Вы находитесь на странице: 1из 75

MAKALAH FARMAKOTERAPI II

TUBERCULOSIS

OLEH :

Kelompok 2
Ade Syafarullah
Agin Delthia Sautaki
Bella Ardhiyati
Dwi Muharrani
Frehmi Yulianti
Geby Orlance
Jayanti Pratiwi

Dosen :Septi Muharni M.Farm,Apt

PROGRAM STUDI S1 FARMASI


SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI RIAU
YAYASAN UNIVERSITAS RIAU
2016

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat dan karunia-Nya sehingga tersusunnya makalah ini. Pengembangan
pembelajaran dari materi yang ada pada makalah ini, dapat senantiasa dilakukan oleh
mahasiswa/i dalam bimbingan dosen. Upaya ini diharapkan dapat lebih
mengoptimalkan penguasaan mahasiswa/i terhadap kompetensi yang dipersyaratkan.
Dalam penyusunan makalah ini, penyusun menyadari makalah ini mungkin
masih belum sempurna, masih terdapat kelemahan baik dari segi materi, teknik
penulisan, segi bahasa yang di sampaikan . Hal ini tentunya tidak lepas dari
keterbatasan penyusun, oleh sebab itu dengan senang hati penyusun bersedia
menerima kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini. Akhirnya
penyusun berharap semoga makalah ini dapat berguna hendaknya.

Pekanbaru ,Mei 2016

Penyusun

DAFTAR ISI

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Penyakit tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh

Mycobacterium tuberculosis yang sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan
masyarakat.Penyakit ini setidaknya telah menginfeksi sepertiga penduduk dunia.Pada
tahun 1993, World Health Organization (WHO) mencanangkan kedaruratan global
penyakit tuberkulosis karena pada sebagian besar negara di dunia, penyakit
tuberculosis tidak terkendali.Ini disebabkan banyaknya penderita yang tidak berhasil
disembuhkan, terutama penderita menular (Basil Tahan Asam positif). Laporan WHO
(2004 dalam PDPI, 2006) menyatakan bahwa terdapat 8,8 juta kasus baru TB Paru
dan 3,9 juta kasus BTA (Basil Tahan Asam) pada tahun 2002. Indonesia merupakan
peringkat ketiga di dunia setelah India dan Cina dengan pasien sekitar 10% dari total
jumlah pasien TB Paru sedunia( Ariani yesi dan Devi cut, 2011)
Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit yang telah lama dikenal dan
sampai saat ini masih menjadi penyebab utama kematian di dunia.1 Prevalensi TB di
Indonesia dan negaranegara sedang berkembang lainnya cukup tinggi.2 Pada tahun
2006, kasus baru di Indonesia berjumlah >600.000 dan sebagian besar diderita oleh
masyarakat yang berada dalam usia produktif (1555 tahun).(Saptawati leli dkk,
2004)
Angka kematian karena infeksi TB berjumlah sekitar 300 orang per hari dan
terjadi >100.000 kematian per tahun.3 Hal tersebut merupakan tantangan bagi semua
pihak untuk terus berupaya mengendalikan infeksi ini.Salah satu upaya penting untuk
menekan penularan TB di masyarakat adalah dengan melakukan diagnosis dini yang
definitif.Saat ini kriteria terpenting untuk menetapkan dugaan diagnosis TB adalah
berdasarkan pewarnaan tahan asam.Walau demikian, metode ini kurang sensitif,
karena baru memberikan hasil positif bila terdapat >103 organisme/ml sputum. Kultur

memiliki peran penting untuk menegakkan diagnosis TB karena mempunyai


sensitivitas dan spesifisitas yang lebih baik daripada pewarnaan tahan asam.5 Kultur
Lowenstein-Jensen

(LJ)

merupakan

baku

emas

metode

identifikasi

Mycobacteriumtuberculosis, dengan sensitivitas dan spesifisitas masing-masing 99%


dan 100%,6 akan tetapi waktu yang diperlukan untuk memperoleh hasil kultur cukup
lama, yaitu sekitar 8 minggu.Hal ini tentu saja akan menyebabkan keterlambatan
yang bermakna untuk menegakkan diagnosis dan memulai terapi.(Saptawati leli dkk,
2004)
Salah satu pilar penanggulangan penyakit tuberkulosis dengan startegi DOTS
adalah dengan penemuan kasus sedini mungkin.Hal ini dimaksudkan untuk
mengefektifkan pengobatan penderita dan menghindari penularan dari orang kontak
yang termasuk subclinical infection.Kenyataannya di Kota Semarang, data
menunjukkan jumlah penemuan kasus suspect (tersangka) masih jauh dari target.
Sejak tahun 2007 sampai tahun 2009 kuartil ke 1, angka pencapaian penemuan
suspect hanya berkisar 53%. Angka tersebut sangat jauh dari target sehingga
diperkirakan penularan penyakit tuberkulosis akan semakin meluas. (Saptawati leli
dkk, 2004)
Menurut HL. Blum, faktorfaktor yang mempengaruhi kesehatan baik
individu, kelompok, dan masyarakat dikelompokkan menjadi 4, yaitu: lingkungan
(mencakup lingkungan fi sik, sosial, budaya, politik, ekonomi, dan sebagainya),
perilaku, pelayanan kesehatan, dan keturunan. Keempat factor tersebut dalam
mempengaruhi kesehatan tidak berdiri sendiri, namun masingmasing saling
mempengaruhi satu sama lain. Faktor lingkungan selain langsung mempengaruhi
kesehatan

juga

mempengaruhi

perilaku,

dan

perilaku

sebaliknya

juga

mempengaruhilingkungan (Salim, 2010).


Sumber penularan adalah penderita tuberkulosis BTA positif, pada waktu
batuk atau bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet
(percikan dahak).Beberapa faktor yang mengakibatkan menularnya penyakit itu
adalah kebiasaan buruk pasien TB paru yang meludah sembarangan (Suharyo, 2013).

Selain itu, kebersihan lingkungan juga dapat mempengaruhi penyebaran


virus.Misalnya, rumah yang kurang baik dalam pengaturan ventilasi. Kondisi lembab
akibat kurang lancarnya pergantian udara dan sinar matahari dapat membantu
berkembangbiaknya virus ,Oleh karena itu orang sehat yang serumah dengan
penderita TB paru merupakan kelompok sangat rentan terhadap penularan penyakit
tersebut. Lingkungan rumah, Lama kontak serumah dan perilaku pencegahan baik
oleh penderita maupun orang yang rentan sangat mempengaruhi proses penularan
penyakit TB paru. Karakteristik wilayah pedesaan, menjadi determinan tersendiri
pada kejadian penyakit TB. (Suharyo, 2013)
1.2.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
1.1.
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Rumusan masalah
Apakah definisi dari tuberculosis (TBC) ?
Bagaimana etiologi dan gejala dari TBC?
Bagaiman patofisiologi dari penyakit TBC tersebut?
Apa sajakah klasifikasi TBC ?
Bagaimanakah diagnosis pada penyakit TBC ?
Bagaimanakah penatalaksanaan dan pengobatan TBC ?
Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui apakah definisi dari TBC.
Agar memahami bagaimana etiologi dan patofisiologi TBC.
Agar mengetahui apa sajakah faktor-faktor pemicu gejala TBC.
Mengetahui gejala dan diagnosis pada penyakit TBC.
Memberikan informasi tentang terapi/pengobatan TBC.
Agar memahami bagaimana cara pencegahan dari penyakit TBC.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Definisi Tuberculosis (TBC)
Tuberculosis paru adalah penyakit yang disebabkan oleh Mycobakterium
Tuberculosis dengan gejala yang sangat bervariasi, diantaranya adalah batuk lebih

dari 4 minggu dengan atau tanpa sputum, malaise, gejala flu, demam derajad rendah,
nyeri dada dan batuk. (Permatasari amira, 2005)
Tuberkulosis(TBC atau TB) adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan
oleh bakteri Mikobakterium tuberkulosa.Penyebab penyakit ini adalah bakteri
kompleks Mycobacterium
Mycobacteriaceae

dan

tuberculosis.Mycobacteria termasuk dalam family


termasuk

dalam

ordo

Actinomycetales.Kompleks

Mycobacterium tuberculosis meliputi M. tuberculosis, M. bovis, M. africanum,


M.microti, dan M. canettii.Dari beberapa kompleks tersebut, M. tuberculosis
merupakan jenis yang terpenting dan paling sering dijumpai.Bakteri ini merupakan
bakteri basil yang sangat kuat sehingga memerlukan waktu lama untuk
mengobatinya.Bakteri ini lebih sering menginfeksi organ paru-paru (90%)
dibandingkan bagian lain tubuh manusia.(Permatasari amira, 2005)
2.2. Etiologi
Penyakit Tb paru adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh
bakteri.Mycobakterium tuberkulosis. Bakteri ini berbentuk batang dan bersifat tahan
asam sehingga dikenal juga sebagai Batang Tahan Asam (BTA) .Sumber penularan
adalah penderita tuberkulosis BTA positif pada waktubatuk atau bersin. Penderita
menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet (percikan dahak).Droplet yang
mengandung kuman dapat bertahan di udara pada suhu kamar selama beberapa jam.
(Permatasari amira, 2005)
Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup ke dalam saluran
pernafasan.Setelah kuman tuberkulosis masuk ke dalam tubuh manusia melalui
pernafasan, kuman tuberkulosis tersebut dapat menyebar dari paru kebagian tubuh
lainnya melalui sistem peredaran darah, saluran nafas, atau penyebaran langsung ke
bagian-bagian tubuh lainnya.Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh
banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya.Makin tinggi derajat positif hasil
pemeriksaan dahak, makin menular penderita tersebut.Bila hasil pemeriksaan dahak
negatif

(tidak

terlihat

kuman),

maka

penderita

tersebut

dianggap

tidak

menular.Seseorang terinfeksi tuberculosis ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam


udara dan lamanya menghirup udara tersebut.(Permatasari amira, 2005)
2.3. Epidemiologi
A. Personal
1. Umur
Tb Paru Menyerang siapa saja tua, muda bahkan anak-anak.Sebagian besar
penderita Tb Paru di Negara berkembang berumur dibawah 50 tahun.Data WHO
menunjukkan bahwa kasus Tb paru di negara berkembang banyak terdapat pada umur
produktif 15-29 tahun. Penelitian Rizkiyani pada tahun 2008 menunjukkan jumlah
penderita baru Tb Paru positif 87,6% berasal dari usia produktif (15-54 tahun)
sedangkan 12,4 % terjadi pada usia lanjut ( 55 tahun).(Permatasari amira, 2005)
2. Jenis Kelamin
Penyakit Tb Paru menyerang orang dewasa dan anak-anak, lakilaki dan
perempuan.Tb paru menyerang sebagian besar laki-laki usia produktif .(Permatasari
amira, 2005)
3. Stasus gizi
Status nutrisi merupakan salah satu faktor yang menetukan fungsi seluruh
sistem tubuh termasuk sistem imun.Sistem kekebalan dibutuhkan manusia untuk
memproteksi tubuh terutama mencegah terjadinya infeksi yang disebabkan oleh
`mikroorganisme. Bila daya tahan tubuh sedang rendah, kuman Tb paru akan mudah
masuk ke dalam tubuh. Kuman ini akan berkumpul dalam paruparu kemudian
berkembang biak.Tetapi, orang yang terinfeksi kuman TB Paru belum tentu menderita
Tb paru. Hal ini bergantung pada daya tahan tubuh orang tersebut. Apabila, daya
tahan tubuh kuat maka kuman akan terus tertidur di dalam tubuh (dormant) dan tidak
berkembang menjadi penyakt namun apabila daya tahan tubuh lemah makan kuman
Tb akan berkembang menjadi penyakit. Penyakit Tb paru Lebih dominan terjadi pada
masyarakat yang status gizi rendah karena sistem imun yang lemah sehingga
memudahkan kuman Tb Masuk dan berkembang biak. (Permatasari amira, 2005)

b. Tempat
1. Lingkungan
TB paru merupakan salah satu penyakit berbasis lingkungan yang ditularkan
melalui udara. Keadaan berbagai lingkungan yang dapat mempengaruhi penyebaran
Tb paru salah satunya adalah lingkungan yang kumuh,kotor. Penderita Tb Paru lebih
banyak terdapat pada masyarakat yang menetap pada lingkungan yang kumuh dan
kotor .(Permatasari amira, 2005)
2. Kondisi sosial ekonomi
Sebagai penderita Tb paru adalah dari kalangan miskin.Data WHO pada tahun
2011 yang menyatakan bahwa angka kematian akibat Tb paru sebagaian besar berada
di negara yang relatif miskin.(Permatasari amira, 2005)
b. Waktu
Penyakit Tb paru dapat menyerang siapa saja, dimana saja, dan kapan saja
tanpa mengenal waktu. Apabila kuman telah masuk ke dalam tubuh pada saat itu
kuman akan berkembang biak dan berpotensi untuk terjadinya Tb paru. (Permatasari
amira, 2005)
2.4. Patofisiologi TBC
Paru merupakan port dentre lebih dari 98% kasus infeksi TB.Karena
ukurannya yang sangat kecil, kuman TB dalam percik renik (droplet nuclei) yang
terhirup, dapat mencapai alveolus. Masuknya kuman TB ini akan segera diatasi oleh
mekanisme imunologis non spesifik. Makrofag alveolus akan menfagosit kuman TB
dan biasanya sanggup menghancurkan sebagian besar kuman TB. Akan tetapi, pada
sebagian kecil kasus, makrofag tidak mampu menghancurkan kuman TB dan kuman
akan bereplikasi dalam makrofag.( Werdhani Asti Retno,2008)
Kuman TB dalam makrofag yang terus berkembang biak, akhirnya akan
membentuk koloni di tempat tersebut. Lokasi pertama koloni kuman TB di jaringan
paru disebut Fokus Primer GOHN. Dari focus primer, kuman TB menyebar melalui
saluran limfe menuju kelenjar limfe regional, yaitu kelenjar limfe yang mempunyai

saluran limfe ke lokasi focus primer. Penyebaran ini menyebabkan terjadinya


inflamasi di saluran limfe (limfangitis) dan di kelenjar limfe (limfadenitis) yang
terkena. Jika focus primer terletak di lobus paru bawah atau tengah, kelenjar limfe
yang akan terlibat adalah kelenjar limfe parahilus, sedangkan jika focus primer
terletak di apeks paru, yang akan terlibat adalah kelenjar paratrakeal. Kompleks
primer merupakan gabungan antara focus primer, kelenjar limfe regional yang
membesar (limfadenitis) dan saluran limfe yang meradang (limfangitis). ( Werdhani
Asti Retno,2008)
Waktu yang diperlukan sejak masuknya kuman TB hingga terbentuknya
kompleks primer secara lengkap disebut sebagai masa inkubasi TB. Hal ini berbeda
dengan pengertian masa inkubasi pada proses infeksi lain, yaitu waktu yang
diperlukan sejak masuknya kuman hingga timbulnya gejala penyakit. Masa inkubasi
TB biasanya berlangsung dalam waktu 4-8 minggu dengan rentang waktu antara 2-12
minggu.Dalam masa inkubasi tersebut, kuman tumbuh hingga mencapai jumlah 103104, yaitu jumlah yang cukup untuk merangsang respons imunitas seluler.( Werdhani
Asti Retno,2008)
Selama berminggu-minggu awal proses infeksi, terjadi pertumbuhan
logaritmik kuman TB sehingga jaringan tubuh yang awalnya belum tersensitisasi
terhadap tuberculin, mengalami perkembangan sensitivitas. Pada saat terbentuknya
kompleks primer inilah, infeksi TB primer dinyatakan telah terjadi.Hal tersebut
ditandai oleh terbentuknya hipersensitivitas terhadap tuberkuloprotein, yaitu
timbulnya respons positif terhadap uji tuberculin.Selama masa inkubasi, uji
tuberculin masih negatif.Setelah kompleks primer terbentuk, imunitas seluluer tubuh
terhadap TB telah terbentuk.( Werdhani Asti Retno,2008)
Pada sebagian besar individu dengan system imun yang berfungsi baik, begitu
system imun seluler berkembang, proliferasi kuman TB terhenti.Namun, sejumlah
kecil kuman TB dapat tetap hidup dalam granuloma. Bila imunitas seluler telah
terbentuk, kuman TB baru yang masuk ke dalam alveoli akan segera dimusnahkan.
Setelah imunitas seluler terbentuk, focus primer di jaringan paru biasanya mengalami

resolusi secara sempurna membentuk fibrosis atau kalsifikasi setelah mengalami


nekrosis perkijuan dan enkapsulasi. Kelenjar limfe regional juga akanmengalami
fibrosis dan enkapsulasi, tetapi penyembuhannya biasanya tidak sesempurna focus
primer di jaringan paru.Kuman TB dapat tetap hidup dan menetap selama bertahuntahun dalam kelenjar ini.( Werdhani Asti Retno,2008)
Kompleks primer dapat juga mengalami komplikasi. Komplikasi yang terjadi
dapat disebabkan oleh focus paru atau di kelenjar limfe regional. Fokus primer di
paru dapat membesar dan menyebabkan pneumonitis atau pleuritis fokal. Jika terjadi
nekrosis perkijuan yang berat, bagian tengah lesi akan mencair dan keluar melalui
bronkus sehingga meninggalkan rongga di jaringan paru (kavitas). Kelenjar limfe
hilus atau paratrakea yang mulanya berukuran normal saat awal infeksi,
akanmembesar karena reaksi inflamasi yang berlanjut. Bronkus dapat terganggu.
( Werdhani Asti Retno,2008)
Obstruksi parsial pada bronkus akibat tekanan eksternal dapat menyebabkan
ateletaksis.Kelenjar yang mengalami inflamasi dan nekrosis perkijuan dapat merusak
dan menimbulkan erosi dinding bronkus, sehingga menyebabkan TB endobronkial
atau membentuk fistula.Massa kiju dapat menimbulkan obstruksi komplit pada
bronkus sehingga menyebabkan gabungan pneumonitis dan ateletaksis, yang sering
disebut sebagai lesi segmental kolaps-konsolidasi.Selama masa inkubasi, sebelum
terbentuknya

imunitas

seluler,

dapat

terjadi

penyebaran

limfogen

dan

hematogen.Pada penyebaran limfogen, kuman menyebar ke kelenjar limfe regional


membentuk kompleks primer.Sedangkan pada penyebaran hematogen, kuman TB
masuk ke dalam sirkulasi darah dan menyebarseluruh tubuh.Adanya penyebaran
hematogen inilah yang menyebabkan TB disebut sebagai penyakit sistemik.
( Werdhani Asti Retno,2008)
Penyebaran hamatogen yang paling sering terjadi adalah dalam bentuk
penyebaran hematogenik tersamar (occult hamatogenic spread). Melalui cara ini,
kuman TB menyebar secara sporadic dan sedikit demi sedikit sehingga tidak
menimbulkan gejala klinis. Kuman TB kemudian akan mencapai berbagai organ di

seluruh tubuh. Organ yang biasanya dituju adalah organ yang mempunyai
vaskularisasi baik,misalnya otak, tulang, ginjal, dan paru sendiri, terutama apeks paru
atau lobus atas paru. Di berbagai lokasi tersebut, kuman TB akan bereplikasi dan
membentuk koloni kuman sebelum terbentuk imunitas seluler yang akan membatasi
pertumbuhannya. ( Werdhani Asti Retno,2008)
Di

dalam

koloni

yang

sempat

terbentuk

dan

kemudian

dibatasi

pertumbuhannya oleh imunitas seluler, kuman tetap hidup dalam bentuk


dormant.Fokus ini umumnya tidak langsung berlanjut menjadi penyakit, tetapi
berpotensi untuk menjadi focus reaktivasi.Fokus potensial di apkes paru disebut
sebagai Fokus SIMON. Bertahuntahun kemudian, bila daya tahan tubuh pejamu
menurun, focus TB ini dapat mengalami reaktivasi dan menjadi penyakit TB di organ
terkait, misalnya meningitis, TB tulang, dan lain-lain. ( Werdhani Asti Retno,2008)
Bentuk penyebaran hamatogen yang lain adalah penyebaran hematogenik
generalisata akut (acute generalized hematogenic spread). Pada bentuk ini, sejumlah
besar kuman TB masuk dan beredar dalam darah menuju ke seluruh tubuh.Hal ini
dapat menyebabkan timbulnya manifestasi klinis penyakit TB secara akut, yang
disebut TB diseminata.TB diseminata ini timbul dalam waktu 2-6 bulan setelah
terjadi infeksi.Timbulnya penyakit bergantung pada jumlah dan virulensi kuman TB
yang beredar serta frekuensi berulangnya penyebaran.Tuberkulosis diseminata terjadi
karena tidak adekuatnya system imun pejamu (host) dalam mengatasi infeksi TB,
misalnya pada balita.( Werdhani Asti Retno,2008)
Tuberkulosis milier merupakan hasil dari acute generalized hematogenic
spreaddengan jumlah kuman yang besar. Semua tuberkel yang dihasilkan melalui
cara ini akan mempunyai ukuran yang lebih kurang sama. Istilih milier berasal dari
gambaran lesi diseminata yang menyerupai butur padi-padian/jewawut (millet
seed).Secara patologi anatomik, lesi ini berupa nodul kuning berukuran 1-3 mm, yang
secara histologi merupakan granuloma.Bentuk penyebaran hematogen yang jarang
terjadi adalah protracted hematogenicspread. Bentuk penyebaran ini terjadi bila suatu

focus perkijuan menyebar ke saluran vascular di dekatnya, sehingga sejumlah kuman


TB akan masuk dan beredar di dalam darah. ( Werdhani Asti Retno,2008)
Secara klinis, sakit TB akibat penyebaran tipe ini tidak dapat dibedakan
dengan acute generalized hematogenic spread. Hal ini dapat terjadi secara
berulang.Pada anak, 5 tahun pertama setelah infeksi (terutama 1 tahun pertama),
biasanya sering terjadi komplikasi. Menurut Wallgren, ada 3 bentuk dasar TB paru
pada anak, yaitu penyebaran limfohematogen, TB endobronkial, dan TB paru kronik.
Sebanyak 0.5-3% penyebaran limfohematogen akan menjadi TB milier atau
meningitis TB, halini biasanya terjadi 3-6 bulan setelah infeksi primer.( Werdhani
Asti Retno,2008)
Tuberkulosis endobronkial (lesi segmental yang timbul akibat pembesaran
kelenjar regional) dapat terjadi dalam waktu yang lebih lama (3-9 bulan). Terjadinya
TB paru kronik sangat bervariasi, bergantung pada usia terjadinya infeksi primer. TB
paru kronik biasanya terjadi akibat reaktivasi kuman di dalam lesi yang tidak
mengalami resolusi sempurna.Reaktivasi ini jarang terjadi pada anak, tetapi sering
pada remaja dan dewasa muda.Tuberkulosis ekstrapulmonal dapat terjadi pada 2530% anak yang terinfeksi TB. TB tulang dan sendi terjadi pada 5-10% anak yang
terinfeksi, dan paling banyak terjadi dalam 1 tahun tetapi dapat juga 2-3 tahun
kemudian. TB ginjal biasanya terjadi 5-25 tahun setelah infeksi primer.( Werdhani
Asti Retno,2008)

10

11

2.5. Gejala Penyakit TBC


Keluhan dan gejala pada penderita tuberkulosis paru dapat dibagi menjadi
gejala lokal diparu dan keluhan pada selurh tubuh secara umum. Keluhan diparu pun
akan banyak tergantung pada jaringan paru yang sudah rusak karena teberkulosis ini
dan bagaimana bentuk kerusakan yang ada. Harus diketahui pula bahwa tidak ada
keluhan yang khas untuk tuberkulosis. Artinya keluhan-keluhan yang ada bisa saja
menyerupai keluhan pada penyakit lain. Batuk misalnya, memang dapat terjadi pada

12

tuberkulosis tetapi dapat terjadi juga pada penyakit flu biasa. Menurut Depkes RI
2009 tanda dan gejalanya diantara lain: (Permatasari amira, 2005)
a. Batuk terus menerus dan berdahak selama 2 minggu atau lebih.
b. Batuk bercampur darah.
c. Sesak nafas dan nyeri dada.
d. Badan lemah.
e. Nafsu makan berkurang.
f. Berat badan turun.
g. Rasa kurang enak badan (lemas).
h. Demam meriang berkepanjangan.
i. Berkeringat dimalam hari walaupun tidak melakukan kegiatan.
Gejala khusus:
Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan sebagian
bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan kelenjar getah bening
yang membesar, akan menimbulkan suara mengi, suara nafas melemah yang
disertai sesak.
Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat disertai dengan
keluhan sakit dada.
Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang pada
suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di atasnya, pada muara
ini akan keluar cairan nanah.

13

Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan disebut
sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah demam tinggi, adanya
penurunan kesadaran dan kejang-kejang. ( Werdhani Asti Retno,2008)
Pada pasien anak yang tidak menimbulkan gejala, TBC dapat terdeteksi kalau
diketahui adanya kontak dengan pasien TBC dewasa.Kira-kira 30-50% anak yang
kontak dengan penderita TBC paru dewasa memberikan hasil uji tuberkulin
positif.Pada anak usia 3 bulan 5 tahun yang tinggal serumah dengan penderita TBC
paru dewasa dengan BTA positif, dilaporkan 30% terinfeksi berdasarkan pemeriksaan
serologi/darah. ( Werdhani Asti Retno,2008)
2.6. Klasifikasi
Penentuan klasifikasi penyakit dan tipe penderita tuberkulosis memerlukan
suatu definisi kasus yang memberikan batasan baku setiap klasifikasi dan tipe
penderita. Penentuan klasifikasi penyakit dan tipe penderita penting dilakukan untuk
menetapkan paduan OAT yang sesuai dan dilakukan sebelum pengobatan dimulai.
Ada empat hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan definisi-kasus, yaitu:
Organ tubuh yang sakit: paru atau ekstra paru;
Hasil pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung: BTA positif atau BTA
negatif;
Riwayat pengobatan sebelumnya: baru atau sudah pernah diobati;
Tingkat keparahan penyakit: ringan atau berat. (Departemen Kesehatan, 2005)
Berdasarkan tempat/organ yang diserang oleh kuman, maka tuberculosis
dibedakan menjadi Tuberkulosis Paru, Tuberkulosis Ekstra Paru.
a. Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang

jaringan

parenchymparu, tidak termasuk pleura (selaput paru). Berdasarkan hasil


pemeriksaandahak, TB Paru dibagi dalam:

14

1) Tuberkulosis Paru BTA Positif.


Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif.
1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto rontgen
dadamenunjukkan gambaran tuberkulosis aktif.
2) Tuberkulosis Paru BTA Negatif
Pemeriksaan 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif dan foto rontgen
dada menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif.(Departemen Kesehatan,
2005)
TB Paru BTA Negatif Rontgen Positif dibagi berdasarkan tingkat
keparahan penyakitnya, yaitu bentuk berat dan ringan.Bentuk berat bila
gambaran foto rontgen dada memperlihatkan gambaran kerusakan paru yang
luas (misalnya proses "far advanced" atau millier), dan/atau keadaan umum
penderita buruk.(Departemen Kesehatan, 2005)
b. Tuberkulosis Ekstra Paru
Tuberculosis ekstra paru adalah tuberkulosis yang menyerang organ tubuhlain
selain

paru,

misalnya

pleura,

selaput

otak,

selaput

jantung

(pericardium),kelenjar lymfe, tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, saluran


kencing, alatkelamin, dan lain-lain. TB ekstra-paru dibagi berdasarkan pada
tingkatkeparahan penyakitnya, yaitu:
1) TB Ekstra Paru Ringan

15

Misalnya: TB kelenjar limphe, pleuritis eksudativa unilateral, tulang


(kecualitulang belakang), sendi, dan kelenjar adrenal.
2) TB Ekstra-Paru Berat
Misalnya: meningitis, millier, perikarditis, peritonitis, pleuritis eksudativa
duplex, TB tulang belakang, TB usus, TB saluran kencing dan alat kelamin.
Berdasarkan Tipe Penderita
Tipe penderita ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. Ada
beberapa tipe penderita yaitu :
a. Kasus baru
Adalah penderita yang belum pernah mendapatpengobatan dengan OAT atau
sudah pernah menelanOAT kurang dari satu bulan (30 dosis harian)
b. Kasus kambuh (relaps)
Adalah penderita tuberkulosis yang sebelumnyapernah mendapat
pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan
lengkap, kemudian kembali lagi berobat dengan hasil pemeriksaan dahak BTA
positif atau biakan positif.Bila hanya menunjukkan perubahan pada gambaran
radiologik sehingga dicurigai lesi aktif kembali, harusdipikirkan beberapa
kemungkinan :
Infeksi sekunder
Infeksi jamur
TB paru kambuh. (PDPI, 2006)
c. Kasus pindahan (Transfer In)
Adalah penderita yang sedang mendapatkanpengobatan di suatu
kabupaten dan kemudian pindah berobat ke kabupaten lain. Penderita
pindahan tersebut harus membawa surat rujukan/pindah. (PDPI, 2006)
d. Kasus lalai berobat
Adalah penderita yang sudah berobat paling kurang 1bulan, dan
berhenti 2 minggu atau lebih, kemudian adatang kembali berobat. Umumnya

16

penderita tersebutkembali dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif.


(PDPI, 2006)
e. Kasus Gagal
Adalah penderita BTA positif yang masih tetappositif atau kembali
menjadi positif pada akhir bulan ke-5 (satu bulan sebelum akhir

pengobatan)
Adalah penderita dengan hasil BTA negative gambaran radiologik
positif menjadi BTA positifpada akhir bulan ke-2 pengobatan dan
ataugambaran radiologik ulang hasilnya perburukan. (PDPI, 2006)

f. Kasus kronik
Adalah penderita dengan hasil pemeriksaan dahakBTA masih positif
setelah selesai pengobatan ulang kategori 2 dengan pengawasan yang baik. .
(PDPI, 2006)
g. Kasus bekas TB
Hasil pemeriksaan dahak mikroskopik (biakanjika ada fasilitas) negatif dan
gambaran
radiologik paru menunjukkan lesi TB inaktif, terlebih gambaran radiologik
serialmenunjukkan gambaran yang menetap. Riwayatpengobatan OAT yang
adekuat akan lebihmendukung. (PDPI, 2006)
Pada kasus dengan gambaran radiologic meragu

kan lesi TB aktif, namun

setelah mendapat pengobatan OAT selama 2 bulanternyata tidak ada


perubahan gambaran radiologic. (PDPI, 2006)

17

2.7. Diagnosis TBC

18

A. Gambaran Klinik
Diagnosis

tuberkulosis

dapat

ditegakkan

berdasarkan

gejala

klinik,

pemeriksaan fisik/jasmani, pemeriksaan bakteriologik, radiologik dan pemeriksaan


penunjang lainnya.( PDPI, 2006)
Gejala klinik
Gejala klinik tuberkulosis dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu gejala
respiratorik (atau gejala organ yang terlibat) dan gejala sistemik.
1. Gejala respiratorik
batuk 3 minggu
batuk darah
sesak napas
nyeri dada
Gejala respiratorik ini sangat bervariasi, dari mulai tidak adagejala sampai
gejala yang cukup berat tergantung dari luas lesi. Kadang penderita terdiagnosis pada
saat medical checkup. Bila bronkus belum terlibat dalam proses penyakit, maka
penderita mungkin tidak ada gejala batuk. Batuk yang pertama terjadi karena iritasi
bronkus, dan selanjutnya batuk diperlukan untuk membuang dahak ke luar.( PDPI,
2006)
Gejala tuberkulosis ekstra paru tergantung dari organ yangterlibat, misalnya
pada limfadenitis tuberkulosa akan terjadi pembesaran yang lambat dan tidak nyeri
dari kelenjar getah bening, pada meningitis tuberkulosa akan terlihat gejala
meningitis, sementara pada pleuritis tuberkulosa terdapat gejala sesak napas &
kadang nyeri dada pada sisi yang rongga pleuranya terdapat cairan. ( PDPI, 2006)
2. Gejala sistemik
Demam
gejala sistemik lain: malaise, keringat malam, anoreksia, berat badan menurun(
PDPI, 2006)

19

B.Pemeriksaan Jasmani
Pada pemeriksaan jasmani kelainan yang akan dijumpai tergantung dari organ
yang terlibat. Pada tuberkulosis paru, kelainan yang didapat tergantung luas kelainan
struktur paru.Pada permulaan (awal) perkembangan penyakit umumnya tidak (atau
sulit sekali) menemukan kelainan. Kelainan paru pada umumnya terletak di daerah
lobus superior terutama daerah apex dan segmen posterior , serta daerah apex lobus
inferior. Pada pemeriksaan jasmani dapat ditemukan antara lain suara napas bronkial,
amforik, suara napas melemah, ronki basah, tanda-tanda penarikan paru, diafragma &
mediastinum.( PDPI, 2006)
C. Pemeriksaan Bakteriologik
a. Bahan pemeriksasan
Pemeriksaan bakteriologik untuk menemukan kumantuberkulosis mempunyai
arti yang sangat penting dalam menegakkan diagnosis. Bahan untuk pemeriksaan
bakteriologik ini dapat berasal dari dahak, cairan pleura,liquor cerebrospinal, bilasan
bronkus, bilasan lambung,kurasan bronkoalveolar (bronchoalveolar lavage/BAL),
urin, faeces dan jaringan biopsi (termasuk biopsi jarum halus/BJH)
b. Cara pengumpulan dan pengiriman bahan
Cara pengambilan dahak 3 kali, setiap pagi 3 hari berturutturutatau dengan
cara:
Sewaktu/spot (dahak sewaktu saat kunjungan)
Dahak Pagi ( keesokan harinya )
Sewaktu/spot ( pada saat mengantarkan dahak pagi)
D. Pemeriksaan Radiologik
Pemeriksaan standar ialah foto toraks PA dengan atau tanpa foto lateral.
Pemeriksaan lain atas indikasi : foto apiko-lordotik, oblik, CT-Scan. Pada
pemeriksaan foto toraks, tuberkulosis dapat memberi gambaran bermacam-macam
bentuk (multiform).Gambaran radiologik yang dicurigai sebagai lesi TB aktif :
Bayangan berawan / nodular di segmen apikal dan posterior

20

lobus atas paru dan segmen superior lobus bawah


Kaviti, terutama lebih dari satu, dikelilingi oleh bayangan
opak berawan atau nodular
Bayangan bercak milier
Efusi pleura unilateral (umumnya) atau bilateral (jarang) .
Gambaran radiologik yang dicurigai lesi TB inaktif
Fibrotik pada segmen apikal dan atau posterior lobus atas
Kalsifikasi atau fibrotik
Kompleks ranke
Fibrotoraks/Fibrosis parenkim paru dan atau penebalan pleura
Luluh Paru (Destroyed Lung ) :
Gambaran radiologik yang menunjukkan kerusakan jaringan paru yang berat,
biasanya secara klinis disebut luluh paru .Gambaran radiologik luluh paru terdiri dari
atelektasis, multikaviti dan fibrosis parenkim paru.Sulit untuk menilai aktiviti lesi
atau penyakit hanya berdasarkan gambaran radiologik tersebut.
Perlu dilakukan pemeriksaan bakteriologik untuk memastikanaktiviti proses
penyakit
Kalsifikasi atau fibrotik
Kompleks ranke
Fibrotoraks/Fibrosis parenkim paru dan atau penebalan pleura
Luluh Paru (Destroyed Lung ) :
Gambaran radiologik yang menunjukkan kerusakan jaringan paru yang berat,
biasanya secara klinis disebut luluh paru .Gambaran radiologik luluh paru terdiri dari
atelektasis, multikaviti dan fibrosis parenkim paru.Sulit untuk menilai aktiviti lesi
atau penyakit hanya berdasarkan gambaran radiologik tersebut.
Perlu dilakukan pemeriksaan bakteriologik untuk memastikan aktiviti proses
penyakit
E. Pemeriksaan Penunjang

21

Salah satu masalah dalam mendiagnosis pasti tuberkulosis adalahlamanya


waktu

yang

dibutuhkan

untuk

pembiakan

kuman

tuberkulosis

secara

konvensional.Dalam perkembangan kini ada beberapa teknik baru yang dapat


mengidentifikasi kuman tuberkulosis secara lebih cepat. (PDPI, 2006)
1. Polymerase chain reaction (PCR):
Pemeriksaan PCR adalah teknologi canggih yang dapat mendeteksi DNA,
termasuk DNA M.tuberculosis.Salah satumasalah dalam pelaksanaan teknik ini
adalah kemungkinankontaminasi.Cara pemeriksaan ini telah cukup banyak dipakai,
kendati masih memerlukan ketelitian dalam pelaksanaannya.Hasil pemeriksaan PCR
dapat membantu untuk menegakkan diagnosis sepanjang pemeriksaan tersebut
dikerjakan dengan cara yang benar dan sesuai standar.(PDPI, 2006)
2. Pemeriksaan serologi, dengan berbagai metoda:
a. Enzym linked immunosorbent assay (ELISA)
Teknik ini merupakan salah satu uji serologi yangdapat mendeteksi respon
humoral berupa proses antigen-antibodi yang terjadi. Beberapa masalah dalam teknik
ini antara lain adalah kemungkinan antibodi menetap dalam waktu yang cukup lama.
(PDPI, 2006)
b. Mycodot
Uji ini mendeteksi antibodi antimikobakterial di dalamtubuh manusia.Uji ini
menggunakan antigen lipoarabinomannan (LAM) yang direkatkan pada suatu alat
yang berbentuk sisir plastik. Sisir plastik ini kemudian dicelupkan ke dalam serum
penderita, dan
bila di dalam serum tersebut terdapat antibodi spesifikanti LAM dalam jumlah yang
memadai yang sesuai dengan aktiviti penyakit, maka akan timbul perubahan warna
pada sisir yang dapat dideteksi dengan mudah. (PDPI, 2006)
c. Uji peroksidase anti peroksidase (PAP)
Uji ini merupakan salah satu jenis uji yang mendeteksi reaksi serologi yang terjadi.
(PDPI, 2006)
d. ICT

22

Uji Immunochromatographic tuberculosis (ICTtuberculosis) adalah uji


serologik untuk mendeteksi antibodi M.tuberculosis dalam serum.Uji ICT
tuberculosis merupakan uji diagnostik TB yang menggunakan 5 antigen spesifik yang
berasal dari membran sitoplasma M.tuberculosis.(PDPI, 2006)
3. Pemeriksaan BACTEC
Dasar teknik pemeriksaan biakan dengan BACTEC iniadalah metode
radiometrik.M

tuberculosis

memetabolisme

asam

lemak

yang

kemudian

menghasilkan CO2 yang akandideteksi growth indexnya oleh mesin ini. Sistem ini
dapatmenjadi salah satu alternatif pemeriksaan biakan secara cepat untuk membantu
menegakkan diagnosis.(PDPI, 2006)
4. Pemeriksaan Cairan Pleura
Pemeriksaan analisis cairan pleura & uji Rivalta cairanpleura perlu dilakukan
pada penderita efusi pleura untuk membantu menegakkan diagnosis.Interpretasi hasil
analisis yang mendukung diagnosis tuberkulosis adalah uji Rivalta positif dan kesan
cairan eksudat, serta pada analisis cairan pleura terdapat sel limfosit dominan dan
glukosa rendah.(PDPI, 2006)
5. Pemeriksaan histopatologi jaringan
Bahan histopatologi jaringan dapat diperoleh melalui biopsy paru dengan
trans bronchial lung biopsy (TBLB), transthoracal biopsy (TTB), biopsi paru
terbuka, biopsi pleura, biopsi kelenjar getah bening dan biopsi organ lain diluar paru.
Dapat pula dilakukan biopsi aspirasi dengan jarum halus (BJH =biopsi jarum halus).
Pemeriksaan biopsy dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis, terutama
pada tuberkulosis ekstra paru.Diagnosis pasti infeksi TB didapatkan bila pemeriksaan
histopatologi pada jaringan paru atau jaringan diluar paru memberikan hasil berupa
granuloma dengan perkejuan.(PDPI, 2006)
6. Pemeriksaan darah
Hasil pemeriksaan darah rutin kurang menunjukkanindikator yang spesifik
untuk tuberkulosis. Laju endapdarah ( LED) jam pertama dan kedua sangat
dibutuhkan.Data ini sangat penting sebagai indikator tingkat kestabilan keadaan nilai

23

keseimbangan biologik penderita, sehingga dapat digunakan untuk salah satu respon
terhadap pengobatan penderita serta kemungkinan sebagai predeteksi tingkat
penyembuhan penderita. Demikian pula kadar limfosit bisa menggambarkan biologik/
daya tahan tubuh penderida , yaitu dalam keadaan supresi / tidak. LED sering
meningkat pada proses aktif, tetapi laju endap darah yang kurang spesifik.(PDPI,
2006)
7. Uji tuberkulin
Pemeriksaan ini sangat berarti dalam usaha mendeteksi infeksi TBdi daerah
dengan prevalensi tuberkulosis rendah. Di Indonesia dengan prevalensi tuberkulosis
yang tinggi, pemeriksaan uji tuberkulin sebagai alat bantu diagnostik kurang berarti,
apalagi pada orang dewasa. Uji ini akan mempunyai makna bila didapatkan konversi
dari uji yang dilakukan satu bulan sebelumnya atau apabila kepositifan dari uji yang
didapat besar sekali.( Departemen Kesehatan, 2005)

24

25

2.8. Penatalaksanaan TBC


Pengendalian atau penanggulangan TB yang terbaik adalah mencegah agar
tidakterjadi penularan maupun infeksi. Pencegahan TB pada dasarnya adalah :
1) Mencegah penularan kuman dari penderita yang terinfeksi
2) Menghilangkan atau mengurangi faktor risiko yang menyebabkan terjadinya
penularan.
a. Non farmakologi
Pencegahan dilakukan dengan cara mengurangi atau menghilangkan faktor
risiko, yakni pada dasarnya adalah mengupayakan kesehatan perilaku dan
lingkungan,antara lain dengan pengaturan rumah agar memperoleh cahaya matahari,
mengurangi

kepadatan

anggota

keluarga,

mengatur

kepadatan

penduduk,

menghindari meludah sembarangan, batuk sembarangan, mengkonsumsi makanan


yang bergizi yang baik dan seimbang. Dengan demikian salah satu upaya pencegahan
adalah dengan penyuluhan..Penyuluhan TB dilakukan berkaitan dengan masalah
pengetahuan dan perilaku masyarakat.Tujuan penyuluhan adalah untuk meningkatkan

26

kesadaran, kemauan dan peranserta masyarakat dalam penanggulangan TB.


( Departemen Kesehatan, 2005)
b. farnakologi
Prinsip Pengobatan
Sesuai dengan sifat kuman TB, untuk memperoleh efektifitas pengobatan, maka
prinsip prinsip yang dipakai adalah :
- Menghindari penggunaan monoterapi. Obat Anti Tuberkulosis (OAT)diberikan
dalam bentuk kombinasi dari beberapa jenis obat, dalam jumlah cukup dan dosis
tepat sesuai dengan kategori pengobatan.Hal ini untuk mencegah timbulnya
kekebalan terhadap OAT.
-

Untuk

menjamin

pengobatandilakukan

kepatuhan

dengan

penderita

pengawasan

dalam

langsung

menelan

(DOT

obat,
Directly

ObservedTreatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO).


- Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan lanjutan.
( Departemen Kesehatan, 2005)
Tahap Intensif
Pada tahap intensif (awal) penderita mendapat obat setiap hari dan perludiawasi
secara langsung untuk mencegah terjadinya kekebalan obat.

Bila

pengobatan

tahap

intensif

tersebut

diberikan

secara

tepat,

biasanyapenderita menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu.


Sebagian besar penderita TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi)dalam
2 bulan.( Departemen Kesehatan, 2005)
Tahap Lanjutan
Pada tahap lanjutan penderita mendapat jenis obat lebih sedikit, namundalam
jangka waktu yang lebih lama
Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister (dormant)sehingga
mencegah terjadinya kekambuhan.( Departemen Kesehatan, 2005)

27

Regimen Pengobatan
Penggunaan Obat Anti TB yang dipakai dalam pengobatan TB adalah
antibotikdan

anti

infeksi

sintetis

untuk

membunuh

kuman

Mycobacterium.Aktifitas obatTB didasarkan atas tiga mekanisme, yaitu aktifitas


membunuh bakteri, aktifitas sterilisasi, dan mencegah resistensi.Obat yang umum
dipakai

adalah

Isoniazid,Etambutol,

Rifampisin,

Pirazinamid,

dan

Streptomisin.Kelompok obat ini disebut sebagai obat primerSedangkan obat lain


yang juga pernah dipakai adalah Natrium Para Amino Salisilat, Kapreomisin,
Sikloserin, Etionamid, Kanamisin, Rifapentin dan Rifabutin. Natrium Para Amino
Salisilat, Kapreomisin, Sikloserin, Etionamid, dan Kanamisin umumnya
mempunyai efek yang lebih toksik, kurang efektif, dan dipakai jika obat primer
sudah resisten. ( Departemen Kesehatan, 2005)
Rejimen pengobatan TB mempunyai kode standar yang menunjukkan tahap
danlama pengobatan, jenis OAT, cara pemberian (harian atau selang) dan
kombinasi

OAT

dengan

dosis

tetap.

Contoh

2HRZE/4H3R3

atau2HRZES/5HRE. ( Departemen Kesehatan, 2005)


Kode huruf tersebut adalah akronim dari nama obat yang dipakai, yakni :
H = Isoniazid
R = Rifampisin
Z = Pirazinamid
E = Etambutol
S = Streptomisin
Sedangkan

angka

yang

ada

dalam

kode

menunjukkan

waktu

atau

frekwensi.Angka 2 didepan seperti pada 2HRZE, artinya digunakan selama 2


bulan, tiap hari satu kombinasi tersebut, sedangkan untuk angka dibelakang huruf,
sepertipada 4H3R3 artinya dipakai 3 kali seminggu ( selama 4 bulan). Sebagai
contoh, untuk TB kategori I dipakai 2HRZE/4H3R3, artinya :Tahap awal/intensif

28

adalah 2HRZE : Lama pengobatan 2 bulan, masing masingOAT (HRZE)


diberikan setiap hari.
Tahap lanjutan adalah 4H3R3 : Lama pengobatan 4 bulan, masing masing
OAT(HR) diberikan 3 kali seminggu.( Departemen Kesehatan, 2005)

Paduan OAT Yang Digunakan Di Indonesia


Paduan pengobatan yang digunakan oleh Program Nasional PenanggulanganTB
oleh Pemerintah Indonesia :
Kategori 1 : 2HRZE/4H3R3.
Kategori 2 : 2HRZES/HRZE/5H3R3E3.
Kategori 3 : 2 HRZ/4H3R3.
Disamping ketiga kategori ini, disediakan paduan obat sisipan (HRZE)
a. Kategori-1 (2hrze/4h3r3)
Tahap intensif terdiri dari HRZE diberikan setiap hari selama 2
bulan.Kemudianditeruskan dengan tahap lanjutan yang terdiri dari HR diberikan
tiga kali dalamseminggu selama 4 bulan.( Departemen Kesehatan, 2005)
Obat ini diberikan untuk:
Penderita baru TB Paru BTA Positif.

29

Penderita baru TB Paru BTA negatif Rntgen Positif yang sakit berat
Penderita TB Ekstra Paru berat

b. Kategori -2 (2hrzes/Hrze/5h3r3e3)
Tahap intensif diberikan selama 3 bulan, yang terdiri dari 2 bulan dengan
HRZESsetiap hari.Dilanjutkan 1 bulan dengan HRZE setiap hari.Setelah itu
diteruskandengan tahap lanjutan selama 5 bulan dengan HRE yang diberikan tiga
kali dalam seminggu.Obat ini diberikan untuk penderita TB paru BTA(+) yang
sebelumnyapernah diobati, yaitu:
Penderita kambuh (relaps)

30

Penderita gagal (failure)


Penderita dengan pengobatan setelah lalai (after default).( Departemen
Kesehatan, 2005)

c. Kategori-3 (2hrz/4h3r3)
Tahap intensif terdiri dari HRZ diberikan setiap hari selama 2 bulan
(2HRZ),diteruskan dengan tahap lanjutan terdiri dari HR selama 4 bulan
diberikan 3 kali seminggu.
Obat ini diberikan untuk:
Penderita baru BTA negatif dan rntgen positif sakit ringan,

31

Penderita TB ekstra paru ringan. ( Departemen Kesehatan, 2005)

d. Oat Sisipan (Hrze)


Bila pada akhir tahap intensif pengobatan penderita baru BTA positif
dengankategori 1 atau penderita BTA positif pengobatan ulang dengan kategori 2,
hasil pemeriksaan dahak masih BTA positif, diberikan obat sisipan (HRZE) setiap
hariselama 1 bulan. Paduan OAT Sisipan untuk penderita dengan berat badan
antara 33 50 kg1 tablet Isoniazid 300 mg, 1 kaplet Rifampisin 450 mg, 3 tablet
Pirazinamid 500 mg, 3 tablet Etambutol 250 mgSatu paket obat sisipan berisi 30
blister HRZE yang dikemas dalam 1 dos kecil.( Departemen Kesehatan, 2005)
Obat Anti Tuberkulosis
Dalam Bab ini diuraikan paparan dari obat Anti TB :
H = Isoniazid
R = Rifampisin
Z = Pirazinamid
E = Etambutol
S = Streptomisin

32

1. Isoniazida (H)
Identitas.Sediaan dasarnya adalah tablet dengan nama generik Isoniazida100 mg
dan

300

mg

tablet

Nama

lain

Isoniazida

Asam

Nicotinathidrazida;Isonikotinilhidrazida; INH
Dosis.Untuk pencegahan, dewasa 300 mg satu kali sehari, anak anak 10 mgper
berat badan sampai 300 mg, satu kali sehari. Untuk pengobatan TB bagi orang
dewasa sesuai dengan petunjuk dokter / petugas kesehatan lainnya.Umumnya
dipakai bersama dengan obat anti tuberkulosis lainnya. Dalamkombinasi biasa
dipakai 300 mg satu kali sehari, atau 15 mg per kg berat badan sampai dengan
900 mg, kadang kadang 2 kali atau 3 kali seminggu. Untuk anak dengan dosis 10
20 mg per kg berat badan.Atau 20 40 mg per kg berat badansampai 900 mg, 2
atau 3 kali seminggu.( Departemen Kesehatan, 2005)
Indikasi.Obat ini diindikasikan untuk terapi semua bentuk tuberkulosis
aktif,disebabkan kuman yang peka dan untuk profilaksis orang berisiko
tinggimendapatkan infeksi. Dapat digunakan tunggal atau bersama-sama dengan
antituberkulosis lain.( Departemen Kesehatan, 2005)
Kontraindikasi.Kontra indikasinya adalah riwayat hipersensistifitas atau
reaksiadversus, termasuk demam, artritis, cedera hati, kerusakan hati akut,
( Departemen Kesehatan, 2005)
Kerja Obat. Bersifat bakterisid, dapat membunuh 90% populasi kuman
dalambeberapa hari pertama pengobatan.Efektif terhadap kuman dalam keadaan
metabolik aktif, yaitu kuman yang sedang berkembang.Mekanisme kerja
berdasarkan terganggunya sintesa mycolic acid, yang diperlukan untuk
membangun dinding bakteri.( Departemen Kesehatan, 2005)
Efek Samping. Efek samping dalam hal neurologi: parestesia, neuritis
perifer,gangguan penglihatan, neuritis optik, atropfi optik, tinitus, vertigo, ataksia,
somnolensi, mimpi berlebihan, insomnia, amnesia, euforia, psikosis toksis,
perubahan tingkah laku, depresi, ingatan tak sempurna, hiperrefleksia,
ototmelintir, konvulsi.Hipersensitifitas demam, menggigil, eropsi kulit (bentuk

33

morbili,mapulo papulo, purpura, urtikaria), limfadenitis, vaskulitis, keratitis.


( Departemen Kesehatan, 2005)
Peringatan/Perhatian Diperingatkan hati-hati jika menggunakan Isoniazid
padasakit hati kronik, disfungsi ginjal, riwayat gangguan konvulsi.
Nama dagang : inoxin, kapedoxin, pulmolin, suprazid
2. Rifampisin
Identitas.Sediaan dasar yang ada adalah tablet dan kapsul 300 mg, 450 mg, 600
mg
Nama dagang : lanarif, medirif, rifabiotic, rimactane, rifamtibi, rifacin
Dosis Untuk dewasa dan anak yang beranjak dewasa 600 mg satu kali sehari, atau
600 mg 2 3 kali seminggu. Rifampisin harus diberikan bersama dengan obat
anti tuberkulosis lain. Bayi dan anak anak, dosis diberikan dokter / tenaga
kesehatan lain berdasarkan atas berat badan yang diberikan satu kali sehari
maupun 2-3 kali seminggu. Biasanya diberikan 7,5 15 mg per kg berat badan.
Anjuran Ikatan Dokter Anak Indonesia adalah 75 mg untuk anak < 10 kg, 150 mg
untuk 10 20 kg, dan 300 mg untuk 20 -33 kg.
Indikasi Di Indikasikan untuk obat antituberkulosis yang dikombinasikan dengan
antituberkulosis lain untuk terapi awal maupun ulang
Kerja Obat Bersifat bakterisid, dapat membunuh kuman semi-dormant yang
Tidak dapat dibunuh oleh isoniazid. Mekanisme kerja, Berdasarkan perintangan
spesifik dari suatu enzim bakteri Ribose Nukleotida Acid (RNA)-polimerase
sehingga sintesis RNA terganggu
Efek Samping Efek samping pada Saluran cerna ; rasa panas pada perut, sakit
epigastrik, mual, muntah, anoreksia, kembung, kejang perut, diare, SSP: letih rasa
kantuk, sakit kepala, ataksia, bingung, pening, tak mampu berfikir, baal umum,
nyeri pada anggota, otot kendor, gangguan penglihatan, ketulian
frekuensi rendah sementara ( jarang). Hipersensitifitas: demam, pruritis, urtikaria,
erupsi kulit, sariawan mulut dan lidah, eosinofilia, hemolisis, hemoglobinuria,

34

hematuria, insufiensi ginjal, gagal ginjal akut( reversible) (departemen kesehatan,


2005)
3. Pirazinamida
Identitas.Sediaan dasar Pirazinamid adalah Tablet 500 mg/tablet.
Nama dagang: corsazinamid, prazina, sanazet, TB Zet
Dosis Dewasa dan anak sebanyak 15 30 mg per kg berat badan, satu
kalisehari.Atau 50 70 mg per kg berat badan 2 3 kali seminggu.Obat ini
dipakai bersamaan dengan obat anti tuberkulosis lainnya.( Departemen
Kesehatan, 2005)
Indikasi Digunakan untuk terapi tuberkulosis dalam kombinasi dengan anti
tuberkulosis lain.
Kontraindikasi terhadap gangguan fungsi hati parah, porfiria, hipersensitivitas.
Kerja Obat Bersifat bakterisid, dapat membunuh kuman yang berada dalam sel
dengan suasana asam.Mekanisme kerja, berdasarkan pengubahannya menjadi
asam pyrazinamidase
yang berasal dari basil tuberkulosa.( Departemen Kesehatan, 2005)
Efek

Samping

Efek

samping

hepatotoksisitas,

termasuk

demam

anoreksia,hepatomegali, ikterus; gagal hati; mual, muntah, artralgia, anemia


sideroblastik, urtikaria.Keamanan penggunaan pada anak-anak belum ditetapkan.
Hati-hati penggunaan pada: penderita dengan encok atau riwayat encok keluarga
atau diabetes melitus; dan penderita dengan fungsi ginjal tak sempurna; penderita
dengan riwayat tukak peptik.( Departemen Kesehatan, 2005)
Peringatan/Perhatian Hanya dipakai pada terapi kombinasi anti tuberculosis
dengan pirazinamid , namun dapat dipakai secara tunggal mengobati penderita
yang telah resisten terhadap obat kombinasi. Obat ini dapat menghambat ekskresi
asam urat dari ginjal sehingga
menimbulkan hiperurikemia. Jadi penderita yang diobati pirazinamid harus
dimonitor asam uratnya.( Departemen Kesehatan, 2005)

35

4. Etambutol
Identitas.Sediaan dasarnya adalah tablet dengan nama generik EtambutolHCl250 mg, 500 mg/tablet.
Nama dagang : bacbutol, corsabutol, parabutol
Dosis.Untuk dewasa dan anak berumur diatas 13 tahun, 15 -25 mg mg per kgberat
badan, satu kali sehari.Untuk pengobatan awal diberikan 15 mg / kg beratbadan,
dan pengobatan lanjutan 25 mg per kg berat badan. Kadang kadangdokter juga
memberikan 50 mg per kg berat badan sampai total 2,5 gram dua kali seminggu.
Obat ini harus diberikan bersama dengan obat anti tuberculosis lainnya.Tidak
diberikan untuk anak dibawah 13 tahun dan bayi.( Departemen Kesehatan, 2005)
Indikasi.Etambutol digunakan sebagai terapi kombinasi tuberkulosis denganobat
lain, sesuai regimen pengobatan jika diduga ada resistensi. Jika risikoresistensi
rendah, obat ni dapat ditinggalkan. Obat ini tidak dianjurkan untuk anak-anak usia
kurang 6 tahun, neuritis optik, gangguan visual.( Departemen Kesehatan, 2005)
Kontraindikasi.Hipersensitivitas terhadap etambutol seperti neuritis optik.
Kerja Obat. Bersifat bakteriostatik, dengan menekan pertumbuhan kuman
TByang telah resisten terhadap Isoniazid dan streptomisin.Mekanisme kerja,
berdasarkan penghambatan sintesa RNA pada kuman yang sedang membelah,
juga menghindarkan terbentuknya mycolic acid pada dinding sel.( Departemen
Kesehatan, 2005)
5. Streptomisin
Identitas Sediaan dasar serbuk Streptomisin sulfat untuk Injeksi 1,5 gram /
vialberupa serbuk untuk injeksi yang disediakan bersama dengan Aqua Pro
Injeksi dan Spuit.( Departemen Kesehatan, 2005)
Nama dagang : streptomisin sulfat meiji
Dosis Obat ini hanya digunakan melalui suntikan intra muskular, setelahdilakukan
uji sensitifitas.Dosis yang direkomendasikan untuk dewasa adalah15 mg per kg

36

berat badan maksimum 1 gram setiap hari, atau 25 30 mg per kg berat badan,
maksimum 1,5 gram 2 3 kali seminggu. Untuk anak 20 40 mg per kg berat
badan maksimum 1 gram satu kali sehari, atau 25 30 mg per kg berat badan 2
3 kali seminggu. Jumlah total pengobatan tidak lebih dari 120 gram.( Departemen
Kesehatan, 2005)
Indikasi.Sebagai kombinasi pada pengobatan TB bersama isoniazid,Rifampisin,
dan pirazinamid, atau untuk penderita yang dikontra indikasi dengan2 atau lebih
obat kombinasi tersebut.
Kontraindikasi hipersensitifitas terhadap streptomisin sulfat atau aminoglikosida
lainnya.
Kerja

Obat

Bersifat

bakterisid,

dapat

membunuh

kuman

yang

sedangmembelah.Mekanisme kerja berdasarkan penghambatan sintesa protein


kumandengan jalan pengikatan pada RNA ribosomal.( Departemen Kesehatan,
2005)

37

38

39

Pengobatan Tuberkulosis Pada Keadaan Khusus


A Tb Milier
Rawat inap
Paduan obat: 2 RHZE/ 4 RH
Pada keadaan khusus (sakit berat), tergantung keadaanklinik, radiologik dan
evaluasi pengobatan , maka pengobatan lanjutan dapat diperpanjang sampai
dengan 7
bulan 2RHZE/ 7 RH. (PDPI, 2006)
Pemberian kortikosteroid tidak rutin, hanya diberikan padakeadaan
- Tanda / gejala meningitis
- Sesak napas
- Tanda / gejala toksik
- Demam tinggi
Kortikosteroid: prednison 30-40 mg/hari, dosis diturunkan5-10 mg setiap 5-7
hari, lama pemberian 4 - 6 minggu.(PDPI, 2006)
B. Pleuritis Eksudativa Tb (Efusi Pleura Tb)
Paduan obat: 2RHZE/4RH.
Evakuasi cairan, dikeluarkan seoptimal mungkin, sesuaikeadaan penderita dan
berikan kortikosteroid
Dosis steroid : prednison 30-40 mg/hari, diturunkan 5-10 mg
setiap 5-7 hari, pemberian selama 3-4 minggu.
Hati-hati pemberian kortikosteroid pada TB dengan lesi luas dan DM. Ulangan
evakuasi cairan bila diperlukan(PDPI, 2006)
C. Tb Di Luar Paru
Paduan obat 2 RHZE/ 1 0 RH.

40

Prinsip pengobatan sama dengan TB paru menurut ATS, misalnyapengobatan


untuk TB tulang, TB sendi dan TB kelenjar, meningitis pada bayi dan anak lama
pengobatan 12 bulan. PadaTB diluar paru lebih sering dilakukan tindakan bedah.
Tindakan bedah dilakukan untuk:
Mendapatkan bahan / spesimen untuk pemeriksaan(diagnosis)
Pengobatan :Pemberian kortikosteroid diperuntukkan pada perikarditis TB untuk
mencegah konstriksi jantung, dan pada meningits TB untuk menurunkan gejala
sisa neurologik.(PDPI, 2006)
D. Tb Paru Dengan Diabetes Melitus (Dm)
Paduan obat: 2 RHZ(E-S)/ 4 RH dengan regulasi baik/ guladarah terkontrol
Bila gula darah tidak terkontrol, fase lanjutan 7 bulan : 2RHZ(E-S)/ 7 RH
DM harus dikontrol
Hati-hati dengan penggunaan etambutol, karena efeksamping etambutol ke
mata; sedangkan penderita DM seringmengalami komplikasi kelainan pada mata
Perlu diperhatikan penggunaan rifampisin akan mengurangiefektiviti obat oral
anti diabetes (sulfonil urea), sehingga

dosisnya perlu ditingkatkan

Perlu kontrol / pengawasan sesudah pengobatan selesai,untuk mengontrol /


mendeteksi dini bila terjadi kekambuhan. (PDPI, 2006)
E. Tb Paru Dengan Hiv / Aids
Paduan obat yang diberikan berdasarkan rekomendasi ATSyaitu: 2 RHZE/RH
diberikan sampai 6-9 bulan setelah konversi dahak
Menurut WHO paduan obat dan lama pengobatan samadengan TB paru tanpa
HIV / AIDS.
Jangan berikan Thiacetazon karena dapat menimbulkantoksik yang hebat pada
kulit.
Obat suntik kalau dapat dihindari kecuali jika sterilisasinyaterjamin

41

Jangan lakukan desensitisasi OAT pada penderita HIV /AIDS (mis INH,
rifampisin) karena mengakibatkan toksikyang serius pada hati
INH diberikan terus menerus seumur hidup.
Bila terjadi MDR, pengobatan sesuai uji resistensi. (PDPI, 2006)

F. Tb Paru Pada Kehamilan Dan Menyusui


Tidak ada indikasi pengguguran pada penderita TB dengankehamilan
OAT tetap dapat diberikan kecuali streptomisin karena efeksamping streptomisin
pada gangguan pendengaran janin(Eropa)
Di Amerika OAT tetap diberikan kecuali streptomisin danpirazinamid untuk
wanita hamil
Pada penderita TB dengan menyusui, OAT & ASI tetapdapat diberikan,
walaupun beberapa OAT dapat masuk kedalam ASI, akan tetapi konsentrasinya
kecil dan tidak menyebabkan toksik pada bayi
Wanita menyusui yang mendapat pengobatan OAT danbayinya juga mendapat
pengobatan OAT dianjurkan tidak menyusui bayinya, agar bayi tidak mendapat
dosisberlebihan
Pada wanita usia produktif yang mendapat pengobatan TB dengan rifampisin
dianjurkan untuk tidak menggunakankontrasepsi hormonal, karena dapat terjadi
interaksi obat yang menyebabkan efektiviti obat kontrasepsi hormonal berkurang.
(PDPI, 2006)
G. Tb Paru Dan Gagal Ginjal
Jangan menggunakan OAT streptomisin, kanamisin dancapreomycin
Sebaiknya hindari penggunaan etambutol karena waktuparuhnya memanjang
dan terjadi akumulasi etambutol. Dalam keadaan sangat diperlukan, etambutol
dapat diberikan dengan pengawasan kreatinin
Sedapat mungkin dosis disesuaikan dengan faal ginjal(CCT, Ureum, Kreatnin)

42

Rujuk ke ahli Paru. (PDPI, 2006)

H. Tb Paru Dengan Kelainan Hati


Bila ada kecurigaan gangguan fungsi hati, dianjurkanpemeriksaan faal hati
sebelum pengobatan
Pada kelainan hati, pirazinamid tidak boleh digunakan
Paduan Obat yang dianjurkan / rekomendasi WHO: 2SHRE/6 RH atau 2
SHE/10 HE
Pada penderita hepatitis akut dan atau klinik ikterik ,sebaiknya OAT ditunda
sampai hepatitis akutnya mengalami penyembuhan. Pada keadaan sangat
diperlukan dapat diberikan S dan E maksimal 3 bulan sampai hepatitisnya
menyembuh dan dilanjutkan dengan 6 RHSebaiknya rujuk ke ahli Paru.(PDPI,
2006)
Efek samping obat tuberculosis

43

44

2.9. Evaluasi Pengobatan Tuberkulosis


Evaluasi pasien meliputi evaluasi klinis, bakteriologi, radiologi, dan efek
samping obat, serta evaluasi keteraturan berobat (PDPI, 2006).

Evaluasi klinik - Pasien dievaluasi setiap 2 minggu pada 1 bulan pertama


pengobatan selanjutnya setiap 1 bulan. - Evaluasi : respons pengobatan dan
ada tidaknya efek samping obat serta ada tidaknya komplikasi penyakit. Evaluasi klinis meliputi keluhan , berat badan, pemeriksaan fisis.

Evaluasi bakteriologik (0 - 2 - 6 /9 bulan pengobatan) Tujuan untuk


mendeteksi ada tidaknya konversi dahak Pemeriksaan & evaluasi
pemeriksaan mikroskopik harus selalu dilakukan yaitu : - Sebelum
pengobatan dimulai - Setelah 2 bulan pengobatan (setelah fase intensif) Pada akhir pengobatan Bila ada fasiliti biakan : dilakukan pemeriksaan
biakan dan uji resistensi

Evaluasi radiologik (0 - 2 6/9 bulan pengobatan) Pemeriksaan dan


evaluasi foto toraks dilakukan pada: Sebelum pengobatan Setelah 2 bulan
pengobatan (kecuali pada kasus yang juga dipikirkan kemungkinan
keganasan dapat dilakukan 1 bulan pengobatan) Pada akhir pengobatan

Evalusi keteraturan berobat

Yang tidak kalah pentingnya adalah evaluasi keteraturan berobat dan minum
obat tersebut. Dalam hal ini maka sangat penting penyuluhan atau pendidikan

mengenai
penyakit dan keteraturan berobat. Penyuluhan atau pendidikan dapat
diberikan kepada pasien, keluarga dan lingkungannya. Ketidakteraturan
berobat akan menyebabkan timbulnya masalah resistensi.

45

2.10. Pemantauan kemajuan dan hasil pengobatan TB


a. Pemantauan kemajuan pengobatan TB
Menurut KEMENKES RI (2014) Pemantauan kemajuan dan hasil pengobatan
pada orang dewasa dilaksanakan dengan pemeriksaan ulang dahak secara
mikroskopis.Pemeriksaan dahak secaramikroskopis lebih baik dibandingkan dengan
pemeriksaan radiologis dalam memantau kemajuan pengobatan.Laju Endap Darah
(LED) tidak digunakan untuk memantau kemajuan pengobatan karena tidak spesifik
untuk TB.
Untuk memantau kemajuan pengobatan dilakukan pemeriksaan dua contoh uji
dahak(sewaktu dan pagi).Hasil pemeriksaan dinyatakan negatif bila ke 2 contoh uji
dahak tersebut negatif.Bila salah satu contoh uji positif atau keduanya positif, hasil
pemeriksaan ulang dahak tersebut dinyatakan positif.Hasil dari pemeriksaan
mikroskopis semua pasien sebelum memulai pengobatanharus dicatat. Pemeriksaan
ulang dahak pasien TB BTA positif merupakan suatu caraterpenting untuk menilai
hasil kemajuan pengobatan.Setelah pengobatan tahap awal, tanpa memperhatikan
hasil pemeriksaan ulang dahak apakah masih tetap BTA positifatau sudah menjadi
BTA negatif, pasien harus memulai pengobatan tahap lanjutan (tanpa pemberian OAT
sisipan apabila tidak mengalami konversi).Pada semua pasien TB BTA positif,
pemeriksaan ulang dahak selanjutnya dilakukan pada bulan ke 5.Apabila hasilnya
negatif, pengobatan dilanjutkan hingga seluruh dosis pengobatan selesai dan
dilakukan pemeriksaan ulang dahak kembali pada akhir pengobatan.
b.Ringkasan tindak lanjut berdasarkan hasil pemeriksaan ulang dahak untuk
memantau kemajuan hasil pengobatan:
1) Apabila hasil pemeriksaan pada akhir tahap awal negatif :
Pada pasien baru maupun pengobatan ulang, segera diberikan dosis pengobatan
tahap lanjutan

46

Selanjutnya lakukan pemeriksaan ulang dahak sesuai jadwal (pada bulan ke 5 dan
Akhir Pengobatan)
2) Apabila hasil pemeriksaan pada akhir tahap awal positif :
Pada pasien baru (mendapat pengobatan dengan paduan OAT kategori 1) :
Lakukan penilaian apakah pengobatan tidak teratur. Apabila tidak teratur
diskusikan dengan pasien tentang pentingnya berobat teratur.
Segera diberikan dosis tahap lanjutan (tanpa memberikan OAT sisipan).
Lakukan pemeriksaan ulang dahak kembali setelah pemberian OAT tahap lanjutan
satu bulan.Apabila hasil pemeriksaan dahak ulang tetap positif, lakukan
pemeriksaan uji kepekaan obat.
Apabila tidak memungkinkan pemeriksaan uji kepekaan obat, lanjutkan
pengobatan dan diperiksa ulang dahak kembali pada akhir bulan ke 5
(menyelesaikan dosis OAT bulan ke 5 ).
Pada pasien dengan pengobatan ulang (mendapat pengobatan dengan
paduanOAT kategori 2):

Lakukan

penilaian

apakah

pengobatan

tidak

teratur. Apabila

tidak

teratur,diskusikan dengan pasien tentang pentingnya berobat teratur.


Pasien dinyatakan sebagai terduga pasien TB MDR
Lakukan pemeriksaan uji kepekaan obat atau dirujuk ke RS Pusat Rujukan
TBMDR
Apabila tidak bisa dilakukan pemeriksaan uji kepekaan obat atau dirujuk ke RS
Pusat Rujukan TB MDR, segera diberikan dosis OAT tahap lanjutan
(tanpapemberian OAT sisipan) dan diperiksa ulang dahak kembali pada akhir
bulan ke5 (menyelesaikan dosis OAT bulan ke 5 ).
3) Pada bulan ke 5 atau lebih :
Baik pada pengobatan pasien baru atau pengobatan ulang apabila hasil pemeriksaan
ulang dahak hasilnya negatif, lanjutkan pengobatan sampai seluruh dosis pengobatan
selesai diberikan

47

Apabila hasil pemeriksaan ulang dahak hasilnya positif, pengobatan dinyatakan


gagal dan pasien dinyatakan sebagai terduga pasien TB MDR .
Lakukan pemeriksaan uji kepekaan obat atau dirujuk ke RS Pusat Rujukan TB
MDR
Pada pasien baru (mendapat pengobatan dengan paduan OAT kategori 1),
pengobatan dinyatakan gagal. Apabila oleh karena suatu sebab belum bias dilakukan
pemeriksaan uji kepekaan atau dirujuk ke RS Pusat Rujukan TB MDR, berikan
pengobatan paduan OAT kategori 2 dari awal.
Pada pasien TB dengan pengobatan ulang (mendapat pengobatan dengan paduan
OAT kategori 2), pengobatan dinyatakan gagal. Harus diupayakan semaksimal
mungkin agar bisa dilakukan pemeriksaan uji kepekaan atau dirujuk ke RS Pussat
Rujukan TB MDR. Apabila oleh karena suatu sebab belum bias dilakukan
pemeriksaan uji kepekaan atau dirujuk ke RS Pusat Rujukan TB MDR, berikan
penjelasan, pengetahuan dan selalu dipantau kepatuhannya terhadapupaya PPI
(Pencegahan dan Pengendalian Infeksi).

48

49

Sebagian besar pasien TB dapat menyelesaikan pengobatan tanpa mengalami efek


samping OAT yang berarti. Namun, beberapa pasien dapat saja mengalami efek
samping yang merugikan atau berat. Guna mengetahui terjadinya efek samping OAT,
sangat penting untuk memantau kondisi klinis pasien selama masa pengobatan
sehingga efek samping berat dapat segeradiketahui dan ditatalaksana secara

50

tepat.Pemeriksaan laboratorium secara rutin tidak diperlukan.Petugas kesehatan dapat


memantau terjadinya efek samping dengan cara mengajarkankepada pasien unuk
mengenal keluhan dan gejala umum efek samping serta menganjurkan mereka segera
melaporkan kondisinya kepada petugas kesehatan. Selain daripada hal tersebut,
petugas kesehatan harus selalu melakukan pemeriksaan dan aktif menanyakan
keluhan pasien pada saat mereka datang ke fasyankes untuk mengambil obat.Efek
samping yang terjadi pada pasien dan tindak lanjut yang diberikan harus dicatat pada
kartu pengobatannya.Secara umum, seorang pasien yang mengalami efek samping
ringan sebaiknya tetap melanjutkan pengobatannya dan diberikan petunjuk cara
mengatasinya atau pengobatan tambahan untuk menghilangkan keluhannya. Apabia
pasien mengalami efek samping berat, pengobatan harus dihentikan sementara dan
pasien dirujuk kepada dokter atau fasyankes rujukan guna penatalaksanaan lebih
lanjut.Pasien yang mengalami efek samping berat sebaiknya dirawat di rumah
sakit.Tabel berikut, menjelaskan efek samping ringan maupun berat dengan
pendekatan keluhan dan gejala.
Tabel 13. Efek samping ringan OAT

51

52

BAB III
PEMBAHASAN KASUS
KASUS TB PARU
Nama

: Mr. A

Pekerjaan

: Buruh bangunan

Jenis kelamin

: Laki-laki

Usia

: 40 Th

Berat badan

: 51 Kg

Tinggi badan

: 170 cm

Anamnesis
Riwayat Penyakit
Sekarang (Diagnosa)
Riwayat Penyakit
Dahulu
Riwayat Penyakit
Keluarga
Riwayat Sosial
Riwayat Operasi
Riwayat imunisasi
Riwayat pengobatan
Riwayat Alergi
Pemeriksaan Fisik
Review Of System
Uji Laboratorium

Batuk sudah selama 3 minggu kadang-kadang berdarah,


dyspnea, nyeri pada dada, anoreksia, berat badan menurun,
malaise, berkeringat pada malam hari.
Tuberkulosis paru dengan BTA (+)
Diabetes sejak 15 tahun yang lalu
Riwayat asma disangkal
Tidak ada keluarga yang menderita TBC
Orag tua perempuan menderita diabetes
Merokok 1 bungkus sehari
Pasien tidak mengetahui tentang imunisasi
Obat batuk dan glibenklamide
T : 390C
P : 30x/menit
N : 90x/menit
TD: 140/80 mmHg
Efusi pleura pada paru
Mikrobakterium tuberculosis (+)
BTA (+)

Kasus diatas dapat diselesaikan dengan metoda SOAP


Penyelesaian:
1. Subjektif

53

Nama
Pekerjaan
Jenis kelamin
Usia

Mr. A
Buruh bangunan
Laki-laki
40 tahun
Batuk sudah selama 3 minggu kadang-kadang berdarah,
dyspnea, nyeri pada dada, anoreksia, berat badan menurun,
malaise, berkeringat pada malam hari.

Anamnesis
Riwayat Penyakit
Sekarang (Diagnosa)
Riwayat Penyakit
Dahulu
Riwayat Penyakit
Keluarga
Riwayat Sosial
Riwayat Operasi
Riwayat imunisasi
Riwayat pengobatan
Riwayat Alergi
Review Of System

Tuberkulosis paru dengan BTA (+)


Diabetes sejak 15 tahun yang lalu
Riwayat asma disangkal
Tidak ada keluarga yang menderita TBC
Orang tua perempuan menderita diabetes
Merokok 1 bungkus sehari
Pasien tidak mengetahui tentang imunisasi
Obat batuk dan glibenklamide
Efusi pleura pada paru

2. Objektif
Berat badan
Tinggi badan
Pemeriksaan Fisik

Uji Laboratorium

51 Kg
170 cm
T : 390C
P : 30x/menit
N : 90x/menit
TD: 140/80 mmHg
Mikrobakterium tuberculosis (+)
BTA (+)

3. Assesment
Berdasarkan kasus diatas, tuan A diduga mengidap penyakit TBC
paru. Dapat dilihat dari pemeriksaan laboratorium yang menyatakan bahwa
terdapat terdapat bakteri Mikrobakterium tuberculosispada sputum pasien dan
hasil tes BTA menyatakan (+) positif. Dari anamnesia juga dapat terlihat
bahwa tuan A merasakan batuk sudah selama 3 minggu kadang-kadang

54

berdarah, dyspnea, nyeri pada dada, anoreksia, berat badan menurun, malaise,
berkeringat pada malam hari. Dimana gejala ini menunjukkan batuk yang
disebabkan oleh bakteri. Kemungkinan hal ini dapat disebabkan karena
kurangnya pengetahuan keluarga tuan A tentang imunisasi, kebiasaan tuan A
merokok dan lingkungan tempat tuan A bekerja. Dan penyakit penyerta tuan A
yang sudah lama yaitu Diabetes. Diabetes dapat memeperburuk kondisi tuan
A, karena glukosa yang menumpuk di dalam darah menjadi media yang bagus
untuk pertumbuhan bakteri tersebut. Maka dari itu perlu adanya pengobatan
yang intensif dalam kasus ini.
4. Plan
Tujuan terapi : mengontrol kadar gula darah, menghilangkan gejala,
mengobati TBC dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
4.1 Terapi Nonfarmakologi

Mengurangi atau menghilangkan faktor risiko.

Mengupayakankesehatan perilaku dan lingkungan, antara lain dengan


pengaturan rumah agar memperoleh cahaya matahari, mengurangi
kepadatan

anggota

keluarga,

mengatur

kepadatan

penduduk,

menghindari meludah sembarangan, batuk sembarangan.

Mengkonsumsimakanan yang bergizi yang baik dan seimbang.

Modifikasi gaya hidup, kurangi makan makanan yang mengandung


garam tinggi untuk mengontrol tekanan darah

kontrol kadar gula darah pasien dengan mengkontrol makanan yang


mengandung glukosa tinggi.

Rutin melakukan cek kadar glukosa

4.2 Terapi Farmakologi


TBC disertai DM, dan hipertensi dan demam

55

Tuan A termasuk pasien dengan TB kasus baru kategori I dan disertai


dengan penyakit diabetes mellitus. Menurut persatuan dokter paru
Indonesia (2006) untuk TB disertai penyakit penyerta DM maka dalam
terapi farmakologi diberikan OAT yaitu:
Paduan obat: 2 RHZ(E-S)/ 4 RH dengan regulasi baik/ gula darah
terkontrol
Bila gula darah tidak terkontrol, fase lanjutan 7 bulan : 2 RHZ(E-S)/ 7
RH
DM harus dikontrol
Hati-hati dengan penggunaan etambutol, karena efek samping etambutol
ke mata; sedangkan penderita DM sering mengalami komplikasi kelainan
pada mata
Untuk pengobatan diabetesnya pasien menggunakan glibenklmid Dosis
glibenklamid perlu ditingkatkan 5 mg/ hari selagi makan atau sesudah
makan

karena

mengurangi

Perlu

diperhatikan

efektivitifobat

oral

penggunaan

anti

diabetes

rifampisin

akan

(sulfonil

urea),

sehinggadosisnya perluditingkatkan, maka Dosis glibenklamid perlu


ditingkatkan 5 mg/ hari selagi makan atau sesudah makan, bila perlu
berikan vit.B complex.
Perlu kontrol / pengawasan sesudah pengobatan selesai, untuk
mengontrol / mendeteksi dini bila terjadi kekambuhan. (PDPI, 2006)

Untuk Demam yang dialami pasien Bila perlu berikan Ibuprofen


tab400 mg untuk menurunkan suhu tubuh (antipiretik)

Untuk mengatasi hipertensi pada pasien ini dapat diberikan


hydrochlorthiazid 12,5 mg satu kali sehari.
.
.

56

4.3 Monitoring

Monitoring kepatuhan pasien dalam minum obat

Monitoring kemungkinan terjadi DRP

Monitoring kadar glukosa darah

Monitoring suhu tubuh

Monitoring tekanan darah, denyut nadi, dan laju pernapasan

Monitoring perbaikan gejala

4.4 KIE (Komunikasi, Informasi, Edukasi)

57

Berikan informasi mengenai pengobatan penyakit TB membutuhkan


waktu lama (6-12 bulan). Bila patuh minum obat, dalam 2-4 minggu
penderita akan merasanyaman, tetapi obat masih harus diteruskan
sampai Doktermenghentikannya.

Berikan informasi mengenai bahaya bila tidak patuh yaitu resisten,


Akibat dari resistensi kuman, Efek samping yang mungkin akan
dialami serta tindakan yang perludiambil jika mengalaminya kepada
tuan A dan keluarganya.

Berikan edukasi terkait penyakit TBC dan komplikasi yang di derita


tuan A.

Komunikasikan kepada keluarga agar menjaga pola makan tuan A dan


lingkungan tempat hidup tuan A untuk mencegah perburukan penyakit.

Berikan informasi kepada pasien bila lupa minum obat, minum


sesegera mungkin, tetapi bila dekat waktudosis berikutnya, kembali ke
jadwal semula jangan didobel dosisnya.

5. Kerasionalan Terapi
Analisis kerasionalan terapi dilakukan dengan melakukan analisis
obat-obat yang digunakan dengan lima kategori yaitu tepat indikasi, tepat
obat, tepat pasien, tepat dosis, dan waspada terhadap efek samping obat (4T
1W). Berikut ini adalah uraian analisis rasionalitas obat yang digunakan :
a. Tepat Indikasi
Nama Obat
Isoniazid

Indikasi

Mekanisme Aksi

Pengobatan

dan

Isoniazid

secara

in

vitro

pencegahan tuberkulosis,

bersifat

tuberkulostatik

dalam bentuk pengobatan

(menahan

perkembangan

tunggal

bakteri)

maupun

dan

kombinasi dengan obat

(membunuh

tuberkulosis lainnya.

Mekanisme

Keterangan
Tepat
indikasi

tuberkulosid
bakteri).

kerja

isoniazid

58

Pengobatan

infeksi

memiliki efek pada lemak,

non-

biosintesis asam nukleat,dan

mikobakterium
tuberkulosis.

glikolisis. Efek utamanya ialah


menghambat biosintesis asam
mikolat (mycolic acid) yang
merupakan

unsur

penting

dinding sel

mikobakterium.

Isoniazid menghilangkan sifat


tahan asam dan menurunkan
jumlah lemak yang terekstrasi
oleh

metanol

dari

mikobakterium. Isoniazid atau


INH

bekerja

menghambat
mikolinat

dengan

sintesa

yang

asam

merupakan

unsur penting pembentukan


dindis

Ethambutol

mikobakterium

terapi tuberkulosis dalam

tuberkulosis.
menghambat sintesis metabolit

kombinasi

sel sehingga metabolisme sel

dengan

anti

tuberkulosis lain.
Digunakan untuk terapi
tuberkulosis
kombinasi

Pirazinamid

sel

terhambat dan sel mati.


Bersifat
bakterisid,

dalam membunuh
dengan

anti

tuberkulosis lain.

berada
suasana

kuman

dalam
asam.

kerja,

sel

dapat
yang
dengan

Mekanisme
berdasarkan

pengubahannya menjadi asam


pyrazinamidase yang berasal

Rifampisin

Untuk

pengobatan

dari basil tuberkulosa.


menghambat sintesa RNA dari

tuberkulosis

atau

TBC

mikobakterium

kombinasi

obat

dalam

59

tuberkulosis lainnya.
Untuk pengobatan lepra,

Ibuprofen

digunakan

dalam

kombinasi

dengan

senyawa leprotik lain.


Nyeri
pasca
operasi

Menghambat

(cabut gigi, episiotomi),

siklo-oksigenase

dismenorea, sakit kepala,

konversi

demam,

menjadi PGG2 terganggu.

artritis,

reumatoid

kerja

enzim
sehingga

asam

arakidonat

osteoartritis,

spondilitis ankilosa.
Anti diabetic oral
Menstimulasi pancreas untuk
memproduksi

insulin

dan

meningkatkan sensitivitas sel


Beta

terhadap

Sulfonilurea

glukosa.
dapat

menormalkan

produksi

glukosa di hati dan secara

Glibenklamid

parsial membalikkan resistensi


insulin pada pasien DM tipe 2.
Glibenclamide

hanya

bermanfaat

pada

diabetes

dewasa

uang

masih

mampu

pankreasnya

penderita

memproduksi insulin.

b. Tepat Obat
Nama Obat
Isoniazid
Ethambutol
Pirazinamid

Alasan Sebagai Drug Of Choice


First line dalam terapi TBC
First line dalam terapi TBC
First line dalam terapi TBC

Keterangan
Tepat obat

60

Rifampisin
Ibuprofen
Glibenklamid

First line dalam terapi TBC


Efek samping minimal terhadap hati
Dapat menurunkan kadar gula darah

c. Tepat Pasien
Nama Obat
Isoniazid
Ethambutol
Pirazinamid
Rifampisin
Ibuprofen
Glibenklamid

Kontra Indikasi
Hipersensitivitas
Hipersensitivitas
Hipersensitivitas
Hipersensitivitas
Ulkus peptik
Ibu hamil, malabsorbsi

Keterangan

Tepat Pasien

d. Tepat Dosis
Nama Obat
Isoniazid
Ethambutol
Pirazinamid
Rifampisin
Ibuprofen
Glibenklamid

Dosis Standar
100-300 mg
250-500 mg
150-600 mg
300-600 mg
200-400 mg
2,5-5 mg

Dosis yang Diberikan


300 mg
250 mg
500 mg
450 mg
400 mg
5 mg

Keterangan

Tepat Dosis

e. Waspada Efek Samping Obat


Nama Obat
Isoniazid

Mual, muntah, anoreksia, letih, malaise,

Efek Samping Obat

Saran
Istirahat yang cukup,

lemah, gangguan saluran pencernaan lain,

jika terjadi efek

neuritis perifer, neuritis optikus, reaksi

samping yang

hipersensitivitas, demam, ruam, ikterus,

berlebihan hubungi

diskrasia darah, psikosis, kejang, sakit


kepala, mengantuk, pusing, mulut kering,
gangguan BAK, kekurangan vitamin B6,

dokter segera
mungkin.

penyakit pellara, hiperglikemia, asidosis


metabolik, ginekomastia, gejala reumatik,
gejala

mirip

Systemic

Lupus

61

Erythematosus.
Neuritis
retrobulbar

Ethambutol

dengan

suatu

penurunan ketajaman penglihatan, skotoma


sentral,

dan

buta

warna

Hiperurisemia.
artralgia, anoreksia,

merah-hijau.

nausea,

disuria,

malaise dan demam. Porfiria, hepatomegali


dan splenomegali, jaundice, kerusakan sel

Pirazinamid

hati, fatal hemolysis, sideroblastik anemia,


tukak

lambung,

trombositopenia,

rash,

urtikaria, pruritus, akne, fotosensitivitas dan


interstitial nefritis.
Gangguan gastrointestinal dan gangguan
fungsi

hati,

kepekaan

Rifampisin

ikterus,
kulit,

leukopenia,

purpura,

reaksi

Trombositopenia,

abdominal

distress

(ketidaknyamanan pada perut) dan pernah


dilaporkan

terjadinya

membran,

influenza

kolitis
(flu

pseudo

syndrome),

demam, nyeri otot dan sendi.


Gatal, Hives, Pembengkakan wajah atau
tangan, bengkak atau kesemutan di mulut
atau tenggorokan, dada sesak, dan kesulitan

Ibuprofen

bernafas, sembelit, diare, atau sakit perut.


Pusing atau sakit kepala. Mual ringan,
muntah, sakit perut, atau sakit maag. Ruam
ringan atau kulit gatal. Dengung di telinga.
Kemerahan pada kulit dan reaksi alergi,

Glibenklamid

Rasa

panas

di

dada,

Gula

rendah

(hipoglikemia), Mual, Muntah, Peradangan


hati.

62

f. Biaya Ekonomis
Nama Obat
Isoniazid
Ethambutol
Pirazinamid
Rifampisin
Ibuprofen
Glibenklamid

Jumlah
60 tab 300 mg
180 tab 250 mg
180 tab 500 mg
60 tab 450 mg
10 tab 400 mg
30 tab 5 mg
Total

Harga
Rp. 12.000
Rp. 126.000
Rp. 162.000
Rp. 60.000
Rp. 2.500
Rp. 6.000
Rp. 368.500

BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Tuberculosis paru adalah penyakit yang disebabkan oleh Mycobakterium
Tuberculosis dengan gejala yang sangat bervariasi, diantaranya adalah batuk lebih
dari 4 minggu dengan atau tanpa sputum, malaise, gejala flu, demam derajad rendah,
nyeri dada dan batuk. Tuberkulosis(TBC atau TB) adalah suatu penyakit infeksi yang
disebabkan oleh bakteri Mikobakterium tuberkulosa.Penyebab penyakit ini adalah
bakteri kompleks Mycobacterium tuberculosis.
Menurut HL. Blum, faktorfaktor yang mempengaruhi kesehatan baik
individu, kelompok, dan masyarakat dikelompokkan menjadi 4, yaitu: lingkungan
(mencakup lingkungan fi sik, sosial, budaya, politik, ekonomi, dan sebagainya),
perilaku, pelayanan kesehatan, dan keturunan. Keempat factor tersebut dalam
mempengaruhi kesehatan tidak berdiri sendiri, namun masingmasing saling
mempengaruhi satu sama lain. Faktor lingkungan selain langsung mempengaruhi

63

kesehatan juga mempengaruhi perilaku, dan perilaku sebaliknya juga mempengaruhi


lingkungan.
Sumber penularan adalah penderita tuberkulosis BTA positif, pada waktu
batuk atau bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet
(percikan dahak).Beberapa faktor yang mengakibatkan menularnya penyakit itu
adalah kebiasaan buruk pasien TB paru yang meludah sembarangan.
Menurut Depkes RI 2009 tanda dan gejalanya diantara lain: Batuk terus
menerus dan berdahak selama 2 minggu atau lebih, Batuk bercampur darah, Sesak
nafas dan nyeri dada, Badan lemah, Nafsu makan berkurang, Berat badan turun, Rasa
kurang enak badan (lemas), Demam meriang berkepanjangan, Berkeringat dimalam
hari walaupun tidak melakukan kegiatan.
Penggunaan Obat Anti TB yang dipakai dalam pengobatan TB adalah
antibotik dan anti infeksi sintetis untuk membunuh kuman Mycobacterium.Aktifitas
obat TB didasarkan atas tiga mekanisme, yaitu aktifitas membunuh bakteri, aktifitas
sterilisasi,

dan

mencegah

resistensi.Obat

yang

umum

dipakai

adalah

Isoniazid,Etambutol, Rifampisin, Pirazinamid, dan Streptomisin.Kelompok obat


ini disebut sebagai obat primer Sedangkan obat lain yang juga pernah dipakai adalah
Natrium Para Amino Salisilat, Kapreomisin, Sikloserin, Etionamid, Kanamisin,
Rifapentin dan Rifabutin. Natrium Para Amino Salisilat, Kapreomisin, Sikloserin,
Etionamid, dan Kanamisin umumnya mempunyai efek yang lebih toksik, kurang
efektif, dan dipakai jika obat primer sudah resisten.

4.2 Saran
Diharapkan adanya banyak sumber tentang penyakit Tuberculosis agar
diketahuinya pemilihan obat yang tepat pada penderita Tuberculosis sehingga
dalam pengobatan didapatkan outcome terapi yang diharapkan dan semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca serta dapat digunakan sebagai
referensi dalam belajar.

64

DAFTAR PUSTAKA
Departemen Kesehatan RI. 2005. Pharmaceutical Care Untuk PenyakitTuberkulosis.
Jakarta: Direktorat Bina Farmasi Komunitas Dan Klinik Direktorat Jenderal
Bina Kefarmasian Dan Alat Kesehatan
Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberculosis.2006.Pedoman nasional
penanggulangan tuberculosis.Jakarta: Departemen Kesehatan RI
Kementrian Kesehatan RI. 2014. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberculosis,
Indonesia Bebas Tuberculosis. Jakarta : Kementrian Kesehatan RI Direktorat
Pengendalian Penyakit Dan Penyehatan Lingkungan.
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2006. Pedoman Diagnosis &Penatalaksanaan
Tuberkulosis di Indonesia.Jakarta : PDPI

65

Werdhani Asti Retno. 2008. Patofisiologi, Diagnosis, Dan Klafisikasi Tuberkulosis.


Jakarta: Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas, Okupasi, dan Keluarga
FKUI
Permatasari Amira. 2005. Pemberantasan penykit TB paru dan strategi DOTS.
Sumatra utara: fakultas kedokteran USU
Saptawati Leli, dkk. 2012. Jurnal Tuberkulosis Indonesia vol 08. Jakarta:
Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) The Indonesian
Association Againts Tuberculosis
Salim, S., Abdool, Karim, M.B. 2010.Timing of Initiation of Antiretroviral Drugs
duringTuberculosis Th erapy.N Engl J Med, 362:697- 706
Ariani Yesi dan Devi Cut. 2011. Jurnal ilmiah Hubungan Pengetahuan Penderita
Tuberkulosis

Paru dengan Kepatuhan dalam

Program

Pengobatan

Tuberkulosis Paru di Puskesmas Teladan Medan. Vol 4 no 3. Medan.


Subdiknas Pendidikan Tinggi USU

66

Lampiran
Lampiran 1. Kartu Identitas Pasien TB

67

68

Lampiran 2. Formulir Permohonan Laboratorium TB PemeriksaanDahak

69

Lampiran 3. Hasil Pemeriksaan Laboratorium

70

71

Lampiran 4. Formulir Rujukan/Pindah Pasien TB

72