You are on page 1of 7

Pengklasifikasian 37 Lembaga Negara dalam UDD 1945, berdsarkan kedudukannya,

tujuan dan kewenanganya, fungsiiya, wilayah hukumnya, dan apakah lembaga-lembga


itu termasuk dalam Indenpendensi ajensi
Lembaga Tinggi Negara Kepresidenan

Pengklasifikasian berdasarkan Kedudukannya

Lembaga kepresidenan dalam hal ini pelaksana dalam fungsi eksekutif yang dimana

Lembaga Tinggi Negara DPR


Lembaga Tinngi Negara MPR
Lembaga Tinggi Negara Mahkamah Agung
Lembaga Tinggi Negara Mahkamah Konstitusi

Lembaga Tinggi Negara Komisi yudisial

Pengklasifikasian berdasarkan Kedudukannya

Komisi yudisial dalam konteks ketatanegaraan Indonesia termasuk dalam lembaga


Negara yang bersifat mandiri, pemangku fungsi yudikatif dimana, Komisi Yudisial berkedudukan
setara dengn Mahkamah Agung, dan Mahkamah Konstitusi akan tetapi komisi yudisial yag
berwewnang untuk . Lembaga ini dibentuk dengan maksud untuk menegakkan supermasi
hokum, penghormatan hak asasi manusia (HAM), serta pemberantasan KKN, dan terlebih
khususnya pengawasan terhadap berbagai penyimpanagan, termasuk dalam proses
penyelenggara perdilan yang terjadi di Mahkamah agung, begitu pula di Mahkamah Konstitusi.

Pengkalsifikasian berdasarkan tugas dan kewenangannya

Sesuai Pasal 13 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas


Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial, Komisi Yudisial mempunyai
wewenang:
1. Mengusulkan pengangkatan hakim agung dan hakim ad hoc di Mahkamah Agung
kepada DPR untuk mendapatkan persetujuan;
2. Menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim;
3. Menetapkan Kode Etik dan/atau Pedoman Perilaku Hakim (KEPPH) bersama-sama
dengan Mahkamah Agung;
4. Menjaga dan menegakkan pelaksanaan Kode Etik dan/atau Pedoman Perilaku Hakim
(KEPPH).
Berdasarkan Pasal 14 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2011, dalam melaksanakan
wewenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf a, yaitu mengusulkan pengangkatan
hakim agung dan hakim ad hoc di Mahkamah Agung kepada DPR untuk mendapatkan
persetujuan, maka Komisi Yudisial mempunyai tugas:

1. Melakukan pendaftaran calon hakim agung;


2. Melakukan seleksi terhadap calon hakim agung;
3. Menetapkan calon hakim agung; dan
4. Mengajukan calon hakim agung ke DPR.
Pasal 20 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2011 mengatur bahwa:
1. Dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta
perilaku hakim, Komisi Yudisial mempunyai tugas:
a. Melakukan pemantauan dan pengawasan terhadap perilaku hakim;
b. Menerima laporan dari masyarakat berkaitan dengan pelanggaran Kode Etik
dan Pedoman Perilaku Hakim;
c. Melakukan verifikasi, klarifikasi, dan investigasi terhadap laporan dugaan
pelanggaran Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim secara tertutup;
d. Memutus benar tidaknya laporan dugaan pelanggaran Kode Etik dan Pedoman
Perilaku Hakim,
e. Mengambil langkah hukum dan/atau langkah lain terhadap orang perseorangan,
kelompok orang, atau badan hukum yang merendahkan kehormatan dan
keluhuran martabat hakim.
2. Selain tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Komisi Yudisial juga mempunyai
tugas mengupayakan peningkatan kapasitas dan kesejahteraan hakim;
3. Dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta
perilaku hakim, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, Komisi Yudisial dapat
meminta bantuan kepada aparat penegak hukum untuk melakukan penyadapan dan
merekam pembicaraan dalam hal adanya dugaan pelanggaran Kode Etik dan/atau
Pedoman Perilaku Hakim oleh Hakim.
4. Aparat penegak hukum wajib menindaklanjuti permintaan Komisi Yudisial sebagaimana
dimaksud pada ayat (3).

Pengklasifikasian berdasarkan fungsinya


Jadi Komisi Yudisial melakuakn yang diberi menjalankan fungsi checks and balances.
untuk membentuk lembaga pengawas eksternal Kehadiran lembaga pengawas
peradilan yang dimana diharapkan agar kinerja pengadilan transparan, akuntabel dan
imparsial, serta mengedepankan aspek kepastian, keadilan, dan kemanfaa

Pengklasifikasan berdasarkan wilayah hukumnya

Dalam pelaksanaan tugasnya komisi yudisial memiliki wilayah hukum yitu bertanggung
jawab kepaa DPR, dengan cara menerbitkan laporan tahunan dan membuka akses secara
lengkap dan akurat. Dimana laporan tersebut merupakan rangka menjaga dan menegakkan
kehormatan, keluhuran martabat, serta perilakun hakim, apakah hakim tersebut melakukan
sesesuatu perbuatan tercelah atau perbuatan yang melanggar suatu ketentuan dari
perundang-undanggan.

Pengklasifikasian apakah lembaga ini termasuk dalam Idependen Agency

Lembaga Tinggi Negara Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)

Pengklasifikasian berdasarkan Kedudukannya


Negara kita masih masih memiliki badan pemeriksa keuangan (BPK) yang juga
berkaitan dengan fungsi pengawasan keuangan, khususnya berkenaan dengan penggelolaaan
keuagan Negara. Beberapa Negara lain juga mengadakan lembaga semaacam ini untuk
menjalankan fungsi-fungsi pemeriksaan atau sebagai external auditor terhadap kinerja
keuangan pemerintah. Fungsi pemeriksaan keuangan yang dikaitkan dengan lembga ini
sebenarny terkait erat dengan fungsi pengwasan oleh parlemen. Karena itu, kedudukan
kelembagaan badan pemerisa keuangan (BPK) ini sesungguhnya berda dalam ranah
kekeuasaan legislative, atau sekurang-kurangnya berhimpitan dengn fungi pengawasa yang
dijalankan oleh Dewan Perwakilan Rakyat. Oleh karena itu, laporan hasil pemeriksaan yang
dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan ini harus dilporan atau disampaikan kepada DPR
untuk ditindaklanjuti sebagaimana mestinya. Dan lembaga ini bersifat bebas dan mandiri.

Pengkalsifikasian berdasarkan tugas dan kewenangannya

berdasarkan pengkalsifikasia kedudukannya maka Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)


memiliki tugas untuk memeriksa pengelolaan daan tanggung jawab tentang keuangan negara
yang dijalankan oleh organ pemerintah. Dari segi jangkauan fungsi pemeriksaannya, tugas BPK
sekarang menjadi makin luas. Ada tiga perluasan yang dapat dicatat disini. Pertama, perluasan
dar pemeriksaan atas pelaksanaan APBN menjadi pemeriksaan atas pelaksanaan APBN dan
APBD serta pengelolan keuangan dan kekayaan Negara dalam artian luas. Kedua, perluasan
dari pemeriksaan yang dilakuakn tidak saja dilaporkan kepada DPR ditingkat pusat tetapi juga
kepada DPD dan DPRD provinsi serta DPRD kabupaten/kota sesuai dengan tingkatan
kewenangannya masing-masing. Ketiga, perluasan juga terjadi terhadap lembaga atau
badan/badan hukum yang menjadi objek pemeriksaan oleh BPK, yaitu dari sebelum hanya
terbatas pada lembaga negara dan/atau pemerintahan yang merupakan tata subjek hukum tata
Negara dan/atau subjek hukum administrasi Negara meluas sehingga mencakup pula
organorgan yang merupakan subjek hukum perdata seperti perusahaan daerah, BUMN,
ataupun perusahaan swasta dimana didalamny terdapat kekayaan Negara.
Wewenang yang dimiliki dari Badan Pmeriksa Keuangan (BPK) antara lain sebagai
berikut: menentkan objek pemeriksaan, merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan,
menentuka waktu dan metode pemeriksaan serta menyusun dan menyampaaikan la[oran
pemeriksaan; menetapkan standar pemeriksaan keuaangan Negara setelah konsultasi dengan
pemerintah pusat/pemerintah Daerah yang wajib digunkan dalam pemeriksaan pengelolaan
dan tanggung jawab keuangan Negara; meminta keterangan atau dokumen yang wajib
diberikan oleh setiap orang, unit organisasi pemerintah pusat, pemerinth daerah, lembaga
Negara lainnya, atau badan lain yang mengelolah keuangan Negara.

Pengklasifikasian berdasarkan fungsinya

Fungsi yang dimiliki oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yaitu, berkaitan dengan
funsi pengawasan keuangan, khususnya berkenan dengan pengelolaan keuangan negara.

Pengklasifikasan berdasarkan wilayah hukumnya


Wilayah hukum badab pemeriksa keuanagan meliputi antara lain mencakupi
pemeriksaan keuangan Negara yang dilakukan oleh pemerintah pusat (Eksekutif), MPR,
DPR, dan DPD ( Legislatif), MA, MK, dan KY (Yudikatif), Bank Indonesia, Badan Usaha
Milik Negara (BUMN), dan lembaga Negara yang lainnya.

Pengklasifikasian apakah lembaga ini termasuk dalam Idepedensi Agency


Jika kita melihat wilayah hukum dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang dimana
lembaga negara ini mencakupi bidang Eksekutif, Legislatif, Yudikatif , dan Lembaga
Negara lainnya. Maka lembaga Negara ini termasuk dalam lembaga yang berada
didaluar tiga fungsi kekuasaan yang dimana BPK ini memiliki cabang tersendiri, akan
tetapi lembaga ini menjalankan fungsinya kesemua aspek pemerintahan. Jadi dalam hal
ini lembaga BPK ini dapat mengaudit lembaga-lembaga lain daam hal pegawasan
terhadap keuangan Negara .

Lembaga Negara Dewan Pertimbangan Agung (DPA)/Dewan Pertimbanagan


Presiden (Wantimpres)

Pengklasifikasian berdasarkan Kedudukannya


Landasan konstitusional Wantimpres adalah Pasal 16 UUD 1945, yang selanjutnya
diatur dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2006 tentang Dewan Pertimbangan
Presiden. Berdasarkan UU Nomor 19 Tahun 2006, Dewan Pertimbangan Presiden
(Wantimpres) adalah lembaga pemerintah yang bertugas memberikan nasihat dan
pertimbangan kepada Presiden sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 Undang
Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Wantimpres
berkedudukan di bawah Presiden dan bertanggung jawab kepada Presiden.

Pengkalsifikasian berdasarkan tugas dan kewenangannya


Tugas Wantimpres adalah untuk memberikan nasihat dan pertimbangan kepada
Presiden dalam menjalankan kekuasaan pemerintahan negara. Pemberian nasihat dan
pertimbangan tersebut Wajib dilakukan oleh Wantimpres baik diminta ataupun tidak oleh
Presiden. Penyampaian nasihat dan pertimbangan tersebut dapat dilakukan secara
perorangan maupun sebagai satu kesatuan nasihat dan pertimbangan seluruh anggota
dewan.
Dalam menjalankan tugasnya, Wantimpres melaksanakan fungsi nasihat dan
pertimbangan yang terkait dengan pelaksanaan kekuasaan pemerintahan Negara yang
memiliki wewenang. Dalam menjalankan tugas dan fungsinya tersebut, Wantimpres tidak
dibenarkan memberikan keterangan, pernyataan, dan/atau menyebarluaskan isi nasihat dan
pertimbangan kepada pihak manapun; Atas permintaan Presiden, Wantimpres dapat
mengikuti sidang kabinet serta kunjungan kerja dan kunjungan kenegaraan. Dalam
melaksanakan tugasnya, Wantimpres dapat meminta informasi dari instansi pemerintah
terkait dan lembaga negara lainnya. Selain itu, kepada Ketua dan Anggota Wantimpres
diberikan hak keuangan dan fasilitas lainnya sesuai dengan yang diberikan kepada Menteri
Negara; Untuk memperlancar pelaksanaan tugas Wantimpres, masing-masing Anggota
Wantimpres, dibantu oleh satu orang Sekretaris Anggota Wantimpres. Sekretaris Anggota
Wantimpres mempunyai tugas memberikan masukan dan/atau telaahan berdasarkan

keahliannya kepada Anggota Wantimpres yang dibantunya. Akan tetapi, Sekretaris Anggota
Wantimpres tidak dapat bertindak atas nama dan/atau mewakili Wantimpres

Pengklasifikasian berdasarkan fungsinya


Dalam menjalankn fungsinya sebagai lembaga Negara DPA/ Wantipres Ini memiliki
fungsi untuk memberikan nasihat dan pertimbangan yang terkait dengan pelaksanaan
kekuasaan pemerintahan negara. Dalam hal ini presden dalam menjalankan
pemerintahannya maka diberikan nasihat atau pertimbangan DPA/Wantimpres.

Pengklasifikasan berdasarkan wilayah hukumnya

Pengklasifikasian apakah lembaga ini termasuk dalam Idepedensi Agency


Lembaga Bank Sentral Indonesia (BI)

Pengklasifikasian berdasarkan kedudukannya

Bank Indonesia sebagai Bank Sentral yang independen dimulai ketika sebuah undangundang baru, yaitu Undang-Undang No. 23/1999 tentang Bank Indonesia, dinyatakan berlaku pada
tanggal 17 Mei 1999. Undang-undang ini memberikan status dan kedudukan sebagai
suatu lembaga negara independen dan bebas dari campur tangan pemerintah ataupun pihak
lainnya. Sebagai suatu lembaga negara yang independen, Bank Indonesia mempunyai otonomi
penuh dalam merumuskan dan melaksanakan setiap tugas dan wewenangnya sebagaimana
ditentukan dalam undang-undang tersebut. Pihak luar tidak dibenarkan mencampuri pelaksanaan
tugas Bank Indonesia, dan Bank Indonesia juga berkewajiban untuk menolak atau mengabaikan
intervensi
dalam
bentuk
apapun
dari
pihak
manapun
juga.
Untuk
lebih
menjaminindependensi tersebut, undang-undang ini telah memberikan kedudukan khusus kepada
Bank Indonesia dalam struktur ketatanegaraan Republik Indonesia. Sebagai Lembaga negara yang
independen kedudukan Bank Indonesia tidak sejajar dengan Lembaga Tinggi Negara. Disamping
itu, kedudukan Bank Indonesia juga tidak sama denganDepartemen, karena kedudukan Bank
Indonesia berada di luar Pemerintah. Status dan kedudukan yang khusus tersebut diperlukan agar
Bank Indonesia dapat melaksanakan peran dan fungsinya sebagai otoritas moneter secara lebih
efektif dan efisien.

Pengklasifikasian berdasarkan tugas dan wewenangnya

Berdasarkan ketentuan perundang-undagan maka tugas dan wewenang dari Bank


Sentral (BI) In adalah; tugas dan melaksanakan kebijakan moneter, mengatur dan menjaga
kelancaran sistem pembayaran, serta mengatur dan mengawasi perbankan di Indonesia. Ketiganya
perlu diintegrasi agar tujuan mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah dapat dicapai secara
efektif dan efisien. Setelah tugas mengatur dan mengawasi perbankan dialihkan kepada Otoritas
Jasa Keuangan, tugas BI dalam mengatur dan mengawasi perbankan tetap berlaku, namun
difokuskan pada aspek makroprudensial sistem perbankan secara makro, sedangkan wewenang
yang dimiliki oleh Bank Sentral (BI) adalah sebagai lembaga Negara yang berhak untuk

menegedarkan mata uang yang brlaku di Indonesia dan Mencabutnya dari peredaran di
masyarakat, hak tersebut hnya dimiliki oleh Bank Indonesi Saja sebagai lembaga negara penentu
kebijiakan monetering.

Pengklasifikasian berdasarkan Fungsinya

Fungsi yang melekat pada lebaga ini adalah fungsi pengaturan dan pengawasan
terhadap Bank Lain yang berada di Indonesia, yang dimana dalaam fungsi pengawasan ini BI
melakukan pengawasan terhadap suku bunga yang diterap oleh berbagai bank yang ada di
Indonesia, sehingga Bank Indonesia melakuka pengawasan dengan menentukan suku bunga
yang sama daari keselirihan bank yang adaa di Indonesia.

Pengklasifikasian berdasarkan wilayah hukumnya


Wilayah Hukum Bank Indonesia sebagai Bank Sentral ini memiliki wilayah kerja dalam
bidang moneter saja yang dimana bank ini melakukan kegiatan pemerintahan yang
dimana lembaga ini haanya melakukan pengawaasan terhadap Bank-Bank yang ada di
Indonesia.

Pengklasifikasian apakah Lembaga ini termasuk dalam Independensi Agency


Menurut saya lembaga ini tidak termasuk dalam independesi Agency dimana lembaga
ini hanya melakuaakan tugas checks terhadap bank-bank yang berada di Indonesia dan
melakukan pengawasan terhadap motering d Indonesia. Daan tidak melakukan kegiatan
atau pewasan terhaadap lembaga Negara lainnya.

Lembaga Kejaksaan Agung


UU No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan R.I. juga telah mengatur tugas dan wewenang Kejaksaan
sebagaimana ditentukan dalam Pasal 30, yaitu :
(1) Di bidang pidana, Kejaksaan mempunyai tugas dan wewenang:

Melakukan penuntutan;

Melaksanakan penetapan hakim dan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan
hukum tetap;

Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan putusan pidana bersyarat, putusan pidana


pengawasan, dan keputusan bersyarat;

Melaksanakan penyidikan terhadap tindak pidana tertentu berdasarkan undang-undang;

Melengkapi berkas perkara tertentu dan untuk itu dapat melakukan pemeriksaan tambahan
sebelum dilimpahkan ke pengadilan yang dalam *pelaksanaannya dikoordinasikan dengan
penyidik.

(2) Di bidang perdata dan tata usaha negara, Kejaksaan dengan kuasa khusus dapat bertindak di
dalam maupun di luar pengadilan untuk dan atas nama negara atau pemerintah
(3) Dalam bidang ketertiban dan ketentraman umum, Kejaksaan turut menyelenggarakan kegiatan:

Peningkatan kesadaran hukum masyarakat;

Pengamanan kebijakan penegakan hukum;

Pengamanan peredaran barang cetakan;

Pengawasan aliran kepercayaan yang dapat membahayakan masyarakat dan negara;

Pencegahan penyalahgunaan dan/atau penodaan agama;

Penelitian dan pengembangan hukum statistik kriminal.

Selain itu, Pasal 31 UU No. 16 Tahun 2004 menegaskan bahwa Kejaksaan dapat meminta kepada
hakim untuk menetapkan seorang terdakwa di rumah sakit atau tempat perawatan jiwa, atau tempat
lain yang layak karena bersangkutan tidak mampu berdiri sendiri atau disebabkan oleh hal-hal yang
dapat membahyakan orang lain, lingkungan atau dirinya sendiri. Pasal 32 Undang-Undang No. 16
Tahun 2004 tersebut menetapkan bahwa di samping tugas dan wewenang tersebut dalam undangundang ini, Kejaksaan dapat diserahi tugas dan wewenang lain berdasarkan undang-undang.
Selanjutnya Pasal 33 mengatur bahwa dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, Kejaksaan
membina hubungan kerjasama dengan badan penegak hukum dan keadilan serta badan negara
atau instansi lainnya. Kemudian Pasal 34 menetapkan bahwa Kejaksaan dapat memberikan
pertimbangan dalam bidang hukum kepada instalasi pemerintah lainnya.