You are on page 1of 22

MAKALAH KUNJUNGAN RUMAH

FAMILY FOLDER
DI PUSKESMAS WANAKERTA KABUPATEN KARAWANG

Pembimbing:
Prof. Dr. dr. A. Aris Susanto, MS Sp.OK

Oleh:
Raymond Arianto H.P
11-2014-206

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kedokteran Komunitas


Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jakarta, November 2016
1

Bab I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang1
Air limbah merupakan air buangan yang berasal dari rumah tangga seperti sisa kegiatan
mencuci, kamar mandi dan dapur termasuk tinja manusia dari lingkungan permukiman.
Jumlah penduduk di Indonesia tumbuh dengan sangat cepat sehingga menimbulkan dampak
yang serius terhadap penurunan daya dukung lingkungan. Antara dampak yang harus
ditangani dengan cepat adalah pengelolaan air limbah. Hal ini karena, peningkatan jumlah
penduduk akan meningkatkan konsumsi pemakaian air minum/bersih yang berdampak pada
peningkatan jumlah air limbah.
Pembuangan air limbah tanpa melalui proses pengolahan akan mengakibatkan terjadinya
pencemaran lingkungan, khususnya terjadinya pencemaran pada sumber-sumber air baku
untuk air minum, baik air permukaan maupun air tanah. Setiap rumah hendaknya mempunyai
sarana pengolahan air limbah (SPAL) Rumah Tangga (RT) yang memenuhi persyaratan
kesehatan. Dewasa ini, banyak RT yang tidak dilengkapi dengan sarana pembuangan air
limbah yang memenuhi persyaratan kesehatan.
1.2 Masalah
Masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah mengenai penyakit yang bisa
timbul akibat dari SPAL yang tidak ada atau tidak memenuhi syarat kesehatan. Penyakit
menular paling sering terjadi lewat air dan makanan. Oleh itu, makala ini akan menjelaskan
kepentingan dari SPAL dan penyakit yang bisa dicegah dengan ada nya SPAL yang benar.
1.3 Tujuan
Dengan melakukan kegiatan kunjungan langsung kepada pasien puskesmas, diharapkan
dapat menambah wawasan mengenai kepentingan SPAL yang masih belum mencapai target
di wilayah kerja Puskesmas Wanakerta, Kabupaten Karawang. Dengan mengetahui kondisi
rumah dan SPAL di lapangan, diharapkan menambah pengetahuan yang lebih baik mengenai
kepentingan SPAL.
1.4 Sasaran
Sasaran yang kita tuju adalah rumah yang merupakan diketahui belum mempunyai

SPAL sesuai dengan syarat kesehatan dan anggota keluarga yang tinggal di dalam rumah
tersebut yang harus kita berikan edukasi tentang fungsi dan kepentingan serta pembinaan
SPAL sesuai dengan syarat kesehatan.

BAB II
ISI
2.1 Materi
Sarana Pembuangan Air Limbah (SPAL) meruapakan salah satu cara untuk mengelola air
limbah. Spal bisa berupa pipa atau pun selainnya yang dipergunakan untuk membantu air
buangan dari sumbernya sampai ke tempat pengelolaan atau ke tempat pembuangan.2 SPAL
yang sering dibina di kawasan desa adalah SPAL sederhana.

2.2 Metode

Metode yang penulis gunakan untuk mengumpulkan data ini adalah dengan
melakukan kunjungan langsung ke rumah pasien dengan mendapat alamat dan data dasar dari
Puskesmas Kecamatan wanakerta Kabupaten Karawang.

2.3 Kerangka Teori


2.3.1 Syarat SPAL sederhana yang baik3
a) Air limbah kamar mandi dan dapur tidak boleh tercampur dengan air dari jamban
b) Tidak boleh menjadi tempat perindukan vektor
c) Tidak boleh menimbulkan bau
d) Tidak boleh ada genangan yang menyebabkan lantai licin dan rawan kecelakaan
e) Terhubung dengan saluran limbah umum/got atau sumur resapan.
2.3.2 Cara Pembuatan SPAL2
2.3.2.1 Metode I
2.3.2.1.1 Bahan
a)

Bak bis

b) Batu bata
c)

Pasir

d) Semen
e)

Batu koral

f)

Pralon leher angsa

g) Pasir
2.3.2.1.2 Alat
a)

Gergaji

b) Cetok (sendok semen)


c)

Cangkul

d) Parang
e)

Besi runcing (linggis)

f)

Ember

g) Skop
h) Meteran
2.3.2.1.3 Proses pembuatan
4

Saluran air limbah bisa dibuat dari pasangan bak bis yang dibagi 2 (tengahan) atau dapat
juga dari pasangan batu bata dengan pasangan semen dan pasir. Kemudian, dibuat bak
penampung air limbah dan bak peresapan yang diisi batu bata dan koral. Batas antara bak air
limbah dan bak peresapan harus diberi saluran. Pada bagian atas diberi tutup yang dapat
dibuat dari bambu. Saluran antara tempat pencucian ke bak air limbah sebaiknya agak ada
kemiringan, sehingga air akan lancar mengalir.

Gambar 1. Bak Penampung Air Bekas2

Gambar 2. Saluran Air Bekas ke Bak2

2.3.2.1.4 Pemeliharaan
Perlu dibersihkan setiap hari terutama pada saluran yang terbuka dan pada bak kontrol.
Jangan memasukkan buangan berupa benda padat seperti kertas, kain, plastic, dan
sebagainya.
2.3.2.1.5 Keuntungan dan Kerugian
Keuntungannya adalah mudah dibuat, sederhana dan bahan-bahan serta alat-alat mudah
didapat. Kerugiannya adalah kadang-kadang baunya masih terasa karena SPAL nya jenis
yang terbuka sehingga bisa mengganggu lingkungan sekitarnya.
2.3.2.2 Metode II
2.3.2.2.1 Bahan
a)

Drum

b) Koral
c)

Kayu

d) Ijuk
e)

Pipa pralon

2.3.2.2.2 Alat
a)

Palu

b) Besi runcing
c)

Cangkul

d) Parang
e)

Gergaji

2.3.2.2.3 Proses pembuatan


Pertama sekali, drum harus dilubangi dengan garis tengah 1 cm, jarak antara lubang 10
cm. Pembuatan lubang di luar dapur dengan ukuran panjang, lebar dan dalam masing-masing
110 cm. Di dasar lubang diberi koral/ijuk setebal 20 cm dan drum dimasukkan ke dalam
lobang tersebut. Sela-sela drum diselingi dengan koral/ijuk. Kemudian dibuat saluran air
limbah ukuran bis, atau dari pasangan batu bata. Drum ditutup dengan kayu/bambu atau
kalau ingin lebih tahan lama dicor dengan campuran semen dan pasir yang diberi penguat
besi.

Gambar 3. Drum yang Dilubangi2

Gambar 4. Pembuatan Lubang2

Gambar 5. Drum di dalam Lubang Bangunan2

Gambar 6. Tutup Bak Penampung2


2.3.2.2.4 Pemeliharaan
Jangan memasukkan buangan berupa benda padat seperti kertas, kain, plastik dan
sebagainya.
2.3.2.2.5 Keuntungan dan Kerugian
8

Keuntungannya adalah mudah dibuat dengan bahan yang tidak mahal dan merupakan
pemanfaatan bahan-bahan bekas.
Kerugiannya pula, air yang meresap ke tanah akan mempengaruhi air tanah di sekitarnya
apabila struktur tanah merupakan tanah liat yang berbongkah-bongkah pada waktu musim
kemarau, serta jaraknya kurang diperhatikan dengan sumur bersih, kadang bisa terlalu dekat.
2.3.2.3 Metode III
2.3.2.3.1 Bahan
a)

Besi beton -25 cm

b) Batu bata
c)

Kerikil

d) Semen
e)

Pasir

2.3.2.3.2 Alat
a)

Gergaji

b) Cetok
c)

Cangkul

d) Skop
e)

Parang

f)

Ember

g) Besi runcing
h) Meteran
2.3.2.3.3 Proses pembuatan
Tempat mandi dan cuci dibuat dari batu bata, campuran semen dan pasir. Bak kontrol
dibuat terutama untuk saluran yang berbelok, karena pada saluran berbelok lama-lama terjadi
pengikisan ke samping sedikit demi sedikit, selain dari bisa terjadi suatu pengendapan
kotoran.
Selanjutnya, dibuat sumur resapan yang terbuat dari susunan batu bata kosong yang
diberi kerikil dan lapisan ijuk. Sumur resapan diberi kerikil dan pasir. Jarak antara sumur air
bersih ke sumur resapan minimum 10 meter agar air yang kotor tidak mencemari air bersih.

Gambar 7. Bak Saluran Bekas Mandi dan Cuci2

Gambar 8. Bak Saluran Bekas Mandi dan Cuci. Saluran air bekas mandi dan cuci : A : Kamar
mandi dan cuci B : Bak kontrol C : Bak resapan2
2.3.2.3.4 Pemeliharaan
Saluran setiap hari perlu dibersihkan dengan memakai alat sapu. Selain itu, jangan
membuang benda-benda padat seperti batu kerikil, kertas, kain, plastik dan barang-barang
lainnya. Semua resapan perlu sering dikontrol, agar bagian-bagian yang tersumbat bisa

10

dibersihkan.
2.3.2.3.5 Keuntungan dan Kerugian
Keuntungannya adalah pembuatannya mudah, bahan-bahan ada disekitar kita dan
konstruksinya sederhana.
Kerugiannya pula adalah pembuangan air kotor ini juga tergantung dari struktur lapisan
tanah. Tanah yang liat pada musim kemarau akan bongkah-bongkah hal ini mungkin
berpengaruh pada sumber air bersih. Untuk mengatasi hal ini agar jaraknya perlu lebih
diperpanjang lagi.
2.4 Definisi Hipertensi
Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah kondisi medis di mana terjadi peningkatan
tekanan darah secara kronis (dalam jangka waktu lama). Penderita yang mempunyai
sekurang-kurangnya tiga bacaan tekanan darah yang melebihi 140/90 mmHg saat istirahat
diperkirakan mempunyai keadaan darah tinggi. Tekanan darah yang selalu tinggi adalah salah
satu faktor resiko untuk stroke, serangan jantung, gagal jantung dan aneurisma arterial, dan
merupakan penyebab utama gagal jantung kronis. Pada pemeriksaan tekanan darah akan
didapat dua angka. Angka yang lebih tinggi diperoleh pada saat jantung berkontraksi
(sistolik), angka yang lebih rendah diperoleh pada saat jantung berelaksasi (diastolik).
Tekanan darah kurang dari 120/80 mmHg didefinisikan sebagai "normal". Pada tekanan
darah tinggi, biasanya terjadi kenaikan tekanan sistolik dan diastolik. Hipertensi biasanya
terjadi pada tekanan darah 140/90 mmHg atau ke atas, diukur di kedua lengan tiga kali dalam
jangka beberapa minggu.4
2.5 Klasifikasi Hipertensi
Klasifikasi Tekanan Darah Pada Dewasa
Kategori
Tekanan Darah Sistolik Tekanan Darah Diastolik
Normal
< 120 mmHg
(dan) < 80 mmHg
Pre-hipertensi 120-139 mmHg
(atau) 80-89 mmHg
Stage 1
140-159 mmHg
(atau) 90-99 mmHg
Stage 2
>= 160 mmHg
(atau) >= 100 mmHg
Sumber JNC VII 2003 JNC 7 (the Seventh US National Committee on Prevention,
Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure)
2.6 Penyebab Hipertensi
Hipertensi berdasarkan penyebabnya dibagi menjadi 2 jenis :

11

1.

2.

Hipertensi primer atau esensial adalah hipertensi yang tidak / belum diketahui
penyebabnya (terdapat pada kurang lebih 90 % dari seluruh hipertensi).
Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang disebabkan/ sebagai akibat dari adanya
penyakit lain.4,5

2.7 Faktor Resiko dan Gejala Klinis6


Faktor risiko terjadinya hipertensi, adalah antara lain:
1.

Obesitas (Kegemukan).
Merupakan ciri khas penderita hipertensi. Walaupun belum diketahui secara pasti
hubungan antara hipertensi dan obesitas, namun terbukti bahwa daya pompa jantung dan
sirkulasi volume darah penderita obesitasobesitas dengan hipertensi lebih tinggi daripada
penderita hipertensi dengan berat badan normal.

2.

Stres.
Diduga melalui aktivasi saraf simpatis (saraf yang bekerja pada saat kita beraktivitas).
Peningkatan aktivitas saraf simpatis mengakibatkan meningkatnya tekanan darah secara
intermitten (tidak menentu).

3.

Faktor Keturunan (Genetik).


Apabila riwayat hipertensi didapat pada keuda orang tua, maka dugaan hipertensi
essensial akan sangat besar. Demikian pula dengan kembar monozigot (satu sel telur)
apabila salah satunya adalah penderita hipertensi.

4.

Jenis Kelamin (Gender).


Pria lebih banyak mengalami kemungkinan menderita hipertensi daripada wanita.
Hipertensi berdasarkan gender ini dapat pula dipengaruhi oleh faktor psikologis. Pada
wanita seringkali dipicu oleh perilaku tidak sehat (merokok, kelebihan berat badan),
depresi dan rendahnya status pekerjaan. Sedangkan pada pria lebih berhubungan dengan
pekerjaan, seperti perasaan kurang nyaman terhadap pekerjaan dan pengangguran.

5.

Usia.
Dengan semakin bertambahnya usia, kemungkinan seseorang menderita hipertensi juiga
semakin besar.

6.

Asupan garam.
Melalui peningkatan volume plasma (cairan tubuh) dan tekanan darah yang akan diikuti
oleh peningkatan eksresi kelebihan garam sehingga kembali pada keadaan hemodinamik
(sistem pendarahan) yang normal. Pada hipertensi essensial mekanisme inilah yang
terganggu

7.

Gaya hidup yang kurang sehat.


12

Walaupun tidak terlalu jelas hubungannya dengan hipertensi namun kebiasaan merokok,
minum minuman beralkohol dan kurang olahraga dapat pula mempenegaruhi
peningkatan tekanan darah.
Adapun gejala klinis yang dialami oleh para penderita hipertensi biasanya berupa:
Pusing, Mudah marah,Telinga berdengung, Sukar tidur, Sesak nafas, Rasa berat di tengkuk,
Mudah lelah, Mata berkunang-kunang, Mimisan (jarang dilaporkan).7,8
Peninggian tekanan darah tidak jarang merupakan satu-satunya tanda pada hipertensi
primer.bergantung pada tingginya tekanan darah yang timbul dapat berbeda-beda. Kadangkadang hipertensi primer berjalan tanpa gejala, dan baru timbul gejala setelah terjadi
komplikasi pada organ target seperti pada ginjal, mata, otak, dan jantung.Gejala seperti sakit
kepala, epistaksis, pusing, dan migrain dapat ditemukan sebagai gejala klinis hipertensi
primer meskipun tidak jarang yang tanpa gejala.
2.8 Penatalaksanaan Hipertensi
Penanganan/pengobatan hipertensi
1.

Pengobatan Non-farmakologis. Terkadang dapat mengontrol tekanan darah sehingga


pengobatan farmakologis tidak diperlukan, atau minimal ditunda.9

2.

Pengobatan Farmakologi. Pengobatan dengan menggunakan obat-obatan kimiawi.9


Penatalaksanaan faktor risiko dilakukan dengan cara pengobatan secara non

farmakologis, antara lain:


1.

Mengatasi Obesitas. dengan melakukan diet rendah kolesterol, namun kaya dengan serat
dan protein. Dianjurkan pula minum suplemen potassium dan kalsium. Minyak ikan
yang kaya dengan asam lemak omega 3 juga dianjurkan. Diskusikan dengan dokter
ahli/ahli gizi sebelum melakukan diet.7

2.

Mengurangi asupan garam ke dalam tubuh. Harus memperhatikan kebiasaan makan


penderita hipertensi. Pengurangan asupan garam secara drastis akan sulit dilaksanakan,
jadi sebaiknya dilakukan secara bertahap dan tidak dipakai sebagai pengobatan tunggal.

3.

Menghindari stress. Ciptakan suasana yang menenangkan bagi pasien penderita


hipertensi. Perkenalkan berbagai metode relaksasi seperti yoga atau meditasi, yang dapat
mengontrol sistem saraf yang akhirnya dapat menurunkan tekanan darah.7

4.

Memperbaiki gaya hidup yang kurang sehat. Anjurkan kepada pasien penderita
hipertensi untuk melakukan olahraga seperti senam aerobik atau jalan cepat selama 3045 menit sebanyak 3-4 kali seminggu. Selain itu menghentikan kebiasaan merokok dan
mengurangi minum minuman beralkohol sebaiknya juga dilakukan7
13

Selain cara pengobatan non farmakologis, penatalaksanaan utama hipertensi primer


ialah dengan obat. Keputusan untuk mulai memberikan obat anti hipertensi berdasarkan
beberapa faktor seperti derajat peninggian tekanan darah, terdapatnya kerusakan organ target,
dan terdapatnya manifestasi klinis penyakit kardiovaskular atau faktor resiko lain, seperti
yang terlihat pada tabel 3 dan 4.
Pengobatan hipertensi berlandaskan beberapa prinsip:
1.

pengobatan hipertensi sekunder lebih mengutamakan pengobatan kausal

2.

pengobatan hipertensi primer ditujukan untuk menurunkan tekanan darah dengan


harapan memperpanjang umur dan mengurangi timbulnya komlikasi

3.

upaya menurunkan tekanan darh dicapai dengan menggunakan obat anti hipertensi selain
dengan perubahan gaya hidup

4.

pengobatan hipertensi primer adalah pengobatan jangka panjang dengan kemungkinan


besar untuk seumur hidup
Pada sebagian besar pasien pengobatan dimulai dengan dosis kecil obat anti hipertensi

yang dipilih, dan jika perlu dosisnya secara perlahan-lahan dinaikan, bergantung pada umur,
kebutuhan, dan hasil pengobatan. Obat anti hipertensi yang dipilih sebaiknya yang
mempunyai efek penurunan tekanan darah selama 24 jam dengan dosis sekali sehari, dan
setelah 24 jam efek penurunan tekanan darahnya masih diatas 50% efek maksimal. Obat
antihipertensi kerja panjang yang mempunyai efek penurunan tekanan darah selama 24 jam
lebih disukai daripada obat jangka pendek disebabkan oleh beberapa faktor antara lain:7
1.

kepatuhan lebih baik dengan dosis sekali sehari

2.

harga obat dapat lebih murah

3.

pengendalian tekanan darah perlahan-lahan dan persisten

4.

mendapat perlindungan terhadap faktor risiko seperti kematian mendadak, serangan


jantung, dan strok, yang disebabkan oleh peninggian tekanan darah pada saat bangun
setelah tidur malam hari.

14

Data dan Pembahasan


Puskesmas: Puskesmas Kecamatan Wanakerta Kabupaten Karawang
I.

Identitas Pasien
a. Nama

: Ny. Koyah

b. Umur

: 65 tahun

c. Jenis Kelamin : Perempuan


d. Pekerjaan
e. Pendidikan

II.

: Ibu rumah tangga


: SD (tamat)

f. Alamat

: Ds. Wanasari

g. Telepon

: tidak punya

Riwayat Biologis Keluarga


a. Keadaan Kesehatan sekarang

: Kurang baik

Keadaan kesehatan dikatakan kurang baik karena cuma 2 dari 3 orang anggota
keluarga yang sakit dan keluhan berkurang setelah berobat.
b. Kebersihan Perorangan

: Kurang Baik

Kebersihan pasien dikatakan kurang baik karena yang terlihat dari hygiene
rambut, tangan dan kaki tampak kurang bersih. Gigi geligi dan pakaian yang
digunakan masih tampak bersih.
c. Keluhan yang diderita : Pusing dan mual sejak 3 hari dan disertai mual. Pasien
d.
e.
f.
g.

memiliki riwayat Hipertensi dan Post stroke 1 Tahun yang lalu.


Penyakit keturunan
: tidak ada
Penyakit kronis/menular
: Hipertensi dan Post stroke
Kecacatan anggota keluarga
: tidak ada
Pola Makan
: Kurang Baik
Pola makan pasien dapat dikatakan kurang baik karena menurut pengakuan
15

pasien, pasien mendapat makanan dengan kurang gizi yang lengkap yaitu
karbohidrat, protein dan mineral dan sedikit lemak dan makan tidak teratur.
h. Pola istirahat
: Baik
Pola istirahat pasien dikatakan baik karena pasien bisa tidur malam dan sehari
bisa tidur sekitar 8 jam.
i. Jumlah Anggota Keluarga
: 3 orang
Terdiri dari pasien, suami pasien dan anak pasien.
III.

Psikologis Keluarga
a. Kebiasaan buruk

: suamo pasien seorang perokok bisa 5 batang rokok

sehari.
b. Pengambil keputusan : pengambil keputusan adalah anak pasien, karena suami
pasien sudah tua dan sakit-sakitan
c. Ketergantungan obat : tidak ada ketergantungan obat.
Keluarga tersebut hanya mengkonsumsi obat atas anjuran dari puskesmas atau
dokter praktik umum di sekitar rumah.
d. Tempat mencari pelayanan kesehatan: ke rumah mantri di daerah tersebut atau ke
puskesmas.
e. Pola Rekreasi
: Kurang
IV. Keadaan Rumah/Lingkungan
a.Jenis bangunan
: Rumah permanen
b. Lantai rumah
: Keramik
c.Luas rumah
: 15 x 15 m
d. Penerangan
: kurang
e.Kebersihan
: Kurang
Kebersihan rumah pasien dapat digolongkan ke kurang karena rumah pasien tampak
tidak bersih. Selain itu, kursi, dinding, plafon dan horden rumah pasien agak berdebu
dan sedikit berantakan. Penerangan kurang karena rumah pasien cuma ada 3 jendela
dari tiap kamar yang ada namun jarang dibuka dan cahaya masuk dari pintu rumah atau
dari lubang di atap.
f. Ventilasi
: sangat kurang
Ventilasi untuk keluar masuk cahaya dan udara sangat kurang.
g. Dapur
: Ada
h. Jamban keluarga
: Ada
i. Sumber Air minum
: air sumur yang dimasak
j. Sumber Pencemaran air
: ada.
Karena sumber air minum pasien dari sumur atau kali, maka kemungkinan ada
sumber pencemaran dari air minum keluarga.
k. Pemanfaatan pekarangan
: tidak ada Karena rumah pasien berupa rumah

V.

yang kecil, maka pemanfaatan pekarangan pasien tidak ada.


l. Sistem pembuangan air limbah : Ada
m. Tempat pembuangan sampah : ada
n. Sanitasi lingkungan
: sedang
Spiritual Keluarga
16

a. Kegiatan beribadah
: baik
Dapat dikatakan baik, karena pasien yang beragama Islam, menjalankan sholat 5
waktu.
b. Keyakinan tentang Kesehatan: cukup
VI.
Keadaan Sosial Keluarga
a. Tingkat pendidikan : Rendah karena tamatan SD.
b. Hubungan anggota keluarga : Baik
c. Hubungan dengan suami : Baik
d. Hubungan dengan orang lain : Baik
Karena pasien saling menengur sapa dengan tetangga bila berpapasan.
e. Kegiatan organisasi sosial
: Baik
Baik, Karena pasien dapat bersosialisasi dengan tetangga sekitar.
f. Keadaan ekonomi
: Kurang
Keadaan ekonomi pasien terlihat kurang.
VII.
Kultural Keluarga
a. Adat yang berpengaruh : Sunda. Pasien dilahirkan dan dibesarkan bersama dengan
VIII.

orang tuanya.
Daftar Anggota Keluarga

Nama

Hubungan Jenis

Keadaan

dengan

Kelamin

Kesehatan

Keadaan Gizi

Penyebab
Kematian

pasien
Tn. Edi Hardi

Suami

Laki-laki

Kurang baik

Kurang baik

Siti Suryani

Anak

Perempuan

Baik

Baik

IX.
X.
XI.

Keluhan Utama : Sakit kepal


Keluhan Tambahan : badan terasa lemas, mual
Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien mengeluhkan sakit kepala sejak 3 hari. Sakit
kepala disrasakan di bagian belakang kepala seperti tertekan. Keluhan disertai dengan
mual namun tidak disertai dengan muntah. Pasien juga mengeluhkan badan terasa
lemas terutama pada bagian badan sebelah kiri.

XII.

Riwayat Penyakit Dahulu

: satu tahun yang lalu pasien pernah dirawat dirumah

sakit karena Stroke. Setelah di rawat pasien jarang kontrol untuk penyakit stroke nya
tersebut.
XIII.

Pemeriksaan Fisik
TD: 180/100
Nadi: 70x/menit
RR: 20

17

Suhu: 36,8o
XIV.

Diagnosis Penyakit
WD: Hipertensi Berat + post Stroke

XV.

Diagnosis Keluarga
Tidak ada

XVI.

Anjuran penatalaksanaan penyakit :


a. Promotif :
- Menjelaskan kepada pasien tentang keadaan penyakitnya dan komplikasi yang
dapat terjadi.
Preventif :
Mengurangi asupan garam yang ada di makanan.
Meningkatkan aktifitas fisik dan menjaga pola hidup
Kuratif :
Obat antihipertensi: Amlodipin 10 mg
Obat Simptomatis : Antasida 3x1 tablet sehari sebelum makan
Rehabilitatif :
Anjurkan pasien untuk minum obat secara teratur untuk mencegah komplikasi

b.
c.
d.
-

XVII. Prognosis:
- Penyakit :
Prognosis penyakit Hipertensi pasien dapat dikatakan dubia ad bonam karena tandatanda vital terutama pada tensi tinggi namun pasien pasien masih dapat ber aktifitas.
- Keluarga : kondisi kesehatan anggota keluarga yang lain dalam keadaan baik.
- Masyarakat : Ad bonam, karena penyakit ini tidak menular

Bab III
Penutup
3.1 Kesimpulan
Dari hasil kunjungan ke rumah pasien (Ibu Koyah) di Desa Wanasari, Kecamatan
wanakerta, pasien menderita penyakit Hipertensi Berat dan post stroke, dengan melakukan
pendekatan kedokteran keluarga diketahui tidak ada riwayat anggota keluarga yang
mengalami keluhan yang sama seperti pasien.
Dalam menegakkan diagnosis, pasien ini menjelaskan beberapa gejala yang membantu
dalam penegakkan diagnosis, seperti pusing seperti tertekan di bagian belakang kepala serta
memiliki riwayat stroke 1 tahun yang lalu.

18

3.2 Saran
Pasien disarankan untuk melakukan pencegahan sekunder untuk mencegah
komplikasi yang dapat timbul dengan minum obat secara teratur, kontrol tekanan darahnya
secara rutin minimal satu bulan sekali dan olahraga secara teratur, memperbaiki pola makan
dan melakukan hal-hal yang terdapat dalam perilaku hidup sehat. Sedangkan keluarga pasien
sebagai kelompok resiko tinggi, dianjurkan untuk berperilaku hidup sehat sedini mungkin dan
mengontrol tekanan darah secara teratur dan hidup dengan pola makan yang sehat.

DAFTAR PUSTAKA
1. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 16/PRT/M/2008 Tentang Kebijakan dan
Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Air Limbah Permukiman.
2. Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang. Buku Kumpulan Peraturan dan Pedoman
Teknis Kesehatan Lingkungan. Karawang : Dinkes Kabupaten Karaang;2014.
3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 3 tahun 2014 Tentang
Sanitasi Total Berbasis Masyarakat.
4. Nicholas JW, Joel GB. Harrisons principles of internal medicine. 17 th ed. USA: The
McGraw-Hill Companies; 2008.
5. Noer MS: Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi ke-3. Jilid ke-1. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI; 2003.hlm 763-9.
6. Wawolumaya C.Survei epidemiologi sederhana seri no.1 2001. Jakarta: Cermin Dunia
Kedokteran No. 150; 2006.hlm 35-8.
19

7. Perhimpunan hipertensi Indonesia. Konsesus penatalaksanaan hipertensi dengan


modifikasi gaya hidup. Jakarta: InaSH; 2011.
8. Tronik E, Zwart J.A, Hagen K, etc. Association between blood pressure measures and
recurrent headache in adolescent: cross-sectional data from the HUNT-Youth study.
12th ed. Journal Headache Pain; 2011. p.347-53
9. Analia R.L, Damasceno M, Salmaso C, etc. Association between complaints of
diziness and hypertension in non-institutionalized elders. Int. Arch Otorhinolaryngoil.
Sao Paulo Brazil. Vol. 17, 2013. p.157-62

Lampiran

20

21

22