You are on page 1of 15

ARTIKEL ILMIAH

MENULIS ARTIKEL DAN KARYA ILMIAH

Oleh :
Ivan Apriliyanto
1608511030
TON 12

Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam


Universitas Udayana
2016

MENULIS ARTIKEL DAN KARYA ILMIAH

I.

ABSTRAK

Artikel merupakan sebuah karangan faktual (non fiksi), tentang suatu masalah
secara lengkap yang panjangnya tidak ditentukan, untuk dimuat di surat kabar,
majalah, bulletin dan sebagainya dengan tujuan untuk menyampaikan gagasan dan
fakta guna meyakinkan, mendidik, menawarkan pemecahan suatu masalah, atau
menghibur. Artikel termasuk termasuk tulisan kategori views (pandangan), yaitu
tulisan yang berisi pandangan, ide, opini, penilaian penulisannya tentang suatu
masalah atau peristiwa. Sedang karya ilmiah adalah berbagai macam tulisan yang
dilakukan oleh seseorang atau kelompok dengan menggunakan tata cara ilmiah yakni
sistem penulisan yang didasarkan pada sistem, masalah, tujuan, teori dan data untuk
memberikan alternatif pemecahan masalah tertentu.
The article is an essay factual ( non-fiction ) , about a problem in a full -length
is not specified , to be published in newspapers , magazines , bulletins , etc. for the
purpose of conveying ideas and facts to convince , educate , offer a solution to a
problem , or entertaining , Articles included included writing category views ( views )
, namely the writing which contains views, ideas , opinions , assessment of writing
about an issue or event . Being scientific work are various kinds of writing done by a
person or group by using the procedures of scientific writing system based on the
system , problems , goals, theories and data to provide alternative solutions to certain
problems

II.

Pendahuluan

Menulis artikel dan karya ilmiah, kini bukan lagi sekedar hobi tetapi sudah menjadi
kebutuhan bagi kaum intelektual, terutama mereka yang menduduki jabatan
fungsional, seperti guru, dosen, peneliti, dan sebagainya. Bagi mereka, menulis
artikel di media massa, dan karya ilmiah pada jurnal penelitian, merupakan syarat
mutlak untuk mendapatkan angka kredit untuk menaikan jenjang jabatan
fungsionalnya. Bagi mahasiswa, menulis karya ilmiah merupakan kewajiban,
sebelum mereka menyelesaikan masa studinya dan diwisuda menjadi seorang sarjana.

Namun demikian menulis artikel atau karya ilmiah tidaklah semudah


membuat karangan biasa. Ide-ide atau gagasan-gagasan yang ada dalam benak kita,
tidak bisa begitu saja kita tuangkan menjadi suatu tulisan artikel atau karya ilmiah.
Karena untuk menjadi artikel atau karya ilmiah, apalagi yang dipublikasikan melalui
media cetak, ide atau gagasan itu, terlebih dulu harus disesuaikan dengan visi dan
misi media cetak yang akan memuatnya, atau harus mematuhi kaidah-kaidah ilmiah
dalam prosedur karya tulis ilmiah. Inilah kendala yang selama ini dihadapi oleh para
dosen, guru, peneliti dan pejabat fungsional lainnya. Ditambah lagi belum banyak
buku panduan atau contoh tulisan yang dapat mereka jadikan rujukan.
Menulis artikel pada media massa, dan karya ilmiah pada jurnal ilmiah bagi
para guru, dosen, peneliti, mahasiswa dan siapa saja yang berkecimpung di dunia
ilmu pengetahuan, memang sangat penting dan dibutuhkan. Ini karena, dengan
menulis artikel dan karya ilmiah, mereka akan terus berlatih untuk memecahkan
permasalahan-permasalahan yang timbul baik dalam kancah keilmuan, maupun
permasalahan sosial yang dihadapi pada kehidupan sosial sehari-hari. Dengan upaya
memecahkan permasalahan itulah, daya pikir para guru, dosen, peneliti maupun
mahasiswa terus terasah, sementara pemikiran kritis mereka semakin tajam. Ini
sangat diperlukan bagi kalangan intelektual untuk terus mengembangkan ilmu
pengetahuan.
Sebenarnya, seiring dengan menjamurnya bisnis media cetak, kesempatan
untuk menulis artikel terbuka semakin lebar. Inilah lahan subur bagi guru, dosen,
peneliti, dan sebagainya, untuk berkarya memenuhi angka kredit bagi jenjang jabatan
fungsionalnya. Jika karya tulisnya dimuat, selain karya tulisnya memperoleh angka
kredit (credit point), juga mendapat honorium dari surat kabar atau majalah yang
memuatnya. Ini merupakan penghargaan tambahan yang punya nilai tersendiri.
Sayangnya tidak semua artikel bisa menembus media massa. Karena selain gaya
penulisan yang harus komunikatif, artikelnya pun harus sesuai dengan misi, visi dan
policy media cetak tersebut.
Tulisan ini mencoba untuk memberi bekal, terutama bagi para dosen, guru,
peneliti dan mahasiswa untuk lebih mengerti dan memahami tentang jenis-jenis
artikel, kegunaannya, tata cara penulisan dan yang lebih penting bagaimana
memahami policy redaktur media massa, sehingga tulisan artikelnya menjadi layak
muat. Ini sangat penting mengingat kebanyakan penulis artikel gagal dimuat hanya
karena tulisannya tidak sesuai dengan policy redaktur surat kabar atau majalah yang
ditujunya.
Demikian juga dengan penulisan karya ilmiah. Banyak para guru, dosen,
peneliti yang jenjang jabatan fungsionalnya menjadi macet gara-gara tidak memenuhi
KUM, misal jabatan fungsional dosen dari tenaga pengajar ke asisten ahli, lektor,

lektor kepala dan guru besar dari unsur penulisan karya ilmiah, terutama dari hasil
penelitian memerlukan ketekunan dan kejelian tersendiri, serta panduan orang-orang
yang memang sudah sering melakukannya.
Bagi mahasiswa, terutama dalam menyelesaikan tugasnya, baik tugas akhir
mata kuliah maupun karya dalam mengakhiri studinya seperti skripsi, tesis maupun
disertasi. Baik dalam etika penulisannya (aspek metodologi penelitian) maupun
pemaparan urgensi masalahnya (teori yang dijadikan acuan pembahasan).

III.

Pembahasan

1. Artikel
Artikel dalam bahasa Inggris ditulis article, sedang menurut kamus lengkap
Inggris-Indonesia karangan Prof. Drs. S. Wojowasito dan W.J.S. Poerwodarminto,
article berarti karangan. Sedangkan artikel dalam bahasa Indonesia, menurut
Kamus Umum Bahasa Indonesia berarti karangan di surat kabar, majalah dan
sebagainya.
Dalam lingkup jurnalistik, para pakar komunikasi menerjemahkan artikel,
berdasarkan sudut pandang masing-masing. Menurut R. Amak Syarifudin (Djuroto
dan Bambang, 2003:3-4), artikel adalah suatu tulisan tentang berbagai alat, mulai
politik, sosial, ekonomi, budaya, teknologi, olah raga dan lain-lain. Misalnya tulisan
mengenai kehidupan kewanitaaan, pemuda, sejarah, film, drama dan sebagainya.
Tulisan semacam ini tidak terikat gaya bahasa maupun format tulisan. Tetapi untuk
mendapatkan audience-nya, penulis artikel harus pandai mengungkapkan gaya
tulisannya, agar tidak membosankan. Penulisan artikel di media massa (surat kabar
atau majalah), tidak harus dilakukan oleh wartawannya sendiri, orang luar pun bisa
menyumbangkan artikelnya. Dalam prakteknya penulisan artikel pada surat kabar
atau majalah kebanyakan dari luar. Sedang menurut Tjuk Swarsono bahwa artikel
adalah karangan yang menampung gagasan dan opini penulis, bisa berupa gagasan
murni atau memungut dari sumber lain, referensi, perpustakaan, pernyataan orang dan
sebagainya. Artikel mengharuskan penulis mencantumkan namanya secara lengkap
(by name), sebagai tanggung jawab atas kebenaran tulisannya. Juga Asep Syamsul M.
Romli menyebut artikel sebagai subuah karangan faktual (non fiksi), tentang suatu
masalah secara lengkap, yang panjangnya tidak ditentukan, untuk dimuat disurat
kabar, majalah, bulletin dan sebagainya, dengan tujuan untuk menyampaikan gagasan
dan fakta guna meyakinkan, mendidik, menawarkan pemecahan suatu masalah, atau
menghibur. Artikel termasuk tulisan ketegori views (pandangan), yaitu tulisan yang

berisi pandangan, ide, opini, penilaian penulisnya tentang suatu masalah atau
peristiwa.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa semua
tulisan di surat kabar atau majalah yang bukan berbentuk berita, bisa disebut artikel.
Yang membedakan salah satunya adalah pemuatan artikel tersebut. Jika artikel itu
dimuat pada halaman opini, disebut artikel umum. Bila diletakkan di halaman seni
dan hiburan dikatakan esai, dan jika dimuat di kolom khusus redaksi, diberi nama
tajuk rencana dan sebagainya.
Menulis artikel berbeda dengan menulis berita. Kalau berita, apa yang
ditulisnya itu harus berdasarkan fakta atas kejadian atau peristiwa yang terjadi. Boleh
juga penulisan berita ditambah dengan interpretasi, sepanjang itu diperuntukkan bagi
penjelasan fakta. Tetapi menulis berita, sama sekali tidak diperbolehkan memasukkan
opini. Untuk mewadahi penyampaian opini masyarakat pada surat kabar atau
majalah, disediakan kolom khusus yaitu halaman opini (opinion page).
Lantas apakah penulisan artikel harus full opinion? Jawabnya tidak juga.
Menulis artikel boleh dimulai dengan pemaparan fakta sebagai data dari apa yang
akan ditulisnya. Dari data yang ada itulah penulis bisa memberikan pendapat,
pandangan, gagasan, atau bahkan interpretasi dari fakta yang ada pada data tersebut.
Agar tidak dibingungkan oleh istilah fakta, interpretasi dan opini, berikut perbedaan
ketiga istilah tersebut.
Fakta adalah kenyataan yang ada sesuai dengan data yang sebenarnya. Fakta
bukan buah pikiran atau pernyataan. Namun demikian, buah pikiran atau pernyataan
bisa menjadi fakta asalkan dilatarbelakangi oleh peristiwa yang sebenarnya. Ini
disebut dengan fact in idea. Contoh Majelis Ulama Indonesia menyatakan. Bahwa
bumbu masak Ajinomoto adalah haram. Pernyataan ini didasarkan pada penelitian
mereka, yang menemukan bahan baku pembuatan Ajinomoto terakumulasi lemak
babi (kasus Ajinomoto 2000). Penjelasan MUI tersebut meskipun merupakan
pernyataan, bisa dianggap sebagai fakta karena pernyataan itu dilandasi dari hasil
suatu penelitian.
Interpretasi adalah hasil pemikiran berupa penafsiran, pengertian atau
pemahaman. Boleh jadi penafsiran, pemikiran atau pemahaman seseorang dengan
orang lain akan berbeda. Contoh: Presiden Abdurrahman Wahid, ternyata menyatakan
bumbu masak Ajinomoto adalah halal. Meurutnya, lemak babi yang digunakan pada
proses pembuatan Ajinomoto tidak menyentuh langsung bahan baku bumbu masak
tersebut. Lemak babi hanya berfungsi memisahkan sel-sel pada tetes tebu sebagai
bahan baku utama, sehingga tidak langsung menyentuh apalagi bercampur dengan
bahan baku Ajinomoto tersebut.

Opini adalah pendapat atau pandangan seseorang atau kelompok terhadap


masalah atau peristiwa yang terjadi. Contoh pada kasus Ajinomoto tersebut, muncul
berbagai pendapat (opini) yang di antaranya menyatakan, bahwa Presiden
Abdurarrahman Wahid meng-halal-kan Ajinomoto tersebut karena khawatir
kehilangan investasi dari Jepang yang menanamkan modalnya pada perusahaan
Ajinomoto tersebut. Dan banyak lagi contoh opini lainnya.
Kesimpulannya, menulis berita bida gabungan antara fakta dan interpretasi.
Sedangkan ertikel bisa terdiri dari ketiganya, yaitu fakta, interpretasi, dan opini.
Penulisan artikel berbeda dengan komentar. Jika komentar tulisannya terfokus untuk
menanggapi, atau mengomentari nuansa atau fenomena dari suatu permasalahan yang
terjadi. Sedangkan artikel, penulisannya tidak sekadar mengomentari masalah, tetapi
bisa juga mengajukan pandangan, pendapat atau pemikiran lain, baik yang sudah
banyak diketahui masyarakat maupun yang belum diketahui.

Kegunaan artikel bagi penerbit surat kabar atau majalah


adalah untuk membedakan pemuatan antara berita
(fakta) dan opini. Hampir semua penerbitan surat kabar
menyediakan satu halaman. Khusus untuk artikel yang
disebut opinion page. Halaman ini memberi kesempatan
kepada khalayak pembacanya untuk menyampaikan
pendapatnya (opini). Bagi penerbit media massa
pengiriman artikel oleh pembacanya, merupakan bukti
umpan balik bagi penerbitannya.
Bagi pembaca surat kabar atau majalah, halam artikel atau opinion page,
dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan pandangan, gagasan serta argumentasi dari
berita-berita atau situasi yang terjadi dan terekam dalam banaknya. Artikel tidak
sekadar sebagai penyampaian tanggapan atas suatu peristiwa yang termuat dalam
suatu penerbitan surat kabar atau majalah, tetapi juga untuk kepentingan penulisannya
sendiri. Bagi pegawai negeri atau karyawan swasta yang mempunyai jabatan
fungsional seperti peneliti, dosen, guru dan sebagainya, artikel di media massa
digunakan untuk memenuhi angka kredit bagi kenaikan jabatannya. Kenaikan jabatan
fungsional bagi pegawai negeri atau perusahaan swasta, salah satu persyaratannya
adalah dengan menulis artikel di media massa.
Dalam menulis artikel, memilih judul memerlukan perhatian khusus. Jika
judul itu pas dan menarik, redaktur media massa tertarik pula untuk memuatnya.
Itulah sebabnya memilih judul dalam penulisan artikel, memerlukan pemikiran,
pertimbangan dan penyesuian secara khusus. Ada sebagian penulis yang menentukan
judul artikelnya pada akhir dari proses penulisannya. Artinya, setelah semua

permasalahan diungkapkan dalam bentuk artikel, baru ia menentukan judulnya.


Tetapi ada juga justru sebaliknya, judul ditentukan terlebih dulu baru menulis isinya.
Pengalaman saya sebagai penulis, yang pertama dilakukan adalah menentukan
topik lebih dulu, kemudian mencari literatur, mengungkapkan permasalahan, baru
memilih judul yang tepat. Karena kadang-kadang, dari isi tulisan itulah justru muncul
kata-kata yang tepat untuk sebuah judul. Judul sebuah artikel sebaiknya memenuhi
kriteria berikut: (1) atraktif dan baru. Artinya judul itu harus bersifat atraktif dan
belum pernah dipakai oleh penulis lain. Sebaiknya judul dikaitkan dengan
permasalahan inti dari artikel tersebut. Ini akan menarik dan mengundang rasa ingin
tahu baik dari pembaca maupun oleh redaktur media massa; (2) tidak panjang.
Membuat judul artikel jangan terlalu panjang, sebaiknya terdiri dari subjek dan
predikat saja. Apabila ingin judul yang panjang, buatlah judul utama dan sub judul.
Judul yang terlalu panjang, selain tidak menarik, juga menghabiskan kolom pada
surat kabar, hal ini justru dihindari oleh redaktur media massa; (3) punya relevansi.
Judul harus memiliki relevansi dengan isi artikel, sekaligus mencerminkan gagasan
sentralnya. Artinya, jika artikel yang ditulis itu tentang dampak ekonomi, maka
judulnya jangan berisi masalah ekonomi. Harusnya tentang dampak yang timbul dari
gejolak ekonomi yang muncul.
Redaktur media massa biasanya mengelompokkan artikel, menjadi beberapa
jenis berdasarkan sudut pandang penulis, dalam memaparkan ide atau gagasannya.
Pengelompokan ini oleh redaktur dipakai untuk memudahkan penempatan
pemuatannya, pada halam yang sesuai dengan misi dan visi penerbitannya. Ada lima
jenis artikel antara lain: (1) eksploratif. Artikel eksploratif adalah artikel yang
mengungkapkan fakta berdasarkan kajian penulisnya. Jenis ini cocok untuk
menguraikan penemuan baru, misalnya seorang menemukan benda antik peninggalan
zaman purba. Penulis artikel kemudian menelusuri sejarah barang yang ditemukan itu
dan menguraikannya melalui suatu tulisan artikel. Tulisan ini menurut redaksi
dikelompokkan dalam jenis artikel eksploratif; (2) eksplanatif, artinya menerangkan.
Artikel eksplanatif adalah artikel yang isinya memnerangkan sesuatu untuk dapat
dipahami pembaca. Misalnya ketika Presiden Gusdur berkeinginan membubarkan
parlemen (DPR) dengan sebutan dekrit presiden, mengundang berbagai tanggapan
dari pengamat. Penulis artikel yang jeli, membuat artikel dengan menerangkan apa
sih sebenarnya dekrit presiden itu, bagaimana caranya dan sebagainya. Jika ada
artikel seperti ini disebut artikel ekplanatif; (3) deskriptif, adalah artikel yang
menggambarkan suatu permasalahan yang terjadi di tengah masyarakat, sehingga
dapat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Jenis artikel ini mirip dengan laporan
atau reportase, bedanya jika laporan atau reportase hanya berdasarkan fakta saja,
tetapi artikel, penulisnya bisa memasukan opini untuk memperjelas masalah yang
digambarkan itu. Misalnya, ketika terjadi bentrok antara mahasiswa dengan aparat
keamanan dalam peristiwa Semanggi di Jakarta, seorang penulis yang kebetulan

melihat secara langsung dalam peristiwa itu lantas menggambarkan keadaan yang
sesungguhnya dari peristiwa itu, dalam satu bentuk artikel; (4) prediktif, adalah
artikel yang berisi perhitungan atau ramalan apa yang bakal terjadi di kemudian hari
berdasarkan perhitungan penulisnya. Misal, ketika Bank Indonesia memutuskan suku
bunga deposito, seorang pengamat ekonomi memperkirakan atau memprediksikan
kelak kemudian hari bakal banyak deposan (orang yang mempunyai simpanan
deposito) memindahlan uangnya ke luar negeri. Akibatnya modal dalam negeri
banyak yang parkir di luar negeri. Arikel ini disebut artikel prediktif; (5) preskriptif,
adalah artikel yang memberikan tuntunan kepada pembacanya untuk melakukan
sesuatu sehingga tidak mengalami kekeliruan atau kesalahan. Misalnya artikel
bagaimana caranya mengurus paspor, KTP atau SIM tanpa melalui perantara.
Penjelasan detail yang sifatnya menuntun pembaca, sangat diperlukan.

2. Karya Ilmiah
Menurut Dr. H. Endang Danial AR., M.Pd. (2001:4) bahwa karya ilmiah adalah
berbagai macam tulisan yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok dengan
menggunakan tata cara ilmiah. Tata cara ilmiah adalah suatu sistem penulisan yang
didasarkan pada sistem, masalah, tujuan, teori dan data untuk memberikan alternatif
pemecahan masalah tertentu. Sedangkan Djuroto dan Bambang (2003:12-13) bahwa
karya tulis ilmiah adalah suatu tulisan yang membahas suatu masalah. Pembahasan
itu dilakukan berdasarkan penyelidikan, pengamatan, pengumpulan data yang didapat
dari suatu penelitian, baik penelitian lapangan, tes laboratorium ataupun kajian
pustaka. Maka dalam memaparkan dan menganalisis datanya harus berdasarkan
pemikiran ilmiah. Pemikiran ilmiah adalah pemikiran yang logis dan empiris. Logis
artinya masuk akal, sedangkan empiris adalah dibahas secara mendalam, berdasarkan
fakta yang dapat dipertanggung jawabkan (dapat dibuktikan).
Pemikiran ilmiah pada lingkup keilmuan, terdiri dari dua tingkatan yaitu,
tingkat abstrak dan tingkat empiris. Pemikiran ilmiah tingkat abstrak berkaitan
dengan penalaran. Pada tingkatan ini, pemikirannya bebas tetapi sedikit terikat
dengan waktu atau ruangan. Sedangkan pemikiran empiris berkaitan dengan
pengamatan. Kerena berkaitan dengan pengamatan, maka pemikiran empiris ini
sangat terkait dengan waktu dan ruangan. Boleh jadi pemikiran empiris ini dilakukan
dalam waktu dan ruangan tertentu.
Dalam proses pemikiran ilmiah seseorang selalu memulai dengan apa yang
disebut pendekatan ilmiah. Pendekatan ilmiah, merupakan gabungan dari dua
pendekatan yaitu pendekatan induktif dan pendekatan deduktif. Pemahaman terhadap

pendekatan induktif dan deduktif ini perlu dilakukan secara bersama, karena hasil
yang dicapai dari kedua pendekatan itu berbeda.
Pendekatan induktif adalah pengalaman atau pengamatan seseorang pada
tingkat empiris, menghasilkan konsep, memodifikasi model hipotesis menjadi teori,
dan bermuara di tingkat abstrak. Pendekatan deduktif merupakan titik tolak penalaran
serta perenungan di tingkat abstrak, yang menghasilkan pengukuran konsep serta
pengujian hipotesis.
Karya tulis ilmiah merupakan serangkaian kegiatan penulisan berdasarkan
hasil penelitian, yang sistematis berdasar pada metode ilmiah, untuk mendapatkan
jawaban secara ilmiah terhadap permasalahan yang muncul sebelumnya. Banyak cara
untuk menemukan jawaban dari penelitian tersebut. Untuk memperjelas jawaban
ilmiah terhadap permasalahan atau pertanyaan yang ada dalam penelitian, penulisan
karya ilmiah harus menggali khazanah pustaka, guna melengkapi teori-teori atau
konsep-konsep yang relevan dengan permasalahan yang ingin dijawabnya. Untuk itu
penulisan karya ilmiah harus rajin dan teliti dalam hal membaca dan mencatat
konsep-konsep serta teori-teori yang mendukung karya tulis ilmiahnya.
Dalam memberikan jawaban terhadap permasalahan yang timbul pada suatu
penelitian, penulisan karya ilmiah harus bisa membuktikan melalui dua cara.
Pertama, jawaban itu merupakan jawaban final terhadap permasalahan penelitian.
Kedua, jawaban tersebut harus menjadi jawaban yang paling benar, meskipun masih
akan dibuktikan lagi pada tahap lainnya. Jawaban pertama erupakan konklusi yang
nantinya sangat diperlukan sebagai suatu thesis. Sedangkan jawaban kedua,
merupakan konklusi sementara yang nantinya diperlukan sebagai hipotesis.
Meskipun jawaban penelitian tersebut sudah didapatkan, penulisan karya
ilmiah masih harus membuktikan, apakah jawaban tersebut memang bisa dirasakan
kebenarannya. Untuk itu diperlukan sumber informasi lainnya yang mendukung
jawaban yang telah didapatkan. Jawaban permasalahan yang ada pada penelitian, bisa
mendukung dan juga bisa menolak hipotesis yang ada. Jika jawaban itu mendukung
hipotesis maka bisa dikatakan hipotesis diterima, tetapi jika jawabannya tidak
mendukung hipotesis, maka disebut hipotesis dalam penelitian ini ditolak.
Dengan demikian, penulisan karya ilmiah, hanya bisa dilakukan sesudah
timbul suatu masalah, yang kemudian dibahas (dijawab) melalui kegiatan penelitian.
Karena berdasarkan hasil penelitian, maka pada akhirnya penulisan karya ilmiah,
selalu dikemukakan suatu kesimpulan dan rekomendasi. Kesimpulan dimaksudkan
sebagai pemikiran terakhir dari proses telaah melalui penelitian, sedangkan
rekomendasi diperuntukkan bagi langkah selanjutnya dalam menyelesaikan
permasalahan yang ditimbulkan.

Kesimpulan atau temuan penelitian, tidak selalu berupa sesuatu halyang baru.
Bisa jadi kesimpulan atau temuan dari hasil penelitian itu, merupakan kelanjutan dari
kesimpulan atau temuan pada penelitian yang dilakukan sebelumnya. Karena
penelitian merupakan suatu proses, maka hasil penelitian itu tidak bisa dikatakan baik
atau jelek. Jadi jika ada seseorang menyebut bahwa hasil penelitiannya itu baik atau
tidak baik, atau juga menyebut benar atau tidak benar, maka sebutan itu tidak tepat.
Yang tepat, sebutan untuk hasil penelitian adalah ukuran signifikansinya
(significance) atau meyakinkan.
Pada dasarnya semua ilmu ataupun teknologi yang ada di dunia ini, perlu
diteliti, ditingkatkan dan dikembangkan fungsi dan peranannya untuk melahirkan
perubahan. Karena yang kekal di dunia ini hanya satu, yaitu perubahan. Perubahan
yang positif melahirkan kemajuan dan kemajuan inilah yang dituntut oleh ilmu
pengetahuan. Tanpa kemajuan, kehidupan di dunia tidak ada artinya sama sekali.
Salah satu cara untuk mencapai kemajuan adalah dengan melakukan
pengamatan, pengkajian, dan penelitian dari sumber ilmu tersebut yang dituangkan
dalam bentuk karya tulis ilmiah. Salah satu tugas para ilmuwan (scientists) atau para
pandit (scolars) adalah memaparkan hasil kajian, pengamatan atau penelitiannya
kepada masyarakat luas.
Penulisan karya ilmiah diharapkan dapat membantu para cendekiawan untuk
menemukan sesuatu yang baru, guna menunjang peningkatan taraf kehidupan
masyarakat secara luas. Pada lingkungan perguruan tinggi karya ilmiah berupa skripsi
digunakan untuk meraih gelar sarjana (S1), tesis digunakan untuk magister (S2), dan
disertasi untuk gelar doktor (S3). Sedangkan bagi pejabat fungsional, karya tulis
ilmiah merupakan persyaratan untuk mendapatkan angka kredit bagi kenaikan
jabatannya.
Sebenarnya kegunaan penulisan karya ilmiah bukan hanya sekadar untuk
mendapatkan gelar atau memperoleh kredit pont untuk kenaikan jabatan, tetapi tujuan
utama dibuatnya karya tulis ilmiah adalah untuk mendokumentasikan hasil-hasil
penelitian yang berhasil mendapatkan atau membuktikan kebenaran ilmiah. Mungkin
yang tidak sama adalah gradasi kebenaran ilmiah yang ingin atau berhasil dicapai
oleh seseorang. Bagi seorang peneliti profesional, keuntungan yang paling besar dan
berharga dari semua karyanya adalah jika ia menemukan kebenaran ilmiah yang
kemudian dibukukan. Penemuan kebenaran ilmiah yang kemudian dibukukan dalam
karya tulis ilmiah ini bertujuan adalah (1) pengakuan scientific objective untuk
memperkaya khazanah ilmu pengetahuan, dengan pemaparan teori-teori baru yang
sahih serta terandalkan, (2) pengakuan practicial objective guna membantu
pemecahan problema praktisi yang mendesak.

Judul adalah kepala karya tulis ilmiah, sedangkan topik adalah pokok-pokok
permasalahan yang akan dijadikan objek dalam penelitian sebagai bahan utama
penulisan karya ilmiah. Jadi topik bisa diangkat menjadi judul, tetapi sebaliknya judul
bukan merupakan topik bahasan. Judul dalam suatu karya tulis ilmiah adalah ciri atau
identitas yang menjiwai seluruh karya tulis ilmiah. Judul pada hakikatnya merupakan
gambaran konseptual dari kerangka kerja suatu karya tulis ilmiah. Itu sebabnya,
dalam penulisan karya tulis ilmiah tidak bisa memaparkan begitu saja dari apa yang
akan ditulis, tetapi harus runtut mengikuti kerangka kerja (framework) dari konsep
yang akan dipaparkannya.
Judul merupakan kalimat yang terdiri dari kata-kata yang jelas, tidak kabur,
singkat, tidak bertele-tele. Pemilihan kata-kata untuk judul sebaiknya saling terkait
atau runtut, menggunakan kalimat yang tidak puitis apalagi sampai sensasional.
Menurut Sutrisno Hadi (1980), judul mempunyai dua fungsi pokok dalam penulisan
karya ilmiah. Bagi pembaca, judul menunjukkan hakikat dari objek penelitian yang
dilakukan sebelumnya. Sedangkan bagi penulisnya, judul merupakan patokan dalam
menyusun tulisannya.
Memilih judul untuk suatu karya tulis ilmiah tidak sebebas membuat judul
pada penulisan artikel. Judul karya tulis ilmiah harus disesuaikan dengan topik
bahasan yang sudah ditentukan sebelumnya. Jelasnya pada penulisan karya ilmiah
tidak bisa langsung menulis baru menentukan judulnya. Ini karena penulisan karya
ilmiah terkait dengan kegiatan ilmiah, sementara kegiatan ilmiah sudah dibuat
desainnya terlebih dahulu, di mana judul termasuk di dalamnya.
Seperti halnya artikel, judul karya tulis ilmiah, sebaiknya tidak terlalu panjang
dan jangan juga terlalu pendek. Jika judul terlalu panjang, orang yang membacanya
akan kesulitan memahami apa sebenarnya yang ada dalam karya tulis ilmiah tersebut.
Itu sebabnya judul yang panjang menjadi tidak menarik. Judul karya tulis ilmiah
sebaiknya terdiri dari delapan sampai dua belas kata yang merupakan hubungan dua
variabel atau lebih.
Pada prinsipnya semua karya tulis ilmiah itu sama yaitu hasil dari suatu
kegiatan ilmiah. Yang membedakan hanyalah materi, susunan, tujuan serta panjang
pendeknya karya tulis ilmiah tersebut. Untuk membedakan jenis atau macam karya
tulis ilmiah dipakai beberapa sebutan, seperti laporan praktikum, naskah berkala,
laporan hasil studi lapangan, texbook, hand out, paper, pra skripsi, tesis dan disertasi.
Penentuan jenis atau macam karya ilmiah biasanya disesuaikan dengan
keperuntukan karya ilmiah tersebut. Secara garis besar, karya ilmiah diklasifikasikan
menjadi dua, yaitu karya ilmiah pendidikan dan karya ilmiah penelitian. Karya ilmiah
pendidikan digunakan sebagai tugas untuk meresume pelajaran, serta sebagai

persyaratan mencapai suatu gelar pendidikan yang meliputi (1) paper (karya tulis)
adalah karya ilmiah berisi ringksan atau resume dari suatu mata kuliah tertentu atau
ringkasan dari suatu ceramah yang diberikan oleh dosen kepada mahasiswanya.
Tujuannya melatih mahasiswa untuk mengambil intisari dari mata kuliah atau
ceramah yang diajarkan. Karena baru tahap untuk latihan, materi tulisannya juga
masih sederhana, yaitu hanya berupa catatan poin-poin yang dianggap penting dari
mata kuliah atau ceramah tersebut, kemudian dirangkai dalam susunan kalimat
menjadi suatu karya tulis agar mudah dimengerti dan dipahami; (2) skripsi adalah
karya tulis ilmiah pendidikan yang digunakan sebagai persyaratan mendapatkan gelar
sarjana (S1). Istilah skripsi berasal dari kalimat deskripsi (deskription) yang berarti
memberikan gambaran tentang suatu masalah yang dibahas dengan memaparkan data
serta pustaka untuk menghasilkan kesimpulan. Pembahasan dalam skripsi harus
dilakuakn mengikuti pemikiran ilmiah yaitu logis dan empiris; (3) tesis adalah suatu
karya ilmiah pendidikan yang diperuntukannya sebagai salah satu persyaratan bagi
mahasiswa pascasarjana untuk mendapatkan gelar magister (S2). Istilah tesis berasal
dari kata sinthesa (sinthation). Skripsi bertujuan mendeskripsikan ilmu, maka tesis
bertujuan mensinthesakan ilmu yang diperoleh dari perguruan tinggi, guna
memperluas khazanah ilmu yang didapatkan di bangku kuliah. Perluasan khazanah
itu terutama berupa temuan baru hasil dari suatu penelitian. Itu sebabnya penulisan
skripsi dan tesis harus berdasarkan hasil penelitian ilmiah; (4) disertasi (dissertation)
adalah suatu karya tulis ilmiah yang mempunyai sumbert utamanya berupa
penyelidikan laboratorium, atau penelitian lapangan. Jadi disertasi harus
menghasilkan suatu temuan baru, baik dari ilmua soasial maupunilmu eksakta. Di
kalangan perguruan tinggi, karya tulis ilmiah disertasi merupakan tugas akhir yang
dibebankan kepada seorang mahasiswa dari perguruan tingginya untuk meraih gelar
doktor. Itu sebabnya seorang doktor harus menemukan sesuatu yang dapat menunjang
perkembangan ilmu pengetahuan.
Berbeda dengan penulisan skripsi atau tesis yang hanya bersumber dari data
dan pustaka saja. Disertasi harus lebih lengkap lagi dengan tiga sumber sekaligus
yaitu data lapangan, penelitian laboratorium serta kajian pustaka. Dalam
mengungkapkan teori untuk memecahkan permasalahan, disertasi wajib menyatakan
dalil-dalil atau teori-teori baru secara ilmiah yang diperolehnya, serta sanggahan
terhadap teori lama dan sebagainya. Penemuan teori atau dalil baru inilah sebenarnya
yang menunjukkan ciri khas suatu karya tulis ilmiah berupa disertasi.
Temuan baru atau teori baru yang dihasilakan oleh suatu disertasi dapat
berasal dari disiplin ilmu arau spesialisasi dari penulisnya sendiri atau berasal dari
disiplin ilmu lainnya yang dapat menunjang atau membenarkan dalil atau teori baru
yang diungkapkannya. Itu sebabnya penulisan disertasi membutuhkan waktu yang
panjang, karena harus dapat menemukan dalil atau teori baru.

Mahasiswa yang menulis disertasi disebut promovendus, dimana dalam


pembuatan karya tulis ilmiah disertasinya itu di bawah bimbingan seorang atau
beberapa orang guru besar (profesor) yang mempromotorinya. Para pembimbing
inilah yang nantinya harus mempertahankan disertasi promovendus terhadap
sanggahan yang akan diberikan oleh para penguji atau guru besar universitas di mana
promosi seorang doktor itu dilaksanakan.
Karya ilmiah panduan, meliputi: (1) panduan pelajaran (texbook), untuk
memberikan panduan (guidance) kepada mahasiswa, dosen atau masyarakat umum
yang berminat membuat karya ilmiah, misalnya buku panduan penulisan skripsi,
panduan membuat laporan praktek kerja (magang), panduan membuat laporan kuliah
kerja lapangan, dan sebagainya; (2) buku pegangan (handbook), bertujuan
memberikan petunjuk cara mengoperasionalkan suatu barang yang sudah ada,
misalnya buku pegangan mengoperasionalkan pengisian data penelitian dalam
komputer, petunjuk penggunaan peralatan laboratorium, petunjuk pembuatan
pertanyaan (kuesioner); (3) buku pelajaran (diktat), yakni dibuat oleh guru, dosen
atau guru besar untuk mata pelajaran atau mata kuliah yang diajarkannya.
Karya ilmiah referensi, meliputi: (1) kamus, berisi kata-kata yang
mengandung arti yang sama, atau terjemahan kata dari dua bahasa atau lebih,
misalnya kamus bahasa Inggris, bahasa Indonesia yang isinya memuat penjelasan
lebih detail lagi dari suatu kata. Kamus juga bisa dikelompokkan kata-kata dalam
lingkup tersendiri, misal kamus jurnalistik, kamus sosiologi, kamus antropologi,
kamus ekonomi, kamus politik, kamus hukum dan sebagainya. Kamus-kamus
tersebut biasanya dijadikan referensi bagi pelajar, mahasiswa dan juga masyarakat
umum; (2) ensiklopedia adalah buku yang berisi berbagai keterangan atau uraian
ringkas tentang cerita, ilmu pengetahuan yang disusun menurut abjad atau menurut
lingkungan ilmu, misal ensiklopedia ilmu-ilmu sosial, ensiklopedia satwa Indonesia,
ensiklopedia flora dan fauna Indonesia dan sebagainya.
Karya ilmiah penelitian, yang meliputi: (1) makalah seminar, yang terdiri atas
naskah seminar dan naskah bersambung; (2) laporan hasil penelitian dan; (3) jurnal
penelitian.

IV.

Kesimpulan

Berdasarkan beberapa penjelasan di atas maka dapat disimpulkan hal-hal berikut:


1. Karya ilmiah harus mengandung kebenaran ilmiah, yakni kebenaran yang tidak
hanya didasarkan atas rasio, tetapi juga dapat dibuktikan secara empiris.

2.

Prose berpikir ilmiah terdiri atas pengajuan masalah, perumusan hipotesis dan
verifikasi data. Sedangkan hasilnya (hasil berpikir ilmiah) disajikan dan ditulis
secara sistematis menurut aturan metode ilmiah.

3. Karya ilmiah biasanya ditampilkan dalam bentuk makalah ilmiah, skripsi, tesis,
disertasi dan hasil penelitian. Penelitian ilmiah lebih ditujukan untuk
pengembangan ilmu dan menguji kebenaran ilmu. Sedangkan makalah ilmiah
dapat juga dibuat para mahasiswa di perguruan tinggi dalam rangka penyelesaian
studinya. Proses berpikir ilmiah dapat dilakukan melalui pola berpikir deduktif
dan berpikir induktif.

DAFTAR PUSTAKA

Danial AR, Endang. 2001. Penulisan Karya Ilmiah: Salah Satu Pandunan untuk
Mahasiswa dan Guru PPKN dalam Mengembangkan Profesi melalui
Karya Tulis Ilmiah. Bandung: Ath-thoyyibiyah.

Darmoto & Ani M..Hasan. 2002. Menyelesaikan Skripsi dalam Satu Semester.Jakarta:
Grasindo.

Djuroto, Totok dan Bambang Suprijadi. 2003. Menulis Artikel & Karya Ilmiah.
Bandung: Remaja Rosda Karya.

Sudjana, Nana. 2001. Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah: Makalah-Skripsi-TesisDisertasi. Jakarta: Sinar Baru Algesindo.