalah suatu percakapan oleh beberapa orang yang
tergabung dalam suatu kelompok atau saling tukar pendapat tentang
sesuatu masalah atau bersama-sama mencari pemecahan mendapatkan
jawaban dan kebenaran atas suatu masalah. Dengan demikian, dapat
ditarik kesimpulan bahwa metode diskusi kelompok adalah suatu cara
yang diterapkan oleh pendidik untuk mengajar di kelas dengan cara
pendidik memberikan suatu permasalahan dan peserta didik mencari
pemecahannya secara bersama-sama dalam sebuah kelompok. Dalam

kegiatan tersebut maka, peserta didik di tuntut untuk berpikir kritis dalam
memecahkan permasalahn yang ada.
Metode diskusi merupakan metode yang dapat membuat siswa aktif
karena siswa memperoleh kesempatan berbicara atau berdialog untuk
bertukar pikiran dan informasi tentang suatu topik atau masalah dan
mencari fakta atau pembuktian yang dapat digunakan bagi pemecahan
masalah. Metode diskusi adalah metode mengajar yang erat
hubungannya
dengan
memecahkan
masalah
atau problem
solving (Muhibbin
Syah,2000).
Metode
diskusi
adalah
metode
pembelajaran yang menghadapkan siswa pada suatu permasalahan
dengan tujuan untuk memecahkan suatu permasalahan, menjawab
pertanyaan, menambah dan memahami pengetahuan siswa, serta untuk
membuat suatu keputusan. Metode diskusi adalah cara penyajian
pelajaran di mana siswa dihadapkan kepada suatu masalah yang bisa
berupa pernyataan atau pertanyaan yang bersifat probematis untuk
dibahas dan dipecahkan bersama (Djamarah dan Aswan: 2006). Metode
diskusi adalah suatu cara penyampaian materi pelajaran melalui sarana
pertukaran pikiran untuk memecahkan persoalan yang dihadapi
(Semiwan,1990: 76), sedangkan menurut Suryosubroto (1997: 179)
mengatakan metode diskusi adalah adalah suatu cara penyajian bahan
pengajaran dengan guru memberikan kesempatan kepada siswa atau
kelompok-kelompok untuk mengadakan perbincangan ilmiah guna
mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun ke
berbagai alternatif pemecahan suatu masalah.
Prinsip dari metode diskusi adalah melibatkan siswa secara aktif,
diperlukan ketertiban dan keteraturan dalam mengemukakan pendapat
secara bergilir dengan dipimpin oleh seorang ketua atau moderator,
masalah yang didiskusikan sesuai dengan perkembangan dan
kemampuan berfikir siswa, guru mendorong siswa yang kurang aktif untuk
melakukan atau mengeluarkan pendapatnya, siswa dibiasakan untuk
menghargai pendapat orang lain dalam menyetujui atau menentang
pendapat. Metode diskusi sangat sesuai digunakan apabila materi yang
disajikan bersifat rendah kesempatannya, untuk mengembangkan sifatsifat atau tujuan pengajaran yang bersifat efektif, dan untuk tujuan-tujuan
yang bersifat analisis sistematis dan tingkat pemahaman yang tinggi.
Tugas guru dalam diskusi adalah dapat bertindak sebagai pimpinan
diskusi, mengusahakan jalannya diskusi agar tidak terjaadi dialog atau
hanya sekedar tanya jawab antara guru dan siswa atau antara dua orang
siswa saja, guru sebagai moderator yang dapat mengamankan, menolak,
atau menyampaikan pendapat dan usul-usul kepada peserta diskusi.
Langkah-langkah yang perlu diperhatikan dalam diskusi adalah pemilihan

topik yang akan didiskusikan, dibentuk kelompok-kelompok diskusi, dan


para siswa melakukan diskusi dalam kelompok masing-masing.
B. DALIL TENTANG METODE DISKUSI DALAM PENDIDIKAN
1. Dalil dalam Al Quran
Metode diskusi diperhatikan dalam al-Quran dalam mendidik dan
mengajar manusia dengan tujuan lebih memantapkan pengertian dan
sikap pengetahuan mereka terhadap sesuatu masalah. Sama dengan
metode diatas metode diskusi merupakan salah satu metode yang secara
tersirat ada dalam al-Quran.
Didalam al-Quran kata diskusi sama dengan al-mujadallah itu
diulang sebanyak 29 kali. Diantaranya adalah pada surat al-Nahl ayat 125
yang berbunyi:



Artinya: Dan bantahlah dengan cara yang baik..(Q.S.al-Nahl:125)
Dari ayat diatas Allah telah memberikan pengajaran bagi umat
Islam agar membantah atau berargument dengan cara yang baik. Dan
tidak lain itu bisa kita temui dalam rangkaian acara yang biasa disebut
diskusi.
Diskusi juga merupakan metode yang langsung melibatkan anak
didik untuk aktif dan kreatif dalam pembelajaran. Diskusi bisa berjalan
dengan baik jika anak didik yang menduskisikan suatu materi itu benarbenar telah menguasai sebagian dari inti materi tersebut. Akan tetapi jika
peserta diskusi yakni anak didik tidak paham akan hal tersebut maka bisa
dipastikan diskusi tersebut tidak sesuai yang diharapkan dalam
pembelajaran.
2. Hadits tentang metode diskusi

:

















()
Artinya :Dari Anas bin Malik ra, ia berkata: Rasulullah telah bersabda:
tolonglah saudaramu yang dzalim maupun yang didhalimi.
Mereka bertanya: wahai Rasulullah, bagaimana menolong orang
dzalim?, Rasulullah menjawab tahanlah (hentikan) dia dan
kembalikan
dari
kedzaliman,
karena
sesungguhnya
itu
merupakan pertolongan kepadanya.(HR. Abu Abdillah Muhammad
bin Ismail al-Bukhori al-Jufi)[10]
Hadist ini menjelaskan bahwa Rasulullah SAW menganjurkan kepada
kita untuk menolong orang yang dzalim dan yang didzalimi. Anas berkata
ia telah menolong orang yang didzalimi, kemudian ia berkata kepada
Rasulullah bagaimana cara menolong orang yang dzalim? Rasul pun
menjawab untuk menghentikannya dan mengembalikannya dari
kedzaliman. Diskusi terdapat pada permasalahan bagaimana cara
menghentikan orang dzalim tersebut dan mengembalikan dia dari
kedzalimannya.

Diskusi pada dasarnya tukar menukar informasi, pendapat dan


unsur-unsur penaglaman, secara teratur dengan maksud untuk mendapat
pengertian bersama yang lebih jelas dan lebih teliti tentang sesuatu, atau
untuk mempersiapkan dan merampungkan keputusan bersama. Oleh
karena itu diskusi bukan debat atau perang mulut. Dalam diskusi tiap
orang diharapkan memberikan smbangan sehingga seluruh kelompok
kembali dengan paham yang dibina bersama.
C. LANGKAH- LANGKAH PENERAPAN METODE DISKUSI
Dalam metode diskusi ada beberapa langkah- langkah agar
penerapan metode tersebut dapat berjalan seperti yang kita harapkan,
yaitu :
1. Guru menentukan suatu masalah yang akan didiskusikan atau guru
meminta kepada siswa untuk mengemukakan suatu pokok atau
problem yang akan didiskusikan.
2. Guru menjelaskan tujuan diskusi.
3. Guru memberikan ceramah dengan diselingi tanya jawab mengenai
materi pelajaran yang didiskusikan.
4. Guru mengatur giliran pembicara supaya tidak semua siswa
serentak berbicara mengeluarkan pendapat.
5. Guru menjaga suasana kelas dan mengatur setiap pembicara agar
seluruh kelas dapat mendengarkan apa yang sedang dikemukakan.
6. Mengatur giliran berbicara agar semua siswa dapat menggunakan
kesempatan untuk mengeluarkan pendapatnya.
7. Mengatur agar sifat dan isi pembicaraan tidak menyimpang dari
pokok permasalahan.
8. Membuat catatan hal-hal yang menurut pendapat guru harus segera
dikoreksi yang memungkinkan siswa tidak menyadari pendapat
yang salah.
9. Selalu berusaha agar diskusi berlangsung antara siswa dengan
siswa.
D. KELEMAHAN METODE DISKUSI DALAM PEMBELAJARAN
Metode diskusi (Syaiful Bahri Djamarah, 2000). apabila
diterapkan dalam pembelajaran juga memiliki kelemahan, seperti :
Diskusi pada umumnya dikuasai oleh siswa yang gemar berbicara
Bagi siswa yang tidak ikut aktif ada kecenderungan untuk
melepaskan diri dari tanggung jawab.
Pendapat serta pertanyaan siswa dapat menyimpang dari pokok
persoalan.
Membutuhkan waktu cukup banyak.
Sulit digunakan di tingkat rendah pada sekolah dasar.
Tidak dapat dipakai dalam kelompok yang besar,
Peserta diskusi mendapat informasi yang terbatas,
biasanya anak menghendaki pendekatan guru yang lebih formal
banyak waktu yang terpakai, kadang-kadang hasilnya tidak sesuai
yang diharapkan

Dalam hal ini penyelesaian hasil diskusi sulit untuk diramalkan atau
diperhitungkan. Diskusi sukar diterapkan di tingkatan sekolah dasar,
tetapi bukan tidak mungkin diterapkan di sekolah dasar. Diskusi
memerlukan ketajaman dalam menangkap inti masalah yang dibicarakan.
Hal ini tidak mudah, sehingga sering dalam diskusi itu keluar dari topik
permasalahan. Dalam prakteknya sering diskusi itu akan diborong oleh
beberapa siswa saja, sedangkan yang lain hanya sebagai pendengar setia
walaupun guru sudah memberi kesempatan kepada semua siswa untuk
mengemukakan pendapatnya.
Harapan agar dalam pelaksanaan diskusi dapat berjalan dengan
baik, maka guru perlu mencari pemasalahan yang kira-kira tepat untuk
menjadi bahan diskusi. Masalah dan pertanyaan yang baik untuk dijadikan
bahan diskusi yang baik hendaknya memenuhi syarat-syarat seperti:
harus mengandung berbagai kemungkinan jawaban, sehingga setiap
jawaban memiliki kebenaran yang dapat ditinjau dari sudut pandang
tertentu. Masalah-masalah itu hendaknya memiliki arti bagi siswa dan
disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa. Masalah dan pertanyaan
tersebut harus dapat mengembangkan taraf belajar siswa yang lebih
tinggi.
Nilai metode diskusi dalam rangka pelaksanaan pengajaran tidak
dapat disangkal, tetapi biasanya guru tidak melaksanakannya. Hal ini
dikarenakan ada anggapan bahwa menggunakan metode diskusi
dipandang lebih sukar daripada menggunakan ceramah. Guru banyak
mencari cara yang dirasakannya lebih mudah. Biasanya guru berpendapat
bahwa metode diskusi memakan waktu terlalu banyak jika dibandingkan
dengan metode ceramah atau tugas. Ada juga anggapan bahwa siswa
belum sanggup berdiskusi karena siswa belum banyak pengetahuan
sehingga lebih baik diberi tahu saja. Hal ini adalah suatu anggapan yang
salah karena belajar yang baik tidak selalu harus menerima tetapi juga
mencari dan memikirkan sendiri (Engkoswara, 1984: 52).(Engkoswara,
1984: 53) dalam metode diskusi biasanya ada siswa yang memborong
pembicaraan atau aktif dan ada siswa yang pasif. Dalam hal demikian
guru hendaknya dapat memperhatikan dan memberi jalan kepada siswasiswa supaya dapat ikut serta dalam diskusi dengan merata.
Kelebihan penerapan Metode Diskusi adalah sebagai berikut :
1. Suasana kelas hidup, sebab para siswa mengarahkan pemikirannya
kepada masalah yang sedang didiskusikan. Partisipasi siswa menjadi
lebih baik.
2. Siswa dapat belajar menghargai pendapat orang lain.
3. Dapat menaikkan prestasi kepribadian individual seperti toleransi,
sikap demokratis, sikap kritis, berpikir sistematis dan sebagainya.
4. Berguna untuk kehidupan sehari-hari terutama dalam alam
demokrasi
5. Siswa dapat belajar bermusyawarah.

A. KESIMPULAN
1. Metode diskusi adalah adalah suatu cara penyajian bahan pengajaran
dengan guru memberikan kesempatan kepada siswa atau kelompokkelompok untuk mengadakan perbincangan ilmiah guna
mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun ke
berbagai alternatif pemecahan suatu masalah.
2. Kelemahan metode diskusi meliputi peserta diskusi mendapat
informasi yang terbatas, dikuasai oleh anak-anak yang suka bicara,
banyak waktu yang terpakai.
3. Kekuatan metode diskusi meliputi suasana kelas menjadi hidup,
melatih berfikir kritis, dapat menaikkan prestasi kepribadian
individual, merupakan latihan untuk memenuhi peraturan dan tata
tertib yang berlaku dalam musyawarah.

DAFTAR PUSTAKA
Depdikbud. 1994. Didaktik Atau Metode Umum. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.
Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain. 2006. Strategi Belajar Mengajar.
Jakarta: Rineka Cipta.
Engkoswara. 1984. Dasar-Dasar Metodologi Pengajaran. Jakarta: Bina
Aksara.
Soetomo. 1993. Dasar-dasar Interaksi Belajar Mengajar. Bandung: Usaha
Nasional.