You are on page 1of 4

9 Juni 1848 atau 168 tahun silam, rakyat Bali mencatat prestasi gemilang.

(gambar peta
bali) Laskar Buleleng didukung oleh laskar Klungkung, Karangasem serta Mengwi sukses
mempecundangi pasukan Belanda yang bersenjata lebih lengkap dan modern di daerah
Jagaraga. Prestasi yang merupakan buah dari kematangan strategi dan siasat jitu Patih I
Gusti Ketut Jelantik yang sempat mengguncang pemerintah kolonial Hindia Belanda bahkan
hingga ke negeri asalnya di Belanda. (Gambar Patih Jelantik)
Peristiwa bersejarah itu dicatat sebagai Perang Jagaraga
(animasi api Perang Jagaraga)
Perang Jagaraga dipicu hak Tawan Karang yaitu hak istimewa yang dimiliki raja di Bali pada
masa lalu, dimana raja akan menyita kapal yang terdampar di wilayahnya lengkap beserta
seluruh muatannya. Dalam hal ini Kerajaan Buleleng menyita sebuah perahu dagang yang
berlayar dengan bendera Belanda di daerah Sangsit (Video Laut)
(Adegan perahu karam dan dilihat oleh penduduk dan isi muatannya disita)
Belanda menganggap peristiwa-peristiwa itu sebagai pelanggaran dan segera mengirim
utusan ke Kerajaan Buleleng untuk meminta ganti rugi. (Gambar istana eropa, music
instrument eropa)
Belanda 1

: Lapor Gubernur, kapal dagang kita dirampas oleh Raja Buleleng

Gubernur

: Brock, dasar barbar!!! Segera kirim utusan ke Buleleng, kita harus meminta
ganti rugi, dan kita harus membuat Kerajaan Buleleng tunduk di bawah
pemerintah Belanda, lagipula bagiku ini adalah jalan masuk kita untuk
menguasai Bali

Kemudian sampailah utusan Belanda ke Kerajaan Buleleng yang diterima oleh Raja Buleleng
Gusti Ngurah Made Karangasem yang didampingi Patih Gusti Ketut Jelantik. (Gambar istana
bali, music bambu bali)
Belanda 1

: Wahai Raja Buleleng, saya adalah utusan Pemerintah Hindia Belanda, saya
datang untuk menyampaikan surat dari Gubernur kami

(Patih mengambil surat tersebut dan membacanya dan kemudian marah, dan memberi
tahukan kepada raja mengenai isi surat, music gong keras)
Patih

: Hai kau orang asing!!! Jangan macam-macam, kalian sudah menghina kami!!!
Ingin menghapus tawan karang? Ganti rugi? Mengakui kalian sebagai
penguasa tertinggi? Jangan bermimpi, kami tidak akan tunduk kepada kalian
bangsa asing!!!

Belanda 1

: Inikah cara kalian memperlakukan kami!!! Penguasa tertinggi kalian!!! kalian


akan merasakan akibatnya jika melawan Hindia Belanda.

Patih

: Kami tidak takut!!! Ini daerah kami, ini rumah kami!!! Kalian hanya orang
asing, kami lebih mulia dari kalian. Dasar kalian jelema soleh!!!

Kata-kata Jelantik itu dianggap sebagai penghinaan oleh Belanda dan memaksa Belanda
untuk mengambil tindakan militer terhadap Buleleng. Belanda pun mulai menyiapkan suatu
ekspedisi militer ke Buleleng. Sementara Buleleng dengan dikoordinir Patih Jelantik sudah

menyiapkan kubu-kubu pertahanan di wilayah Kerajaan Buleleng. (Gambar desa bali kuno,
music orang membangun)
Bali 1

: Tu Aji, semua kubu pertahanan dari Pelabuhan sampai Penataran di utara Puri
sudah siap.

Patih

: Baiklah, periksa kembali seluruh prajurit, persenjataan, dan perbekalan. Aku


ingin semuanya dalam keadaan terbaik, karena aku yakin setelah
perundingan yang gagal, Belanda akan mengambil tindakan militer terhadap
kita.

Bali 1 dan 2 : Baik Tu Aji


Perang pun dimulai. Tanggal 28 Juni 1846, pasukan Belanda dipimpin Van Den Bosch
didaratkan di sebelah timur Buleleng. Pendaratan pasukan Belanda itu mendapat
perlawanan hebat dari Kerajaan Buleleng. (Gambar perang, music gong keras) Namun,
karena kalah dari segi persenjataan, Puri raja I Gusti Made Karangasem dihujani peluru
kemudian diserbu dan di bakar Belanda. (video Api)
Pihak laskar Buleleng tidak mampu bertahan dan lari cerai berai. Karena merasa sudah tidak
bisa melawan Belanda, Raja I Gusti Made Karangasem beserta Patih I Gusti Ke pasukan
Buleleng pun memilih mundur ke Jagaraga. Belanda menguasai penuh Kota Singaraja pada
tanggal 29 Juni 1846. (Adegan Raja, Patih, dan tentara cepat-cepat pergi)
Patih

: Ratu, keadaan sangat genting, Belanda sungguh kuat, kita harus mundur,
sebaiknya kita meninggalkan Puri dan mengungsi ke Jagaraga.

Raja

: Baiklah patih, kita harus menyusun ulang kekuatan kita dan kembali mebalas
serangan terhadap tanah air kita.

Di desa Jagaraga inilah diadakan pertemuan pihak-pihak yang anti pemerintah kolonial
Balanda. (gambar desa bali kuno, adegan bertemunya Patih dengan Raja lainnya)
Setelah mendapat dukungan dari berbagai pihak dibuat benteng yang kokoh. Bantuan
pasukan laskar dari kerajaan lainnya di Bali berdatangan. Dari wilayah kerajaan Klungkung,
kerajaan Mengwi, dari Karangasem, semua berjumlah 7700 orang tidak terhitung laskar
Buleleng di bawah pimpinan langsung Patih I Gusti Ketut Jelantik. (gambar laskar, suara
orang membangun)
Bali 1

: Tu Aji, benteng sudah hampir selesai, dan pasukan bantuan dari kerajaan
Klungkung, Mengwi, dan Karangasem sudah tiba

Patih

: Made, ingat mereka semua adalah saudara kita, mereka pasti lelah setelah
menempuh perjalanan jauh, segera sambut mereka dengan baik.

Bali 1

: Siap, Tu Aji, saya mohon diri

Raja

: Patih, kali ini strategi apa yang kakanda siapkan untuk melawan Belanda, kita
sudah banyak mendapatkan bantuan dari kerajaan lainnya, kita banyak
mengumpulkan sumberdaya yang diperlukan untuk melawan balik Belanda
keparat.

Patih

: Ratu, saya akan menggunakan sistem pertahanan supit urang yang digunakan
Yudistira dalam Perang Bharatayudha ketika menghadapi Kurawa.

Raja

: Bagus, dengan strategi ini kita pasti menang, Belanda tidak akan mengetahui
sistem strategi ini, mereka pasti akan malu kalah dengan kita.

Patih

: Ketut, segera temui para panglima, aku ingin membicarakan strategi ini
bersama mereka.

Bali 2

: Baik Tu Aji.

Benteng yang kuat dan sistem pertahanan yang rapi ini ternyata membuahkan hasil.
Pasukan Belanda bisa dihancurkan oleh laskar Bali. Pada 8 Juni 1848 terjadi pertempuran
sengit di Desa Bungkulan dan sekitarnya.
Dalam pertempuran ini, di pihak Belanda jatuh korban 8 orang tewas, 8 orang luka-luka,
termasuk Letnan Wichers.
Keesokan harinya, pasukan Belanda berhasil masuk ke Jagaraga. Namun, Belanda gagal
menembus benteng Jagaraga. Yang terjadi malah sebaliknya, banyak jatuh korban dari
pihak Belanda. Pasukan Belanda kocar-kacir hingga akhirnya kembali ke Jawa. (gambar
perang, music gong bali keras)
(gambar istana eropa, lagu instrument eropa)
Gubernur

: Letnan, bagaimana hasil kita setelah menyerang Jagaraga?

Letnan

: Lapor Gubernur, di pihak kita jatuh korban 5 orang perwira, 94 orang bintara.
Yang luka-luka 7 orang, 98 orang bintara dan prajurit. Korban di pihak Bali 3
orang pedanda, 35 orang Brahmana, 163 orang bangsawan dan perbekel
serta 2.000 orang pasukan

Gubernur

: Memalukan!!! Neuken!!!

Kekalahan di Jagaraga ini menjadi pukulan telak bagi pemerintah Belanda. Di seantero
Hindia Belanda termasuk hingga ke Belanda kekalahan itu menjadi perbincangan. (gambar
istana eropa, lagu instrument eropa tempo cepat)
Gubernur

: Saya tidak puas dengan kemenangan Patih Jelantik, kita harus menyerang
lagi Jagaraga, kali ini aku perintahkan kau Mayjen Michiels untuk langsung
turun pimpin pasukan kita ke Jagaraga.

Mayjen

: Siap Gubernur, sesuai perintah anda, tapi kali ini saya minta untuk disediakan
senjata yang lebih besar dan kuat untuk melawan mereka. Mereka bukan
lawan yang kecil, tidak bisa kita remehkan mereka.

Gubernur

: Senjata apa yang kau minta?

Mayjen

: Saya memerlukan kapal perang kita lengkap dengan meriam dan beberapa
howitzer otomatis untuk pasukan kita. Kali ini pasti mereka kalah.

Pada tanggal 31 maret 1849, tentara Belanda yang dipimpin oleh Mayor Jenderal Michels
melancarkan tembakan meriam dari atas Kapal (video laut, adegan Meriam, gambar
benteng jagaraga)
Di bawah pimpinan Mayor Jenderal Michiels, Belanda pun bisa menduduki benteng Jagaraga
pada 16 April 1849. (animasi perang, gambar benteng jagaraga hancur, music gong bali)
Patih

: Mundur semua

Patih

: Ratu, kita harus pergi, rupanya kali ini mereka membawa persenjataan yang
lebih modern, benteng sudah hancur. Kita akan balas lagi kekalahan ini.

Mayjen

: Mana Raja dan Patih Jelantik?

Belanda 2

: Mereka dapat melarikan diri Mayor

Mayjen

: Temukan mereka, kejar dan bunuh mereka!!!

(gambar hutan, music hutan, adegan kabur)


(adegan terkepung, music gong keras)
Raja

: Patih, kita terkepung

Patih

: Biarlah, kali ini kita perang samapi darah penghabisan, lebih baik mati
daripada tunduk di bawah Belanda.

Raja

: Senang bertempur disisimu kakanda. Dan kalian prajurit, kalian sungguh


berani, tapi kali ini kita akan melawan sampai darah penghabisan. Banggalah
mati demi membela kehormatan kita dan ibu pertiwi. Puputan!!!

Patih

: Puputan!!!

Bali 1,2,3

: Puputan!!!

(gambar Patih Jelantik memerah)


Patih Gusti Jelantik bersama Raja Buleleng juga akhirnya gugur karena adanya serangan
mendadak di daerah Seraya.
(gambar patih Jelantik)
Kendati begitu, kemenangan Patih Jelantik di Jagaraga merupakan sebuah kemenangan
gemilang yang pantas dikenang. Kemenangan di Jagaraga lebih merupakan kemenangan
harga diri. Kemenangan itu menunjukkan kematangan strategi dan siasat jitu pejuang Bali.
Pada titik yang lain, Perang Jagaraga juga memperlihatkan persatuan di antara sejumlah
kerajaan di Bali dalam menghadapi invasi Belanda.