You are on page 1of 29

Mar

12

KARYA TULIS ILMIAH UJI DAYA


HAMBAT EKSTRAK DAUN ALPUKAT
TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTER
E.COLI
ABSTRAK

Daun alpukat (Persea gratissima folium) potensial dijadikan sebagai antidiare


berdasarkan kandungan zat kimia yang terdapat di dalamnya. Daun alpukat
mengandung flavanoid, saponin dan tannin yang memiliki sifat antimikroba. Bakteri
Escherichia coli (E. coli) merupakan bakteri yang dapat menyebabkan infeksi ringan
maupun berat seperti diare. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui zona hambat
daun alpukat (Persea gratissima folium) terhadap pertumbuhan bakteri E. coli.
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Akademi Farmasi pada
bulan Agustus 2012 dengan metode deskriptif melalui uji laboratorium. Uji zona hambat
terhadap pertumbuhan bakteri E. coli dilakukan pada media Muller Hilton Agar (MHA),
dengan metode disk difusi. Sampel yang digunakan yaitu daun alpukat yang dijadikan
ekstrak melalui proses maserasi. Antibiotik kotrimoksazol sebagai kontrol positif dan
aquadest steril sebagai kontrol negatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa diameter rata-rata zona hambat dari
ekstrak daun alpukat sebesar 24,6 mm, Antibiotik Kotrimoksazol 35 mm dan Aquadest
steril tidak menghambat. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun
alpukat dapat menghambat pertumbuhan bakteri E. coli.

Kepustakaan
Tahun

: 12 Buku
: 1986-2010
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sejak zaman dahulu, manusia menggunakan tumbuhan dan bahan alam


sebagai obat mengurangi rasa nyeri, menyembuhkan, dan mencegah penyakit,
mempercantik diri serta menjaga kondisi badan agar tetap sehat dan bugar (Winarto,
2004 : 5). Pengobatan-pengobatan tradisional (herbal) banyak menjadi pilihan
masyarakat pada saat ini, seperti di desa Blang krueng ( Pidie ) menggunakan daun
alpukat untuk langkah pertama pengobatan diare.
Daun alpukat (Persea gratissima folium ) potensial dijadikan sebagai anti diare
berdasar kan kandungan zat kimia yang terdapat di dalamnya. Daun alpukat memilki
senyawa antimikroba seperti saponin, alkaloid, tanin, flavanoid, polifenol, quersetin
yang digunakan untuk membunuh bakteri patogen, seperti Staphylococcus aureus,
pseudomonas flurescens, Bacillus cereus dan, Escherichia coli (Lukas Tersono Hadi
2008 : 43).
Bagian-bagian lain dari tanaman alpukat yang berkhasiat untuk menyembuhkan
penyakit yaitu biji dan buah. Buah dan biji alpukat kaya akan mineral yang seluruhnya
berguna untuk mengatur fungsi tubuh dan menstimulasi pertumbuhannya. Sebagai
contoh, zat besi dan tembaga yang dikandungnya membantu proses regenerasi sel
darah merah dan mencegah anemia. Buah dan biji alpukat juga merupakan sumber
vitamin A, B, C, dan E yang berperan vital mengatur fungsi-fungsi organ tubuh
Berdasarkan buku dari Lukas Tersono Hadi daun alpukat memiliki khasiat
diuretik, kencing batu, hipertensi, sakit kepala. Daun alpukat yang dibuat menjadi teh
dapat menyembuhkan nyeri saraf, nyeri lambung dan selain itu dapat menghambat
pertumbuhan bakteri seperti Staphylococcus sp, Bacillus sp dan Escherichia coli .

Menurut Ognulans dan E. Ramstad daun alpukat mempunyai aktivitas bakteri


dan menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus, psedoumonas, Escherichiacoli.
Berdasarkan hasil penelitian Fauzia ekstrak air dari daun alpukat memilki efek
antibakteri yang dapat menghambat aktivitas dan pertumbuhan streptococcus mutan
yang di isolasi dari saliva.
Diare adalah buang air besar dengan frekuensi yang tidak normal (meningkat)
dengan konsistensi feses lembek atau cair, selain itu diare juga dapat disebabkan oleh
infeksi

saluran pencernaan yang disebabkan oleh bakteri

Escherichia

coli

(Suhargono, 1999: 1)
Pertumbuhan bakteri dapat dihambat dengan menggunakan antibiotik. Dalam
menghambat pertumbuhan bakteri Eschirichia coli dapat digunakan antibiotik seperti:
sulfonamida, ampisilin, kloramfenikol, tetrasiklin, aminoglikosida yang mempunyai
khasiat antibakteri yang jelas terhadap golongan koliform. (Tjay dan rahardja, 2002 :
67).
Berdasarkan uraian khasiat daun alpukat untuk berbagai pengobatan terutama
mengobati penyakit diare yang disebabkan oleh bakteri Escherichia coli, penulis
merasa tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Uji Zona Hambat Ekstrak
Daun Alpukat (Persea gartissima folium ) Terhadap Pertumbuhan Escherichia
coli.
B. Perumusan Masalah.
Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah ekstrak daun alpukat
(Persea gratissima folium) mempunyai zona hambat terhadap pertumbuhan Eschericia
coli

C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui zona hambat ekstrak daun alpukat
(Persea gratissima folium) terhadap pertumbuhan Eschericia coli.
D. Manfaat Penelitian
1.

Menambahkan

wawasan

penulis

tentang

obat

tradisional

dan

mikrobiologi.
2. Sebagai bahan referensi perpustakaan Akademi Farmasi Banda Aceh.

pengetahuan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tanaman Alpukat (Persea gratissima Gaerht)


1. Pengertian
Tanaman alpukat tumbuh kokoh, tinggi, dan cukup rindang. Dihabitat alam tropis,
tanaman alpukat cocok ditanam di lahan-lahan kering untuk memperbaiki lingkungan
sekaligus mencegah erosi. Bagian yang paling penting adalah buahnya dan juga daun
dapat mengobati berbagai macam penyakit..
Daerah pusat penyebaran tanaman alpukat di antaranya adalah florida,
California, Hawai, Australia, Argertina dan beberapa daerah Afrika Selatan. Tanaman
alpukat masuk kewilayah Indonesia diduga pada zaman kerajaan Hindu dan ketika
Islam masuk ke Indonesia. Orang Portugis dan Spanyol, yang datang ke Indonesia
untuk berdagang pada saat itu, dianggap berjasa dalam memperkenalkan aneka jenis
tanaman. Dalam perkembangan selanjutnya,orang-orang belanda pada zaman
pendudukan nya di wilayah nusantara berhasil mengembangkan budidaya jenis-jenis
tanaman termasuk alpukat. Daerah sentra produksi alpukat adalah provinsi Jawa Barat,
Jawa Timur, Sulawesi selatan, NTT, Sumatra Utara, Sumatera Barat, Aceh dan Jawa
Tengah.
2. Toksonomi Tanaman
Berdasarkan penggolongan

dan tata nama tumbuhan, tanaman alpukat

termasuk kedalam klasifikasi sebagai berikut :


Kingdom
: Plantae
Divisi
: Spermatophyte
Subvisi
: Angiospermae
Kelas
: Dicotyledonae
Ordo
: Laurales
Famili
: Lauraceae
Genus
: Persea

Spesies

: Persea Gratissima Gaerth

Gambar 2. 1 (www. Blogspot.com/image/pohon_alpukat. jpg )


3. Morfologi Tanaman
Tanaman alpukat berbentuk pohon berkayu yang tumbuh menahun (perennial).
Ketinggian pohonnya antara 3-10 meter, batangnya berlekuk - lekuk dan bercabang
banyak, serta berdaun rimbun. Daunnya tumbuh tuggal bentuk nya ada yang bulat telur
atau bulat panjang dengan tepi rata atau berombak, dengan panjang 10 - 20 cm, lebar
3 cm, dan panjang tangkai 1,5 5 cm, letak daunnya agak tegak, dan permukaannya
licin sampai agak kasar, daun mudanya berwarna kemerahan dan berambut rapat,
daun tua warnanya hijau dan gundul.
Bunga tersusun dalam tandan yang tumbuh dari ujung-ujung ranting. Struktur
bunga berkelamin dua (hermaphrodite) dan bunga berbentuk malai, tumbuh dekat
ujung ranting dengan jumlah banyak, garis tengah 1 - 1,5 cm, warna putih kekuningan,
berbulu halus. Buah berbentuk bola lampu sampai berbentuk bulat telur dengan
panjang 5 - 20 cm dan lebar 5 - 10 cm tanpa sisa bunga. Warna buah hijau atau kuning
kehijauan dan berbintik - bintik ungu atau ungu semuanya. Biji tunggal, berbentuk bola,
garis tengah 2,5 - 5cm (Rahmat Rukmana 1997 : 17).
4. Kandungan Kimia
Kandungan utama daun alpukat meliputi flavanoid, alkaloid, saponin, tanin,
polifenol, quersetin (Ir. Lukas Tersono Adi, 2008)

Tanin mempunyai aktivitas mikroba terhadap bakteri E.coli, Streptococcus


faecalis dan Staphylococcus aureus. Tanin dalam konsentrasi rendah mampu
menghambat pertumbuhan bakteri, sedangkan pada konsentrasi tinggi tanin bekerja
sebagai anti bakteri dengan mengkoagulasikan protoplasma bakteri karena terbentuk
ikat yang stabil dengan protein bakteri.
Flavanoid adalah senyawa fenol yang mempunyai kecenderungan untuk
mengikat protein bakteri sehingga menghambat aktivitas enzim, yang pada akhirnya
mengganggu proses metabolism bakteri, sedangkan saponin merupakan senyawa yang
dapat meningkatkan permeabilitas membran sehingga mengakibatkan terjadinya
hermolisis sel bakteri (Lukas Tersono Hadi 2008 : 45).
5. Nama Lain Tanaman Alpukat
Tanaman alpukat menpunyai nama lain selain Persea gratissima Gaerth, yaitu
Persea americana. Alpukat juga mempunyai nama asing seperti advocaat (Belanda),
avocado (Inggris), aguacate (Spanyol), dan beberapa nama daerah yang berbeda
antara lain : alpuket (Jawa Barat), alpokat (Jawa Timur dan Jawa Tengah), apokat dan
jambu wolanda (sebutan di lain-lain daerah), (Rahmat Rukmana,1997 : 18)
6. Manfaat dan Khasiat Daun Alpokat (Persea Gratissima folium)
Daun alpukat banyak mempunyai khasiat obat yang dapat di manfaatkan dalam
kehidupan

sehari

hari.

Daunnya

berkhasiat

menghambat

bakteri,

seperti

Staphylococcus aureus, pseudomonas flurescens, Bacillus cereus dan, Escherichia


coli. Daun alpukat dapat digunakan untuk menghentikan buang air besar yang
berlebihan. (Lukas Tersono Adi, 2008: 42)
B. Ekstrak

Ekstrak adalah sediaan yang dapat berupa kering, kental, dan cair. Dibuat
dengan menyari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang sesuai, kemudian
semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa
diperlakukan sedemikian rupa sehingga memenuhi syarat baku yang telah ditetapkan.
Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehingga
terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair. Simplisia yang diekstrak
mengandung senyawa aktif yang dapat larut dan senyawa yang tidak dapat larut seperti
serat, karbohidrat, protein, dan lain-lain.( Depkes RI 1979 : 9) Pembuatan ekstrak dapat
dilakukan dengan cara panas dan dingin. Metode ekstraksi di bagi dua yaitu :
a. Cara Dingin
1. Maserasi
Maserasi merupakan cara penyarian sederhana. Maserasi adalah penarikan zat
aktif dari simplisia dengan cara merendam simplisia tersebut dalam cairan penyari
dalam suhu biasa ataupun pemanasan.
Keuntungan cara penyari dengan maserasi adalah cara pengerjaan dan
peralatan yang digunalkan sederhana dan mudah diusahakan. Kerugiannya adalah
pengerjaannya lama dan penyariannya kurang sempurna. Berapa lama sebuah
simplisia harus dimaserasi, tergantung dari keadaannya, biasanya ditentukan pada
tiap pembuatan sediaan. Jika tidak ada ketentuaan lain, biasanya dari - 2 jam,
sedangkan menurut Farmakope Indonesia untuk ekstrak dan tingtur selama 5 hari
(Anonymous, 2010).
Maserasi dapat dilakukan modifikasinya misalnya:
a) Digesti
Digesti adalah cara maserasi dengan menggunakan pemanasan lemah, yaitu
pada suhu 40 - 50C. Cara maserasi ini hanya dilakukan untuk simplisia yang zat
aktifnya tahan terhadap pemanasan.

b) Maserasi Dengan Mesin Pengaduk


Penggunaan mesin pengaduk berputar terus menerus, waktu proses maserasi
dapat dipersingkat menjadi 6 24 jam.
c) Remaserasi
Cairan penyari di bagi dua, seluruh serbuk dimaserasi dengan cairan penyari
yang pertama, sesudah diendapkan kemudian dituangkan dan diperas, ampas
dimaserasi lagi dengan cairan penyari yang kedua.
d) Maserasi Melingkar
Maserasi dapat diperbaiki dengan mengusahakan agar cairan penyari selalu
bergerak dan menyebar. Dengan cara ini penyari selalu mengalir kembali secara
berkesinambungan melalui serbuk simplisia dan melarutkan zat aktifnya.
e) Maserasi Melingkar Bertingkat
Pada maserasi melingkar bertingkat penyarian tidak dapat dilakukan secara sempurna,
karena pemindahan masa akan berhenti bila keseimbangan telah terjadi. Masalah ini
dapat diatasi dengan maserasi melingkar bertingkat
2. Perkolasi
Perkolasi adalah cara penyarian yang dilakukan dengan mengalirkan cairan
penyari melalui serbuk simplia yang telah dibasahi. Perkolasi memakai alat yang
disebut perkolator. Prinsip perkolasi yaitu serbuk simplisia ditempatkan dalam suatu
bejana silinder yang bagian bawahnya diberi sekat berpori. Cairan penyari akan melarut
kan zat aktif sel-sel yang dilalui sampai mencapai keadaan jenuh. Cara perkolasi lebih
baik dibanding kan dengan cara maserasi karena :
a. Aliran cairan penyari menyebabkan adanya pergantian larutan yang terjadi dengan
larutan yang konsentrasi nya lebih rendah, sehingga meningkatkan derajat perbedaan
konsentrasi.

b. Ruangan antara butir-butir serbuk simplisia membentuk saluran tempat mengalir cairan
penyari. Karena kecil nya saluran kapiler tersebut, maka kecepatan pelarut cukup untuk
mengurangi lapisan batas, sehingga dapat menigkatkan perbedaan konsentrasi.
Hal-hal yang harus diperhatikan pada perkolasi antara lain :
1. Mempersiap kan simplisianya, derajat halus nya.
2. Melembabkan dengan cairan penyari.
3. Jenis perkolator yang dipergunakan dan mempersiapkan nya.
4. Cara memasukkannya ke perkolator dan lama nya perkolasi dalam perkolator.
5. Pengaturan penetapan cairan keluar dalam jangka waktu yang ditetapkan (Anonymous,
2010: 22).
b. Cara Panas
1. Infundasi
Infundasi adalah proses penyarian yang umumnya digunakan untuk menyari zat
aktif yang larut dalam air dari bahan-bahan nabati.
2. Soxhletasi
Soxhletasi adalah suatu cara atau proses penarikan zat aktif berkhasiat dari
simplisia tertentu yang tahan pemanasan dengan cairan penyari yang cocok
menggunakan alat yang disebut soxhlet.
3. Destilasi
Ada 3 macam destilasi ( penyulingan), yaitu:
a) Destilasi air (water distillation)
Destilasi ini digunakan untuk menyuling bahan yang berbentuk tepung dan bungabungaan yang mudah membentuk gumpalan jika kena panas
b) Destilasi uap ( steam distillation)
Pada destilasi ini, air sebagai sumber panas terdapat dalam boiler yang letaknya
terpisah dari katel penyuling. Uap yang dihasilkan mempunyai tekanan tinggi dari udara
luar.
c) Destilasi uap dan air (water dan steam distillation)
Pada destilasi ini, bahan diletakan di atas piring yang berupa ayakan yang terletak
beberapa sentimeter di atas permukaan air dalam penyulingan (Anonymous, 1995 : 9)
C. Bakteri Eschricia coli

1. Pengertian
Bakteri Eschericia coli merupakan bakteri Gram negatif berbentuk batang yang
merupakn flora normal yang terdapat didalam usus.
Bakteri menjadi bersifat patogen hanya bila bakteri ini berada atau dilokasi lain
dimana flora normal jarang terdapat. Tempat yang paling sering terkena infeksi yang
penting secara klinis adalah saluran empedu, saluran kemih, dan tempat-tempat lain
dirongga perut
2.

Klasifikasi
Kingdom

Prokariotae

Divisi

Gracilicutes

Kelas
Ordo

: Scotobacteria
:

Famili

Genus
Spesies

Eubacteriales
Enterobactericeae

Eschericia

: Eschericia coli

Gambar 2. 2 bakteri Escherichia coli


( www.ecoliblog.com/uploads/image/e.coli.jpg)

3. Ciri-ciri

a) Merupakan bakteri Gram negatife berbentuk batang lurus dengan ukuran 1,1-1,5 m
2,0 6,0 m
b) Tumbuh dengan baik pada media Mac-Conkey Agar dan tumbuh baik pada suhu 8 oC
sampai 46oC.
c) Tumbuh dengan baik pada peptoon atau dalam media kaldu daging tanpa tambahan
natrium klorida atau suplemen lain.
d) Tumbuh secara aerobic dan anaerobik (merupakan fakultatif anaerobik).
e) Lebih sering memfermentasikan dari pada mengoksidasi glokusa, terkadang dengan
memproduksikan gas
f) Menunjukkan katalase positif, oksidase negatif dan mereduksi nitrat menjadi nitrit.
( jawet, dkk.1986 :375-376).
a)

4. Morfologi dan Identifikasi


Pembiakan
Koloni yang berwarna merah pada media mac conkey agar menunjukkan bahwa

b)

hasilnya memfermentasikan laktosa dan bersifat non pathogen didalam intestin.


Tes biokimia
Indol positif : tampak warna merah muda jika Escherichia coli dibiakan di dalam
air pepton dimana ditambahkan reagen rosindole ehrlic.
Metil merah : Dari biakan murni nutrient agar miring, di inokulasikan
1 singkelit biakan ke dalam media methyl red-voges proskauer , kemudian di inkubasi
pada suhu 37 0 C selama 48 jam. Dengan menggunakan pipet, 5ml biakan dipindahkan
ke dalam tabung reaksi, ditambahkan 5 tetes merah metal, dan dikocok sampai
homogen. Warna kuning menunjukkan reaksi negative dan warna merah menunjukkan
hasil positif.
Voges proskauer : Dari biakan murni nutrient agar miring, diinokulasikan 1
singkelit biakan ke dalam media methyl red-voges proskauer, kemudian diinkubasi pada
suhu 370 C selama 48 jam. Dengan menggunakan pipet, 1 ml biakan di pindahkan ke
dalam tabung reaksi, ditambahkan -naftol dan 0,2 ml larutan kalium hidroksida,
kemudian dikocok sampai homogeny dan didiamkan selama 2-4 jam.Warna merah

muda hingga merah tua menunjukkan reaksi positif, sedangkan warna tidak berubah
menunjukkan reaksi negative.
Uji sitrat : Dari biakan murni nutrient agar miring, diinokulasikan 1 singkelit biakan
ke dalam media simmons citrate, kemudian diinkubasi pada suhu 37 0 C selama 48-96
jam. Warna biru menunjukkan reaksi positif, sedangkan warna hijau menunjukkan
reaksi negatif.(Maksum Radji,M.Biomed 2009: 279)
5. Penyakit - penyakit yang ditimbulkan oleh Bakteri Eschericia coli
a) Infeksi saluran kemih
Escherichia coli merupakan penyebab paling banyak infeksi saluran kemih.
Pertama kurang lebih 90% pada wanita muda. Gejala dan tanda-tanda meliputi
frekuensi kencing, dysuria (susah buang air kecil), hematuria (ada darah dalam urine),
pyuria infeksi system saluran bagian atas, tidak satu gejala atau tanda spesifik untuk
infeksi Escherichia coli.

b) Sepsis
Ketika host dalam keadaan normal, Escherichia coli dapat mencapai aliran
darah dan mencapai sepsis. Bayi yang baru lahir rentan sekali terhadap sepsis
Escherichia coli karena mereka kekurangan antibody. Sepsis dapat terjadi setelah
infeksi sistem urine tract

c) Meningitis
Eschericia coli dan streptococcus grup B merupakan penyebab utama radang
pada bayi, kira-kira 75% Eschericia coli penyebab peradangan mempunyai antigen K1.
Antigen bereaksi dengan grup B kapsular polisakarida dan meningitides
d) Penyakit diare
1. Enteropatogen Escherichia coli (EPEC) merupakan penyebab penting diare pada bayi
khusus nya di negara berkembang.

2. Enteroxigenix

Eschrichia coli (ETEC) merupakan penyebab umum diare pada

wisatawan merupakan diare yang sangat penting pada bayi di negara berkembang.
3. Enterohemoragic Escherichia coli(EHEC) menghasilkan verotoksin, dinamakan sesuai
efek sitoksinnya pada sel vero, merupakan biakan sel ginjal dari monyet hijau di Afrika.
4. Enteroinvasif Escherichia coli (EIEC) menimbulkan penyakit yang sangat mirip dengan
sigellosis. Penyakit yang terjadi umumnya pada anak-anak dinegara berkembang dan
dalam perjalanan ke negara tersebut.
5. Enteroagegatif Escherichia coli (EAEC) penyebab diare akut dan kronik (dalam jangka
waktu > 14 hari ) pada masyarakat dinegara berkembang.
(Maksum Radji, M.Biomeb 2009:127-128)
D. Antibiotik
1. Pengertian Antibiotik
Antibiotik adalah zat-zat kimia yang dihasil kan oleh suatu mikroorganisme, yang
memiliki khasiat mematikan atau menghambat pertumbuhan kuman, sedangkan
toksisitas nya bagi manusia relatif kecil..(Tjay dan Raharja, 2002:63).
2. Penggolongan Antibiotik
a) Golongan Penisilin
: Ampisilin, Amoxicilin
b) Golongan Sefalosporin
: Cefadroxil
c) Golongan Lincosamides
: Clindamicyn
d) Golongan Tetracyclin
: Tertacycllin
e) Golongan Makrolida
: Erythromycin
f) Golongan Quinolon
: Nalixicid acid
g) Antibiotik Kombinasi
: Cotrimoxazole
h) Golongan Kloramfenikol
: Kloramfenikol
3. Cara Kerja Antibiotik Terhadap Mikroorganisme
Mengetahui bagaimana sistem kerja antibiotika terhadap bakteri dengan tepat
adalah sangat penting, keterangan tersebut dapat dimamfaatkan untuk menduga
keadaan terbaik bagi zat penggunaan antibiotik tersebut serta terhadap jenis
mikroorganisme, zat antibiotik tersebut dapat bekerja paling efektif. Adapun cara kerja
antibiotik terhadap bakteri adalah :
a)
Merusak dinding sel
b)
Merubah permeabilitas
c)
Merubah molekul protein dan asam nukleat

d)
e)

Menghambat kerja enzim


Menghambat sintesis asam nukleat dan protein

4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Aktifitas Antibiotik In vitro


Diantara beberapa factor yang mempengaruhi aktifitas antibiotik in vitro, yang
berikut ini harus dipertimbangkan karena mempengaruhi hasil uji :
a)
pH lingkungan
b)
Komponen media
c)
Stabilitas obat (antibiotik)
d)
Ukuran inokulum
e)
Waktu inkubasi (Jawetz dkk, 1986 : 234)
Kotrimoksazol
Kotrimoksazol adalah suatu kombinasi dari sulfametoksazol dan trimetropin
dalam perbandingan 5 : 1 ( 400 + 80 mg) bersifat bakterisid dengan spektrum kerja
luas. Lagi pula lebih jarang menimbulkan resistensi, sehingga lebih banyank digunakan
untuk berbagai macam penyakit infeksi antara lain pada infeksi saluran kemih, saluran
cerna , alat kelamin, dan pernapasan.
Efek sampingnya tidak sering terjadi dan biasanya berupa gangguan kulit
( exanthema) dan gangguan lambung ( Tjay dan Raharja , 2002 : 135)
E. Zona Hambat
Pengukaran zona hambat digunakan untuk menentukan kepekaan bakteri
patogen terhadap antibiotik dan dapat dilakukan dengan salah satu metode yaitu :
metode dilusi dan metode difusi agar. Metode difusi adalah metode yang paling sering
digunakan dan dipakai dalam penelitian ini. Cakram kertas saring berisi sejumlah
tertentu antibiotik ditempatkan pada permukaan media padat yang sebelumnya
diinokulasi bakteri uji pada permukaannya, selama inkubasi setiap antibiotik berdifusi
keluar dari cakram semua arah. Zat yang berat molekulnya tinggi sesudah inkubasi
selama 16 18 jam pada suhu 37C, akan terlihat zona hambatan ( zones of inhibition)

disekeliling cakram di daerah tersebut yang merupakan penghambatan pertumbuhan


organisme daerah tersebut.
zona hambatan menunjukkan derajat kepekaan kuman tersebut terhadap
antibiotik- antibiotik yang bersangkutan. Standar untuk media telah di tetapkan dan
jumlah organisme yang digunakan untuk pengujian adalah sesuai dengan Mac. Farland
Standar yaitu sebesar 1,5 108 CFU/ ml.
Metode ini dipengaruhi oleh beberapa faktor fisik dan kimia ( misalnya sifat
medium dan kemampuan difusi, ukuran molekuler dan stabilitas obat). Meskipun
demikian standarisasi faktor faktor tersebut memungkinkan melakukan uji kepekaan
dengan baik.
Pengujian zona hambatan untuk mengetahui kepekaan atas indikasi sebagai
berikut :
a) Apabila mikroorganisme yang ditemukan adalah tipe yang sering resisten terhadap
antimikroba ( bakteri enterik Gram negatif seperti Escherichia coli).
b) Jika proses infeksi kemungkinan menjadi fatal jika tidak diobati dengan tepat
( meningitis, septisema)
c) Infeksi tertentu dimana pembasmian organism membutuhkan obat, yang bersifat
bakterisidal secara tepat, tidak hanya bakteriostatik.
( Jawetz dkk,1986 :239).
F. Uji Zona Hambat
1. Biakan bakteri
Media adalah suatu bahan yang berisi zat-zat makanan yang dipergunakan
untuk menumbuhkan mikroorganisme. Faktor-faktor yang mempengaruhi bakteri dalam
biakan adalah unsur makanan yang sesuai, oksigen, pH, suhu yang sesuai, dan juga
harus dijaga jangan sampai terkontaminasi ( Jawetz dkk, 1986: 100)

2. Metode Difusi

Media yang dipakai adalah Muller Hilton Agar. pada metode difusi ini ada
beberapa cara yaitu:
Cara Kirby Bauer
a) Suspensi bakteri di ambil dari biakan murni yang telah diremajakan selama 24 jam pada
medium pembenihan.
b) Koloni bakteri di ambil dengan jarum ose lalu dimasukkan dalam 1 ml larutan NaCl
0,9% atau dengan aquadest steril, hingga kekeruhan tertentu sesuai dengan standar
konsentrasi kuman.
c) Kapas lidi steril dicelupkan ke dalam suspensi kuman lalu ditekan tekan pada dinding
tabung hingga rata.
d) Kemudian meletakkan kertas samir (disk) yang mengandung antibiotik di atasnya,
diinkubasi pada 37C selama 12-24 jam.
Hasilnya di baca:
e) Zona radika merupakan suatu daerah di sekitar disk dimana sama sekali tidak
diketemukan adanya pertumbuhan bakteri.
f) Potensi antibiotik diukur dengan mengukur diameter dari zona radikal
g) Zona radikal merupakan suatu daerah di sekitar disk menunjukkan pertumbuhan bakteri
dihambat oleh antibiotik tersebut, tetapi tidak dibunuh. Sehingga akan terlihat adanya
pertumbuhan yang kurang subur atau lebih jarang, dibandingkan dengan daerah diluar
pengaruh antibiotik tersebut.
3. Metode dilusi
a. Metode dilusi cair, metode ini mengukur kadar hambat minimum dan kadar bunuh
minimum. Dilakukan dengan membuat seri pengenceran antimikroba pada medium cair
yang ditambahkan dengan mikroba uji.
b. Metode dilusi padat, serupa dengan metode dilusi cair namun menggunakan media
padat(solid) (Pratiwi dkk2008: 188-191)

4. Pengukuran Zona Hambat


Pengukuran zona hambat adalah penentuan dan pengukuran kepekaan suatu
bakteri terhadap suatu obat, dimana kadar konsentrasi terendah masih menunjuk kan
zona hambat. Untuk pengukuran zona hambatan suatu obat atau bahan percobaan
diukur dengan menggunakan mistar dalam mm, diukur dari garis tengah zona hambat
yang terjadi. Zona hambatan yang terjadi ditandai apabila disekutar obat atau bahan
percobaan menunjukan daerah jernih sebagai zona hambat. (Pelczar, Chan ,2006 :
353)

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu penelitian
1. Tempat penelitian
Penelitian ini di laksanakan di laboratorium farmakognosi dan Laboratorium
Mikrobiologi Akademi Farmasi Banda Aceh
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan pada tanggal 1-11 Agustus 2012

B. Metode penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif melalui uji
laboratorium dengan menggunakan metode difusi untuk melakukan pengujian zona
hambat ekstrak daun alpukat terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli
C. Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah daun alpukat (Persea gratissima folium) yang
ada di kawasan Takengon, Aceh Tengah

D. Sampel
Sampel yang diambil adalah daun alpukat yang tidak terlalu muda dan tidak
terlalu tua berwarna hijau muda yang ber kedudukan 4 nodus dari pucuk
E. Teknik Pengambilan sampel
Teknik pengambilan sampel diambil secara purposive sampling yaitu secara
tunjuk langsung pada suatu pohon daun alpukat.
F. Alat dan Bahan Penelitian
1. Alat yang digunakan
Swab steril, petridish, tabung reaksi, pinset, ose bulat, lampu spiritus,
Erlenmeyer, beaker glass, corong, gelas ukur, batang pengaduk, kompor gas dengan

penangas air, cawan persolin, hot plate, timbangan elektrik, autoclave, oven dan
inkubator.
2. Bahan
Daun alpukat, Muler Hillton agar (MHA), aquadest, Barium sulfat Standar(BBS),
Disk kotrimoksazol, bakteri Escherichia coli, NACL 0,9%, Etanol 70%.
G. Prosedur kerja
1. Sterilisasi Alat
a. Alat-alat yang berbuat dari kaca (tahan pemanasan) seperti Beaker Glass, Erlenmeyer,
Petridish, tabung reaksi, pipet kaca dibungkus dengan kertas ubi dan di steril kan
dengan pemanasan kering dalam oven pada suhu 160 C selama 2 jam
b. Media pertumbuhan bakteri disterilkan dalam autoclave pada suhu 121 C selama 15
Menit.
c. Pinset dan ose bulat disterilkan denngan cara membakar pada lampu spiritus sampai
pijar.
d. Pipet tetes disterilkan dengan etanol 70%.

2. Pembuatan Media Muller Hillton Agar (MHA)


Ambil MHA sebanyak 2,04 gram, tambah aquadest sebanyak 60 ml kemudian
masuk kan dalam Erlenmeyer, aduk dengan rata dan panaskan sampai mendidih
kemudian steril dalam autoclave pada suhu 121 C selama 15 Menit, tunggu hingga
45 C (MHA didinginkan agar tidak terjadi kondensasi air pada saat penuangan) lalu
bagikan ke dalam petridish,
3. Pembuatan Suspensi Bakteri Escherichia coli
Ambil koloni bakteri Escherichia coli dengan menggunakan ose bulat kemudian
suspensikan ke dalam tabung tabung reaksi yang berisi NaCl 0.9% steril 10 ml,
bandingkan dengan BSS.
4. Pembuatan Cakram

Buat cakram dengan menggunting kertas saring dengan 6 mm. Cakram-cakram


tersebut dimasukkan dalam tabung wadah kemudian disterilkan dalam oven pada suhu
160 C selama 2 jam.
5. Pembuatan Ektraks Daun Alpukat dengan cara meserasi :
a. Sebanyak 100 gram alpukat kering yang telah dirajang kasar dimasukkan kedalam
Erlenmeyer, kemudian dituangi 750 ml etanol 70%, ditutup dan dibiarkan selama 5 hari
terlindung dari cahaya, sambil berulang-ulang di aduk.
b. Setelah 5 hari sari diserkai dengan kain flanel, ampas, diperas, kemudian ampas
tersebut di tambah cairan penyari secukup nya,diaduk dan diserkai hingga diperoleh
sari sebanyak 1000 ml
c. Bejana ditutup, dibiarkan ditempat sejuk, terlindung dari cahaya, kemudian dienap
tuangkan selama 2 hari
d. Uapkan maserat dalam cawan porselin dengan pemanasan di atas penangas air hingga
diperoleh ektrak kental (Syamsuni 2005:256).
6. Uji Zona Hambat:
a. Siapkan Barium sulfat Standar (BSS)
b. Sediakan MHA plat.
c. Siapkan disk sampel dengan cara potong kertas saring berbentuk bulat denagn
diameter 6 mm
d. Siapkan suspensi Escherichia coli dengan menggunakan ose bulat ambil koloni bakteri
Eschericia coli dan suspensikan kedalam tabung reaksi yang berisi NaCl 0,9%
steril,bandingkan dengan (BSS)
e. Swab suspense bakteri keseluruh permukaan MHA plat dengan menggunakan
swabsteeril dengan arah pengusapan tegak lurus satu sama lain, arah perputaran
membentuk sudut 90.
f. Masukkan kertas cakram dengan diameter 6 mm yang telah di basahi dengan ektraks
daun alpukat..

g. Sebagai control gunakan disk kotrimoksazol dan aqua dest yang diletakkan pada
permukaan MHA plat dan atur jarak antar disk agar tidak terlalu berdekatan, kemudian
ditekan dengan pinset steril agar melekat.
h. Setelah selesai maka MHA plat tersebut di inkubasi pada suhu 37 C selama 24 jam di
dalam inkubator.
i. Setelah 24 jam, amati zona hambat yang terjadi.
j. Ukur diameter zona hambat yang ada dengan menggunakan mistar dalam millimeter.
k. Pengerjaan dilakukan sebanyak 3 kali.
H. Teknik Analisa Data
Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel yaitu hasil pengukuran
diameter zona hambat esktrak daun alpukat terhadap pertumbuhan bakteri Eschericia
coli denagn disk antibiotik kotrimoksazol sebagai control positif serta aqua dest sebagai
control negatif.

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Hasil

pengukuran

diameter

zona

hambat

dari

ekstrak

daun

Alpukat,

Kotrimoksazol terhadap pertumbuhan Escherichia coli, dapat dilihat pada tabel dibawah
ini :
Tabel 1
Tabel Uji Diameter Zona Hambat Ekstrak Daun Alpukat (Persea gratissima folium)
Terhadap Pertumbuhan Bakteri Escherichia coli , Antibiotik Kotrimoksazol
Sebagai Kontrol Positif dan Aquadest steril Sebagai Kontrol Negatif
Diamter Zona Hambat
No
Zat Uji
Pada Media MHA (mm)
Rata-rata
I
II
III
24,6
1 Ekstrak Daun Alpukat
25
24
25
35
2 Kotrimoksazol
35
35
35
3 Aquadest steril
Sumber penelitian 2012
Dari tabel diatas diketahui bahwa diameter zona hambat rata-rata dari ekstrak
daun alpukat sebesar 24,6 mm, antibiotik kotrimoksazol 35 mm dan Aquadest steril
tidak menghambat.

B. Pembahasan
Setelah melalui proses ekstraksi daun alpukat dengan menggunakan metode
maserasi yaitu dengan cara merendam simplisia daun alpukat sebanyak 100 gram
dengan menggunakan 1000 ml etanol 70% sebagai cairan penyari diendapkan selama
5 hari, diserkai dengan kain flannel dan kemudian diuapkan diatas penangas air.
Pengamatan dilakukan dengan membandingkan zona hambat yang terbentuk
dari ekstrak daun alpukat dengan zona hambat yang terbentuk dari antibiotik

kotrimoksazol dan aquadest steril terhadap pertumbuhan bakteri E.coli. Untuk setiap zat
uji dilakukan perlakuan sebanyak tiga kali pengulangan.
Luas wilayah jernih (bening) merupakan petunjuk kepekaan mikroorganisme
terhadap antibiotik. Pengukuran zona hambat dilakukan dengan menggunakan mistar
milimeter pada permukaan bagian bawah petridish.
Hasil dari pengukuran diameter zona hambat ekstrak daun alpukat diperoleh
zona hambat terbesar 25 mm, pada petri pertama 25 mm, petri kedua 24 mm , petri
ketiga 25mm dan disk antibiotik kotrimoksazol rata-rata sebesar 35 mm dan aquadest
steril tidak mempunyai zona hambat.
Adanya zona hambat pada daun alpukat kemungkinan karena daun alpukat
mengandung zat-zat kimia seperti flavanoid, alkaloid ,saponin, tanin .
Tanin mempunyai aktivitas mikroba terhadap bakteri E.coli, streptococcus
faecalis dan staphylococcus aureus, Tanin dalam konsentrasi rendah mampu
menghambat pertumbuhan bakteri, sedangkan dalam konsentrasi tinggi tanin bekerja
sebagai antibakteri. Flavanoid kecendrungan untuk mengikat protein bakteri sehingga
menghambat aktivitas enzim, yang pada akhirnya mengganggu proses metabolisme
bakteri. Sedangkan saponin senyawa yang dapat meningkatkan

permeabilitas

membran sehingga mengakibat terjadinya lisis pada sel bakteri ( Lukas Tersono Hadi
2008 : 45 )
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun alpukat dapat menghambat
pertumbuhan bakteri E.coli dengan diameter zona hambat rata-rata 24,6 mm, antibiotik
kotrimoksazol sebagai kontrol positif mempunyai diameter zona hambat sebesar 35

mm terhadap pertumbuhan bakteri E.coli sedangkan Aquadest steril tidak dapat


menghambat pertumbuhan bakteri E.coli.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun alpukat mampu
menghambat pertumbuhan bakteri E. coli dengan diameter rata-rata zona hambat
sebesar 24,6 mm.
B. Saran
Diharapkan kepada peneliti selanjutnya agar dapat melakukan penelitian
terhadap mikroba lain nya.

Diposkan 12th March 2015 oleh zul fahmi

Lihat komentar

fahmie gr
Thank you for watching

Klasik

Kartu Lipat

Majalah

Mozaik

Bilah Sisi

Cuplikan

Kronologis

1.
Jul
27

PROJECT PROPOSAL

Read more

( DOWNLOAD FROM https://crmrkt.com/OdJAk )

PROJECT PROPOSAL
Professional, clean and modern Proposal Template. Just drop in your own images and texts,
its ready for print. The package includes files for CS4, CS5, CS6 version of InDesign. All the
elements in the design such as text, colours,