You are on page 1of 10

1

G1A013092

PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN ANTARA NARAPIDANA PRIA


DAN WANITA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS I
SUKAMISKIN DAN IIA WANITA KOTA BANDUNG: STUDI CROSS
SECTIONAL
Nadia Hanifah1, Basiran2, Diah Krisnansari3
1 Peneliti, Fakultas Kedokteran, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto; 2 Pembimbing penelitian,
Departemen Ilmu Kesehatan Jiwa, Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas; 3 Pembimbing penelitian,
Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto,
Indonesia
Penulis jurnal
Jehanarinda@gmail.com

ABSTRAK
Latar Belakang: Tingkat kriminalitas di Jawa Barat memiliki angka yang tinggi
di Indonesia yaitu 27.247 kasus dengan jumlah total narapidana yang terdapat di
Jawa Barat sebanyak 12.869 jiwa. Tingkat kriminalitas yang semakin tinggi akan
berdampak pada peningkatan jumlah penghuni Lembaga Pemasyarakatan.
Sebanyak 285.000 narapidana di Amerika mengalami gangguan jiwa. Angka
kejadian cemas pada naapidana yang di teliti di Unversity of South Wales
sebanyak 61% pada wanita dan 39% pada pria sedangkan di Indonesia 41,71%
pada wanita dan 23,3% pada pria. Faktor yang menyebabkan terjadinya cemas
pada narapidana adalah hilangnya kebermakanaan hidup, kurangnya dukungan
sosial, usia, jenis kelamis, persepsi negatif dari masyarakat dan masa hukuman
yang lama.
Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui perbedaan tingkat kecemasan antara
narapidana pria dan wanita di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I dan II A Kota
Bandung.
Metode Penelitian: Desain penelitian ini adalah analitik observasional dengan
pendekatan cross-sectional. Teknik pengambilan sampling adalah purposive
sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner Lie Minnesota
Multiphasic Personality Inventory (L-MMPI) dan kuesioner Taylor Manifest
Anxiety Scale (TMAS). Analisis data menggunakan uji T tidak berpasangan.
Hasil: Responden sebanyak 48 narapidana terdiri dari 24 pria dan 24 wanita.
Rerata skor TMAS narapidana pria 17,38 (<21) tidak cemas. Rerata skor TMAS
narapidana wanita 24,96 (>21) menunjukan cemas. Analisis data dengan uji T
tidak berpasangan didapatkan p = 0,012 menunjukan bahwa terdapat perbedaaan
kecemasan bermakna antara narapidana pria dan wanita.
Kesimpulan: terdapat perbedan kecemasaan antara narapidana pria dan wanita di
Lembaga Pemasyarakatan kelas I Sukamiskin dan IIA Wanita Kota Bandung.
Kata Kunci: kecemasan, narapidana pria, narapidana wanita, Sukamiskin,
Bandung.

G1A013092

THE DIFFERENCE LEVEL OF ANXIETY BETWEEN MALE AND


FEMALE PRISONERS AT CORRECTIONAL INSTITUION CLASS
CLASS I SUKAMISKIN AND IIA FEMALE IN BANDUNG: CROSS
SECTIONAL STUDY
Nadia Hanifah1, Basiran2, Diah Krisnansari3
1 Student, Faculty of Medicine, University of Jenderal Soedirman, Purwokerto; 2 Advisor of research,
Department of Mental Health, Regional General Hospital Banyumas; 3 Advisor of Research, Department of
Public Health Sciences, Faculty of Medicine, University of Jenderal Soedirman, Purwokerto, Indonesia
Journals author
Jehanarinda@gmail.com

ABSTRACT
Background: The rate of crime in West Java is high among Indonesian Province
with 27.247 total case of prisoners who are in west java are 12.869 in habitans.
The higher the crime rate will have an impact toward the increasing number of
occupans Penitentiary. The total of 200.850 prisoners in the United States have
mental disorders. The incident anxiety to the prisoners study at by University of
South Wales is 61% for woman 39% for man, while in Indonesian 41,7% for
woman and 23,3% for man. The factors that causes anxiety to the prisoners are the
loss of meaning fullness of life, the luck social support, the age, sex, the negative
perpseption of society and along sentence.
Objective: To ascertain the different of anxiety between male and female
prisoners at Correctional Institution Class I Sukamiskin and IIA Female in
Bandung.
Methods: This study is observational analysis using cross sectional approach.
Sampling technic that use is purposive sampling. The riset instrumen use are
questionnaire Lie Minnesota Multiphasic Personality Inventory (L-MMPI) and
questionnaire Taylor Maniest Anxiety Scale (TMAS). Analysis of the data is using
the unpaired T test.
Result: There were 48 prisoners consist of 24 male prisoners and 24 female
prisoners. The average of TMAS score from male prisoners is 17,38 (<21) that
indicated not anxiety, and the average TMAS score from female prisoners is 24,96
(>21) that indicated anxiety. Data were analysed by the unpaired T test was
optained p=0,012 shows that there is significant difference in anxiety between
male and female prisoners.
Conclusion: There is difference in anxiety between male and female prisnoners at
the Correctional Institution class I Sukamiskin and class IIA female in Bandung.
Key Word: anxiety, male prisoners, female prisoners, Sukamiskin, Bandung.

G1A013092

PENDAHULUAN
Seiring bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia, kurangnya lapangan
kerja, faktor sosial, budaya, moral, kejiwaan, agama dan politik dapat
menyebabkan tingkat kriminalitas di Indonesia semakin meningkat1.
Jawa Barat memiliki angka kriminalitas yang tinggi di Indonesia dengan
jumlah 27.247 kasus dengan jumah narapidana sebanyak 12.869 jiwa (Kanwil
Kemenkumham Jabar, 2015). Tingkat kriminalitas yang semakin tinggi akan
berdampak pada peningkatan jumlah penghuni Lembaga Pemasyarakatan.
Lembaga Pemasyarakatan kelas I Sukamiskin dan kelas II A Wanita Kota
Bandung merupakan suatu lembaga pembinaan narapidana maupun tahanan dari
berbagai kasus kriminalitas2.
Lembaga pemasyarakatan (lapas) merupakan suatu kehidupan yang baru
dan terbatas dimana individu akan mengalami dan merasakan kehilangan seperti
kehilangan otonomi, harta pribadi, jati diri dan individualitasnya 3. Hal tersebut
merupakan stresor pada orang-orang yang dijatuhi hukuman penjara berdasarkan
keputusan pengadilan4.
Kecemasan sering dialami oleh narapidana yang sedang menjalani
hukuman, perasaan cemas muncul karena individu tidak dapat menyesuaikan diri
selama berada di lapas serta cemas dalam menghadapi masa depan. Kecemasan
yang berkelanjutan akan berdampak buruk terhadap psikologis narapidana
sehingga dapat menjadi depresi atau stres5.
Berdasarkan studi di Australia, gangguan kecemasan sering dialami oleh
narapidana wanita dibandingkan dengan pria. University of South Wales
melakukan penelitian dan menyatakan bahwa sebanyak 36% masalah kesehatan
mental yang dirasakan oleh penghuni lapas adalah kecemasan dan wanita lebih
tinggi tingkat kejadiannya dibandingkan dengan pria yaitu 61% : 39%5.
Saat ini menurut data World Health Organization (WHO) menunjukkan
orang mengalami kecemasan sekitar 5,8% adalah pria dan 9,5% adalah wanita.
Berdasarkan uraian diatas maka tertarik melakukan penelitian mengenai
perbedaan kecemasan antara narapidana pria dan wanita di Lembaga
Pemasyarakatan kelas I Sukamiskin dan IIA Wanita Kota Bandung.
METODE

G1A013092

Penelitian ini menggunakan rancangan analitik observasional dengan pendekatan


cross-sectional. Penelitian dilaksanakan dari Oktober 2015 sampai dengan
desember 2015 di Kota Bandung Provinsi Jawa Barat.
Sampel penelitian adalah narapidana pria dan wanita yang terdaftar
Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Sukamiskin dan Lembaga Pemasyarakatan
Kelas IIA Wanita Kota Bandung dengan teknik purposive sampling, besar sampel
sebanyak 48 narapidana terdiri dari 24 pria dan 24 wanita. Variabel terikat yaitu
tingkat kecemasan narapidana, sedangkan variabel bebas yaitu narapidana pria
dan narapidana wanita. Kriteria inklusi: Narapidana pria dan wanita, bersedia
menjadi responden, Mampu membaca dan menulis, Usia >18 tahun, Lama
tahanan < 10 tahun, tidak akan bebas kurang dari 1 bulan, terdapat dukungan baik
dengan keluarga, saudara dan teman. Kriteria eksklusi: mengisi kuisioner Lie
Minnesota Multhiphasic Personality Inventory (LMMPI) dengan menjawab lebih
dari 5 jawaban tidak, pengisian kuisioner kurang lengkap, sedang sakit atau
menderita gangguan jiwa lain.
Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengisi data primer informed
consent, biodata diri, kemudian lembar kuisioner Taylor Manifest Anxiety Scale
(TMAS) untuk mengetahui kecemasan narapidana pria dan wanita yang terlebih
dahulu lolos tes Lie Minnesota Multiphasic Personality Inventory (LMMPI).
Data disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi, nilai mean dan
standar deviasi untuk mendeskripsikan masing-masing variabel. Uji normalitas
dengan menggunakan uji Saphiro-wilk menunjukkan bahwa data terdistribusi
normal. Data yang diperoleh dari penelitian diuji dengan uji T tidak berpasangan.
Pengolahan data menggunakan program komputerisasi.
HASIL
Total narapidana yang bersedia untuk menjadi responden dalam penelitian
ini adalah 60 narapidana pria dan 60 narapidana wanita. Jumlah narapidana yang
lolos dalam pengisian kuisioner LMMPI adalah 24 narapidana pria dan 24
narapidana wanita. Narapidana yang tidak bisa dijadikan subjek penelitian
disebabkan tidak lolos LMMPI sebanyak 29 Jumlah total narapidana pria 460 dan
narapidana wanita 326 Jumlah kasus kriteria inklusi dan ekslusi n = 60 Jumlah
yang dianalisis n = 24 narapidana pria dan 33 narapidana wanita, pengisian

G1A013092

identitas tidak lengkap 3 narapidana pria dan 1 narapidana wanita, pengisisan


kuisioner tidak lengkap 4 narapidana pria dan 2 narapidana wanita.
Karakteristik responden pada narapidana pria terdapat 24 narapidana yang
memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi menjadi responden. Hasil analisis
berdasarkan usia sebanyak 16 responden (66,7%) berada pada rentang usia 41-60,
10 responden (41,7%) menempuh pendidikan Strata 1 (S1), 14 responden (58,3%)
memiliki pekerjaan sebelum menjadi narapidana yaitu sebagai Pegawai Negeri
Sipil (PNS), 12 responden (50,0%) mendapatkan hukuman lama tahanan dengan
rentang 2 tahun - 4 tahun, jenis pidana tipikor didominasi sebanyak 16
responden (66,7%), sebanyak 24 (100%) responden memiliki dukungan sosial
yang baik dan terdapat 18 responden (75,0%) tidak mengalami cemas (Tabel 1).
Terdapat 24 narapidana wanita yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi
menjadi responden. Hasil analisis berdasarkan usia sebanyak 13 responden
(54,2%) berada pada rentang usia 41-60, 9 responden (37,5%) menempuh
pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA), 14 responden (58,3%) tidak memiliki
pekerjaan sebelum menjadi narapidana, 10 responden (41,7%) mendapatkan
hukuman lama tahanan dengan rentang 2 tahun - 4 tahun, jenis pidana umum
didominasi sebanyak 23 responden (95,8%), sebanyak 24 (100%) responden
memiliki dukungan sosial yang baik dan terdapat 17 responden (70,8%)
mengalami cemas (Tabel 1).
Gambaran kecemasan pada narapidana pria dan wanita yang terdaftar di
Lembaga Pemasyarakatan kelas I Sukamiskin dan IIA Wanita Kota Bandung
didapatkan rerata hasil skor TMAS untuk pria adalah 17,38 yang menunjukkan
tidak cemas dengan nilai minimum dan maksimum skor 4,00-43,00 dengan
jumlah 18 responden (75,0%) tidak mengalami cemas dan 6 responden (25,0%)
mengalami cemas, sedangkan rerata TMAS untuk wanita adalah 24,96 yang
menunjukkan cemas dengan nilai minimum dan maksimum 10,00-41,00 dengan
jumlah 17 responden (70,8%) mengalami kecemasan dan 7 responden (29,2%)
tidak mengalami kecemasan. Artinya pada jenis kelamin pria yang memiliki ratarata skor TMAS 17,38 (<21) tidak mengalami kecemasan. Sedangkan pada wanita
dengan rata-rata skor TMAS 24,96 (>21) mengalami kecemasan (Tabel 2).

G1A013092

Perbedaan kecemasan pada narapidana pria dan wanita di Lembaga


Pemasyarakatan kelas 1 Sukamiskin dan kelas IIA Wanita Kota Bandung
dianalisis dengan menggunakan uji T tidak berpasangan. Sampel masing-masing
populasi yang diambil kurang dari 50 maka uji normalitas yang digunakan adalah
Saphiro-Wilk dan didapatkan nilai (p=0,007) untuk pria dan (p=0,614) untuk
wanita. Dari hasil uji normalitas data tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa
data terdistribusi normal (p=>0,05), selanjutnya dianalisis dengan uji T tidak
berpasangan.
Metode analisis data yang digunakan untuk mengetahui perbedaan
bermakna dari skor kecemasan antara pria dan wanita. Nilai sig pada kotak
levenes Test menunjukkan 0,457 yang berarti varians data kedua kelompok sama.
Hasil perhitungan statistik uji T tidak berpasangan menghasilkan nilai sebesar
0,012 (p <0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan kecemasan
bermakna antara narapidana pria dan narapidana wanita di Lembaga
Pemasyarakatan kelas I Sukamiskin dan IIA Wanita Kota Bandung (Tabel 3).
PEMBAHASAN
Penelitian ini telah diketahui bahwa wanita lebih cemas dibandingkan
dengan pria, hal ini terbukti bahwa variabel jenis kelamin berpengaruh terhadap
kecemasan. Kecemasan pada wanita lebih besar dibandingkan dengan pria
disebabkan oleh salah satunya adalah sifat sensitif yang dimiliki wanita, seperti
perasaan ingin segera bebas, merasa kesepian tanpa keluarga, selain itu masa
hukuman yang lama juga berpengaruh terhadap kecemasannya.
Semakin lama hukuman yang akan dijalani maka semakin tinggi kondisi
stres yang akan dialamiTabel 1 Gambaran Karakterisitk Responden

Tabel 23 Deskripsi
Hasil Uji Statistik
Subjek Penelitian
Kecemasan
Berdasarkan Kecemasan

G1A013092

seorang narapidana. Kecemasan sangat tinggi pada narapidana di California


dikarenakan isolasi yang terlalu lama dalam penjara6.

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan


oleh University Of South Wales pada narapidana menyebutkan bahwa 61%
narapidana wanita lebih cemas dibandingkan dengan pria 39%. Hal ini
disebabkan karena mereka menganggap bahwa penjara adalah tempat
pengasingan dan mereka merasa dikucilkan5.
Narapidana wanita diyakini lebih rentan mengalami mental illness
dibandingkan dengan pria7. Penelitian lain mengatakan bahwa kecemasan pada

G1A013092

wanita sebesar 41,7% dibandingkan dengan pria sebesar 23,3%, dimana seorang
wanita mengalami permasalahan psikologis8. Hampir seluruh warga binaan
memiliki kecemasan berat 38% di lapas kelas IIA Wanita Kota Bandung9.
Sistem limbik, wanita mempunyai ukuran yang lebih besar yang dapat
menyebabkan wanita lebih sering menggunakan perasaan dan lebih mudah
mengekspresikan perasaannya. Ukuran amygdala wanita lebih kecil dibandingkan
dengan pria yang akan berpengaruh terhadap gangguan kecemasan10.
Hasil dari penelitian lain juga menyatakan bahwa tidak ada perbedaan
tingkat kecemasan antara narapidana pria dan wanita, namun terdapat perbedaan
dari skor mean yaitu 163,53 pada pria dan 169,00 pada wanita yang berarti tingkat
kecemasan wanita lebih besar dibandingkan dengan pria11.
Lingkungan di lapas kelas IIA Wanita kota Bandung juga berpengaruh
terhadap kecemasan narapidana wanita. Fasilitas 1 kamar untuk 11 orang, lebih
banyak para narapidana wanita itu diam tanpa kegiatan dan peraturan-peraturan
yang sangat disiplin.
Pekerjaan, pendidikan dan jenis pidana akan berpengaruh terhadap
kecemasan narapidana, karena narapidana wanita lebih banyak tidak bekerja,
jenjang pendidikan (SMA) dan jenis pidana paling banyak adalah pidana umum.
Faktor diatas tersebut membuat narapidana ketakutan dalam menghadapi masa
depan, tidak siap untuk berada di lingkungan sosial.
Keterbatasan penelitian tidak menggunakan faktor kepribadian responden
sebagai faktor lain dari kecemasan, fasilitas yang disediakan oleh lapas kelas 1
Sukamiskin sangat berbeda dengan lapas kelas IIA wanita kota Bandung sehingga
dapat menimbulkan bias. Untuk penelitian selanjutnya faktor-faktor lain yang
tidak diteliti dalam penelitian ini diharapkan dapat diungkap lebih mendalam
terkait dengan kecemasan. Lembaga Pemasyarakatan yang akan dijadikan tempat
penelitian sebaiknya kelas, pelayanan dan fasilitas yang sama.
Hasil analisis uji T tidak berpasangan pada penelitian ini menunjukkan bahwa
terdapat perbedaan kecemasan antara narapidana pria dan wanita di Lembaga
Pemasyarakatan kelas I Sukamiskin dan IIA Wanita Kota Bandung. Hal ini terlihat
dari hasil pengujian hipotesis dengan menggunakan Independent T-test
menunjukkan bahwa nilai sig (2 tailed) sebesar 0,012 yang artinya lebih kecil dari

G1A013092

0,05 menunjukkan terdapat perbedaan kecemasan signifikan antara narapidana


pria dan wanita di Lembaga Pemasyarakatan kelas I Sukamiskin dan IIA Wanita
Kota Bandung. Perbedaan skor mean dari kedua subjek tersebut yaitu pada
narapidana pria diperoleh skor mean 17,38 yang berarti <21 menunjukkan
narapidana pria tidak mengalami cemas, sedangkan pada narapidana wanita
diperoleh skor mean 24,96 yang berarti >21 menunjukkan wanita mengalami
cemas.
KESIMPULAN
Narapidana pria tidak mengalami kecemasan dengan rerata skor
kecemasan (TMAS=17,38). Narapidana wanita mengalami kecemasan
dengan rerata skor kecemasan (TMAS=24,96).
Terdapat perbedaan kecemasan bermakna antara narapidana pria dan
wanita di Lembaga Pemasyarakatan kelas I Sukamiskin dan IIA Wanita Kota
Bandung dengan nilai kemaknaan p= 0,012 (p<0,05).
UCAPAN TERIMAKASIH
Terimakasih kepada kepala Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin, Kota
Bandung, Jawa Barat.
Terimakasih kepada Maisa Fadillah D atas kerjasamanya selama peneltian.
Terimakasih kepada Dr. dr. Fitranto Arjandi, M. Kes selaku Dekan
Fakultas Kedokteran, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.
Terimakasih kepada Dr. dr. Lantip Rujito, M.Si.Med. selaku Dosen
Fakultas Kedokteran, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.
DAFTAR PUSTAKA
1. Widagdo, S. 2012. Kamus Hukum. Jakarta: PT Prestasi Pustakarya.
2. Nurulaen. 2009. Deskripsi Umum Lembaga Pemasyarakatan Kelas I
Sukamiskin.
Available
at:
a
research.upi.edu/operator/upload/d_pls_049791_chapter4(1).pdf (Diakses pada
12 November 2015).

10

G1A013092

3. Liwarti. 2013. Hubungan Pengalaman Spiritual dengan Psychological WellBeing Pada Penghuni Lembaga Permasyarakat-an. Jurnal Sains dan Praktik
Psikologi, 1(1), 77-83.
4. Charlotte,
Y.,
&
Jane,
L.I. 2012. Explorin application of the
interpersonalpsychological theory of suicidal behavior to self-injurious
behavior
among women prisoners: proposing
a
newmodel of
understanding. International Journal of Law and Psychiatry, 35(6), 70-76.
5. Butler, T., Allnutt, S., Cain, D., Owens, D., & Muller, C. 2005. Mental disorder
in the New South Wales prisoner population. Australian and New Zealand
Journal of Psychiatry, 39(5), 407-413.
6. Haney, C. 2001. The Psychological Impact of Incarceration: Implication for
Post-Prison Adjustment. Santa Cruz: University Of California.
7. Gussak, D. 2009. The Effect of Art Theraphy on Male and Female Inmates:
Advancing the Reserhbest. The Arts in Psychotheraphy.
8. Hidayah, N. 2010. Perbedaan Tingkat Kecemasan antara Siswa Putra dan
Putri Kelas X dalam Menghadapi Ujian Akhir Semester pada SMA Nu Al
MaRuf Kudus. (Doctoral dissertation, Universitas Sebelas Maret Fakultas
Kedokteran).
9. Utari, D. 2012. Hubungan Tingkat Kecemasan pada Warga Binaan Wanita
Menjelang Bebas di Lembaga Pemasyarajtan Wanita Kelas IIA Bandung.
Student e-Journal, 1(1), 33.
10. Zaidi, Z.F. 2010. Gender Differences in Human Brain. A Review. The Open
Anatomy Journal, 2, 37-55.
11. Firdian, V. 2012. Perbedaan Kecemasan Menghadapi Masa Depan Antara

Narapidana Pria dan Wanita Kasus Narkoba di Lembaga Pemasyarakatan


Pekanbaru. Riau: UIN.