You are on page 1of 54

PEMETAAN KESESUAIAN HABITAT OWA JAWA

(Hylobates moloch Audebert, 1798)


DI CAGAR ALAM GUNUNG TILU KABUPATEN BANDUNG
DENGAN APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

KATHERYNA BERLIANA

DEPARTEMEN
KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA
FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2009

RINGKASAN
KATHERYNA BERLIANA, Pemetaan Kesesuaian Habitat Owa Jawa
(Hylobates moloch Audebert, 1798) Di Cagar Alam Gunung Tilu Kabupaten
Bandung Dengan Aplikasi Sistem Informasi Geografis, dibimbing oleh Dr.
Ir. Lilik Budi Prasetyo, Msc. dan Dr. Ir. Harnios Arief, Msc.
Owa Jawa merupakan satwa primata endemik di Jawa Barat. Statusnya
saat ini dikategorikan menjadi endangered species (IUCN, 2008). Habitat owa
Jawa terpusat pada hutan dataran rendah dan hutan pegunungan bawah, salah
satunya adalah di Cagar Alam Gunung Tilu. Namun kawasan ini telah mengalami
berbagai permasalahan yang diakibatkan oleh aktivitas manusia seperti
perambahan dan pencurian hasil hutan, terlebih dengan adanya perkebunan di
dalam kawasan. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan kesesuaian hutan owa
Jawa di Cagar Alam Gunung Tilu (CAGT) dengan aplikasi Sistem Informasi
Geografis (SIG).
Pemetaan kesesuaian habitat owa Jawa dimulai dengan pengumpulan data
spasial dan atribut, yang meliputi peta digital, data survei lapang, dan literatur.
Pembuatan peta kesesuaian menggunakan beberapa variabel habitat yang
menentukan kesesuaian habitat owa Jawa yaitu kerapatan tajuk (Leaf Area Index),
ketinggian, kelerengan, dan jarak dari jalan. Variabel tersebut dianalisis dengan
menggunakan SIG dan menghasilkan peta tematik untuk setiap variabel. Hasil
survei distribusi owa Jawa di CAGT oleh KONUS (Konservasi Alam Nusantara)
digunakan dalam penetuan bobot setiap variabel melalui Analisis Komponen
Utama. Nilai bobot setiap variabel habitat digunakan pada rumus model
kesesuaian habitat owa Jawa. Selanjutnya model tersebut dianalisis secara spasial
dengan menggunakan metode skoring dan overlay.
Model kesesuaian habitat owa Jawa diklasifikasikan menjadi tiga kelas
kesesuaian. Habitat dengan kelas kesesuaian rendah (nilai kesesuaian 2,0887,1081) seluas 10263,125 Ha, habitat dengan kelas kesesuaian sedang (nilai
kesesuaian 7,1081-14,2162) seluas 6197,3125 Ha, habitat dengan kelas
kesesuaian tinggi (nilai kesesuaian > 14,2162) seluas 8538,5625 Ha. Model
kesesuaian habitat owa Jawa ini dapat diterima dengan tingkat validasi mencapai
87,5 % untuk kelas kesesuaian tinggi.
Kata kunci: owa Jawa, kesesuaian habitat.

SUMMARY
KATHERYNA BERLIANA, Mapping of Javan Gibbon Habitat Suitability
(Hylobates moloch Audebert, 1798) in Gunung Tilu Protected Area
Kabupaten Bandung With Geographic Information System Application,
supervised by Dr. Ir. Lilik Budi Prasetyo, Msc. dan Dr. Ir. Harnios Arief,
Msc.
Javan gibbon is an endemic species in West Java and it is categorized as
endangered species now (IUCN, 2008). Javan gibbon habitat is sentralized in
lowland forest and mountain forest, one of that are situated at Gunung Tilu
Protected Area (GTPA). However the area has been facing many problems which
resulted from human activites such as stealing the forest products, and the
existence of tea plantation in this protected area. The research objectives is to
develop the habitat suitability map of Javan gibbon in GTPA utilizing Geographic
Information System (GIS).
Javan gibbon habitat suitability mapping was initiated by collection the
spatial and attribute data, such as digital map, data survey, and literature. This
mapping was based on some habitat variable which determine the Javan gibbon
habitat suitability, namely Leaf Area Index (LAI), accesibility (elevation and
slope), and distance from road. Variables then were analyzed with GIS and
produced thematic map for each variable. Javan gibbon distribution survey data in
GTPA by KONUS (Konservasi Alam Nusantara) was used for determine the
weight value of habitat variable using a Principal Component Analysis (PCA).
Result of PCA were utilized as weight to determine Javan gibbon habitat
suitability model. Furthermore, the model analyzed by using scoring and overlay
methode.
The habitat suitability map were reclassified into three suitability class.
The result showed that there were 10263,125 hectaresof low suitability habitat
(suitability value 2,088-7,1081), 6197,3125 hectares of medium suitability habitat
(7,1081-14,2162), 8538,5625 hectares of high habitat suitability (>14,2162). The
model validation achieve 87,5% for high siutability habitat.
Key words: Javan gibbon, habitat suitability.

PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Pemetaan Kesesuaian
Habitat Owa Jawa (Hylobates moloch Audebert, 1798) di Cagar Alam Gunung
Tilu Kabupaten Bandung dengan Aplikasi Sistem Informasi Geografis adalah
benar-benar hasil karya saya sendiri dengan bimbingan dosen pembimbing dan
belum pernah digunakan sebagai skripsi pada perguruan tinggi atau lembaga
manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan
maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan
dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Bogor, Maret 2009
Katheryna Berliana
NRP E34104071

KATA PENGANTAR
Penulis memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa
atas segala rahmat dan berkatNya sehingga skripsi ini berhasil diselesaikan.
Skripsi ini berjudul Pemetaan Kesesuaian Habitat Owa Jawa (Hylobates moloch
Audebert, 1798) di Cagar Alam Gunung Tilu Kabupaten Bandung dengan
Aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG).
Penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1. Dr. Ir. Lilik Budi Prasetyo, M.Sc. dan Dr. Ir. Harnios Arief, M.Sc.F. yang
senantiasa membimbing dan memberi masukan serta arahan selama penelitian
dan penyusunan skripsi
2. Dr. Ir. Sudarsono Soedomo, M.S. dan Dr. Ir. I Nyoman Jaya Wistara, M.S.
selaku dosen penguji yang telah memberikan banyak wawasan serta masukan
dalam perbaikan skripsi ini
3. Bapak Tunggul Sihombing dan Ibu Herdelina Lingga, dan Rita Ernawati atas
doa dan kasih sayang yang tidak pernah berhenti
4. Ir. Siswoyo selaku kepala Cagar Alam Gunung Tilu yang telah memberikan
arahan dan masukan dalam pelaksanaan penelitian ini
5. Bpk. Made dan KONUS atas bantuan data yang diberikan
6. Mas Syarif dan Mas Tri (PPLH) atas ilmu dan pelajaran yang diberikan
selama penulis menyelesaikan skripsi
7. Mba Dewi dan Ka Rudi atas arahan, bimbingan serta pelajaran yang diberikan
8. Teman-teman KSH 41 atas persaudaraanya selama ini
9. Teman-teman

KPA

41

untuk

setiap

keceriaan,

persahabatan,

dan

persaudaraannya
10. Sahabat VILGA atas tempat yang diberikan.
Akhirnya semoga hasil penelitian ini bermanfaat.

Bogor, Maret 2009


Penulis

ii

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 6 Agustus 1986 sebagai anak
pertama dari dua bersaudara pasangan Tunggul Sihombing dan Herdelina Lingga.
Pada tahun 2004 penulis lulus dari SMU Negeri 67 Jakarta dan pada tahun yang
sama lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru
(SPMB). Penulis memilih Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan
Ekowisata, Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan, Fakultas Kehutanan.
Selama menuntut ilmu di IPB penulis aktif di sejumlah organisasi
kemahasiswaan yakni sebagai anggota Komisi Pelayanan Anak Persekutuan
Mahasiswa Kristen (KPA PMK) IPB tahun 2004-2006, pengurus Persekutuan
Fakultas Kehutanan tahun 2005-2006, dan anggota Paduan Suara Fakultas
Kehutanan tahun 2006-2007. Pada tahun 2008 penulis pernah mendapatkan
Beasiswa SPP++. Selain itu penulis juga melakukan Praktek Pengenalan Hutan di
Cilacap-Baturraden dan Praktek Pengelolaan Hutan di Kampus Lapangan
Universitas Gajah Mada (UGM) Getas Ngawi pada tahun 2007, serta Praktek
Kerja Lapang Profesi di Taman Nasional Baluran pada tahun 2008.
Sebagai salah satu syarat untuk memperolah gelar Sarjana Kehutanan IPB,
penulis menyelesaikan skripsi dengan judul Pemetaan Kesesuaian Habitat Owa
Jawa (Hylobates moloch Audebert, 1798) di Cagar Alam Gunung Tilu Kabupaten
Bandung dengan aplikasi Sistem Informasi Geografis dibimbing oleh Dr. Ir. Lilik
Budi Prasetyo, Msc. dan Dr. Ir. Harnios Arief, Msc.

iii

DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR .....................................................................................

RIWAYAT HIDUP..........................................................................................

ii

DAFTAR ISI ....................................................................................................

iii

DAFTAR TABEL ............................................................................................

DAFTAR GAMBAR .......................................................................................

vi

DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................

vii

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................

1.2 Tujuan Penelitian ........................................................................

1.3 Manfaat Penelitian ......................................................................

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Owa Jawa ....................................................................................

2.1.1 Klasifikasi dan morfologi ...................................................

2.1.2 Habitat dan penyebaran ......................................................

2.1.3 Pakan ..................................................................................

2.1.4 Organisasi sosial ................................................................

2.1.5 Aktivitas harian ..................................................................

2.2 Sistem Informasi Geografis (SIG) ..............................................

2.2.1 Sistem satelit landsat ..........................................................

2.2.2 Kesesuaian habitat berbasis SIG ........................................

10

BAB III KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN ....................................

11

BAB IV METODE PENELITIAN


4.1 Waktu dan Lokasi .......................................................................

14

4.2 Alat dan Bahan ............................................................................

14

4.3 Tahapan Penelitian ......................................................................

14

4.3.1 Jenis data dan pengumpulannya .........................................

14

4.3.2 Pengolahan peta .................................................................

15

4.3.2.1 Pembuatan peta LAI...............................................

15

iv

4.3.2.2 Pembuatan peta ketinggian dan kemiringan lereng

16

4.3.2.3 Pembuatan peta jarak dari jalan .............................

16

4.3.3 Analisis data .......................................................................

16

4.3.3.1 Analisis komponen utama (Principal Component


Analysis) .................................................................

16

4.3.3.2 Analisis spasial .......................................................

17

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN


5.1 Peta Tematik untuk Membuat Model..........................................

20

5.1.1 Peta kerapatan tajuk (LAI) .................................................

20

5.1.2 Peta jarak dari jalan ............................................................

21

5.1.3 Peta ketinggian ...................................................................

23

5.1.4 Peta kemiringan lereng.......................................................

26

5.2 Pemodelan Spasial Kesesuaian Habitat Owa Jawa .....................

31

5.2.1 Penentuan nilai bobot setiap variabel.................................

31

5.2.2 Model kesesuaian habitat ...................................................

32

5.3 Validasi .......................................................................................

35

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN


6.1 Kesimpulan .................................................................................

37

6.2 Saran............................................................................................

37

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................

38

LAMPIRAN .....................................................................................................

40

DAFTAR TABEL
No.

Halaman

1.

Spesifikasi kanal landsat TM. .................................................................

2.

Penyebaran owa berdasarkan ketinggian menurut Kappeler (1984).......

26

3.

Tingkat kemiringan lahan di CAGT .......................................................

28

4.

Hasil analisis PCA ..................................................................................

31

5.

Vektor ciri ...............................................................................................

32

6.

Nilai bobot setiap variabel ......................................................................

32

7.

Klasifikasi kesesuaian habitat owa Jawa.................................................

34

8.

Validasi setiap kelas kesesuaian..............................................................

35

vi

DAFTAR GAMBAR
No.

Halaman

1.

Bagan pembuatan peta LAI.....................................................................

15

2.

Bagan pembuatan peta ketinggian dan peta kemiringan lereng ..............

16

3.

Bagan pembuatan peta jarak dari jalan ...................................................

16

4.

Bagan alir penelitian ...............................................................................

19

5.

Grafik sebaran nilai piksel LAI ...............................................................

20

6.

Peta kerapatan tajuk (LAI) ......................................................................

22

7.

Peta jalur jalan .........................................................................................

24

8.

Peta jarak dari jalan .................................................................................

25

9.

Peta ketinggian ........................................................................................

27

10.

Peta kemiringan lereng ............................................................................

29

11.

Peta sebaran owa Jawa ............................................................................

30

12.

Grafik nilai piksel model kesesuaian habitat ..........................................

33

13.

Peta kesesuaian habitat owa Jawa di Cagar Alam Gunung Tilu .............

36

vii

DAFTAR LAMPIRAN
No.
1.

2.

Halaman
Tabel Keterangan variabel pada setiap titik kelompok owa Jawa
(hasil survei lapang Konservasi Alam Nusantara (KONUS)
di Cagar Alam Gunung Tilu dan Cagar Alam Burangrang
Jawa Barat tanggal 14 Juli 2008 2 September 2008) ...........................

41

Hasil analisis PCA pada SPSS 14.0 ........................................................

42

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Owa Jawa merupakan satwa primata endemik di Indonesia, khususnya di
Jawa Barat dan dilindungi. Pada tahun 1986 owa Jawa telah dikategorikan sebagai
endangered species dalam daftar IUCN. Status tersebut berubah pada tahun 1996,
menjadi critically endangered species (IUCN 2000). Status populasinya termasuk
genting dan diperkirakan akan mengalami kepunahan paling tidak 20% dalam
setiap tiga generasi. Namun saat ini statusnya kembali menjadi endangered
species (IUCN 2008). Owa Jawa juga dicantumkan pada Appendix I dalam
Convention and International Trade for Endangered Species of Flora and Fauna
(CITES) atau tidak boleh diperdagangkan.
Habitat owa Jawa terpusat di patch hutan dataran rendah dan hutan
pegunungan bawah yaitu Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Gunung
Halimun Salak, Gunung Simpang Tilu, Taman Nasional Gunung Gede
Pangrango, dan Gunung Slamet. Habitat owa Jawa yang semula seluas 43274
km2, kini telah mengalami penyusutan sebesar 96%, dan hanya tersisa sekitar
1608 km2 (Supriatna dan Wahyono 2000). Selain itu tekanan perburuan untuk
menjadikan owa Jawa sebagai hewan peliharaan merupakan ancaman serius bagi
keberadaannya di alam.
Kawasan Cagar Alam Gunung Tilu merupakan salah satu sisa hutan alam
di Jawa Barat. Kawasan ini telah mengalami berbagai permasalahan yang
diakibatkan oleh aktifitas manusia seperti perambahan hutan, pembuatan arang,
pencurian hasil hutan dan lain-lain, terlebih dengan adanya perkebunan di dalam
kawasan. Kondisi tersebut diduga dapat menurunkan kualitas habitat owa Jawa
yang akan berakibat pada penurunan populasinya.
Informasi mengenai data spasial atau nonspasial sangat diperlukan untuk
memetakan hubungan yang potensial antar variabel habitat yang berpengaruh bagi
owa Jawa. Informasi mengenai habitat yang potensial untuk owa Jawa di Cagar
Alam Gunung Tilu merupakan salah satu langkah awal dalam upaya pelestarian
spesies owa Jawa. Perencanaan yang baik perlu didukung oleh informasi yang

akurat terutama berkaitan dengan aspek-aspek lingkungan fisik dan biologis


seperti adanya peta topografi, vegetasi, distribusi satwa dan sebagainya. Analisis
spasial juga dapat menghasilkan informasi mengenai kondisi habitat pada waktu
tertentu, sehingga dapat diketahui perubahan yang terjadi berdasarkan faktorfaktor ekologi dan sosial yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan guna
menetapkan kebijakan dalam pengelolaannya.

1.2 Tujuan Penelitian


Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesesuaian habitat owa
Jawa (Hylobates moloch Audebert 1798) di Cagar Alam Gunung Tilu dengan
menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) dan penginderaan jauh.

1.3 Manfaat Penelitian


Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengelola
kawasan konservasi terutama dalam pelestarian satwaliar khususnya owa Jawa di
Cagar Alam Gunung Tilu. Informasi mengenai sebaran spasial habitat jenis ini
dapat digunakan untuk menduga potensi ancaman dari hutan yang menjadi
wilayah penyebaran alaminya dan sebagai bahan pertimbangan bagi pengelolaan
kawasan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Owa Jawa


2.1.1 Klasifikasi dan morfologi
Klasifikasi ilmiah owa Jawa menurut Napier dan Napier (1967) adalah
sebagai berikut:
Kingdom

: Animalia

Filum

: Chordata

Subfilum

: Vertebrata

Kelas

: Mamalia

Ordo

: Primata

Superfamili

: Hominoidea

Famili

: Hylobatidae

Genus

: Hylobates

Spesies

: Hylobates moloch (AUDEBERT, 1798).

Owa Jawa tidak berekor, hanya memiliki sebuah tungging sebagai luluhan
dan tekukan ekor ke dalam (Ensiklopedi Indonesia, 2000). Supriatna dan
Wahyono (2000) menyatakan bahwa tubuh owa Jawa ditutupi rambut yang
berwarna kecoklatan sampai keperakan atau kelabu. Bagian atas kepalanya
berwarna hitam, muka seluruhnya juga berwarna hitam dengan alis berwarna abuabu yang menyerupai warna keseluruhan tubuh, beberapa diantaranya memiliki
warna rambut lebih gelap pada bagian dada. Pada beberapa individu, dagu
berwarna gelap. Anak yang baru lahir umumnya berwarna lebih cerah. Warna
rambut jantan dan betina sedikit berbeda, khususnya pada tingkatan umur.
Menurut Supriatna dan Wahyono (2000), berat tubuh jantan berkisar
antara 4-8 kg, sedangkan betina antara 4-7 kg. Panjang tubuh jantan dan betina
dewasa berkisar antara 75-80 cm, memiliki lengan yang panjang dan tubuh
ramping. Owa Jawa memiliki lengan depan yang relatif lebih panjang
dibandingkan kedua kakinya (Napier dan Napier, 1967). Owa Jawa merupakan
salah satu spesies dalam genus Hylobates yang memiliki bantalan duduk (ischial

callosities). Bantalan duduk tersebut tidak terdapat pada semua jenis satwa
primata (Fleagle 1988 dalam Rowe 1996).
Owa Jawa memiliki gigi seri kecil dan sedikit ke depan, sehingga
memudahkan untuk menggigit dan memotong makanan. Gigi taring panjang dan
berbentuk seperti pedang berfungsi untuk menggigit dan mengupas makanan. Gigi
geraham atas dan bawah berfungsi untuk menguyah makanan (Napier dan Napier
1967). Fleagle (1988) dalam Rowe (1996) menyatakan bahwa owa Jawa memiliki
kantung tenggorokan di bawah dagunya untuk membantu memperkuat suara.

2.1.2 Habitat dan penyebaran


Secara spesifik habitat owa Jawa adalah hutan tropika, mulai dataran
rendah hingga pegunungan dengan ketinggian 0-1600 mdpl. Rowe (1996)
menyatakan bahwa habitat owa Jawa adalah hutan primer dan sekunder serta
hutan hujan tropika dari ketinggian setara permukaan laut sampai 1.500 mdpl.
Hutan hujan tropika di bawah ketinggian 1.500 mdpl merupakan habitat ekslusif
bagi owa Jawa karena beberapa sebab, yaitu karena spesies tumbuhan hutan di
atas ketinggian 1.500 mdpl bukan merupakan sumber pakan, dan banyaknya
lumut yang menutupi pepohonan menyulitkan owa Jawa melakukan pergerakan
atau perpindahan. Pada wilayah dengan ketinggian 1.500 mdpl hanya terdapat
sedikit spesies tumbuhan dan jenis tumbuhan tersebut tidak sesuai untuk
dimanfaatkan dalam melakukan pergerakan dari satu pohon ke pohon lain (Rowe
1996). Menurut Supriatna dan Wahyono (2000), banyaknya lumut yang
memenuhi pepohonan di pegunungan menyulitkan pergerakan brankiasi owa
Jawa.
Owa Jawa merupakan satwa arboreal murni sehingga membutuhkan hutan
dengan kanopi antar pohon yang berdekatan. Habitat yang sesuai bagi owa Jawa
adalah hutan dengan tajuk yang relatif tertutup, tajuk pohon tersebut memiliki
cabang horisontal, dan habitat yang memiliki sumber pakan yang tersedia
sepanjang tahun. Faktor utama yang membatasi penyebaran owa Jawa adalah
struktur ketinggian pohon untuk melakukan aktivitas bergelayutan (branchiation),
serta keragaman floristik yang berkaitan dengan variasi persediaan pakan spesies
tersebut (Kappeler 1984 dalam Rowe 1996).

Keberadaan owa Jawa saat ini terbatas pada kawasan taman nasional dan
hutan lindung di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Lokasi yang menjadi wilayah
penyebarannya yaitu Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Gunung
Halimun Salak, Gunung Simpang Tilu, Taman Nasional Gunung Gede
Pangrango, dan Gunung Slamet.

2.1.3 Pakan
Pohon pakan merupakan jenis pohon dimanfaatkan sebagai sumber pakan.
Bagian pohon yang biasanya dimanfaatkan adalah buah, daun, dan bunga.
Supriatna dan Wahyono (2000) menyatakan berdasarkan hasil dari beberapa
penelitian menyebutkan bahwa kelompok gibbon pada umumnya mengkonsumsi
buah matang dalam proporsi yang tinggi. Presentase jenis pakan tertinggi adalah
buah-buahan matang (61%), daun-daunan (38%), dan bunga (1%). Namun
proporsi setiap setiap kategori makanan tersebut bervariasi menurut musim
tahunan, pada bulan Februari-April ketika kelimpahan buah rendah, proporsi
buah: daun: bunga: binatang kecil adalah 49:50:1:0, sedangkan ketika musim
berbuah (Juni-Agustus) proporsi makanannya menjadi 68:30:2:0 (Kappeler 1984
dalam Rowe 1996).
Terdapat 125 jenis tumbuhan yang dimanfaatkan gibbon sebagai sumber
pakan, terdiri dari 108 jenis pohon, 14 jenis tumbuhan liana, dua jenis tumbuhan
palma dan satu jenis epifit. Jenis pohon yang dimanfaatkan sebagai sumber pakan
adalah Dillenia excelsa, Dracontomelon mangiferum, Garcinia dioica, Ficus
callosa, Saccopetalum horsfieldii, Ficus variegata, Eugenia polyanta, Flacourtia
rukam, Bridelia minutiflora, dan Antidesma bunius (Kappeler 1984 dalam Rowe
1996). Selain itu owa Jawa juga diketahui memakan ulat pohon, rayap, madu, dan
beberapa jenis serangga lainnya (Supriatna dan Wahyono 2000).

2.1.4 Organisasi sosial


Owa Jawa hidup berpasangan dalam sistem keluarga monogami. Selain
kedua induk, terdapat 1-2 individu anak yang belum mandiri (Supriatna dan
Wahyono 2000). Pada kelompok tertentu hanya terdiri dari pasangan induk jantan
dan betina (Nijman 2004). MacKinnon dan MacKinnon (1984) dalam Rowe

(1996) menyatakan bahwa keuntungan kelompok dengan sistem hidup monogami


dan mempertahankan teritori adalah: mengurangi aktivitas reproduksi yang tidak
diperlukan dan meningkatkan perlindungan bagi anak-anaknya yang masih kecil,
mengurangi gangguan dan kompetisi dengan kelompok lain, meningkatkan
efisiensi dalam menemukan sumber pakan, dan mengurangi kompetisi dalam
perkawinan. Namun kekurangan kelompok populasi dengan sistem hidup
monogami adalah: tidak fleksibel dalam penggunaan ruang, perbandingan jenis
kelamin tidak beragam sehingga menyebabkan berkurangnya keberhasilan
reproduksi, kecilnya ukuran kelompok mengurangi kemampuan berkompetisi
dengan spesies lain, dan peningkatan spesiasi merupakan bagian dari evolusi.
Owa Jawa yang kehilangan pasangannya tidak akan mencari pengganti pasangan
sampai akhir hayatnya, kondisi demikian dapat mempercepat penurunan populasi.
Masa hamil primata ini antara 197-210 hari, jarak kelahiran anak yang satu
dengan yang lain berkisar antara 3-4 tahun. Umumnya owa Jawa dapat hidup
hingga 35 tahun (Supriatna dan Wahyono 2000).

2.1.5 Aktivitas harian


Owa Jawa lebih bersifat arboreal dan jarang turun ke tanah. Pergerakan
dari pohon yang satu ke pohon yang lain dilakukan dengan bergelayutan
(brankiasi). Daerah jelajahnya berkisar antara 16-17 Ha, dan wilayah jelajah
hariannya dapat mencapai 1500 m (Supriatna dan Wahyono 2000). Owa Jawa
aktif dari pagi hari hingga sore hari (diurnal), siang harinya digunakan untuk
beristirahat dengan saling mencari kutu antara jantan dan betina, atau antara ibu
dan anaknya. Malam harinya owa Jawa tidur pada percabangan pohon. Pasangan
jantan dan betina owa Jawa jarang melakukan duet. Terdapat empat jenis suara
yang dikeluarkan owa Jawa, yaitu suara betina sendiri untuk menandakan daerah
teritorialnya, suara jantan yang dikeluarkan saat berjumpa dengan kelompok lain,
suara yang dikeluarkan bersama antar keluarga saat terjadi konflik, dan suara dari
anggota keluarga sebagai tanda bahaya (Supriatna dan Wahyono 2000).

2.2 Sistem Informasi Geografis (SIG)


Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan suatu sistem berdasarkan
komputer yang mempunyai kemampuan untuk menangani data yang bereferensi
geografi (georeference) dalam hal pemasukan, manajemen data, memanipulasi
dan menganalisis serta pengembangan produk dan percetakan. Prahasta (2001)
menyatakan bahwa SIG merupakan suatu kesatuan formal yang terdiri dari
berbagai sumberdaya fisik dan logika yang berkenaan dengan obyek-obyek yang
terdapat di permukaan bumi. SIG juga merupakan sejenis perangkat lunak yang
dapat digunakan untuk pemasukkan, manipulasi, menampilkan dan keluaran
informasi geografis berikut keterangan-keterangannya (atribut). Bern dalam
Prahasta (2001) mengemukakan bahwa SIG merupakan sistem komputer yang
digunakan untuk memanipulasi data geografi. Sistem ini diimplementasikan
dengan perangkat keras dan perangkat lunak komputer untuk akusisi dan
verifikasi data, kompilasi data, penyimpanan data, perubahan dan updating data,
manajemen dan pertukaran data, manipulasi data, pemanggilan dan presentasi
data, serta analisa data.
SIG memiliki sistem kompleks yang biasanya terintegrasi dengan
lingkungan sistem-sistem komputer yang lain di tingkat fungsional dan jaringan.
Sistem SIG terdiri dari beberapa komponen, yaitu perangkat keras, perangkat
lunak, data dan informasi geografi, serta manajemen (Gistut 1994 dalam Prahasta
2001). SIG didesain untuk bekerja dengan data yang diacu oleh koordinat
geografis atau spasial, dengan kata lain SIG merupakan sistem database dengan
kemampuan khusus untuk acuan data spasial, disamping merupakan suatu
perangkat pengoperasian untuk mengerjakan data. Soenarmo (2003) menyatakan
keuntungan penggunaan SIG antara lain: ada koordinasi pemrosesan data (data
tersimpan dalam basis data beratribut dan saling berhubungan); mengurangi
volume aktifitas manusia yang sifatnya rutin dan membosankan; Sumber Daya
Manusia (SDM) dituntut kreatif, interaktif, dan tertantang untuk belajar terus
menerus dalam menganalisis informasi berbasis spasial; penyajian informasi
cepat, tepat dan terhindar dari duplikasi (disertai nilai seni tinggi dan komunikatif
melalui visualisasi dan penelusuran); dapat diaplikasikan untuk berbagai
kepentingan (pengelolaan fasilitas, sumberdaya alam, lingkungan, pertanahan

maupun perencanaan, bidang kebumian serta dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas


perangkat lunak untuk perubahan data secara dinamis).
Berdasarkan kemampuan SIG yang dapat diandalkan tersebut, maka SIG
banyak digunakan untuk pengambilan keputusan dalam suatu perencanaan.
Menurut Rusli (1998), apabila menggunakan data yang diperoleh dari fasilitas
penginderaan jauh yang menghasilkan citra satelit dan foto udara yang dapat
dihubungkan secara langsung, maka data diperoleh dari periode tertentu pada area
yang sama, dipakai untuk mengetahui perubahan yang terjadi pada suatu roman
permukaan bumi. Data yang direkam adalah keadaan nyata, sehingga proses
pengolahan input data menjadi output data merupakan suatu rangkaian yang
dimulai dari keadaan nyata, direkam dalam bentuk citra, foto udara, dan peta,
kemudian dengan fasilitas SIG data disimpan dan diolah untuk menghasilkan
output berupa informasi yang digunakan dalam pengambilan keputusan bagi
pengguna untuk melakukan kegiatan pada keadaan yang nyata.
Sistem informasi dan penginderaan jauh memiliki keterkaitan, seperti yang
dinyatakan oleh Howard (1996) bahwa informasi yang diturunkan dari analisis
citra penginderaan jauh dilakukan untuk diintegrasikan dengan data yang
disimpan dalam bank data SIG. Masukan dari penginderaan jauh biasanya harus
dilengkapi dengan intervensi manusia pada analisisnya.

2.2.1 Sistem satelit landsat


Sistem satelit Landsat milik Amerika Serikat ini dikenal mempunyai tiga
instrumen pencitraan (imaging instrument), yakni Return Beam Vidicon (RBV),
Multispectral Scanner (MSS), dan Thematic mapper (TM). Orbit satelit dipilih
dekat dengan kutub (near polar orbital), berbentuk lingkaran dan berulang, serta
selaras matahari (sun synchronous) pada ketinggian nominal 913 km (Lillesand
and Kiefer 1990). Landsat-1 dan Landsat-3 yang merupakan satelit eksperimental,
berbeda dengan Landsat-4 dan Landsat-5 yang merupakan satelit semioperasional
(Voute 1982 dalam Howard 1987) atau satelit operasional yang telah mengalami
perbaikan pada resolusi spasial, resolusi spektral, dan ketelitian radiometrik
(Lindgren 1985 dalam Howard 1987).

Perbaikan resolusi spasial dilakukan dengan mengurangi ketinggian orbit


dari 920 km bagi tiga satelit sebelumnya menjadi 705 bagi Landsat-4 dan
Landsat-5. Resolusi spasialnya meningkat dari 80 m menjadi 30 m. Resolusi
spektral yang lebih baik dan ketelitian radiometrik yang lebih tinggi diperoleh
dengan jalan mengganti sensor RBV dengan sensor Thematic Mapper. Sensor TM
beroperasi dengan tujuh saluran, enam saluran terutama dirancang untuk pantauan
vegetasi, sedang saluran yang ketujuh untuk pembedaan jenis batuan. Landsat-4
dan Landsat-5 merekam data dengan penyiaman dua arah. Cermin penyiam
merekam data pada tiap gerak ulang-alik. Perekaman pada tiap saluran dilakukan
secara serentak oleh 16 detektor, kecuali saluran 6 (termal) yang hanya
menggunakan empat detektor. Tenaga pantulan yang diterima oleh detektor
diubah menjadi sinyal elektrik, diperkuat dengan amplifier, dan dikirimkan ke
stasiun penerima data di bumi (Howard 1987). Spesifikasi kanal landsat TM
(Lillesand dan Kiefer 1990) disajikan dalam Tabel 1.
Tabel 1 Spesifikasi kanal landsat TM
No

Nama
Band

Panjang
Gelombang
(m)

Nama
Gelombang
Elektromagnetik

Band 1

0,45-0,52

Biru

Band 2

0,52-0,60

Hijau

Band 3

0,63-0,69

Merah

Band 4

0,76-0,90

Inframerah dekat

Band 5

1,55-1,75

Inframerah
tengah

Fungsi Aplikasi
Penetrasi tubuh air dan untuk
mendukung analisis sifat khas
penggunaan lahan, tanah, dan
vegetasi
Mengindera
puncak
pantulan
vegetasi pada spektrum hijau yg
terletak diantara saluran spektral
serapan klorofil yg gunanya
mendeteksi bentuk pertumbuhan
tanaman
Peka terhadap absorp klorofil
sehingga
memperkuat
kontras
antara vegetasi dengan bukan
vegetasi
Membedakan
tipe
vegetasi,
pertumbuhan dan jumlah biomassa,
juga untuk memudahkan deliniasi
tubuh air dan memperkuat kontras
antara tanaman, tanah dan lahan,
dan air
Penunjuk kandungan kelembaban
vegetasi dan kelembaban tanah

10

No

Nama
Band

Panjang
Gelombang
(m)

Band 6

10,4-12,5

Band 7

2,08-2,35

Nama
Gelombang
Elektromagnetik
Inframerah
termal
Inframerah
tengah

Fungsi Aplikasi
Mendeteksi
gejala
alam
yg
berhubungan dengan panas
Membedakan tipe mineral dan
gormasi batuan dan juga sensitif
untuk
kandungan
kelembaban
vegetasi

2.2.2 Kesesuaian habitat berbasis SIG


Penggunaan kesesuaian habitat bagi satwaliar di Indonesia antara lain telah
diterapkan untuk pemetaan penggunaan ruang habitat oleh badak Jawa di Taman
Nasional Ujung Kulon (Muntasib 2002). Pemodelan tersebut menggunakan
variabel habitat seperti ketinggian, kemiringan lahan, vegetasi penutupan lahan,
jarak dari sungai, dan jarak dari jalur manusia yang dianalisis menggunakan
metode skoring. Dewi (2005) juga melakukan pengkajian terhadap tingkat
kesesuaian habitat owa Jawa di Taman Nasional Gunung Halimun Salak dengan
menggunakan variabel habitat seperti pada Muntasib (2002) yang dianalisis
dengan metode PCA (Principal Component Analysis).

BAB III
KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

3.1 Luas dan Letak


Cagar Alam Gunung Tilu (CAGT) ditetapkan berdasarkan Surat
Keputusan Menteri Pertanian No. 68/Kpts/Um/2/1978 tanggal 7 Februari 1978.
Batas kawasan meliputi:
Utara : Hutan Produksi terbatas dan BPTK Gambung
Selatan : HGU PT Sankawangi Paranggong
Barat : HGU PTPN VIII Rancabolang
Timur : Jalan Raya Pangalengan, PTPN VIII Pasirmalang, dan tanah
milik.
Secara administrasi pemerintahan, kawasan tersebut terletak di Kabupaten
Bandung yang meliputi Kecamatan Pasirjambu dan Pangalengan. Sedangkan
secara geografis terletak pada 70212 sampai 70125 Lintang Selatan dan
107032 sampai 107032 Bujur Timur. Berdasarkan kewenangan pengelolaannya
termasuk dalam wilayah kerja Seksi Konservasi Wilayah I Bandung, Balai KSDA
Jawa Barat I.

3.2 Iklim
Menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson tahun 1951, kawasan ini
termasuk dalam tipe iklim B dengan curah hujan rata-rata 3879 mm/tahun (data
curah hujan tahun 1995 sampai dengan 2005 pada stasiun pengamatan hujan PT.
Chakra Dewata).

3.3 Topografi
Wilayah CAGT merupakan daerah yang bergunung-gunung dengan
ketinggian antara 1000 sampai 2434 m dari permukaan laut, beberapa gunung
yang berada di kawasan ini diantaranya Gunung Pancur, Gunung tilu, Gunung
Waringin, Gunung Batu dan Gunung Dewata, gungung-gunung tersebut masih
dalam satu kelompok pegunungan yang saling berhubungan, kemiringan lahan
tempat bervariasi dari 100 sampai 800.

12

3.4 Geologi
Sebagian besar bagian utara daerah cagar alam ini berasal dari periode
kwartet berupa hasil gunung api yang tak terdiferensial. Sedangkan bagian selatan
berasal dari periode miosen yang terdiri dari fagies sedimen miosen. Tipe tanah
kawasan ini adalah andosol dari batuan beku basis dan intermedier di daerah
gunung. Jenis-jenis tanah lain yang terdapat di kawasan ini adalah latosol,
andosol, podsolik kuning, dan regosol.

3.5 Hidrologi
Sungai dan anak sungai yang berada di kawasan Cagar Alam Gunung Tilu
mengalir dan bermuara pada dua Daerah Aliran Sungai (DAS), yaitu: (1) DAS
Citarum (S. Cipadaarum, S. Cibodas, S. Cisondari) bermuara pada S. Ciwidey
kemudian S. Citarum (S. Cilamajang, S. Ciurug, S. Cisalada, S. Cisanggiang,
S. Cimalawindu, S. Cikakapa Gede, S. Cikakapa Leutik, S. Cisurudan) bermuara
pada S. Cisangkuy kemudian ke S. Citarum; (2) DAS Cikahuripan (S. Cibaliung,
S. Ciasahan, S. Cinangewer, S. Cimeri, S. Ciawi Tali) bermuara pada
S. Cikahuripan kemudian ke S. Cilaki.

3.6 Potensi Kawasan


Kawasan CAGT merupakan perwakilan tipe ekosistem hutan hujan
dataran tinggi dan merupakan salah satu sisa hutan alam di Jawa Barat yang relatif
masih utuh. Jenis floranya tidak jauh berbeda dengan jenis-jenis yang ada di
pegunungan Jawa dan Sumatera. Jenis tumbuhan didominasi oleh: Puspa (Schima
walichii), Pasang (Quercus sp.), Rasamala (Altingia excelsa), Teurep (Alstonia
elasticus), Huru (Litsea angolata), Jamuju (Podocarpus imbricatus), Saninten
(Castanopsis argantea), Kiputri (Podocarpus sp.) dan lain-lain. Beberapa jenis
golongan liana yang terdapat pada cagar alam ini yaitu Rotan (Calamus sp.),
berbagai jenis Anggrek, Jotang (Synnerela nodiflora), Kirinyuh (Eupathorium
sp.), dan Tepus (Zingi beraceae).
Satwaliar yang hidup di kawasan ini secara garis besar terbagi dalam enam
ordo yaitu: Mamalia, Primata, Aves, Reptilia, Pisces, dan Moluska. Satwa

12

13

endemik dilindungi yang terdapat pada kawasan ini yaitu: Surili (Presbytis
comata), Owa Jawa (Hylobates moloch), dan Lutung (Trachypitachus auratus).

3.7 Sarana dan Prasarana


Wilayah kerja KKW Bandung Selatan II yang terdiri dari Cagar Alam
Gunung Tilu 8000 ha, CA Cigenteng Cipanyi 10 ha, dan CA Malabar 3,82 ha
memiliki sarana dan prasarana pengelolaan berupa dua pos jaga yang terdapat di
Dangdang dan Mandala, satu pondok kerja yang terdapat di Gambung, serta satu
buah kendaraan roda dua. Kondisi pondok kerja di Dangdang dan pondok kerja di
Gambung sangat memprihatinkan dan kurang layak pakai.

3.8 Masyarakat Sekitar Kawasan


Terdapat sembilan desa dari empat kecamatan dalam tiga kabupaten yang
berbatasan langsung dengan kawasan CAGT, yaitu: Desa Mekarsari, Tenjolaya,
Cisondari dan Sugihmukti Kecamatan Pasirjambu, Desa Pulosari, Warnasari dan
Lamajang Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Desa Mekarjaya,
Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur, dan Desa Mekarmukti, Kecamatan
Talegong, Kabupaten Garut. Di dalam kawasan CAGT terdapat enklaf HGU
Perkebunan Teh Dewata yang termasuk dalam wilayah Desa Tenjolaya.
Sebagian besar masyarakat di sekitar CAGT secara langsung atau tidak
langsung, kehidupan sehari-harinya dapat dipastikan banyak tergantung atau
berinteraksi dengan hutan cagar alam. Perekonomian masyarakat tersebut
bertumpu pada pertanian dalam arti luas, mata pencaharian utama berupa petani,
buruh tani, dan buruh perkebunan. Berdasarkan data monografi diketahui bahwa
penduduk di sekitar kawasan cagar alam sebagian besar memeluk agama Islam.
Penduduk asli sembilan desa ini umumnya adalah suku sunda yang masih ditandai
dengan adat kebudayaan sunda dalam kehidupan sehari-harinya. Kesenian
tradisional yang masih dijumpai antara lain wayang golek, calung, reog, dan
upacara adat sunda dalam acara khitanan dan pernikahan.

13

BAB IV
METODE PENELITIAN

4.1 Waktu dan Lokasi


Penelitian ini dilaksanakan di Cagar Alam Gunung Tilu Kabupaten
Bandung untuk kegiatan pengamatan dan pengambilan data untuk validasi pada
bulan September. Sedangkan kegiatan pengolahan dan analisis data di lakukan di
PPLH IPB. Waktu pelaksanaan pengolahan data dimulai pada bulan Oktober
2008-Januari 2009.

4.2 Alat dan Bahan


Alat yang digunakan pada saat pengambilan data adalah GPS (Global
Positioning System), kamera, dan kompas. Peralatan untuk kegiatan pengolahan
dan analisis data adalah seperangkat personal komputer (PC), printer, perangkat
lunak (software) Arc view 3.1 dan ERDAS Imagine 8.5, Microsoft Excel 2003,
dan pengolah data statistika SPSS 14.0. Bahan yang digunakan adalah Citra
Landsat TM path 122 row 65 (wilayah Jawa Barat) tahun 2006, Peta Rupabumi
Jawa skala 1:25.000, peta topografi, dan peta batas kawasan CAGT.

4.3 Tahapan Penelitian


4.3.1 Jenis data dan pengumpulannya
Data-data yang diperlukan dalam penelitian ini dapat dibagi menjadi dua
jenis data yaitu data spasial dan data atribut. Data spasial merupakan data yang
bersifat keruangan, terdiri dari data citra satelit Landsat TM, Peta Rupabumi, peta
topografi, dan peta batas kawasan Cagar Alam Gunung Tilu. Data-data yang akan
digunakan untuk pemetaan kesesuaian habitat owa Jawa di Cagar Alam Gunung
Tilu tersebut berasal dari Pusat penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) IPB.
Penelitian ini menggunakan data sekunder titik sebaran

owa Jawa

berdasarkan hasil survei lapang Konservasi Alam Nusantara (KONUS) di Cagar


Alam Gunung Tilu dan Cagar Alam Burangrang Jawa Barat. Survei tersebut
dilakukan pada tanggal 14 Juli 2008 2 September 2008. Data titik sebaran
kelompok owa Jawa dan GCP (Ground Control Points) diperoleh dengan

15

melakukan pengamatan dan survei langsung ke lapangan. Pengamatan satwa


dilakukan dengan observasi langsung di lapangan, wawancara dan studi literatur.
Observasi lapang dilakukan dengan menggunakan metode line transect.
Data atribut merupakan data yang berbentuk tulisan maupun angka-angka.
Data tersebut diantaranya adalah wawancara dengan sumber terkait (informan)
dan literatur mengenai owa dan habitatnya.

4.3.2 Pengolahan peta


4.3.2.1 Pembuatan peta LAI
Analisis kerapatan tajuk dilakukan dengan pendekatan LAI (Leaf Area
Index). LAI adalah rasio luas daun hijau per unit luas lapangan (Lo, 1995). LAI
dapat dihitung secara langsung di lapangan atau tidak langsung yaitu dengan
analisis citra Landsat TM. Pada penelitian ini LAI diketahui dengan analisis citra
Landsat TM, persamaannya adalah sebagai berikut:
LAI = 12,29 (PETI) + 1,33

PETI =

[band 4 band 5]
[band 4 + band 5]

Sumber: McDonnell 1998

Keterangan: LAI
PETI

= Leaf Area Index


= Potential Evapotranspiration Index
Citra Landsat TM

Koreksi Geometrik

Potential Evapotranspiration Index (PETI)


Leaf Area Index (LAI)

Peta Kerapatan Tajuk

Gambar 1 Bagan pembuatan peta LAI.

15

16

4.3.2.2 Pembuatan peta ketinggian dan peta kemiringan lahan


Peta ketinggian dan kemiringan lereng dibuat dari data peta kontur
(vektor) yang dianalisis dengan menggunakan software Arc View GIS 3.3
sehingga menghasilkan peta ketinggian dan kemiringan lereng digital yang
diinginkan.
Data vektor kontur

Digital Elevation Model (DEM)

Peta Ketinggian

Peta Kemiringan Lereng

Gambar 2 Bagan pembuatan peta ketinggian dan peta kemiringan lereng.

4.3.2.3 Pembuatan peta jarak dengan jalan


Peta jarak jalan (buffer) dibuat dari data peta jaringan jalan (vektor) yang
dianalisis dengan menggunakan software Arc View GIS 3.2.
Peta jalan

Peta Buffer jalan


Gambar 3 Bagan pembuatan peta jarak dari jalan.

4.3.3 Analisis data


4.3.3.1 Analisis komponen utama (Principal Component Analysis)
Untuk menganalisis kesesuaian habitat owa Jawa digunakan Analisis
Komponen Utama (AKU). AKU (PCA) adalah analisis statistika peubah ganda
yang digunakan untuk menyusutkan banyaknya peubah yang tidak tertata untuk
tujuan analisis dan penarikan kesimpulan. Parameter habitat yang akan dianalisis
untuk mengetahui kesesuaian habitat owa Jawa adalah: ketinggian, kemiringan
lereng, kerapatan tajuk, dan pusat aktivitas manusia.

16

17

Tahapan pengolahan PCA adalah sebagai berikut:

Mengubah data format spreadsheet menjadi format SPSS sehingga


diperoleh data setiap titik dan keempat variabel habitat menjadi format
SPSS

Mentranspose data tersebut dengan Log 10 sehingga data proporsional


satu sama lain

Menganalisis data hasil Log 10 sehingga menghasilkan nilai PCA


Jumlah komponen utama yang digunakan sudah memadai jika total

keragaman yang dapat diterangkan berkisar antara 70-80% (Timm 1975 dalam
Pareira 1999). Selanjutnya hasil dari AKU digunakan untuk menentukan bobot
masing-masing faktor habitat dan untuk analisis spasial sehingga menghasilkan
persamaan sebagai berikut:

Y = aFk1+bFk2+cFk3+dFk4
Keterangan:

= Model habitat owa Jawa di CAGT

a-d

= Nilai bobot setiap variabel

Fk1

= Faktor ketinggian

Fk2

= Faktor kemiringan lereng

Fk3

= Faktor kerapatan tajuk

Fk4

= Faktor pengaruh manusia (jarak dengan jalan)

4.3.3.2 Analisis spasial


Titik sebaran owa Jawa dianalisis dengan faktor-faktor spasialnya yang
meliputi ketinggian, kemiringan lereng, kerapatan tajuk, dan jarak dengan jalan
untuk mendapatkan bobot. Analisis spasial dilakukan dengan metode tumpang
susun (overlay), pengkelasan (class), pembobotan (weighting), dan pengharkatan
(skoring).
Pemberian bobot didasarkan atas nilai kepentingan atau kesesuaian bagi
habitat owa Jawa. Nilai tertinggi menunjukkan faktor habitat yang paling
berpengaruh, nilai di bawahnya menunjukkan faktor habitat yang berpengaruh,
dan nilai terendah menunjukkan faktor habitat yang kurang berpengaruh.
Klasifikasi kelas kesesuaian terdiri dari tiga kelas yaitu: 1 (rendah), 2 (sedang),
dan 3 (tinggi).

17

18

Model matematika yang digunakan adalah:


a. Nilai skor klasifikasi kesesuaian habitat owa Jawa
SKOR

= Wi * Fki

Keterangan:
Wi

= bobot untuk setiap parameter

Fki

= faktor kelas dalam parameter

SKOR = nilai dalam penetapan klasifikasi kesesuaian habitat


b. Nilai selang skor klasifikasi kesesuaian habitat owa Jawa ditentukan
berdasarkan sebaran nilai piksel yang dihasilkan analisis spasial
c. Nilai kesesuaian habitat owa Jawa
KHn = Smin + SELANG dan/atau KH = KHn-1 + SELANG
Keterangan:
Smin

= nilai skor terendah

SELANG = nilai dalam penetapan selang klasifikasi kesesuaian habitat


KHn-1

= nilai Kesesuaian Habitat sebelumnya

KHn-1

= nilai Kesesuaian Habitat ke-n

d. Nilai validasi klasifikasi kesesuaian habitat owa Jawa

validasi =

100%

N
Keterangan:
n

= jumlah titik pertemuan owa Jawa yang ada pada satu klasifikasi
kesesuaian

= jumlah total titik pertemuan owa Jawa hasil survei

Validasi = persentase kepercayaan

18

19
Analisis Peta

Citra Landsat

Jalan

Topografi

Survei lapang

Peta LAI

Kelas LAI

Ketinggian
Tempat

Kemiringan
lahan

Kelas Ketinggian

Kelas Kemiringan

Peta Buffer jalan

Titik sebaran Kelompok


owa Jawa hasil survei
KONUS

Sebaran Kelompok owa


Jawa

Kelas Buffer
Jalan

Summerize Zone (Arc View)

Analisis Komponen Utama

Bobot

Overlay
aFk1+bFk2+cFk3+dFk4

Peta Kesesuaian Habitat Owa Jawa

validasi

tidak

Akurasi model

ya

Model diterima

Gambar 4 Bagan alir penelitian.


19

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Peta Tematik untuk Membuat Model


Berdasarkan hasil analisis setiap peta tematik, diperoleh peta setiap
variabel berikut ini. Batasan wilayah peta yang dianalisis adalah dengan membuffer batas kawasan sepanjang 1,1 km karena terdapat tiga titik kelompok yang
berada di luar kawasan, dan titik terjauh terdapat pada jarak sekitar 1,1 km dari
batas kawasan Cagar Alam Gunung Tilu.

5.1.1 Peta kerapatan tajuk (Leaf Area Index)


Estimasi LAI didasarkan pada pantulan dari kanopi vegetasi. Intensitas
pantulan tergantung pada panjang gelombang yang digunakan dan tiga komponen
vegetasi yaitu daun, substrat, dan bayangan. Kerapatan tajuk pada penelitian ini
dianalisis berdasarkan citra Landsat, dengan menggunakan model maker pada
ERDAS Imagine 9.0. Nilai piksel LAI (Leaf Area Index) diperoleh dari rumus
LAI

= 12,29 (PETI) + 1,33, dimana PETI =

[band 4 band 5]
[band 4 + band 5]

(McDonnell

1998). Berdasarkan rumus tersebut, maka diperoleh nilai piksel LAI pada wilayah
Cagar Alam Gunung Tilu (CAGT) dan sekitarnya berkisar antara 0-8,148 piksel,
seperti ditunjukkan pada Gambar 5.
120000

80000
60000
40000
20000

value
Nilai
LAI

Gambar 5 Grafik sebaran nilai piksel LAI.

8,052

7,669

7,285

6,902

6,519

6,135

5,752

5,368

4,985

4,601

4,218

3,834

3,451

3,068

2,684

2,301

1,917

1,534

1,150

0,767

0,383

0
0,000

histogram

100000

21

LAI diklasifikasi menjadi lima kelas, yaitu kelas (0-2), (2-4), (4-6), (6-8), dan
(8-10). Klasifikasi dilakukan guna mempermudah dalam pembuatan model, saat
overlay.
Owa Jawa merupakan satwa arboreal murni, sehingga membutuhkan hutan
dengan kanopi antar pohon yang berdekatan. Habitat yang sesuai bagi owa Jawa
adalah hutan dengan tajuk yang relatif tertutup, dan tajuk pohon tersebut memiliki
cabang horisontal. Kelas LAI dengan wilayah terluas terdapat pada kelas LAI
kedua dengan kisaran nilai piksel 2-4 dengan luas 9591,84 Ha. Wilayah tersebut
umumnya menyebar di sekitar kawasan, khususnya pada bagian tengah wilayah
batas studi. Sedangkan kelas LAI dengan wilayah terkecil terdapat pada kelas LAI
kelima dengan kisaran nilai piksel 8-10 dengan luas 0,09 Ha. Wilayah tersebut
hanya terdapat pada wilayah barat daya batas studi.
Peta LAI dapat dilihat pada Gambar 6.

5.1.2 Peta jarak dari jalan

Jalur jalan yang terdapat di kawasan CAGT sebagian besar adalah jalan
setapak dan jalan lain. Jalan lain merupakan jalan untuk masuk ke dalam kawasan.
Jalan tersebut biasanya digunakan oleh pihak perkebunan dewata yang terdapat di
tengah kawasan, sebagai sarana transportasi kendaraan dalam aktivitas
produksinya. Jalan setapak umumnya berada di tengah kawasan yang merupakan
wilayah perkebunan Dewata. Jalan tersebut biasanya digunakan oleh para pekerja
perkebunan untuk mencapai lokasi-lokasi kebun teh, maupun untuk masuk ke
dalam wilayah hutan.
Faktor manusia dapat menjadi pembatas terhadap habitat owa Jawa.
Manusia membuat jalur jalan di dalam kawasan untuk memudahkan
aksesibilitasnya ke dalam kawasan. Meskipun jalan dibuat bukan sebagai jalur
untuk merusak kawasan cagar alam ataupun untuk eksploitasi owa Jawa, namun
secara tidak langsung adanya jalan dapat menjadi sumber gangguan bagi owa
Jawa. Jalan merupakan salah satu jalur yang mempermudah manusia untuk masuk
ke dalam hutan. Adanya jalur tersebut dapat menjadi salah satu faktor yang
mengganggu bagi owa Jawa, karena manusia dapat masuk ke dalam hutan melalui
jalur tersebut. Nijman (2004) menyatakan bahwa respon owa pada saat ada

21

22

Gambar 6 Peta kerapatan tajuk (LAI).


22

23

manusia yang mendekat adalah segera menghindar. Respon lain yang mungkin
muncul adalah berdiam diri dan bersembunyi. Respon bersuara biasanya terjadi
apabila satwa mendeteksi kehadiran manusia pada jarak yang sangat dekat. Hal
tersebut membuktikan bahwa faktor manusia merupakan salah satu faktor
pengganggu bagi owa Jawa, dan faktor tersebut didukung oleh jalan sebagai
faktor masuknya manusia ke dalam hutan. Sehingga dilakukan pengkajian pada
variable jarak dari jalan untuk melihat pengaruh faktor jalan bagi owa Jawa di
Cagar Alam Gunung Tilu.
Jarak dari jalan diklasifikasi menjadi lima kelas, yaitu kelas 0-200m, 200400m,

400-600m,

600-800m,

800-1000m.

Klasifikasi

dilakukan

guna

mempermudah dalam pembuatan model saat overlay. Pada kelas klasifikasi jarak
0-200 m dari jalan hanya terdapat satu titik kelompok owa Jawa, sedangkan pada
kelas 200-400m tidak ditemukan titik kelompok owa Jawa. Pada kelas jarak 400600m dan kelas 600-800m masing-masing ditemukan titik kelompok owa Jawa
sebanyak tiga titik, dan pada kelas jarak 800-1000m ditemukan sebanyak dua titik
kelompok owa Jawa. Titik lainnya terdapat pada jarak di atas 1000m, yaitu
sebanyak enam titik kelompok owa Jawa.
Peta jalur jalan dapat dilihat pada Gambar 7.

5.1.3 Peta ketinggian

Habitat owa Jawa adalah hutan primer dan sekunder serta hutan hujan
tropika dari ketinggian setara permukaan laut sampai 1500 mdpl (Rowe 1996).
Ketinggian tempat merupakan faktor yang mempengaruhi keanekaragaman
tumbuhan dan satwa. Keanekaragaman tumbuhan tersebut membentuk zona
vegetasi berdasarkan perbedaan kondisi iklim yang dipengaruhi oleh perbedaan
ketinggian, sehingga mempengaruhi spesies dominan setiap zona vegetasi. Hutan
dengan ketinggian di bawah 1500 mdpl merupakan habitat eksklusif bagi owa
Jawa karena beberapa sebab yaitu, karena spesies tumbuhan hutan di atas
ketinggian 1500 mdpl bukan merupakan sumber pakan, dan banyaknya lumut
yang menutupi pepohonan menyulitkan owa Jawa melakukan pergerakan atau
perpindahan.

23

24

Gambar 7 Peta jalur jalan.


24

25

Gambar 8 Peta jarak dari jalan.


25

26

Pada wilayah tersebut hanya terdapat sedikit spesies tumbuhan, dan jenis
tumbuhan tersebuttidak sesuai untuk dimanfaatkan dalam melakukan kegiatan
brankiasi (Rowe 1996). Kappeler (1984) menyatakan penyebaran owa Jawa
berdasarkan ketinggian pada Tabel 2.
Tabel 2. Penyebaran owa berdasarkan ketinggian menurut Kappeler (1984)
Ketinggian (mdpl)

Kepadatan (invd/km2)

0-500

4-13

500-1000

2-7

1000-1500

1-3

>1500

Kawasan CAGT memiliki ketinggian yang bervariasi antara 750-2427


mdpl. Peta ketinggian diklasifikasi menjadi lima kelas yakni kelas (750-1000),
(1000-1250), (1250-1500), (1500-1750), dan (>1750) mdpl. Wilayah tertinggi
dengan klasifikasi ketinggian di atas 1750 mdpl terdapat pada wilayah barat
sampai bagian tengah kawasan, dengan luas 4585,86 Ha. Sedangkan wilayah
terendah dengan klasifikasi ketinggian 750-1000 mdpl terdapat pada daerah
selatan kawasan, dengan luas 151,02 Ha. Wilayah terluas terdapat pada kelas
ketinggian 1500-1750 mdpl yaitu 4947,93 Ha. Sebagian besar titik owa Jawa
berada pada kelas ketinggian 750-1000 mdpl.
Peta ketinggian dapat dilihat pada Gambar 9.

5.1.4 Peta kemiringan lereng

Kemiringan lahan merupakan suatu informasi berbagai tingkat kemiringan


dari suatu permukaan yang dinyatakan dalam derajat atau persen. Pembagian
kelas lereng didasarkan pada SK Menteri Pertanian No. 837/Kpts/II/1980 tentang
Kriteria dan Tata Cara Penetapan Hutan Lindung. Owa Jawa merupakan satwa
arboreal, oleh karena itu faktor kemiringan lahan tempat bukanlah menjadi
penghambat bagi aksesibilitasnya (Dewi 2005). Rinaldi (2003) dalam Dewi
(2005)

menyatakan

bahwa

kelompok

owa

Jawa

di

TNGHS

26

27

Gambar 9 Peta ketinggian.


27

28

(Taman Nasional Gunung Halimun Salak) lebih banyak terdapat pada topografi
yang curam. Hal ini mungkin disebabkan daerah yang curam lebih aman dari
predator.
Tabel 3. Tingkat kemiringan lereng di CAGT
Tingkat Kemiringan (%)

Kelas

Luas (Ha)

0-8

Datar

1638.99

8-15

Landai

2878.56

15-25

Agak curam

3956.67

25-40

Curam

3701.88

Sangat curam

2572.47

>40

Kawasan CAGT umumnya berada pada kelerengan agak curam, dengan


klasifikasi kemiringan lahan 15-25%. Sebagian besar titik ditemukannya
kelompok owa berada pada kemiringan lebih dari 40%, sebanyak tujuh (7) titik,
pada kemiringan 15-40% ditemukan enam (6) titik, dan pada kemiringan 8-15%
ditemukan satu (1) titik, dari total 15 titik kelompok owa. Pada kemiringan 0-8%
tidak ditemukan titik kelompok owa. Sebagian besar wilayah tersebut berada pada
kelas kemiringan agak curam, yaitu pada tingkat 15-25% dengan luas 3956.67 Ha.
Daerah dengan luas terendah pada kelas kemiringan datar, yaitu 1638,99 Ha.
Peta kemiringan lereng dapat dilihat pada Gambar 10.

28

29

Gambar 10 Peta kemiringan lereng.


29

30

Gambar 11 Peta sebaran owa Jawa.


30

31

5.2 Penyusunan Model Kesesuaian Habitat Owa Jawa


5.2.1 Penentuan nilai bobot setiap variabel

Penentuan nilai bobot dilakukan pada setiap variabel yang digunakan,


yaitu LAI (kerapatan tajuk), jarak dari jalan, ketinggian, dan kemiringan lahan.
Hasil analisis spasial setiap titik kelompok owa pada keempat variabel tersebut
dianalisis dengan metode PCA, sehingga menghasilkan data komponen utama.
Analisis komponen utama pada prinsipnya menghasilkan jumlah komponen utama
sebanyak jumlah variabel yang digunakan. Namun banyaknya komponen utama
yang digunakan tergantung pada jumlah varian yang dapat dijelaskan. Jumlah
komponen utama yang digunakan sudah memadai jika total keragaman yang dapat
diterangkan berkisar antara 70-80% (Timm 1975 dalam Pareira 1999).
Data yang digunakan dalam analisis komponen utama (PCA) adalah data
sebaran owa Jawa berdasarkan hasil survei lapang Konservasi Alam Nusantara
(KONUS) di Cagar Alam Gunung Tilu dan Cagar Alam Burangrang Jawa Barat.
Survei tersebut dilakukan pada tanggal 14 Juli 2008 2 September 2008. Pada
survei yang dilakukan di Cagar Alam Gunung Tilu diperoleh 15 titik, dengan 3
titik berada di luar transek.
Setiap titik sebaran kelompok owa Jawa dianalisis letak spasialnya, yaitu
pada LAI (kerapatan tajuk), jarak dari jalan, letak ketinggian dan letak kemiringan
lahan. Kemudian dihasilkan empat komponen utama, dimana dua komponen
utama yang digunakan, sehingga persentase varian yang dapat dijelaskan
mencapai 79,963%. Metode PCA diterapkan guna memberi nilai bobot untuk
setiap variabel berkaitan dengan tingkat kepentingannya terhadap penyebaran owa
Jawa di CAGT. Data hasil analisis PCA dapat dilihat pada Tabel 4 dan 5.
Tabel 4 Hasil analisis PCA
Akar Ciri
Komponen Utama

Total

% Keragaman

% Kumulatif

2,154

53,852

53,852

1,044

26,111

79,963

0,634

15,847

95,809

0,168

4,191

100,000

31

32

Tabel 5 Vektor ciri


Komponen

Variabel

LAI

0,930

0,142

Jarak dari jalan

0,848

-0,230

Ketinggian

-0,661

0,400

Kemiringan lahan tempat

0,364

0,900

Tabel 6 Nilai bobot setiap variabel


Variabel

Skor Keragaman
PCA

Nilai Bobot

LAI

2,154

2,154

Jarak dari Jalan

2,154

2,154

Ketinggian

1,044

1,044

Kemiringan lereng

1,044

1,044

Tabel Vektor ciri menunjukkan bahwa pada komponen 1 (pertama), varian


terbesar adalah LAI dan jarak dari jalan, sedangkan varian tekecil adalah
ketinggian dan kemiringan lahan. Pada komponen 2 (kedua), varian terbesar
adalah ketinggian dan LAI, namun karena LAI telah menggunakan komponen 1
maka varian terbesar kedua adalah ketinggian, sedangkan varian tekecil adalah
jarak dari jalan. Faktor bobot menunjukkan tingkat kepentingan dari masingmasing variabel habitat. Nilai bobot ditentukan dengan mempertimbangkan skor
PCA masing-masing komponen utama dan vektor ciri terbesar dari masingmasing komponen.

5.2.2 Model kesesuaian habitat

Berdasarkan bobot hasil PCA yang telah diperoleh maka Model


Kesesuaian Habitat Owa Jawa di Cagar Alam Gunung Tilu adalah sebagai
berikut:
Y = (2,154xFLAI) + (2,154xFjalan) + (1,044xFtinggi) + (1,044xFlereng)

32

33

dimana:

= Model kesesuaian habitat

FLAI

= skor kesesuaian LAI

Fjalan

= skor kesesuaian jarak dari jalan

Ftinggi = skor kesesuaian ketinggian


Ftinggi = skor kesesuaian ketinggian
Flereng = skor kesesuaian kemiringan lahan tempat
Model kesesuaian habitat owa Jawa dianalisis secara spasial dengan
menggunakan beberapa metode yaitu pembobotan dan overlay.

350000
300000

points

250000
200000
150000
100000
50000

19.1

18.1

17.1

16.1

15.1

14.1

13.1

12.1

11.1

10.1

9.1

8.1

7.1

6.1

5.09

4.09

3.09

2.09

nilai piksel

Gambar 12 Grafik nilai piksel model kesesuaian habitat.


Pada hasil overlay didapatkan nilai piksel terendah adalah 2,088 dan
tertinggi 23,4124 sehingga selang kesesuaiannya adalah selisih nilai maksimum
dan minimum piksel dibagi 3 (tiga), karena akan diklasifikasi menjadi 3 (tiga)
kelas kesesuaian, yaitu:
Selang

23,4124 2,088
= 7,1081
3

Berdasarkan nilai selang tersebut, maka klasifikasi kesesuaian habitat owa Jawa di
CAGT adalah sebagai berikut:

33

34

Tabel 7 Klasifikasi kesesuaian habitat owa Jawa


Klasifikasi Kesesuaian

Nilai
Kesesuaian

Kategori

Rendah

2,088-7,1081

KH1

Sedang

7,1081-14,2162

KH2

Tinggi

>14,2162

KH3

Peta kesesuaian habitat owa Jawa di Cagar Alam Gunung Tilu dapat dilihat pada
Gambar 13.
Berdasarkan tabel tersebut didapat bahwa model kesesuaian habitat terdiri
dari tiga kelas, yaitu kelas kesesuaian rendah, sedang, dan tinggi. Klasifikasi
kesesuaian didasarkan pada pembagian nilai piksel, semakin tinggi nilai piksel
pada suatu daerah maka semakin sesuai daerah tersebut bagi owa Jawa. Daerah
dengan klasifikasi kesesuaian tinggi berada pada nilai piksel di atas (>) 14,2162
dengan luas sebesar 8784,63 Ha. Daerah tersebut menyebar di seluruh kawasan,
daerah yang paling luas kesesuaian habitat tinggi berada pada wilayah timur laut
dan selatan wilayah batas studi.
Pada wilayah selatan batas studi terdapat perkebunan Dewata, aktivitas
manusia pada daerah tersebut dapat dipastikan memiliki tingkat aktivitas yang
tinggi, hal tersebut mungkin diakibatkan karena pada awalnya daerah tersebut
merupakan daerah yang sesuai bagi owa Jawa. Namun berdasarkan data Seksi
Konservasi Wilayah (SKW) I tahun 2004 dalam Siswoyo et al. (2005), kegiatan
pencurian hasil hutan dan perambahan di CAGT sering terjadi dan perambahan
terbesar terjadi pada tahun 2001 dengan luas perambahan sebesar 283,5 Ha.
Chivers (1984) dan Kappeler (1984) dalam Tobing (1999) dalam Dewi (2005)
menyatakan bahwa penggunaan ruang pada owa Jawa dalam melakukan aktivitas
adalah bersifat teritorial (daerah tetap). Dengan demikian apabila terjadi destruksi
hutan sebagai habitatnya, sangat kecil kemungkinannya bagi owa Jawa untuk
bermigrasi ke daerah baru (Dewi 2005). Hal tersebut yang mungkin menyebabkan
daerah di sekitar perkebunan berada pada klasifikasi kesesuaian tinggi bagi owa
Jawa, didukung dengan variabel habitat lain yang sesuai bagi owa Jawa, seperti
ketinggian dan kemiringan lahan pada daerah tersebut.

34

35

Daerah dengan klasifikasi kesesuaian habitat sedang memiliki luas sebesar


5951,25 Ha, dengan nilai piksel antara 7,1081-14,2162. Daerah tersebut menyebar
dengan luasan yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan klasifikasi kesesuaian
tinggi. Daerah terluas pada klasifikasi kesesuaian sedang berada pada wilayah
tengah khususnya bagian utara dan timur laut wilayah tersebut. Pada peta model
kesesuaian habitat tidak ditemukan wilayah dengan klasifikasi kesesuaian rendah,
karena luas pada klasifikasi kesesuaian tersebut adalah nol (0). Maka dapat
dikatakan bahwa klasifikasi kesesuaian rendah dengan nilai piksel antara 2,0887,1081 tidak ada.

5.3 Validasi

Validasi dilakukan untuk mengetahui tingkat kepercayaan terhadap model


yang dibangun. Jumlah titik pertemuan kelompok owa Jawa untuk validasi
diperoleh sebanyak (delapan) 8 titik di daerah blok Binatang, Dewata.
Tabel 8 Validasi setiap kelas kesesuaian
Tingkat
Kesesuaian

Nilai Kesesuaian

Klasifikasi
Kesesuaian

Jumlah
Luas (Ha)

kelompok
owa Jawa

Validasi
(%)

2,088-7,1081

Rendah

10263,125

7,1081-14,2162

Sedang

6197,3125

12,5

>14,2162

Tinggi

8538,5625

87,5

Berdasarkan uji validasi, ternyata model yang dibangun dapat diterima


dengan tingkat validasi mencapai 87,5% untuk tingkat kesesuaian tinggi.
Sedangkan pada tingkat kesesuaian sedang tingkat validasinya bernilai 12,5%
oleh karena kekurangan data untuk validasi, khususnya pada kelas kesesuaian
sedang dan rendah.

35

36

Gambar 13 Peta kesesuaian habitat.


36

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Model kesesuaian habitat owa Jawa yang dihasilkan adalah:


Y = (2,154xFLAI) + (2,154xFjalan) + (1,044xFtinggi) + (1,044xFlereng). Model

tersebut menunjukkan bahwa varibel habitat yang paling berpengaruh bagi owa
Jawa adalah kerapatan tajuk (Leaf area index) dan faktor manusia (jarak dari
jalan). Habitat dengan klasifikasi kesesuaian tinggi, dengan nilai piksel di atas (>)
14,2162 memiliki luas sebesar 8784,63 Ha. Daerah tersebut menyebar di seluruh
kawasan, daerah yang paling luas kesesuaian habitat tinggi berada pada wilayah
timur laut dan selatan wilayah batas studi. Berdasarkan uji validasi, ternyata
model yang dibangun dapat diterima dengan tingkat validasi mencapai 87,5%
untuk tingkat kesesuaian tinggi.

6.2 Saran

Model kesesuaian habitat owa Jawa yang dihasilkan diharapkan dapat


menjadi penunjang bagi pihak pengelola Cagar Alam Gunung Tilu, khususnya
dalam hal pengelolaan owa Jawa di CAGT, demi menunjang kelestariannya. Perlu
penelitian lebih lanjut mengenai keberadaan owa jawa pada wilayah lain di Cagar
alam tersebut guna meningkatkan kepercayaan terhadap model yang dibangun
(validasi).

DAFTAR PUSTAKA

[CII]

Consevation

International

Indonesia.

2000.

Javan

gibbon.

http://www.conservation.or.id [17 Juni 2008].


Dewi H. 2005. Tingkat kesesuaian habitat owa Jawa (Hylobates moloch Audebert,
1798) di Taman Nasinoal Gunung Halimun Salak [tesis]. Bogor: Program
Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Ensiklopedia Indonesia. 1992. Ensiklopedia Indonesia seri Fauna. Jakarta: PT.
Intermasa.
[IUCN] International Union for Consevation of nature and Natural Resources.
2000. IUCN Red List of Threatened Species: Hylobates moloch.
http://www.iucnredlist.org [17 Juni 2008].
______. 2008. IUCN Red List of Threatened Species: Hylobates moloch.
http://www.iucnredlist.org [26 Feb 2009].
Howard J. 1987. Penginderaan Jauh untuk Sumberdaya Hutan. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.
Iskandar E. 2007. Habitat dan populasi owa Jawa (Hylobates moloch Audebert,
1798) di Taman Nasional Gunung Halimun Salak Jawa Barat [disertasi].
Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Lillesand TM dan Kiefer FW. 1990. Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra.
Dulbahari R, alih bahasa. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Lo CP. 1995. Penginderaan Jauh Terapan. Purbowaseso B, penerjemah. Jakarta:
Penerbit Universitas Indonesia.
McDonnell DE. 1998. Leaf area index (LAI), Landsat 7 ETM+ satellite images,
and GIS used to determine fire and restoration activity along the Rio
Grande in the Albuquerque area for June 2000 and June 2001.
http://www.unm.edu [17 Juni 2008].
Muntasib EKSH. 2002. Penggunaan ruang habitat oleh badak Jawa di Taman
Nasional Ujung Kulon [disertasi]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut
Pertanian Bogor.

39

Napier JR dan PH Napier. 1967. A Hand Book of Living Primates. New York:
Academic Press.
Nijman V. 2004. Conservation of the Javan gibbon Hylobates moloch: population
estimates, local extinctions, and conservation priorities. The Raffles
Bulletin of Zoology. 52(1): 271-280.
Pareira MHY. 1999. Karakteristik habitat beo Flores (Gracula religiosa mertensi)
di desa Tanjung Boleng, Kabupaten Manggarai, Pulau Flores [skripsi].
Bogor: Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.
Prahasta E. 2001. Konsep-konsep Dasar Sistem Informasi Geografis. Bandung:
Informatika.
Rowe N. 1996. The pictorial Guide to the Living Primates. New York: Pogonias
Press.
Rusli SN. 1998. Penataan ruang wilayah dengan peran serta masyarakat
menggunakan sistem informasi geografis [disertasi]. Bogor: Program
Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Siswoyo, Wajihadin W, Jahidi A, Efendi AJ. 2005. Identifikasi permasalahan di
konservasi wilayah Bandung Selatan II. http://www.bplhdjabar.go.id
[17 Juni 2008].
Soenarmo SH. 2003. Penginderaan Jarak Jauh dan Pengenalan Sistem Informasi
Geografi untuk Bidang Ilmu Kebumian. Bandung: Penerbit ITB.
Supriatna J dan Wahyono EH. 2000. Panduan Lapang Primata Indonesia.
Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

39

LAMPIRAN

41

Lampiran 1.

Tabel Keterangan variabel pada setiap titik kelompok owa jawa


(hasil survei lapang Konservasi Alam Nusantara (KONUS) di
Cagar Alam Gunung Tilu dan Cagar Alam Burangrang Jawa Barat
tanggal 14 Juli 2008 2 September 2008)

Ketinggian

107 28 29.3

-7 14 28.8

1037

107 28 26.5

-7 14 26.5

107 28 44.6

Jarak dari

Kelerengan

LAI

1325,2358

53

3,8440

1057

1281,1128

47

4,8880

-7 14 30.5

1094

1470,5441

52

3,2580

107 28 30.4

-7 14 59.1

1030

760,3453

36

2,8660

107 29 06.2

-7 15 00.2

1053

1423,4641

55

3,3560

107 29 11.3

-7 14 46.3

1075

1792,5192

19

3,1510

107 29 21.1

-7 14 59.7

1250

1825,1713

28

2,2080

107 29 37.0

-7 14 40.9

1268

1487,0272

56

3,2890

107 29 38.8

-7 14 26.8

1288

1611,8700

72

4,2730

107 29 33.8

-7 14 08.3

1279

1629,8007

22

2,7440

107 27 51.9

-7 14 14.6

1199

1025,0000

40

2,7590

107 27 46.3

-7 14 34.0

1225

1040,4326

40

3,9170

107 27 53.8

-7 14 31.6

1282

1196,3486

54

4,8200

107 28 06.6

-7 14 38.0

1117

1127,4972

33

4,1230

107 27 09.1

-7 14 28.7

1403

75,0000

35

1,0240

Jalan

41

42

Lampiran 2.

Hasil analisis PCA pada SPSS 14.0


Factor Analysis

Correlation Matrix

Ketinggian
Correlation

Distance

Slope

Lai

Ketinggian

1,000

-,402

-,012

-,449

Distance

-,402

1,000

,050

,746

Slope

-,012

,050

1,000

,397

Lai

-,449

,746

,397

1,000

Communalities

Initial

Extraction

Ketinggian

1,000

,597

Distance

1,000

,772

Slope

1,000

,943

Lai

1,000

,886

Extraction Method: Principal Component Analysis.

Total Variance Explained


Com
pone
nt

Initial Eigenvalues
Total

1
2
3
4

2,154
1,044
0,634
0,168

Extraction Sums of Squared


Loadings

% of
Cumulative
Total
Variance
%
53,852
53,852 2,154
26,111
79,963 1,044
15,847
95,809
4,191
100,000

Rotation Sums of Squared


Loadings

% of
Cumulative
% of Cumulative
Total
Variance
%
Variance
%
53,852
53,852 2,013 50,321
50,321
26,111
79,963 1,186 29,642
79,963

Extraction Method: Principal Component Analysis.

42

43

Component Matrix(a)

Component
1

Lai

0,930

0,142

Distance

0,848

-0,230

-0,661

0,400

0,364

0,900

Ketinggian
Slope

Extraction Method: Principal Component Analysis.


a 2 components extracted.

43