You are on page 1of 42

The Face of Clowny

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas tutorial yang diberi oleh
Ame Suciawati Setiawan,drg.,M.Kes.

Disusun Oleh :
Arina Sani Nafisa
(160110140097)
Fara Salsabila S
(160110140098)
Inas Sania Afanina H
(160110140099)
Irmayanti Meitrieka
(160110140100)
Salma Tufahati
(160110140101)
Vita Previa Indiraya
(160110140102)
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2014/2015

Kata Pengantar

Daftar Isi

Kata Pengantar................................................................................................ 2
Daftar Isi....................................................................................................... 3
BAB 1

Analisis Kasus.................................................................................... 4

1.1

Kasus Lanjutan: The Face of Clowny........................................................4

1.2

Terminology....................................................................................... 5

1.3

Problems........................................................................................... 5

1.4

Hypothesis......................................................................................... 6

1.5

Mechanisms....................................................................................... 6

1.6

More Info.......................................................................................... 6

1.7

Learning Issues................................................................................... 6

BAB 2

Tinjauan Pustaka................................................................................. 8

BAB 3

Pembahasan....................................................................................... 9

3.1

Makrostomia...................................................................................... 9

3.1.1

Mekanisme Terjadinya Makrostomia................................................15

3.1.2

Fisiologi Anak yang Terkena Makrostomia.........................................16

3.1.3

Faktor Penyebab.........................................................................16

3.2

Tindakan Lanjutan............................................................................. 24

3.3

Screening Gen.................................................................................. 25

3.4

Radiografi....................................................................................... 25

BAB 4

Kesimpulan...................................................................................... 31

Daftar Pustaka............................................................................................... 32

BAB 1
1.1

Analisis Kasus

Kasus Lanjutan: The Face of Clowny

During the normal 9 months of pregnancy nothing particular happened to the mother
of Clowny, the childs name. In this case there was no history of medication, use of
traditional medications, illnesses of nutrional deficiencies in pregnancy and no
evidence of attempted abortion was established. The doctor on duty diagnosed the
child as makrostomia and she/he is going to refer her for having further treatment.

1.2

Terminology

Pregnancy

: Masa kehamilan

Medication

: Pengobatan

Traditional medication

: Pengobatan tradisional

Illnesses

: Penyakit

Nutrional deficiencies

: Defisiensi nutrisi

Abortion

: Aborsi

Makrostomia

: Celah pada bibir akibat tonjolan maxilla dan


mandibula yang gagal bersatu sehingga membentuk
ukuran mulut yang terlalu besar

Diagnosed

: Diagnosa

Treatment

: Perawatan

1.3
-

Problems
Tidak ada tanda-tanda kelainan saat kehamilan
Tidak ada riwayat medis
Tidak pernah menggunakan obat tradisional
Tidak pernah kekurangan nutrisi

1.4

Hypothesis

Makrostomia terjadi karena faktor genetik


1.5

Mechanisms

Makrostomia terjadi karena faktor genetik

Tidak ada tanda-tanda kelainan saat kehamilan

Tidak ada riwayat penyakit, tidak menggunakan pengobatan, tidak melakukan upaya
aborsi, dan tidak kekurangan nutrisi
1.6

More Info
-

1.7

Screening Gen
Radiografi
Learning Issues

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Apa itu makrostomia?


Apa penyebab makrostomia?
Bagaimana mekanisme penyebab makrostomia?
Apa saja perubahan fisiologi yang terjadi pada pasien makrostomia?
Apa saja gejala dari makrostomia?
Bagaimana tindakan yang harus dilakukan pada pasien makrostomia?
Apa itu screening gen?
Apa itu pemeriksaan radiografi?

BAB 2

Tinjauan Pustaka

BAB 3
3.1

Pembahasan

Makrostomia
Makrostomia merupakan penyatuan tonjolan maxilla dan mandibula

(processus maxilaris dan processus mandibularis) yang gagal bersatu sehingga


membentuk ukuran mulut yang terlalu besar.
Makrostomia dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu:
1. Makrostomia unilateral, merupakan kelainan yang terjadi akibat dari gagal
bersatunya tonjolan maxilla dan mandibula di salah satu bagian sehingga membentuk
ukuran mulut yang terlalu besar hanya di salah satu bagian antara di sebelah kanan
atau sebelah kiri.

2. Makrostomia bilateral, merupakan kelainan yang terjadi akibat tonjolan maxilla


dan mandibula yang gagal bersatu sehingga ukuran mulut terlalu besar. Kelainan ini
sering disebut the face of clowny karena bentuk wajah yang terlihat seperti badut
akibat bentuk mulut yang besar.

Ciri-ciri yang tampak pada penderita makrostomia:


- Mulut melebar
- Semakin lama mulutnya semakin melebar
- Bentuk wajah menjadi kurang jelas
- Susah menghisap ASI
Makrostomia dapat menimbulkan sindrom:

. Sindrom Barber Say


Sindrom Barber Say adalah sebuah keadaan kelainan kongenital yang
ditandai dengan hipertrikosis, terutama di bagian punggung, kulit yang tipis dan
rapuh, hyperlaxity, dan dismorfisme wajah, termasuk makrostomia, deformitas
kelopak mata, ocular telecanthus, telinga yang rendah dan abnormal, dan garis
rambut yang rendah.

2. Sindrom Ablepharon Macrostomia


Sindrom Ablepharon Macrostomia adalah sebuah kelainan turunan yang
sangat langka yang ditandai dengan berbagai macam abnormalitas fisik yang
mempengaruhi bagian kraniofasial, kulit, jari jari, dan genitalia. Individu yang
bersangkutan juga mungkin memiliki malformasi di area puting dan dinding
abdominal. Di bayi yang mengalami sindrom ini, pertumbuhan kelopak mata atas dan
bawah mungkin tidak sempurna atau tidak terbentuk sama sekali (ablepharon atau
9

microablepharon) begitu juga dengan tidak bertumbuhnya bulu dan alis mata; mulut
yang ukurannya melebihi ukuran normal (makrostomia); dan/atau telinga yang
tumbuh dengan tidak sempurna atau sama sekali tidak terbentuk.

3. Sindrom Treacher Collins


Sindrom Treacher Collins (juga dikenal sebagai sindrom FranceschettiZwahlen-Klein atau mandibulofacial dysostosis) adalah kelainan genetik langka yang
dicirikan dengan perubahan bentuk wajah. Sindrom Treacher Collins ditemukan
hanya 1 dari 10.000 kelahiran. Fitur fisik umumnya termasuk letak mata miring ke
bawah, rahang kecil di bawah, dan perubahan bentuk telinga, atau bahkan tidak
adanya telinga. Beberapa fitur fisik yang jarang terlihat pada penderita adalah
makrostomia, deformitas nasal, dan koloboma di kelopak mata atas.

10

4. Sindrom Simpson Golabi Behmel


Sindrom Simpson Golabi Behmel adalah suatu kondisi yang memengaruhi
banyak bagian dari tubuh dan biasanya banyak terjadi pada pria. Bayi yang terkena
sindrom ini ukuran tubuhnya lebih besar dari biasa ketika lahir dan terus tumbuh
dalam laju yang tidak biasa. Orang orang dengan sindrom Simpson Golabi
Behmel mempunyai fitur fisik yang khas meliputi jarak yang jauh antara kedua mata
(hipertelorisme okular), mulut dengan ukuran mulut yang melebihi batas normal
(makrostomia), lidah yang besar (makroglossia) yang memiliki lekukan di tengah,
dan kelainan yang mempengaruhi langit langit rongga mulut.

11

3.1.1

Mekanisme Terjadinya Makrostomia

Mekanisme terjadinya makrostomia:


-

Pada saat bayi di dalam kandungan tidak terlihat apabila bayi menderita

makrostomia.
Saat bayi terlahir, terlihat sudut simetris di batas antara bibir dan kulit normal

pada bibir atas dan bibir bawah.


Dinding rongga mulut terus berkembang dengan mekanisme pertumbuhan dan
penggabungan, hasilnya mengakibatkan mekanisme tidak menyatunya jaringan
(terutama pada bagian otot buccal bahkan dapat mengenai otot masseter sampai
dengan telinga) akibat makrostomia.

3.1.2
-

Fisiologi Anak yang Terkena Makrostomia


Sulit makan: sulit menghisap ASI
12

3.1.3

Sulit bicara
Terkadang terjadi masalah pernapasan

Faktor Penyebab

1. Faktor Genetik
- Mutasi Gen
Penyebab terjadinya celah bibir ini belum sepenuhnya diketahui. Salah satu faktor
penyebabnya adalah mutasi gen. Mutasi gen, yaitu berhubungan dengan beberapa
macam sindrom atau gejala yang dapat diturunkan oleh hukum Mendel dimana
celah bibir dengan atau tanpa langitan sebagai komponennya. Pada beberapa
kasus, tampak kejadian celah bibir dan langitan mengikuti pola hukum Mendel
namun pada kasus lainnya distribusi kelainan itu tidak beraturan. Pada mutasi gen
biasanya ditemukan sejumlah sindrom yang diturunkan menurut hukum Mendel,
baik secara autosomal dominan, resesif, maupun X-linked. Pada autosomal
dominan, orang tua yang memiliki kelainan ini menghasilkan anak dengan
kelainan yang sama, sedangkan pada autosomal resesif kedua orang tua normal,
tetapi sebagai pembawa gen abnormal. Pada kasus terkait X (X-linked), wanita
dengan gen abnormal tidak menunjukkan tanda-tanda kelainan sedangkan pria
dengan gen abnormal menunjukkan kelainan ini (Albery, 1986). Pendapat saat ini
terhadap etiologi dari celah bibir dan langit-langit adalah bahwa celah bibir dan
celah langit-langit tersendiri memiliki predisposisi genetik dan kontribusi
komponen lingkungan. Sejarah keluarga dengan celah bibir dan langit-langit

13

dimana hubungan keluarga derajat pertama berpengaruh pada peningkatan resiko


menjadi 1 dalam 25 kelahiran hidup.
2. Faktor Lingkungan
- Pengaruh Obat

Obat yang digunakan selama kehamilan terutama untuk mengobati penyakit


ibu, tetapi hampir janin yang tumbuh akan menjadi penerima obat. Penggunaan
obat Analgetik-Antipiretik pada saat mengandung bagi ibu hamil harus
diperhatikan. Ibu hamil yang mengkonsumsi obat secara sembarangan dapat
menyebabkan cacat pada janin. Sebagian obat yang diminum oleh ibu hamil dapat
menembus plasenta sampai masuk ke dalam sirkulasi janin, sehingga kadarnya
dalam sirkulasi bayi hampir sama dengan kadar dalam darah ibu yang dalam
beberapa situasi akan membahayakan bayi.
Obat teratogenik adalah obat yang dapat menimbulkan terjadinya kecacatan
pada janin selama dalam kehamilan ibu. Adanya bahan-bahan yang bersifat
teratogenik akan menimbulkan gangguan pada sel-sel tubuh janin yang sedang
melakukan proses pembentukkan organ tersebut. Beberapa obat yang tidak boleh
dikonsumsi selama hamil yaitu rifampisin, fenasetin, sulfonamide, aminoglikosid,
indometasin,

asam

flufetamat,

ibuprofen

dan

penisilamin,

diazepam,

kortikosteroid. Beberapa obat antihistamin yang digunakan sebagai antiemetik


selama kehamilan dapat menyebabkan terjadinya makrostomia. Obat-obat
antineoplastik juga terbukti menyebabkan cacat ini pada binatang.
14

Jamu

Mengkonsumsi jamu pada waktu kehamilan dapat berpengaruh pada janin,


terutama terjadinya makrostomia. Akan tetapi jenis jamu apa yang menyebabkan
kelainan kongenital ini masih belum jelas. Masih ada penelitian lebih lanjut.

Kontrasepsi hormonal

Pada ibu hamil yang masih mengkonsumsi kontrasepsi hormonal, terutama untuk
hormon estrogen yang berlebihan akan menyebabkan terjadinya hipertensi
sehingga berpengaruh pada janin, karena akan terjadi gangguan sirkulasi
fotomaternal.

Obat obatan yang dapat menyebabkan kelainan kongenital terutama


makrostomia. Obat obatan itu antara lain :

Talidomid, diazepam (obat obat penenang)

Aspirin (Obat obat analgetika)


Aspirin berbahaya bagi janin yang belum lahir, yaitu bisa menyebabkan masalah
jantung, mengurangi berat badan lahir, atau menyebabkan efek serius pada bayi

15

yang belum lahir. Penggunaan asetosal atau aspirin sebagai obat analgetik pada
masa kehamilan trimeseter pertama dapat menyebabkan terjadinya celah bibir.
Oleh karena itu, ibu hamil harus berkonsultasi dengan dokter sebelum
menggunakannya.
- Kebiasaan Buruk Ibu
Saat masa kehamilan, seorang ibu harus menjaga kebiasaannya karena setiap
kegiatan yang dilakukan ibu sangat berpengaruh bagi perkembangan janin. Kebiasaan
buruk seperti merokok dan mengonsumsi kafein secara berlebihan termasuk faktor
pemicu munculnya celah bibir dan palatum.
Berdasarkan penelitian, seorang ibu yang rutin mengonsumsi kafein di masa
kehamilannya memiliki kesempatan 15% melahirkan anak dengan celah bibir dan
palatum.
Ibu yang merokok juga akan memicu munculnya celah bibir dan palatum
lebih besar daipada yang tidak. Karena kafein yang masuk ke dalam tubuh ibu, juga
akan diserap oleh bayi yang dikandungnya.
-

Kekurangan Nutrisi
Kebutuhan gizi ibu hamil terus meningkat seiring dengan bertambahnya usia

kehamilan. Zat-zat gizi yang perlu mendapat perhatian dari ibu hamil adalah
karbohidrat dan lemak sebagai sumber tenaga, protein sebagai pembentuk jaringan

16

baru, vitamin untuk memperlancar proses biologis, dan mineral yang meliputi
kalsium dan zat besi. Nutrisi dari ibu hamil saat konsepsi dan trimester I kehamilan
sangat penting bagi tumbuh kembang bibir, palatum dan struktur kraniofasial yang
normal dari fetus. Adapun tiga jenis nutrisi yang sangat berpengaruh pada proses
tumbuh kembang bibir, palatum dan struktur kraniofasial yang normal dari fetus
antara lain:

a. Asam Folat
Kasus kelainan makrostomia yang paling banyak terjadi selain dari faktor
hereditas adalah faktor gizi, terutama kekurangan asam folat. Peran asupan folat pada
ibu dalam kaitannya dengan celah orofasial sulit untuk ditentukan dalam studi kasuskontrol manusia karena folat dari sumber makanan memiliki bioavaibilitas yang luas
dan suplemen asam folat biasanya diambil dengan vitamin, mineral dan elemenelemen lainnya yang juga mungkin memiliki efek protektif terhadap terjadinya celah
orofasial. Folat merupakan bentuk poliglutamat alami dan asam folat ialah bentuk
monoglutamat sintetis. Pemberian asam folat pada ibu hamil sangat penting pada
setiap tahap kehamilan sejak konsepsi sampai persalinan. Asam folat memiliki dua
peran dalam menentukan hasil kehamilan. Satu, ialah dalam proses maturasi janin
jangka panjang untuk mencegah anemia pada kehamilan lanjut. Kedua, ialah dalam
mencegah defek kongenital selama tumbuh kembang embrionik. Telah disarankan

17

bahwa suplemen asam folat pada ibu hamil memiliki peran dalam mencegah celah
orofasial yang non sindromik seperti makrostomia.

b. Vitamin B-6
Vitamin B-6 diketahui dapat melindungi terhadap induksi terjadinya celah
orofasial secara laboratorium oleh sifat teratogennya demikian juga kortikosteroid,
kelebihan vitamin A, dan siklofosfamid. Deoksipiridin, atau antagonis vitamin B-6,
diketahui menginduksi celah orofasial dan defisiensi vitamin B-6 sendiri dapat
mengakibatkan terjadinya celah di bagian mulut, seperti makrostomia dan defek lahir
lainnya pada manusia.

c. Vitamin A
Asupan vitamn A yang kurang atau berlebih dikaitkan dengan peningkatan
resiko terjadinya celah orofasial dan kelainan kraniofasial lainnya. Defisiensi vitamin
A pada ibu menyebabkan defek pada mata, celah orofasial, dan defek kelahiran
lainnya. Penelitian klinis manusia menyatakan bahwa paparan fetus terhadap retinoid
dan diet tinggi vitamin A juga dapat menghasilkan kelainan kraniofasial yang gawat.
Pada penelitian prospektif lebih dari 22.000 kelahiran pada wanita di Amerika
Serikat, kelainan kraniofasial dan malformasi lainnya umum terjadi pada wanita yang
mengkonsumsi lebih dari 10.000 IU vitamin A pada masa perikonsepsional.

18

Memang faktor nutrisi sangat penting pada ibu yang sedang hamil. Defisiensi
nutrisi dapat mengakibatkan kecacatan pada fetus yang sedang dikandungnya.
Namun, faktor lain mengapa sang ibu sampai bisa kekurangan nutrisi kemungkinan
yang terbesar adalah akibat dari keadaan ekonomi yang kurang di keluarga sang ibu.
Beberapa usaha telah dilakukan untuk merangsang percobaan pada manusia untuk
mengevaluasi suplementasi vitamin pada ibu selama kehamilan yang dimaksudkan
sebagai tindakan pencegahan. Hal ini dimotivasi oleh hasil baik yang dilakukan pada
percobaan pada binatang. Usaha pertama dilakukan tahun 1958 di Amerika Serikat
namun penelitiannya kecil, metodenya sedikit dan tidak ada analisis statistik yang
dilaporkan. Penelitian lainnya dalam usaha memberikan suplemen multivitamin
dalam mencegah celah orofasial dilakukan di Eropa dan penelitinya mengklaim
bahwa hasil pemberian suplemen nutrisi adalah efektif, namun penelitian tersebut
memiliki data yang tidak mencukupi untuk mengevaluasi hasilnya. Salah satu
tantangan terbesar dalam penelitian pencegahan terjadinya celah orofasial adalah
mengikutsertakan banyak wanita dengan resiko tinggi pada masa produktifnya.
-

Trauma (Stres)
Walaupun tampaknya tidak ada hubungan langsung antara ibu dan janin,

namun susunan keadaan emosi ibu dapat memengaruhi reaksi dan perkembangan
janin. Telah terbukti, bahwa keadaan emosi ibu seperti marah, takut, dan cemas akan
menimbulkan reaksi pada susunan saraf otonom, yaitu melepaskan beberapa zat
kimiawi ke dalam aliran darah. Hal ini akan merangsang kelenjar endokrin terutama

19

adrenalin dan jumlah hormon dalam tubuh. Metabolism dalam tubuh pun akan
mengalami perubahan. Dapat dikatakan bahwa komposisi perubahan darah dan zat
kimiawi di bawa ke janin melalui plasenta dan menyebabkan perubahan system
sirkulasi pada janin. Perubahan ini akan mengganggu perkembangan janin. Hal
tersebut dikarenakan ketika seorang ibu hamil dan mengalami ketakutan, kecemasan,
stes, dan emosi yang mendalam, maka akan terjadi perubahan psikologis, antara lain
meningkatnya pernapasan dan sekresi oleh kelenjar. Adanya produksi hormon
adrenalin sebagai tanggapan terhadap kekuatan akan menghambat aliran darah ke
daerah kandungan dan membuat janin kekurangan udara. Ibu yang mengalami
kecemasan berat dan berkepanjangan sebelum atau selama kehamilan kemungkinan
besar mengalami kesulitan medis dan melahirkan bayi yang abnormal dibandingkan
dengan ibu yang relative tenang dan aman, goncangan emosi di asosiasikan dengan
kejadian aborsi spontan, kesulitan proses lahir, kelahiran premature dan penurunan
berat, kesulitan pernapasan dari bayi yang baru lahir dan cacat fisik. Disamping itu,
stress dan kecemasan yang dialami ibu setelah kehamilan, diasosiasikan dengan bayi
yang sangan aktif, lekas marah, dan tidak teratur dalam makan, tidur, dan buang air.
Kecemasan pada ibu dan kemungkinan terus berlanjut sampai setelah anak lahir
( Sameroff dan Chandler, 1975) .

Radiasi

20

Sinar X adalah suatu radiasi yang berenergi kuat yang tergantung pada
dosisnya dapat mengurangi pembelahan sel, merusak materi genetik, dan
menimbulkan defek pada yang belum dilahirkan.bayi dalam perut ibu sensitif
terhadap sinar X karena sel-selnya masih membelah dengan cepat dan berkembang
menjadi jaringan dan organ yang berbeda-beda.
Pada saat minggu ke-3 hingga ke-8 kehamilan, merupakan fase pembentukan
organ pada janin sehingga paparan radiasi bahkan pada dosis yang rendah sekalipun
dapat menyebabkan gangguan pada sel-sel tubuh janin yang sedang melakukan
proses pembentukan organ tersebut karena adanya bahan yang bersifat teratogenik.

3.2

Tindakan Lanjutan
Tindakan yang dilakukan pada penderita macrostomia adalah operasi.

Penderita macrostomia (mulut lebar) memerlukan pembedahan untuk membuat cincin


lengkap otot di sekitar mulut mereka. Jika otot-otot di sudut mulut tidak membentuk,
mulut akan lebih lebar dari biasanya (macrostomia). Hal ini dapat mengganggu
proses makan dan berbicara. Pada umur 9 bulan akan hilang otot di kedua sisi
mulutnya. Untuk memperbaiki hal ini, ahli bedah membuat cincin otot yang
menghubungkan sudut mulut menggunakan otot-otot lain di sekitar mulut. Mereka
juga membawa sudut mulut lebih dekat bersama-sama.
Prosedur:

21

- Ahli bedah berhati-hati memotong kulit, otot dan jaringan di dalam mulut.
- Kemudian mereka memindahkan dan menghubungkan lapisan ini.
-Di sudut mulut, mereka membawa otot bagian atas ke bawah otot yang lebih rendah
untuk memberikan mulut bentuk normal.
-Mereka menggunakan sayatan kecil zigzag (cut), yang membantu untuk
menyembunyikan bekas luka.
Perbaikan ini memungkinkan penderita untuk menggunakan mulut mereka untuk
makan dan berbicara, dan menciptakan tampilan natural.
3.3

Screening Gen

PENGERTIAN

Screening adalah suatu strategi yang digunakan dalam suatu populasi untuk
mendeteksi penyakit pada individu tanpa tanda-tanda atau gejala penyakit itu, atau
suatu usaha secara aktif untuk mendeteksi atau mencari penderita penyakit tertentu
yang tampak gejala atau tidak tampak dalam suatu masyarakat atau kelompok
tertentu melalui suatu tes atau pemeriksaan yang secara singkat dan sederhana dapat
memisahkan mereka yang sehat terhadap mereka yang kemungkinan besar menderita,
yang selanjutnya diproses melalui diagnosis dan pengobatan.

22

Screening dapat didefinisikan sebagai pelaksanaan prosedur sederhana dan


cepat untuk mengidentifikasikan dan memisahkan orang yang tampaknya sehat,
tetapi kemungkinan beresiko terkena penyakit, dari mereka yang mungkin tidak
terkena penyakit tersebut. Screening dilakukan untuk mengidentifikasi mereka yang
diduga mengidap penyakit sehingga mereka dapat dikirim untuk menjalani
pemeriksaan medis dan studi diagnostik yang lebih pasti.

Uji tapis bukan untuk mendiagnosis tapi untuk menentukan apakah yang
bersangkutan memang sakit atau tidak kemudian bagi yang diagnosisnya positif
dilakukan pengobatan intensif agar tidak menular dengan harapan penuh dapat
mengurangi angka mortalitas.

Screening pada umumnya bukan merupakan uji diagnostic dan oleh


karenanya memerlukan penelitian follow-up yang cepat dan pengobatan yang tepat
pula.

TUJUAN

1.

Deteksi dini penyakit tanpa gejala atau dengan gejala tidak khas terdapat pada
orang yang tampak sehat,tapi mungkin menderita penyakit ( population risk)

23

2.

Dengan ditemukannya penderita tanpa gejala dapat dilakukan pengobatan


secara tuntas hingga mudah disembuhkan dan tidak membahayakan dirinya
maupun lingkungannya dan tidak menjadi sumber penularan hingga epidemic
dapat dihindari

3.

Mendapatkan

penderita

sedini

mungkin

untuk

segera

pengobatan.

4.

Mendidik masyarakat untuk memeriksakan diri sedini mungkin

SASARAN

Sasaran utama uji tapis atau skrining adalah :

Penderita penyakit kronis

o Infeksi bakteri ( lepra, TBC, dan lain-lain)

o Infeksi virus ( hepatitis )

24

memperoleh

Penyakit non infeksi :

o Hipertensi

o Diabetus mellitus

o Penyakit jantung

o Karsinoma serviks

o Prostate

o Glaikoma

Aids

PRINSIP PELAKSANAAN

25

Proses uji tapis terdiri dari dua tahap :

1.

Melakukan pemeriksaan terhadap kelompok penduduk yang dianggap


mempunyai resiko tinggi menderita penyakit dan bila hasil test negative maka
dianggap orang tersebut tidak menderita penyakit.

2.

Bila hasil positif maka dilakukan pemeriksaan diagnostic

Pemeriksaan yang biasa digunakan untuk uji tapis dapat berupa pemeriksaan laborat
atau radiologist misalnya :

1.

Pemeriksan gula darah

2.

Pemeriksaan radiology untuk uji tapis tbc

MACAM SCREENING

1.

Penyaringan massal (mass screening)

26

Penyaringan yang melibatkan populasi secara keseluruhan.

Contoh: screening prakanker leher rahim dengan metode iva pada 22.000
wanita

2.

Penyaringan multiple

Penyaringan yang dilakukan dengan menggunakan beberapa teknik uji


penyaringan pada saat yang sama.

Contoh: skrining pada penyakit aids

3.

Penyaringan yang ditargetkan

Penyaringan yg dilakukan pada kelompokkelompok yang terkena paparan


yang spesifik.

Contoh : screening pada pekerja pabrik yang terpapar dengan bahan timbal.

4.

Penyaringan oportunistik

Penyaringan yang dilakukan hanya terbatas pada penderita penderita yang


berkonsultasi kepada praktisi kesehatan
27

Contoh: screening pada klien yang berkonsultasi kepada seorang dokter.

KRITERIA UNTUK MELAKSANAKAN SCREENING

Sifat penyakit yang serius

Prevalensi tinggi pada tahap praklinik

Periode yg panjang diantara tanda tanda pertama sampai timbulnya penyakit

LOKASI SCREENING

Uji tapis dapat dilakukan di lapangan, rumah sakit umum, rumah sakit khusus, pusat
pelayanan khusus dan lain-lain :

1. Lapangan

: uji skrining TBC

28

2. RSU

: pap smear

3. RSK

: uji tapis glaikoma di RS mata

4. Pelayanan khusus

: RS jantung, RS kanker

VALIDITAS TES UJI SKRINING

Agar hasil pengukuran dari penyaringan/screening itu valid, maka harus diukur
dengan menggunakan sensitivitas & spesifitas:

Sensitivitas

Adalah proporsi dari orang-orang yang benar-benar sakit yang ada di dalam populasi
yang disaring, yang diidentifikasi dengan menggunakan uji penyaringan sebagai
penderita sakit.

Spesifisitas

29

Adalah proporsi dari orang-orang yang benar-benar sehat, yang juga diidentifikasi
dengan menggunakan uji penyaringan sebagai individu sehat.

KRITERIA EVALUASI

Validitas : merupakan tes awal baik untuk memberikan indikasi individu mana
yg benar sakit dan mana yang tidak sakit. Dua komponen validitas adalah
sensitivitas dan spesifitas

Reliabilitas : adalah bila tes yang dilakukan berulang ulang menunjukan hasil
yang konsisten.

Yield : merupakan jumlah penyakit yang terdiagnosis dan diobati sebagai


hasil dari uji tapis.

CARA TES SCREENING

30

Sebelum melakukan skrining terlebih dahulu harus ditentukan penyakit atau kondisi
medis apa yang akan dicari pada skrining.

Contoh uji skrining:

Pap smear yaitu tes screening kanker serviks

Pap smear dilakukan di ruang dokter dan hanya beberapa menit. Pertama anda
berbaring di atas meja periksa dengan lutut ditekuk. Tumit anda akan diletakkan pada
alat stirrups. Secara perlahan dokter akan memasukkan alat spekulum ke dalam
vagina anda. Lalu dokter akan mengambil sampel sel serviks anda dan membuat
apusan (smear) pada slide kaca untuk pemeriksaan mikroskopis.

Dokter akan mengirim slide ke laboratorium, dimana seorang cytotechnologist (orang


yang terlatih untuk mendeteksi sel abnormal) akan memeriksanya. Teknisi ini bekerja
dengan bantuan patologis (dokter yang ahli dalam bidang abnormalitas sel). Patologis
bertanggung jawab untuk diagnosis akhir.

31

Pendekatan terbaru dengan menggunakan cairan untuk mentransfer sampel sel ke


laboratorium. Dokter akan mengambil sel dengan cara yang sama, namun dokter akan
mencuci alat dengan cairan khusus, yang dapat menyimpan sel untuk pemeriksaan
nantinya. Ketika sampel sampai ke laboratorium, teknisi menyiapkan slide
mikroskopik yang lebih bersih dan mudah diinterpretasikan dibanding slide yang
disiapkan dengan metode tradisional.umumnya dokter akan melakukan pap smear
selama pemeriksaan panggul (prosedur sederhana untuk memeriksa genital eksternal,
uterus, ovarium, organ reproduksi lain dan rektum). Walaupun pemeriksaan panggul
dapat mengetahui masalah reproduksi, hanya pap smear yang dapat mendeteksi
kanker serviks atau prakanker sejak dini.

3.4

Radiografi

Definisi Radiografi
Radiografi adalah alat yang digunakan dalam diagnosis dan pengobatan
penyakit baik penyakit umum maupun penyakit mulut tertentu. Meskipun dosis
radiasi dalam radiografi

rendah, bila memungkinkan paparan radiasi harus

diminimalkan. Dokter Gigi harus mempertimbangkan manfaat dari radiografi dental


terhadap meningkatnya konsekuensi paparan radiasi terhadap pasien, efek dariyang

32

terakumulasi dari beberapa sumber dari waktu ke waktu. Harus mengikuti prinsipprinsip untuk meminimalkan paparan radiasi. Pada era maju sekarang ini, umumnya
layanan radiologi telah dikelompokkan menjadi dua prosedur, yaitu radiologi
diagnostic dan intervensional. Radiologi diagnostik adalah cabang ilmu radiologi
yang berhubungan dengan penggunaan pesawat sinar-X untuk prosedur diagnosis,
sedangkan radiologi intervensional adalah cabang ilmu radiologi yang berhubungan
dengan penggunaan pesawat sinar-X untuk memandu prosedur perkutaneus seperti
pelaksanaan biobsi, pengeluaran cairan, pemasukan kateter, atau pelebaran terhadap
saluran atau pembuluh darah yang menyempit.
Radiografi Dental
Definisi Radiografi Dental Radiografi dental adalah alat yang membantu
dalam diagnosa dan rencana pengobatan penyakit mulut seperti karies, periodontal
penyakit dan patologi oral.Radiologi ini merupakan langkah awal pendeteksi
keparahan penyakit.Dalam tindakan perawatan gigi sangat baik jika dilakukan
radiologi dental sebagai penunjang dari pemeriksaan klinis sehingga tahapan atau
langkah dalam pengobatan bisa sebaik mungkin. Dibidang kedokteran gigi,
pemeriksaan radiografi mempunyai peranan yang sangat penting.Hampir semua
perawatan gigi dan mulut membutuhkan data dukungan pemeriksaan radiografi agar
perawatan yang dilakukan mencapai hasil yang optimal.
Radiografi di kedokteran gigi ada 2 macam yaitu :

33

1. Radiografi intra oral (film dalam mulut) Adalah radiografi yang memperlihatkan
gigi dan struktur di sekitarnya.Pemeriksaan intra oral adalah pokok dari dental
radiografi.
Tipe radiografi intar oral :
a. Periapikal radiografi
Pemeriksaan radiografi periapikal merupakan teknik pemeriksaan radiografi yang
paling rutin dikerjakan di kedokteran gigi.Pemeriksaan ini bertujuan untuk
memeriksa gigi (crown dan root) serta jaringan sekitarnya.
b.Interproksimal radiografi
Bertujuan untuk memeriksa crown, crest tulang alveolar di maksila dan mandibula
dalam satu film.Film yang dipakai adalah film khusus.
c. Oklusal radiografi
Bertujuan untuk melihat area yang lebih luas lagi yaitu maksila atau mandibula dalam
satu film.Film yang digunakan adalah film khusus.
2. Radiografi ekstra oral ( film di luar mulut)
Merupakan pemeriksaan radiografi yang lebih luas dari kepala dan rahang.Film
berada diluar mulut.
Tipe radiografi ekstra oral :

34

a. Panoramik
Foto panoramik merupakan foto roentgen ekstra oral yang menghasilkan
gambaran yang memperlihatkan struktur fasial termasuk mandibula dan maksila
beserta struktur pendukungnya. Foto roentgen ini digunakan untuk mengevaluasi
gigi.

b. Lateral cephalometric
Foto roentgen ini digunakan untuk melihat tengkorak tulang wajah akibat
trauma penyakit dan kelainan pertumbuhan perkembangan. Foto ini juga dapat
digunakan untuk melihat jaringan lunak nasofaringeal, sinus paranasal dan palatum
keras.

c. Postero-anterior

35

Foto roentgen ini digunakan untuk melihat keadaan penyakit, trauma, atau
kelainan pertumbuhan dan perkembangan tengkorak. Foto roentgen ini juga dapat
memberikan gambaran struktur wajah, antara lain sinus frontalis dan ethmoidalis,
fossanasalis, dan orbita.

d. Proyeksi waters
Foto roentgen ini digunakan untuk melihat sinus maksilaris, sinus
ethmoidalis, sinus frontalis, sinus orbita, sutura zigomatikus frontalis, dan rongga
nasal. Sudut kemiringan kepala 37 derajat.

36

Kegunaan Radiologi Dental


Radiografi sangat penting bagi dokter gigi untuk:
1.Diagnosa
2.Perencanaanpengobatan
3.Evaluasi terhadap perawatan yang dilakukan
Aplikasi Radiografi terhadap Kasus Makrostomia
Pada kasus makrostomia ini, dapat diidentifikasi melalui foto roentgen yang
dilakukan secara extraoral

maupun intraoral dengan beberapa teknik tersebut.

Contohnya seperti pada roentgen extraoral dengan teknik proyeksi chepalometri, akan
terlihat dengan jelas radiografi radiopak dari processus maxilaris dan processus
mandibularis yang tidak bersatu. Dan pada roentgen intraoral akan terlihat dengan
jelas apakah celah tersebut menembus hingga ke buccal mucosa atau tidak.

37

BAB 4

Kesimpulan

38

Daftar Pustaka

39