You are on page 1of 6

GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN ORANGTUA TERHADAP

PERGAULAN (LINGKUNGAN) REMAJA MASA KINI


DESCRIPTION OF PARENT ANXIETY TO LIFE STYLE

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Hidup manusia mulai dari bayi, anak, remaja, dewasa, hingga orang tua
melewati tahapan-tahapan yang cukup rumit. Perkembangan dalam segi rohani
atau kejiwaan juga melewati tahapan-tahapan yang dalam hal ini dimungkinkan
dengan adanya kontak terhadap lingkungan atau sekitarnya. Masa remaja
dibedakan dalam:

Masa remaja awal


Masa remaja tengah
Masa remaja akhir

: 10-13 tahun
: 14-16 tahun
: 17-19 tahun

Masa remaja menjadi masa yang begitu khusus dalam hidup manusia, karena
pada masa tersebut terjadi proses awal kematangan organ reproduksi manusia
yang disebut sebagai masa pubertas. Pubertas berasal dari kata pubercere yang
berarti menjadi matang, sedangkan remaja atau adolesence berasal dari kata
adolescere yang berarti dewasa. Proses ini menjadi malapetaka keharmonisan
hubungan remaja dengan orang-orang sekitarnya terutama terhadap orang tuanya
dan generasi yang lebih tua. Sebenarnya, selama tak menimbulkan perpecahan
dengan orang tua, konflik merupakan satu aspek yang perlu dalam perkembangan
yang sehat.
Masa remaja juga merupakan masa transisi atau peralihan dari masa kanakkanak menuju masa dewasa. Pada masa ini individu mengalami berbagai
perubahan, baik fisik maupun psikis. Perubahan yang tampak jelas adalah

perubahan fisik, dimana tubuh berkembang pesat sehingga mencapai entuk tubuh
orang dewasa yang disertai pula dengan berkembangnya kapasitas reproduktif.
Selain itu remaja juga berubah secara kognitif dan mulai mampu berfikir abstrak
seperti orang dewasa. Pada periode ini pula remaja mulai melepaskan diri secara
emosional dari orang tua dalam rangka menjalankan peran sosialnya yang baru
sebagai orang dewasa (Clarke-Stewart & Friedman, 1987; Ingresol, 1989). Namun
penerimaaan terhadap perubahan fisik sulit giterima oleh remaja. Hal tersebut
disebabkan karena remaja tidak hanya menyesuaikan dengan perubahan yang
terjadi yang biasa menyertai pubertas, melainkan ia juga harus menerima bentuk
dan ukuran tubuhnya yang baru yang merupakan ciri khasnya. Perubahan fisik
akibat pubertas mempengaruhi tingkah laku remaja dalam beberapa hal, yang
paling umum berupa perubahan dalam penyesuaian diri baik secara individual
maupun sosial (Hurlock, 1980, h.207).
Perubahan-perubahan tersebut dapat menyebabkan kekacauan-kekacauan batin
pada remaja, sehingga masa remaja sering juga disebut sebagai masa pancaroba.
Kondisi ini menyebabkan remaja dalam kondisi rawan menjalani proses
pertumbuhan dan perkembanagnnya. Kondisis ini juga diperberat dengan adanya
globalisasi yang ditandai dengan makin derasnya arus informasi.
Kondisi seseorang pada masa remaja seakan-akan tak menentu atau dilematik,
karena dianggap sebagai anak, remaja sudah kelihatan besar dan sebaliknya
dianggap dewasa tapi masih kelihatan kecil. Hal ini menyebabkan masyarakat
sulit menetukan norma yang sesuai bagi remaja. Bila remaja bersikap seperti
anak-anak maka dikatakan tidak pantas, kerena sudah dewasa. Sebaliknya bila
bersikap seperti orang dewasa, dikatakan masih kecil mau berlagak dewasa.
Menurut Erickson (1963), pencarian identitas diri mulai dirintis seseorang pada
usia remaja muda. Pencarian identitas diri berarti pencarian diri sendiri, diman
remaja ingin tahu kedudukan dan perannya dalam lingkungannya, disamping
ingin tahu juga tentang dirinya sendiri yang menyangkut soal apa dan siapa dia,
semua yang berhubungan dengan aku inin diselidiki dan dikenalnya.

Pada usia 12-15 tahun, pencarian identitas diri masih berada pada tahp
permulaan. Dimulai pada pengukuhan kemampuan yang sering diungkapkan
dalam bentuk kemauan yang tidak dapat dikompromikan sehingga mungkin
berlawanan dengan kemauan orang lain. Bila kemauan itu ditentang, mereka akan
memaksa agar kemaunnya dipenuhi. Ini merupakan suatu bentuk awal dari
pencarian aku yang dapat menjadi maslah bagi lingkungnnya. Gejala lain yang
menguatkan dugaan bahwa remaja ingin mencari dirinya adalah perilakunya yang
cenderung untuk melepaskan diri dari ikatan orang tuanya. Remja akan lebih suka
melakukan kegiatan pribadi atau berkumpul dengan teman-temannya di luar
dibandingkan bersama orang tuanya.
Berdasarkan penelitian Pelayanan kesehatan peduli Remaja (PKPR) DinKes
(2006), kesulitan dan problematika yang dihadapi remaja sangat kompleks.
Kebutuhan remaja di desa dengan di kota sangat berbeda. Bagi seorang remaja di
desa, bil telah kelihatan besar dan mampu, dia akan dikawinkan oleh orang tuanya
atau akan bekerja membantu orang tuanya sampai mereka bisa mandiri dan
berumah tangga sendiri sehingga praktis keinginannya tak banyal, serta beberapa
kebutuhannya telah dapat terpenuhi. Tetapi para remaja yang hidup di kota,
kehidupan mereka semakin kompleks. Demikian pula latar belakang sosial budaya
yang berbeda-beda pula. Ternyata prioritas-prioritas kebutuhan atau problematika
masing-masing individu berbeda-beda. Tetapi bila diambil secara rata-rata, maka
pada umumnya hampir sama.
Problematika yang dihadapi remaja tidak perlu heran jika remaja mengalami
banyak konflik yang akhirnya menimbulkan reaksi menarik diri atau melarikan
diri ke hal-hal yang negatif. Hal tersebut perlu dihayati bersama dan sebaikbaiknya sehingga mereka semua dapat melewati masa remaja yang pebuh
problematika dengan baik pula.
Manusia tidak dapat dipisahkan dari lingkungan sosial, karena sejak dahulu
manusia sudah menaruh minat yang besar pada tingkah lakunya dalam
bersosialisasi dengan masyarakat.manusia banyak meluangkan waktu dalam
kebersamaannya dengan orang lain baik dirumah, di tempat kerja atau di tempat
kerja atau di tempat lain dalam lingkungan sosialnya. Sulit dibayangkan ada orang

yang mampu hidup tanpa bantuan dan tidak berhubungan dengan orang-orang
disekitarnya. Oleh karena itu, pada masa remaja, ia dituntut harus berhubungan
dengan orang lain, termasuk dengan lawan jenis maupun orang dewasa di luar
lingkungan keluarga dan sekolah (Hurlock, 1980, h209).
Masa remaja diibaratkan sebagai strom and stress, yang diwarnai dengan
disequilibrium yaitu ketidakseimbangan sikap dan emosu remaja mudah berubah,
bergejolak, dan tidak menentu (Utaminingsih, 2002, h.20). ketidakseimbangan
tersebut biasanya terjadi pada remaja. Hal yang paling menonjol yaitu sikap
sosial. Remaja kan lebih cenderung terpengaruh oleh teman-teman sebayanya
dalam menentukan sikap, terutama sikap dalam berpakaian. Mereka akan
cenderung mengikuti gaya berpakaian teman-temannya, dengan tujuan mereka
dapat menemukan jati dirinya. Oleh karena itu, berbagai gaya mereka coba untuk
menunnjukkan dirinya (MC Candless dalam Mappieare, 1982, h.80)
Selain perubahan yang terjadi dalam diri remaja, terdapat pula perubahan
dalam lingkungan seperti sikap orang tua atau anggota keluarga lain, guru, teman
sebaya, maupun masyarakat pada umumnya. Kondisi ini merupakan reaksi
terhadap pertumbuhan remaja. Remaja dituntut untuk mampu menampilkan
tingkah laku yang dianggap pantas atau sesuai bagi orang-orang seusianya.
Adanya perubahan baik di dalam maupun di luar dirinya itu membuat kebutuhan
remaja

semakin

meningkat

terutama

kebutuhan

sosial

dan

kebutuhan

psikologisnya. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut remaja memperluas


lingkungan sosialnya di luar lingkungan keluarga, seperti lingkungan teman
sebaya dan lingkungan masyarakat lain.
Segala perubahan yang dialami oleh remaja baik secara fisik maupun psikis,
membuat mereka lebih senang berada dekat dengan teman-teman seusianya dan
cenderung menjauh dari orang tua mereka, sehingga terkadang mereka bertindak
sesuai dengan apa yang mereka inginkan berdasarkan lingkungan pergaukan
mereka. Tentu saja hal tersebut dapat menimbulkan kecemasan orang tua mereka.
Orang tua yang memiliki anak usia remaja tentu akan sering merasa cemas,
karena mereka takut dan khawatir bila anak mereka mengalami hal-hal yang

buruk ketika berada diluar jangkuannya. Karena itu tidak sedikit orang tua yang
memberikan perlindungan ekstra dalam menjaga anak-anak mereka (David
Elkind, 1976).
Kecemasan orang tua terhadap pergaulan remaja bukan hanya timbul dengan
sendirinya, melainkan juga dipicu oleh beberapa faktor yang ada pada orang ua itu
sendiri maupun lingkungan masyarakat.
Faktor-faktor yang dapat menimbulkan kecemasan orang tua (Stuart, 1998)
diantaranya adalah:
1. Banyaknya menonton liputan kriminalitas yang sering ditaryangkan di
televisi. Orang tua yang sering menonton liputan kriminalitas, akan cepat
merasa khawatir dan cemas akan keselamatan anggota keluarganya terutama
anak-anak mereka.
2. Kepribadian orang tua yang pencemas. Orang tua yang mengasuh dengan
pola asuh yang berlebihan ketika mereka masih kecil, maka mereka akan
tubuhn menjadi orang yang mudah merasa cemas begitu juga ketika mereka
sudah menjadi orang tua. Sehinnga ia akan menerapkan hal yang sama
kepada anak-anak mereka akan khawatir bil anakn mereka tidak dilindungi
dengan perlindungan yang ekstra anak mereka akan terancam
keselamatannya.
Dari proses perkembangan remaja yang begitu rawan dan penuh risisko,
peneliti tertarik untuk meneliti tentang gambaran kecemasan orang tua terhadap
pergaulan remaja. Fenomena ini menarik untuk diteliti mengingat maraknya
liputan kriminalitas yang tersaji di setiap televisi dan terjadi dalam kehidupan
remaja masa kini, sehingga bisa menimbulkan kecemasan pada orang tua akan
keselamatan putera-puterinya.
Pada usia antara 15-18 tahun dalam kategori remaja dan mulai mengalami
perubhan fisik yang mencolok (Monks, dkk., 2004, h268). Dengan adanya
perkembangan fisik yang mencolok, merka diharapkan dapat memenuhi tanggung
jawab orang dewasa, tetapi sering mengalami kegagalan. Hal ini akan
menyebabkan frustasi dan konflik batin pada remaja bila tidak ada pengertian dari

orang dewasa sekitarnya. Hal ini merupakan salah satu sebab mengapa para
remaja lebih dekat dengan teman-teman sebaya dari pada dekat dengan orang
dewasa.
Pada usia ini terjadi dua macam gerak, yaitu memisahkan diri dari orang tua
dan menuju ke arah teman-temannya. Pada masa tersebut, mereka sedang
berusaha untuk mencari jati dirinya atau identitasnya. Mereka sangat mudah
terpengaruh oleh lingkungan mereka. Usaha pelepasan diri dari orang tua ini
dimaksudkan untuk menemukan dirinya. Hal ini sering disebut dengan mencari
identitas ego. Dua macam gerak ini tidak merupakan dua hal yang berurutan
meskipun gerakan yang satu dapat terkait dengan gerakan lainnya (Monks, dkk.,
2004, h. 269).
Orang tua yang menyekolahkan anaknya mempunyai harapan agar kelak
mereka mendapatkan bekal ilmu untuk hidup mandiri pada dewasa kelak. Dengan
adanya pergaulan yang semakin modern dengan maraknya
Sulitnya memperoleh contoh. Membina anak berkualitas. Keluarga adalah unit
terkecil dari masyarakat. Maka jika keluarga itu baik. Keluarga yang baik akan
menghasilkan negara yang baik.