You are on page 1of 6

Artikel #1

Rel Ganda Jalur Selatan 620 Kilometer


Rampung 2017
Jum'at, 30 Mei 2014 | 21:46 WIB
Pekerja menggeser rel kereta api (KA) di lokasi jalur rel ganda KA di Bojonegoro,
Jatim, Jumat (19/7). ANTARA/Aguk Sudarmojo
TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Perhubungan menyatakan pembangunan rel
ganda kereta api lintas selatan Jawa akan selesai pada 2017. Hermanto Dwiatmoko,
Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, mengatakan rel
sepanjang 620 kilometer (km) yang melintasi Cirebon-Purwokerto-Kutoarjo-SoloParon-Kertosono-Surabaya
itu
kini
sudah
jadi
sebagian.
"Ada beberapa tahapan pengerjaan, sebagian sudah jadi, sebagian baru dianggarkan,"
kata Hermanto kepada Tempo di kantornya, Jumat, 30 Mei 2014.
Rel ganda jalur lintas selatan yang sudah beroperasi baru 196 km. Segmen CirebonLarangan sepanjang 57 km masih dalam tahap pembangunan dan direncanakan
selesai pada Desember 2014, sedangkan yang masih dalam perencanaan mencapai
367 km. "Yang kemarin kita resmikan itu merupakan bagian dari rel ganda CirebonPrupuk, Kroya, sepanjang 150 kilometer," kata Hermanto. (Baca: Rel Ganda TubanSurabaya
Beroperasi
Hari
Ini)
Segmen satu, yakni jalur ganda Cirebon-Prupuk 74 km, sudah dioperasikan sepanjang
17 km pada 2011. Segmen kedua, Prupuk-Purwokerto sepanjang 56 km telah
diresmikan tahun lalu. Namun pembangunan jalur ganda Purwokerto-Kroya
sepanjang 28 km baru mulai tahun depan dianggarkan.
(Sumber:

https://m.tempo.co/read/news/2014/05/30/090581310/rel-ganda-jalur-

selatan-620-kilometer-rampung-2017 )

Artikel #2

Rel Ganda Jalur Lintas Selatan Segera


Dibangun
Senin, 30 Mei 2016 - 16:21 wib

MADIUN - Pemerintah dipastikan segera membangun jalur rel ganda lintas selatan
yang menghubungkan Kedungbanteng (Sragen, Jateng)-Madiun dan MadiunJombang.
"Pembangunan rencananya akan dilakukan tahun ini. Untuk segmen MadiunJombang sudah selesai lelang. Sedangkan yang segmen Kedungbanteng-Madiun
masih proses lelang," ujar Kepala Balai Perkeretaapian Wilayah Jawa Bagian Timur,
Dirjen Perkeretapian, Kementerian Perhubungan, Widodo, Senin (30/5/2016).
Menurut dia, total anggaran yang disediakan pemerintah untuk proyek besar
tersebut mencapai Rp625,5 miliar. Adapun sistem pembangunan akan dilaksanakan
secara multi years dengan masa pengerjaan selama 30 bulan.
"Diharapkan pada tahun 2019 nanti sudah selesai dan bisa digunakan untuk
menunjang transportasi perkeretaapian di Indonesia yang semakin pesat," kata dia.
Ia menjelaskan, sejatinya terdapat tiga segmen jalur ganda lintas selatan yang akan
menghubungkan Surabaya-Solo. Yakni, Surabaya-Jombang, Madiun-Jombang, dan
Madiun-Kedungbanteng. Namun, dengan pertimbangan anggaran pemerintah
menetapkan skala prioritas untuk pembangunannya.
Di mana, segmen Madiun-Jombang memiliki investasi pembangunan yang lebih
mahal dibanding Madiun-Kedungbanteng. Sebab, selain jalur yang lebih panjang,
terdapat banyak jembatan kereta api yang melintang di atas sungai di sepanjang
jalur itu.
Sedangkan, pembangunan segmen Madiun-Kedungbanteng sudah dirintis sejak
tahun 2015. Yakni dengan melakukan pemadatan tanah, mulai wilayah Kabupaten
Ngawi hingga Kabupaten Madiun. Hal itu memudahkan pembangunan untuk segmen
Madiun-Kedungbanteng.
"Barulah, tahun ini dimulai sarananya dengan menyiapkan desain untuk dilintasi
kereta api dengan kecepatan di atas 90 kilometer per jam," kata dia.

Nantinya, jalur baru tersebut akan berdampingan dengan jalur kereta api yang saat
ini sudah beroperasi. Pembangunan rel ganda tersebut akan memanfaatkan sisa
lahan 8-12 meter di sisi kanan dan kiri rel yang saat ini sudah ada. Jarak antara rel
lama dengan rel baru nanti sekitar empat meter.
Ia menambahkan, rel ganda tersebut juga akan menyambung ke Solo-YogyakartaKutoarjo (Purworejo)-Purwokerto-Cirebon, melengkapi rel ganda jalur utara yang
saat ini sudah beroperasi.
"Dengan rel ganda jalur selatan ini, dipastikan transportasi kereta api akan semakin
lancar. Baik untuk angkutan penumpang maupun barang," kata dia.
(Sumber: http://economy.okezone.com/read/2016/05/30/320/1401426/rel-ganda-jalurlintas-selatan-segera-dibangun )
Artikel #3

Pembangunan Jalur Ganda Selatan Berpotensi Terlambat


Selasa, 13 Mei 2014 | 15:06 WIB
KEBUMEN, KOMPAS.com Pembangunan jalur ganda kereta api lintas selatan Jawa
Tengah diperkirakan akan terlambat. Penyebabnya adalah ruas Kroya-Kutoarjo yang sudah
ditenderkan hingga kini belum dibangun. Kontraktor tengah menunggu penandatanganan
kontrak

dengan

Kementerian

Perhubungan.

Penelusuran Kompas, rel kereta api jalur ganda selatan mulai dari Purwokerto ke arah timur
sebagian besar menyusuri jalur di bawah tebing curam. Selain itu, beberapa ruas jalur
melintasi ceruk-ceruk bukit. Di ruas Kroya hingga Kutoarjo, belum tampak pembangunan rel
ganda itu. Sebelumnya telah diberitakan pembangunan ruas ini bisa dimulai pada April lalu.
Ruas itu memiliki panjang 76 kilometer. Pemenang tender untuk proyek senilai Rp 2,3 triliun
adalah PT Adhi Karya (Persero) Tbk. Pendanaan proyek berasal dari utang Pemerintah
Jepang.
Direktur Utama PT Adhi Karya (Persero) Tbk Kiswodarmawan ketika dikonfirmasi

mengatakan, pihaknya siap melaksanakan pembangunan jalur ganda Kroya-Kutoarjo.


Namun, untuk melaksanakannya, Adhi menunggu komando dari Kementerian Perhubungan.
Hingga saat ini, Adhi belum teken kontrak. Kami menunggu keputusan dari Kemenhub,
kata

Kiswo.

Sementara itu Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemenhub JA Barata menjelaskan, saat ini
kontrak

pembangunan

jalur

ganda

selatan

itu

masih

dalam

pembahasan.

Yang akan mengerjakan Tokyu Adhi Karya, yang merupakan konsorsium antara Adhi Karya
dan sebuah perusahaan Jepang. Namun, saat ini kontrak masih dalam pembahasan untuk
detailnya,

tutur

Barata.

Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Hermanto Dwiatmoko, di


Jakarta, Senin (12/5/2014), menjelaskan, hingga kini kontrak belum ditandatangani karena
kesepakatan jika terjadi sengketa dan mengenai eskalasi harga apabila terjadi perubahan
kondisi

di

lapangan

sedang

dalam

pembahasan.

Kontraknya memang dibahas ulang karena saya diberi tahu oleh inspektorat mengenai hal
ini. Anggaran pembangunan jalur ganda selatan ini cukup besar, Rp 2,3 triliun. Apabila
terjadi perubahan harga, saya mau ada persetujuan dari BPKP dulu, ungkap Hermanto.
Jalur angkutan kereta di selatan sebenarnya lebih ramai dibandingkan jalur utara. Namun,
jalur

selatan

cenderung

jarak

pendek

antarkota.

Menurut Kepala Humas PT Kereta Api Indonesia Sugeng Priyono, apabila jalur kereta itu
diubah dari jalur tunggal menjadi jalur ganda, kapasitas jalur akan bertambah.
Jumlah frekuensi bisa bertambah dua kali lipat karena slot perjalanan akan bertambah.
Selain itu waktu tempuh juga akan semakin pendek karena tak perlu menunggu untuk
bergantian

rel,

papar

Sugeng.

Pembangunan jalur ganda di lintas utara telah mempercepat waktu tempuh hingga dua jam,
sedangkan untuk lintas selatan diperkirakan bisa mempercepat waktu tempuh hingga tiga
jam.
Berdasarkan data PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasional V Purwokerto, saat ini
terdapat 21 titik rawan bencana di wilayah tersebut, terdiri dari 9 titik rawan longsor, 11 titik
rawan

ambles,

dan

titik

rawan

banjir.

Titik rawan longsor di antaranya berada di jalur Stasiun Notog-Kebasen (Banyumas),


Tambak-Ijo (Kebumen), dan Wonosari-Kutowinangun (Kebumen). Adapun jalur rel rawan
ambles

berada

di

relasi

Stasiun

Ijo-Karanganyar

dan

Wonosari-Kutowinangun.

Itu yang membuat perencanaan teknis lintas selatan lebih sulit ketimbang jalur utara yang
relatif landai, ungkap Surono, Manajer Humas PT KAI Daop V Purwokerto. (GRE/ARN)
Editor : Bambang Priyo Jatmiko
Sumber : KOMPAS CETAK,

PEMBAHASAN

Nama Proyek: Pembangunan Jalur Ganda Jalur Selatan


Pelaksana Proyek: PT. Adhi Karya (Persero)
Pengguna: PT. KAI
Berdasarkan artikel tersebut, proyek pembangunan rel ganda jalur selatan tergolong
proyek yang berhasil. Tujuan proyek sudah jelas yaitu pembangunan rel ganda jalur
selatan untuk memperlancar arus transportasi kereta api, baik untuk angkutan
penumpang dan barang, mempersingkat waktu tempuh. Selain itu proyek
pembangunan rel ganda mendukung program nawacita presiden, sehingga mendapat
dukungan penuh dari pemerintah. Pada proses pengerjaannya, proyek ini dibagi
menjadi beberapa tahapan pengerjaan. Dalam hal pendanaan, proyek ini
menggunakan sistem tender. Asumsi yang digunakan juga tidak jauh berbeda yaitu
untuk daerah rawan bencana terletak di Jawa Tengah dan adanya jembatan yang
dalam pembangunannya membutuhkan pertimbangan yang matang. Terdapat sedikit
tidak efektifnya komunikasi antara pemenang tender dan dinas perhubungan terkait
penandatanganan kontrak. Selebihnya, target pembangunan rel tercapai untuk setiap
tahapan pengerjaan.