You are on page 1of 5

ARTIKEL PERKEMBANGAN MULTIMEDIA

Nama

: Dedi Riyanto

Nim

:136710652159

Matkul : Multimedia Jaringan


Jurusan :Tekhnik Informatika
Pada awal tahun 1993, Satelindo adalah perusahaan swasta yang pertama terjun pada
bisnis layanan satelit dengan meluncurkan Satelit Palapa C1. Satelit Palapa C1 dan lalu C2
bakal berumur hingga 14 tahun. Satelit-satelit ini telah digunakan secara luas oleh
beberapa negara di ASEAN. Indonesia antara lain menggunakannya untuk layanan
komunikasi yang dikelola oleh Telkom dan Indosat, juga untuk layanan siaran televisi 5
TV swasta dan TVRI. Bahkan digunakan untuk 5 channel siaran langsung TV Satelit
Indovision (Direct Broadcasting Satelite) yang kini sudah berkualitas digital (19 channel).
Bahkan tengah November lalu, PT. Media Citra Indostar telah meluncurkan satelit
Cakrawarta-1 untuk menggantikan kerja Satelit Palapa C2 dalam mengudarakan siaran
Indovision.
Dengan satelit ini Indovision kelak akan menyelenggarakan layanan yang bisa disebut
layanan interaktif, karena akan tersedia antara lain layanan teleconference, Video on
Demand (VoD), home shopping, home banking dan komunikasi data (internet). Ada dua
perusahaan multimedia baru lainnya yang segera akan beroperasi dengan jaringan kabel
serat optik, yaitu PT Indonusa Telemedia dan Multimedia Nusantara. Perusahaanperusahaan multimedia lainnya adalah: PT Multi Media Asia Indonesia, PT Yasawirya
Tama Cipta. Sehingga Indonesia boleh disebut sekarang telah memasuki era industri
multimedia
Meski layanan multimedia sudah dioperasikan di Indonesia, namun terminologi
mengenai multimedia sendiri belum lagi akrab dengan masyarakat Indonesia.
Multimedia lebih akrab dipahami sebagai satu pencapaian teknologi pada personal
computer (PC). Jika sebuah PC disebut multimedia, maka PC tersebut memiliki
kemampuan menampilkan gambar bergerak dan suara, misalnya dari Video Compact
Disc, Audio Compact Disc, serta dapat berkomunikasi antar komputer atau jaringan
komputer melalui modem.
Padahal multimedia memiliki arti yang lebih luas. Multimedia merupakan keterpaduan
teknologi informasi (misalnya komputer) dengan teknologi komunikasi (misalnya jaringan

kabel coaxial atau satelit). Kalau dipisahkan berdasarkan etimologi kata multimedia
terdiri dari multi dan media. Multi berarti beragam, sedangkan Media berarti sarana
penyampaian informasi.
Sedangkan menurut Wahyu Wijayadi dalam sebuah makalah sebuah seminar yang
diselenggarakan Indosat yang berjudul ''Perkembangan Teknologi Multimedia dan
Implementasinya'', multimedia terdiri dari (1) unsur suara, (2) unsur gambar atau video,
(3) unsur teks/data, (4). terpadu dalam satu media penyampaian, (5). Interaktif/bukan
informasi satu arah. Sedangkan jenis jasa multimedia terdiri dari dua, yaitu berdiri
sendiri (stand alone/off line), dan terhubung dengan jaringan telekomunikasi (networkonline).
Banyak perkembangan-perkembangan baru setelah diluncurkannya Satelit Palapa C1 &
C2 beberapa tahun yang lalu. Seperti misalnya ditaburkannya satelit komunikasi di atas
langit Indonesia oleh perusahaan-perusahaan asing di mana banyak pengusaha
Indonesia terlibat dalam kepemilikan saham di dalamnya, di antaranya adalah PT. Bakri
Communication Corporation pada Irridium Project, sebuah proyek telepon satelit dunia
untuk memecahkan masalah blank spot pada telepon selular biasa, AMPS atau GSM.
Indosat pun masuk menjadi salah satu pemodal pada konsorsium ICO Global
Communication (ICO-GC), sebuah telepon satelit setelah Irridium.
Sementara di belahan lain dari bumi ini, Microsoft dengan beberapa perusahaan juga
telah merambah pada industri satelit layanan komunikasi yang lain, seperti internet,
video conference atau video on demand. Proyeknya yang terkenal sekarang ini adalah
CyberStar atau "Internet di Angkasa" yang mungkin akan menyediakan layanannya di
Indonesia.
Selain bisnis ternyata politik pun ikut mengembangkan multimedia di Indonesia. Sejak
Pemilu beberapa bulan lalu PT. Telkom berharap tidak ada satu kecamatan pun di
Indonesia yang tidak bisa dihubungi lewat sambungan telepon dengan teknologi satelit
VSAT (very small aperture terminal). Sayangnya fasilitas yang sudah dimiliki ini tidak
berfungsi pada saat kebakaran hutan dan bencana kelaparan di Indonesia. Entah
kenapa....
SUMBER INFORMASI YANG TERSEDIA
Untuk mengantipasi datangnya era ini, saya sajikan homepage ini, berisi kumpulan
informasi mengenai perkembangan multimedia di Indonesia dan di dunia secara umum
Homepage ini bisa disebut satu-satunya yang secara khusus berbicara mengenai
multimedia. Di dalam homepage ini tersedia banyak link ke situs-situs yang berkaitan
dengan multimedia, sehingga bisa diandalkan bagi yang ingin melihat perkembangan
multimedia dari waktu ke waktu.

Tulisan atau artikel mengenai multimedia harus diakui sangat jarang, bahkan pada
suratkabar besar seperti Kompas, Suara Pembaruan dan Republika. Bahkan kita belum
punya majalah atau terbitan berkala yang khusus menyajikan perkembangan industri
multimedia di Indonesia, seperti yang terbit di negara-negara lain. Meski demikian berita
mengenai kegiatan bisnis multimedia kerap muncul. Ini menggambarkan maraknya
perkembangan bisnis multimedia di Indonesia. Rupanya secara intelektual bidang ini
kurang dilirik oleh para akademisi.

Atau sebaliknya berarti para akademisinya sudah terjun langsung menjadi praktisi
multimedia di perusahaan-perusahaan multimedia dan tidak sempat untuk membagi
pengetahuan ini ke publik. Padahal Membagi informasi perkembangan multimedia
kepada publik akan menstimulasi pengembangan industri multimedia.
ANDIL PENGUSAHA
Jika apa yang sudah dilakukan Peter Gontha selama ini, yaitu terjun mengembangkan
multimedia di Indonesia, diikuti oleh banyak pengusaha lain tentu kita bisa berharap
bahwa era informasi di Indonesia dapat lebih cepat menghampiri. Meski pemerintah
Indonesia tidak seperti Pemerintah Malaysia yang telah mencanangkan program
nasionalnya secara khusus, yaitu Multimedia Super Corridor, Indonesia cukuplah
memiliki Peter Gontha, Abu Rizal Bakri, Youk Tansil dan bahkan Sudwikatmono (tanpa
mengurangi respek saya kepada orang-orang yang giat mengembangkan multimedia di
Indosat dan Telkom) sebagai pelopor dan pejuang pengembangan multimedia di
Indonesia. Sehingga kita bisa optimis bahwa masa depan Indonesia akan lebih baik dari
sekarang.
Karena saat itu semua orang dapat meraih salah satu sisi baik multimedia yaitu
memberikan kesempatan yang sama bagi setiap orang untuk mencerdaskan dirinya
melalui tersedianya akses-akses kepada informasi yang seluas langit sebagai salah satu
tempat di mana infrastruktur multimedia ditempatkan.
Memang, saya harus katakan bahwa seluruh layanan multimedia saat ini adalah bukan
bisnis yang selalu menguntungkan. Contohnya adalah layanan televisi satelit Indovision
sebagai salah satu layanan multimedia. Bisnis ini di Indonesia kurang menajamkan
kekuatan marketingnya, sehingga layanan Indovision ini menjadi sangat ekslusif. Ada 1
juta antena parabola yang bertebaran di seluruh Indonesia yang diharapkan beralih ke
Indovision pada saat peluncuran pertama Indovision. Sementara itu perilaku pemirsa
pada saat itu belum mengenal kebiasaan membayar siaran TV dan acara-acara yang
100% asing (berbahasa Inggris).
Indovision hingga sekarang masih membutuhkan upaya yang lebih keras untuk
mendapatkan pelanggan sebanyak yang diharapkannya. Meski pertumbuhan pelanggan

Indovision ini tergolong lambat, namun Indovision telah membuka jalan bagi perusahaan
TV Bayar lain untuk terjun di industri ini. Sehingga perusahaan lain akan lebih mudah
memasuki pasar yang telah terbentuk untuk menerima siaran TV bayar dan program
asing, apa pun sistem dan teknologinya.

MULTIMEDIA DAN PERADABAN MANUSIA


Sepuluh tahun yang lalu kebutuhan pada alat telekomunikasi seperti telepon belum
seperti sekarang, terutama di kota besar. Ketika jalan-jalan semakin macet dan waktu
terasa semakin pendek, komunikasi melalui telepon menjadi kebutuhan yang tak
terelakkan untuk tetap lancar dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Padahal sepuluh
tahun yang lalu itu sedikit yang menyadari bahwa telepon adalah kebutuhan mutlak
pada 10 tahun mendatang di kota-kota besar.
Demikian juga keberadaan Personal Computer (PC) yang sekarang seperti peralatan
audio system atau TV berwarna di rumah-rumah pada 10 tahun yang lalu. Atau sekarang
kebutuhan akses ke internet bagi kantor-kantor dalam rangka agar tidak tercerabut dari
trend dari bidang yang digelutinya serta untuk mendapatkan layanan e-mail yang mulai
menggantikan fax machine. Perlahan tapi pasti layanan interractive data communication
seperti Internet ini akan mengulang sejarah yang sama bagi telepon atau PC beberapa
tahun lampau.
Itu memang sudah nampak dari usaha-usaha yang telah dilakukan untuk
mengembangkan layanan ini. Contohnya adalah WEB TV yang sekarang sudah
dipasarkan. WEB TV adalah layanan internet melalui pesawat TV bukan melalui PC.
Dengan menambahkan beberapa peralatan tambahan, modem, remote control atau
keyboard dan dihubungkan dengan telephone line atau antena microwave/satelit maka
jadilah pesawat TV biasa sebagai layar monitor untuk menjelajahi jaringan informasi
seluruh dunia internet.
Bayangkan saat itu di mana ibu-ibu rumahtangga menjelajahi internet untuk berbelanja
fashion, makanan, jasa perjalanan, bahkan ramalan cuaca dan lain-lain. Juga akan
bertumbuhan usaha-usaha yang berbasis rumah yang sebagian dikelola oleh para ibu
rumah tangga, seperti jasa layanan komputer, jual-beli barang, disain graphis, arsitektur,
kesehatan, konsultasi, penitipan anak yang bisa dikontrol melalui jaringan multimedia
dan lain-lain.
Perkembangan multimedia dalam beberapa tahun belakangan ini telah melahirkan suatu
pertanyaan malu-malu, yaitu apakah yang terjadi dengan pembatasan terhadap akses
informasi dan kebebasan berekspresi yang dulu diberlakukan? Harus diakkui, perlahan,
kemilau dari kemajuan teknologi multimedia terutama dari 5 broadcast TV swasta telah
mempurukkan pembatasan itu.

Maka pertanyaan berikutnya adalah: kemanakah arah perkembangan multimedia 5


tahun mendatang? Atau: kemanakah arah peradaban manusia? Jawabannya mungkin
akan bergantung pada kemana kita akan mengarahkannya.
SUMBER DAYA MANUSIA UNTUK MENDUKUNG INDUSTRI MULTIMEDIA
Perkembangan industri multimedia yang demikian cepat harus didukung oleh
tersedianya sumber daya manusia Indonesia yang kompetitif, sehingga lahan yang
empuk ini tidak diserbu oleh tenaga kerja asing yang sudah terlalu banyak merambah di
Indonesia. Terjun di bidang teknologi multimedia merupakan profesi baru yang sedang
dibutuhkan pada saat sekarang dan yang akan datang. Imajinasi yang kuat diperlukan di
bidang ini untuk dapat membayangkan, melihat potensi, menciptakan apa yang tidak
terbayangkan oleh kebanyakan orang saat ini.
Usaha pengembangan industri multimedia di Indonesia membutuhkan lebih banyak
orang seperti itu untuk menyiapkan jalan menuju peradaban baru manusia di masa
mendatang. Mereka bukan hanya para konglomerat yang mudah baginya untuk terjun ke
dalam industri apa pun. Namun tanpa didukung oleh sumber daya manusia yang handal,
apa lah artinya