You are on page 1of 6

umat, 1 September 2006 15:22:03 WIB

AL-QURAN MUHKAM DAN MUTASYABIH


Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Bagian Pertama dari Dua Tulisan 1/2

Dilihat dari sisi pandang, muhkam dan mutasyabih, Al-Quran terbagi dalam tiga bentuk.
Pertama : MUHKAM
Umumnnya merupakan ciri Al-Quran secara keseluruhan, sebagaimana firman Allah
Subhanahu wa Taala.
Artinya : Alif Laam Raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi
serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana
lagi Maha Tahu [Huud : 1]
Allah Subhanahu wa Taala berfirman.
Artinya : Alif Laam Raa. Inilah ayat-ayat Al-Quran yang mengandung hikmah
[Yunus : 1]
Allah Subhanahu wa Taala berfirman.
Artinya : Dan sesungguhnya Al-Quran itu dalam induk Al-Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi
Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah [AzZukhruf : 4]
Artinya adalah indah dalam bentuk dan susunan kata serta maknanya. Al-Quran berada
di puncak nilai kefasihan dan sastra ; berita-beritanya secara keseluruhan adalah benar
dan bermanfaat, tidak ada dusta, kontradiksi dan main-main yang tidak ada manfaatnya,
hukum-hukumnya secara keseluruhan adalah adil, tidak ada kedzaliman, kontradiksi atau
kesalahan.
Kedua : MUTASYABIH
Umumnya juga merupakan ciri Al-Quran secara keseluruhan, sebagaimana firman Allah
Subhanahu wa Taala.
Artinya : Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur an yang
serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang gemetar karenanya kulit orang-orang
yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu
mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang

dikehendakiNya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun
pemberi petunjuk baginya [Az-Zumar : 23]
Artinya sebagian isi Al-Quran memiliki keserupaan dengan sebagian yang lain dalam hal
keindahan, kesempurnaan dan tujuan-tujuan yang mulia, Allah Subhanahu wa Taala
berfirman.
Artinya : Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran ? Kalau kiranya AlQuran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak
didalamnya [An-Nisa : 82]
Ketiga : MUHKAM yang khusus pada sebagian ayat-ayat Al-Quran dan MUTASYABIH
juga khusus pada sebagian yang lain, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Taala.
Artinya : Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata : Kami beriman kepada
ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami [Ali-Imran : 7]
Arti muhkam disini adalah, bahwa makna ayat jelas dan terang ; tidak tersamar sama
sekali, seperti firman Allah Subhanahu wa Taala.
Artinya : Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki
dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku
supaya kamu saling kenal mengenal [Al-Hujuraat : 13]
Allah Subhanahu wa Taala berfirman
Artinya : Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orangorang yang sebelummu, agar kamu bertakwa [Al-Baqarah : 21]
Allah Subhanahu wa Taala berfirman.
Artinya : Padahal Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba [AlBaqarah : 275]
Allah Subhanahu wa Taala berfirman.
Artinya : Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan)
yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik [Al-Maidah : 3]
Sedangkan arti Mutasyabih di sini adalah makna ayat yang tersamar sehingga orang
menjadi ragu dalam memahami sesuatu yang tidak sesuai bagi Allah Subhanahu wa
Taala, KitabNya atau RasulNya, sedangkan orang yang mendalam ilmunya tidak
demikian.
Contoh yang berkaitan dengan Dzat Allah Subhanahu wa Taala. Seorang yang ragu
memahami ayat.

Artinya : (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka [Al-Maidah : 64]
Bahwasanya Allah Subhanahu wa Taala memiliki dua tangan yang serupa dengan kedua
tangan makhluk.
Contoh yang berkaitan dengan Kitab Allah Subhanahu wa Taala. Seorang yang ragu
memahami bahwa Al-Quran bersifat kontradiktif dimana sebagiannya mendustakan
sebagian yang lain, Allah Subhanahu wa Taala berfirman.
Artinya : Apa saja nimat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana
yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi
Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi [An-Nisa : 79]
Pada tempat yang lain Allah Subhanahu wa Taala befirman.
Artinya : Dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan : Ini adalah dari
sisi Allah, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencan mereka mengatakan : Ini
(datangnya) dari sisi kamu (Muhammad). Katakanlah : Semuanya (datang) dari sisi
Allah [An-Nisaa : 78]
Contoh yang berkaitan dengan Rasulullah, Seorang yang ragu memahami firman Allah
Subhanahu wa Taala.
Artinya : Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang
Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab
sebelum kamu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu
janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu [Yunus : 94]
Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam ragu terhadap apa yang diturunkan
kepada beliau.
SIKAP ORANG-ORANG YANG DALAM ILMUNYA, DAN SIKAP ORANG-ORANG
YANG CONDONG KEPADA KESESATAN PADA AYAT-AYAT MUTASYABIH
Sikap orang-orang yang dalam ilmunya dan sikap orang-orang yang condong kepada
kesesatan pada ayat-ayat Mutasyabih dijelaskan dalam firman Allah Subhanahu wa
Taala.
Artinya : Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka
mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan
untuk mencari-cari tawilnya, padahal tidak ada yang mengetahui tawilnya melainkan
Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata : Kami beriman kepada ayatayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami. Dan tidak dapat mengambil
pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal [Ali-Imran : 7]

Orang-orang yang condong kepada kesesatan menjadikan ayat-ayat mutasyabih sebagai


sarana untuk menghujat Al-Quran, menebarkan fitnah dikalangan manusia dan
mentakwilkannya dengan yang tidak dikehendaki Allah Subhanahu wa Taala, sehingga
menjadi sesat dan menyesatkan.
Sedangkan orang-orang yang dalam ilmunya meyakini, bahwa apa saja yang terdapat
pada Kitab Allah Subhanahu wa Taala adalah benar, tidak ada kontradiksi dan perbedaan
karena datangnya dari sisi Allah Subhanahu wa Taala.
Artinya : Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran ? Kalau kiranya AlQuran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak
didalamnya [An-Nisaa : 82]
Ayat-ayat yang Mutasyabih dikembalikan menjadi Muhkam sehingga keseluruhan AlQuran menjadi Muhkam.
Pada contoh pertama mereka katakan : Bahwasanya Allah Subhanahu wa Taala memiliki
dua tangan hakiki yang sesuai dengan kemuliaan dan keagunganNya, tidak menyerupai
tangan makhluk, sebagaimana Allah Subhanahu wa Taala memiliki Dzat yang tidak
menyerupai dzat para makhluk, karena Allah Subhanahu wa Taala berfirman.
Artinya : Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha
Mendengar lagi Maha Melihat [Asy-Syuura : 11]
Pada contoh kedua mereka katakan : Bahwasanya nikmat dan bencana semuanya terjadi
sesuai dengan ketentuan dan takdir Allah Subhanahu wa Taala, akan tetapi kenikmatan
sebabnya adalah karunia Allah Subhanahu wa Taala kepada para hambaNya, sedangkan
bencana penyebabnya adalah perbuatan hamba sebagaimana firman Allah Subhanahu wa
Taala.
Artinya : Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh
perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahankesalahanmu) [Asy-Syuura : 30]
Penyandaran bencana kepada hamba adalah penyandaran sesuatu kepada penyebabnya,
bukan penyandaran kepada penentunya. Sedangkan penyandaran nikmat dan bencana
kepada Allah Subhanahu wa Taala adalah penyandaran sesuatu kepada penentunya.
Dengan demikian hilanglah keraguan akan adanya perbedaan antara kedua ayat.
Pada contoh yang ketiga mereka katakan : Bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi wa
sallam tidak pernah ragu terhadap apa yang diturunkan kepada beliau, bahkan beliau
adalah orang yang paling tahu tentang wahyu dibandingkan manusia lainnya dan paling
kuat keyakinannya sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Taala dalam surat yang
sama.
Artinya : Katakanlah : Hai manusia, jika kamu masih dalam keragu-raguan tentang

agamaku, maka (ketahuilah) aku tidak menyembah yang kamu sembah selain Allah
[Yunus : 104]
Artinya : Jika kalian merasa ragu terhadap wahyu itu, maka ketahuilah bahwa aku sangat
yakin, oleh karena itu aku tidak beribadah kepada apa yang kalian ibadahi selain Allah
Subhanahu wa Taala, bahkan aku kafir kepadanya dan aku beribadah hanya kepada
Allah Subhanahu wa Taala.
Tidak mesti firman Allah Subhanahu wa Taala.
Artinya : Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang
Kami turunkan kepadamu [Yunus : 94]
Berarti Rasulullah ragu-ragu atau terjerumus dalam keragu-raguan. Lihat firman Allah
Subahanahu wa Taala.
Artinya : Katakanlah, jika benar Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak, maka
akulah (Muhammad) orang yang mula-mula memuliakan (anak itu) [Az-Zukhruf : 81]
Apakah dengan demikian Allah Subhanahu wa Taala boleh atau sudah punya anak ?
Sama sekali tidak !, hal ini tidak pernah terjadi dan tidak boleh bagi hak Allah Subhanahu
wa Taala. Allah Subhanahu wa Taala berfirman.
Artinya : Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai)
anak. Tidak ada seorangpun dilangit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan
Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba [Maryam : 92]
Dan tidak mesti dipahami dari firman Allah Subhanahu wa Taala.
Artinya : Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu
termasuk orang-orang yang ragu [Al-Baqarah : 147]
Bahwa keragu-raguan akan kebenaran terjadi pada Rasulullah Shallallahu alaihi wa
sallam, karena larangan dari sesuatu terkadang juga ditujukan kepada orang yang belum
pernah melakukannya. Lihat firman Allah Subhanahu wa Taala.
Artinya : Dan janganlah sekali-kali mereka dapat menghalang-halangimu dari
(menyampaikan) ayat-ayat Allah, sesudah ayat-ayat itu diturunkan kepadamu, dan
serulah mereka kepada (jalan) Tuhanmu, dan janganlah sekali-kali kamu termasuk orangorang yang mempersekutukan Tuhan [Al-Qashash : 87]
Jelas sekali, bahwa mereka tidak akan mungkin menghalangi Rasulullah Shallallahu
alaihi wa sallam dari ayat-ayat Allah Subhanahu wa Taala dan bahwasanya Rasulullah
Shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah menyekutukan Allah Subhanahu wa Taala.
Tujuan dari pengarahan larangan kepada orang yang tidak melakukannya adalah :
Sebagai tandingan bagi orang yang melakukannya dan peringatan dari manhaj mereka.

Dengan ini hilanglah kesalah pahaman dan persangkaan kepada Rasulullah Shallallahu
alaihi wa sallam dengan yang tidak layak baginya.
[Disalin dari kitab Ushuulun Fie At-Tafsir edisi Indonesia Belajar Mudah Ilmu Tafsir oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Penerbit Pustaka As-Sunnah, Penerjemah
Farid Qurusy]