You are on page 1of 12

1.

Perspektif e-commerce

Seiring dengan perkembangan teknologi dan informasi, layanan konsultasi dan penjualan obat
mulai merambah ke dunia maya. Hal itu pula yang dilakukan PT K-24 Indonesia sebagai pemilik
Apotek K-24, apotek waralaba pertama di Indonesia yang telah memiliki lebih dari 342 gerai
yang tersebar dari Medan hingga Merauke. PT K-24 Indonesia telah meluncurkan apotek online
yang diberi nama www.obat24.com.
Obat24.com (sekarang K24klik.com)
Yogyakarta. E-commerce ini dibentuk
menyediakan produk obat yang asli,
menjadi lebih dekat dengan pasien /
membutuhkan.

berkantor pusat di Jl. Godean Km.1, Tambak,


dengan latar belakang adanya keyakinan untuk
aman, tepat, dan terpercaya, serta komitmen untuk
customer dimanapun berada dan kapanpun mereka

Jika kita perhatikan, keberadaan apotek online saat ini sudah menjamur di Indonesia. Baik itu
yang menjual beragam obat resep, obat bebas, obat herbal, perawatan kulit, hingga suplemen
makanan dan suplemen diet yang laris manis dicari orang. Dari sekian banyak apotek online,
konsumen dituntut untuk lebih berhati-hati dalam memilih. Karena, tidak sedikit apotek online
abal-abal yang dimanfaatkan oknum tidak bertanggungjawab untuk berjualan obat palsu hingga
obat-obatan terlarang. Apa jadinya jika yang kita inginkan adalah sehat, tetapi karena salah
memilih apotek online yang terjadi justru gangguan / masalah kesehatan? Tentu tidak ada dari
kita yang menginginkan hal tersebut.
Bukan sekedar situs e-commerce yang mengejar profit semata, Obat24.com merupakan
suatu online pharmacy yang peduli terhadap kebutuhan pasien / customer. Obat24.com
menawarkan berbagai kelebihan yang mungkin tidak dimiliki oleh apotek online lainnya.
Kelebihan tersebut adalah :
1. Cara belanja obat yang mudah dan hemat
Obat24.com memberikan beberapa kemudahan belanja obat bagi pasien / customer. Terutama,
bagi mereka tidak memiliki waktu luang atau berada di tempat yang jauh dari apotek, belanja

obat dapat dilakukan secara online melalui website obat24.com. Belanja obat secara online
juga dapat menghemat biaya yang harus dikeluarkan untuk transportasi (pergi ke apotek).
2. Pelayanan yang cepat dan tepat
Untuk dapat memberikan pelayanan yang terbaik dan tercepat, Obat24.com telah bekerjasama
dengan gerai-gerai Apotek K-24 yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Obat yang dipesan
oleh pasien akan dikirimkan dari gerai Apotek K-24 terdekat dengan alamat pasien. Selain itu,
untuk mempermudah pasien dalam mencari informasi seputar pemesanan dan pengiriman,
Obat24.com juga menyediakan hotline dan kontak ke customer service seperti BBM, Whatsapp,
Line, dan Email.
3. Apotek online terlengkap asli Indonesia
Ragam obat yang tersedia di Obat24.com mulai dari golongan obat bebas, obat resep, vitamin
& suplemen makanan, produk perawatan kulit, obat-obatan herbal, hingga alat kesehatan.
Obat24.com dapat memenuhi kebutuhan kesehatan pasien hanya dengan klik beli produk yang
diinginkan atau melalui request produk.
4. Jaminan obat asli, aman, dan berkualitas
Obat-obatan yang dijual di Obat24.com dijamin asli 100% karena berasal dari berbagai pabrik
dan distributor resmi yang terdaftar di Indonesia, aman karena telah mendapatkan izin dari
Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia, dan tentunya kualitas obat terjaga.
5. Konsultasi gratis
Bagi pasien / customer yang ingin berkonsultasi seputar kesehatan dan pengobatan,
Obat24.com menyediakan layanan konsultasi gratis dengan Apoteker yang berlisensi dan
berpengalaman melalui email cs@obat24.com ataupun chatting.
6. Penerimaan resep dokter secara online
Untuk pembelian obat keras yang membutuhkan resep dokter, pasien dapat mengirimkan /
meng-upload resep tersebut (baik berupa foto atau hasil scan) ke website Obat24.com dan
kemudian pesanan akan diproses.
7. Layanan pesan antar & Cash on Delivery
Untuk pengiriman paket ke lokasi-lokasi yang masih dalam jangkauan free delivery
area, Obat24.com tidak mengenakan ongkos kirim. Selain menggunakan jasa ekspedisi paket,
Obat24.com juga melayani cash on delivery (COD). Namun, saat ini COD berlaku hanya untuk
wilayahKota Yogyakarta, Klaten, Jakarta Timur, Depok, Tangerang, Bali, Semarang, dan
Surabaya. Tim Obat24.com terus berussaha memperluas jaringannya untuk dapat menjangkau
masyarakat lebih dekat lagi.
8. Jaminan penukaran barang
Obat24.com memberikan jaminan penukaran barang jika barang yang dikirim tidak sesuai
dengan permintaan pembeli (cacat, rusak, atau salah dosis).
Jadi, apabila Anda khawatir dengan adanya apotek online abal-abal dan mencari apotek online
yang resmi (berizin), terlengkap, dan terpercaya, Obat24.com jawabannya. Untuk mendapatkan
informasi yang lebih lengkap mengenai Obat24.com, Anda dapat mengunjungi
website www.obat24.com. . Salam Sehat. (*)

Diposkan dalam kategori Berita oleh Marketing pada 02 Mar 2016


http://health.kompas.com/read/2016/02/02/100500423/Tak.Bisa.Sembarangan.Beli.Obat.L
ewat.Aplikasi.Apotik.Antar

Tak Bisa Sembarangan Beli Obat Lewat


Aplikasi Apotik Antar
JAKARTA, KOMPAS.com - Adanya aplikasi Apotik Antar memang
memudahkan pembelian obat, karena tak perlu datang ke apotek. Akan
tetapi, bukan berarti Anda bisa sembarangan membeli berbagai jenis
obat lewat aplikasi tersebut.
CEO M-Health Tech, Jonathan Sudharta mengungkapkan, sistem
aplikasi hanya memunculkan obat-obatan yang dijual di apotek resmi.
Untuk memastikan keamanannya, pembelian obat dengan resep dokter
pun harus menunjukkan bukti tulisan resep dari dokter. Sistem aplikasi
telah membagi jenis obat tanpa resep dokter dan harus dengan resep
dokter.
"Misalnya ketik sendiri obat resep dokter, di aplikasi memang keluar
nama obatnya, tapi saat mau pesan tidak bisa. Sistem aplikasi akan
meminta Anda memasukkan foto resep dokter," terang Jonathan saat
ditemui Kompas.com di Jakarta, Senin (1/2/2016).
Selain itu, Apotik Antar juga memiliki apoteker sebagai penanggung
jawab. Apoteker bisa mengecek keaslian foto resep dokter dengan
melihat obat-obatan yang dipesan. Mengenai cara pemakaian obat,
konsumen juga bisa dihubungkan langsung ke apotek.

Aplikasi yang diluncurkan 11 Januari lalu itu juga melayani


perlengkapan kesehatan yang dijual di apotek. Saat ini, aplikasi sudah
terhubung dengan 200 apotek di kawasan Jadetabek (Jakarta, Depok,
Tangerang, Bekasi). Nantinya, hampir setiap bulan akan ada
penambahan wilayah.
"Jadi kalau lagi traveling ke luar kota, terus kepala tiba-tiba pusing,
butuh obat, tapi bingung nyari apotek, ya bisa pesen lewat aplikasi aja,"
ujar Jonathan.
Jadi, ketika ada yang memesan obat lewat aplikasi, seluruh apotek
terdekat atau berjarak 5 kilometer dari lokasi pemesanan akan
mendapat informasi melalui aplikasi yang juga ada di setiap apotek
tersebut.
Salah satu apotek akan menerima pesanan dan menelepon konsumen.
Kemudian, pengantaran obat akan dilakukan oleh Go-Jek yang
memang bekerja sama dengan Apotik Antar.
2. Perspektif BPOM

http://health.liputan6.com/read/796315/kepala-bpom-apotek-onlineseharusnya-tak-ada

Kepala BPOM: Apotek Online Seharusnya Tak Ada


Perkembangan kecanggihan teknologi menjadi salah satu faktor penyebab adanya
apotikonline. Menurut Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik
Indonesia (BPOM RI), Dr. Roy A Sparringa M.App.Sc seharusnya tidak boleh ada
yang namanya apotik online.
"Sekarang marak penjualan produk obat melalui online, apalagi apotek online. Itu
tidak boleh, apotik itu harus bersifat nyata dan ada tenaga farmasinya," kata Roy
seperti ditulis Jumat (10/1/2014).
BPOM lewat operasi pangeanya telah menemukan 129 situs yang memasarkan obat
ilegal dan palsu di tahun 2013 yang naik dari jumlah tahun 2012 yaitu 83 situs. Situs

tersebut beroperasi di wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa tengah, Jawa Timur,
Sumatera Utara dan Batam. Kerugian negara atas penjualan terlarang ini mencapai
Rp 5.593.200.000.
"Tahun 2013 kami menemukan 129 situs obat ilegal dan palsu dengan nilai temuan
mencapai Rp 5.593.200.000. Kami telah mengawasi dan membuntuti namun tetap
saja sulit untuk menghentikan apotek online ini, karena transaksi online itu tidak ada
transaksi fisiknya," katanya.
Roy menambahkan BPOM di 2014 telah bekerjasama dengan polri untuk membantu
menutup situs apotek online perdagangan obat illegal dan palsu namun masih juga
sulit.
"Karena sulit makanya kami bekerjasama. Walaupun kami sudah memblokir situs
namun tetap saja besoknya masih ada karena membuat situs terlalu mudah mereka
diblokir kemudian membuat lagi dengan nama yang berbeda, situs online itu tidak
hanya dari Indonesia tetapi juga dari luar negeri," kata Roy.
(Mia/Abd)
3. Perspektif Konsumen
http://news.liputan6.com/read/2560223/ylki-jangan-beli-obat-online-80persen-akunnya-palsu

YLKI: Jangan Beli Obat Online, 80


Persen Akunnya Palsu
Liputan6.com, Jakarta - Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen
Indonesia (YLKI)Tulus Abadi mengimbau masyarakat agar tidak membeli obat
apapun secara online. Hal itu karena obat tersebut tidak diketahui benar asli atau
tidak.
"Kalau online sangat tidak recommended, jangan membeli obat di online. 80 persen
obat online palsu akunnya, jangan sampai masyarakat beli obat online," ungkap
Tulus dalam acara diskusi Darurat Farmasi: Melawan Pemalsuan Vaksin dan Obat di
Plaza Festival Kuningan, Jakarta, Minggu (24/7/2016).
Ia menjelaskan kalau di Indonesia kredibilitasnya masih sangat rendah, sehingga
portal-portal penjualan obat secara online itu haruslah ditutup.

"Portal-portal penjualan obat online yang harus ditutup termasuk vaksin dijual online,
itu sudah enggak bener," ujar Tulus.
Tulus mengatakan seharusnya masalah peredaran obat dan penghancuran limbah
bekas obat atau vaksin di Indonesia melibatkan banyak pihak seperti Kementerian
Kesehatan, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), serta Pemerintah
Daerah (Pemda) masing-masing.
"Selama ini saling lempar tanggung jawab, yang dominan itu sebenarnya Pemda,"
kata Tulus.
"Soal limbah (bekas obat atau vaksin) itu enggak bisa dijawab. Pihak pengawasan
dari Pemdanya, misal di DKI ada Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup,"
sambung dia.
Yang jelas, lanjut Tulus, salah satu pemicu peredaran vaksin palsu adalah
pengelolaan limbah rumah sakit yang tidak beres.
"Apalagi vaksin distributornya terbatas, jika dia mengambil dari tidak resmi, otomatis
bermasalah. Kalau kelangkaan bisa mengalihkan ke rumah sakit lain atau klinik lain
yang masih pnya stok. Ini kan vaksin impor (vaksin palsu)," papar Tulus.
"Salah satu pemicu (vaksin palsu), limbah RS berantakan, dibuang sembarangan,
selain merusak lingkungan juga dipakai, didaur ulang oleh pihak-pihak tertentu,
salah satunya vaksin palsu," imbuh dia.
Dia pun menegaskan kalau semua limbah dari obat atau vaksin ini haruslah
dihancurkan, jangan sampai dibuang begitu saja ke tempat sampah, sekali pun
tempat pembuangan sampah besar.
"Kalau bisa lewat proses pembakaran meski efeknya tetap merusak sedikit
lingkungan. Tapi itu harus dihancurkan sehancurnya, tidak boleh dibuang ke
Bantargebang, itu enggak boleh," Tulus menandaskan.
4. Perspektif Tenaga Kesehatan

MENYOAL APOTEK ONLINE


diterbitkan di rubrik OPINI Tribun Timur, 21 Juni 2016
Sepekan lalu tepatnya 11 Juni 2016, tribun timur mewartakan di Makassar diluncurkan
sebuah layanan kesehatan berupa pelayanan belanja obat online dengan aplikasi bernama Apotik
Antar. Layanan aplikasi yang berbasis digital ini dikembangkan salah satu perusahaan teknologi
nasional dibidang kesehatan M-Health Tech. Walaupun diklaim sebagai aplikasi online pertama,

sebenarnya sebelumnya sudah ada beberapa apotik jejaring nasional telah memberikan layanan
online berbasis web.
Sepintas tentu hal tersebut menjadi kabar gembira bagi masyarakat kota Makassar yang akan
dimanjakan dengan kemudahan mendapatkan obat-obatan dari berbagai pilihan apotek yang
tersedia secara. Dilain pihak fakta yang menunjukkan semakin mudah dan banyak orang yang
terkoneksi dengan internet tentu menjadi peluang yang akan dimanfaatkan oleh pengembang
aplikasi digital untuk dijadikan sebagai target pemasaran sejumlah produk termasuk obat-obatan.
Namun dari sudut pandang pelayanan kefarmasian, sebelum melegalkan dan menerapkan
penjualan obat melalui situs online, saya melihat masih banyak hal yang perlu dicermati terkait
prinsip etis dan tanggung jawab dalam hal pemastian outcome terapi obat, dalam hal ini jaminan
bagi masyarakat mendapatkan kemanfaatan dari obat yang dikonsumsi agar dapat meningkatkan
mutu kehidupannya
Apotek Online Mengabaikan prinsip Etis Pelayanan Kefarmasiaan
Dalam tulisan ini saya mencoba menunjukkan bagaimana situs/aplikasi online yang
menawarkan produk obat mengabaikan sejumlah prinsip etis pelayanan kesehatan yang selama
ini dipegang teguh dan diaplikasikan dalam layanan kefarmasian.
PrinsipNonmaleficence (menghidarkan dari praktek yang mengancam keselamatan
pasien), Beneficence (senantiasa memberikan yang terbaik bagi pasien)
serta Confidentiality (menjaga kerahasiaan pasien) adalah beberapa prinsip yang kami lihat
berpotensi untuk terpatahkan dengan sistem apotik online.
Hal pertama perlu diperhatikan tentu aspek legalitas dan peraturan perundang yang ada, baik
terkait kewenangna dan keahlian dalam penyelenggaraan pelayanan kefarmasian maupun terkait
status hukum dari apotik online tersebut. Aplikasi online tentu bukan hal yang baru dan
dipertanyakan statusnya, tetapi penyelenggaran pelayanan/penjualan obat sifat dan
karakteristiknya tentu tidak boleh disamakan dengan barang-barang lainnya dalam hal tata kelola
dan pendistribusiannya. Sejauh ini aspek legal yang mendukung penjualan obat secara online
belum memadai bahkan belum ada.
Obat tentu berbeda dengan sejumlah produk lainnya yang sudah lebih dulu sukses dipasarkan
secara online, obat memiliki sifatAllophatic, pada obat selain potensi menyembukan pada saat
bersamaan terdapat potensi efek samping yang dapat mebahayakan pasien jika tidak digunakan
secara tepat. Dalam penyelenggaraan layanan kefarmasian menjadi perhatian utama apoteker
bagaimana mencapai tujuan terapi tanpa adanya masalah yang muncul terkait obat. Masalah
dapat berupa ketepatan obat dengan penyakit pasien, efektifitas, keamanan dan regimen
dosisnya, serta aspek kepatuhan pasien. Ini harus dijamin oleh siapapun yang menawarkan
layanan kefarmasian termasuk Aplikasi apotek online.
Pada apotek online meniadakan proses assesmen apoteker pada pasien, assesmen
merupakan proses penggalian informasi kepada pasien terkait riwayat pengobatan serta riwayat
penyakit yang pernah diderita, serta indikasi medis yang sementara di alami oleh pasien. Proses
ini sangat penting terutama dimaksudakan untuk memastikan pasien mendapatkan terapi obat
yang tepat. Tanpa terbangunnya interaksi yang cukup antara pasien dan apoteker, hampir
dipastikan tidak dapat dinilai ketepatan pemilihan obat dengan kondisi medis pasien dengan
segala riwayat pengobatan dan kemungkinan adanya riwayat alergi obat pasien. Tidak adanya
Komunikasi, Informasi dan Eduksi obat pada saat penyerahan obat sehingga pasien tidak secara
utuh mendapatkan informasi terkait indikasi, efek samping, aturan dosis, cara pemakaian,
penyimpanan obat, serta edukasi lain terkait terapi pasien. Ini berpotensi terjadinya ketidak

patuhan pasien pada regimen dosis bahkan dapat terjadi kesalahan penggunaan obat yang
berakibat efikasi tidak tercapai malah dapat membahayakan keselamatan pasien.Hal tersebut
tentu menempatkan pasien dalam keadaan beresiko memperoleh terapi yang keliru . Ini
bertentangan dengan prinsip prinsip Nonmaleficence dan Beneficence.
Proses distribusi obat kepada pasien berpotensi menyebabkan pasien mendapatkan produk
terkontaminasi dan mutu substandard. Penitipan produk farmasi kepada kurir semisal ojek online
selain melanggar peraturan perundangan yang ada terkait kewenangan dan keahlian, juga dapat
berpotensi terjadinya penyimpangan dan penyalahgunaan. Prosedur penanganan produk farmasi
yang tidak standar, juga dapat mebahayakan pasien.
Dalam interaksi pasien secara digital aspek lain yang menjadi kekhawatiran penulis yaitu
Confidentiality (kerahasiaan) yang dipertaruhkan, bukan saja terkait kerahasian data pribadi
pasien yang rentan di salah gunakan oleh aplikasi yang system keamanannya lemah, juga status
medis dan kesehatan pasien yang berpotensi untuk diakses dan disalahgunakan oleh pihak-pihak
yang mempunyai kepentingan pada data tersebut secara tidak bertanggung jawab.
Dapat disimpulkan, penjualan obat secara online berpotensi menyebabkan terjadinya bypass
terhadap proses pelayanan kefarmasian reguler yang selama ini konsisten mejaga dan
memastikan aspek keselamatan pasien. Apotik online tidak hanya mengabaikan aspek legal, juga
akan mematahkan prinsip-prinsip etika dalam pelayanan kesehatan. Ini tentu dapat memberikan
ancaman bagi masyarakat khususnya pengguna aplikasi online. Regulasi dari pemerintah dan
Edukasi kepada semua pihak diharapkan dapat mengendalikan masalah ini.
Masyarakat diharapkan menghindari transaksi obat online sampai keluarnya regulasi
pemerintahan terkait, setidaknya harus secara bijaksana menggunakan aplikasi online dengan
memastikan situs yang kredibel dan dapat memberikan jaminan kualitas pelayanan. Sampai
prosedur keselamatan pasien yang memadai telah dilaksanakan sepenuhnya, pasien dan praktisi
apoteker harus berhati-hati setiap kemungkinan adanya pelanggaran terhadapap peraturan dan
prinsip etik ketika melihat, mengunjungi, atau terlibat dalam aplikasi apotik online.
Diposkan oleh Ambo Intang

http://ambroze77.blogspot.co.id/2016/08/menyoal-apotek-online.html

Go-Med, Domestikasi Layanan


Kefarmasian dan Kegagapan Kita
Oleh: Yurdhina Meilissa, MD

Maklumat Palermo-lah yang mula-mula menceraikan fungsi dokter dan apoteker.


Sejak itu, profesi Sang Penyembuh terbelah dua. Dokter hanya bertugas
mendiagnosis dan meresepkan obat. Apoteker berhak menyimpan, menyiapkan dan
menyerahkan obat pada pasien berdasarkan resep. Keduanya, untuk kali pertama,
harus tunduk pada kendali Pemerintah.

Sejak 1231, praktik ini menjalar ke antero Eropa. Maksudnya mulia: mencegah
terjadinya jebakan moral (moral hazard) dalam peresepan yang merugikan
pasien. Maklumat Go-Med, boleh jadi, juga akan menyejarah. Dari sudut pandang
usaha komersial, ia menggagas produk, proses bisnis dan potensi pasar yang unik.
Mengutip surat elektronik yang diedarkan kepada Go-Jekers, Melalui Go-Med,
Anda dapat membeli sekaligus menebus obat secara instan dari 1,500 apotek, yang
terdaftar di dalam Apotek Antar, tanpa biaya pengiriman. Obat bebas dan bebas
terbatas dapat dibeli tanpa resep dokter. Serupa layanan pesan antar Go-Food atau
Go-Mart. Obat keras (daftar G) dapat dibeli dengan mengunggah resep dokter.
Setelah mengkaji foto resep, apoteker rekanan akan memberikan obat via
pengemudi Go-Jek. Informasi penggunaan obat lalu dikirimkan via surat elektronik
kepada pasien. Dari sudut pandang akses layanan, Go-Med berpotensi memperluas
keterjangkauan. Pasien dengan hambatan akses dapat menebus resep kapan saja,
tanpa perlu beranjak dari rumah.
Layanan ini juga meminimalkan ketidaknyamanan yang dirasakan pasien ketika
harus menebus obat-obatan sensitif, Viagra misalnya. Namun, dari sudut pandang
praktik kefarmasian, Go-Med tanpa sadar telah mendorong profesi Aphotecary
kembali terbelah dua. Apoteker yang mengelola dan menyiapkan obat, dan
pengemudi Go-Jek yang menyerahkan obatnya. Kali ini, keduanya tunduk pada
kendali pasar.
Domestikasi Layanan Kefarmasian
Go-Med sesungguhnya hanya penanda kesahihan: layanan kefarmasian di tanah air
telah memasuki babak baru. Dalam refleksi yang lebih dalam, internet dan inovasi
telah membawa layanan kefarmasian masuk jauh ke dalam ruang domestik
individu. Pernahkah Anda mengkonsumsi obat anti alergi untuk membantu tidur?
Atau berkelakar akan meminum obat penghambat Kolesterol agar kegemaran
melahap sepiring nasi padang tidak berbuntut kegendutan? Fenomena ini jadi bukti.
Di hilir, kerasionalan konsumsi obat individu sulit untuk direka. Karenanya, di hulu,
praktek jual-beli obat sengaja tidak diinstankan. Di sinilah besar peran Apoteker
sebagai penjaga gawang kerasionalan penggunaan obat. Di tangan mereka kualitas

layanan kefarmasian dipertaruhkan. Tawaran kemudahan bagi konsumen Go-Med


membuka celah yang memperumit kerja apoteker untuk memberikan layanan
komprehensif.
Pertama, akan sukar bagi seorang Apoteker untuk memastikan keaslian resep
hanya berbekal foto yang diunggah. Betapa pun vitalnya, resep hanyalah secarik
kertas yang mudah dipalsukan. Terdapat 4,740,000 hasil pencarian untuk
pertanyaan How to make a fake prescription? di laman pencari Google. Hanya
dengan sedikit usaha, konsumen sunguh-sungguh dapat belajar memproduksi
resep semau hati sendiri.
Kedua, dalam layanan Go-Med, resep asli akan tetap berada di tangan konsumen.
Lagi-lagi ini celah yang bisa dimanfaatkan konsumen untuk melakukan penebusan
resep berulang. Dampak buruk praktik nakal ini luas. Tidak hanya terbatas pada
keselamatan konsumen. Organisasi kesehatan dunia (WHO) melansir pengunaan
obat yang salah dan/atau berlebih telah memicu tingginya kasus resistensi antibiotik
dan antivirus. Penderita menjadi lebih sulit disembuhkan.
Research and Development (RAND) Corporation menghitung, setiap tahun, dunia
merugi hingga tiga triliun dollar dikarenakan kasus resistensi. Ketiga, pada pasien
tertentu, pemberian kompendium penggunaan obat via surat elektronik sangat tidak
memadai.
Pasien dalam kondisi khusus (anak-anak, orang tua, ibu hamil, ibu menyusui,
pasien dengan penyakit penyerta), yang menggunakan terapi jangka panjang atau
obat dengan indeks terapi sempit, dan pasien yang menggunakan banyak obat
sekaligus (umumnya disebut polifarmasi) tetap membutuhkan konseling interaktif
dengan Apoteker.
Data karakteristik pasien yang minim dari sebatas unggahan resep akan
menyulitkan Apoteker mengidentifikasi pasien dalam kondisi khusus. Ditambah lagi,
proses konseling tentu tidak dapat diwakilkan kepada pengemudi Go-Jek.
Kegagapan Pemerintah dan Peluang Perbaikan
Menimbang potensi Go-Med mengkerdilkan fungsi apoteker dan membahayakan

pasien, kita patut bertanya, mengapa hingga kini tak satupun narasi keresahan
pemangku kepentingan tertangkap media. Walau sesungguhnya, jeda respons ini
mudah dipahami.
Bukan rahasia bahwa Pemerintah acap gagal melahirkan kebijakan ex-ante yang
antisipatif. Tidak ada satupun produk hukum terkait layanan kefarmasian memuat
klausul apotek online dan layanan pesan-antar obat. Maka wajar jika kontestasi
diskursus di kalangan internal lahir tanpa pijakan.
Menahan laju inovasi hanya akan membuang energi. Menutup layanan Go-Med
mungkin juga tidak bijak jika menilik potensi yang dimilikinya. Kemampuan
Pemerintah mereformulasi kebijakan agar sesuai perkembangan dan kebutuhan
hukum menjadi kunci.
RUU tentang pengawasan sediaan farmasi, alat kesehatan dan perbekalan
kesehatan rumah tangga menjadi satu-satunya peluang kebijakan ex-post yang
adaptif. Sayangnya, RUU ini mangkrak sejak 2012. Sehingga kapasitas RUU ini
untuk mengakomodasi praktik kefarmasian modern masih harus ditunggu.
Peran Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) pada masa kekosongan hukum dibutuhkan
untuk mengawasi pelaksanaan PP No. 51 tahun 2009 tentang pekerjaan
kefarmasian, Permenkes No. 35 tahun 2014 tentang standar pelayanan kefarmasian
di Apotek dan kode etik Apoteker.
Asosiasi Apotek Seluruh Indonesia (APSI) dapat menginisiasi proses kredensial
apotek. National Associated of Boards of Pharmacy di Amerika Serikat, misalnya,
mempelopori program Verified Internet Pharmacy Practice Sites sejak 1999.
Walaupun, dalam praktiknya sertifikasi ini tidak diwajibkan, publikasi akreditasi
apotek yang transparan telah memungkinkan publik berdaya untuk memilih dan
membantu Pemerintah melakukan penegakkan hukum. Dalam jangka pendek,
ikhtiar melokalisasi dampak harus ditempuh dengan memperbaiki alur layanan GoMed.
Ke depan, perluasan bidang usaha harus didiskusikan dengan Kementrian
Kesehatan dan Organisasi Profesi agar dampak yang ditimbulkan tidak

membahayakan keselamatan konsumen. Inggris, salah satu negara dengan sistem


kesehatan terbaik di dunia, perlu jeda ratusan tahun untuk mengadaptasi Maklumat
Palermo ke dalam National Health Insurance Act.
Indonesia juga, barangkali, membutuhkan jeda lebih panjang lagi untuk beradaptasi
pada tren apotek online dan layanan pesan-antar obat yang mulai marak sejak
1999. Pertanyaannya, kapan kita akan bergerak? (Dokter umum. Pemerhati
kebijakan kesehatan)
Foto: screenshot
Sumber: kompas.com