Вы находитесь на странице: 1из 13

JAWA TIMUR

SUKU USING DI BANYUWANGI


Gambir merupakan salah satu bahan yang digunakan untuk nginang.
Warna yang dihasilkan dari nginang ini adalah warna coklat kemerahan
pada bibir. Warna tersebut berasal dari kandungan tanin dan katekin
(tanin terkondensasi) yang ada pada getah daun atau ranting
tumbuhan gambir. Katekin yang ditemukan dalam tanin ini adalah
flavan.
Selain gambir, bahan lainyang digunakan oleh wanita Using untuk
nginangadalah pinang (Areca catechu L.) atau disebut jambe dan
sirih(Piper betle L.). Warna merah yang dihasilkan oleh pinang dan
daun sirih juga dikarenakan adanya kandungan tanin. Selain itu warna
merah yang dihasilkan pada daun sirih juga karena adanya antosianin
yang terkandung, kadar antosianin daun sirih hijau menurun pada
umur sedang, sehingga penggunaan daun sirih sebagai bahan untuk
nginang sebaiknya pada umur muda atau tua [11].
Daun katuk (Souropus androgynus (L.) Merr.) mengandung alphatocopherolyang tinggi, bahkan tertinggi dibandingkan dengan tanaman
tropis lain yang dapat dikonsumsi. Kandungan tokoferol tersebut
merupakan antioksidan yang dapat membantu menjaga kesehatan
rambut [14].
Selain itu masyarakat Usinguntuk menjaga kesehatan rambutsering
menggunakan minyak kelapa(Cocos nuciferaL.)sebagai bahan minyak
rambut. Minyak kelapa mengandung trigliserida berupa asam laurat
(45%)
Penggunaan pacar kuku (Lawsonia inermisL.) sebagai pewarna kuku
masih sering dilakukan pada saat menjelang pernikahan. Pada
pengantin-pengantin adat masyarakatUsing penggunaan pacar kuku
digunakan di kuku tangan dan ruas jari tangan kedua. Warna orange
yang dihasilkan oleh daun pacar kuku berasal senyawa kuinon yaitu
alpha-napthaquinone.
Padi (Oryza sativaL.) adalah komponen utama dalam pembuatan bedak
ataupun lulur tradisional masyarakatUsing. Sementara tangkai buah dan
batang padi atau yang biasa disebut merang digunakansebagai shampo
tradisional oleh masyarakatUsing. Using. Tangkai buah dan batang padi
(Oryza sativaL.) mengandung saponin.

Cara pengolahan tumbuhan sebagai bahan kosmetik dengan cara dibakar, diiris, dikeringkan,
dimemarkan, diparut, diperas, direbus, direndam, disangrai, dan ditumbuk, sedangkan cara
penggunaannya dengan cara digosokkan, dikunyah, diminum, dioleskan dan disiramkan.
JAWA BARAT
KABUPATEN GARUT
MASYARAKAT ADAT KAMPUNG PULO
Neem

Ilustrasi daun neem Style Craze


Azadirachta indica adalah sejenis tanaman perdu yang pertama kali ditemukan di daerah
Madhya Pradesh, India. Di luar negeri tanaman ini disebut neem atau lilac India. Namun di
Indonesia tanaman ini lebih dikenal dengan nama mimba, banyak ditemui di Jawa Barat
dan Jawa Timur.

Ilustrasi daun dan buah neem Wikimedia Commons/Rajib Ghosh


Dilansir situs kecantikan dan kesehatan Style Craze, daun neem kaya akan vitamin C.
Karena itulah minyak neem biasa digunakan untuk mengatasi masalah kulit seperti jerawat
dan kulit sensitif. Sifat asam neem juga menjadikannya efektif untuk mengatasi minyak
berlebih di pori-pori.
Arnica

Arnica montana Healthyfig.com


Arnica pada dasarnya adalah herbal yang masih satu familia dengan bunga matahari
(Asteraceae). Tumbuhan ini berasal dari pegunungan Eropa dan Siberia.
Ada dua jenis arnica yang biasa digunakan dalam pengobatan dan produk kecantikan, yaitu
Arnica Montana dan A. Chamissonis. Kedua spesies bunga ini terlihat mirip, hanya saja A.
Chamissonis memiliki bunga yang lebih kecil.

A.chamissonis Biolib.de
Keduanya mengandung bahan anti inflamasi yang efektif untuk meredakan cedera otot dan
menenangkan kulit yang memar atau bengkak. Arnica sudah lama digunakan warga Eropa
sebagai campuran dan balsem dan salep untuk cedera otot.
Selain itu menurut situs Fashion & Style, suplemen Arnica montana dikonsumsi para model
sebelum peragaan busana. Suplemen ini dipercaya dapat menggelontorkan racun dan
cairan berlebih yang menjadikan kulit sedikit bengkak dan kusam. Namun arnica memiliki
racun yang cukup kuat. Jadi konsumsi oral tanpa supervisi medis sangat tidak dianjurkan.
Arnica juga biasa digunakan dalam produk perawatan rambut karena mampu mengatasi
masalah ketombe.

JAWA TENGAH
KABUPATEN BATANG
Namun, yang dikembangkan di Kabupaten Batang baru ada 3 jenis :
1. Minyak Daun Cengkeh
2. Minyak Gagang/Tangkai Cengkeh
3. Minyak Nilam
Kegunaan minyak atsiri sangat luas dan spesifik, khususnya dalam berbagai bidang
industri, antara lain dalam industri kosmetik (sabun, pasta gigi, sampo, losion),
Tanaman Nilam

Ordo

: Lamiales

Famili

: Lamiaceae

Genus : Pogostemon
Spesies : Pogostemon cablin
Minyak nilam jenis ini didapat dengan menggunakan teknik penyulingan uap kering yang
dihasilkan mesin penghasil uap (boiler) yang diteruskan ke dalam tangki reaksi (autoklaf)
selanjutnya uap akan menembus bahan baku nilam kering dan uap yang ditimbulkan
diteruskan ke bagian pemisahan untuk dilakukan pemisahan uap air dengan uap minyak
nilam dengan sistem penyulingan. Minyak nilam yang baik dihasilkan dari tabung reaksi dan
peralatan penyulingan yang terbuat dari baja tahan karat (stainless steel) dan peralatan
tersebut hanya digunakan untuk menyuling nilam saja.

KALIMANTAN BARAT
SUKU DAYAK
meranti merah (Shorea stenoptera)/ TENGKAWANG
pengunaan lemak tengkawang sebagai bahan dasar lipstik
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa formulasi lipstik yang paling baik ialah yang
menggunakan lemak tengkawang sebanyak 3% (b/b) dengan penambahan pigmen alami
dari P. cruentum sebanyak 8% (b/b).
Lemak tengkawang mempunyai ciri mirip dengan lemak kakao, oleh karena itu lemak ini
berpotensi sebagai cocoa butter substitute (CBS). Potensi ini sangat menguntungkan
secara ekonomis karena harga lemak tengkawang jauh lebih murah, yaitu 20-25% dari
harga lemak kakao. Penggunaan lemak tengkawang merupakan alternatif yang baik dalam
pembuatan kosmetik yang selama ini banyak menggunakan lemak kakao. Penelitian ini
bertujuan melihat pengunaan lemak tengkawang sebagai bahan dasar lipstik. Melihat
perkembangan produksi lipstik Indonesia yang cukup besar, diperkirakan sekitar 300 ribu
sampai 400 ribu batang per tahun, diharapkan penelitian ini memberikan kontribusi dalam
pemanfaatan hasil hutan Indonesia.
Untuk memperoleh lemak, biji tengkawang dikeringkan. Hasil optimum didapatkan dengan
pengeringan menggunakan oven tipe rak pada suhu 50-60C selama 28 jam yang
menghasilkan kadar air 8.5%. Selanjutnya biji kering ini diekstraksi. Dari tiga cara estraksi
yang dicobakan, yakni cara pengempaan, perebusan, dan pelarutan, telah diperbaiki
metode ekstraksi dengan cara pengempaan. Biji dikempa menggunakan mesin kempa
panas pada suhu 50-60C dan tekanan 140 kg.cm2 selama 4 menit. Bungkil sisa kempaan
selanjutnya diekstraksi dengan pelarut heksana teknis selama 6 jam dan pengecilan ukuran
16 mesh. Ciri lemak tengkawang yang dihasilkan hampir sama dengan ciri lemak kakao.
Untuk pembuatan bahan lispstik, dilakukan analisis fosfolipid dan degumming terhadap
lemak. Berhubung kandungan fosfatidil kolina kurang dari 55%, metode degumming
dilaksanakan dengan asam. Metode degumming terbaik ialah metode dengan asam sitrat
20% sebanyak 0.3% (b/b) dibandingkan yang menggunakan asam fosfat 20% dengan
campuran yang sama. Campuran lemak dan asam dipanaskan pada suhu 80C selama 10
menit, dicusi dengan air, didiamkan selama 20 menit, lalu gum dipisahkan dari lemak.

Segmentasi pasar dikaji dengan mengumpulkan data primer dan sekunder. Data primer
dikumpulkan dengan menyebarkan kuesioner kepada para konsumen lipstik dan melalui
pengamatan. Segmentasi produk lipstik yang dihasilkan ialah untuk pelajar dan mahasiswa
yang berusia 15-24 tahun dengan lipstik berbentuk batang, warna muda dan terang, serta
menempel dengan baik.
Formulasi dasar lipstik didahului dengan menentukan kemurnian bahan yang dipakai.
Bahan-bahan yang dianalisis ialah malam (wax) kandelila, malam karnauba, malam
ozokerit, minyak jarak, dan lemak tengkawang. Selanjutnya dicari nisbah malam karnauba
dengan ozokerit, nisbah malam kandelila dengan malam ozokerit, dan menentukan suhu
proses pembuatan dan suhu penuangan ke dalam cetakan. Dari campuran bahan tersebut
telah dibuat tiga formula dasar lipstik. Penggunaan lemak tengkawang sampai 50% dalam
formulasi dasar lipstik masih memungkinkan.
Tahapan penelitian berikutnya terbagi atas tiga bagian, yaitu netralisasi lemak tengkawang,
pemucatan (bleaching) lemak tengkawang dan formulasi lipstik menggunakan lemak
tengkawang dan pewarna alami. Netralisasi dilakukan dengan menggunakan larutan
kaustik soda pada konsentrasi 5, 8, dan 10 Be pada suhu 70C selama 10 menit.
Netralisasi dengan 3 taraf konsentrasi larutan kaustik soda ini hanya memberikan pengaruh
yang sangat nyata terhadap rendemen lemak netral yang dihasilkan, namun tidak
berpengaruh nyata terhadap kadar air, titik cair, bilangan asam, bilangan iodin, bilangan
peroksida, dan kejernihan lemak netral yang dihasilkan. Berdasarkan hasil analisis
terhadap semua parameter yang diukur, netralisasi lemak tengkawang dengan NaOH 10
Be merupakan perlakuan terbaik yang menghasilkan lemak netral dengan rendemen
89.45%, kadar asam lemak bebas 0.13% dan bilangan peroksida 4.17.
Pemucatan lemak tengkawang dilakukan dengan menggunakan 2 jenis lempung aktif, yaitu
bentonit dan sepiolit, masing-masing pada konsentrasi 1, 1.5, dan 2%. Proses ini dilakukan
dalam kondisi vakum pada suhu 120C selama 30 menit. Perlakuan yang paling efektif dan
efisien untuk menghasilkan lemak tengkawang pucat ialah dengan menggunakan bentonit
2% dengan nilai transmitan sebesar 87.3%, bilangan asam 1.44 (asam lemak bebas =
0.75%).
Penggunaan lemak tengkawang dalam formula lipstik pada tahap penelitian ini
dikombinasikan dengan penggunaan pigmen yang dihasilkan dari Porphyridum cruentum
sebagai pewarna alami. Dalam formulasi lipstik menggunakan pigmen alami ini

ditambahkan lemak tengkawang sejumlah 3, 4, dan 5% (b/b) dan pigmen dalam jumlah 6,
7, dan 8% (b/b). Penambahan lemak tengkawang pada formula lipstik berpengaruh nyata
terhadap kekerasan lipstik dan berpengaruh sangat nyata terhadap titik leleh lipstik.
Sebaliknya pigmen hanya berpengaruh sangat nyata terhadap titik leleh lipstik. Namun
interaksi antara kedua perlakuan ini tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap
kedua ciri lipstik tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa formulasi lipstik yang
paling baik ialah yang menggunakan lemak tengkawang sebanyak 3% (b/b) dengan
penambahan pigmen alami dari P. cruentum sebanyak 8% (b/b).
Klasifikasi Biji Tengkawang :
Kingdom

: Plantae (tumbuhan)

Divisio

: Spermatophyta (menghasilkan biji)

Kelas

: Dikotil (berkeping dua)

Ordo

: Malvales

Famili

: Dipterocarpaceae

Genus

: Shorea

Spesies

: Shorea spp.

Dalam makalah ini dibahas prosedur pembuatan lipstick dengan menggunakan minyak biji
tengkawang. Minyak biji tengkawang ini digunakan untuk menggantikan minyak yang
biasanya digunakan dalam proses pembuatan lipstick.
Bahan utama yang ditemukan dalam lipstik adalah lilin, minyak, alkohol, dan pigmen.Lilin
digunakan biasanya melibatkan beberapa kombinasi dari tiga jenis lilin misalnya lilin lebah-,
lilin candelilla, atau camauba lebih mahal. Wax memungkinkan campuran untuk dibentuk
menjadi bentuk mudah dikenali dari kosmetik tersebut. Minyak seperti mineral, kastor,
lanolin, atau sayuran yang ditambahkan ke lilin.Fragrance dan pigmen juga ditambahkan,
seperti pengawet dan antioksidan, yang mencegah lipstik dari menjadi tengik. Setiap lipstik
mengandung komponen ini, berbagai bahan lain juga dapat dimasukkan untuk membuat
substansi halus atau mengkilap atau untuk melembabkan bibir (Wasitaatmadja, 1997).
Di luar bahan dasarnya (lilin, minyak, dan antioksidan) jumlah bahan tambahan sangat
bervariasi. Bahan-bahan itu sendiri akanmenentukan karakteristik lipstick, sehingga banyak
produsen membuat berbagai macam lipstik untuk konsumen.Untuk membuat lipstik,

berbagai bahan baku dicairkan terlebih dahulu secara terpisah, kemudian minyak, pelarut
dan pigmen warna yang dicampurkan. Secara umum, lilin dan minyak merupakan 60 %
komponen dari lipstik (berat), sedangkan sisanya adalah komponen lain (Tranggono,
2007).
Proses pembuatanlipstick

Pembuatan lipstik dilakukan dengan tiga langkah yang terpisahyaitu : mencairkan


(peleburan) dan pencampuran bahan lipstik, menuangkan campuran ke dalam tabung
(pencetakan), dan pengemasan produk untuk dijual. Setelah itu lipstik dapat digunakan,
disimpan atau dipasarkan (Hambali. 2000)
a.

Peleburandan pencampuran

Bahan baku berupa pelarut, lemak dan lilin dipanaskan dalam stainless steel atau wadah
keramik yang terpisah.Setelah pigmen dipersiapkan, dicampur dengan lilin panassampai
warna seragam dan konsistensi diperoleh.Campuran harus bebas dari gelembung
udara.Setelah campuran bebas dari udara, siap untuk dituangkan ke dalam tabung
(Hambali, 2000).
b.

Pencetakan

Cairan lipstik tersebut kemudian dapat disaring dan dibentuk, atau dapat dituangkan ke
dalam wadah untuk disimpan apabila belum akan dilakukan pencetakan.Setelah dituang
kedalam tabung atau cetakan kemudian didinginkan (Hambali, 2000).

KALIMANTAN SELATAN
SUKU DAYAK DAN BANJAR

Sebagai bahan kosmetika (oleh berbagai etnis di Kalimantan) penggunaannya


umumnya sebagai bahan pencampur bedak, pembersih kulit, sampo dan sabun.
Jenis Lepisanthes amoena (Hassk.) Leenh. dahulu digunakan etnis Dayak dan Banjar
di Kalimantan Selatan sebagai sampo dan sabun dengan cara diremas-remas dan
diberi sedikit air hingga mengeluarkan busa seperti layaknya sabun. Sedangkan
Bauhinia purpurea Linn, bagian akarnya digunakan etnis Dayak di sekitar
Pegunungan Meratus untuk mengobati berbagai penyakit (gambar 6), begitu pula
dengan Eleutherine americanum Merr.(gambar 7).

KALIMANTAN TENGAH
Selain itu minyak nilam juga digunakan sebagai salah satu bahan campuran produk
kosmetik, seperti bedak, sabun, pasta gigi, shampo, lotion dan deodorant.
Sirih (Piper sp)
Tanaman tersebut dapat digunakan sebagai bahan pengobatan untuk sakit
kepala.Dan selin itu pula daun sirih tersebut dapat digunakan sebagao bahan nabati
untuk mengendalikan penyakit blas.
Mukhlisah, (2001) dalam Prayudi et al. (2002), melaporkan bahwa ekstrak daun sirih
mengandung senyawa minyak atsiri, hidroksivacikol, kavikol, kavibetol,
allypirokatekol, karvakrol, eugenol, eugenol metil ether, p-cymene, cineole,
carryophillene, cadinene, estregol, terpene, sesquiterpene, fenil propane, tannin,
diastase, gula dan pati. Sementara itu rimpang lengkuas mengandung minyak
atsiri, sesquiterpene, camphor, galangol, cadinene, dan hydrate
hexahydrocadelene.
Diantara senyawa-senyawa tersebut baik secara individual maupun kerjasama yang
sinergis mampu menekan perkembangan patogen blas.

PAPUA
KAYU GAHARU
Gaharu dikenal berasal dari marga tumbuhan bernama Aquilaria. Di Indonesia
tumbuh berbagai macam spesiesnya, seperti A. malaccensis, A. microcarpa, A.
hirta, A. beccariana, dan A. Filaria.
Gaharu benar-benar menjadi magnit. Hutan-hutan yang sebelumnya tak pernah
diinjak manusia tak sejengkal pun lolos dari perhatian para pendatang. Awalnya,
perburuan gaharu hanya dilakukan di wilayah pesisir Laut Arafuru seperti di Agats.
Namun setelah delapan tahun, nafsu untuk memburu kayu ini telah merambah jauh
ke pedalaman di sepanjang dataran rendah Asmat hingga ke lereng-lereng gunung
di Wamena.
Gaharu sangat di butuhkan di Negara Islam dan Arab, Wangi Parfum , Wanginya
Tahan Lama, Aroma Terapi Menyegarkan Tubuh, Perayaan dan Undangan,
Kecantikan Sabun, Shampo Yang Harum Semerbak,

Gambar 6. Bauhinia purpurea yang


dipercaya dapat
mengobati berbagai
penyakit

Gambar 7. Bawang Tiwai


(Eleutherine
americanum Merr.)