You are on page 1of 5

ARTIKEL PERKEMBANGAN DAN HAMBATAN PENDIDIKAN ILMU SOSIAL DI

INDONESIA
Oleh: Munawwar Khalil

Perkembangan pendidikan ilmu sosial patut di pertanyakan di Negara Indonesia dan mencari
solusi nya karena Ilmu sosial kritis justru hadir menentang kaidah-kaidah keilmuan yang
dikembangkan dalam ilmu-ilmu sosial positif, dan karena itu mudah menggoncang paradigma.
Bila ilmu-ilmu sosial positif mempelajari perilaku manusia maka ilmu sosial kritis mempelajari
aksi manusia dan melihat bahwa dunia sosial diciptakan melalui tindakan manusia dan
pemahaman inter subyektif.
PEMBAHASAN
PERKEMBANGAN DAN HAMBATAN PENDIDIKAN ILMU SOSIAL DI
INDONESIA
Ilmu sosial, dalam mempelajari aspek-aspek masyarakat secara subjektif, inter-subjektif, dan
objektif atau struktural, sebelumnya dianggap kurang ilmiah bila dibanding dengan ilmu alam.
Namun sekarang, beberapa bagian dari ilmu sosial telah banyak menggunakan metoda
kuantitatif. Demikian pula, pendekatan interdisiplin dan lintas-disiplin dalam penelitian sosial
terhadap perilaku manusia serta faktor sosial dan lingkungan yang mempengaruhinya telah
membuat banyak peneliti ilmu alam tertarik pada beberapa aspek dalam metodologi ilmu
sosial.Penggunaan metoda kuantitatif dan kualitatif telah makin banyak diintegrasikan dalam
studi tentang tindakan manusia serta implikasi dan konsekuensinya.
Karena sifatnya yang berupa penyederhanaan dari ilmu-ilmu sosial, di Indonesia IPS
dijadikan sebagai mata pelajaran untuk siswa sekolah dasar (SD), dan sekolah menengah tingkat
pertama(SMP/SLTP). Sedangkan untuk tingkat di atasnya, mulai dari sekolah menengah tingkat
atas (SMA) dan perguruan tinggi, ilmu sosial dipelajari berdasarkan cabang-cabang dalam ilmu
tersebut khususnya jurusan atau fakultas yang memfokuskan diri dalam mempelajari hal tersebut.
Ilmu sosial kritis mencoba memahami hubungan kondisi-kondisi sosial dengan tindakan
subyektif manusia dengan berbagai macam kepentingannya. Karena hubungan antara kondisi
sosial dan tindakan manusia itu sifatnya sangat rumit, maka ilmu sosial kritis tidak percaya
dengan apa yang disebut prediksi. Karena hakekat masyarakat adalah pemahaman dan tindakan

masyarakat itu sendiri maka secanggih apapun kondisi sosial itu diramalkan dan diatur dengan
ketat sedemikian rupa, didalamnya pasti terdapat banyak kesalahan. Kalau konsep-konsep dan
katagori-katagori ilmu sosial positif masih banyak kita gunakan sekarang, pada masa datang
nanti sudah tidak dapat lagi. Kaum positivist beranggapan bahwa apa yang dilakukan sekarang
adalah usaha mengembangkan disiplin ilmu yang dipelajari, tetapi tragisnya mereka justru
melepaskan bagaimana proses-proses sosial itu tercipta.
Jika semua proses sosial dipahami sebagai produk tindakan manusia, maka semua
pertimbangan kritis harus dimulai dari pemahaman, nilai-nilai, dan inter subyektif. Pengertianpengertian, nilai-nilai dan motif-motif ini harus dikembangkan dengan proses-proses sosial
dengan cara menunjukkan dengan jelas bagaimana mereka dibangun oleh tindakan dan refleksi
manusia.
Penjelasan-penjelasan kritis di dalamnya meliputi teori-teori dasar tentang perubahan
struktural, nilai-nilai, pengertian-pengertian dan motif-motif yang timbul sebagai akibat dari
adanya perubahan struktural. Perbedaan-perbedaan pemahaman tentang struktur sosial (meliputi
kekuatan domianan dan kekuatan pinggiran) harus dikaji dalam teori kritis. Sebagai contoh suatu
gagasan mobilitas sosial boleh jadi didukung oleh pengalaman personal golongan minoritas
kapitalis, terutama di Amerika Serikat pada waktu itu. Konsep mobilitas sosial dalam prakteknya
ternyata hanya memberikan keuntungan kaum kapitaslis belaka, sedang orang-orang golongan
lemah justru semakin tersingkir karena kelemahannya secara ekonomis oleh penguasa kapitalis.
Konsep-konsep yang diciptakan oleh manusia ternyata dalam prakteknya dapat memberikan
keuntungan bagi beberapa pihak dan merugikan beberapa pihak-pihak lainnya. Selama manusia
yang mencari keuntungan ingin tetap mempertahankan posisi mereka sedang mereka yang tidak
diuntungkan dengan sistim tersebut sengaja dibuat tidak paham agar terus menerus dapat
dijadikan ajang dominasi. Ilmu sosial kritis hadir ditengah-tengah masyarakat dengan
pertimbangan-pertimbangan kritis, ingin menyadarkan manusia yang tidur didunia mereka
sendiri. Karena karakternya yang demikian, maka didalam dirinya senantiasa terkandung
keinginan untuk melakukan perubahan, baik secara radikal atau tidak.
Perubahan-perubahan radikal terjadi karena adanya kontrakdisi-kontrakdisi dalam proses
sosial, artinya ada pihak yang mencari keuntungan dan ada yang dirugikan dari haknya antar
kelompok didalam ilmu sosial. Semua ini dapat dipahami lewat ideologi dan kondisi-kondisi
sosial yang berkembang selama ini. Kontrakdisi fundamental akan terjadi apabila kepentingan-

kepentingan sebagian fihak bertentangan terus menerus dengan kepentingan pihak lainnya,
misalnya dalam satu sistim sosial yang memberlakukan praket-praket monopoli berhadapan
dengan sistim kompetisi bebas. Satu kelompok atau kelompok yang tertindas di dominasi dalam
sistim yang berkembang sekarang ini akan melakukan perlawanan dan melakukan perubahan
sosial sebagaimana mereka kehendaki. Ini adalah perkara politik dan karena itu harus berkalikali dijelaskan bahwa teori kritis memang tidak bisa dipisahkan dari politik praktis.
Sejauh mana pergolakan politik itu timbul tergantung pada derajad pertentangan kepentingan
kaum progressive dengan para pemegang kekuasaan. Kalau kontradiksi yang terjadi tidak terlalu
mendesak, pada umumnya dapat diselesaikan melalui cara damai tanpa harus membungkus
ideologi dan struktur kekuasaan. Tetapi kalau kontradiksi itu sangat mendesak, tidak ada cara
lain kecuali merombak ideologi dan struktur yang dianggap tidak mapan. Kapan kontradiksi
fundamental itu akan terjadi tidak dapat diramalkan oleh ilmu sosial, sebab ini menyangkut
kesepakatan manusia secara bersama-sama menghadapi ideologi dan struktur yang berkembang.
Karena itu dapat dirumuskan bahwa tujuan teori kritis bukanlah untuk meramalkan perubahan
sosial, melainkan memahami perkembangan sejarah masyarakat sehingga mereka melakukan
perubahan sosial. Masuknya ilmu sosial kritis dalam percaturan politik praktis seperti dikatakan
diatas kemudian membedakan para ilmuwan sosial positif disatu pihak dengan ilmuwan sosial
kritis dilain pihak.
Ilmu sosial di Indonesia seperti di negara lain, oleh penulis dianggap tidak mengalami
perkembangan seperti halnya dengan ilmu lain, misalnya ilmu alam.
Walaupun perkembangannya tidak terlalu besar, tetapi dapat memberikan kontribusi berarti
dalam pengembangan ilmu sosial di Indonesia. Salah satu cabang ilmu sosial yang cukup
signifikan dalam perkembangan ilmu sosial adalah sosiologi itu sendiri, di mana perkembangan
terakhir ini muncul suatu isitilah baru dalam sosiologi, yaitu sosiologi profetik, secara sederhana
dapat dijelaskan sebagai sosiologi berparadigma ilmu sosial profetik (ISP). ISP dicetuskan oleh
Kuntowijoyo sebagai alternatif pengembangan ilmu sosial yang mampu mengintegrasikan antara
ilmu sosial dan nilai-nilai transendental.
Sosiologi profetik berpendirian bahwa sumber pengetahuan itu ada tiga, yaitu realitas
empiris, rasio dan wahyu. Ini sekaligus menjawab teori positivisme yang memandang wahyu
sebagai bagian dari mitos dan cerita rakyat yang belum tentu kebenarannya.

Uraian ini memberikan gambaran bahwa secara ontologi perkembangan ilmu sosial yang
berkiblat ke dunia barat, dapat memberikan penguatan terhadap kelahiran konsep dan istilah baru
ilmu sosial. Konsep terdahulu dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan dalam merumuskan
dan pengembangan teori-teori sosial modern, bahka lebih dari itu dijadikan sebagai konsep
penanganan masalah-masalah sosial yang melanda semua negara di dunia.
Secara hipestemologi, ilmu sosial yang berkembang sampai dewasa ini maish sering
dipertentangkan, apakah bisa diistilahkan sebagai ilmu baru atau hanya sebuah kata yang
mengandung unsur sastra. Pertanyaan ini masih melengkapi teka teki keilmiahan teori sosial.
Pembentukan premis mayor dan minor yang seharusnya melandasi conclucion sebuah teori
masih sering dipertanyakan, apakah sesuai dengan metode ilmiah atau hanya hanya sekadar
pernyataan biasa.
Hambatan perkembangan ilmu sosial di Indonesia yang mendapat inspirasi dari dunia luar
yang kebarat-baratan lebih mengutamakan unsur akal dan nafsu, sehingga melahirkan konsep
yang berwarna liberal, kapital, dan humanis. Suatu konsep yang bertolak belakang dengan nilai
dan norma kehidupan masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi peradaban dan kesantunan
dalam bermasyarakat. Namun dengan adanya terpaan angin liberal dan kapitalis yang begitu
kencang, tatanan kehidupan Inondesia yang dulunya masih memegang teguh nilai dan norma,
kini mulai terkikis dan terganti dengan budaya liberal dan kapitalis yang serba material dan
hedonis.

Nama

: Anisa Ayu Widiaswara

NIM

: M0414010

Jurusan

: MIPA-Biologi (B)
Analisis Ilmu Sosial Kritis

Penerapan pendidikan Ilmu Sosial di Indonesia masih kurang maksimal. Hal ini terlihat
dari timbulnya permasalahan social di kalangan pelajar. Ilmu Sosial yang seharusnya dapat
menghindari timbulnya masalah-masalah social seakan kurang dipahami oleh masyarakat
terutama di kalangan pelajar Indonesia. Hambatan-hambatan yang ada dalam pengembangan
Ilmu social kritis di kalangan pelajar adalah dikarenakan oleh terinspirasinya masyarakat
Indonesia dari dunia barat dan menimbulkan sikap liberal, kapital, dan humanis yang mana hal
tersebut sangat menghambat perkembangan ilmu social di Indonesia. Oleh karena itu Ilmu Sosial
perlu diperdalam dan diajarkan kepada seluruh masyarakat di Indonesia untuk menghindari
timbulnya berbagai gejolak social.
Ilmu Sosial kritis merupakan suatu ilmu yang berfungsi untuk meningkatkan kesadaran
para pelaku perubahan dari realitas yang diputar balikkan oleh kalangan tertentu dan
disembunyikan dari permasalahan sehari-hari. Ilmu social kritis menempatkan manusia sebagai
sekumpulan subyek yang aktif dalam membentuk dunia mereka sendiri yang didasarkan pada
dialog antar subyek. Dengan begini, ilmu social kritis menjadi sebuah metode untuk aksi
penyadaran, bukan ideology dominasi teknokrat terhadap rakyat yang dianggap pasif. Ilmu social
kritis membantu manusia dalam memahami perubahan-perubahan social yang terjadi di
masyarakat. Penjelasan-penjelasan kritis di dalamnya meliputi teori-teori dasar tentang
perubahan struktural, nilai-nilai, pengertian-pengertian dan motif-motif yang timbul sebagai
akibat dari adanya perubahan structural.
Berdasarkan artikel di atas, perlunya pengembangan Ilmu social kritis dalam masyarakat
terutama di kalangan pelajar adalah agar mereka sadar akan gejolak social yang ditimbulkan dari
hal kecil sehingga menjadi besar, dan berusaha untuk menghindari serta mencegahnya setelah
adanya Ilmu social dalam wawasan mereka. Teori kritis secara sadar berkeinginan untuk
membebaskan manusia dari konsep-konsep yang secara ideologis beku dari kenyataan dan
kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan.