You are on page 1of 9

Padang, 26 Maret 2015

Permukiman Kumuh dan Upaya Penanganannya

Oleh:
Sepris Yonaldi
City Changer
Provinsi Sumatera Barat

Permukiman kumuh merupakan masalah yang dihadapi oleh hampir semua kota-kota besar di Indonesia,
bahkan kota-kota besar di negara berkembang lainnya. Telaah tentang permukiman kumuh (slum), pada
umumnya mencakup tiga segi, yaitu, pertama, kondisi fisiknya. Kondisi fisik tersebut antara lain tampak
dari kondisi bangunannya yang sangat rapat dengan kualitas konstruksi rendah, jaringan jalan tidak
berpola dan tidak diperkeras, sanitasi umum dan drainase tidak berfungsi serta sampah belum dikelola
dengan baik. Kedua, kondisi sosial ekonomi budaya komunitas yang bermukim di permukiman tersebut.
Kondisi sosial ekonomi masyarakat yang berada di kawasan permukiman kumuh antara lain mencakup
tingkat pendapatan rendah, norma sosial yang longgar, budaya kemiskinan yang mewarnai
kehidupannya yang antara lain tampak dari sikap dan perilaku yang apatis. Ketiga, dampak oleh kedua
kondisi tersebut. Kondisi tersebut sering juga mengakibatkan kondisi kesehatan yang buruk, sumber
pencemaran, sumber penyebaran penyakit dan perilaku menyimpang, yang berdampak pada kehidupan
keseluruhannya.
Kawasan permukiman kumuh dianggap sebagai penyakit kota yang harus diatasi. Pertumbuhan
penduduk merupakan faktor utama yang mendorong pertumbuhan permukiman. Sedangkan kondisi
sosial ekonomi masyarakat dan kemampuan pengelola kota akan menentukan kualitas permukiman yang
terwujud. Permukiman kumuh adalah produk pertumbuhan penduduk kemiskinan dan kurangnya
pemerintah dalam mengendalikan pertumbuhan dan menyediakan pelayanan kota yang memadai.
Jumlah penduduk global di perkotaan diperkirakan akan mencapai 60% pada tahun 2030, dan 70% pada
tahun 2050. Jumlah kota berpenduduk lebih dari 1 juta jiwa akan mencapai 450 kota, dengan lebih dari
20 kota sebagai megacity, dengan penduduk melampaui 10 juta jiwa. Kondisi kota-kota di Indonesia yang
berkembang dan berfungsi sebagai pusat-pusat kegiatan mengundang penduduk daerah sekitarnya
untuk datang mencari lapangan kerja dan kehidupan yang lebih baik. Mereka yang bermigrasi ke
perkotaan relatif meningkat dari tahun ke tahun. Mereka ini berasal dari latar belakang sosial ekonomi
yang berbeda-beda dan sebagian dari mereka datang tanpa tujuan yang jelas.
Di lain pihak kota belum siap dengan rencana sistem perkotaan guna mengakomodasi perkembangan
kegiatan perkotaan dalam sistem rencana tata ruang kota dengan berbagai aspek dan implikasinya
termasuk di dalamnya menerima, mengatur dan mendayagunakan pendatang. Akibatnya terjadi
aktivitas yang sangat heterogen dan tidak dalam kesatuan sistem kegiatan perkotaan yang terencana,
yang mengakibatkan terjadinya kantong-kantong kegiatan yang tidak saling menunjang, termasuk
dengan munculnya permukiman yang berkembang di luar rencana sehingga terbentuklah permukimanpermukiman kumuh.
Terbatasnya dana yang dimiliki pemerintah untuk penataan dan pengelolaan kota dalam menghadapi
masalah kependudukan tersebut di atas juga telah menyebabkan fasilitas perumahan dan permukiman
menjadi terbatas dan mahal pembiayaannya. Di daerah perkotaan, warga yang paling tidak terpenuhi
kebutuhan fasilitas perumahan dan permukimannya secara memadai adalah mereka yang tergolong
berpenghasilan rendah dan atau dengan kata lain orang miskin. Abrams (1964) misalnya mengatakan
bahwa pada waktu seseorang dihadapkan pada sebuah masalah mengenai pengeluaran yang harus
dilakukan untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan hidupnya, makan, berpakaian, dan pengobatan untuk
kesehatan, maka yang pertama dikorbankan adalah pengeluaran untuk rumah dan tempat tinggalnya.
Masalahnya, bagi mereka masyarakat miskin yang berpenghasilan rendah, tidak dapat mengabaikan
begitu saja kebutuhan akan rumah dan tempat tinggal karena masalah ini penting dalam dan bagi
kehidupan mereka, tetapi di satu sisi mereka juga tidak mampu untuk mengeluarkan biaya prioritas bagi
pengembangan dan pemeliharaan rumah dan lingkungan permukimannya agar layak untuk dihuni.
Semakin kecil bagian dari penghasilan yang dapat disisihkan guna pembiayaan pemeliharaan rumah dan
fasilitas permukiman, semakin kumuh pula kondisi permukimannya.
Jika pertumbuhan lingkunan permukiman kumuh ini dibiarkan, derajat kualitas hidup masyarakat miskin
akan tetap rendah. Akan mudah menyebabkan kebakaran, memberi peluang tindakan kriminalitas,
terganggunya norma tata susila, tidak teraturnya tata guna tanah dan sering menimbulkan banjir yang
akhirnya menimbulkan degradasi lingkungan yang semakin parah. Penggusuran pada permukiman

kampung kota yang kumuh oleh pihak-pihak terkait tidak sepenuhnya menyelesaikan masalah, selain
cara ini tidak manusiawi, para pemukim kembali menyerobot tanah terbuka lainnya sehingga hilang satu
akan tumbuh dua atau lebih permukiman kumuh yang baru lagi.
Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum berperan dalam menangani kawasan
kumuh dengan melakukan penataan lingkungan maupun penyediaan rumah layak huni dan
berkelanjutan. Ditjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum menyebutnya dengan Key Performance
Indicators 100-0-100. Bahasa sederhana tersebut merupakan aktualisasi visi Cipta Karya untuk
mewujudkan permukiman yang layak huni dan berkelanjutan pada lima tahun ke depan.
Menjawab tantangan tersebut, pemerintah memberikan fasilitas pembangunan prasarana dan sarana
dasar permukiman seperti air minum, sanitasi, jalan lingkungan, revitalisasi kawasan, dan peningkatan
kualitas permukiman serta penyediaan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa). Pelaksanaan
pembangunan prasarana dan sarana dasar permukiman tersebut juga dilaksanakan dengan model
pemberdayaan yang melibatkan masyarakat sejak perencanaan sampai dengan operasi dan
pemeliharaan insfrastruktur, salah satu program yang diinisiasi oleh pemerintah untuk mewujudkan visi
tersebut adalah Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas (PLPBK).
PLPBK pada dasarnya adalah kelanjutan dari transformasi sosial Program Nasional Pemberdayaan
Masyarakat (PNPM) Mandiri Perkotaan sehingga beberapa prinsip dasar yang digunakan di PNPM Mandiri
Perkotaan seperti demokrasi, partisipasi, transparansi, akuntabel dan desentraliasi, dan sebagainya juga
menjadi prinsip dasar pada pelaksanaan PLPBK. Meskipun pembangunan manusia melalui pembangunan
bidang sosial, ekonomi dan lingkungan masih tetap menjadi andalan utama dalam penanggulangan
kemiskinan. Namun, secara khusus dalam program PLPBK pembangunan lingkungan diberikan
penekanan khusus untuk mewujudkan perubahan perilaku masyarakat yang sejalan dengan
menciptakan lingkungan hunian yang kondusif terhadap berbagai aspek pembangunan manusia
sehingga penanggulangan kemiskinan melalui pembangunan manusia seutuhnya (spiritual dan material)
dengan segera terwujud.
Untuk mewujudkan perilaku masyarakat yang sejalan dengan menciptakan lingkungan hunian yang
kondusif, dibutuhkan komunikasi yang efektif terhadap semua pelaku program. Guna menciptakan
komunikasi yang efektif ini dibutuhkan konsep manajemen pengelolaan kawasan. Konsep ini adalah
gagasan untuk memberikan pembelajaran dalam mengubah pemikiran, sikap dan perilaku masyarakat
yang terorganisir dengan aturan-aturan atau kesepakatan yang dikelola secara bersama berdasarkan
ilmu pengelolaan (manajemen).

Yayan Supriatna mengatakan bahwa Elemen Sosial


Masyarakat sebagai Dasar Pembangunan Permukiman, sbb:
Pertama, Struktur. Adalah elemen dasar yang membentuk suatu keteraturan dari kehidupan
sosial (social life). Struktur adalah setiap tindakan atau alat yang digunakan pihak yang berkuasa untuk
mengatur, memerintah sampai mengeksploitasi. Struktur sosial adalah pola hubungan antara kelompok
sosial, memiliki sifat mengatur, menghambat dan memberi kendala tetapi sekaligus memberi fasilitas
pada tindakan manusia (aktor).
Kedua, Kultur. Sistem nilai, norma, sistem kepercayaan dan semua kebiasaan serta adat istiadat, yang
telah mendarah daging (internalized) pada sistem kepribadian individu/masyarakat sehingga memiliki
kekuatan membentuk dan menjadi pedoman pola perilaku dan sikap anggota masyarakat (dari dalam).
Ketiga, Proses Sosial. Adalah arena yang dapat menjadi sumber perubahan struktur maupun
kultur. Social order is a negotiated order. Negosiasi yang dinamis dan kreatif antaranggota

masyarakat, mengembangkan kualitas dan kuantitas ruang dan kesempatan untuk berlangsungnya
proses sosial yang dinamis.
Contohnya, interaksi antara masyarakatCity Changer . Kesepakatan untuk melakukan perubahan,
interaksi antarkomponen masyarakat dengan aparat pemerintah. Kesempatan berdiskusi dan berwacana
di warung kopi, di lokasi kegiatan sampai di seminar dan kesempatan bernegosiasi, untuk melakukan
perubahan terhadap struktur (aturan) dan kultur (kebiasaan) masyarakat. [PL-CC Sumbar]
Editor: Nina Razad

Banda Aceh, 4 Oktober 2016


Banda Aceh dengan Target Pencapaian Masalah Kumuh Pengelolaan Air Limbah

Oleh:
Cut Silvia Suciatina
Sub Safeguard
OSP 10 Provinsi Aceh
Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2015-2019 menetapkan, untuk
pencapaian Target 100-0-100, yaitu 100% akses air minum, 0% kawasan kumuh, dan 100% akses
sanitasi, membutuhkan kolaborasi, serta dukungan penuh dari semua elemen--pemerintah pusat,
pemerintah daerah kabupaten/kota, masyarakat, swasta, dunia usaha dan lain-lain. Dengan kolaborasi
ini diharapkan akan mendapatkan pencapaian maksimal sesuai dengan target di akhir 2019.
Melalui Dinas PU Cipta Karya Pemerintah Kota (Pemko) Banda Aceh siap menindaklanjuti program dari
pemerintah pusat terkait permukiman kumuh. Perencanaan dan penanganan masalah kumuh yang
terlaksana harus saling terintegrasi. Banda Aceh sebagai ibu kota Provinsi Aceh juga tidak sepenuhnya
terlepas dari permasalahan kekumuhan ini. Di wilayah Kota Banda Aceh masih banyak terdapat
lingkungan dan permukiman yang berkualitas rendah. Memang tidak sampai terdapat permukiman
kumuh dengan kondisi sangat parah seperti di kotabkota Besar lainnya di Indonesia, tapi Pemko Banda
Aceh harus menanggapi dengan serius persoalan permukiman kumuh. Jika terus dibiarkan maka kumuh
akan jadi lebih parah dan lebih sulit ditangani.
Kriteria kekumuhan dilihat pada 7 indikator kumuhketeraturan bangunan, drainase, jalan lingkungan,
pengelolaan limbah, pengelolaan sampah, kebakaran, dan penyediaan air minumdan sekarang plus 1
dengan ruang terbuka publik. Secara umum, ada tiga kondisi yang sering digunakan untuk menilai suatu
permukiman dikategorikan kumuh atau tidak, yaitu kondisi fisik, kondisi sosial, ekonomi dan budaya
masyarakat, serta dampak dari kedua kondisi tersebut.
Pertama, kondisi fisik bangunan. Dari segi fisik bangunan, terlihat yang sangat rapat/berdekatan, serta
kualitas konstruksi bangunan yang rendah. Selain itu, jaringan jalan tidak berpola, dan tidak diperkeras,
sanitasi dan drainase tidak berfungsi serta sampah yang masih belum dikelola dengan baik.
Kedua, kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat. Dari segi kondisi sosial ekonomi masyarakat
yang berada di kawasan permukiman kumuh, tingkat pendapatan penduduk yang rendah (MBR), norma
sosial dan budaya yang longgar, perilaku yang apatis.
Ketiga, dampak dari kedua kondisi tersebut. Dampak dari kondisi tersebut akan mengakibatkan banyak
permasalahan lainnya, seperti kondisi kesehatan yang buruk, sumber pencemaran, sumber penyebaran
penyakit dan perilaku menyimpang, dimana seluruh kondisi tersebut akan berdampak pada kehidupan
masyarakat keseluruhannya.
Berdasarkan SK Revisi keputusan Wali Kota Banda Aceh Nomor 468 Tahun 2015 tentang Penetapan
Lokasi Perumahan Kumuh dan Permukiman Kumuh di Kota Banda Aceh, ada sejumlah 22 kawasan di
34 gampong yang tersebar di 9 kecamatan dengan total luasan kumuh sebesar 462,73 Ha. Keseluruhan
lokasi ini dibagi kedalam dua tingkatan berdasarkan kondisi kualitas lingkungan di masing-masing lokasi
yaitu kumuh tinggi dan kumuh rendah.

Dari 40 lokasi (kawasan) prioritas tahun 2016, untuk Banda Aceh memiliki 4 gampong prioritas, yaitu
Gampong Alue Naga (77,031 Ha), Lueng Bata (73,74 Ha), Keuramat (34,65 Ha), Peuniti (27,98 Ha), dan
Lampulo (24,34 Ha). Besarnya wilayah permukiman kumuh yang mencapai kurang lebih 797 Ha di Banda
Aceh ini memerlukan penanganan yang serius melalui indikasi kegiatan penanganan.
Sudah banyak program-program pemerintah yang telah dilakukan untuk mengatasi permasalahanpermasalahan permukiman kumuh. Sudah tuntas kah? Tentu saja belum. Ini disebabkan upayaupaya penanganan yang sudah dilaksanakan sampai saat ini, masih bersifat sektoral dan belum
terintegrasi secara menyeluruh. Belum optimalnya dukungan dari segi pendanaan dan investasi dalam
penanganan kawasan kumuh, juga menjadi salah satu sebab kenapa belum tuntasnya permasalahan
permukiman kumuh. Selanjutnya, selain penanganan masalah permukiman kumuh, untuk Kota Banda
Aceh perlu juga dilakukan upaya pencegahan. Pencegahan terhadap permukiman kumuh diharapkan
agar tidak ada penambahan lokasi kumuh di Kota Banda Aceh sehingga di tahun 2019, dimana target
Pemko Banda Aceh adalah menurunkan daerah kumuh hingga 0% dapat terwujud.
Contoh salah satu target penanganan masalah kumuh untuk pencapaian sanitasi yang layak. Pemko
Banda Aceh telah menetapkan empat sektor penanganan Sanitasi Kota Banda Aceh, yaitu air limbah,
persampahan, drainase, dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Permasalahan pengelolaan air limbah di Kota Banda Aceh sudah sangat komplek. Pemahaman
masyarakat Kota Banda Aceh masih minim dan menggantungkan kepentingan pengelolaan air limbah
domestik kepada Pemerintah daerah. Minimnya respon masyarakat dan swasta terhadap penyuluhan
pengelolaan air limbah juga menambah daftar panjang permasalahan pengelolaan air limbah di Kota
Banda Aceh. Selain itu, sulitnya mendapatkan lahan untuk pembangunan sarana dan prasarana air
limbah, juga disebabkan pemahaman masyarakat yang masih minim mengenai pentingnya sarana dan
prasarana air limbah.
Sebagai salah satu contoh permasalahan kumuh saat ini, berdasarkan sumber dari Bidang Cipta Karya,
dengan survei yang sudah dilakukan menunjukkan masih terdapat jarak tangki septik dengan sumber air
minum kurang dari 10 meter sebesar 21,8%. Fakta ini tentunya sangat memprihatinkan dan perlu segera
ditangani, sehingga perlu ditunjuk lembaga/instansi yang mengelola pengolahan air limbah domestik
tersebut. Masih terdapat 5,6% warga Kota Banda Aceh menyalurkan BAB di luar Tangki Septik dan 94,4%
masyarakat sudah menggunakan tangki septik.
Akan hal itu, program Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Limbah yang menjadi salah satu tugas dari
Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum Kota Banda Aceh, program ini mencakup kegiatan
penyediaan prasarana dan sarana air limbah, fasilitasi pembinaan teknik pengolahan air limbah, dan
rehabilitasi/pemeliharaan sarana dan prasarana air limbah. Tujuan utama dari program pengembangan
kinerja pengelolaan air limbah ini adalah Meningkatkan kualitas lingkungan yang sehat dan bersih di
Kota Banda Aceh melalui pengelolaan air limbah yang berwawasan lingkungan tahun 2019.
Untuk mencapai tujuan tersebut di atas, kajian masalah air limbah ditetapkan empat sasaran yang harus
dicapai pada tahun 2019 untuk Kota Banda Aceh. Yaitu, pertama, tidak ada lagi penyaluran buangan
akhir ke tempat selain tangki septic yang dimulai untuk zona prioritas. Kedua, peningkatan pemahaman
masyarakat terhadap dampak negatif dari limbah yang dihasilkan dari rumah tangga. Ketiga, terbentuk
lembaga khusus yang menangani pengelolaan sarana dan prasarana air limbah. Keempat, tersedianya
Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) kawasan pada zona prioritas
Selanjutnya, direncanakan lima langkah strategis yang akan dilaksanakan untuk mencapai sasaran yang
telah ditetapkan pada tahun 2019, yaitu (1) Kajian kelayakan pengelolaan air limbah sehingga
menghasilkan DED air limbah, (2) mengoptimalkan operasi dan pemeliharaan MCK dan IPAL/septic
tank melalui pengorganisasian masyarakat dalam kelompok, (3) meningkatkan pemeliharan sarana dan
prasarana air limbah, (4) membentuk lembaga khusus untuk menangani pengelolaan air limbah, (5)
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pengelola sarana dan prasana air limbah.
Agar kegiatan pengelolaan sarana dan prasarana pengolahan air limbah dapat lebih terfokus, wilayah
kerja kegiatan ini dibagi dalam 5 zona kerja di mana setiap zona diatur berdasarkan skala priotas
penanganan, sehingga wilayah dengan pencemaran air terparah dapat segera ditangani dengan
tersedianya IPAL kawasan di zona prioritas ini. IPAL yang dimaksudkan di sini adalah instalasi pengolahan
air limbah yang merupakan sebuah struktur yang dirancang untuk memproses dan mengolah serta
membuang limbah biologis dan kimia dari air sehingga menjadi air level 3 yang dapat digunakan pada
aktivitas yang lain atau langsung dialirkan kesaluran umum tanpa adanya pencemaran pada lingkungan.
Di Banda Aceh telah dibangun beberapa IPAL yang hasil pengolahannya dapat langsung dialirkan ke
saluran umum dengan tujuan tidak adanya lagi pencemaran lingkungan. IPAL yang sudah dibangun

adalah IPAL Pasar Ikan Peunayong, Pasar Batoh, Pasar Setui, dan Pasar Peuniti, Selain itu dibangun pula
IPAL domestik yang berlokasi di Gampong Peunayong dan Beurawe.
IPAL pasar dibangun untuk limbah dari pasar tetapi saat ini IPAL terbangun tidak berfungsi dengan baik
karena IPAL dijadikan tempat pembuangan sampah oleh para pedagang. Hal ini tentu memprihatinkan,
sehingga perlu dilakukan sosialisasi kepada pedagang dan pihak pasar dalam pengelolaan IPAL sudah
yang ada. Diharapkan akan terus dilakukan kerjasama dari berbagai pihak secara komprehensif, yang
mana harapannya pada tahun 2019 seluruh sasaran yang telah ditetapkan dapat tercapai dan
lingkungan Kota Banda Aceh yang bersih dan sehat dapat terwujud.
Untuk IPAL domestik kapasitas 50 KK yang dibangun belum ada sambungan rumah karena masyarakat
masih mau memakai septik tank onsite. Sedangkan di dalam kegiatan penyediaan sarana dan prasarana
air limbah, telah dibangun 13 unit MCK plus dari tahun 2011 sampai tahun 2015, setiap unit MCK plus ini
terdiri dari bangunan atas berupa MCK dan tangki septik (IPAL) dengan teknologi Anaerobic Up-flow
Filter, dengan ini diharapkan dapat terjadi pengurangan pencemaran yang dihasilkan dari MCK yang
berlokasi di tempat-tempat umum.
Berdasarkan lokakarya Memorandum Program Sanitasi (MPS), untuk melaksanakan kegiatan ini dari 2015
sampai tahun 2019 diperkirakan akan memakan biaya sekitar Rp237.504.000.000 yang berasal dari tiga
sumber pembiayaan yaitu APBK (5%), APBA (2%) dan APBN (93%). Selain kegiatan dengan sumber dana
tersebut diatas, di tahun 2015 juga telah dilaksanakan Tahap 1 pembangunan 1 unit IPAL untuk 30 SR
yang didanai oleh International Development Bank (IDB) yang berlokasi di Gampong Ceurih, Dusun Tgk.
Di Cot, kegiatan ini masih berlanjut di tahun 2016 untuk tahap selanjutnya.
Sementara Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat juga
telah melaksanakan kegiatan Pembangunan IPAL dan Jaringan Air Limbah Kota Banda Aceh dari
Gampong Peuniti sampai ke Gampong Jawa yang dimulai pada akhir tahun 2015 dan diharapkan selesai
pada akhir tahun 2017, dalam kegiatan ini mencakup 3 pekerjaan utama, yaitu (1) pekerjaan jaringan
perpipaan air limbah Peuniti 1 dan Peuniti 2, (2) pekerjaan pemipaan dari Peuniti ke IPAL Gampong Jawa,
(3) pekerjaan pembangunan IPAL Gampong Jawa dan sarana pendukungnya, (4) pada tahun 2016, selain
pekerjaan lanjutan di atas, direncanakan pula pembangunan 8 unit toilet umum dan 2 unit tangki septik
dengan 10 SR. [Aceh]
Editor: Nina Razad

Medan, 29 September 2016


Alternatif Model Penanganan Permukiman Kumuh

Oleh:
Nurwino Wajib
TA. Pelatihan
OC 1 Provinsi Sumatera Utara
Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)
Pada dasarnya permukiman kumuh terdiri dari beberapa aspek penting, yaitu lahan, rumah, perumahan,
komunitas, sarana dan prasarana dasar, yang terjalin dalam suatu sistem sosial, ekonomi dan budaya
baik dalam suatu ekosistem lingkungan permukiman kumuh itu sendiri atau ekosistem kota. Permukiman
kumuh harus dipandang secara utuh dan intgral dalam dimensi yang lebih luas. Menurut Suparno
(2006), beberapa dimensi permukiman kumuh yang senantiasa harus mendapat perhatian serius adalah
permasalahan lahan di perkotaan, permasalahan prasarana dan sarana dasar, permasalahan sosial
ekonomi, permasalahan sosial budaya, permasalahan tata ruang kota, permasalahan aksesibilitas.
Sampai saat ini, pengertian tentang permukiman kumuh masih beragam, tergantung dari aspek mana
para ahli memandang penyebab permasalahan kekumuhan suatu kawasan. Menurut Yudohusodo (1991),
permukiman kumuh adalah suatu kawasan dengan bentuk hunian yang tidak berstruktur, tidak berpola
misalnya letak rumah dan jalannya tidak beraturan, tidak tersedianya fasilitas umum, prasarana dan
sarana air bersih, MCKbentuk fisiknya yang tidak layak misalnya secara reguler tiap tahun kebanjiran.
Menurut Budiharjo (1997), permukiman kumuh adalah lingkungan hunian yang kualitasnya sangat tidak
layak huni, ciri-cirinya antara lain berada pada lahan yang tidak sesuai dengan peruntukan/tata ruang,
kepadatan bangunan sangat tinggi dalam luasan yang sangat terbatas, rawan penyakit sosial dan
penyakit lingkungan, serta kualitas bangunan yang sangat rendah, tidak terlayani prasarana lingkungan
yang memadai dan membahayakan keberlangsungan kehidupan dan penghidupan penghuninya
(Budiharjo: 1997).
Menurut UU No.1 Tahun 2011, permukiman kumuh adalah permukiman yang tidak layak huni karena
ketidak teraturan bangunan, tingkat kepadatan bangunan yang tinggi, dan kualitas bangunan serta
sarana dan prasarana yang tidak memenuhi syarat.
Menurut Suparlan (2002), dalam Syaiful. A (2002) bahwa permukiman dapat digolongkan sebagai
permukiman kumuh karena, pertama, kondisi dari permukiman tersebut ditandai oleh bangunan rumahrumah hunian yang dibangun secara semrawut dan memadati hampir setiap sudut permukiman, dimana
setiap rumah dibangun diatas tanah tanpa halaman. Kedua, jalan-jalan yang ada diantara rumah-rumah

seperti labirin, sempit dan berkelok-kelok, serta becek karena tergenang air limbah yang ada disaluran
yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Ketiga, sampah berserakan dimana-mana, dengan udara
yang pengap dan berbau busuk. Keempat, fasilitas umum kurang atau tidak memadai. Kelima, kondisi
fisik hunian atau rumah pada umumnya mengungkapkan kemiskinan dan kekumuhan, karena tidak
terawat dengan baik.
Poin penting yang dapat dipahami dari beberapa definisi dan pengertian tentang permukiman kumuh
menurut beberapa ahli dan UU adalah bahwa kekumuhan harus ditangani dengan serius dengan
strategi dan model penanganan yang baik dan tepat. Keberadaan kawasan permukiman kumuh
diperkotaan dapat menjadi masalah serius bagi masyarakat maupun pemerintah, baik ditinjau dari aspek
keruangan, estetika, lingkungan dan sosial. (Yudohusodo, 1995).
Beberapa faktor pendorong timbulnya permukiman kumuh di perkotaan adalah arus urbanisasi
penduduk, kondisi sosial ekonomi masyarakat, kondisi sosial budaya masyarakat, karateristik fisik alami.
Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP),
secara eksplisit dicantumkan bahwa salah satu ruang lingkup penyelenggaraan PKP adalah pencegahan
dan peningkatan kualitas terhadap perumahan kumuh dan permukiman kumuh. Hal ini yang kemudian
diterjemahkan dalam bentuk kebijakan, strategi dan program oleh berbagai institusi pemerintah yang
bertanggungjawab.
Membaca artikel dari Denpasar yang ditulis oleh TL OSP 7 Provinsi Bali Indro Budiono, dengan judul LC,
Model Alternatif Tangani dan Cegah Permukiman Kumuh Perkotaan memberikan masukan bagi kita
bahwa pengambil kebijakan wajib memiliki strategi dalam penanganan kumuh berdasarkan kajian dan
analisis tajam dan baik dengan mempertimbangkan berbagai faktor seperti kondisi wilayah, karakteristik
penduduk, status lahan, kepadatan bangunan, tingkat kekumuhan, kesesuaian dengan tata ruang dan
faktor lain yang mendukung agar strategi dan kebijakan yang diambil melahirkan pembangunan yang
membahagiakan.
Ada beberapa model yang dapat dipergunakan sebagai alternatif dalam menangani masalah
permukiman kumuh di perkotaan antara lain, pertama, Model Land Sharing I. Model land sharing adalah
penataan ulang di atas lahan dengan tingkat kepemilikan masyarakat cukup tinggi. Dalam penataan
tersebut, masyarakat akan mendapatkan kembali lahannya dengan luasan yang sama sebagaimana
yang selama ini dimiliki/dihuni secara sah, dengan memperhitungkan kebutuhan untuk prasarana umum
(jalan, saluran). Beberapa syarat untuk penanganan yang akan dilakukan, antara lain, (1) tingkat
pemilikan/penghunian secara sah (mempunyai bukti pemilikan/penguasaan atas lahan yang
ditempatinya) cukup tinggi dengan luasan yang terbatas, (2) tingkat kekumuhan tinggi, dengan
ketersediaan lahan yang memadai untuk menempatkan prasarana dan sarana dasar, (3) tata letak
bangunan tidak berpola.
Kedua, Model Land Sharing II. Menurut Angel dan Boonyabancha (1988), land sharing merupakan proses
sharing lahan, terjadi dengan kondisi (1) lahan dimiliki oleh satu orang/instansi, (2) Lahan yang dulunya
dalam keadaan kosong diokupasi/dihuni secara liar oleh sekelompok orang, (3) lahan mau digunakan
kembali oleh pemilik dengan konsekuensi membagi lahan menjadi duasebagian besar untuk pemilik
lahan dan sisanya untuk pemukim liar, (4) keputusan bersama/atas persetujuan dua belah pihak, dan (5)
masyarakat mau berperan aktif dalam proses tersebutikut serta dalam memberikan ide/pemikiran.
Hal ini bisa diterapkan di Indonesia, dimana banyak lahan milik pemerintah (kebanyakan di tepian
sungai, areal PTPN atau rel kereta api) biasanya dihuni secara liar oleh masyarakat berpenghasilan
rendah (MBR) dengan membangun Rusunawa, tentunya dengan pengawasan yang ketat dan kontinyu
agar tidak terjadi penyelewengan pengguna.
Ketiga, Model Land Readjusment. Menurut Doebele (1982), land-readjustment adalah proses penataan
lahan kembali, dilaksanakan dengan kondisi (1) lahan dimiliki oleh beberapa orang pada satu lokasi,
biasanya merupakan lahan pertanian yang diperjual belikan secara acak, (2) lahan kemudian
dibangun/dihuni oleh pemilik, biasanya bentuk lahan tidak beraturan atau kurang sarana prasarana
seperti jalan lingkungan, taman dan pedestrian, (3) pemilik ingin menata lahan untuk meningkatkan
kualitas permukiman dan harga lahan, (4) pengaturan lahan secara keseluruhan disesuaikan dengan
proporsi 70%-30%, yaitu 70 untuk pemilik dan 30 untuk fasilitas (jalan dan taman), (5) dilakukan
bersama-sama dengan persetujuan semua pihak.
Proses ini dapat dilakukan pada hunian-hunian kampung di Indonesia agar bentuk lahan tertata serta
memudahkan akses kendaraan. Selain itu proses ini dimaksudkan agar masyarakat memiliki hidup yang
sehat, aman dan bebas kumuh. Proses land readjusment banyak dilakukan di Bali, menurut beberpa
penelitian menunjukkan bahwa hal ini dapat dilaksanakan lebih dikarenakan warganya bisa berkompromi
agar mengiklaskan sebagian lahan untuk di bangun jalan bersama.

Keempat, Model Konsolidasi Lahan (Land Consolidation). Konsolidasi lahan adalah bentuk kegiatan
mengenai pengelolaan tata guna lahan dengan cara pengaturan kembali penggunaan lahan dan
penguasaan bidang-bidang tanah. Sasaran dari konsolidasi lahan itu sendiri adalah penataan kembali
penggunaan dan penguasaan tanah pada suatu kawasan yang kondisinya dinilai kurang memenuhi
syarat untuk menjadi kawasan yang lebih baik (Indra,2012).
Konsolidasi lahan merupakan suatu kegiatan terpadu menata (kembali) suatu wilayah yang tidak teratur
menjadi teratur, lengkap dengan prasarana dan kemudahan yang diperlukan, agar tercapai penggunaan
tanah / lahan secara optimal yang pada prinsipnya dilaksanakan atas swadaya masyarakat sendiri.
Konsolidasi lahan juga merupakan suatu sistem pengembangan lahan inkonvensional yang saat ini telah
diterapkan di Indonesia, antara lain, Denpasar, Bandung, Palu, Kendari dan beberapa kota lain.
Pada prinsipnya secara konseptual konsolidasi lahan kota mengandung tujuan: (1) menggabungkan
secara sistematis lahan yang berpencar-pencar dan tidak teratur disesuaikan dengan tata ruang, (2)
mendistribusikan lahan yang telah ada dikonsolidasikan kepada pemilik lahan secara proporsional, (3)
mengatur bentuk dan letak persil kepemilikan, (4) meningkatkan nilai ekonomis melalui pengadaan
prasarana dan sarana lingkungan yang memadai di atas lahan yang disumbangkan oleh pemilik.
Prinsip dasar konsolidasi lahan adalah (1) kegiatan konsolidasi lahan membiayai dirinya sendiri, (2)
adanya land polling yang juga merupakan ciri khas konsolidasi lahan, (3) hak atas tanah sebelum dan
sesudah konsolidasi tidak berubah menjadi lebih tinggi atau lebih rendah, (4) melibatkan peran serta
secara aktif para pemilik tanah, (5) tanah yang diberikan kembali pada pemilik mempunyai nilai yang
lebih tinggi dari pada sebelum konsolidasi tanah.
Kelima, Model Resettlement. Menurut Johara T.J. (1999). Resetlement atau permukiman kembali pada
umumnya dilakukan melalui program transmigrasi yaitu perpindahan penduduk (migrasi) dari suatu
daerah yang rapat penduduknya umumnya di Pulau Jawa menuju daerah yang masih jarang
penduduknya biasanya terdapat diluar Pulau Jawa dengan tujuan untuk mendapatkan kehidupan yang
lebih baik dan diharapkan dapat meningkatkan integrasi nasional dalam ekonomi dan sosial.
Resettlement atau pemindahan penduduk pada suatu kawasan yang khusus disediakan. Pemindahan
penduduk biasanya memakan waktu dan biaya sosial yang cukup besar, termasuk kemungkinan
tumbuhnya kerusuhan atau keresahan masyarakat. Pemindahan ini apabila permukiman berada pada
kawasan fungsional yang akan/perlu direvitalisasi sehingga memberikan nilai ekonomi bagi pemerintah
kabupaten/kota.
Keenam, Model Pembangunan Rumah Susun. Pembangunan rumah susun merupakan suatu model
penanganan permukiman kumuh perkotaan dengan mengubah kondisi lingkungan permukiman yang
sangat padat penduduknya dan dinilai tidak memenuhi syarat lagi sebagai tempat hunian yang layak.
Cara yang dilakukan dalam pembangunan rumah susun adalah dengan memperkecil lahan untuk
perumahan tetapi dengan meningkatkan luas lantai. Lahan sisa (residual land) dimanfaatkan untuk
penempatan fungsi perkotaan produktif misalnya komersial, perkantoran atau pusat hiburan dan
penempatan prasarana lingkungan (jalan dan utilitas umum) dan sarana lingkungan (fasilitas sosial dan
fasilitas umum). Rumah susun merupakan sebagai suatu bangunan rumah bertingkat yang distrukturkan
secara fungsional dalam arah horizontal dan vertikal terdiri atas satuan atau unit dengan batasan yang
jelas baik ukuran maupun luasnya.
Pembangunan kembali pada kawasan permukiman kumuh secara vertikal maksimal empat lantai dengan
maksud sebagai berikut: supaya dapat menampung seluruh penghuni, harga tanah di pusat kota relatif
tinggi, sebagian tanah digunakan untuk kebutuhan sosial, sebagian tanah dijual kepada pihak swasta
atau pemerintah guna memperkecil biaya pembangunan untuk meringankan harga sewa atau cicilan,
sebagian tanah diserahkan pada pemerintah untuk membangun infrastruktur dan fasilitas sosial lainnya
sebagai pendukung kawasan.
Ketujuh, Model Program Perbaikan Kampung atau Kampung Improvement Program (KIP). KIP merupakan
suatu pola pembangunan kampung yang didasarkan pada partisipasi masyarakat dalam meningkatkan
kualitas lingkungan dan pemenuhan kebutuhannya. Program ini mempunyai prinsip universal yang
berlaku dimana-mana yakni memberdayakan dan menjadikan warga sebagai penentu dan pemanfaat
sumber daya kota guna memperbaiki taraf hidup dan kemampuan untuk maju. Prinsip dari program
perbaikan kampung adalah perbaikan lingkungan kampung-kampung kumuh di pusat kota yang berada
di atas tanah milik masyarakat yang mempunyai kepadatan tinggi.
Menurut Direktorat Cipta Karya, Program Pembangunan Perumahan dan Permukiman, (1998). Ciri-ciri
kondisi kawasan yang dapat diterapkan program perbaikan kampung: (1) berada pada kawasan legal
dan sesuai dengan Rencana Tata Ruang (RTR), (2) tingkat kepadatan tinggi, tetapi masih dalam batas

kewajaran, (3) kualitas Pembangunan Sarana Dasar Pekerjaan Umum (PSDPU) langka dan terbatas, (4)
belum perlu tindakan penataan menyeluruh dan resettlement, (5) dampak permasalahan bersifat lokal.
Analisis Model Penanganan Permukiman Kumuh
Model penanganan permukiman kumuh dapat dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi; status
tanah, kepadatan bangunan, tingkat kekumuhan , kesesuaian dengan Rencana Ulang Tata Ruang (RUTR),
sehingga model penanganan yang ada adalah, pertama, permukiman di atas tanah ilegal dengan kondisi
sebagai berikut: (1) tingkat kekumuhan yang tinggi, (2) penggunaan tata guna tanah yang tidak sesuai
RUTR. Pada kondisi ini maka model penanganan yang tepat adalah peremajaan kota. Beberapa alternatif
yang dapat dipakai sebagai bentuk peremajaan kota adalah pemindahan penduduk (resettlement), dan
pembangunan perumahan vertikal (rumah susun).
Kedua, permukiman kumuh di atas tanah legal dengan kepadatan tinggi. Kondisi ini dapat diatasi dengan
model penanganan (1) Land Sharing, yaitu dilakukan pada kondisi yang luasan tanahnya memungkinkan.
Para pemegang hak atas tanah, merelakan sebagian tanahnya untuk diatur, misalnya dipakai untuk
fasilitas lingkungan atau fasilitas umum untuk memenuhi kelayakan suatu kawasan. (2) Konsolidasi
Lahan, adalah suatu metoda dengan pembangunan yang didasari oleh kebijaksanaan pengaturan
penguasaan tanah, penyesuaian penggunaan tanah dengan rencana tata guna tanah atau tata ruang
dan pengadaan tanah untuk kepentingan pembangunan serta peningkatan kualitas hidup atau
pemeliharaan sumber daya alam. Land Consolidation berarti penataan menyeluruh pada lahan yang
peruntukannya masih sesuai dengan RUTR. Land Consolidation dilakukan pada kondisi-kondisi: (1)
perkembangan permukiman tidak terkendali, (2) tingkat kepemilikan lahan tinggi, (3) tingkat kekumuhan
tinggi, (4) kecenderungan perkembangan ke arah fungsi lahan yang lebih potensial, (5) masyarakat
dapat dikondisikan melalui proses dari bawah (bottom-up).
Ketiga, permukiman kumuh di atas tanah legal yang tidak padat (tidak terlalu kumuh): KIP. Prinsip dasar
dari perbaikan kampung di lakukan adalah perbaikan lingkungan pada kampung-kampung kumuh di
pusat kota yang berada di atas tanah milik masyarakat yang mempunyai kepadatan tinggi.
Keempat, permukiman kumuh di atas tanah legal yang tidak padat. Land Adjusment dilakukan pada
permukiman kumuh yang tidak terlalu padat. Pemilik lahan merelakan sebahagian lahannya untuk untuk
diatur, dibangun sarana dan prasarana dasar agar lingkungan lebih tertata dan dipakai untuk fasilitas
lingkungan atau fasilitas umum untuk memenuhi kelayakan suatu kawasan permukiman.
Agar penanganan permukiman kumuh dapat dilaksanakan dengan baik maka model penanganan
permukiman kumuh wajib berdasarkan pada analisis yang kuat dengan memperhatikan faktor-faktor
seperti kondisi wilayah, karakteristik penduduk, status lahan, kepadatan bangunan, tingkat kekumuhan,
kesesuaian dengan tata ruang dan faktor lain yang mendukung dan tentunya wajib didukung data yang
valid baik data primer maupun skunder dengan memperhatikan sisi efektivitas, efisiensi, kecukupan,
keadilan, responsivitas dan ketepatan sasaran.
Semoga bermanfaat. [Sumut]
Editor: Nina Razad